Mencari. Di tengah stagnansi yang jarang mengundang tanya sesiapa. Kepingan yang hilang tanpa gema hadirnya. Akankah engkau percaya? Atas samarnya ambang dusta dan fakta.
Cipta dan Sirna
By: Koyuki17
Boboiboy © Monsta Studio
Chapter 1: Dusta
Sauh atensi remaja itu seharusnya berlabuh pada cemerlang angkasa lebih lama lagi. Sejenak beristirahat dari teropong bintang andalannya itu justru membuat Boboiboy menemukan hal yang ganjil. Awalnya Boboiboy hanyalah iseng mengamati lampu-lampu kota, namun tajam manik hazelnya justru menangkap sekelebat figur asing jauh di jalan raya. Kelana kecilnya pada gemintang malam itu pun seketika terhenti.
Ada seseorang yang dengan gesitnya beranjak, menyelusup diantara bayang-bayang yang tercipta dari deret pepohonan. Segeralah teleskop Boboiboy membidik ke jalanan di bawah sana. Kamar dan jendela yang berada di lantai dua dan letak rumah yang berada hampir di puncak bukit menjadi titik yang nyaman dan leluasa untuk mengawasi.
Jubah abu-abu dikenakan sosok itu hingga menutupi kepala, menyembunyikan dengan sempurna wajah dan rupa lain yang bisa dijadikan pengenal. Di bawah lebatnya pohon yang dekat dengan perpustakaan kota, sosok itu pun akhirnya berhenti dan membeku. Seolah sebuah patung baru saja dipahat di bawah pohon itu.
'Untuk apa orang itu berdiri di sana malam-malam?' Segera saja pertanyaan itu terlontar dalam benak Boboiboy. Ingin sebenarnya ia melaporkan ini pada Tok Aba, tapi tak tega ia membangunkan sang atok yang belum lama tertidur di kamar bawah. Ia memutuskan untuk terus mengawasi, jikalau benar sosok itu memang berniat buruk.
Boboiboy hampir saja memekik kaget ketika objek pengamatannya tahu-tahu memandang lurus ke arahnya, menembus celah sempit dari lensa teleskop. Jelaslah sudah sorot mata kemerahan menyala, persis seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya. Boboiboy menunduk dan menenggelamkan sebagian besar tubuhnya dari ambang jendela, detak jantungnya bergema begitu lantangnya.
Perlu setidaknya setengah menit sampai Boboiboy kembali pada teleskopnya itu, setelah napasnya tak lagi memburu. Namun dalam temaram di bawah sana, sosok berjubah itu telah pergi. Seolah dingin kelana angin membawanya dalam kehampaan di malam itu. Boboiboy pun tertegun sejenak, intuisinya masih berbunyi nyaring. Ia tak bisa melepaskan bagaimana sorot mata itu menatapnya dengan sirat ancaman.
-CdS-
Waktu sarapan adalah kesempatan yang ditunggu Boboiboy keesokan paginya. Lekaslah ia menceritakan apa yang dilihatnya semalam pada sang kakek. Namun penuturan Boboiboy itu hanya dianggap lalu, seringan kepulan asap dari cokelat hangat yang tadi tersaji di atas meja makan. Tok Aba bahkan bertanya apakah Boboiboy tidak sedang mengigau semalam.
"Sudahlah, tak baik jika langsung menuduh yang tidak-tidak. Di daerah sini kan aman, masa iya sistem keamanan nggak bekerja," begitulah komentar Tok Aba untuk yang kesekian kalinya.
"Tapi tok, kalau benar orang itu ada niat jahat bagaimana?" Kilah Boboiboy sembari melahap suapan terakhir nasi goreng sarapannya itu.
"Anggap saja dulu orang itu adalah aktor atau apalah yang harus berpenampilan seperti itu." Lain dengan anak muda yang masihlah hijau, waktu telah menempa sang kakek untuk lebih tenang. "Lagipula, kau sudah punya bukti kalau orang itu memang orang jahat?"
Gelengan pelan menjadi jawaban dari Boboiboy, lalu ia pun beranjak dari meja makan untuk menyimpan piring kotor di wastafel dapur. Pertanyaan barusan telak dan membuat Boboiboy tak lagi berdebat. Karena memang ia sendiri tak punya bukti apapun selain prasangkanya barusan.
Tok Aba hanya tersenyum dan menghela napas ketika melihat reaksi cucunya itu. Pastilah anak itu kecewa, tapi tak apa. Segeralah Tok Aba mengambil amplop dari meja di ruang tamu. Setelah memastikan Boboiboy selesai membersihkan piring dan menyeka tangannya yang basah, Tok Aba pun mengulurkan surat itu.
"Nih, kiriman dari pak pos kemarin. Hampir atok lupa!" ucap Tok Aba dengan sebuah cengiran khasnya.
Cemberut pada bibir remaja itu seketika berganti. Sebuah surat dari sang ayah memanglah satu-satunya hal yang mampu mengalihkan Boboiboy sejenak. Nampaklah jelas dari seruan riang remaja itu sembari mengangkat surat ke hadapan kedua matanya.
"Bacanya kalau kau senggang di sekolah, nanti terlambat." Tok Aba mengingatkan waktu yang memang selalu tak terasa bergulir di pagi hari.
Boboiboy lekas menyimpan suratnya dengan apik sebelum menggendong tasnya itu dan mulai beranjak menuju pintu depan. "Boboiboy berangkat dulu ya tok!"
Kamera berwarna perak yang tak Boboiboy sadari sudah dalam genggaman Tok Aba tahu-tahu menangkap gambarnya barusan. Sebuah rutinitas dimana satu lagi potret Boboiboy disalin pada lembar foto nantinya. Karena kedua orangtua Boboiboy tak bisa menyaksikannya beranjak dewasa, Tok Aba berinisiatif untuk memotret sang cucu pada waktu-waktu tertentu. Walaupun sekarang malah bergeser menjadi kesempatan iseng Tok Aba.
"Tok, kalau mau ambil foto bilanglah dulu!" protes Boboiboy untuk yang kesekian kalinya.
"Kalau atok kasih tahu yang ada kamu malah jadi malu-malu" Tok Aba tertawa. "Nanti atok kasih catatan kalau kau selalu begini ketika surat ayahmu datang!"
"Atoook!" kembali Boboiboy memprotes, memperpanjang tawa sang kakek.
-CdS-
Sampai pada kelas di awal pagi adalah kesempatan emas bagi Boboiboy untuk membaca suratnya. Baris kata yang tertera mungkin tak pernah berganti makna inti, tak jauh dari betapa rindu sang ayah pada anak laki-laki bertopi jingganya itu. Tak luput kata-kata penyemangat yang selalu mampu membuat Boboiboy menyunggingkan senyum juga tawa kecil.
"Selamat pagi Boboiboy! Itu surat dari ayahmu?" Seorang gadis berkacamata bulat pun menyapa sebelum duduk di bangku depan.
"Iya Ying, selamat pagi," suara ramah Boboiboy pun menyahut.
"Boboiboy, sudah selesai belum bacanya? Aku ada cerita seram baru nih!" Gopal, sahabat Boboiboy yang tambun itu sedari tadi hanya bisa menunggu sambil menopang dagu di bangku sebelah.
"Sabar lah, ini sebentar lagi juga selesai" ucap Boboiboy sebelum kembali membaca lembar ketiga suratnya.
"Biarlah Boboiboy baca sampai selesai Gopal." Yaya, sang gadis berkerudung merah jambu pun ikut menimpali.
"Boboiboy kan baru dapat surat setelah sekian lama!" tambah Ying dengan nada ketusnya. Tak perhatian memang teman mereka yang satu ini.
"Iya deh, tapi aku yakin kalian bakal menyesal kalau nggak mendengarnya!" Gopal pun menepuk dadanya dengan penuh percaya diri, namun baik Yaya maupun Ying melempar tatapan bosan sebelum mereka memulai obrolan lain.
Boboiboy sempat tersenyum dan bergegas menuntaskan lembar terakhir suratnya. Memang ketiga temannya sejak sekolah dasar ini telah hafal betul dan memberikan ruang baginya untuk sejenak melepas relung nostalgia. Namun sebuah celetukan dari arah belakang langsung membuat senyum Boboiboy menipis, "huh, seperti anak manja saja."
Fang yang duduk di bangku tepat di belakangnya adalah sosok baru dalam tahun keempat Boboiboy di sekolah menengah. Tapi sejak mereka sekelas, Boboiboy merasa kesehariannya sekarang selalu dibayang-bayangi oleh sepasang netra kemerahan. Jika saja tahun lalu Boboiboy tidak menerima ajakan untuk dinominasikan sebagai pelajar paling populer di sekolah. Fang mungkin takkan bersikeras menunjukkan diri bahwa ia lebih pantas menyandang predikat siswa paling populer dibandingkan Boboiboy. Setiap kali ada kesempatan, maka Fang akan mengomentari Boboiboy dengan nada sinis seperti barusan.
Baru saja Boboiboy hendak menyahut, tahu-tahu Gopal menimpali ucapan remaja berkacamata itu. "Setidaknya Boboiboy menunggu ayahnya yang sudah jelas ada ya, bukan cuma imajinasi seperti kakakmu itu..."
Mendengar ucapan Gopal, Boboiboy langsung menurunkan suratnya kembali. Bahkan obrolan Ying dan Yaya terputus karena keduanya kompak menoleh ke belakang. Ucapan teman mereka ini memang selalu jadi sepercik api yang jatuh tepat di atas ladang mesiu. Lalu meledaklah amarah Fang yang diawali dengan gebrakan kedua tangannya pada meja.
"Apa kau bilang?!" seruan marah Fang pun kini membuat hampir seisi kelas melirik ke arahnya.
"Kau dengar tidak? Mau kuulangi lagi?" Gopal balas menggertak dan Fang segera bangkit dari kursinya.
"Kalau bertengkar, akan kucatat nama kalian dan sepulang sekolah nanti dan kalian berdua harus membersihkan toilet!" tak ada yang lebih ampuh dari ancaman Yaya sang ketua kelas.
Urunglah Fang untuk melanjutkan niatnya barusan. Ia pun duduk dengan kasarnya di kursi sembari mendengus kesal. Gopal masih membujuk Yaya untuk tidak menuliskan namanya. Boboiboy sempat melirik Fang, yang kini memulai kebiasaannya untuk melemparkan visinya pada sebentang langit di luar bingkai jendela. Walaupun lumayan kesal karena damai hidupnya diusik, Boboiboy tetap sedikit merasa tak enak hati. Niat Fang barusan hanyalah mengomentari seperti biasa, namun kini harus berakhir dengan kasak-kusuk yang memenuhi kelas mereka.
Bergidik. Bagaimana hampir semua orang di kelas teringat kembali tentang figur seorang kakak yang seringkali Fang coba buktikan keberadaannya saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagaimana sosok bersurai berantakan itu bersikeras sekalipun orang tuanya hanya memiliki anak tunggal yang tak lain hanyalah Fang seorang. Namun dibandingkan ketakutan, Boboiboy merasa bahwa rivalnya itu dipenuhi dengan sebaris enigma yang diam-diam menarik atensinya.
-CdS-
Insiden di kelas nampaknya membuat Fang memutuskan untuk memperbaiki pandangan atas dirinya. Tibalah jam pelajaran olahraga siang itu. Mendengar bahwa materi praktik minggu ini adalah tes lari, maka sumringahlah Fang. Sebagai kapten klub basket, olahraga termasuk ke dalam bidang dimana ia bisa unjuk gigi.
"Kali ini akan kubuktikan bahwa aku lebih hebat darimu!" kembali kata-kata itu terdengar. Jujur Boboiboy sudah mulai bosan.
Papa Zola, guru olahraga mereka malah menyambut pernyataan Fang dan dengan sengaja membuat kedua anak muridnya berada dalam giliran yang sama. "Ada tiga sesi tes hari ini: Tes lari jarak pendek, lari zig zag, dan lari jarak menengah! Siapa yang paling cepat maka dialah yang menang!"
Maka dimulailah tiga ronde lari itu. Pada lari jarak pendek, Boboiboy berhasil melesat mendahului Fang. Berbalik pada tes lari zig zag, Fang yang terbiasa berkelit cepat pada permainan basket lebih unggul. Pada tes lari jarak menengah, kedua remaja laki-laki itu menerobos garis finis di saat yang bersamaan sehingga mulailah keributan kecil.
"Aku yang duluan ya, jadi aku yang menang!" ujar Fang sambil menyilangkan tangan dengan angkuhnya.
"Bukan lah! Aku yang lebih cepat tadi!" Boboiboy tak kalah sengitnya berkata.
"Sudah, jam olahraga sudah selesai!" Papa Zola pun melerai dua muridnya itu. "Kalian berdua bereskan peralatan olahraga sebelum kembali ke kelas!"
Baru saja Boboiboy hendak mengambil cone (kerucut berwarna warni yang dipakai dalam tes lari zig zag) yang ada di hadapannya, tangan cekatan Fang mengambil cone itu terlebih dulu. Boboiboy tentunya kesal karena Fang melakukan hal yang sama sampai tiga kali. Menangkap maksud Fang, Boboiboy pun semakin cekatan memunguti cone yang ada. Dua orang itupun kalap mengambil cone hingga hampir bersihlah lintasan lari.
"Yang sampai duluan menyimpan ini berarti menang lari barusan!" setelah mengambil cone terakhirnya, Fang pun berbalik dan melesat menuju gudang penyimpanan.
"Hoi curang kau Fang, masa ngga ada aba-aba!" Boboiboy pun menyusul secepat mungkin walaupun sempat memprotes.
Dua pasang kaki itu tak mengendurkan kecepatan. Bahkan ketika keduanya berbelok tajam ke kanan, dimana pintu gudang terletak tepat setelah belokan tajam. Kedua anak remaja itu begitu sibuknya berlari secepat mungkin hingga terlambat menyadari Papa Zola yang baru saja keluar dari gudang.
"KYAAAA!"
Alih-alih menghindar ataupun menyetop kedua muridnya itu, Papa Zola malah mengeluarkan teriakan melengking. Kedua remaja laki-laki itu hanya bisa pasrah ketika serudukan mereka mampu membuat guru matematika yang merangkap sebagai guru olahraga mereka ini melayang dan memporak-porandakan nyaris separuh isi gudang peralatan olahraga.
.
.
.
"Kenapa pula aku harus membereskan gudang bersamamu sih!" sembari membenarkan meja yang rusak karena kena terjang, Fang pun kembali melayangkan protes.
"Kalau kau nggak tiba-tiba bikin perlombaan keempat, kita nggak akan menabrak Papa Zola sampai terbang begitu" tutur Boboiboy yang ikut memegangi kaki meja yang diperbaiki Fang.
Walaupun Fang tak lanjut mendebat, tapi remaja berkacamata itu masihlah memberengut. Gumaman tiada henti itu membuat Boboiboy kembali membuka mulut, "Kenapa sih kau sebegitu bencinya denganku?"
"Karena kau sudah merebut gelar siswa paling populer, memangnya kau nggak sadar apa?" dengan ketusnya Fang menjawab.
"Cuma karena itu?" tanya Boboiboy, manik matanya melirik Fang dengan tatapan menyelidik.
"Cuma? Hei, aku sudah berusaha keras sejak masuk sekolah untuk mendapat predikat itu ya!" jawab Fang sembari membereskan bola yang masih berceceran di lantai dan memasukkannya ke dalam kardus.
Lalu sunyi kembali, namun Boboiboy telah bertekad untuk menemukan celah untuk berdamai dengan orang yang satu ini. Selagi ada kesempatan untuk berbicara baik-baik dengan Fang sekarang. Demi mengamalkan petuah sang atok dimana ia sebisa mungkin tidak bermusuhan dengan siapapun. Setelah sedikit memutar otaknya, Boboiboy mencoba memperpanjang percakapan.
"Fang... kakakmu itu orangnya seperti apa?" lupa dengan perkataan Gopal, seketika mulut Boboiboy terkatup setelah pertanyaan itu terlontar begitu saja.
"Hah?" alis Fang seketika terangkat, daripada marah ia terlihat keheranan dengan pertanyaan entah bermula dari mana itu.
"Penasaran saja, nggak dijawab pun ya sudah" buru-buru Boboiboy memalingkan wajahnya.
"Huh dengar ya, kakakku itu siswa paling populer di sekolah ini dulu! Dan tentunya kami berdua mirip, jadi aku pun pasti bisa menjadi siswa paling populer di sini!" setelah menjelaskan dengan bangga, tiba-tiba saja Fang terdiam sejenak. "Terus memangnya kenapa, kau juga mau meledekku seperti yang lain?"
"Aku nggak akan bilang begitu. Jika memang Fang mengingatnya, mungkin saja kakakmu juga ada." Jawab Boboiboy dengan mudahnya.
"Kau ingin ikutan disebut kurang waras?" tanya Fang dengan keheranan.
"Nggak lah! Tapi aku pikir kamu bukan orang pelupa sepertiku..." Boboiboy langsung menambahkan.
"Pasti, makannya nilai ulanganku lebih bagus dari punyamu!" terdengar Fang mendengus puas atas apa yang diucapkan Boboiboy barusan.
"Iya deh..." Boboiboy yang memang tak bisa memungkiri bahwa nilai ulangan tengah semesternya kemarin memang rata-rata berada di bawah nilai Fang.
Pembicaraan itu pun terhenti kembali, tapi Boboiboy masih belum merasa cukup. Dengan masih banyaknya pekerjaan mereka, ia memulai topik lain yang masih terlintas di benaknya sejak semalam.
"Oiya Fang, apa kamu tahu soal sosok berjubah abu-abu yang kadang keluyuran malam-malam?"
Kardus berisi bola tenis yang baru saja Fang angkat langsung terhempas dari pegangan tangannya. Kedua manik violet di balik bingkai kacamata itu melirik dengan tajam pada Boboiboy yang langsung terpaku.
"Kau melihatnya? Kapan?!" sembari berseru, Fang pun bertanya dengan tergesa.
"Eeh, tadi malam," sahut Boboiboy. Tak menyangka ia mendapat reaksi seperti itu dari Fang.
Ada jeda sebelum Fang kembali menyahut. Iris violetnya sempat mengamati Boboiboy seolah memperhitungkan sesuatu. "Boboiboy, apa kau ingin tahu soal mereka?"
"Te.. tentu saja ingin! Sejak kemarin malam, aku merasa kalau mereka agak berbahaya. Bagaimana kalau mereka orang jahat seperti pencuri atau..."
"Sayangnya mereka memang pencuri." Ucapan Fang nampak begitu datar, berkebalikan dengan kedua manik hazel yang membelalak padanya.
"Beneran Fang? Kalau begitu kita harus melapor!" Boboiboy pun segera bangkit dan hendak berlari. Namun raihan tangan Fang mampu menghentikan Boboiboy.
"Dengar dulu, mereka bukanlah orang yang bisa ditangkap," jelas Fang dengan wajah sangat serius.
"Terus bagaimana dong?" tanya Boboiboy. Ia nampaknya tak habis pikir lagi apakah sebenarnya sosok mencurigakan itu.
"Aku tahu ke mana orang itu pergi, Jadi bagaimana, kau mau ikut tidak?" sebuah tawaran pun disodorkan Fang.
Boboiboy sempat terjeda oleh alur benaknya, menimbang-nimbang keputusan yang tepat. Tapi dibandingkan diam saja dan membiarkan sosok pencuri mencurigakan keluyuran di lingkungan sekitar, ia ingin menyeledikinya.
"Aku ikut" jawab Boboiboy pada akhirnya.
"Sabtu besok, tepat jam tujuh malam di taman dekat belakang sekolah. Jangan sampai telat!" tutur Fang dengan nada suara yang lebih mirip sebuah ancaman.
"Kenapa ke sekolah? Kemarin orang itu ada di dekat perpustakaan kota loh!" koreksi Boboiboy.
"Nanti juga kau tahu," ujar Fang dengan nada dingin.
-CdS-
Belum dimulai penyelinapan malam itu, namun Fang sudah dibuat pusing. Seketika keputusan untuk mengajak Boboiboy ingin disesalinya. "Boboiboy, kenapa kau malah bawa pasukan hah?!"
Telunjuk Fang pun tertuju pada ketiga orang yang mendadak masuk ke dalam penyelinapan mereka malam itu. Ying tentunya langsung ingin balas mendebat seruan barusan. Yaya hanya tersenyum dan berusaha untuk tidak berkomentar. Gopal hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kita mau menyelinap bukan mau jalan-jalan! Argh, pasti kau cerita ke mereka bukan?" seruan Fang pun diiyakan oleh Boboiboy tanpa banyak mengelak.
"Dengar ya, aku masih nggak percaya kalau kau hanya mengajak Boboiboy untuk menangkap pencuri!" telunjuk Ying pun balas menerjang di depan muka Fang. "Pasti kau ada niat apa-apa kan?"
"Aku tak ingin berprasangka buruk, tapi kau benar-benar nggak punya niatan seperti itu kan?" Yaya ingin memastikan.
"Nggak lah! Iya sih aku kesal dengan orang ini, tapi untuk yang sekarang lain lagi urusannya!" kilah Fang.
"Tapi aku tetap nggak percaya, huh!" Ying pun melempar muka. "Pokoknya aku dan Yaya di sini akan memastikan kalau kalian (terutama kau, Fang) nggak berbuat sesuatu yang tak betul di sekolah!"
"Terserah kau saja..." kini Fang pun tak ingin memperpanjang. "Lalu kau mau ngapain sambil bawa-bawa kamera begitu?" seolah guru yang sedang mengabsen, Fang pun beralih pada Gopal dan benda yang digenggamnya.
"Kau pasti nggak update ya Fang! Aku ingin membuktikan misteri sekolah yang sedang panas-panasnya!" berbalik dengan kedua temannya, niat Gopal tak berhubungan dengan Boboiboy sama sekali. "Ada rumor yang menyebar kalau siswa yang keluyuran malam-malam bakal menemukan tempat aneh dan tak kembali lagi. Konon katanya˗"
"Gopal, jangan ikut menyebarkan rumor yang tak jelas begitu. Semua orang jadi resah dan ketakutan, kau tahu?" kini Yaya pun menasihati.
"Makannya kita buktikan sekarang!" Gopal menyahut tanpa diminta.
"Sudah! Pokoknya kalian jangan mengganggu selama menyelinap ke dalam nanti!" ujar Fang.
"Jadi bagaimana Fang, tak apa kan?" tanya Boboiboy, berharap penyusupan mereka untuk menemukan pencuri misterius itu tetap berlanjut.
Fang menghela napas panjang sebelum berkata, "ikuti aku dan jangan banyak bicara lagi."
.
.
.
Berbaris layaknya anak bebek, kelima remaja itu memulai penyusupan mereka malam itu. Mereka tak mungkin melewati gerbang depan dimana penjaga sekolah berada. Fang memimpin barisan menuju celah tersembunyi pada dinding di belakang sekolah.
"Hoo... jadi ada jalan masuk tersembunyi di sini. Darimana kau tahu Fang?" Boboiboy kontan penasaran.
"Kalau aku bilang, kalian paling nggak akan percaya..." balas Fang sembari menyingkirkan papan kayu yang dipiasang untuk menghalangi celah dinding. Selaras warna hijaun kayu itu dengan dinding dan belukar memang menyamarkan keberadaannya.
"Kalau ada yang niat bolos dan tahu jalan ini rasanya nggak mustahil ya." Celetuk Ying. Lalu ketiga orang itu (kecuali Gopal) kompak memandang Fang dengan curiga.
"Aku nggak pernah bolos ya!" Fang langsung membantah.
"Akan kupastikan anggota OSIS yang ditugaskan berjaga untuk mengecek sekitaran sini." Ujar Yaya dengan berapi-api. Jelaslah ia tak ingin kecolongan setelah tahu ada jalan keluar masuk seperti ini.
"Halo guys! Malam ini, Gopal, siswa yang paling berani ini akan mencoba membuktikan salah satu misteri di sekolah kami..." tanpa memedulikan keempat temannya, Gopal mulai menyorotkan kamera pada dirinya sendiri dan mulai merekam.
"Buruan masuk Gopal! Ditinggal nih!" panggil Boboiboy sementara ketiga teman mereka telah menyusup lewat celah itu.
"Eeh! Tungguin lah!" takut ditinggal sendiri, Gopal langsung menunda rekaman videonya itu.
Dengan aba-aba dari Fang, mereka pun menerobos lapangan. Setelah memastikan tidak ada penjaga sekolah yang patroli tentunya. Tibalah mereka di depan pintu gedung sekolah di bagian belakang. Sekali lagi Fang membuat mereka terkejut ketika sebuah anak kunci yang dibawanya mampu membuka pintu gedung sekolah yang terkunci itu.
"Ini bukan pertama kali kau membobol sekolah kan Fang?" tebak Boboiboy.
"Ayo ngaku! Kau sering menyusup ke sini dan ngapain?" kini Ying pun mencoba mengintrogasi Fang.
"Sssttt, cepat masuk sana!" kembali Fang mencoba mengalihkan atensi tiga orang yang semakin curiga itu.
"Lihat, kita sudah tepat di belakang sekolah. Simak baik-baik ya penjelalahan kami ini!" Gopal masih kembali asyik dalam rekaman mandirinya.
"Gopal, kalau begini kamu beneran kami tinggalin loh!" Boboiboy kembali memperingati sahabat berjaket hijaunya itu.
"Ish, jangan begitu dong! Aku takut kalau sendirian." Lalu kembali Gopal pun menjadi orang terakhir yang masuk dengan terburu-buru.
Suasana sekolah malam itu persis seperti yang dituturkan pada berbagai cerita horor sekolah. Ruangan kelas dan koridor yang biasanya penuh dengan teriakan dan percakapan akrab pun kini lengang. Fang tak peduli dengan kerisauan orang-orang di belakangnya, yang terus memandang setiap sudut koridor. Langkahnya tetap memandu mereka tanpa gentar ataupun ragu, hingga mereka menaiki tangga dan tiba di lantai dua.
"Gelap, bisa nyalain senter nggak?" Gopal memecah sepi dengan bisikannya itu.
"Kalau nyalain senter kila langsung ketahuan lah," balas Fang.
"Jadi, pencuri misterius itu markasnya ada di sekolah kita? Di mana?" Boboiboy tak bisa lagimenahan keingintahuannya.
"Kita harus cari pintu yang sebelumnya nggak pernah kita lihat" tutur Fang dengan serius. "Aku sudah menyelidiki lantai pertama dan kedua, sekarang kita cari di lantai ketiga."
Keempat remaja itu saling berpandangan, mencoba mencerna ucapan Fang barusan.
"Pintu yang sebelumnya nggak pernah kita lihat. Logis sekali kau Fa˗" Kaki Gopal yang kelebihan tenaga dan tak awas itu tahu-tahu menyenggol tong sampah kosong yang ada di dekat tangga. Kelima orang itu menatap horor ketika tong sampah itu pun terpental dan membentur satu demi satu anak tangga dengan gaduhnya.
DUG! DAKK! BRAKK
Bunyi dentuman itu bergema hingga penjuru gedung sekolah, mengundang teriakan penjaga sekolah di luar sana. Mendengar langkah kaki yang mulai mendekati gedung sekolah, kelima remaja itu panik bukan main.
"Lari ke atas! Cepat!" seruan setengah berbisik Ying pun mengajak keempat teman sekelasnya untuk menaklukan gesit angin dan menaiki undak tangga menuju lantai ketiga.
"Dasar bego!" Fang melirik tajam ke arah sumber masalah. Padahal belum lama ia berkata pada Gopal untuk tidak mengganggu penyelinapan mereka.
"Aku nggak sengaja lah!"
Dari lantai bawah, seruan keras dua penjaga sekolah sampai pada gendang telinga. Mereka pun sampai di lantai ketiga dan berbelok menuju koridor di sebelah kiri. Segeralah mereka mencari tempat untuk bersembunyi di tengah kepanikan itu.
"Masuk! Ayo masuk ke sini!" gelap membuat Boboiboy tak peduli lagi dan membuka pintu yang tidak terkunci di ujung koridor.
Setelah memastikan lima orang masuk, Boboiboy pun menutup pelan pintu, menguncinya dengan selot yang berhasil jemarinya raba barusan. Beberapa menit berlalu dan suara langkah kaki dari bawah tak terdengar lagi. Mereka pun akhirnya bisa mengela napas sejenak. Aman. Mereka belum ketahuan.
"Fyuuh... selamat..." Gopal pun bersandar pada dinding dan tubuhnya merosot ke lantai keramik yang dingin.
"Ish, Gopal... kamu ini... kenapa sih?" walaupun sedikit terengah, Ying masih tetap melampiaskan kemarahannya.
"Iya deh, aku minta maaf!" seru Gopal.
"Harusnya aku nggak mengizinkanmu ikut." Fang menggumam.
"Kalian!" Boboiboy pun memutus percakapan.
"Ada apa Boboiboy?" tanya Yaya penasaran.
"Kalian tahu nggak, di sini itu ruangan apa?" pertanyaan bernada ragu dari Boboiboy pun membuat keempat orang itu berpandangan.
"Bukannya sekarang kita ada di laboratorium kimia?" Fang pun menyahut, tapi mendadak ia memandangi sekeliling dengan teliti.
"Tunggu, pintu lab selalu terkunci kan?" kini Ying menyadari hal yang ganjil dengan tempat dimana mereka berada.
"Dan lagi, kita ada di lorong loh! Bukan di kelas." Gopal yang tadi bersandar pun langsung bangkit dan menyentuh dinding yang mengepung mereka di sisi kanan dan kiri. Hanya ada jarak dua meter antara kedua dinding itu. Kelima pasang mata itu barulah menyadari bahwa mereka berada pada koridor panjang. Temaram yang ada semakin mempersulit mereka untuk mengenali.
"Bagus Boboiboy! Kita menemukan pintu yang dicari!" Fang berseru riang sembari mengeluarkan senter dari tas selempang yang dibawanya.
.
.
.
Derak kerikil dan bebatuan pada setiap langkah membuat perjalanan mereka semakin asing. Telah lama langkah kaki mereka membawa, selusur koridor gelap itu kini terhubung pada jalan berbatu yang semakin lebar. Dengan sorot lampu senter yang digenggam Fang sebagai kompas, mereka pun kembali berjalan dalam satu barisan.
Yaya mendongak, mencoba memperjelas visinya pada keremangan di sana. "Langit-langitnya meninggi ya."
Gema suara Yaya membuat kelima remaja itu terdiam. Jelaslah sudah yang mereka jejaki bukanlah koridor misterius yang dijelajahi barang sepuluh menit yang lalu. Ada di belahan bumi manakah kini mereka berada? mereka sudah tak tahu lagi. Gopal merintih ketakutan, namun ia masih merekam dan bergumam tak jelas.
"Kalian... dengar suara aneh nggak?" Boboiboy sebagai ekor barisan pun merasakan sesuatu jauh di belakang.
"Jangan bilang begitu dong Boboiboy!" seru Gopal dengan nada ketakutan yang semakin kentara.
Hembus angin pun menyibakkan setiap helai rambut dan mengundang remang di sekujur tubuh mereka. Namun tak ada siapapun, tak terdengar apapun di belakang sana. Teriakan Gopal pun sontak membuat atensi mereka kembali ke depan. "Lihat! Di depan ada jalan keluar!"
Sekitar duapuluh meter di depan sana, cahaya terang mengisyaratkan adanya jalan keluar. "Sejak kapan... perasaan tadi masih gelap di depan." Sahut Ying kebingungan.
Gopal berlari menuju sumber cahaya itu dengan penuh semangat, ingin cepat-cepat terlepas dari kegelapan yang semakin membuatnya takut. Namun Fang, yang berada di depan dan paling pertama melewati mulut terowongan. Lesat langkahnya melebihi ambisinya ketika bertanding lari dengan Boboiboy tempo hari. Sosok jangkung itu seketika menghilang sejenak dalam benderang. Ketiga orang terakhir mengikuti walau intuisi mereka berkata bahwa sudah tidak ada yang beres sekarang.
"Kita... ada di mana ya?" ucapan Yaya cukuplah mewakili seruan kebingungan dan terkejut dari ketiga temannya.
Menembus tempat lain, ujung penyelusuran mereka malah bermuara pada sebuah tempat yang tak pernah terpikirkan. Masih ingat betul bagaimana mereka berada di sekolah tadi, berniat bersembunyi di ruangan acak yang bisa mereka masuki saat itu.
Di samping jalan yang sedari tadi mereka selusuri, terdapat deret logam keperakan. Rel kereta. Bagaimana bisa rel kereta di bangun di lantai tiga sekolah? Lalu mereka memandang ke belakang, di mana jalan gelap yang barusan adalah sebuah terowongan yang ujungnya tersusun oleh kukuh bebatuan gelap. Tak ada petunjuk nama tempat yang tertulis di manapun.
Terbentang di depan mereka, sebuah jalan tunggal dimana rel kereta memanjang sampai ujung visi yang bisa mereka raih. Jalinan hijau dari tanaman sulur membentuk sambungan terowongan gelap barusan. Langit biru pucat ada di atas sana, di balik atap terowongan hijau. Bertolak belakang dengan hamparan gelap yang seharusnya mengisi relung malam.
Mereka benar-benar telah berpindah dimensi. Logika sudah tak berjalan lagi. Inikah fakta dari misteri sekolah mereka yang tadi diucapkan Gopal dengan antusias dan kini menjadi sungguhan?
Keempat kawan itu kini malah terperangah melihat perangai Fang yang berubah. Mirip seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah yang paling diinginkannya. Tawa Fang pun terdengar lantang, seolah melepaskan belenggu atas kepuasan yang telah lama ia nantikan.
"Fang tolong, penjelajahan ini nggak membuatmu jadi beneran miring kan?" Ying mencoba memastikan. Gadis berkacamata itu semakin khawatir karena riang Fang sangatlah mengganggunya.
Jika boleh menerka, Fang yang normal akal sehatnya seharusnya langsung tersinggung. Terlebih jika membahas soal kondisi psikisnya yang sering dipandang sebelah. Namun ia hanya berseru dengan puasnya. "Lihat sekarang, siapa yang sebenarnya pembohong! Hahaha!"
"Kau tahu ini ada di mana kan Fang?" Yaya bertanya dengan suara yang lebih lantang.
"Tentu, tentu! Kalian semua pasti kebingungan sekarang? Sini, biar aku yang hebat ini menjawabnya!"
Bagian 'hebat' tentunya ingin diprotes oleh Boboiboy dan Gopal. Tapi demi sebuah jawaban dari kepelikan ini, mereka mengerti dan tutup mulut saja. Atensi keempat orang itu kini penuh tercurah pada remaja berkacamata itu. Kedua tangan Fang terentang, layaknya seorang pemandu pertunjukan yang mencapai bagian puncak semarak. Senyumnya begitu telak, karena ia tahu bahwa keempat orang di hadapannya menunjukkan seribu tanda tanya.
"Selamat datang di Matra!" begitulah ungkapan itu dilontarkan oleh Fang bersama senyuman lebarnya.
.
.
.
Berlanjut pada chapter 2: Poros
A/N:
Chapter 1 telah selesai ditulis, lega sekali rasanya~
Berhubung dengan beberapa hal yang tak bisa dihindari sepanjang minggu-minggu kemarin, mohon maaf untuk keterlambatannya m(_ _)m
Terimakasih bagi yang sempat membaca ff ini, terutama untuk guest dan KurohimeNoir atas reviewnya (terimakasih banyak ^^). Mungkin awal cerita masih membingungkan tapi saya akan berusaha untuk memperbaikinya sambil berjalan.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
