DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18 dan 19 series (light novel) © Kodansha, 2011-2015. Boku, Unmei no Hito desu © NTV, 2017. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.


Our Future

.

Chapter 7 – The Unexpected Gifts


"Lho, Tetsuya, kamu… kenapa harus datang kesini dengannya?" tanya Doremi tidak mengerti saat Kotake tiba di sekolah bersama dengan Akatsuki, "Dia kan ingin merusak hubungan kita. Dia ingin merebutku darimu. Memangnya kau ingin…"

"Daijoubu. Aku sengaja mengajaknya ikut kemari supaya dia bisa meminta maaf padamu," Kotake mencoba menenangkan calon istrinya itu, "Sekarang dia sudah tahu kalau kau bukanlah calon permaisurinya."

"Lebih tepatnya, aku sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan. Aku sibuk mengejarmu, tapi ternyata… aku seharusnya mendekati orang lain," lanjut Akatsuki, "Doremi-chan, maafkan aku. Sekarang, aku hanya ingin berteman denganmu seperti dulu. Aku janji tidak akan menggagalkan rencana pernikahan kalian, jadi aku mohon padamu supaya jangan menjauhiku lagi."

"Hmm, bagaimana ya?" ujar Doremi sambil berlagak seperti sedang berpikir, "Sebenarnya, aku ingin memaafkanmu sih, tapi… kau seharusnya tahu kalau kau harus membayarnya dengan sangat mahal. Bagaimanapun, kau telah melakukan banyak kecurangan hanya untuk memisahkan kami berdua."

"Ah, kau tenang saja. Semahal apapun harganya, aku akan membayarnya," Akatsuki kemudian teringat sesuatu lalu menambahkan, "Kalau perlu, aku akan mentraktir kalian makan malam di restoran mewah, dan kau boleh memesan steak yang terlezat disana. Aku benar-benar akan membayarnya. Kalau perlu, kalian bisa ajak sahabat-sahabat dekatmu juga. Pokoknya, aku akan membayar semua makanan dan minuman yang kalian pesan."

"Tidak perlu. Yang kuinginkan darimu bukanlah setumpuk uang atau traktiran makan seperti yang kaukira. Kaupikir masalahnya segampang itu?" Doremi menggeleng, "Aku tidak akan memaafkanmu hanya karena kauberi uang ataupun kautraktir makan steak, dan bicara tentang makan, aku baru saja selesai makan malam dengan para muridku, jadi aku sudah kenyang sekarang."

"Aku tahu! Bagaimana kalau Akatsuki membayar dengan ini saja," usul Kotake sambil menyodorkan kotak DVD dan merchandise yang diterimanya dan Akatsuki dari ibu-ibu yang mereka tolong di bandara sebagai ucapan terima kasih, "Doremi, kauingat kan, tadi saat di bandara, aku menolong seorang ibu mengejar pencuri smartphone setelah meneleponmu? Nah, pada saat aku mengejar pencuri itu, Akatsuki menolongku merebut smartphone yang dicuri orang itu, dan sebagai imbalannya, ibu-ibu yang kami tolong memberikan ini kepada kami."

"Hanya sekotak DVD drama dan gantungan kunci? Kaupikir kita semua masih sekolah di SMA?" sahut Doremi saat ia sekilas melihat kotak DVD dan merchandise tersebut, tapi kemudian ia menyadari judul drama yang tertulis di kotak itu dan berseru, "Eh?! Dia memberikan ini semua kepada kalian?! Apa ibu-ibu itu tidak merasa rugi?"

"Eh?"

"Sekotak DVD drama ini, Tetsuya, harganya mahal sekali. Aku pernah mencarinya di internet, dan harganya sekitar dua puluh ribu yen. Kalian yakin ibu-ibu itu memberikannya kepada kalian dengan cuma-cuma? Ditambah lagi, dia juga memberikan gantungan kuncinya," Doremi mengalihkan perhatiannya kepada tiga buah gantungan kunci berbentuk boneka beruang yang dipegang oleh Kotake, berpikir sebentar sebelum akhirnya mengutarakan dugaannya, "Apa jangan-jangan dia bekerja di Nippon TV ya?"

"Sebenarnya sih, aku sudah menduga bahwa kau akan terkejut melihat judul drama ini, karena aku tahu kau ingin sekali menontonnya saat drama ini ditayangkan di TV, hanya saja kau tidak punya waktu," aku Kotake, "Aku hanya kaget karena kaubilang… harga DVD ini…"

"Ya, aku sebenarnya bisa saja membelinya sendiri, tapi aku juga ingat kalau pernikahan kita juga butuh dana yang tidak sedikit, meskipun totalnya memang lebih murah daripada kalau kita mengadakannya musim gugur nanti, jadi aku memutuskan untuk tidak membelinya," sahut Doremi, "dan sekarang, kalian mendapatkannya dengan cuma-cuma…"

"Jadi bagaimana? Kau mau menerima ini semua dan memaafkan Akatsuki, kan?" tanya Kotake, "Lagipula, bukankah akan lebih baik kalau sekarang kita berdamai? Kau boleh saja tidak mengundangnya ke pernikahan kita, tapi itu bukan berarti kau tidak bisa memaafkan dia. Semua orang pasti punya kesalahan masing-masing, dan kurasa, sekarang Akatsuki benar-benar tidak ingin mengganggu kita lagi."

"Baiklah, sejujurnya… aku hanya ingin mengetes kesungguhan Akatsuki-kun. Aku hanya ingin tahu apa dia benar-benar menyesal atau tidak," aku Doremi sambil menerima kotak DVD dan gantungan kunci dari Kotake. Dia lalu memasukkan kotak DVD yang diterimanya kedalam tas kerjanya dan memberikan masing-masing satu buah gantungan kunci kepada Kotake dan Akatsuki, "Sebagai tanda perdamaian kita, aku ingin memberikan gantungan-gantungan kunci ini kepada kalian."

"Doremi-chan, kau yakin ingin memberikan gantungan kunci ini padaku?" tanya Akatsuki. Ia lalu memperhatikan gantungan kunci yang diterimanya baik-baik; sebuah gantungan kunci berbentuk boneka beruang berwarna kepirangan yang mengenakan jas hitam, kemeja putih dan celana panjang hitam, "Yah, gantungan kunci ini kelihatannya lucu juga sih… Lagipula, aku juga suka pakai baju hitam."

"Sebenarnya, aku tidak punya jaket biru sih, tapi kalian tahu sendiri kalau jersey pemain di tim nasional berwarna biru…" komentar Kotake yang juga memperhatikan gantungan kuncinya sendiri, yang berwarna lebih kecoklatan. Ia mengalihkan perhatiannya kepada gantungan kunci berwarna sama dengan pakaian yang berbeda yang disimpan Doremi, "dan seingatku, kau tidak pernah pakai baju berwarna krem, Doremi."

"Aku tidak memberikan gantungan kunci itu berdasarkan warna pakaian yang biasa kalian pakai. Lagipula, gantungan kunci yang kuambil adalah yang mewakili karakter utama wanita dalam drama yang DVD-nya kalian dapatkan ini," jelas Doremi, "Tentu saja kau harus mendapatkan gantungan kunci yang mewakili karakter utama pria dalam drama itu, Tetsuya."

"Kalau begitu, bagaimana dengan yang kauberikan padaku ini?" tanya Akatsuki, "Apa dia mewakili orang ketiga dalam drama tersebut? Kalau seperti itu, bukankah akan lebih baik kalau aku tidak usah mendapatkan gantungan kunci?"

"Dugaanmu salah, Akatsuki-kun. Gantungan kunci milikmu tidak mewakili si orang ketiga. Justru yang satu itu mewakili karakter pria yang menyatukan kedua karakter utamanya. Dia itu yang membantu karakter utama prianya mendapatkan jodohnya, sang karakter utama wanita," Doremi menggeleng, "Sekarang, kau mendukung pernikahan kami, kan?"

"Tentu saja, aku mendukung pernikahan kalian," sahut Akatsuki. Ia tersenyum, "Kalian pasangan yang serasi, dan kalau memang kalian ditakdirkan untuk bersatu, aku tidak bisa mengubahnya. Aku bukanlah seorang dewa, dan kekuatanku tidak sehebat itu."

"Sebenarnya sih, karakter yang diwakili oleh gantungan kuncimu mengaku bahwa dia adalah seorang dewa, dan dia ingin kedua karakter utamanya bersatu karena suatu saat nanti, anak mereka akan jadi orang yang hebat."

"Tunggu sebentar. Katamu kau tidak sempat menonton dramanya, tapi kelihatannya kau tahu banyak tentang cerita drama itu," Kotake memperhatikan apa yang dijelaskan oleh Doremi sejak tadi, "Apa ada yang memberikan cerita bocorannya padamu?"

"Tidak juga. Aku hanya membaca sinopsisnya di internet, tapi aku tidak pernah mencari tahu lebih detail tentang cerita per episodenya," sanggah Doremi, "Aku tertarik menontonnya karena pemerannya berpenampilan menarik."

"Ah, aku melihat wajah mereka di kotak DVD tadi. Mereka Kame to YamaPi kan?" tebak Kotake sambil mengangguk-anggukan kepalanya sendiri, "Mereka memang sudah menjadi idola sejak lama, dan harus kuakui kalau mereka juga berpenampilan menarik, tapi mereka masih kalah dari aku, kan?"

"Maksudmu, kau cemburu pada mereka?" Doremi tertawa kecil sebelum melanjutkan kata-katanya, "Kau jangan khawatir. Bulan depan aku tetap akan menikah denganmu, kok. Aku hanya mengagumi mereka sebagai fans, hanya karena mereka juga jago berakting dan menyanyi, tapi tetap saja, hanya kau yang ada di hatiku."

"Baiklah, aku tidak akan cemburu. Kelihatannya, aku juga ingin menonton drama itu bersamamu."

"Baguslah kalau begitu," Doremi lalu bertanya kepada Akatsuki, "Bagaimana denganmu, Akatsuki-kun? Apa kau suka menonton drama di televisi?"

"Hmm, tidak terlalu, sih, tapi aku sempat menonton beberapa judul drama."

"Begitu ya? Kelihatannya, aku bisa menebak salah satunya," sahut sang guru muda, "Aku memang tidak ingat judul dramanya, tapi yang kutahu drama itu punya empat orang tokoh utama pria yang bergabung dalam sebuah kelompok elit di sekolah mereka, persis sepertimu dan anggota FLAT 4 yang lain. Drama itu juga punya versi adaptasi di Taiwan dan Korea, dan dalam ketiga versi drama tersebut, nama kelompok elit dari keempat tokoh utama prianya hampir sama dengan FLAT 4."

"Oh? Ah, kelihatannya aku tahu drama apa yang kaumaksud," Akatsuki tersenyum, "Kami berempat memang suka menontonnya, tapi yang benar-benar menyukainya hanya Leon-kun dan Tooru-kun. Lagipula, dalam cerita drama itu, mereka sempat sedikit mem-bully tokoh utama wanitanya, kan? Aku tidak suka mem-bully orang."

"Bagaimana dengan Fujio-kun? Dia pernah membantumu melukai calon suamiku ini, kan? Apa dia tidak benar-benar menyukai drama itu?" tanya Doremi dengan nada menyindir.

"Doremi, sudahlah. Jangan kau ungkit-ungkit lagi masalah itu," protes Kotake, "Aku memang cedera saat itu, tapi lukaku kan tidak parah."

"Aku tahu. Aku hanya ingin sedikit menyindir Fujio-kun saja."

"Tidak apa-apa. Itu memang salah kami," Akatsuki tertawa, "Meski begitu, Fujio-kun juga tidak terlalu menyukai drama yang kaumaksud. Bukan karena dia tidak suka mem-bully orang, tapi karena dalam drama tersebut, tidak ada satupun diantara anggota kelompok elit itu yang gagal total dalam percintaannya."

"Ah, aku mengerti maksudmu. Ini pasti karena Yada dan Fujiwara, kan?" tebak Kotake, "Mau bagaimana lagi? Aku memang tidak terlalu dekat dengan mereka, meskipun aku sempat beberapa kali bertemu dan bicara dengan Yada saat kita masih bersekolah di SMA, tapi aku sering melihat mereka pergi bersama, walaupun mereka jarang pergi berduaan saja."

"Sebenarnya, sejak Hazuki-chan lulus dari Karen, mereka sudah sering jalan berdua. Mereka hanya tidak bisa melakukannya saat Hazuki-chan masih bersekolah di Karen," ralat Doremi, "Disana ada peraturan untuk tidak jalan berduaan saja dengan seorang lelaki, jadi… saat itu mereka sering berkencan dengan ditemani oleh mama Hazuki-chan atau Baaya."

"Yah, kalian memang tidak salah menduganya. Lagipula, Fujio-kun menyadari bahwa Hazuki-chan memang tidak tertarik padanya sejak awal," Akatsuki menghela napas, "Sebenarnya aku merasa kasihan padanya, tapi apa boleh buat. Bisa dibilang, kami berada di posisi yang sama."

"Anou, senpai," tiba-tiba Chikazuki menghampiri Doremi dan menanyakan sesuatu padanya, "Kau mau pulang denganku tidak? Aku tahu kalau kau akan pulang bersama dengan pacarmu, tapi… aku takut pulang sendiri. Ini kan sudah malam."

"Kalau ini masih sore, aku pasti tidak akan mengizinkanmu bergabung dengan kami, tapi… karena ini sudah malam, kurasa mau tidak mau, aku memperbolehkanmu pulang bersama kami," sahut Doremi, "Setidaknya, aku bisa memperkenalkan Akatsuki-kun padamu."

"Oh, jadi ini yang namanya Akatsuki?" Chikazuki memperhatikan sang pangeran berambut violet itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, "Baiklah, aku hanya ingin berpesan padamu supaya tidak mengganggu hubungan senpaiku ini dengan calon suaminya. Jangan coba-coba mencium leher senpaiku saat dia sudah menikah dan punya anak nanti. Jangan buat dia menyuruh anaknya menunggu di luar rumah sampai anak itu harus dibunuh orang. Pokoknya kau tidak boleh membuat masalah dalam rumah tangga mereka, sekalipun senpaiku melakukan suatu kesalahan yang hanya diketahui olehmu."

"Tunggu sebentar, Chikazuki. Sebenarnya sekarang, kau sedang membicarakan tentang apa?" tanya Doremi tidak mengerti, "Cerita drama lagi?"

"Ya, aku sedang menonton drama Tiongkok yang menceritakan tentang hal itu, dan aku takut kalian akan mengalami hal yang sama."

"Tidak akan. Kau tidak perlu khawatir seperti itu," Doremi mencoba meyakinkan sang guru junior, "Sudahlah, ayo kita pulang sekarang. Katamu orangtuamu menunggumu di apartemenmu."

"Oh? Ya… baiklah. Aku akan pulang bersama kalian."

Pada akhirnya, mereka berempat pulang bersama dengan menaiki sebuah taksi. Di tengah perjalanan, Doremi memberitahu Chikazuki tentang sekotak DVD yang didapatnya dari Kotake dan Akatsuki.

"Eh?! Jadi tadi pacarmu baru saja dapat sekotak DVD 'Boku, Unmei no Hito desu' gratis?!" tanya Chikazuki tidak percaya, "Padahal kan harganya…"

"Mahal, kan? Aku juga tadinya bingung sekali melihat kotak DVD itu."

"Sebentar, senpai. Aku boleh lihat kotak DVD itu, kan? Aku jadi mau lihat kalau-kalau DVD yang kau dapatkan palsu."

"Tunggu sebentar. Aku berani bertaruh bahwa DVD itu asli. Kau tidak percaya padaku, Chikazuki?" protes Doremi, "Kaupikir aku tidak bisa membedakan antara DVD yang asli dan yang palsu?"

"Bukan begitu. Aku hanya ingin melihatnya saja. Hanya untuk memastikan."

"Baiklah, ini," Doremi akhirnya mengeluarkan kotak DVD tersebut dari dalam tas kerjanya dan menyodorkannya kepada Chikazuki, "Aku yakin kalau DVD ini asli."

"Biar kulihat," Chikazuki mengambil kotak DVD itu dan mengamatinya dengan cermat, "Kau benar, senpai. DVD ini asli, dan ini versi Blu-Ray…"

"Eh?! Blu-Ray?! Yang benar?!" dengan cepat Doremi merebut kotak DVD itu kembali dan ikut memeriksanya, "Ah iya, ini versi Blu-Ray!"

"Memangnya kenapa? Apa versi Blu-Ray harganya lebih mahal lagi?" tanya Akatsuki tidak mengerti.

"Ya, selama ini, aku jarang menonton drama sih, tapi yang kutahu, DVD versi Blu-Ray biasanya dijual dengan harga yang lebih mahal jika dibandingkan dengan versi yang biasa," jelas Kotake, "Karena biasanya, kualitas video dalam DVD Blu-Ray lebih bagus dari versi yang biasa."

"Lebih tepatnya sih, kalau versi yang biasa harganya sekitar dua puluh ribu yen, versi Blu-Ray ini harganya… dua puluh empat ribu yen…" lanjut Doremi. Ia lalu memeluk kotak DVD itu dan bersorak kegirangan, "Ah, aku beruntung sekali hari ini!"

"Mungkin ini rezeki calon pengantin, senpai," Chikazuki tersenyum, "Setidaknya, setelah kau menikah, kau bisa menontonnya dengan pasanganmu."

Mendengar perkataan Chikazuki, Doremi dan Kotake saling berpandangan dan ikut tersenyum. Doremi pun menyahut, "Kau benar juga, Chikazuki."

Mereka terus mengobrol dengan santai sampai semuanya tiba di tujuannya masing-masing.

.O.

1 Juli 2017…

"Otousan, apa tidak sebaiknya kita menjemput onee-chan dari apartemennya saja?" tanya Pop kepada sang ayah, "Sampai sekarang saja, onee-chan belum sampai disini."

"Kau tenang saja, Poppu. Doremi pasti akan datang kemari," sang ayah mencoba menenangkan putri bungsunya itu, "Dia tidak akan membuat kita menunggu lama. Lagipula, ini masih jam berapa? Kenapa kau jadi berlebihan begini?"

"Memangnya, otousan tidak rindu padanya?" balas Pop dengan merengut. Ia lalu mengalihkan perhatiannya kepada sang ibu, "Okasan juga, dari tadi tidak bilang apa-apa. Padahal kan, hari ini onee-chan akan kembali kesini. Dia akan tinggal disini sampai hari pernikahannya."

Ya, mulai hari ini, Doremi akan kembali tinggal di rumah keluarganya sampai hari pernikahannya dengan Kotake tiba, karena dia ingin sekali menghabiskan waktunya sebelum menikah dengan berkumpul bersama keluarganya yang tercinta.

"Okasan sudah tahu tentang hal itu, Poppu, tapi kau tidak perlu sampai cemas begini. Doremi akan baik-baik saja, dan dia pasti sudah akan tiba disini sebelum malam," sang ibu, Harukaze Haruka, tersenyum, "Kau benar-benar rindu padanya, ya?"

"Tentu saja. Onee-chan sudah tidak tinggal disini lagi sejak delapan tahun yang lalu," Pop menghela napas, "Aku benar-benar merindukannya."

"Kami juga merindukannya, tapi bukan berarti kerinduan kami harus membuat kami terlalu khawatir sepertimu," sahut sang ayah, "Doremi pasti sudah bisa menjaga dirinya sendiri sekarang."

"Waktu benar-benar berlalu dengan sangat cepat, ya?" renung sang ibu, "Tanpa kita sadari, sudah banyak yang terjadi dalam keluarga ini, dalam rumah ini…"

"Padahal, rasanya belum lama ini kita melihat Doremi kebingungan mengisi formulir prospektusnya, dan sepertinya, baru kemarin kita melihatnya sedih karena gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi, tapi sekarang… dia sudah tumbuh menjadi seorang guru muda yang enerjik," ujar sang ayah dengan bangga, "dan sebentar lagi, dia akan menikah."

"Kalian tahu, rasanya aku tak pernah menyangka bahwa onee-chan akan menikah sebelum dia berumur tiga puluh tahun," aku Pop, "tapi sekarang, onee-chan malah ingin menikah dengan pacarnya tahun ini, padahal dulu hubungan mereka sempat bermasalah."

"Dulu mereka memang tidak akur, kan? Sama saja sepertimu dan Kimitaka-kun…"

"Bukan itu maksudku, otousan," Pop menggeleng, "Waktu mereka di SMP, onee-chan pernah memberikan surat cinta untuk Kotake-senpai, tapi dia baru bisa menjawabnya waktu mereka di SMA."

"Tunggu dulu. Jadi maksudnya, yang membuat Doremi memotong rambutnya waktu dia masih di SMP itu… Kotake-kun?" simpul sang ayah yang baru mengetahui keseluruhan ceritanya, "Kenapa otousan baru diberitahu sekarang?"

"Habisnya, waktu itu kupikir lebih baik onee-chan sendiri yang memberitahu otousan tentang hal itu…"

"Doremi tidak mungkin segampang itu menceritakannya kepada otousan, Poppu. Saat itu kan, dia merasa sudah ditolak mentah-mentah," jelas sang ibu, penuh pengertian, "Karena itulah, waktu Doremi datang ke reuni pertamanya di SD Misora, saat otousan bertanya tentang orang yang disukainya di SMP, okasan sengaja mengalihkan pembicaraan. Kalian juga tidak ingin melihatnya marah besar atau menangis keras-keras hanya gara-gara hal itu, kan?"

"Yah, benar juga sih…" Pop menghela napas, "Kalau saja aku tidak menyinggungnya tentang hal itu saat itu…"

"Sudahlah, jangan sedih lagi. Yang penting, sekarang mereka telah melaluinya dengan baik, dan mereka bisa menyelesaikannya sendiri dengan mudah," sang ibu kembali tersenyum, "Akhir bulan ini, mereka akan menikah, jadi seharusnya, kita ikut senang dengan pernikahan mereka."

"Benar juga ya?" Pop tertawa kecil, "Selama ini, aku sering meremehkan onee-chan, padahal sebenarnya, dia lebih hebat dari yang kukira sebelumnya."

"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan latihan musikmu bersama Hazuki-chan dan yang lainnya. Apa berjalan dengan lancar?" tanya sang ibu kepada Pop, "Kalian sudah tidak harus latihan lagi bulan ini, kan? Kalau keadaannya seperti ini, okasan khawatir kalau kejutan kalian ini akan ketahuan sebelum waktunya tiba."

"Tenang saja, okasan. Libur musim panas kan baru akan dimulai pertengahan bulan ini, jadi walaupun onee-chan akan tinggal disini lagi mulai hari ini, dia masih harus mengajar di sekolah sampai libur musim panas tiba. Kami masih bisa berlatih di rumah Hazuki-chan sebelum hari pembagian rapor," jawab Pop, "Onee-chan tetap saja tidak akan tahu, karena onee-chan baru akan pulang dari sekolah menjelang malam, sementara jadwal latihan kami masih bisa diatur waktunya."

"Baiklah, okasan percaya pada kalian, tapi kalau okasan boleh memberi usul, kelihatannya akan lebih baik kalau kalian tidak berlatih di hari Sabtu dan Minggu."

"Memangnya onee-chan akan berdiam diri di rumah saja? Dia kan juga harus mempersiapkan pernikahannya bersama dengan Kotake-senpai, dan disaat yang bersamaan, kami bisa berlatih."

"Memangnya, kalian tidak ingin ikut ambil bagian dalam persiapan pernikahannya? Kalau Doremi mengajakmu ikut, apa kau tega menolak ajakannya?"

"Oh iya, benar juga, ya? Jujur saja, aku juga ingin melihat onee-chan mencoba gaun pengantinnya, sih," aku Pop, "Aku ingin menolongnya memilihkan gaun pengantin yang terbaik untuknya."

"Bagaimana dengan Hazuki-chan dan yang lainnya? Apa mereka juga ingin menolong Doremi memilih gaun pengantin yang tepat untuknya?" tanya sang ibu lagi, "Sebagai sahabatnya, mungkin saja mereka ingin memberikan sedikit masukan. Bukan hanya tentang gaun pengantinnya, tapi juga tentang semua yang harus mereka persiapkan."

"Okasan benar. Kelihatannya mulai sekarang, kami memang harus berlatih hanya di hari kerja," akhirnya Pop menyetujui usul sang ibu, "Dengan begitu, kami juga masih bisa merahasiakan soal penampilan kejutan kami untuk onee-chan. Dia tidak akan tahu kalau kami sedang menyiapkan kejutan besar untuknya, kalau kami membantunya dalam persiapan pernikahannya."

"Itu benar."

Tak lama kemudian, seorang wanita muda memasuki halaman rumah itu dan memandang kesekitar. Tangan kanannya menarik sebuah koper dorong berwarna ungu, sementara tangan kirinya memegang sebuah tas kerja dengan erat.

'Aku kembali…'