DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18 dan 19 series (light novel) © Kodansha, 2011-2015. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.
Our Future
.
Chapter 6 – The End of the Rivalry
23 Juni 2017…
Ada hal yang tak biasa terjadi sore ini, di SD Misora, dan hal itu adalah buka puasa bersama.
Dari tahun ke tahun, semakin banyak murid SD Misora yang beragama Islam, dan banyak dari mereka yang sudah menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun ini. Hal ini mendapat perhatian dari pak Kepala Sekolah yang sejak tahun kemarin terus mencoba menyesuaikan suasana sekolah dengan keberagaman yang dimiliki oleh para muridnya. Beliau ingin agar semua murid yang bersekolah di sekolahnya tetap bisa berteman baik dan hidup rukun meskipun mereka memiliki agama yang berbeda-beda. Beliau juga ingin agar murid-murid tersebut mampu bertoleransi satu sama lain dan tetap menjaga kerukunan di sekolah.
Di bulan Ramadan ini saja, ada beberapa peraturan sekolah yang dibuat oleh sang Kepala Sekolah untuk memudahkan murid-muridnya menjalankan ibadah, seperti membangun sebuah mushola kecil tempat mereka bisa melaksanakan ibadah shalat lima waktu dan juga mengaji saat istirahat makan siang. Beliau juga menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan kotak makan bagi para murid yang memang kebanyakan menganut agama lain. Mereka juga dihimbau untuk tidak makan siang di dekat mushola tempat teman-teman mereka yang sedang berpuasa berkumpul dan menjalankan ibadahnya.
Tak hanya murid yang beragama Islam saja yang semakin lama semakin banyak. Ada juga setidaknya empat orang guru yang beragama Islam yang bekerja di SD Misora. Mereka adalah wali kelas 1-2, 3-1, 4-2 dan 5-1.
Menjelang Lebaran, pihak sekolah menyelenggarakan buka puasa bersama sekaligus Halal Bihalal untuk para murid dan guru, dan walaupun tidak semua dari mereka beragama Islam, acara buka puasa bersama ini dihadiri oleh semua murid dan guru.
"Setidaknya, biarpun yang merayakannya hanya sebagian dari guru dan murid, bukan berarti guru-guru dan murid-murid yang lain tidak boleh ikut ambil bagian, kan? Ada bagusnya jika semuanya ikut berpartisipasi," ujar sang Kepala Sekolah saat ia membicarakan tentang acara buka puasa yang digagasnya itu dengan para guru, "Setidaknya disini, kita bisa makan malam bersama sekaligus saling memaafkan satu sama lain. Dari sini, kita bisa mengajarkan banyak hal kepada para murid, khususnya dalam hal toleransi."
Pada awalnya, acara buka puasa bersama rencananya akan diadakan di aula sekolah, namun setelah mempertimbangkannya masak-masak, akhirnya acara tersebut diadakan di kelas masing-masing.
Saat jam pelajaran telah usai, para guru bergegas menuju ke ruang guru untuk mendapat pengarahan dari sang Kepala Sekolah.
"Mou, kenapa sih, harus ada acara buka puasa bersama segala," keluh Chikazuki saat ia dan Doremi berjalan menuju ke ruang guru, "Padahal di kelasku tidak ada murid beragama Islam."
"Aku sih, setuju-setuju saja," sahut Doremi, "Apa salahnya makan malam bersama para murid? Lagipula, maksud pak Kepala Sekolah mengadakan acara ini kan baik. Beliau hanya ingin kita semua menumbuh kembangkan rasa toleransi. Apa itu salah?"
"Yah, tidak juga sih," Chikazuki menghela napas, "Tapi karena itu, aku tidak bisa pulang cepat."
"Memangnya, apa sih yang ingin kaulakukan di apartemenmu? Pasti bukan hal yang penting," tebak Doremi sambil mengeluarkan smartphonenya, "Mungkin hal itu memang penting buatmu, tapi tidak akan sepenting meluangkan waktumu dengan murid-muridmu sendiri."
"Senpai bisa bilang begitu karena senpai tidak perlu melakukan sesuatu yang penting malam ini, sementara aku… Kedua orangtuaku rencananya akan mampir ke apartemenku malam ini," sang guru junior melirik seniornya dengan tajam, "Di kelasmu juga ada beberapa murid yang beragama Islam, jadi acara ini bukan masalah buatmu."
"Tidak juga. Hari ini, Tetsuya akan pulang dari Spanyol," kilah sang guru berambut merah panjang sambil mengetik sebuah pesan di smartphone, "Dia akan tiba di bandara Haneda sore ini."
"Eh? Tapi kenapa senpai malah ikut buka puasa bersama? Kalau masalahnya begitu kan, senpai bisa minta izin pulang. Senpai bisa pergi ke bandara Haneda menjemput pacar senpai."
"Memang bisa saja sih, tapi aku tidak mau," sahut Doremi, "Lagipula, kami sudah punya janji untuk bertemu disini, jadi tidak masalah bagiku untuk ikut buka puasa bersama."
"Tapi…"
"Sudahlah, kenapa kau jadi protes terus, sih?" Doremi memotong perkataan Chikazuki, "Dari awal kau mengajar disini, kau benar-benar jadi tukang protes, ya."
"Memangnya kenapa?" tanya Chikazuki tidak mengerti, "Wajar kan, kalau aku protes."
"Tidak kalau kau melakukannya terus-terusan. Pantas saja murid-murid di kelasmu tidak bisa akrab denganmu."
"Senpai…" balas Chikazuki sebelum ia ikut masuk ke ruang guru bersama Doremi, dimana sang Kepala Sekolah sudah bersiap-siap memberi pengarahan.
.O.
Tiga puluh menit sebelum waktunya berbuka puasa, para guru keluar dari ruang guru sambil membawa beberapa porsi makanan bersama dengan masing-masing lima orang murid yang menjadi perwakilan dari kelas mereka masing-masing.
"Afifah, Azizah, hati-hati memegang pancinya," Doremi memperingatkan kepada dua orang murid kembarnya yang sedang membawa sepanci besar sup miso panas, "Jangan sampai supnya tumpah dan melukai kalian."
"Ya, sensei," sahut mereka.
Menu hari ini memang sederhana; semangkuk sup miso dengan salad buah dan tiga butir kurma, juga sebotol air mineral.
"Ya ampun, sensei tidak sabar ingin memakannya," ujar sang guru berambut merah panjang itu kepada kelima muridnya yang menolongnya membawakan makanan-makanan itu, "Waktunya masih lama ya, Salim?"
"Iya, sensei. Masih tiga puluh menit lagi, jadi kita masih harus bersabar," jawab Salim yang juga beragama Islam seperti Afifah dan Azizah, "Selama sebulan ini, kami juga selalu menunggu waktu makan dengan sabar."
"Apa kalian tidak merasa kelaparan?"
"Tidak sama sekali," kali ini, Afifah yang menjawab, "Mungkin saat pertama kali kami berpuasa, kami merasa kelaparan, tapi lama-kelamaan, kami jadi terbiasa."
"Begitu ya?" gumam wali kelas mereka, "Kalian hebat sekali. Kalau sensei yang melakukannya, mungkin sensei sudah kelaparan hanya dalam waktu beberapa jam. Sensei tidak terbiasa kalau tidak makan siang."
"Sebenarnya, kami juga tidak langsung bisa menahan lapar dan haus selama ini juga. Sebelumnya, kami berlatih menahannya hanya sampai tengah hari, lalu kami makan siang, dan setelah itu kami menahannya lagi sampai adzan Maghrib tiba," aku Azizah, "Setelah itu, kami berangsur-angsur berlatih menahannya seharian, makanya sekarang kami sudah terbiasa."
"Tetap saja, kalian hebat," puji Doremi dengan sepenuh hati, "Padahal udaranya sudah mulai panas, kan? Setidaknya, kalian pasti merasa haus setelah berolahraga atau melakukan kegiatan lain di lapangan sekolah. Kalau tidak salah, Salim suka ikut main sepak bola di lapangan kan? Afifah dan Azizah juga, sering main lompat tali bersama Fuyumi dan yang lainnya."
"Mungkin karena kami sudah terbiasa, kami malah tidak pernah merasa haus saat melakukan aktifitas olahraga sambil berpuasa," duga Salim, "Malah, aku sengaja main sepak bola di lapangan sampai sore, jadi saat pulang ke rumah aku tinggal menunggu saat berbuka puasa tiba."
"Sensei mengerti sekarang. Maksudmu, kau mengisi waktu luangmu dengan main sepak bola sambil menunggu waktu berbuka, begitu?"
"Ya, begitulah, sensei," jawab Salim, "Lagipula ayahku pernah bilang padaku, kalau kita harus tetap bersemangat meski sedang berpuasa. Meskipun aku sedang berpuasa, aku tidak boleh menggunakannya sebagai alasan untuk bermalas-malasan."
"Aku juga salut dengan Salim, sensei," ujar Shibayama yang ikut membantu membawa makanan mereka, "Padahal dia sedang berpuasa, tapi waktu kami main sepak bola di lapangan kemarin, dia berhasil mencetak tiga gol."
"Hebat kalau begitu," sang guru kembali memuji muridnya, "Sensei benar-benar bangga pada kalian, Salim, Afifah, Azizah. Kalian benar-benar hebat."
"Tidak juga, sensei. Kami kan hanya menjalankan ibadah," sahut Afifah dengan nada merendah, "Kalau orangtua kami tidak membuat kami terbiasa menjalankannya, kami tidak akan bisa menjalankannya dengan baik seperti ini."
"Baiklah, kalau begitu keluarga kalian juga hebat. Jangan disangkal lagi, ya?" Doremi tersenyum. Mereka terus berjalan dengan membawa makanan-makanan itu sampai ke kelas.
.O.
Satu jam kemudian, di bandara Haneda…
"Apa tidak apa-apa, kalau kau masih harus menungguku di sekolah? Pesawatku baru saja mendarat beberapa menit yang lalu, dan aku baru saja ingin mencari taksi supaya bisa langsung ke sekolah dengan cepat, tapi aku agak kurang yakin kalau aku masih punya cukup waktu," ujar Kotake yang sedang berbicara dengan Doremi lewat telepon sambil menarik kopernya kearah tempat menunggu taksi, "Baiklah, aku tetap akan ke sekolah sekarang. Mudah-mudahan sih, jalanan sedang tidak macet, jadi aku bisa cepat-cepat sampai disana dan bertemu denganmu."
Sesaat kemudian, mereka membicarakan tentang persiapan pernikahan mereka, "Tentu saja aku ingin mengurus semuanya bersamamu. Mungkin aku masih akan berlatih sedikit selama sebulan kedepan, tapi aku janji akan lebih sering bersamamu… Ngomong-ngomong, apa kau sudah buat janji untuk ke butik dan pesan gaun pengantin? Eh, jadi… kita akan bersama-sama ke butik tanggal 2 Juli? Baiklah, aku bisa datang kesana bersamamu. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin melihatmu mengenakan gaun pengantin. Kau pasti akan terlihat cantik sekali."
Baru saja Kotake ingin membicarakan tentang oleh-oleh yang dibawanya dari Spanyol saat tiba-tiba seseorang dengan cepat merampas smartphone milik seorang ibu-ibu yang sedang berdiri disebelah Kotake. Ibu itu berteriak minta tolong.
"Eh? Tetsuya, tadi siapa yang teriak? Memangnya baru saja terjadi sesuatu di bandara?" tanya Doremi yang dapat mendengar teriakan ibu-ibu itu dari sambungan telepon, "Kamu nggak apa-apa, kan?"
"Iya, aku baik-baik saja. Hanya saja, ada ibu-ibu yang smartphonenya baru saja dicuri orang," jelas Kotake, "Sudah ya. Aku tolong ibu-ibu itu menangkap pencuri smartphonenya dulu. Mudah-mudahan masih bisa terkejar."
"Eh?! Tapi kamu nanti tetap akan datang kesini, kan?"
"Tentu saja aku tetap akan datang menghampirimu. Kau tunggu saja aku di sekolah, ya? Sampai jumpa nanti," tutup Kotake sebelum ia menaruh smartphone miliknya di sakunya, lalu bergegas mengejar sang pencuri smartphone milik ibu-ibu tersebut.
"Hei, tunggu! Cepat kembalikan smartphone itu!" seru Kotake sambil terus berlari mengejar pencuri itu, "Beraninya kau mengincar ibu-ibu! Kalau nanti ibumu sendiri yang dirampok orang, bagaimana? Kau tidak akan rela, kan?"
"Ibuku sudah meninggal tahun lalu."
"Eh? Begitu ya…" Kotake terdiam sebelum akhirnya menyadari sesuatu, "Tunggu sebentar. Kenapa kau malah menyahutku? Hei, kau! Jangan harap aku akan membiarkanmu kabur hanya karena kau menyahut perkataanku! Awas kau ya!"
Pada akhirnya, Kotake berhasil membuat pencuri itu merasa tersudut. Sekarang, mereka sedang berada diujung sebuah jalan buntu.
"Kau sudah tidak bisa kabur lagi sekarang," ujar Kotake puas. Meski begitu, sang pencuri tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau dan menyodorkannya kearah Kotake.
"Maju selangkah atau aku akan menusukmu dengan ini!" ancam sang pencuri. Iapun memaksa Kotake agar membiarkannya kabur dari sana, namun tak lama kemudian, secara kebetulan, ada seseorang yang Kotake kenal berjalan mendekati mereka dan melihat apa yang mereka lakukan.
"Akatsuki?" gumam Kotake tidak mengerti saat ia menyadari siapa yang sedang menghampiri mereka disana. Ia berpikir, 'Apa sebenarnya, pencuri yang kukejar ini bersekongkol dengannya untuk menyerangku?'
Tapi ternyata, dugaan Kotake salah. Akatsuki tidak mengenal pencuri itu sama sekali. Dia bahkan bertanya, "Oh, Kotake-kun, ada apa? Kenapa orang ini menyodorkan pisau kearahmu?"
"Ah, orang ini baru saja mencuri smartphone seseorang, dan aku hanya ingin menolongnya mengejar orang ini, tapi rupanya…"
"Oh, tenang saja. Aku akan menolongmu," potong Akatsuki yang langsung mengalihkan perhatiannya kepada sang pencuri. Iapun diam-diam menggunakan sihirnya untuk menukar pisau yang dipegang pencuri itu dengan smartphone milik ibu-ibu yang dicurinya, sementara Kotake memperhatikan rambut Akatsuki yang bergerak saat ia menggunakan sihirnya.
'Jadi itu cara kerjanya…' pikir Kotake yang akhirnya kembali menatap sang pencuri yang berdiri dihadapannya, sedang bingung melihat smartphone curiannya yang sekarang digenggamnya. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Kotake merebut smartphone curian itu dari sang pencuri dan bergegas kembali ke tempat sang pemilik smartphone itu menunggu sambil berkata, "Kalau kau mau menyerah dan mengembalikan smartphone ini, bilang saja baik-baik. Tidak usah mengancamku begitu."
"Tunggu dulu. Kau tidak terkejut?" tanya Akatsuki tidak mengerti sambil berjalan mengikuti Kotake, "Apa kau benar-benar sudah tahu…"
"Setidaknya, itu sama seperti yang kaulakukan dulu, kan?" potong Kotake, "Ada yang memberitahuku atau tidak, tetap saja secara logika, mustahil bagimu untuk melakukan kecurangan dalam permainan itu, kecuali… kau punya kekuatan terpendam."
Dengan begitu, Kotake membiarkan Akatsuki berjalan disebelahnya dan bertanya lagi, "Jadi, kau memikirkannya?"
"Ya, dan awalnya aku juga hanya bisa menduganya. Aku baru mengetahuinya saat ada yang memberitahuku, dan sekarang, aku benar-benar mengetahuinya," Kotake menghela napas, "Aku sudah tahu semuanya."
"Ngomong-ngomong, itu smartphone miliknya, kan?" Akatsuki memperhatikan smartphone yang baru saja diselamatkannya, "Tapi kelihatannya, ini tidak seperti…"
"Ah, kalian berhasil menemukannya! Terima kasih ya," kata-kata Akatsuki terpotong oleh sang ibu-ibu pemilik smartphone yang buru-buru meraih telpon genggamnya itu dan mengucapkan terima kasih kepada mereka, "Kalian benar-benar pemuda-pemuda tampan yang baik."
"Jangan terlalu berlebihan begitu. Kami kan hanya membantu," sahut Kotake merendah, "Lain kali, anda harus lebih berhati-hati lagi, ya? Simpan saja smartphone anda kalau tidak sedang diperlukan."
"Terima kasih, anak muda. Kalian memang baik hati," tanpa diduga, ibu-ibu itu mengeluarkan sekotak DVD sebuah drama Jepang dan beberapa merchandise dari drama tersebut dan memberikan semuanya kepada Kotake dan Akatsuki, "Ini. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih."
"Eh? Tapi…"
"Sudah dulu ya, anak muda. Saya tiba-tiba ingin ke toilet sekarang," ibu itu bergegas pergi, "Tonton saja dramanya bersama pacar kalian kalau kalian sempat ya?"
"Ehhh?! Kenapa aku harus nonton drama?" tanya Kotake, sedikit protes. Meski begitu, saat ia memperhatikan judul drama yang tertulis disana, Kotake menambahkan, "Hmm… Kalau tidak salah, Doremi memang ingin menonton drama ini sih… Apa DVD ini lebih baik kuberikan padanya saja ya… Merchandisenya juga…"
"Kupikir smartphone tadi punya Doremi-chan, makanya aku menolongmu tadi," Akatsuki akhirnya buka suara, "Kenapa kau tidak bilang kalau itu bukan punya dia?"
"Jadi maksudmu, kau berniat merebut calon istriku dengan cara membantuku mengembalikan smartphone miliknya, begitu?" balas Kotake, "Aku kan tidak bilang kalau smartphone itu miliknya. Kenapa kau langsung menyimpulkan kalau itu punya Doremi?"
"Bukan itu maksudku. Aku tak ingin memisahkan kalian berdua lagi," ralat Akatsuki, "Yang ada, aku ingin meminta maaf kepada kalian, karena sekarang… aku baru sadar kalau permaisuri yang selama ini kucari bukanlah… calon istrimu. Kurasa kalian benar-benar ditakdirkan untuk bersatu."
"Jadi begitu…" Kotake memperhatikan barang-barang yang diterimanya tadi sebelum ia bertanya, "Kalau memang kau mau meminta maaf, apa sekarang kau ingin ikut aku ke sekolah?"
"Sekolah? Apa maksudmu?" Akatsuki balik bertanya.
"Ya… Maksudku SD Misora, tempat Doremi mengajar. Kau juga ingin minta maaf padanya, kan?" jelas Kotake, "Jujur saja, aku janji ingin bertemu dengannya disana sekarang."
"Maksudmu… aku boleh ikut kesana?"
"Tentu saja," Kotake menghentikan sebuah taksi dan bergegas memasukkan kopernya kedalam bagasi sebelum memasuki taksi itu bersama Akatsuki, "Ayo. Aku yakin Doremi akan memaafkanmu."
"Oh, baiklah. Aku akan ikut denganmu," akhirnya Akatsuki menjawab. Taksi itupun membawa mereka menuju ke SD Misora, tempat Doremi sudah menunggu Kotake sejak tadi.
Dalam perjalanan mereka, Kotake dan Akatsuki tak berhenti mengobrol tentang sang guru muda yang sempat mereka perebutkan itu.
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa jam segini Doremi-chan masih berada di sekolah? Bukankah dia hanya harus mengajar sampai sore? Ini kan sudah malam," tanya Akatsuki, "Kotake-kun, apa kau tidak khawatir?"
"Yah, awalnya aku juga bingung, tapi katanya, ada buka puasa bersama di sekolah," jawab Kotake, "Aku memang agak khawatir, tapi kalau memang kegiatan ini dapat mempererat hubungan antara Doremi dan murid-muridnya, aku akan selalu mendukungnya."
"Meskipun itu membuatnya tidak bisa menjemputmu ke bandara?"
"Itu bukan masalah buatku. Yang penting dia sendiri menikmatinya," Kotake tersenyum bangga, "Bagi kami, dalam menjalin sebuah hubungan, bukan berarti kami harus selalu bersama di satu tempat. Yang penting, hati kami saling terhubung, dan kami saling mengerti satu sama lain."
"Sekarang aku mengerti. Pantas saja Doremi-chan lebih memilihmu daripada aku."
"Setidaknya, kau mengetahui dengan jelas sisi rahasia darinya yang dulu belum kuketahui," balas Kotake, "Walaupun sekarang aku sudah mengetahuinya, tetap saja kau yang paling tahu persis tentang rahasianya yang satu itu."
"Tetap saja, kaulah yang beruntung mendapatkannya," sahut Akatsuki, "Hatinya memilihmu, dan aku tidak bisa mengubahnya."
"Baiklah, itu artinya, aku yang menang," kali ini, Kotake tersenyum usil, "tapi kalau aku boleh jujur, aku lebih suka kita berteman seperti ini."
"Kau benar. Aku merasa lebih rileks sekarang," Akatsuki merenung, "Lagipula, aku tahu kau orang baik, dan kau akan melakukan apa saja demi Doremi-chan."
"Tentu saja. Demi cintaku padanya, aku rela melakukan apapun."
"Aku mengerti. Cintamu padanya memang lebih besar dari cintaku padanya."
Tak lama kemudian, merekapun sampai di SD Misora…
