19/September/2020
—The Genius Magic Student—
By: Abidin Ren
Summary: Memiliki sihir yang tidak terlalu dikenal oleh banyak orang, selalu membuatnya dipandang remeh oleh orang lain. Tapi meskipun begitu, Naruto tidak pernah peduli bagaimana orang-orang menganggap lemah sihirnya. Hanya dia yang tahu tentang potensi sebenarnya dari sihir miliknya ini. Dan sihirnya itu bernama ... [Magic Maker].
Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto | [Tate no Yuusha no Nariagari] © Aneko Yusagi | [High School DxD] © Ichie Ishibumi | [Fate Series] © Type-Moon | [Fairy Tail] © Hiro Mashima | Dan Semua Karakter Milik Pengarangnya Masing-masing.
Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul di dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak mana pun.
This Story Created by Me!
Genre: Fantasy — School Life — Adventure.
Pair: ... x ...
Rated: T+
Warning: ALTERNATE UNIVERSE! (AU!), MAGIC-WORLD! Harem (Mungkin), Kata-Kata Kasar (Mungkin), Alur Perlu Dipertanyakan, And Many More.
.
Happy Reading, Minna-san~
Enjoy It~
Please Favorite, Follow, and Review!
.
[Prologue]
[Chapter 1]: Bertemu Seorang Gadis Demi-Human
Opening: Yuuka Iguchi — Hey World (Opening dari Anime DanMachi Season 1)
Di suatu tempat, di salah satu belahan dunia ini, terdapat empat benua besar dengan peradaban yang sangat berbeda. Salah satunya bernama [Benua Etruria], yaitu benua besar yang menghubungkan hampir seluruh daratan di benua tersebut. Meskipun begitu, terdapat juga beberapa pulau kecil di sekitarnya yang mengelilingi benua ini.
Sejak dahulu, keempat benua ini saling bertempur satu sama lain. Motifnya pun beragam. Ada yang berperang demi melindungi harga diri, ada yang bertempur demi memperluas wilayah, bahkan ada yang berpikir hanya untuk bersenang-senang saja.
Kehidupan manusia semakin maju. Banyak manusia yang mulai mendirikan sebuah desa, kota kecil, dan masih banyak lagi. Seiring berjalannya waktu, kota-kota kecil itu mulai bersatu untuk menciptakan sebuah kerajaan. Dan sampai sekarang, ada beberapa kerajaan yang menguasai Benua Etruria. Salah satu kerajaan besar tersebut bernama [Kerajaan Ivalice].
Tidak hanya di Benua Etruria saja, di tiga benua besar lainnya pun juga memiliki kerajaan besar mereka masing-masing, tentunya untuk mengatur jalannya pemerintahan, sekaligus sebagai pelindung wilayah mereka dari musuh yang tidak terduga.
Keempat benua ini terus berperang, mulai dari memakai kekuatan tubuh mereka sendiri, bahkan sampai menggunakan senjata yang telah mereka kembangkan. Mereka berperang untuk melindungi diri mereka, melindungi apa yang mereka miliki. Semuanya terus berperang tiada henti—tidak peduli kalau hal itu bisa menghabiskan berbagai sumber daya, entah itu senjata ataupun hasil alam.
Waktu terus bergulir, dan semua ras mulai menyadari bahwa di dunia ini terdapat suatu energi spesial. Energi sihir—begitulah sebutannya—adalah energi spesial yang bersumber dari makhluk hidup maupun alam.
Mereka terus melakukan percobaan untuk menggunakan energi spesial. Berulang kali mencoba, sebanyak apa pun mereka berusaha, maka sebanyak itulah kegagalan mereka. Mereka terus bereksperimen, sampai akhirnya mereka mendapat keberhasilan. Sihir, itulah sebutan dari manusia untuk segala hasil sesuatu yang berkaitan dengan energi spesial tersebut.
Sejak menyadari kehebatannya, banyak orang meninggalkan senjata yang terkesan kuno dan beralih memakai sihir yang lebih praktis. Hal ini berimbas pada perang. Jumlah penyihir pasti akan lebih banyak daripada jumlah serdadu bersenjata.
Banyak manusia yang menggunakan energi sihir untuk berperang, memperebutkan daerah kekuasaan, menjadi yang terkuat! Penggunaan sihir pun juga tak hanya sebatas itu saja. Untuk bekerja, beraktivitas, hingga melakukan tindak kejahatan pun orang-orang tidak bisa lepas dari yang namanya sihir.
Sekian lama berperang, orang-orang mulai jenuh dengan kehilangan. Perjanjian damai antar-kerajaan dibuat. Peperangan keempat benua itu yang sudah berlangsung lama ..., akhirnya usai.
Saat kegunaan sihir semakin berkembang, penyebutan energi sihir pun berubah menjadi "mana".
Beberapa tahun kemudian, semua kerajaan yang menguasai Empat Benua Besar mulai mendirikan sekolah khusus bagi magic user, yaitu sebutan bagi orang-orang yang selalu menggunakan sihir.
Kerajaan-kerajaan besar di keempat benua tersebut juga men-sahkan penggunaan sihir di depan umum. Namun, ada beberapa syarat yang harus mereka miliki. Maka dari itu, para pemimpin setiap kerajaan sepakat membuat perjanjian kembali. Salah satu isi perjanjian itu adalah memperketat aturan penggunaan sihir. Sihir hanya boleh digunakan bagi orang yang telah menempuh pendidikan di sekolah sihir yang resmi—inilah syarat yang dimaksud sebelumnya!
Demi mengasah bakat-bakat baru yang terus bermunculan, semua kerajaan yang berdiri di keempat benua itu mulai menggelar turnamen sihir akbar yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Pemenang turnamen itu berhak mendapat julukan [God of Magic], yaitu sebutan bagi penyihir terkuat di dunia!
.
.
.
Puk!
Seorang remaja berambut kuning jabrik baru saja menutup sebuah buku yang ada di tangannya. Buku bersampul merah dengan judul "Sejarah Dunia Sihir" itu, diletakkan kembali oleh remaja tadi pada rak buku di sebelah meja belajar. Ia sudah cukup lelah untuk melanjutkan membaca.
"Hooaamz~"
Mata sewarna safir milik remaja laki-laki itu melirik ke sebuah jam kecil di atas meja, di sebelah tempat tidurnya.
Alis remaja itu terangkat sebelah. "Hmm? Sudah jam sebelas malam ternyata. Tak kusangka, waktu berlalu begitu cepat." Matanya kembali beralih, kali ini pada sepucuk kertas yang ada di atas meja belajar miliknya.
"Akademi Konoha, kah?" Remaja laki-laki itu bergumam sendiri, "Yah, kurasa aku harus segera istirahat. Aku yakin … besok pasti akan jadi hari yang melelahkan."
Setelah merapikan kembali meja belajarnya yang berantakan karena terdapat banyak buku, remaja itu pergi menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya. Dia ingin mencuci mukanya yang berhiaskan tiga goresan seperti kumis kucing di masing-masing pipinya.
Remaja itu melangkah menuju ranjang miliknya setelah keperluannya di kamar mandi selesai. Tubuh tegap itu mulai terbaring di atas kasur empuk. Tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang memiliki kulit berwarna tan eksotis.
Menggerakkan tubuhnya beberapa kali untuk menyamankan tidurnya, mata safir itu mulai menutup, membawa si pemuda menuju ke alam mimpi.
.
.
.
Pagi hari. Dua kata yang selalu membuat semua orang merasa kesal. Tentu saja, karena hal itu mengganggu saat-saat di mana mereka sedang menikmati mimpi indahnya masing-masing ….
Kriiiing—
Yah, sepertinya tidak semua orang.
Sebuah tangan berwarna tan baru saja mematikan alarm di jam kecil yang ada di atas meja. "Kurasa, kau harus lebih cepat lagi, Jam Weker," gumam si remaja laki-laki berambut kuning. Ia terkekeh pelan sambil melirik tangan kanannya yang masih menyentuh jam weker miliknya.
Mata safir milik pemuda itu bergerak, kali ini pada sebuah kertas yang ada di tangan kirinya. Di kertas itu, tertulis tentang surat rekomendasi untuk belajar di sekolah sihir Akademi Konoha.
Mengembuskan napas pelan, kedua tangannya bergerak melipat kertas tadi lalu menyimpannya di saku jas hitam yang saat ini sedang dia kenakan.
Mata safir sebiru langit itu bergerak berkeliling, mengamati setiap sudut dari tempat yang merupakan kamarnya ini, sebelum dirinya pergi sementara waktu untuk belajar di Akademi Sihir ….
Tok ... tok ... tok ….
"Naruto! Cepat turun dan sarapan! Kalau tidak cepat, kamu akan ketinggalan kereta sihir yang menuju ke ibukota!"
—Terdengar sebuah suara seorang wanita yang berbicara dari balik pintu kamar milik pemuda tadi.
Lelaki berambut kuning jabrik itu melirik pintu kamar miliknya. "Baik, Kaa-san!" jawab remaja itu yang kita ketahui bernama Naruto. Pemilik suara yang barusan memanggilnya ternyata adalah ibunya.
Matanya kembali bergerak. Naruto memandang penampilannya pada cermin besar yang ada di depannya.
Rambut kuning model jabrik. Tiga goresan seperti kumis kucing di masing-masing pipi. Kemeja oranye yang ditutupi oleh jas warna hitam, keduanya terlihat pas di tubuh tegapnya. Lalu celana panjang warna hitam pula, dan tidak lupa dasi warna merah yang melilit lehernya dengan sempurna.
"Hmm, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Mengangkat kedua bahunya tidak mau pusing, Naruto berjalan menuju meja belajarnya. "Yah, lagi pula yang memilihkannya Kaa-san. Kalau aku tidak memakainya, nanti malah kena marah."
Mata Naruto menatap sebuah gelang tangan besar dengan model kuno yang ada di atas meja belajarnya. Gelang itu berwarna hitam, dengan sebuah permata kristal kecil berwarna blue sapphiere di bagian tengah. Sementara di bagian pinggir gelang sampai mengelilingi permata kristal tadi, dihiasi oleh tulisan-tulisan berwarna emas yang sulit dimengerti oleh orang-orang zaman sekarang. Terkesan kuno dan memiliki aura mistis. Gelang itu terlihat memancarkan sedikit "kekuatan" misterius—tidak seperti benda pada umumnya, meskipun itu hanya terasa sedikit samar.
Tangan Naruto mengambil gelang itu. Dia memandangnya termenung selama beberapa saat, kemudian mulai memakainya pada pergelangan tangan kanannya.
Dia tersenyum ketika tetap matanya menatap gelang itu. "Sepertinya ..., kita akan menemui petualangan baru, Kawan," gumamnya entah kepada siapa. Dia mengelus gelangnya beberapa kali.
Menghirup udara pelan, kemudian mengembuskannya lagi. Tangannya menarik koper yang ada di depan lemari baju. Koper itu berisi semua keperluannya saat berada di Akademi Konoha nanti.
Kemudian, kaki remaja laki-laki itu mulai melangkah menuju pintu kamarnya, dan meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata apa pun.
.
.
—The Genius Magic Student—
.
.
Stasiun Kereta Sihir, Kota Renais, Kerajaan Ivalice.
Kota Renais adalah salah satu kota besar yang berada di bawah naungan Kerajaan Ivalice. Penguasa kota ini adalah Bangsawan Namikaze, yaitu salah satu klan yang memiliki pengaruh tinggi di Kerajaan Ivalice. Klan mereka banyak berjasa pada masa peperangan besar di antara Empat Benua Besar dahulu, sehingga membuat derajat klan ini benar-benar terpandang di Kerajaan Ivalice.
Kota Renais juga masuk ke dalam jajaran kota termaju dalam Kerajaan Ivalice, karena pemimpin kota ini yang berhasil menggabungkan antara ilmu sihir dan ilmu pengetahuan.
Namikaze Naruto. Itulah nama dari pemuda berambut kuning yang saat ini sedang berdiri di dalam stasiun kereta sihir. Ia menunggu kedatangan kereta yang akan membawanya ke ibukota dari Kerajaan Ivalice, yaitu Kota Konoha.
Kereta sihir, seperti kebanyakan kendaraan sihir lainnya, mesinnya digerakkan menggunakan bahan bakar lacrima. Lacrima sendiri merupakan kristal yang mengandung banyak sekali energi sihir—atau mungkin bisa dibilang, ini merupakan energi sihir yang telah memadat hingga membentuk kristal. Belum ada kepastian sejak kapan benda ini mulai ditemukan.
Penggunaan lacrima tidak hanya sebatas itu saja. Kristal sihir ini juga bisa digunakan sebagai penambah kekuatan untuk mantra sihir, dan masih banyak lagi manfaat penggunaannya.
"Apa kau yakin akan baik-baik saja disana, Naruto?"
Naruto mengalihkan pandangannya kepada seorang wanita yang memiliki rambut merah sepinggul, pemilik dari suara tadi. Dia menghela napas pelan.
"Kau tak usah khawatir, Kaa-san. Bukankah kita sudah membahas ini beberapa kali?" Naruto tersenyum kecil saat melihat raut wajah khawatir ibunya tersebut. Dia senang, itu berarti ... ibunya memiliki rasa perhatian terhadapnya.
Naruto menoleh ke samping ibunya, di situ berdiri seorang pria dewasa yang memiliki rambut kuning jabrik cukup panjang dengan jambang yang menutupi kedua telinganya. Pria itu menatap teduh ke arah remaja yang merupakan anaknya tersebut.
"Yang dikatakan Naruto benar. Kau tidak perlu khawatir, Kushina," kata pria tadi kepada istrinya. Dia tersenyum kikuk saat mendapati tatapan tajam dari wanita itu.
"Kamu 'kan tahu, Minato, seperti apa sihir milik Naruto itu! Apa kau yakin, dia akan baik-baik saja di Akademi?!" tanya wanita tadi yang bernama Kushina, menuntut jawaban kepada suaminya yang hanya bisa tertawa gugup sambil menggaruk pipinya menggunakan jari telunjuknya.
"Tapi 'kan ... Naruto sudah bisa sedikit menguasai Magic—"
"Hmph! Hanya dasar-dasarnya saja. Aku bahkan belum pernah melihat Naruto menggunakan sihirnya di pertarungan secara langsung," kata Kushina memotong perkataan Minato. Dia masih tidak terima, saat Naruto direkomendasikan untuk masuk ke akademi sihir oleh Minato. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia khawatir pada keadaan anaknya sendiri.
"Bagus dong karena Naruto selama ini jarang menggunakan sihirnya. Jika Naruto ketahuan menggunakan sihirnya secara sembarangan, justru itu akan membuatnya mendapat sanksi berat karena melanggar peraturan kerajaan. Itulah alasan kita memasukkannya ke akademi, agar dia belajar."
"Tapi, Naruto saat ini kan baru berusia 15 tahun. Maksudku, kenapa kita tidak menunggunya sedikit lebih dewasa saja?!"
Kepala keluarga Namikaze itu menghela napas pelan. Minato tahu, dia memang harus ekstra sabar saat menghadapi sifat keras kepala dari istrinya ini. "Kushina, bukankah akan lebih bagus, kalau Naruto belajar berbagai sihir di usia mudanya saat ini? Bahkan, anak-anak lain sudah memulai pelajaran sihir mereka ketika mereka berusia 13 tahun. Justru, Naruto-lah yang sebenarnya sudah tertinggal dengan anak seusianya yang lain."
"I-Itu memang benar, Minato. Tapi …."
"Ingatlah, Kushina, kita dulu masuk ke sekolah sihir juga di usia yang sama dengan Naruto saat ini, 'kan?"
Dan mereka terus memperdebatkan hal yang sama sejak kemarin malam.
Sedangkan Naruto? Yah, dia sudah biasa melihat perdebatan kedua orang tuanya setiap hari, karena sifat ibunya yang memang terkenal akan keras kepalanya.
Menggerakkan matanya ke sekeliling, dan Naruto hanya bisa menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan kanannya. Dia merasa malu karena menjadi pusat perhatian dari orang-orang di stasiun "berkat" tingkah kedua orang tuanya.
Orang-orang di stasiun tentu saja mengenal siapa mereka, tapi tidak ada yang berani menegur meski kedua orang penting itu tengah membuat keributan.
TIIIIINNNN!
Terdengar suara dari sebuah kereta, menandakan bahwa ada kereta yang sedang mendekat ke stasiun.
"Err, Kaa-san, Tou-san ..., sepertinya kereta tumpanganku sudah tiba. Jadi, aku harus berangkat," ujar Naruto yang sukses membuat Kushina menatap tajam dirinya.
'Emm, apa aku salah bicara, ya?' batin remaja berambut kuning itu gugup karena ditatap seperti itu oleh ibunya. Dia hanya bisa melirik ke arah lain, sambil menggaruk pipinya menggunakan telunjuk jari tangannya. Satu tetes keringat dingin jatuh melewati pelipis kanannya.
Kushina berjalan pelan ke arah anaknya. Sedangkan Naruto langsung menutup matanya erat, takut-takut kalau ibunya melakukan kekerasan fisik pada dirinya. Yah, meskipun dia pernah mendapat yang lebih buruk dari itu sih, yaitu dihujani sihir tingkat tinggi oleh ibunya sendiri. Memang mengerikan sekali jika perempuan sudah masuk fase marah.
Grep. "Eh …?"
Naruto hanya bisa berekspresi bingung dengan mata yang berkedip beberapa kali tatkala dirinya dipeluk oleh wanita berambut merah itu.
"Kamu harus berjanji, kalau kamu akan hati-hati disana dan jangan terlalu banyak membuat masalah, mengerti?" ucap wanita yang kira-kira sudah berumur hampir 40 tahun itu sambil terisak pelan.
Entah mengapa, Naruto merasa tersentuh saat mendengar ucapan ibunya. Naruto tahu, ibunya selalu keras padanya memang karena untuk mendidik dirinya. Dia paham betul soal itu. Begitu pula dengan kedua kakaknya, ibunya juga mendidik mereka dengan keras.
Membalas pelukan ibunya, Naruto kemudian tersenyum. "Kaa-san tidak perlu khawatir. Aku disana paling lama juga cuma tiga tahun. Aku akan baik-baik saja, percayalah!" Naruto melepas pelukan ibunya dengan pelan.
Kushina yang mendengar perkataan dari Naruto, hanya terdiam beberapa saat. Mata violet itu memandang wajah anaknya, kemudian dia mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah kalau begitu."
Mata Naruto beralih menatap ayahnya yang juga sedang memandang ke arahnya. Pria berambut kuning jabrik panjang itu tersenyum pada anaknya, lalu merentangkan kedua tangannya.
"Tidak ada pelukan untuk Tou-san, Naruto?"
"Aku masih menyukai dada perempuan, Tou-san …."
—Jleb banget di hati Minato.
Minato memegang dada kirinya, seolah merasakan sakit di bagian itu. "Kata-katamu menyakitkan, Naruto."
Sementara Kushina hanya tertawa kecil melihat interaksi dari kedua anak-ayah itu. Dia pasti akan merindukan pemandangan seperti di depannya saat ini nantinya.
"Perhatian bagi para penumpang. Kereta sihir dengan tujuan pemberhentian ibukota Kerajaan Ivalice, Kota Konoha, akan segera berangkat. Dimohon agar para penumpang untuk segera naik ke dalam kereta."
Terdengar suara pemberitahuan dari speaker, bahwa akan ada kereta yang meninggalkan stasiun.
Naruto memandang speaker yang bersuara tadi, kemudian safir itu bergerak, memandang wajah dari kedua orang tuanya. "Yah, kurasa aku harus pergi sekarang." Kedua sudut bibir itu terangkat, menampakkan senyum lebar dari seorang Namikaze Naruto.
Setelah beberapa saat terdiam, Naruto mulai berjalan menuju kereta yang akan dia naiki, tidak lupa untuk menarik kopernya juga. Berjalan dengan pelan, tanpa mengucapkan sesuatu pada kedua orang tuanya. Hmm, lagipula … bukanlah gayanya melakukan perpisahan dengan adegan-adegan sedih. Ya, itu memang bukan gaya Naruto.
Sementara Minato dan Kushina hanya memandang dengan senyuman kecil ke arah anak mereka yang sudah berjalan menjauh. Saat mata mereka telah melihat Naruto memasuki kereta, keduanya pun saling berpandangan. Tersenyum sesaat, mereka berdua mulai berjalan meninggalkan stasiun menuju tempat parkir mobil sihir mereka. Keduanya harus bersiap-siap, karena mereka punya jadwal penting tersendiri di tempat lain.
.
.
.
Naruto sekarang sedang duduk sendirian di dalam kereta. Mata safir miliknya memandang ke arah luar jendela, pada para penumpang yang masih menunggu di stasiun.
"Emm, p-permisi … a-apa kursi di sebelahmu kosong?"
Naruto memutar lehernya ke arah samping kanan ketika sebuah suara lembut menerpa telinganya. Sepertinya, kata-kata itu ditujukan kepada dirinya. Di situ dapat dia lihat, seorang gadis yang (mungkin) seumuran dengan dirinya, sedang berdiri dengan canggung sambil menatap Naruto.
Gadis itu memiliki rambut panjang oranye-kecokelatan, dengan dihiasi dua telinga hewan warna cokelat di atas kepalanya. Matanya berwarna merah muda, sedangkan bentuk wajah-dagunya lancip. Kulitnya terlihat sangat putih tanpa cacat sedikit pun. Dia mengenakan pakaian model blouse panjang, dengan rok yang menyambung dengan pakaian atasnya hingga sampai setengah paha. Bagian depan dan belakang pakaiannya berwarna merah ke-oranye-an, sedangkan bagian kedua sisi sampingnya berwarna hijau tua. Lalu, kedua lengan blouse-nya berwarna putih, beserta garis-garis hitam panjang menghiasinya. Di belakang tubuhnya terlihat sebuah ekor besar berwarna coklat. Juga tidak ketinggalan sepatu boot tinggi yang menutupi kaki sampai sedikit pahanya.
Naruto menatap gadis itu dengan sebelah alis terangkat. Safirnya untuk sesaat menatap tertarik pada telinga hewan yang terlihat lucu baginya. Tak lama setelahnya, ia kemudian mengangguk pelan. "Ya, silakan."
Gadis tadi pun mulai mendudukkan pantatnya di kursi kereta. Barang bawaannya sudah ditata dengan rapi.
"Haah, benar-benar perjalanan yang melelahkan," gumam gadis pemilik rambut oranye-kecokelatan itu. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kereta. Mata merah muda itu terpejam, mencari kenyamanan bagi pemiliknya.
…. Tak lama setelah itu, kereta tersebut mulai bergerak, melaju di rel yang semestinya; menuju pemberhentian berikutnya yaitu ibukota Kerajaan Ivalice, Kota Konoha.
Di dalam kereta, Naruto memandang bosan melalui jendela kereta pada jalanan yang dilewati kereta.
"Apa kamu juga akan pergi ke Kota Konoha?"
Naruto menatap aneh gadis yang sedang duduk bersebelahan dengan dirinya itu. 'Ya iyalah aku mau ke Konoha, tujuan kereta ini kan memang ke sana. Nih cewek salah masuk kereta atau bagaimana, sih?!' batinnya merasa sweatdrop.
"Hmm, begitulah ...," jawab Naruto seadanya.
Yah, Naruto tidak terlalu bodoh untuk mengungkapkan apa yang dia pikirkan tadi. Bisa-bisa, dia malah merusak suasana hati gadis di sampingnya.
"Aku juga ingin ke sana, tepatnya ke Akademi Konoha!" ucap si gadis dengan semangat. Senyum kecil terbentuk di bibir ranumnya.
Naruto memandang tertarik pada gadis yang ada di sebelahnya itu. "Akademi Konoha? Kau juga akan ke sana?"
"Oh? Kamu juga?!" gadis itu terkejut, "Waah …, aku tak menyangka akan bertemu dengan salah satu murid Akademi secepat ini!"
Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya, ini tahun pertamaku, sih," katanya singkat, yang kemudian disusul tawa canggung keluar dari mulutnya.
Gadis itu menutup mulutnya. "Oh, maaf. Kupikir ... kamu itu senpai-ku." Gadis itu tiba-tiba tersentak karena teringat sesuatu.
"Benar. Maaf, aku lupa memperkenalkan diri." Tangan gadis itu terjulur pada Naruto, "Namaku Raphtalia, seorang Demi-Human dari jenis rakun. Aku berasal dari Desa Lulorona, sebuah desa yang berada di kawasan pinggir pantai. Juga, kebanyakan penghuni desaku ini adalah Demi-Human."
'Seorang Demi-Human, huh?' Sekarang Naruto mengerti kenapa gadis di sampingnya ini memiliki dua telinga hewan di atas kepalanya serta sebuah ekor di belakang tubuhnya. Demi-Human, mereka seperti kebanyakan manusia lainnya, hanya saja ... mereka juga memiliki beberapa ciri fisik hewan. Contohnya seperti telinga dan ekor hewan.
Naruto sendiri memang tidak terlalu terkejut, karena dia tahu bahwa dunia ini tidak hanya diisi oleh manusia saja. Ada juga Demi-Human, Beastman, Youkai, Elf, Vampire, Dragon, dan masih banyak lagi ras lain yang hidup sampai sekarang.
Naruto mengangguk singkat. "Tak apa-apa, aku juga lupa memperkenalkan diriku tadi ..." tangan tan itu menyambut uluran tangan putih milik gadis yang dia ketahui bernama Raphtalia, "... namaku Namikaze Naruto, seorang ras Human. Aku berasal dari Kota Renais, kota tadi kita berada sebelum kereta ini berangkat."
Raphtalia mengangguk mengerti. Tapi, dia langsung terdiam saat merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Tunggu dulu. Namikaze, hm ...? Namikaze? NAMIKAZE—?!
Mata merah muda itu menatap Naruto terkejut. "Ka-Kamu seorang N-Namikaze?! K-Klan Namikaze yang it-itu?! Benar ... ya-yang itu, kah?!" tanya Raphtalia sedikit gagap. Ya, dia sedikit terguncang akibat apa yang baru saja dia dengar tadi.
Naruto mengangguk.
"K-Klan yang saat ini dipimpin oleh N-Namikaze Mi-Minato-sama?!"
Naruto mengangguk, lagi. "Ya, dia adalah ayahku."
"K-Kamu bahkan putranya Minato-sama?!" teriak Raphtalia tidak percaya. Dengan cepat dia berdiri dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya kepada Naruto. Hal itu pun sukses membuat perhatian beberapa penumpang menjadi ke arah mereka berdua.
Raphtalia memang berasal dari desa terpencil, tetapi dia cukup tahu siapa itu Namikaze Minato. Minato, merupakan seorang bangsawan dari klan Namikaze, klan yang terkenal akan kejeniusan otak mereka. Dia juga merupakan penguasa dari Kota Renais saat ini, yaitu salah satu kota termaju yang ada di dalam naungan Kerajaan Ivalice. Berterima kasihlah pada kejeniusan darah Namikaze. Saking jeniusnya, Minato bahkan bisa menggabungkan antara ilmu sihir dan ilmu pengetahuan, yang cuma sedikit orang saja yang bisa melakukannya. Tidak hanya itu, si pemilik julukan "Kilat Kuning" tersebut juga merupakan salah satu dari sedikitnya orang, yang bisa menjadi orang kepercayaan dari Raja Ivalice saat ini.
Naruto sendiri hanya memandang bingung ke arah Raphtalia. Dia tidak mengerti, kenapa gadis Demi-Human itu membungkuk ke arah dirinya.
"Maaf, saya akan cari tempat duduk lain!"
"H-Huh?!"
Grep! "Tunggu dulu!" Naruto langsung memegang pergelangan tangan kiri gadis rakun itu saat melihatnya akan mulai melangkah. Sedangkan Raphtalia memandang terkejut pada pergelangan tangannya yang dipegang secara tiba-tiba.
"Tidak perlu! Sudahlah, cepat duduk kembali," ucap Naruto pelan karena malu menjadi pusat perhatian penumpang yang lain. Tangan kanannya masih setia mencengkeram pergelangan tangan Raphtalia.
"Ta-Tapi, s-saya tidak pantas untuk du-duduk di sebelah A-An-Anda!" Raphtalia berucap semakin gagap saat merasakan cengkeraman di pergelangan tangannya sedikit menguat. Seakan-akan, pemuda di depannya ini tidak akan membiarkan dirinya untuk pergi mencari tempat duduk yang lain.
"Sudahlah ..., dengarkan perkataanku. Kau membuat kita menjadi pusat perhatian di sini," ucap Naruto dengan pandangan memohon.
Jujur saja, Naruto paling tidak suka jika harus menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Meskipun, di saat yang bersamaan ia juga tak begitu mempermasalahkannya. Yah, bahkan jika dia benar-benar dalam keadaan malas, pemuda itu sudah tidak akan peduli lagi dengan apa saja yang ada di sekitarnya. Ia akan membiarkan tanpa menghiraukan sama sekali. Ya, seperti itulah Naruto.
Raphtalia melirik sekelilingnya, dan rasa malu pun langsung hinggap di hatinya. Ternyata benar ada banyak penumpang kereta sedang memperhatikan dirinya dan pemuda itu. "Uuhhh~ ... baikla—"
Drrrrttt!
"—Kyaaa!"
Tiba-tiba kereta bergetar dengan keras, membuat beberapa orang terkejut. Begitu pula dengan Naruto serta Raphtalia. Dan entah beruntung atau sial, Naruto yang saat itu masih memegangi pergelangan tangan gadis Demi-Human tersebut, karena merasa terkejut akibat guncangan, dia tidak sengaja menarik tangan si gadis hingga membuat Raphtalia jatuh ke arah dirinya, juga bahkan sampai—
Bruk. Cup~
—membuat kedua bibir itu bertemu ….
.
.
.
Canggung.
Itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh dua makhluk dengan beda jenis tersebut. Satu laki-laki dan satu perempuan. Satu seorang Human dan satu yang lain seorang Demi-Human.
Setelah kejadian tadi, entah mengapa ..., keduanya hanya duduk diam dengan kepala yang menunduk. Bahkan wajah Raphtalia masih terlihat memerah sempurna.
"..."
"..."
"Maaf." / "Maaf!"
Keduanya saling bertatapan terkejut.
Naruto menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. Mata safir itu melirik ke luar jendela kereta. "Silakan, kau duluan saja," ujarnya dengan gugup.
Mata merah muda milik Raphtalia menatap Naruto yang sedang mengalihkan jalur pandangan matanya. Setelah beberapa saat, dia kembali menunduk. "Maaf. Gara-gara saya, Anda harus …." Semburat merah kembali muncul di kedua pipinya saat dia mengingat kejadian tadi.
Dengan cepat Naruto memandang Raphtalia. Secara samar, semburat merah juga muncul pada pipi remaja Namikaze itu. Salahkan ucapan dari gadis Demi-Human itu yang mengingatkannya kembali pada kejadian memalukan yang baru saja mereka alami tadi!
"Tidak-tidak-tidak! Itu tadi murni kesalahanku." Naruto berkata dengan panik, "Kalau saja aku tadi tidak menarikmu, kau tidak akan—"
"Tidak …." Raphtalia memotong ucapan Naruto dengan suara pelan. Kepala oranye-kecoklatan milik gadis itu bergerak pelan. Menggeleng. Semburat merah masih menempel dengan jelas di wajahnya, meskipun tidak semerah tadi.
"Kalau saja saya tadi mendengarkan Anda untuk langsung duduk, kita tidak mungkin ber-berci-uman. Karena itulah ..." kepala gadis itu semakin menunduk, kedua tangannya meremas ujung rok miliknya dengan kuat, "... jika Anda ingin memarahi saya, tidak apa-apa. Jika Anda ingin menghukum saya, akan saya lakukan apa pun hukuman dari Anda itu!"
Naruto mengurut pelipisnya pelan. 'Ya ampun ..., ini jadi merepotkan,' batin pemuda berambut jabrik kuning itu. Mata safirnya menatap gadis yang baru dia kenal beberapa saat yang lalu. Gadis rakun itu masih saja menunduk.
"Haah ..., begini saja, kita anggap ini selesai dengan kita yang sama-sama bersalah. Jadi kita impas, bagaimana?"
Raphtalia dengan cepat mengangkat kepalanya. Dia menatap tidak percaya pada putra Minato Namikaze itu. "Eh?! benarkah?" Dia menggeleng pelan, "Tidak, maksud saya ..., bagaimana dengan hukuman saya?"
Naruto terkekeh pelan. Dia memandang lembut Raphtalia. "Tidak perlu dipikirkan. Lagipula, itu hanya sebuah ciuman," kata Naruto dengan senyuman tipis yang menempel di wajahnya.
'Yaah, ... meskipun itu ciuman pertamaku, sih ...,' lanjut Naruto merasa drop dalam hati. Aura suram juga muncul secara samar di sekitarnya, meskipun hal itu tidak terlalu disadari oleh Raphtalia. Ia tidak pernah berpikir jika ciuman pertamanya akan direbut oleh gadis yang baru ditemuinya beberapa menit.
Sedangkan Raphtalia hanya diam terpaku, tatkala melihat senyuman—yang menurut Raphtalia pribadi, sangat menawan—milik si Namikaze muda. Entah mengapa ... hal itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan tanpa dia sadari, muncul semburat merah tipis di kedua pipinya.
Naruto mengangkat sebelah alisnya saat melihat wajah Raphtalia yang memerah. Dia menyentuh kening gadis itu, membuat pemiliknya langsung terjengit kaget. "Hmm ..., tidak panas. Apa kau tak apa-apa? Mukamu memerah, loh?"
"A-Ah!"
Raphtalia langsung menangkup kedua pipinya menggunakan kedua telapak tangannya. Dia malu.
"Sa-Saya baik-baik saja! Anda tidak perlu cemas, Na-Naruto-sama!"
Naruto hanya mengangguk singkat. Setelah itu, dia pun mulai menyandarkan tubuhnya pada kursi kereta. Mata safir-nya menatap pohon yang dilewati kereta melalui jendela. Sementara itu, Raphtalia mencoba untuk mengatur detak jantungnya agar kembali normal seperti biasanya.
Setelah itu, keduanya pun mulai menikmati perjalanan mereka menuju kota Konoha dengan tenang.
.
.
—The Genius Magic Student—
.
.
Kota Konoha, Kerajaan Ivalice.
Saat ini, Naruto dan Raphtalia sedang berdiri di luar stasiun kota Konoha. Koper mereka terletak di samping kaki mereka masing-masing.
Naruto mendongak, menatap sang mentari yang sudah berada tepat di atas kepalanya. Sudah tengah hari. Dia memandang ke depan, berjalan menjauhi stasiun tersebut. Raphtalia mengikutinya di belakang.
"Kita sekarang menuju ke mana, Naruto-sama?" tanya Raphtalia. Sejujurnya, gadis itu tak begitu tahu arah Akademi Konoha. Ia berharap jika pemuda di depannya mengetahuinya atau mereka akan tersesat.
Mata milik gadis itu terus bergerak kesana kemari memperhatikan bangunan-bangunan besar yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Kakinya sendiri terus melangkah, mengikuti arah tujuan dari pemuda yang baru dia kenal beberapa saat yang lalu.
Naruto berhenti, yang kemudian diikuti Raphtalia. Dia menghela napas pelan. Kedua matanya menatap lelah pada gadis yang saat ini sedang berdiri di sampingnya. "Raphtalia, sudah kukatakan berapa kali, kalau kau tidak perlu memanggilku dengan embel-embel '-sama'?!"
"Anda kan bangsawan, Naruto-sama. Tentu saja saya harus memanggil Anda dengan hormat." Raphtalia berucap dengan serius, meskipun hal itu malah membuat ekspresinya terlihat imut di mata Naruto. Kedua telinga rakunnya bahkan bergerak-gerak pelan, dan ekor gadis itu mengibas ke kiri dan ke kanan secara berulang kali, menunjukkan antusiasme-nya. Naruto sendiri berusaha menahan diri agar ia tidak pingsan akibat melihat keadaan Raphtalia saat ini yang benar-benar imut!
"Gaaah ...!"
Naruto mengacak-acak rambut jabriknya, frustasi. Dia memalingkan wajahnya yang sedang memerah ke arah kiri, lalu berucap, "Sudahlah, lupakan tentang bangsawan dan juga kehormatan. Aku paling tidak suka dengan keformalan, kau tahu?!" Naruto menatap wajah cantik Raphtalia sesaat, kemudian melanjutkan jalannya yang langsung diikuti oleh gadis Demi-Human itu.
"Kita ini seumuran, jadi bicaralah seperti saat pertama kali kita bertemu tadi!"
"Ta-Tapi Naruto-sa—"
"Dengar ya, Raphtalia ..." Naruto memotong ucapan Raphtalia. Pandangannya masih fokus ke depan, "... jika kau nanti sudah ada di Akademi Sihir, akan ada lebih banyak lagi bangsawan disana. Lalu, apa yang akan kau lakukan? Menghormati mereka semua? Menganggap derajat mereka lebih tinggi darimu, sehingga kau merasa tidak pantas berteman dengan mereka?"
Raphtalia terdiam. Dia memikirkan ucapan dari pemuda yang saat ini sedang berjalan di depannya. Kakinya masih tetap berjalan tapi pikirannya malah melamun entah ke mana. Kesadarannya mulai kembali saat mendengar lagi suara dari pemuda itu ….
"Jika kau berpikir seperti itu, apa kau akan bisa memiliki teman nantinya? Kalau kau tidak memiliki satu pun teman disana ..." Naruto menoleh sedikit kebelakang, memandang gadis di belakangnya dengan sebelah matanya, sedangkan sebelahnya lagi tertutup. Ia juga memasang senyuman, namun itu hanyalah senyuman kosong yang tidak akan disadari oleh siapa pun—
"... bukankah itu akan menyusahkanmu sendiri?"
Deg!
Raphtalia tiba-tiba berhenti berjalan saat mendengar perkataan Naruto barusan. Apalagi, senyuman yang ia lihat tadi itu …, entah kenapa terasa mengganggunya. Tadi itu adalah sebuah senyum yang hampa; tak berarti apa-apa. 'Uhm, apa cuma perasaanku saja, ya? Aku tidak yakin juga, lagian.'
Naruto kembali memandang ke depan. Dia terus berjalan, meninggalkan Raphtalia yang diam berdiri di belakangnya.
Setelah mendengar perkataan Naruto barusan, Raphtalia menjadi sadar. Ya, dia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang gadis desa biasa. Raphtalia sebenarnya belum pernah pergi ke kota besar sekalipun. Gadis itu bisa sampai di sini juga karena dirinya yang hanya iseng mencoba mengirim surat pendaftaran ke Akademi Konoha. Si pemilik surai oranye-kecokelatan itu tidak menyangka, kalau surat yang dikirimnya ternyata diterima. Setelah sampai di kota Renais, dia juga bingung harus melakukan apa. Tak tahu apapun dan tak mengenal siapa pun disana. Juga, tak memiliki teman seperjalanan untuk bisa diajak berbicara. Namun, untunglah gadis Demi-Human itu mengingat salah satu warga di desanya mengatakan, kalau dirinya harus mencari kereta dengan tujuan Kota Konoha.
…. Dan akhirnya, di sinilah dia berada, di kota Konoha bersama seorang pemuda klan Namikaze yang tidak disengaja ia temui, kemudian saling berkenalan.
Raphtalia memandang punggung tegap milik pemuda itu yang semakin bergerak menjauh. Jujur saja, kesan pertama Raphtalia pada saat melihat Naruto adalah orang yang cuek, acuh tak acuh, dan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Tapi, setelah dirinya mengenal lebih dekat sosok itu, Raphtalia menjadi sadar, bahwa ... dia tidak bisa menilai seseorang "dari luarnya saja". Nyatanya, Naruto bahkan peduli padanya, sampai memikirkan tentang teman seperti apa yang akan dia miliki nanti saat di Akademi Konoha.
Sudut bibir gadis Demi-Human itu melengkung ke atas. Membentuk senyum manis yang dimiliki oleh seorang Raphtalia. Entah mengapa, dia jadi ingin lebih mengenal sosok Namikaze muda yang saat ini sedang berjalan di depannya. Raphtalia pun berjalan cepat untuk mengejar Naruto yang sudah berjalan cukup jauh darinya. "Naruto-sama, tunggu saya!"
Naruto menoleh ke belakang, menatap jengkel Raphtalia. "Sudah berapa kali kubilang untuk jangan menambah sufiks '-SAMA' di belakang namaku, hah?!"
Gadis berambut oranye-kecokelatan itu melambatkan jalannya saat sudah di samping Naruto. Mata merah muda-nya mengerling ke arah lain, sementara lidahnya terjulur sedikit. "Tehee~ maaf, maaf~"
Matanya menatap Naruto yang masih terlihat kesal, "Ehm, bagaimana kalau kupanggil, umm ... Naruto ... -kun?"
Pemuda itu tampak berpikir sebentar, kemudian menghela napas. "Yah, kurasa itu lebih baik daripada yang tadi."
Raphtalia pun tersenyum senang; senyuman cerah yang menghiasi bibirnya.
Mereka bertanya-tanya kepada orang di sekitar tentang arah tujuan mereka. Keduanya terus berjalan menuju Akademi Konoha karena ternyata jarak antara stasiun kereta dan Akademi hanya terpaut beberapa puluh meter saja. Ya, cukup dekat, jadi tidak perlu untuk naik kendaraan.
"Oh, iya. Kamu punya sihir apa?" tanya Raphtalia pada Naruto. Ia memandang kagum pada bangunan-bangunan besar yang mereka berdua lewati. Muncul semacam efek-efek kilauan cahaya gemerlap di kedua mata merah muda tersebut. Jangan lupakan mulutnya yang terus terbuka dengan suara "Woaah!", dan sesuatu yang semacam itu. Benar-benar polos sekali ekspresinya. Maklum, dia jarang atau bahkan belum pernah pergi ke kota besar.
"Hmm? Sihir?"
"Iya. Aku punya Light Magic dan Dark Magic. Kalau kamu?" tanya Raphtalia. Matanya masih tetap setia melihat daerah sekitarnya.
"Aku ... ah, apa kau yakin ingin mengetahuinya?"
Raphtalia memandang heran Naruto. "Tentu saja, cepatlah!"
"Kau mungkin tidak akan kenal sihirku."
"Maka dari itu aku ingin mendengarnya lebih dulu! Kamu terlalu berbelit-belit, Naruto-kun!"
Naruto menghela napasnya setelah mengetahui kegigihan Raphtalia.
"Baiklah."
Safir itu menatap dengan tenang ke arah depan, membiarkan Raphtalia yang memandangnya dengan wajah yang sangat penasaran, "Sihirku bernama ... Magic Maker."
Raphtalia mengangkat sebelah alisnya. Dia belum pernah mendengar nama sihir itu. "Memangnya ada sihir yang semacam itu?" tanya gadis rakun tersebut.
Naruto kembali menghela napasnya. "Sudah kubilang 'kan, kalau kau tidak akan mengenali sihirku?"
Raphtalia memasang wajah cemberut. "Aku kan cuma bertanya."
"Nanti kau juga akan tahu sendiri tentang sihirku ini," ujarnya, yang langsung disusul oleh kekehannya. "Lagi pula, aku belum terlalu mahir menggunakan sihirku ini, tahu."
Gadis itu mengendikkan bahunya. "Tidak usah merendah, Naruto-kun, aku tahu kamu pasti sudah hebat," ujar Raphtalia seraya mengibas-ibaskan telapak tangannya. "Secara ..., kamu 'kan putra Namikaze Minato-sama."
Sedangkan Naruto hanya bisa tertawa canggung sambil menggaruk kepala kuningnya yang tidak gatal. "Ahaha, tentu saja tidak. Tolong jangan sangkut-pautkan segala tentangku dengan Ayahku, kalau tidak … kau mungkin akan sedikit kecewa."
"Apa maksudmu itu, coba?" Satu alis terangkat, menandakan kebingungan Raphtalia.
"Nanti kau akan tahu sendiri."
Keduanya hanya terdiam setelah pembicaraan tadi.
Naruto melirik sekilas kepada perempuan pemilik rambut oranye-kecokelatan yang berjalan di sampingnya itu. Gadis tersebut sedang memandang lurus ke depan. Secara diam-diam, Naruto menghela napas lega. Dia bersyukur karena Raphtalia tidak mengenali Magic Maker.
Dia tidak ingin ada orang lain mengetahui sihirnya ini. Seperti yang diperintahkan Sensei-nya, ia harus tetap menyembunyikannya!
Dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu, dan karena akibat kecerobohannya itu, kini ia harus terus menderita akan rasa penyesalan di dalam dirinya!
Pokoknya, Naruto tak mau semua hal di masa lalunya terulang kembali! Cukup satu kali saja dia merasakan itu semua!
"—Kamu tidak apa-apa, Naruto-kun? Wajahmu terlihat pucat?" Kata-kata dari Raphtalia membuat Naruto tersadar dari lamunannya.
"Ah! Bukan apa-apa. Kau tidak perlu khawatir, Raphtalia." Dia mengatakan itu sambil mengusap keringat dingin di wajahnya secara tergesa-gesa.
"Uhm, baiklah … kalau kamu bilang begitu."
…. Setelah itu, keduanya pun terus melangkah sambil terus berbincang. Bahkan sesekali mereka juga tertawa bersama.
Setelah beberapa menit, mereka akhirnya dapat melihat sebuah bangunan sekolah sihir besar. Di bagian atas gerbang yang kelewat besar itu tertulis "Konoha's Akademi".
"Waaah! Jadi ini Akademi Konoha?! Kita akan belajar di tempat yang sebesar ini?!" teriak Raphtalia dengan mata yang berbinar-binar. Dia juga melihat beberapa murid yang sedang berlalu-lalang di dalam Akademi.
Memang sekarang tidak banyak murid di Akademi karena ini masih hari libur. Awal tahun pelajaran Akademi Konoha baru akan dimulai beberapa hari lagi. Jadi wajar jika saat ini Akademi masih terlihat sepi.
Naruto hanya memandang geli pada Raphtalia. Yah, dia tahu kalau gadis itu berasal dari desa, jadi dia akan memakluminya.
"Naruto-kun, ayo cepat kesini! Tempat ini sangat luas!" teriak Raphtalia yang sudah melewati gerbang Akademi.
"Hai', hai', Raphtalia. Kau tidak perlu berteriak, aku masih bisa mendengarmu dengan jelas, kau paham?" Naruto pun mulai memasuki halaman depan Akademi Konoha.
"Kamu lihat, halamannya saja sudah sebesar ini. Bagaimana dengan bagian dalamnya, ya ...? Menurutmu, kira-kira ... berapa luasnya semua wilayah di Akademi ini?"
"Entahlah ..., kenapa tidak kau tanyakan saja pada bangunan di sini?"
"Mou~ aku bertanya serius, Naruto-kun!" Raphtalia berubah cemberut. Kedua pipinya mengembung, sedangkan bibirnya mengerucut. Gadis itu pun mulai memukuli bahu Naruto dengan pelan, namun pemuda itu tak merasa kesakitan sedikit pun.
"Aduh, aduh, ... oke, aku cuma bercanda. Kau tidak perlu memukulku seperti itu, 'kan? Itu sakit, tahu?" Naruto hanya berpura-pura mengatakannya.
"Hmph! Aku kan cuma memukulmu pelan."
Dan Naruto pun harus berusaha untuk mengembalikan suasana hati Raphtalia yang sedang kesal.
Yah ... inilah awal dari perjalanan, pengalaman, dan segala hal baru yang akan Naruto temui saat berada di sekolah sihir Akademi Konoha!
—Dan tak ada di antara mereka berdua yang saling menyadari, bahwa pertemuan ketidaksengajaan mereka ini, akan mengantarkan mereka pada segala masalah cerita yang tidak pernah dapat mereka bayangkan!
Bersambung
[Author Note]:
Hm, gak banyak yang ingin aku katakan di sini, jadi langsung saja. Karena sepertinya ada beberapa pembaca yang gak ngerti atau gak paham dengan konsep sihir di fic ini, jadi kuputuskan untuk merubah kembali beberapa penjelasan yang ada—entah itu di bagian dialog ataupun narasi—agar konsep sihirnya lebih simpel, dan memahamkan kepada para pembaca. Juga, karena remake-nya sudah selesai, jadi aku langsung up aja 3 chapter sekaligus dalam satu hari ini. Sekian.
Special Thanks to Allah SWT.
Tertanda. [Abidin Ren]. (19/September/2020).
