Memercayai bisa menjadi perkara sederhana ataupun pelik. Karena tiada netra yang mampu melihat segalanya. Tiada sukma yang mampu mengisi relungnya dengan lengkap semesta makna. Karenanya, dalam satu derak dimana kesempatan mengayun padamu. Akankah satu anganmu menjelma menjemputnya?
Cipta dan Sirna
By: Koyuki17
Boboiboy © Monsta Studio
Boboiboy melihat sebuah bangku tepat di belakangnya. Tatapan itu masih meragu, memastikan kembali samar figur yang seharusnya berada di sana. Saat itu adalah bulan pertama mereka di sekolah menengah. Tak mungkin ia sudah salah mengingat teman sekelasnya.
"Sudahlah Boboiboy, ingat lagi baik-baik" bujuk Yaya dengan serius. "Bangku ini memang kosong sejak awal masuk..."
"Tapi seingatku ada..." Boboiboy masih mengerutkan keningnya. "Perempuan... namanya aku lupa. Rika... atau siapa ya? Anak yang rambutnya dikepang kuda itu... Kalian ingat?"
Yaya maupun Ying saling berpandangan dengan ekspresi khawatir. "Tapi nggak ada yang bernama seperti itu di kelas, kau tahu?" ujar Ying pelan.
"Sudahlah Boboiboy... lebih baik kita bicarakan yang lain saja... bagaimana?" Yaya mencoba memutus pembicaraan yang mulai kurang mengenakkan itu.
"Iya! Nanti kau bakalan seperti anak itu looh... yang sekelas dengan Gopal!" timpal Ying dengan nada sangat serius.
"Siapa memangnya?" tanya Boboiboy penasaran.
"Hmmmm..." Ada jeda sebelum mulut Ying menyahutkan kata. "Kalau nggak salah namanya..."
.
.
.
"Fang!"
Remaja berkacamata itu tak sekalipun menoleh. Senandung riangnya masih mengiringi langkah kakinya yang berayun selaras dengan irama. Panggilan Boboiboy jelaslah kalah dengan gaung benak Fang.
"Kau dengar kan pertanyaanku barusan, hei Fang!" dengan nada yang semakin terkuras sabarnya, Ying pun ikut berseru.
"Hoi, Ah Meng!" kini ingatan Boboiboy mulai meleset, entah sengaja atau tidak.
"Namaku Fang lah!" yang dipanggil pun melirik ke belakang dan menghentikan sikap riangnya barusan.
"Akhirnya dia ngebalik juga," komentar Gopal sebelum bersiul.
"Kalian bilang apa tadi? Apa sekarang kalian mau mengakui kalau aku ini benar-benar hebat?" Fang dengan penuh percaya diri menerka walau jelas tak satu kata pun dari teman sekelasnya itu yang berhasil ia ditangkap.
Sontak keempat remaja itu menghentikan langkah mereka. Lalu tanpa aba-aba, Boboiboy, Ying dan Gopal berjongkok dan membentuk lingkaran mungil tepat di belakang barisan. Dimulailah rapat dadakan bertempat di antah berantah.
"Psst... kalian berpikir apa yang aku pikirkan?" Ying membuka rapat.
"Apakah orang yang satu ini sudah budek? Haruskah kita mencari sungai terdekat untuk mendinginkan kepalanya?" Boboiboy mengajukan satu usul.
"Aku setuju!" sahut Gopal sembari mengangkat tangan.
"Haiiih... kalian ini ya!" komentar Yaya.
"Kedengaran tahu!" kini Fang langsung berbalik dan hendak memprotes celotehan ketiga teman sekelasnya itu.
.
.
.
Chapter 2: Poros
"Oi Fang, bisakah kau berhenti dan menjelaskan lebih banyak lagi soal tempat ini?" Ying mengulang kembali pertanyaannya.
"Hmm.. sudah kubilang tempat ini adalah 'Matra' bukan?" ujar Fang dengan bibir cemberut.
Hanya itulah penjelasan super singkat, padat, dan tidak jelas yang keluar dari Fang. Tempat yang mereka datangi selepas kabur dari penjaga sekolah memanglah di luar nalar. Koridor gelap yang berubah menjadi terowongan, rel kereta memanjang yang masih mereka ikuti, serta hamparan segar tumbuhan hijau merambat yang membentuk terowongan lanjutan ini pun terlalu nyata untuk dibilang sebuah ilusi.
"Tetap saja kita butuh penjelasan!" ujar Ying dengan gemas.
"Apakah ini benar-benar dimensi lain? Sejak kapan tempat ini ada?" Yaya kini ikut bertanya.
"Lalu apa ini ada hubungannya dengan pencuri yang aku lihat? Apakah mereka punya teknologi canggih yang membuat dimensi lain?" Boboiboy mencoba menghubungkan tempat ini dan sang pencuri misterius.
"Kenapa kau bisa tahu tempat ini padahal ini pertama kalinya kau ke sini?" Ying tak kalah ingin tahu.
"Satu-satu dong!" diberondong pertanyaan dan desakan, Fang pun mencoba mengingat pertanyaan dan menyusun jawaban.
"Boleh aku nggak bayar hutangku tempo hari?" tak ada angin, namun Gopal malah melontarkan permintaan terselubung oleh pertanyaan itu. Tak ayal ia pun langsung dihujani lirikan semua orang di sana.
"Bercanda kok! Tatapan kalian seram tahu!"
-CdS-
Sesuai permintaan dari semua orang, Fang pun menghentikan penelusuran mereka. Dan karena sudah lama mereka berjalan dan menumpuk peluh, maka semuanya pun sepakat untuk beristirahat sejenak. Di tepi terowongan dari rangkaian liana yang mengepung mereka dan lintasan rel, kelima remaja itu pun duduk melingkar walau tak beralaskan apapun.
Gopal mengeluarkan termos kecil dan sekotak besar makanan. Boboiboy dan Ying sama-sama membawa bungkusan kecil makanan kemasan seperti kue atau roti. Yaya membawa sebotol minuman teh dan sedang mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Kalian benar-benar niat menyelinap atau piknik sih?" komentar Fang.
"Ada pepatah kalau kita kelaparan maka pikiran takkan jalan!" tiba-tiba Gopal menyahut dengan percaya diri. "Aku sudah mengantisipasi kalau penyelidikan kita akan makan waktu seperti ini. Pasti lapar dong! Ya tidak para penontonku sekalian?"
"Mulai lagi deh dia..." Melihat Gopal kembali beraksi dan merekam, Ying sudah jenuh. "Kau bawa apa Boboiboy?"
"Roti dan kue cokelat Tok Aba" Boboiboy menyodorkan beberapa potong kue. Tak barang semenit kue cokelat yang menggiurkan itu langsung ludes.
"Lihat! aku bawa biskuit buatanku, kalian mau?" Yaya, gadis yang sedari tadi ternyata sibuk mengeluarkan isi kotak bekalnya pun kontan membuat kunyahan semua orang di sana terhenti.
Fang pun berdeham, "jadi kalian mau tahu lebih jauh tentang Matra kan? Biar kujawab satu-satu"
"Kalau begitu, sambil dimakan ya!" Yaya pun mengoper kotak berisi biskuitnya pada Ying. Gadis berkacamata itu sedikit terlonjak dan langsung mengoper kotak itu pada Boboiboy. Nampaknya atensi mereka akan sedikit berkurang dengan estafet makanan itu.
"Yang pertama, pertanyaan dari Yaya. Ini memang dimensi yang agak berbeda. Bisa dibilang bahwa 'Matra' adalah dimensi lain yang terhubung dengan dunia kita dan selama ini sangat sedikit diketahui orang-orang. Aku pun tak tahu persisnya kapan dan di mana dimensi ini ada."
"Masih misteri dong kalau begitu?" sela Boboiboy.
"Lanjut ke pertanyaan Ying" Fang tidak menggubris dan melanjutkan. Boboiboy hanya bisa mendengus kesal. "Aku memang baru pertama kali ke sini, sama seperti kalian. Tapi aku mengetahui adanya 'Matra' dari kakakku. Terserah kalian mau percaya atau tidak. Tapi melihat ada dimensi seperti ini apa kalian masih ragu?"
Ada jeda sebelum keempat remaja itu kembali menatap Fang. Mereka memang sempat ragu, namun kini kebingungan atas dimensi lain ini membuat mereka mulai menerima perkataan Fang barusan sebagai sebuah fakta.
"Terus soal pertanyaan terakhir... buatmu saja nih!" perkataan Fang tersela oleh atensinya yang mengoper kotak biskuit kepada Gopal. "Pencuri yang kau lihat itu memang berasal dari 'Matra' ini. Tapi mereka bukanlah yang menciptakan 'Matra'. Tujuan mereka itu˗"
Tiba-tiba saja kedua kaki Fang terlonjak dan bergegas badannya berdiri dengan gestur waspada. Iris violet itu nampaknya menyadari sesuatu yang berada di belakang mereka.
"Ada apa sih Fang...? Hii, kenapa mendadak di belakang sana jadi gelap lagi kayak di terowongan?!" Gopal kembali pada mode paniknya.
Baru saja atensi mereka penuh pada perkataan Fang, terowongan hijau di belakang telah ditelan gelap. Dan warna absolut itu pun mulai mendekati kelima remaja itu.
"Ada yang datang! Kalian dengar ada suara langkah kaki?" dengan suara memelan namun sangat waspada, Boboiboy membuat keempat orang itu menahan napas mereka. Ada suara seperti samar entak kaki dan gulir angin mendekat.
Sepasang sorot mata kemerahan menyala di antara kegelapan jauh di belakang mereka. Semula hanya sebuah titik samar, tapi semakin terlihat sosok dalam selimut jubah kelabu. Dan lagi, sosok itu mendekat ke arah mereka dengan lesatan yang mustahil dilakukan oleh siapapun di sana. Sesuai dengan hal yang orang awam tahu, jika ada sesuatu yang bergerak dengan kecepatan di luar akal, maka itu adalah sebuah ancaman.
"SEMUANYA, LARI!" seruan Boboiboy menjadi pelatuk bagi adrenalin untuk mencapai titik puncak. Setelah memasukkan kembali sisa makan dan apapun yang sedang digenggam, kelima orang itu langsung beranjak tanpa berpikir dua kali. Derap langkah keras mengentak sunyi, diikuti oleh napas yang terengah karena mendadak harus mengerahkan seluruh tenaga yang ada.
"Jadi itu... sosok aneh yang kau lihat malam itu Boboiboy?" Yaya langsung menyambungkan sosok di belakang mereka dengan sosok yang dilihat Boboiboy tempo hari.
"Kurang lebih!" seru Boboiboy. Ia tetap berlari paling belakang untuk memastikan tidak ada siapapun yang tertinggal sekaligus memantau jarak mereka dengan pencuri misterius itu.
"Bukannya biasanya pencuri yang dikejar ya? Kok kebalik sih?!" komentar Gopal.
"Ya kalau kau mau cari naas, ya silahkan kejar!" sahut Fang.
"Yang penting sekarang kita harus ke mana?" Ying pun memutus pertanyaan kurang berfaedah itu untuk hal yang kebih mendesak.
"Pokoknya ke depan! Kalau kita berhadapan dengan makhluk itu, habislah sudah!" Fang berseru memperingati, dan Gopal langsung memekik ngeri.
Selang dua menit berlari, tangan Fang membuat isyarat bagi semua orang di belakangnya untuk berhenti. Mengingat bayangan gelap di belakang semakin dekat, baik Ying maupun Gopal langsung memprotes. Tapi seketika mereka mengerti kenapa langkah mereka sebaiknya berhenti. Di depan sana, walau masih cukup jauh, ada sepasang sorot mata kemerahan dalam kecepatan yang sama.
"Yang benar saja, sampai di depan juga!" Ying pun memandang putus asa ketika melihat satu-satunya jalan di depan mereka mulai ditelan gelap.
"Bagaimana ini, aku nggak mau ditangkap pencuri horor itu Boboiboy!" tubuh besar Gopal pun berlindung di balik sahabat bertopi jingganya itu.
"Pasti ada jalan keluar di sini, kalian coba ikut cari!" Fang pun memberikan arahan sembari mulai mendekati ujung terowongan liana itu. Ketiga remaja putra beranjak ke kiri sementara kedua remaja putri langsung memeriksa arah sebaliknya. Namun terowongan hijau itu tak disangka menjadi rintangan telak bagi mereka untuk melarikan diri.
Uliran batang dan teralis besi itu mustahil untuk mereka terobos dengan tangan kosong. Dan terowongan ini terbuat dari jalinan keduanya tanpa ada celah untuk keluar. Mereka benar-benar dalam situasi yang terjepit. Teriakan panik Gopal dan gerakan kalut Fang dan Boboiboy sama sekali tidak menolong.
Dalam kekacauan itu, iris hazel Boboiboy melirik ke belakang dan mengecek Yaya dan Ying di sisi lain. Namun tiba-tiba saja punggungnya ditarik sesuatu hingga terseret ke arah belakang. Boboiboy pun berteriak setengah panik dan bingung.
"Boboiboy!" kedua orang itu untungnya menyadari apa yang terjadi dan lekas menangkap dua tangan Boboiboy.
Namun ketiga orang itu pun malah tertarik lebih jauh dan menembus sebuah tabir gelap sebelum jatuh pada lantai logam yang dingin. Perlu setidaknya beberapa detik sampai pupil Boboiboy menyesuaikan dengan terang lampu yang kini melingkupi. Walaupun benaknya mengeruh karena benturan tadi, Boboiboy menyadari langit-langit rendah berwarna pucat dan sorot lampu.
"Apa masih ada orang di terowongan?" suara asing itu membuat Boboiboy yang jatuh tengkurap itu mulai bangkit dan duduk. Di sampingnya, Gopal mengaduh dan mengusap tangan kanannya yang sempat terbentur lantai.
"Ada! Dua orang lagi!" Fang, yang tahu-tahu sudah berdiri kembali tanpa berpikir panjang langsung menjawab.
Lalu tak lama, tangan logam sebuah robot kuning bulat pun terulur pada sebuah bingkai samar pada datar dinding di hadapannya. Bukan orang, tapi yang tadi bertanya sekaligus menarik Boboiboy adalah robot kuning bulat yang melayang di udara dengan sayap mekanis berbentuk bulat.
Dari dinding kukuh berwarna keperakan itulah ternyata mereka masuk barusan. Karena robot itu menghilang sejenak di dalamnya sekarang. Tak barang semenit, sang robot asing kembali dengan masing-masing tangannya memegang erat tangan Yaya dan Ying. Kedua remaja putri itu langsung dan terduduk sambil menghela napas panjang.
"Ha..hampir saja..." ucap Ying sembari mengelus dadanya.
"Kalian berdua tak apa-apa?!" Boboiboy menghampiri kedua sahabatnya itu dengan khawatir.
"Tidak apa-apa Boboiboy" jawab Yaya di antara peluh yang menetes di keningnya.
"Sambutannya agak kasar ya, tapi selamat kalian sudah sampai di sini!" sepasang bulat cahaya kebiruan yang menjadi mata sang robot pun melirik dengan tatapan yang entah kenapa ditafsirkan sebagai tatapan ramah. Setelah mereka terlepas dari kuasa ancaman, kini sosok robot itu dipandangi lekat oleh Boboiboy dan yang lain.
"Robotnya bisa berbicara lah!" Gopal pun langsung menunjuk robot itu dengan keheranan. "Jangan bilang kau yang menjadi bos pencuri aneh itu?!"
"Pencuri apanya?!" sang robot langsung memprotes.
"Robot ini barusan menolong kita lah!" Ying pun mengingatkan.
"Kau... Ochobot? Benar kan...?" mendesak Gopal ke belakang, Fang beranjak menuju ke hadapan robot kuning itu.
"Benar, akulah robot penjaga Matra ini, kalian bisa memanggilku Ochobot!" akhirnya sang robot memperkenalkan diri.
"Penjaga Matra...?" mendengar frasa baru, Boboiboy kembali mengerutkan kening.
"Ochobot! Tolong jadikan aku seorang 'Poros'!" tanpa menunggu keempat orang yang kebingungan itu mencerna apapun, Fang pun lantang berseru.
"Hei, hei, sebentar. Bisa kita ulang lagi sebenarnya ada apa?" tangan Gopal memisahkan Fang dan Ochobot sebelum pembicaraan menjadi lebih tidak jelas lagi.
-CdS-
Dikejar penjaga sekolah lalu dikejar lagi oleh sosok pencuri misterius seolah belum cukup mengakhiri petualangan mereka malam itu. Dari sekolah, dimensi asing bernama Matra, hingga kini mereka berada di sebuah tempat dengan koridor dan ruangan-ruangan yang tersekat dinding dan lantai logam berwarna putih dan keperakan. Mengikuti Ochobot yang melayang di depan barisan, mereka pun akhirnya masuk ke sebuah ruangan dengan layar besar dengan tampilan terbagi menjadi setidaknya dua belas. Masing-masing bagian menyajikan gambar yang di ambil dari beberapa sudut tempat yang tidak asing bagi kelima orang itu: sekolah mereka.
"Besar sekali layarnya, seperti di ruangan pengawas saja." Ying mendekati layar itu dan mengamati dengan seksama apa yang terekam di sana.
"Yap, itu adalah salah satu pekerjaanku di sini!" sang robot menyahut dengan bangga.
"Kau bukan stalker kan? Semua sudut sekolah kita ada di layar nih!" seru Gopal.
"Aku nggak pernah punya niatan begitu lah! Kalau aku nggak mengawasi sekolah kalian, aku mungkin tidak akan tahu kalau kalian akan datang!" Ochobot pun memperkeras suaranya, membantah prasangka remaja bertubuh gempal itu.
Ekspresif, itulah kesan pertama dari robot yang mereka temui itu. Namun sebagai penyelamat mereka, tak etis rasanya jika mengomentari sikap sang robot. Pastilah penciptanya berotak encer sampai bisa memprogram robot seperti Ochobot.
"Jadi Ochobot, apa tempat ini berhubungan dengan Matra?" tanya Yaya, kembali ia menyinggung perihal Matra.
"Tempat ini adalah bagian dari Matra dan di sinilah aku juga bisa menelusuri jika ada yang sosok yang keluar menuju dimensi kalian" Ochobot pun melirik ke arah Fang. "Karena ada orang di sini yang tahu soal 'Poros', bukankah kalian seharusnya tahu sebagian soal Matra?"
"Huh, aku jelaskan pun mereka nggak akan percaya," dalih Fang sembari mengambil posisi bersandar pada dinding tepat di sebelah pintu. "Orang-orang ini harus lihat dulu, baru percaya."
"Iya deh, maafkan kami Fang." Boboiboy mengalah dan mengulurkan tangan, namun Fang hanya memalingkan matanya sebagai sebuah penolakan. Walau sebal, Boboiboy tetap menahan diri agar tidak mengacaukan pembicaraan mereka.
"Jadi bisa dibilang Matra ini menyelubungi dimensi kalian. Tuankulah yang menciptakannya. Dia orang jenius yang bahkan bisa membangun dimensi dan tempat-tempat yang luas dan menakjubkan!" tutur Ochobot sembari mengotak-atik keyboard dan menunjukkan beberapa gambar tempat-tempat pada layar komputer besar itu.
"Ada tujuh sektor dengan tujuh jalan masuk yang bisa diakses dari tempat kalian berasal," Jelas sang robot sembari memperlihatkan sebuah peta yang menunjukkan letak ketujuh sektor yang tersebar dan tersekat-sekat.
"Lalu tujuh sektor ini jadi tempat tinggal pencuri berjubah itu?" tanya Boboiboy dengan serius. "Mereka juga diciptakan oleh tuanmu itu Ochobot?"
"Ya dan tidak" Ochobot menjawab kedua pertanyaan itu dengan segera. "Mereka biasa disebut 'Pelahap ingatan', yang sesuai namanya, mereka bisa mengambil ingatan dari sesorang yang mereka temui"
Sontak keempat orang remaja itu mengerti atas peringatan Fang untuk tidak tertangkap oleh sosok berjubah itu. Dan mengingat Boboiboy sudah dua kali hampir bertemu dengan sosok itu, ia pun langsung merinding. Entah dia itu cukup beruntung atau malah cukup sial.
"Pelahap ingatan yang kalian temui memakai jubah warna apa?" kini Ochobot balik bertanya.
"Abu-abu, apa ada yang lain?" jawab Yaya dengan segera.
"Baguslah, jika kalian bertemu dengan Pelahap ingatan yang berjubah hitam maka kalian harus sangat berhati-hati. Mereka bisa melenyapkan keberadaan kalian beserta ingatan yang ada pada orang-orang yang mengenal kalian" Ochobot kini menunjukkan sosok dengan jubah hitam dan lebih tinggi dan kurus dari sosok berjubah kelabu lewat layar besar itu.
"Kalau begitu, yang terjadi pada kakak Fang jangan-jangan...?" pandangan Boboiboy pun beralih pada Fang, menyambungkan kepingan informasi yang didengarnya dengan sosok itu. Fang hanya diam seribu bahasa dan tak berniat menanggapi. Gopal menelan ludah ketika mengingat perkataannya pada Fang tempo hari.
Di lain kubu, penjelasan Ochobot nampak tak begitu asing bagi Ying dan Yaya. Kedua gadis itu saling memandang. "Jangan-jangan, Boboiboy yang waktu awal semester satu itu..." gumam Ying sembari menopang dagu.
"Memangnya ada apa?" Fang, yang setengah menyimak langsung bertanya.
"Nggak ada apa-apa kok, cuma kepikiran sesuatu yang belum pasti, hehehe" Ying pun menoleh ke arah Ochobot kembali. "Bisa kau lanjutkan lagi Ochobot?"
"Oke, aku lanjutkan lagi. Sekarang, hanya sedikit orang yang berhasil sampai pada tempat pengawasan ini, dan kalian sudah kutunggu karena keadaan Matra semakin kacau. Kalian bisa lihat dari tiga Pelahap ingatan yang langsung menyerang barusan. Biasanya mereka jarang mengintervensi sampai ke sini. Dan semakin banyak dari mereka masuk ke dimensi tempat kalian tinggal dan mencari lebih banyak korban."
"Apa tak ada cara untuk menghentikan mereka?" kini Gopal menjadi resah.
"Tuan sudah mempersiapkan cara untuk menghentikan Pelahap ingatan. Tapi kami harus meminta bantuan dari orang yang masuk ke Matra seperti kalian, dan memberikan mereka kekuatan."
"Kekuatan...?" ulang Boboiboy dengan atensi penuh. Intuisinya tergelitik.
"Untuk melindungi diri dari Pelahap ingatan sekaligus menghentikan mereka. Berhadapan dengan Pelahap ingatan tentunya sangat berbahaya. Bayangkan kalian jika harus bertarung dengan mereka tanpa membawa apa-apa!" jelas Ochobot kembali.
"Karena kami berhasil ke sini, kau berniat menawarkan kami kekuatan untuk menghentikan mereka?" Yaya langsung menerjang pada titik utama perbincangan mereka.
"Itu adalah penjelasan singkat yang bisa kuberikan sekarang. Dan aku memang berniat menawarkan peran ini untuk kalian berlima." Ochobot mengiyakan.
"Lalu soal Poros? Apa bedanya dengan orang yang menghentikan Pelahap ingatan?" hampir saja ketinggalan, topik ini dipanggil kembali oleh Boboiboy.
"Poros itu... bisa dibilang sebagai... ketua?" Ochobot nampak memilah kata yang sekiranya tepat. "Dalam menghentikan Pelahap ingatan, kita butuh seseorang yang ingatannya tidak begitu terpengaruh oleh Pelahap ingatan. Sebagai gantinya, ingatan Poros akan menghentikan Pelahap ingatan untuk mencari target."
Yaya dan Ying kembali berpandangan, mereka benar-benar menduga bahwa sikap Boboiboy di tahun pertama di sekolah menengah itu selaras dan berkaitan dengan apa yang dijelaskan oleh sang robot kuning.
"Tugasnya lumayan berat ya." Boboiboy berusaha membayangkan, namun hanya patah kata itu yang mampu dirangkainya.
"Menghentikan Pelahap ingatan dan bertarung jika perlu, pasti berbahaya bukan?" Ying pun memberikan pendapatnya dengan nada pelan.
"Walaupun dilengkapi kekuatan, memang belum menjadi jaminan kalian akan baik-baik saja. Dan aku mengerti kalian masih sangat muda. Jadi, aku mencoba menyampaikan apa yang akan kalian hadapi jika bersedia menolong kami." Sambil melayang menuju sisi ruangan, Ochobot menuturkan dengan nada hati-hati.
Fang sampai akhir perbincangan tak sedikitpun terkejut, jelaslah ia telah mengetahui seluk-beluk Matra dan memutuskan apa yang ingin dilakukannya sendiri. Berbeda dengan sang remaja berkacamata itu, Boboiboy dan ketiga temannya masih menimbang-nimbang.
"Jika kalian setuju untuk menjadi Poros dan pejuang yang ingin menghentikan para Pelahap ingatan, pakailah ini" tangan panjang sang robot mengulurkan lima buah wristband kelabu yang terbuat dari bahan seperti silikon.
"Biar kuingatkan lagi, kalian akan menghadapi bahaya. Tapi aku akan terus memantau dan memberikan arahan selama kalian berada di Matra. Aku tak ingin memaksa, tapi kuharap kalian bisa mengerti dan membuat keputusan yang paling baik."
Kelima netra itu saling berpandangan, namun tak ada kata-kata yang terucap. Dengan satu wristband pada masing-masing genggaman tangan, mereka nampaknya telah memutuskan tanpa harus berdiskusi lagi. Boboiboy dan Fang yang pertama memasang lingkar kelabu itu di pergelangan tangan mereka, sementara Yaya dan Ying mengikuti setelahnya. Hanyalah Gopal yang masih sedikit ragu, menatap teman-temannya sebelum akhirnya ia memasangkan wristband yang digenggamnya.
"Kami bersedia, tolong bimbing kami Ochobot!" ujaran Boboiboy mewakili keempat orang lainnya yang memberikat anggukan mantap.
Melihat determinasi yang begitu kuat, Ochobot nampak terkejut dan terdiam sejenak. Namun sang robot langsung menerjang dan memeluk Boboiboy. "Huhuhu... tak kukira kalian akan semudah ini setuju."
"Lah, kok malah sedih gitu?" komentar Boboiboy, tangannya pun meraih robot itu sembari mengelusnya.
-CdS-
Setelah menyepakati risiko dan apa yang akan mereka hadapi, Ochobot meminta remaja-remaja itu untuk masuk ke sebuah ruangan khusus. Ruangan itu memiliki langit-langit yang lebih tinggi walaupun dinding dan lantainya tetaplah sama terbuat dari lempeng logam. Hanya terdapat pintu masuk dan sebuah jendela pada bagian samping, menunjukkan ruangan di samping mereka. Terdapat seperangkat komputer dan mesin-mesin canggih lain yang menyembulkan bentang hologram di sana, dan sang robot telah mengambil posisi dalam sana dan berkata lewat jendela tertutup.
"Sekarang, ketikkan nama kalian pada layar hologram yang muncul di depan kalian. Setelah itu, letakkan tangan yang dipasangi gelang pada kotak yang disediakan. Sistem akan otomatis men-scan kalian dan memberikan satu kekuatan lewat gelang yang kalian gunakan." Ochobot berkata, tangan sang robot sibuk menjalankan sesuatu pada komputer.
Lima layar persegi panjang hologram pun benar saja muncul. Mengikuti petunjuk dari Ochobot, mereka pun mengetikkan nama mereka pada masing-masing layar yang ada lalu meletakkan sebelah tangan mereka pada bingkai panjang yang tersedia. Sinar kebiruan pun menyenter tubuh kelimanya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu atensi kelimanya terpecah pada wristband yang mereka kenakan untuk mengamati apa yang akan terjadi.
Wristband kelabu yang melingkari pergelangan tangan kelima orang itu seketika berpendar, lalu monokrom warnanya mulai tertimpa oleh ragam warna. Boboiboy membelalak nyaris tak percaya ketika perlahan terangkailah sebuah arloji bulat dengan warna jingga dan hitam.
Yaya tersenyum riang dengan arloji mungil berwarna merah muda dengan tali yang melingkari pergelangan tangannya. Ying berseru dengan senang, warna arloji miliknya persis sama dengan kuning dan biru yang selalu menjadi warna favoritnya. Melihat arloji bulat besar berwarna hijau gelap yang diinginkannya dulu, Gopal tak kalah kegirangan. Fang nyengir melihat arloji biru gelap miliknya terlihat lebih futuristik dengan layar pipih dan lebar.
"Kereeen!" ujar Boboiboy sambil mengacungkan arlojinya dengan penuh semangat.
"Hmmph! Punyaku paling keren dong!" Fang yang pamer pun langsung membuat baik Boboiboy maupun Gopal kompak memamerkan jam mereka yang tak kalah keren.
"Haish, yang penting padahal kekuatannya lah! Baru kali ini ada yang mempermasalahkan modelnya." Sang robot pun nampak terkejut dengan kelakuan tiga remaja putra itu.
"Biarkan sajalah mereka," ucap Ying dan Yaya bersamaan.
"Oiya Ochobot, kenapa bentuknya harus arloji?" kini Yaya bertanya dengan penuh penasaran.
"Supaya kalian bisa memakainya ke manapun tanpa khawatir benda ini akan disita. Kalian masih sekolah bukan?" jawab Ochobot. "Dan lagi, arloji ini berfungsi dan kalian bisa menghubungiku lewat benda ini!"
"Ah, betul juga! Seperti smartwach itu ya!" sahut Ying.
"Yuk simpan dulu kontes arlojinya. Saatnya mengetahui kekuatan kalian sekaligus siapa yang akan menjadi Poros!" Ochobot kembali pada komputernya dan mengetikkan sesuatu pada keyboard.
Lantai di sekeliling mereka mencuatkan lima lingkaran berdiameter sekitar dua meter dengan tinggi yang kurang lebih sepuluh senti. Masing-masing lingkaran itu mengeluarkan cahaya toska dari liku celah pelat pembentuknya.
"Kita harus naik ke sana?" tanya Boboiboy, sedikit kebingungan.
"Iya lah, apa lagi?" Ochobot pun berpaling dari layar monitornya. "Supaya kalian bisa mengendalikan kekuatan yang muncul sekaligus menghindari kalau-kalau tempat ini malah rusak."
Kelima remaja itu pun masing-masing menempati podium mungil. Namun seketika dinding tembus pandang dengan warna biru pucat pun naik hingga langit-langit dan memerangkap mereka seperti sebuah tabung. Gopal sempat terlonjak dan menggedor dinding itu, yang ternyata lumayan tebal dan kuat.
"Jangan takut, setelah semua selesai, pembatas ini juga hilang." Ochobot memberikan arahan agar mereka lebih tenang. "Sekarang, kita mulai pengecekan kekuatan. Mulai dari Gopal, Ying, dan Yaya!"
Arloji yang dipakai oleh ketiga orang yang disebut langsung bersinar sesuai warna yang melekat. Melihat lingkaran berbentuk jam yang kini berada di bawah kakinya, Ying langsung menerka. "Waktu! Kekuatanku pasti berhubungan dengan waktu bukan?"
"Benar Ying, kekuatanmu adalah manipulasi waktu," jawab Ochobot. "Kalau Yaya..."
Kini semua orang melihat Yaya yang melayang dalam ruang tabung itu, di antara pendar cahaya pink yang memang menjadi ciri khas gadis itu. Setelah lebih tenang, Yaya pun bisa kembali menjejak ke bawah. "Kekuatanku berhubungan dengan ringan dan berat... gravitasi ya Ochobot?"
"Betul sekali!" Ochobot nampak senang karena terkaan yang tepat itu. "Nah, kalau Gopal..."
"Aku nggak tahu tapi sebagian diding yang aku pegang berubah jadi roti canai!" Gopal menunjuk sebidang dinding pembatas yang berubah. "Aku jadi lapar lah! Ini bisa dimakan tidak?"
"Kekuatan apa pula itu?" Fang bergumam karena hanya kekuatan Gopal yang terlalu tak aneh dimilikinya.
"Kekuatanmu itu manipulasi materi atau molekul, Gopal! Nanti cobalah menukarkan sesuatu selain dengan makanan," tutur Ochobot. "Dan kamu boleh makan itu kok, tapi jangan ubah semua dindingnya jadi roti."
"Kekuatan kalian hebat lah!" seru Boboiboy.
"Hmm... belum ada yang memenuhi syarat Poros ya dari kalian bertiga. Tak apa, masih ada kemungkinan di antara Fang dan Boboiboy! Kalian sudah siap?" kini sang robot kembali mengetikkan sesuatu dan bertanya pada keduanya.
"Tentu saja!" jawab Fang.
"Aku siap!" walau sedikit gugup, Boboiboy menguatkan hatinya.
Kedua arloji remaja itu pun berpendar, namun kali ini dengan warna yang hampir sama yaitu terang putih. Boboiboy, yang mengira akan dikelilingi sinar jingga pun keheranan. Fang di sisi lainnya semakin sumringah sembari menatap rivalnya dengan isyarat tantangan.
"Tunggu... apa maksudnya ini?" Ochobot malah berseru kebingungan dan mulai memeriksa sesuatu lewat komputernya.
Tak lama, arloji Fang pun mengeluarkan semburat warna biru-ungu dan gelap. Pada sekeliling tangannya pun terjulur warna gelap dan pekat seperti bayangan. Alih-alih senang, Fang justru terperangah dan kehilangan kata-kata. Boboiboy kini memperhatikan arlojinya, yang kini mendapat tambahan tujuh bulatan dengan simbol yang asing. Cahaya yang menyelubunginya pun surut, namun pendar pada arlojinya tetap mengeluarkan sinar putih yang sama.
"Dengan ini sudah ditentukan ya. Yang menjadi 'Poros' kali ini adalah Boboiboy!" begitulah kesimpulan akhir itu memperjelas apa yang terjadi. "Kekuatan Fang adalah bayangan, dan kekuatan Boboiboy adalah elemental!"
Kelima remaja itu kini terlepas dari sekat, namun hanya Yaya, Ying, dan Gopal yang bergegas turun dan mendekati Boboiboy. Mereka tentunya penasaran dengan pembeda pada arloji sahabat mereka itu.
"Lihat! Di arlojinya Boboiboy ada tanda yang beda!" ujar Gopal sembari mengamati.
"Berarti kau akan punya tujuh kekuatan elemental atau bagaimana?" tanya Ying dengan penuh semangat.
Di antara celotehan dan ungkapan kagum ketiga temannya, Boboiboy masih berada dalam tanda tanya besar. Ia tak mengira bahwa justru dirinyalah yang terpilih sebagai Poros. Banyak hal yang ingin diketahui Boboiboy atas peran dan tanggung jawab yang kini diembannya, maka atensinya tertuju pada Fang. Raut wajah kecewa itu memalingkan pandangan dari Boboiboy. Sejak pertemuan mereka beserta sebaris rivalitas yang ada, baru kali ini Fang memasang sirat kecewa dan kesal sebesar itu.
Tangan yang terkepal dengan keras itu membuat Boboiboy semakin segan pada sosok berkacamata itu. Haruskah ia juga senang? Bagaimana membuat Fang tidak malah menarik sebuah batas lagi setelah petualangan barusan sedikit mendekatkan mereka? Boboiboy tak lagi tahu.
.
.
.
Berlanjut pada chapter 3: Misi
A/N:
Terima kasih bagi yang sempat mampir~
Walaupun saya masih meraba-raba dengan ff kali ini, semoga tidak terlalu mengecewakan. Dan dengan munculnya Ochobot maka cerita pun masuk ke dalam alur utama! Semoga bisa terus saya lanjutkan sampai selesai~
Akhir kata, tetap jaga kesehatan dan berjumpa lagi di chapter selanjutnya ^^
