DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18 dan 19 series (light novel) © Kodansha, 2011-2015. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.


Our Future

.

Chapter 8 – Our Preparations


"Tadaima!"

Dari arah pintu depan rumah, terdengar suara dari seseorang yang dari tadi sudah ditunggu-tunggu oleh seisi rumah itu, terutama oleh seorang pianis muda berambut merah muda yang langsung berlari menuju pintu depan begitu mendengar suara tadi.

"Akhirnya dia datang juga," ujarnya kepada kedua orangtuanya sebelum berlari ke pintu depan dan berseru sambil menyambut orang yang baru tiba disana dengan sebuah pelukan, "Okaeri, Onee-chan! Akhirnya kau kembali lagi kesini!"

"Poppu, senang bertemu denganmu lagi!" balas Doremi sambil mengelus-elus punggung adiknya itu dengan lembut. Ia tersenyum, "Kelihatannya, kau sedang tidak sibuk hari ini."

"Tentu saja. Mana mungkin aku melewatkan kedatanganmu hari ini? Lagipula, aku tidak harus tampil di pertunjukan manapun bulan ini," Pop melepas pelukannya, menatap wajah sang kakak yang sudah lama tidak tinggal dengannya dan orangtua mereka di rumah itu, "Bagaimana dengan pekerjaanmu? Onee-chan, kau masih harus ke sekolah, ya?"

"Begitulah. Kau tahu sendiri bahwa libur musim panas belum dimulai, jadi aku masih harus mengajar di sekolah sampai pertengahan bulan ini," jelas Doremi, "Karena itu, sampai libur musim panas dimulai, aku hanya bisa mempersiapkan pernikahanku hanya di hari Sabtu dan Minggu."

"Meski begitu, aku boleh menemanimu mempersiapkan pernikahanmu, kan?"

"Kenapa kau menanyakan hal itu? Tentu saja kau boleh ikut denganku, Poppu. Aku senang kalau kau mau menolongku mempersiapkan semuanya."

"Tentu saja. Aku kan adikmu," Pop mengedipkan matanya, "Aku pasti akan menolongmu."

"Terima kasih, Poppu," Doremi memandang ke sekitar, "Ngomong-ngomong, mana okasan dan otousan?"

"Mereka sedang berada di ruang santai. Sejak tadi, kami memang menunggumu disana, onee-chan," jawab Pop, "Sini, biar kopermu aku saja yang bawa."

"Tidak usah, Poppu. Aku bisa membawa koperku sendiri."

"Onee-chan, kau pasti sangat merindukan mereka, kan? Akan lebih baik kalau sekarang, onee-chan ke ruang santai menghampiri okasan dan otousan, sementara aku akan membawakan kopermu langsung ke kamarmu."

"Eh? Tapi kan…"

"Tidak apa-apa. Lebih baik begitu daripada onee-chan repot-repot membawa koper ke ruang santai, tapi setelah itu, onee-chan masih harus membawanya ke kamar. Kedengarannya tidak efisien, kan?" Pop mengutarakan alasannya, kemudian menambahkan dengan sedikit menggoda, "Ditambah lagi, onee-chan harus naik tangga dulu sebelum sampai di kamar. Aku tidak ingin melihat onee-chan terjatuh dari tangga hanya gara-gara onee-chan menaikinya sambil membawa sebuah koper."

"Ehm, Poppu, maksudmu kau takut kalau aku masih ceroboh seperti dulu?" tanya Doremi sambil melirik sang adik dengan tajam, "Kau meremehkanku lagi, ya?"

"Bukan begitu. Aku hanya takut kalau-kalau onee-chan sedang kelelahan sekarang. Sebelum onee-chan pergi dari apartemen ke sini, onee-chan pasti harus merapikan barang-barang di apartemen dulu, kan? Mungkin saja sekarang onee-chan sedang capek, setelah membereskan barang-barang dan menempuh perjalanan jauh kesini."

"Memangnya kaupikir apartemen yang kutempati ukurannya seluas apa? Aku tidak secapek itu membereskannya," Doremi tertawa kecil, "Lagipula, jarak dari apartemen itu kesini tidak terlalu jauh, tapi kau malah mengatakannya seolah-olah apartemen itu berada di luar kota Misora."

"Tapi memang tempatnya agak jauh, kan?" balas Pop yang dengan cepat merebut koper sang kakak dan buru-buru membawanya menaiki tangga, "Pokoknya onee-chan masuk saja ke ruang santai sekarang."

"Eh? Poppu, tunggu dulu. Ada sesuatu dalam koper itu yang ingin kutunjukkan kepada kalian."

"Nanti saja! Onee-chan sekarang lebih baik mengobrol dengan okasan dan otousan saja!" seru Pop yang sudah berada di lantai dua.

"Kau masih saja keras kepala, Poppu," Doremi menghela napas, kemudian dengan cepat mengganti sepatunya dengan sandal sebelum melangkahkan kakinya menuju ke ruang santai tempat kedua orangtuanya menunggunya.

"Okasan, otousan," manik magenta Doremi seketika berkaca-kaca saat ia melihat kedua orangtuanya disana, sedang duduk di sofa sambil menunggunya, "Tadaima."

"Okaeri, Doremi," keduanya pun menjawab dengan lembut. Mereka menatap sang putri sulung dengan tatapan bangga.

Selama beberapa menit mereka terdiam, sampai akhirnya Doremi terisak lalu berlari menghampiri kedua orangtuanya yang juga bangkit berdiri dari sofa dan menyambutnya. Mereka berpelukan.

"Aneh juga. Padahal waktu Tetsuya melamarku, kami sempat kesini untuk makan malam, tapi… aku tetap saja merindukan kalian disini," ujar Doremi setelah ia melepas pelukannya. Iapun menghapus air matanya, "Kalian juga merasa itu aneh, kan?"

"Tentu saja tidak, Doremi. Kotake-kun kan melamarmu hampir empat bulan yang lalu, dan setelah itu, kau baru datang ke rumah lagi hari ini," sahut sang ayah, "Kalau boleh jujur, kami juga sangat merindukanmu."

"Maaf. Selama hampir empat bulan ini, aku tidak sempat menengok kalian kesini," Doremi menundukkan kepalanya, "Sekarang murid-muridku sudah di kelas enam, jadi aku sibuk mengajari mereka supaya siap menghadapi banyak ujian nanti. Belum lagi, ada beberapa diantara mereka yang ingin masuk ke SMP swasta, jadi aku harus memberikan banyak masukan kepada mereka."

"Kami mengerti. Menjadi seorang guru memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain mengajar, kau juga harus bisa mengarahkan murid-muridmu, supaya mereka bisa mengembangkan diri mereka dan lebih mengenal potensi dalam diri mereka sendiri," sang ibu tersenyum, "Itulah sebabnya, para guru dianggap mempunyai peranan penting di negara kita ini."

"Kau benar, okasan," Doremi membalas senyuman sang ibu, "Itulah sebabnya, walaupun aku sibuk dalam pekerjaanku, aku tetap bangga menjadi seorang guru. Bukan karena gajinya yang tinggi, tapi karena peranannya yang sangat penting dalam kehidupan ini."

"Yo, Doremi-sensei!" seru Pop yang baru saja memasuki ruang santai itu, "Kopermu sudah kutaruh di dalam kamar, ya?"

"Terima kasih banyak, Poppu," balas Doremi. Ia lalu teringat sesuatu, "Ah, mumpung ini hari Sabtu, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan sekarang? Aku ingin sekali mentraktir kalian makan malam diluar."

"Lebih baik jangan hari ini, Doremi. Okasan sudah menyiapkan makan malam yang spesial untukmu," sang ibu memberi saran, "Sebelum kau tiba disini, okasan sempat belanja di pasar. Okasan beli beberapa potong daging steak spesial untuk makan malam kita."

"Eh? Benarkah?" tanya Doremi dengan mata yang berbinar-binar, tapi kemudian ia menyadari sesuatu lalu berkata dengan tersipu, "Ya, kalau memang okasan sudah menyiapkannya untukku, mungkin kita bisa makan malam diluar lain kali saja…"

"Mou, ternyata onee-chan tidak pernah berubah dalam hal ini," goda Pop.

"Mau bagaimana lagi? Kalau ada yang membicarakan tentang makanan favoritku, mau tidak mau, aku pasti akan tergiur," aku Doremi, "Kecuali kalau aku sudah kenyang. Mungkin saat itu, aku tidak akan tertarik mendengarnya."

"Baiklah, karena sudah jam segini, lebih baik sekarang okasan menyiapkan makan malam spesial kita di dapur," ujar sang ibu setelah ia mengecek waktu yang tertera di jam dinding, "Poppu, kau bisa membantuku di dapur, kan?"

"Tentu saja aku akan membantumu, okasan."

"Ah, aku juga ingin membantu kalian…"

"Tidak perlu. Sekarang, onee-chan istirahat saja di kamar," potong Pop sambil bergegas menyusul sang ibu ke dapur, "Nanti kuberitahu kalau makan malamnya sudah siap."

"Baiklah, aku akan merapikan barang-barangku dulu di kamar."

"Jangan lupa istirahat, ya? Jangan sampai onee-chan ketiduran di meja makan nanti."

"Iya iya," sahut Doremi yang akhirnya berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya sementara sang ayah bergegas ke ruang kerjanya untuk merapikan alat pancingnya yang berantakan disana.

.O.

"Jadi, bagaimana dengan persiapan pernikahanmu, Doremi?" tanya sang ayah saat keempat orang anggota keluarga Harukaze berkumpul lagi di ruang santai setelah makan malam, "Ayah dengar, Kotake-kun sudah pulang dari Spanyol minggu lalu."

"Ya, Tetsuya memang sudah pulang ke Jepang," jawab Doremi, "dan rencananya, besok kami akan ke butik untuk fitting baju pengantin."

"Aku boleh ikut kan?" dengan cepat Pop bertanya, "Aku juga boleh ajak yang lain kan?"

"Tentu saja boleh," Doremi tersenyum, "Memangnya kau mau mengajak siapa? Kimitaka-kun kan belum melamarmu."

"Bukan begitu. Maksudku aku ingin mengajak Hazuki-chan dan yang lainnya ke butik besok," ralat Pop sambil tersipu, "Kami kan juga ingin menolongmu memilih gaun pengantin yang tepat untukmu, onee-chan."

"Oh, boleh saja. Justru aku senang kalau mereka semua bisa ikut datang," sahut Doremi setuju. Iapun bertanya kepada kedua orangtuanya, "Okasan dan otousan juga boleh ikut kami besok."

"Baiklah, kami juga akan ikut," balas sang ibu, "Okasan juga akan menolongmu memilihkan gaun yang pas untukmu."

"Asal kau tahu saja, Doremi. Okasan hampir saja mendaftarkanmu di acara reality show, yang temanya memilih gaun pengantin," ujar sang ayah, "Untung saja, kami belum sempat mendaftarkanmu di acara itu."

"Ah, maksudnya acara 'Saya Terima Gaunnya' ya?" tebak Doremi. Ia tertawa kecil, "Sebaiknya aku tidak ikut acara itu. Rasanya, agak memalukan kalau persiapan pernikahanku sampai diliput media begitu. Sekarang saja, aku masih bingung memikirkan kalau-kalau nanti ada banyak wartawan yang menghadiri pernikahan kami, hanya karena Tetsuya sudah jadi pemain sepak bola terkenal di tim nasional."

"Meski begitu, kami masih boleh menolongmu memilih, kan?" tanya sang ibu.

"Tentu saja boleh, okasan. Tadi kan aku juga sudah mengajakmu dan otousan supaya ikut ke butik bersama dengan kami besok," jawab Doremi, "Lagipula, diantara kita semua, jelas-jelas okasan yang sudah pernah punya pengalaman memilih gaun pengantin. Aku kan juga ingin terlihat cantik saat mengenakan gaun pengantinku, seperti okasan yang terlihat cantik saat berfoto di pesta pernikahan."

Sebelumnya, sang ibu memang sempat memperlihatkan beberapa foto pernikahannya kepada Doremi dan Pop, dan memang, ia terlihat cantik dalam foto-foto tersebut.

"Itu juga karena okasan didandani oleh nenekmu, makanya okasan bisa terlihat cantik dalam foto-foto itu," komentar sang ayah, "Nenekmu itu jago merias pengantin."

"Ehm, apa itu maksudnya, aku tidak akan terlihat cantik kalau bukan ibuku yang mendandaniku saat itu?" sang ibu mencoba menafsirkan apa yang dikatakan oleh sang ayah, bersiap untuk mengomel, "Jadi biasanya, aku tidak terlihat cantik di matamu."

"Ah, jangan salah paham. Maksudku, ibumu berhasil membuatmu terlihat lebih cantik dari biasanya di pesta pernikahan kita," ralat sang ayah dengan takut-takut, "Tadi aku hanya lupa mengucapkan satu kata penting."

"Mou, sudahlah, okasan. Otousan hanya bingung memilih kata-kata yang tepat," ujar Doremi, mencoba menenangkan sang ibu. Kelihatannya, ia menangkap raut wajah sang ayah yang ketakutan, seolah ingin berkata 'Jangan hajar aku di depan anak-anak kita'. Sang guru muda berambut merah panjang itupun menambahkan, "Mungkin otousan masih teringat wajah okasan yang terlihat lebih cantik dari biasanya saat pernikahan kalian."

"Hmm, mungkin juga sih," sang ibu lalu mengalihkan perhatiannya kepada putri sulungnya dan bertanya, "Jadi, besok kita akan ke butik yang mana? Yang di dekat stasiun, kan?"

"Tentu saja. Aku memang sudah buat janji disana," Doremi tersenyum, "Kita akan bertemu dengan Tetsuya disana, jadi aku bisa berangkat kesana dengan kalian."

"Hazuki-chan dan yang lainnya bagaimana? Apa mereka harus kesini dulu menjemput kita?" tanya Pop.

"Tidak perlu. Aku akan mengirimkan pesan untuk mereka," dengan cepat, Doremi mengeluarkan smartphone miliknya dan mengetik sebuah pesan disana, "Mereka bisa langsung ke butik dan bertemu dengan kita disana."

Sang ayah menghela napas lega, lalu bertanya, "Jadi, Doremi, bagaimana dengan konsep pernikahanmu? Apa kau hanya akan memilih gaya Barat saja?"

"Hmm, bagaimana ya? Aku mau saja pakai cara tradisional, tapi Tetsuya bilang… dia tidak ingin melihatku sakit kepala hanya karena aku mengenakan 'tanduk kecemburuan' di kepalaku," aku Doremi, "Dia hanya ingin melihatku pakai gaun pengantin."

"Ada-ada saja, Kotake-senpai ini," Pop menggeleng, "Kalau dia tidak mau melihat onee-chan pakai 'tanduk kecemburuan', ikat saja rambut onee-chan seperti biasa. Tidak akan ada orang yang tahu ini. Biasanya kan, pengantin wanita tradisional juga mengenakan penutup kepala putih diatas 'tanduk kecemburuan'nya."

"Memangnya boleh seperti itu, Poppu?" Doremi mengerutkan alisnya, "Yang kutahu, 'tanduk kecemburuan' wajib dipakai oleh pengantin wanita dalam pernikahan tradisional."

"Kalaupun tidak boleh juga, tidak apa-apa sih," sahut Pop, "Jujur saja, aku lebih senang melihatmu mengenakan gaun pengantin, onee-chan. Itu lebih cocok untukmu."

'Lagipula, lagu yang akan kami bawakan sebagai kejutan untukmu hanya menyebutkan tentang gaun pengantin, bukan 'tanduk kecemburuan',' tambah Pop dalam hati, 'Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk onee-chan dan Kotake-senpai.'

"Begitu ya? Baiklah," akhirnya Doremi berkata, "Lagipula, kami juga sudah memutuskan untuk tidak memakainya."

"Oh iya, onee-chan…" Pop teringat sesuatu, "Bagaimana dengan foto pre-weddingmu? Kau belum sempat membuatnya dengan Kotake-senpai, kan?"

"Hmm, foto itu, ya… Mungkin kami akan melakukannya minggu depan saja," Doremi merenung, "Masih ada waktu sebulan sebelum pernikahan kami dilangsungkan."

"Bukannya akan lebih baik kalau kalian segera membuatnya?" tanya Pop lagi, "Kurasa besok kalian masih punya waktu untuk foto-foto."

"Ya, kalau memang kita masih sempat membuatnya besok, tidak jadi masalah buatku," jawab Doremi, "Jadi minggu depan kami tinggal mengamati suasana hotel tempat pernikahan kami akan dilangsungkan."

"Hotelnya dekat pantai, kan? Aku juga mau ikut kesana dong, minggu depan," pinta Pop, "Aku boleh ikut ya?"

"Iya iya. Tentu saja kau boleh ikut, Poppu."

"Asyik!" seru Pop kegirangan. Mereka terus saja membicarakan tentang persiapan pernikahan Doremi dan Kotake sampai tengah malam.