Anggota semesta kadangkali diciptakan dalam bilangan dua. Kirana surya dan selaka purnama. Ufuk permulaan dan ufuk peristirahatan. Dua polar yang menjadi batas tepi, bersua dalam kala yang tak seberapa. Terpaut oleh selisih, pun di sisi lain menggenapi.

Cipta dan Sirna

By: Koyuki17

Boboiboy © Monsta Studio

Chapter 8: Biner

"Ppfftt..."

Genggaman tangan Fang pada bulu kelam sang elang semakin erat. Membuat hewan itu mengeluarkan bunyi pekikan protes sebelum melirik tuannya itu dengan tatapan setengah kasihan. Suasana hati pemuda berkacamata itu kini tengah buruk. Dan di belakangnya, rivalnya itu nampak akan menumpahkan hal yang sudah dipastikan telak menyinggungnya.

"Boboiboy, awas kalau kau-"

"BWAHAHAHA!"

Belum selesai peringatan itu terucap, Boboiboy telah tertawa terpingkal-pingkal. Saking kencangnya tawa itu, nyarislah ia terjengkang dan tergelincir dari elang bayang. Namun akas tubuhnya segera membungkuk ke depan dan kembali pada posisi semula. Menubruk punggung Fang sepenuh hati dengan sundulan kepala sebagai imbasnya.

"Berisik! Diam atau kutendang beneran, nih!"

"Habis, kenapa kau bisa salah panggil pula?" tangan Boboiboy menyeka pelupuk matanya yang basah.

"Aku panik lah!" sentak Fang sambil melirik ke belakang. "Kau sendiri terlalu santai untuk seseorang yang nyaris terbunuh, tahu!"

"Iya deh iya," sahut Boboiboy dengan bibir cemberut. Tapi dalam sekejap mata ia teringat insiden itu kembali dan mulai terkekeh-kekeh.

"Cepat cari Nukleus dan jadilah berguna sana." Fang menggerutu sembari membalikkan badan.

"Siap kapten!" Boboiboy memberi sikap hormat layaknya seorang anak buah, yang Fang tangkap sebagai gurauan menyebalkan. Pasalnya orang yang bersangkutan gemetar menahan tawa walau tepat di balik punggung Fang.

Tak banyak yang bisa keduanya lihat selain dominasi hamparan langit biru. Awan-awan membentuk hamparan putih bersih tepat di bawah kaki. Seharusnya ini menjadi sebuah pemandangan yang indah. Jika saja mereka tak mencari sebuah bola berkuran kecil itu di antara luasnya angkasa yang mereka jelajahi. Tak ada pertanda, langit dan dimensi pilar Matra ini tak menunjukkan gurat-gurat retak. Elang bayang pun menukik, tubuh ramping sekaligus kekarnya membelah angin.

.

.

.

'Bersiaplah Gopal! Mereka masuk ke Matra sekarang!'

Dua sosok berjubah melompat masuk ke dalam Matra, mendarat dengan mulus dan membuat pijakan pasir itu mengepulkan debu halus singkat ke udara. Salah satu pelahap ingatan berperawakan laki-laki jangkung dan tirus, sementara yang satu berpostur agak bungkuk.

"Tukaran makanan!"

Semburat sinar yang ditembakkan telunjuk Gopal mengubah pasir di sekeliling musuh menjadi lapangan permen karet yang lengket. Salah satu dari mereka (pelahap ingatan bertubuh bongkok) mencoba melepaskan kakinya yang terjerat hingga ke betis. Namun upaya itu justru membuatnya oleng dan jatuh tertelungkup. Kini ia harus melepaskan tubuhnya yang ikut tersekat oleh permen karet.

'Bagus! Kau berhasil menghentikan mereka!' Ochobot yang semula skeptis pun kini berseru takjub. Rupanya masih ada kesempatan bagi mereka walau situasi yang kurang menguntungkan.

"Sesuai dengan rencanaku." Gopal pun menggosok hidungnya dengan penuh rasa bangga. "Dengan begini, aku tinggal mengawasi mereka sampai Boboiboy menyelesaikan misi bukan? Kacang lah!"

Setelah puas membusungkan dada, Gopal akhirnya melirik ke belakang, kembali pada musuhnya. Mereka rupanya telah berpindah posisi. Kaki yang terperangkap mulai bisa menyesuaikan dan membawa mereka menepi. Dua pasang sorot mata di balik bayangan tudung jubah tertuju pada pemuda itu, membara oleh amarah.

"Terus sekarang aku harus ngapain?!" teriakannya itu berbanding terbalik dengan rasa percaya dirinya beberapa saat yang lalu.

'Tentu saja kau serang mereka lah!'

"Tukaran makanan!"

Kekuatan Gopal gagal mengubah musuh menjadi makanan, sebuah limitasi dari kekuatannya yang masih sering dilupakan. Ia mulai berteriak histeris selagi mundur secara teratur.

Ochobot mulai berpikir untuk menyesuaikan lagi latihan untuk Gopal atau pemuda tambun itu hanya akan melempari musuhnya dengan makanan di misi-misi mendatang. Membersihkan pikirannya dari makanan adalah perkara yang cukup pelik memang.

"Tumbukan padu!"

"Tendangan laju!"

Seruan yang berselisih tipis itu terdengar dari portal masuk, seketika membuat Gopal melirik cepat dengan mata yang berlinang. Bala bantuan telah datang. Dan dengan kecepatan super, kedua remaja putri itu masuk ke dalam Matra sembari melayangkan pukulan dan tendangan yang membuah musuh terpental cukup jauh. Seketika musuh yang terkapar karena serangan mendadak itu mulai lenyap dari pandangan mata.

"Ying! Yaya!"

-CdS-

Tak ada objek lain yang mereka jumpai di angkasa. Selain awan dan sebentang langit, nihil belaka. Daratan di bawah sana tersembunyi di balik lautan putih awan, mereka tak punya opsi lain.

"Jadi... kita ke bawah?" tanya Boboiboy dengan nada ragu.

"Menurutmu ke mana lagi?" Fang pun menepuk kepala sang elang sebagai isyarat. "Pegangan yang kuat."

Dari posisi mendatar, hewan itu pun mengepakkan sayapnya sebelum menukik tajam. Boboiboy mengatupkan mulut, berusaha untuk tidak menggigit lidahnya karena manuver ini. Deru angin semakin nyaring di kuping mereka, gumpalan awan itu semakin dekat.

Sebentar, bukannya awan itu...

Kening Boboiboy berkerut, namun ia terlambat untuk mengucapkan sepatah katapun. Awan-awan putih pekat itu sudah berada di depan batang hidungnya. Keduanya berteriak begitu sosok mereka dilumat oleh gumpalan kapas angkasa itu. Lapisan demi lapisan awan yang tersibak mulai memunculkan abu-abu mendung.

Pakaian dan sebagian besar tubuh kedua pemuda itu seolah tersiram air. Oleh-oleh yang mereka dapat dari menembus lautan awan. Boboiboy kontan menggigil hebat, merasakan terpaan angin yang kini terasa seperti hujaman es di sekujur tubuh. Fang tak jauh berbeda, menggumam 'harus menyelesaikan misi secepatnya' dengan nada jengkel.

Daratan membentang di bawah sana, menambah pulasan warna cokelat dan hijau sejauh mata memandang. Tak ada rumah ataupun gedung di sana, melainkan kincir-kincir angin putih yang seingat Boboiboy dipakai untuk menghasilkan listrik. Bilah-bilah berwarna putih gading itu berputar-putar digerakkan kencangnya angin yang menerjang.

"Wow, besar lah!" Boboiboy tak bisa menahan diri untuk terkagum, ia melompat dari punggung elang bayang begitu hewan itu mendarat di tanah.

"Masih lebih besar menara Matra perasaan." Fang menyeka kacamatanya yang basah dengan bagian bawah bajunya. "Kau periksa ke sana."

Boboiboy menggulirkan bola mata tanpa menyahut. Entah sampai kapan Fang berlagak seperti bos serta memerintahnya ini dan itu. Ia di sini dikontrak sebagai Poros, bukan pesuruh.

Tanpa bercakap-cakap lagi. keduanya pun lekas memeriksa satu demi satu kincir angin. Berharap menemukan Nukleus kedua dengan segera. Tapi pilar-pilar itu tak memiliki apapun, tak ada pintu masuk ataupun ruangan yang ada di dalamnya.

Sudah tiga kincir Boboiboy periksa, namun ia tak menemukan apapun. Fang pun tak jauh berbeda, remaja berkacamata itu melirik Boboiboy dari kejauhan dan memberi isyarat lewat gelengan pelan kepalanya. Merasa buntu, Boboiboy pun berlari menghampiri sang rival.

"Kita harus memeriksa semuanya?" telunjuknya mengarah pada setidaknya lusinan kincir yang belum mereka periksa.

"Entahlah, mana nggak ada tanda-tanda distorsinya lagi." Fang memberengut sembari menggaruk bagian belakang kepalanya.

Suara pekikan hewan menjadi suara pertama yang mereka dengar selain embusan angin. Mendongakkan kepala, Boboiboy dan Fang kembali memandangi hamparan langit muram yang baru beberapa menit lalu dijelajahi. Namun kali ini ada sesuatu yang menyelingi awan. Bayangan samar-samar melesat di atas kepala kedua remaja itu, berasal dari kepakan sayap-sayap yang merambahi angkasa. Gerombolan merpati putih rupanya. Baik Boboiboy maupun Fang sempat bertatapan. Pemikiran konyol pun melintas.

"Bukan di sana kan?" setelah memicingkan mata, Boboiboy pun melirik Fang.

"Semoga..."

Lalu terdengar suara gemertak, langit mulai retak-retak. Pertanda lugas atas dimensi Matra yang terdistorsi. Mereka langsung melirik ke arah sumber retakan itu, tepat pada bayangan hewan angkasa yang kini menjadi dua garis melengkung yang sering digambar oleh anak-anak sekolah dasar. Tak salah lagi, nukleus Matra kedua berada pada salah satu burung itu.

"Cepat kejar, Fang!" Boboiboy berteriak sembari melompat kembali ke punggung elang bayang –yang baru saja Fang panggil kembali.

"Tsk, aku tahu lah!"

Elang bayang Fang pun melesat lebih cepat layaknya pesawat jet. Tanpa adanya fasilitas seperti sabuk pengaman, atap dan penyekat, kedua penumpang pun harus berpegangan erat dan menahan derasnya angin yang bisa menghempaskan tubuh mereka dari punggung sang elang.

Suara samar dari handsfree di telinga membuat alis Boboiboy terangkat. Tapi ia tak bisa menafsirkan apapun dari suara-suara kabur itu. "Apa kau dengar sesuatu?"

"Hah? Nggak tuh!" sama-sama tidak bisa memilah suara di sana dengan deru angin, Fang mengangkat sebelah alisnya. "Aah! Mereka makin kabur!"

"Bisa tidak burungmu ini nggak terlihat seperti burung pemangsa? Kayaknya mereka takut."

"Terus kamu mau kita naik burung pipit, gitu!"

.

.

.

"Siap Yaya?" mengambil ancang-ancang dengan melebarkan kakinya, Ying melirik sahabat karibnya.

"Tentu Ying!" dengan tangan mengepal, gadis berkerudung itu mengangguk mantap.

"Oi Gopal, bantuin juga lah!" seru Ying sembari menoleh ke belakang.

"Dey, tadi kan aku sudah menghadapi mereka sendirian?!"

"Cuma lima menit kan? Sini bantu lagi!"

Regenerasi musuh pun usai dalam hitungan detik, dan dua sosok berjubah muncul dan melompati portal. Keduanya menjejak pasir dan menerbangkan beberapa menjadi kepulan asap singkat. Mengambil langkah ofensif, dua sosok berjubah pun menerjang kedua gadis itu.

Yaya menghadapi sosok jangkung yang memilih untuk menyerangnya. Tangan pucat itu menarik sesuatu dari balik jubah kelabunya-sebuah pedang pendek yang membidik bagian tubuh sebelah kiri Yaya. Kontan gadis berkerudung itu mengelak ke kanan, membiarkan bilah tajam itu menghunus udara.

Tumit kaki Yaya memutar ke kiri, kepalan tangannya yang telah sarat oleh kekuatan gravitasi dihantamkan pada kepala lawan. Serangan itu mengirimkan lawannya terhempas dan menjebol dinding rumah terdekat. Kepulan debu halus sedikit menyamarkan Pelahap Ingatan yang tak bergerak di dalam sana.

"Hati-hati Ying!" Yaya melirik kawannya, yang sibuk menghindari sodokan tombak dari Pelahap Ingatan berbadan agak bungkuk.

Menyadari situasi kurang menguntungkan, gadis berkacamata bulat itu melompat mundur. Tanpa jeda, kakinya menekuk dan Ying mengambil ancang-ancang sebelum ia melesat dengan kekuatan waktunya. Tak kalah waspada, lawan menyosorkan senjatanya ke arah Ying.

"Perlahankan masa!" seru Ying, memberinya kesempatan untuk menghindari senjata itu dengan mencondongkan badannya ke belakang. Kaki kanannya diluruskan dan sang gadis meluncur menghindari tombak seperti bermain limbo.

Tepat ketika waktu kembali bergerak, Ying memutar balik dan melancarkan tendangan supersoniknya pada punggung lawan. Terpental cukup jauh, sosok berjubah itu bernasib sama seperti temannya: menabrak tembok dan jatuh terguling-guling di atas pasir.

"Ha... hampir sajaaa!" Ying mengambil napas panjang, nyaris saja jantungnya copot barusan.

"Kau oke Ying?!" Yaya bertanya dengan nada khawatir.

"Oke, kita bisa-" belum selesai berucap, teriakan panik Gopal membuat keduanya mendelik ke arah belakang. "Ada apaaa pula anak itu."

"Dey! Lihatlah itu!" telunjuk Gopal terarah pada rumah di mana musuh yang baru beberada detik lalu dikalahkan itu terhempas.

Baik Yaya maupun Ying tak bisa mempercayai apa yang terjadi, memelototkan mata mereka pada dua sosok berjubah yang bangkit nyaris bersamaan.

"Ada yang nggak beres ini," gumam Ying sembari menggigit ujung bibirnya. Intuisinya sungguh tidak mengenakkan.

"Ochobot, kenapa mereka tidak regenerasi dulu?!" seru Yaya kebingungan.

'Aku hanya bisa melacak satu Pelahap Ingatan saja yang ada dekat dengan kalian!' Ochobot menyahut panik dari sambungan komunikasi nirkabel mereka.

"Terus ini yang satu lagi apa? Hantunya?!" seru Gopal dengan gemas.

Satu sosok mencengkeram tombak, sementara yang lain menggenggam pedang pendek. Bagaimanapun juga, ada dua musuh di depan mereka. Tak ada waktu untuk menganalisis keanehan itu, karena dua sosok berjubah pun kembali menerjang para gadis.

-CdS-

"Kalau saja ada Gopal di sini," dumel Fang. Hewan bersayap itu langsung terbang menjauh sesaat setelah elang bayangnya berhasil mendekat.

"Ah, dia bisa menukar sesuatu dengan roti." Menangkap maksud Fang, Boboiboy mengangguk setuju.

"Ya, bakal lebih berguna jika dibandingkan orang yang hanya bisa dibonceng sekarang ini."

Sebuah kilatan cahaya merah yang berasal dari belakang membuat Fang melirik pada rivalnya. Boboiboy telah bertukar menjadi Halilintar, elemental dengan baju hitam-merah itu. Tangan kanannya yang terentang mengeluarkan kilat merah, dan pedang petir seketika dalam genggaman.

"Oh, kita buktikan saja kalau begitu." Boboiboy lekas bangkit dan mengambil ancang-ancang.

"Hei, kau bencanda bukan?!"

"Gerakan kilat!"

Dalam satu sentakan kuat, Boboiboy melompat ke udara. Elang bayang seketika oleng sebagai imbasnya, disusul oleh teriakan protes Fang. Boboiboy Halilintar tak sekalipun menoleh ke belakang. Manik rubinya terkunci pada merpati-merpati putih di depan sana.

Masih terpaut jarak sepuluh meter dengan target, gerakan sang elemental petir itu justru melambat. Kedua kakinya segera menghentak udara secara begantian, membuat lompatan zigzag. Tangan kiri Halilintar dijulurkan, mencoba meraih burung paling belakang.

"Sedikit lagi-" Boboiboy Halilintar menggigit bibir, jarinya tak mampu menyentuh sehelaipun bulu putih bersih itu.

"Tsk! Sambaran Halilintar!" tangan kanan Halilintar menyabetkan pedang.

Kilat merah jatuh tepat di depan kawanan burung, mengejutkan mereka bersama dengan gemuruh yang memekakkan telinga. Selanjutnya terdengar pekikan-pekikan panik, berikut suara kepakan sayap ribut. Formasi rapi burung seketika kacau, berhamburan ke segala arah.

Kehilangan momentum, Boboiboy Halilintar tak bisa mempertahankan posisinya. Tanpa pijakan baginya untuk bertolak dari gravitasi, ia kini terjun bebas. Sekilas menatap gentar ke daratan di bawah sana, Boboiboy Halilintar lalu mendongak pada burung yang semakin menjauh darinya. Suara pekikan familier mendekat dari arah belakang. Sepasang tangan berbalut sarung tangan ungu pun menangkap Halilintar dan menyeretnya kembali pada punggung hewan bayang itu.

"Kau mau membuat burungnya jadi gosong apa?!" bentak Fang.

"Kupikir itu akan membuat mereka berhenti!" Boboiboy Halilintar balik berteriak.

"Kau lihat? Mereka malah berpen-" kata-kata Fang terjeda, seseorang terjun bebas tepat di depan mereka.

Elang bayang Fang seketika terbang dengan posisi agak miring. Kedua remaja itu menjulurkan leher untuk mengamati keadaan di bawah sana. Sosok jangkung yang jatuh itu mengenakan jubah kelabu, tak sekalipun gentar sembari membalikkan posisi seolah berdiri. Tiba-tiba saja muncul mosaik-mosaik segitiga yang terjalin menjadi hamparan kaca tak jauh di bawah kakinya. Sosok itu pun jatuh berlutut, mendarat dengan selamat.

"Musuh, ya?" Boboiboy -yang tidak lagi dalam kekuatan Halilintar- pun menelan ludah.

"Pada akhirnya ada juga yang lolos," gerutu Fang. "Hati-hati, dia lebih kuat sekarang."

"Aku tahu," Boboiboy menganggukkan kepala. "Terus di antara semua kekuatan, dia bisa begitu..."

Pergerakan Boboiboy maupun Fang sangat terbatas di angkasa sana. Sebuah masalah yang nampaknya bisa diatasi oleh musuh mereka. Setiap kali ia melompat, muncul mosaik-mosaik yang menjadi anak-anak tangga. Dalam hitungan detik, sosok berjubah itu memangkas jarak dengan kedua remaja itu. Seringaian penuh kemenangan dari sang pelahap ingatan pun terlihat. Tudungnya tersibak, memperlihatkan paras pria dewasa kelewat jangkung dan berambut legam.

"Setidaknya dia bakal kesulitan untuk menyerang kita bukan?" Fang bertutur sambil melirik ke bawah. Pergerakan musuh mereka terbilang lamban jika dibandingkan dengan lesatan elang bayang Fang.

Pelahap ingatan itu tiba-tiba berhenti sebelum kepalanya sejajar dengan elang bayang. Sekali lagi mosaik segitiga muncul, membentuk sesuatu yang terlihat seperti bumerang berukuran besar. Boboiboy melirik tepat ketika senjata itu dilemparkan kepada mereka dengan kecepatan yang luar biasa.

"AWAS!"

Elang bayang mengelak pada saat-saat terakhir, membiarkan bumerang itu lewat berekorkan embusan angin kencang sebelum kembali pada pemiliknya. Keringat dingin mulai menjalari pelipis begitu Boboiboy memprediksi kekuatan serangan barusan. Satu serangan yang bisa melempar mereka berdua dari elang bayang sekaligus menghancurkan burung itu.

"Oke, aku tarik kata-kataku barusan!" seru Fang kesal.

"Fang! Lihat!" Boboiboy kembali menunjuk angkasa.

Dari arah belakang, gerombolan merpati putih itu kembali melintas sekitar tiga meter di atas kepala mereka. Manik hazel Boboiboy menyipit, menangkap kilauan biru cerah yang terikat pada kaki salah satu merpati. Tak salah lagi, itulah Nukleus yang sedari tadi mereka cari.

"Burung kedua dari kiri!" remaja itu berteriak lantang.

"Mereka ternyata terbang memutar," Fang menopang dagu sejenak. "Kita susul mereka ke belakang! Begitu mereka melintas lagi di atas, langsung bidik burung itu!"

Arloji Boboiboy memunculkan lambang petir merah. Kilat-kilat berwarna sama kembali menyelubunginya seiring ia mengaktifkan kekuatan. "Boboiboy Halilintar!"

"Awasi dulu Pelahap Ingatan di-" ucapan Fang terputus begitu Boboiboy Halilintar tiba-tiba berdiri dan membalikkan badan dengan tergesa.

Suara dua benda yang beradu kencang membuat Fang menoleh ke belakang dengan panik. Boboiboy Halilintar menggenggam pedangnya kuat-kuat kendati gemetar hebat, ditangkisnya serangan itu sebelum membelokkannya ke kanan. Nyaris saja serangan bumerang itu melemparnya ke angkasa.

Di antara burung pembawa Nukleus dan Pelahap Ingatan yang mengejar di belakang, fokus mereka kini terpecah.

.

.

.

"Mereka..." Ying nyaris tersedak saat berkata-kata. "Mereka semakin banyak setiap kita kalahkan!"

Ingin sekali Ying menganggap ini semua adalah sebuah mimpi. Mimpi yang sangat buruk. Sudah kali kedua mereka mengalahkan Pelahap Ingatan itu. Namun alih-alih lenyap lalu beregenerasi, sosok itu seolah membelah diri menjadi dua. Dan kini, empat sosok berbadan bungkuk telah bangkit kembali dengan tombak atau pedang kecil teracung pada mereka.

"Gopal! Jangan sembunyi terus, ayolah bantu!" seru Yaya sambil melirik ke belakang.

Gopal, yang bersembunyi di balik puing-puing rumah bercat biru luntur pun akhirnya melongokkan kepala sambil berteriak lantang."Tapi seranganku nggak mempan buat mereka lah!"

"Heh, kau mau kita jadi dua lawan empat?!" Ying menyentak temannya itu. "Tiga lawan empat, kau juga maju!"

"Kau bisa mengubah senjata mereka kan setidaknya?" Yaya memberi usulan.

"Oke, tugasku itu saja ya. Habis itu aku balik lagi!"

"Cepat Gopal, Sekarang!"

Ying pun mengambil ancang-ancang. Dua musuh mulai menyerangnya secara bersamaan, begitupun dengan Yaya. Sama seperti sebelumnya, ia tak diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan kawan berkerudung pink-nya itu. Ying kembali menghindari sosoran tombak. Pelahap Ingatan lain maju dari arah lainnya dengan pedang pendek terjulur. Ying terpaksa memperlambat waktu di sekelilingnya sekali lagi.

Gopal mengelus-elus dada, jantungnya berdegup teramat kencang sejak ia menjejakkan kaki di Matra. Perlahan, ia menarik napas panjang. Dalam hati pemuda gempal itu masih merajuk, tak ingin menampakkan diri di depan musuh. Dengan langkah setengah terseret, ia pun keluar dari tempat persembunyiannya. Pistol jarinya siap membidik.

"Tukaran makanan!" sinar kehijauan yang keluar dari telunjuknya berhasil mengubah tombak -yang nyaris mengenai perut Ying- menjadi coklat stik. Makanan itu langsung patah begitu sang gadis menyikutnya sekuat tenaga..

"Bagus, sekali lagi Gopal!" Seru Ying, gadis itu langsung melancarkan tendangan lajunya saat musuhnya tak lagi bersenjata. "Bantu Yaya juga!"

'Aku berhasil menyambungkan komunikasi dengan Fang dan Boboiboy!' setelah dua menit panik, Ochobot akhirnya kembali muncul dalam saluran komunikasi.

"Oh, akhirnya!" Ying menggulirkan bola mata sambil menghela napas. Misi mereka kali ini menguras kesabarannya. Ia mengelak dari serangan pedang pendek dan memilih untuk mundur dulu.

"Boboiboy, apa di sana ada Pelahap Ingatan?" Yaya langsung bertanya, fokus matanya sesekali mengawasi musuh yang ia jebak dalam medan gravitasinya.

"Ada! Kami sedang bertarung dengannya sekarang!" Boboiboy berseru nyaring. Suaranya pecah-pecah seperti sambungan telepon yang kurang sinyal. "Besarkan lagi volume suaranya Ochobot!"

Terdengar gemuruh petir yang memekakkan telinga. Belum lagi embusan kencang angin yang membuat kuping Gopal, Ying, dan Yaya lumayan sakit. Pantaslah mereka sulit dihubungi beberapa saat yang lalu.

'Dengar Boboiboy, Fang, situasinya sekarang tidak bagus!' Ochobot 'Pelahap ingatan yang berada di luar punya kekuatan untuk memperbanyak diri setiap kali kalah!'

"Apa?!" Fang berseru dengan nada gusar.

'Dari hasil analisa, kalian harus mengalahkannya berbarengan supaya mereka bisa beregenerasi lagi.'

"Dengan kondisi begini? Susah lah Ochobot!" protes Fang.

"Tapi kalian sudah menemukan Nukleusnya?" Ying mengubah topik.

"Sudah, tapi masih butuh waktu. Nukleusnya dibawa burung!" jawab Boboiboy.

'Boboiboy, Fang, kalian prioritaskan mendapat Nukleus secepat mungkin!' robot kuning itu berkata dengan sungguh-sungguh.

"Akan kami coba!"

Ying melemparkan pandangan matanya ke kiri. Dari kejauhan, jam pasir raksasa menyisakan setengah pasir yang belum jatuh ke bagian dasarnya. Portal masih belum menunjukkan tanda-tanda menutup. Masih ada tiga puluh menit tersisa. Tapi waktu yang semakin lama itu justru tidak akan menguntungkan mereka sekarang.

-CdS-

'Sekarang!'

Boboiboy Halilintar melompat dari elang bayang begitu bumerang telah dilepaskan. Dengan gerakan kilatnya, ia melakukan kembali lompatan zigzag menurun. Boboiboy kini berada sejajar dengan Pelahap Ingatan itu. Di bawah kakinya, juluran bayangan Fang membentuk tempat untuk bertumpu. Dalam kesempatan singkat itu, ia melesat lurus dengan pedang sarat petir merahnya.

"Tusukan pedang halilintar!"

Pelahap ingatan itu nampak tekejut, lalu telapak tangannya pun terbuka lebar. Dalam sekejap, mosaik segitiga itu muncul dan membentuk sebuah tameng. Dalam satu dorongan kuat, serangan Halilintar dimuntahkan hingga remaja itu terhuyung ke belakang.

"Sedikit lagi!" Boboiboy Halilintar menggertakkan gigi, namun dalam sekejap rasa gusarnya itu menguap.

Pelahap Ingatan itu mengubah tamengnya menjadi sebuah sabit besar. Tak mengindahkan Halilintar yang kaget, tangan Pelahap Ingatan itu mengayunkan sabit sekuat tenaga. Menyadari itu, Halilintar melompat mundur . Namun naas, saat ia lolos dari sabetan senjata itu, pijakan kaki kirinya miring karena kontur bayangan Fang yang memang kurang rata sekaligus kurang solid. Remaja bertopi hitam merah itu kini oleng dan terjengkang dari tumpuan. Usahanya harus gagal sekali lagi.

Kembali, Fang dengan elang bayangnya menangkap Boboiboy Halilintar untuk kali kesekian.

"Apa yang kamu lakukan, hah!" Fang tentunya gemas melihat kesempatan yang tersia-siakan barusan.

"Pijakanmu masih belum kuat, aku jadi tanggung! Kayak diinjak bisa langsung jebol, tahu!" seru Boboiboy.

"Kenapa jadi aku? Kau tahu kan kekuatanku itu bayang, bukan seperti dia!" seru Fang sambil melirik musuh mereka itu.

'Kalian! Ini bukan waktunya bertengkar!' Ochobot melerai keduanya lewar sambungan komunikasi mereka. Baik Boboiboy dan Fang saling membuang muka.

"Ayolah kalian!"

"Cepatlah Boboiboy!"

"Mereka akan membelah diri lagi di sini, tolong!"

Suara-suara protes dari ketiga teman mereka membuat Boboiboy pun mengalah dan kembali melirik Fang. "Hei, kacamata!"

"Apa?!" Fang balik menyentak. "Aku punya nama lah! Panggil yang bener!"

"Semenit juga cukup." Menghunuskan pedang tajamnya, Boboiboy Halilintar memandang lurus ke arah musuh. "Aku punya ide untuk menghentikan pergerakannya sebentar."

"Jadi, apa yang harus kulakukan?" Fang bertanya ketus, mengesampingkan dulu amarahnya barusan. Ini bukanlah saat yang tepat untuk berdebat, itu permintaan Ochobot barusan.

"Saat burungnya mulai terlihat, pancing dia ke sana." Boboiboy menunjuk gumpalan awan putih bercampur kelabu di bawah mereka.

Mulut Fang semula terbuka, ingin mengatakan sesuatu. Tapi matanya tak lama terbelalak menyadari sesuatu. Kerutan di keningnya perlahan menghilang dan ia pun menyahut. "Oke, kau berhutang padaku kalau begitu."

"Terserah kau saja," tak mau ambil pusing, Boboiboy Halilintar mengiyakan saja.

Elang bayang Fang memberi pekikan pelan, membuat kedua remaja itu melirik ke arah depan. Siluet burung pun mulai masuk dalam bidang pandang, semakin mendekat. Saatnya untuk menjalankan rencana mendadak itu. Sesuai aba-aba Fang, elang bayang pun menukik. Mereka hanya berjarak sepuluh sentimeter sebelum kembali dalam lautan awan.

"Bagus, dia mengikuti kita!" Fang melihat bagaimana sosok berjubah itu mengekori tanpa rasa curiga.

Mereka kini masuk dan menembus awan secara horizontal. Dan tepat di belakang mereka, Pelahap Ingatan itu mengejar dengan sekuat tenaga. Mereka hanya terpaut sepuluh meter.

"Lakukan tugasmu sekarang!"

"Bola Halilintar!"

Selepas membuat bulatan-bulatan sebesar bola tenis, Boboiboy menyebarkannya. Tak perlu menunggu lama, kekuatan halilintar pun bereaksi dengan awan. Kilat-kilat merah dan gemuruh pun menggeliat dan mengepung lawan. Pelahap Ingatan itu tak punya pilihan selain membangun barikade dengan mosaik kacanya. Dalam ruang sempit itu, ia berlindung dari sambaran halilintar. Sorot mata beringasnya menjadi satu-satunya hal yang mengikuti kedua remaja itu.

Elang bayang Fang kini terbang semakin tinggi, meloloskan diri dari awan petir sebelum ikut kena sambar. Pada kesempatan itu, merpati baru saja melintas. Boboiboy Halilintar kembali menekuk lutut, mengambil ancang-ancang. Di balik sol sepatunya, kekuatan bayang milik Fang menumpuk.

"Awas kalau kamu meleset!" ancam Fang.

Atensi mereka langsung menemukan merpati yang membawa Nukleus. Bayangan Fang bertindak seperti pegas, menjadi tenaga pendorong tambahan selain kecepatan Halilintar. Dalam satu sentakan, Boboiboy Halilintar melesat menuju target. Telapak tangannya terbuka lebar, menarik satu sayap merpati dan melepaskan Nukleus dari kaki merah sang burung dengan tangan yang lain.

"DAPAT!"

Begitu bola Nukleus itu aman dalam genggaman tangan, waktu di dalam pilar pun membeku. Angkasa dan ruang Matra yang retak-retak pun tak mengeluarkan bunyi derak-derak memekakkan telinga. Boboiboy mengeluarkan teriakan kemenangan, tepat ketika elang bayang datang dan Fang menariknya kembali ke punggung sang burung. Mereka kembali melewati portal pilar yang menggantung di angkasa. Saatnya bergabung kembali dengan ketiga kawan mereka yang pasti sedang kelelahan.

-CdS-

Semua manuver yang telah dilakukan dalam pilar Matra membuat Boboiboy masih terserang vertigo. Dalam ruang kendali Matra, ia duduk bersandar dengan lesu. Dalam genggaman tangan kanannya, nukleus Matra berbentuk bola berwarna safir berada. Ia menekan tombol khusus yang langsung membuat bola itu terbuka, menunjukkan wujud asli Nukleus: chip yang selanjutnya bisa diselipkan pada arloji hitam jingganya. Segera saja lelah pun tertimpa oleh senyuman lebar.

"Syukurlah, dengan ini kau akan bertambah kuat kan Boboiboy!" Yaya menghampiri Boboiboy sambil berjongkok di sampingnya.

Gopal dan Ying ikut mengamati Boboiboy, yang tengah membolak-balikkan chip nukleus itu dan mengamatinya dengan teliti. Hanyalah Fang yang duduk cukup jauh dari teman-temannya itu. Menyibukkan diri dengan memainkan ponsel berwarna navy-nya. Namun ia menyahut juga pada akhirnya.

"Tapi... aku sudah bisa menebak bagaimana elemental keduamu itu: idiot yang hobi ketawa. Pasti."

"Yang penting aku mendapat kekuatan baru." Boboiboy balas mendebat dengan nada penuh kemenangan. "Kalau ketujuhnya sudah ada di tangan, aku pasti akan lebih kuat darimu, tuh."

"Sudah, sudah. Yang lebih penting sekarang adalah tipe porosmu." Ochobot pun menengahi mereka.

"Tipe poros?" Yaya dan Ying mengulangi dua kata itu dengan nada kebingungan.

"Yup. Aku penasaran akan tipe poros yang mana kau ini, Boboiboy!" robot kuning itu terdengar seperti seseorang yang tengah berceloteh riang. Kendati jemari mekanisnya sibuk mengetik seperti biasanya.

"Hah, memangnya ada tipenya?" Boboiboy menyipitkan mata. Dalam pemahamannya saat ini Poros ya Poros. Tak ada variannya.

"Ada, tapi hanya ada dua. Nanti juga kita akan tahu saat integrasi keduamu dimulai." Mengangkat sedikit bidang pandangnya, iris kemerahan Fang melirik sang rival dari balik layar ponselnya.

Ingatan tentang integrasi pertamanya seketika membuat Boboiboy pening. Jarinya mengetuk-ngetuk pelipis kepala. Kerutan di dahinya semakin jelas. Pemuda itu nampak berpikir keras. Tak ingin ia terlihat aneh lagi di depan Tok Aba yang memiliki intuisi tajam.

"Kerja bagus untuk hari ini semuanya!" Ochobot pun melambaikan tangan. "Lekaslah beristirahat untuk besok, kalian harus sekolah bukan?"

"Duh, jangan diingatkan lagi dong!" Gopal pun memegangi kepalanya seperti orang linglung. "PR matematikaku belum selesai, dey!"

"Tunggu! Sebelum itu aku ingin mencoba ini dulu!" Boboiboy menunjuk chip mungil yang hendak ia masukkan ke arlojinya.

"Mau mencobanya sekarang juga? Buru-buru amat sih."

"Bilang saja iri, kalau aku dapat kekuatan baru~" Iris hazel itu melirik Fang dengan pandangan penuh percaya diri. Boboiboy pun nyegir kuda.

"Aku yakin skill-ku lebih baik darimu." Mendegus kesal, Fang pun memalingkan muka.

Tepat ketika telunjuk jarinya menekan chip ke dasar selot arloji, dimensi di sekitar Boboiboy kembali samar. Jujur Boboiboy belum terbiasa akan hal ini, hanya bisa memejamkan mata agar tidak terbawa pusing oleh peralihan objek di sekitarnya. Setengah menit berlalu hingga Boboiboy memberanikan diri membuka mata. Sebuah ruang apartemen sepi dan porak poranda pun kembali menyapa netranya.

"Tempat ini lagi... ya?" gumam Boboiboy. Terlalu banyak hal yang familier dari ruangan itu.

Deru angin tiba-tiba terdengar, lalu tanpa permisi menyergap dari dalam apartemen. Boboiboy menahan napas ketika kedua tumitnya terguncang, tubuhnya oleng ke belakang. Boboiboy menahan napas ketika menyadari bahwa ia terhempas dari lubang besar dari dinding apartemen itu.

Tangan Boboiboy kalap menggapai sesuatu, tapi tangannya mencabik udara belaka. Ia hanya menyaksikan dinding jebol itu semakin menjauh, ia semakin dalam terjatuh. Semerta-merta keremangan pun mengepungnya, bersama dengan lanskap langit malam bertahtakan objek-objek galaksi.

"Kau pasti sudah bosan di dalam, bukan? Udara segar memang beda ya~"

Sebuah sapaan pun terdengar dari arah asal Boboiboy terjatuh, sebuah siluet sosok yang persis dirinya pun muncul. Dua sorot mata cemerlang berwana safir Boboiboy tangkap, beserta raut wajah penuh keceriaan. Ia nampak tertawa-tawa, tak gentar kendati sedang terjun bebas tanpa parasut.

"Yang benar saja?! Aku tak ingin mati lah!" Boboiboy memprotes. Sudah berapa kali ia terjun bebas di angkasa pada misi barusan.

"Jangan khawatir, kau takkan ketakutan dengan hal seperti ini lagi!"

Sosok itu meluncur semakin cepat, hingga ia berada tepat di atas Boboiboy. Sebuah tangan terulur pada pemuda itu, semburat perak purnama yang melewati celah-celah gedung meyepuhnya. Kini Boboiboy bisa melihat jelas sosok elemental barunya, yang memakai topi miring dan rompi dengan paduan warna biru, putih, dan hitam. Bagaimana senyum jenaka itu meninggalkan kesan atas persona penuh rasa riang.

Boboiboy meraih uluran tangan itu, setelah susah payah menggapai dan melawan gravitasi. Seketika embusan kuat angin menerpa punggunggnya, mendorong tubuhnya dari bawah. Membuat kejatuhannya tepat berhenti pada sebuah sudut di mana bayangan purnama keperakan mengintip dari balik gedung. Kembali ia melirik elemental bermata cemerlang itu.

"Kau bisa memanggilku Taufan!"

-CdS-

"Boboiboy, mau sampai kapan kamu tidur? Cepat bangun!"

Suara Tok Aba menyudahi keheningan di senin pagi itu, disusul oleh embusan napas panjangnya. Sebuah rutinitas yang membuat kakek itu berpikir bagaimana caranya untuk menyembuhkan kebiasaan Boboiboy untuk tidur lagi selepas subuh. Setelah mendengar jawaban dari sang cucu dari lantai dua sana, Tok Aba pun melanjutkan rutinitas lainnya: menyiapkan sarapan. Aroma telur dadar melayang-layang setelahnya, berikut suara desisan dari wajan yang panas.

Walaupun enggan, yang dipanggil tahu bahwa sudah waktunya meninggalkan kehangatan kasur. Kedua manik rubi itu mengerjap, membiasakan diri dengan semburat cahaya dan bentangan tembok bercat biru gelap kamar. Ada yang aneh. Kasur itu terasa lebih sempit dari biasanya. Lalu tepat ketika ia berguling ke arah lain, seseorang tengah berbaring menghadap ke arahnya sembari menumpu kepala dengan tangan yang terlipat. Wajah mereka hanya berjarak lima belas sentimeter.

"Pagi, Hali sayaaang~" pemilik manik safir itu menyunggingkan senyuman ala pria penggoda kaum hawa.

Seketika yang disapa begidik sekujur tubuhnya, rasa mual menyeruak memenuhi mulut yang semula melongo. Otaknya belum selesai memproses pemandangan di hadapannya, namun kedua kakinya langsung menendang sosok di hadapannya hingga jatuh terjengkang menimpa lantai. Suara gedebug keras pun terdengar sampai bawah dengan kerasnya. Telur dadar panas mengepul itu nyaris meluncur dari piring andaikata tangan sang atok tak cekatan.

"Jahat ih, aku cuma nyapa doang." Tak mengindahkan lawan bicaranya, sosok elemental baru itu duduk di lantai sambil mengusap bagian kepala yang beradu dengan lantai barusan.

"Apa-apaan kau ini hah?!" Napas Halilintar masih memburu mengingat sapaan barusan. Rasanya seperti berhadapan dengan orang mesum betulan.

"Tunggu, seharusnya ini masa integrasi bukan? Kenapa aku ikut muncul?!" Halilintar tiba-tiba mengingat hal yang lebih penting.

"Iyap, dan tebak apa? Begitu bangun, tiba-tiba kita sudah seperti ini!" sahut Taufan dengan riang. "Tadi kau tidur nyenyaak banget, jadi aku cuma menatapmu sampai kau bangun."

"Hentikan itu, ugh..." Halilintar jijik membayangkannya, tentang berapa lama ia ditatap seperti itu. "Yang penting kita harus menanyakan hal ini ke Ocho-"

"Boboiboy, cepat siap-siap atau kamu nanti terlambat! Suara apa pula barusan?!"

Panggilan Tok Aba kali ini dibarengi langkah kaki yang menaiki undak tangga. Seketika kedua Boboiboy itu saling berpandangan dan mereka menyadari situasi saat ini. Bagaimana pula menjelaskan jika cucunya itu tiba-tiba membelah diri menjadi dua dalam semalam?

"Gawat!" Halilintar melompat bangun, namun tiba-tiba Taufan meraih bahunya dan mendorongnya menuju pintu lemari yang ia buka.

"Cepat sembunyi!" Taufan berseru. Setengah berbisik tentunya.

"Kenapa harus aku hah?!" protes Halilintar.

"Sssst, pokoknya serahkan semuanya padaku!" Taufan mengacungkan jempol sebelum menutup pintu lemari.

Intuisi Halilintar berkata sebaliknya.

.

.

.

Berlanjut pada chapter 9: Pemecah

A/N:

Apakah Taufan bisa diandalkan di chapter depan? Silakan tunggu kelanjutannya nanti~

Senang memang menulis interaksi kedua elemental ini, hahaha.

Setengah tahun untuk menyelesaikan chapter ini, sungguh rekor! Jadwal kerja padat merayap hanya menyisakan kesempatan untuk mencicil sedikit-sedikit tulisan ini di tengah menulis laporan-laporan :')

Tapi kalau ditanya apa saya akan drop ff ini, pastinya saya menjawab tidak. Sudah banyak sekali coretan saya untuk cerita ini, dari awal sampai akhir seringkali terbayang. Walau mungkin memerlukan banyak waktu, tapi perlahan-lahan, saya akan terus mencicilnya.

Terima kasih bagi yang kembali mampir, jujur saya sangat mengapresiasi para readers sekalian. Terima kasih sudah membaca coretan saya ini. Semoga Cipta dan Sirna ini bisa terus sampai akhir.

Salam hangat, dan sampai jumpa lagi~