DISCLAIMER : MASASHI KISIMOTO

Pairing : Narusaku

Rated : M for language

Genre : Romance, full drama maybe

Warning : OOC, AU, TYPO, MAINSTREAM THEME etc.

Story by me seriello

DONT LIKE DONT READ MINNA BUT I HOPE U READ THIS AND LIKE IT:V

.

.

.

.

.

TOK! TOK! TOK!

"Gila! Mereka itu benar-benar ingin memeras ku atau bagaimana? Cih membuat muak saja."

Gadis dengan surai merah muda sebawah bahu itu tengah menggerutu, melangkah kan kaki nya menuju pintu dengan bibir maju sampai lima sentinya itu.

"Aku kan sudah bilang akan ku bayar nan-"

Lidahnya kelu, mana kala ia menyadari bahwa orang yang tengah berdiri didepan pintu bukan lah orang yang beberapa menit lalu marah-marah menagih hutangnya ketika ia kalah berjudi minggu lalu. Tunggu dulu, Sakura tak mengenal mereka semua. Jadi mereka ini siapa?

"Maaf mengganggu, apa kau benar putri Tsunade dan juga Jiraiya?" Tanya dari sang wanita berambut merah darah mengawali berusaha memecahkan kecanggungan yang ada.

Sakura mengernyitkan dahinya. Pagi-pagi begini, tiba-tiba ia dikunjungi oleh orang-orang yang sama sekali tidak ia kenali dan menanyakan tentang dirinya, terutama mereka mengenal mendiang orang tua nya.

Sejak kapan orang tua nya ini punya kerabat yang Hmm bisa dibilang lumayan borjuis.

"Iya.. aku putri mereka satu-satu nya. Ada apa? Oiya silahkan masuk." Tawarnya sambil membuka pintu flat yang sedari tadi ia pegang dengan kuat itu lebar-lebar dan mempersilahkan para tamu 'istimewa' ini memasuki flat sederhana nya.

"Terimakasih banyak, anu.. soal orang tua mu. Aku sudah dengar mereka telah tiada karena sebuah kecelakaan tak terduga dua tahun lalu. Aku amat sangat minta maaf karena tak bisa menghadiri pemakaman nya karena waktu itu kami tengah berada di luar Negeri." Jawab nya sambil duduk disusul sang pria paruh baya yang datang bersama nya setelah Sakura mempersilahkannya.

Sakura kembali mengernyit bingung, luar Negeri? Gila, jelas sekali mereka bukan 'orang biasa'.

"Tidak masalah, lagi pula itu sudah berlalu. Anda masih bisa mengunjungi mereka jika mau. Aku akan mengantar kalian dengan senang hati. Tapi terlepas dari itu, ada perlu apa anda sekalian kemari dan kalau boleh tau, anda ini siapa?" Tanya nya sopan, ah ayolah meskipun ia adalah gadis urakan yang gemar berjudi-hobby yang ia dapat dari mendiang ibunya. Setidaknya ia punya sopan santun yang telah diajarkan orang tuanya.

"Etto, perkenal kan, aku Namikaze Kushina dan pria disamping ku ini suami ku nama nya Namikaze Minato." Tunjuknya pada pria paruh baya disampingnya.

Pria itu mengangguk sopan mana kala dirinya diperkenalkan oleh sang wanita bernama Kushina, Sakura lekas menganggukan kepala nya juga dengan sopan serta tersenyum semanis mungkin.

"Kami kemari karena suatu hal. Aku ini teman dekat ibu mu selama masih melajang dulu, kami teman satu SMA, tapi setelah lulus dia menikah dan pindah tempat tinggal dengan suami nya, Jiraiya. Seorang novelis yang ia kenal dari cassino dulu. sedangkan aku menikah sambil melanjutkan kuliah. Aku dan dia telah membuat suatu janji, jika kami memiliki seorang putra dan putri, maka kami sepakat akan menjodohkannya. berhubung putra kami sudah berusia 25 tahun, sudah siap menikah Jadi kedatangan kami kemari adalah untuk membawa mu pergi tinggal bersama kami sambil menunggu waktu pernikahan kalian tiba." Tutur nya panjang lebar membuat Sakura melongo ditempat pada saat itu juga, apa ini sungguhan? Hah? Apa ia tengah berada dalam drama komedi dengan kamera tersembunyi sana sini?

Ah ayolah, meskipun ia tau hutangnya banyak tak terkira tapi lelucon macam ini cukup keterlaluan juga.

Apa orang-orang ini suruhan dari bos besar Orochimaru? Orang yang memberinya hutang setiap kali berjudi?

Drama macam apa ini? Apa jika ia menyanggupi maka setelah itu muncul para Bodyguard garang Orochimaru untuk menyergapnya dan menculik dirinya?

Lalu ia yang masih mulus serta perawan ini akan dipaksa menjadi pelacur demi membayar hutangnya? Ahh mengerikan. Tidak! Katakan saja kalau ini lelucon!

"Ahahaha! Apa-apaan ini, acara komedi? Aku sama sekali tidak tertipu sungguh, jika kalian datang kemari hanya untuk menagih hutang secara halus maka dengan senang hati aku akan jawab 'nanti' maka dari itu sekarang silahkan pergi." Jawabnya sambil menunjuk pintu utama flat nya yang masih tertutup rapat, bibirnya masih menyunggingkan senyum selebar mungkin sedangkan dua orang didepan nya ini tengah saling tatap tanpa menjawab apapun.

"Ada apa? Apa aku membuat kalian bingung?" Tanya nya lagi sambil mengernyitkan dahi.

"Kami tidak sedang bercanda ataupun menagih hutang seperti yang kau katakan. Kami bersungguh-sungguh. Apa kah kau tengah dalam kesulitan? Jika iya, maka tolong terima perjanjian ini dan kami akan membantu mu membayar hutang mu."

Hah? Apa? Sekaya apa sih keluarga ini sampai-sampai dengan mudah menawarkan diri membantu membayar hutang?

"begitukah? omong-omong kalian ini tau aku tinggal disini dari mana?" tanya Sakura curiga, ia tidak bisa mempercayai orang asing begitu saja. ia patut waspada.

"Kami mencari mu di rumah, tapi tak ada siapa-siapa lalu kami bertanya pada satpam distrik dan dia bilang kau sudah tak tinggal disitu, ia juga memberi saran pada kami supaya kami meminta alamat baru mu dari sekolah mu dulu. Dan untungnya mereka mau memberitahu kami." jawab sang pria menjelaskan kronologi bagaimana akhirnya mereka bisa sampai dihadapan Sakura.

Sakura menghela nafas berat, sepertinya Danzo-pamannya, tidak ada dirumah. tapi setidaknya itu lebih baik dari pada mereka bertemu dengan paman kurang ajar nya dan menghalangi mereka bertemu dengan dirinya.

Sakura tertawa dalam hati, bingung hendak bersikap seperti apa. Apakah ini keberuntungan baginya atau malah kesialan?

Usia nya masih baru menginjak 20 tahun dan ia harus menikah dengan putra dari sahabat mendiang ibunda nya? Lelucon ini sungguh menggelitik. Tapi tunggu dulu, bukan kah mereka menyanggupi membayar hutang? Selama ini berhubungan dengan uang maka akan ia anggap sebagai keberuntungan, tidak perduli apapun itu.

"Kapan aku akan menikah?"

.

.

.

.

"Aku tidak tau harus berbuat apa, tapi sungguh, aku sangat mencintaimu Hinata." Pemuda dengan surai keemasan itu tengah mengecup dengan lembut surai indigo milik seorang wanita dengan iris istimewa nya.

"Aku juga mencintaimu Naruto-kun, tapi orang tua kita tidak saling menyukai, jadi apa kah kita harus mengakhiri hubungan ini? Aku sama sekali tidak ingin melepasmu." Jawabnya bersungguh-sungguh sambil menggenggam erat tangan dengan kulit tan milik sang pria idaman.

"Aku pun begitu. Aku akan berusaha keras membuat mereka menyukai mu dan juga berusaha supaya keluarga mu mencintai ku. Tak perduli apapun. Kita harus bersama. Kita sudah melangkah sejauh ini." Katanya lagi sambil memeluk pinggul ramping sang wanita dengan surai kebiruan itu diatas ranjang nya.

Kamar yang didominasi warna orange serta bau citrus yang menyerebak ke seluruh penjuru ruangan sangat cocok dengan senja kekuningan dari langit hari ini.

Semilir angin yang masuk melalui jendela itu membuat mereka terbuai dalam ciuman yang menggairahkan. Tak perduli apapun yang mungkin saja mereka hadapi. Yang mereka tau hanyalah mereka saling mencintai, itu saja.

BRAK!

"APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?!!"

Teriakan membahana itu berasal dari sang wanita bersurai merah darah dengan kobaran api diiris mata nya, tangannya masih mengepal setelah sebelumnya mendobrak paksa pintu dengan cat coklat milik putranya, tangannya masih bergetar hebat menandakan amarahnya sudah sampai ubun-ubun nya.

Dibelakangnya kini terdapat seorang pria paru baya yang merupakan suami sekaligus ayah dari sang putra dan juga seorang wanita merah muda asing yang tengah membelalakan iris matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita itu tengah menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya.

"Apa-apaan kalian ini!" Minato nampak menarik tangan sang putra untuk bangkit dari rebahannya bersama wanita berambut kebiruan yang tengah menggigil ketakutan. Terserah dia mau bereaksi seperti apa, pasalnya Minato tak mau lagi ada Hyuga dirumah nya ini.

"Kau! Nona Hyuga. Silahkan pergi dari sini atau kau mau aku sendiri yang menyeretmu?" Tunjuknya pada sang Hyuga muda membuat gadis itu menatap ketakutan pada sang kekasih yang tengah menunjukan raut sedihnya. Bagaimana pun juga Naruto tak punya kuasa.

Tak perlu pikir panjang, maka Hinata lekas bangkit dari posisi nya dan segera menyambar tas selempangnya yang terletak diatas meja nakas dan berlalu begitu saja dengan bulir air mata yang membasahi kedua belah pipi nya.

Tidak menyangka bahwa gadis yang berasal dari keluarga terhormat seperti dirinya harus diusir dengan sebuah bentakan.

"Aku sudah memperingatkan mu Naruto! Jangan berhubungan dengan wanita itu lagi atau Hyuga mana pun! Apa kau ini tak mengerti? Hyuga itu picik! Apa kau tak pernah berpikir bahwa mungkin saja mereka menggunakan gadis itu untuk mendapat kan mu dan menghancurkan perusahaan kita untuk yang kedua kali nya? Aku meragukan tingkat ketanggapan mu dalam berpikir!"

Sang ayah nampak luar biasa marah. Dikepalanya kini jika sang putra menentangnya maka ia tak punya alasan untuk memendam amarahnya lagi. Baku hantam dengan tangannya sepertinya bisa memberi efek jera pada Naruto apabila ucapan dan peringatan saja tak masuk ke telinga pemuda berusia 25 tahun itu.

"Tapi ayah, dia berbeda. Dia tidak tau menahu soal yang terjadi antara keluarga nya dan keluarga kita. Kenapa aku dan dia harus dihukum seperti ini? Aku mencintai nya ayah!" Bela nya sambil menatap memohon.

"Omong kosong! Cinta mu dan dia hanya semata-mata cinta palsu. Lupakan dia dan menikah lah! Gadis ini yang akan kau nikahi! Jadi jangan menentang kami lagi!" Jawab sang ayah sambil menarik tangan Sakura untuk maju kedepan membuat gadis itu agak sedikit tersentak karena tak siap.

"Apa?! Ayah berniat menikahkan ku dengan seorang gadis yang tidak ku kenali? Apa maksud nya ini? Jika kalian menentang ku dan Hinata karena keluarga kita tidak akur maka masih bisa ku percayai tapi menikah dengan gadis yang berasal dari antah berantah ini, maka alasan logis macam apa lagi yang bisa kalian berikan pada ku?" Tanyanya sambil menatap gadis bersurai nyentrik ini dengan tatapan tajam. Apa rambutnya asli?

Sakura mendecih tak suka begitu ia disebut berasal dari 'antah berantah'.

Oh iya, baiklah, dia memang tidak berasal dari keluarga kalangan atas atau semacam nya tapi itu terjadi sejak ia menjadi yatim piatu! Percayalah, ketika kedua orang tua nya masih hidup, dia termasuk orang kalangan atas juga, itupun jika Sakura boleh sombong sedikit sih.

Maka jelas ia tak terima dikata begitu. Terlalu sombong sekali untuk ukuran seorang pria yang terpergok bermesraan dikamar rumahnya oleh orang tua nya, cih tidak tau malu.

"Kau meminta alasan? Baik! Maka ibu mu ini akan menjelaskan nya." Minato menoleh pada sang istri yang masih berapi-api memendam amarahnya.

Sang wanita merah itu lantas maju dan menarik kerah sang putra sampai pemuda itu terangkat sedikit dari posisinya.

"Dengar ya putra ku tercinta! Aku dan ibu dari gadis ini telah sepakat akan menjodohkan kalian, Jadi jangan menentang ku lagi karena perjanjian ini sudah ada sejak kau belum lahir sekalipun!" Terangnya didepan wajah sang putra membuat pemuda itu meringis menyadari telinga nya berdengung.

"Ibu membuat janji bahkan ketika putra mu ini belum lahir? Seyakin itu bahwa aku dan dia beda kelamin? Bagaimana jika dia juga laki-laki? apa kah kalian akan menikahkan kami juga? Janji macam apa ini. Dan pula, ibu tega sekali mengatur pernikahan putra nya sendiri tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan. Sebenarnya siapa yang ingin menikah?" Cibirnya, ah dia sepertinya tidak kenal rasa takut.

"Hei! Berhenti berkelit! Karena nyata nya kau dan dia berbeda kelamin maka apa yang harus dibantah lagi? Kalian berdua jelas harus menikah. Ibu dan ayah tidak mau tau! Jika kau menentang lagi, maka silahkan pergi dari rumah ini!" Ancam nya sambil berlalu diikuti Minato dan Sakura di belakangnya meninggalkan ia sendirian di dalam kamar.

Apa orang tuanya baru saja mengancam nya? Apa mereka berniat mengusir? Lelucon macam apa ini? Cih menggelikan.

.

.

.

.

"Aku benar-benar minta maaf atas kejadian tak mengenakan tadi, seharusnya kau tak melihat hal seperti itu. Kami memang punya sedikit masalah dengan putra kami. Jadi kami mohon maaf."

Kushina bertutur kata sembari meniti anak tangga, ia sesekali mengurut pelipisnya yang berkeringat tak habis pikir bahwa sang putra masih berani membawa masuk seorang Hyuga.

"Tidak masalah bi, aku justru mengkhawatirkan kesehatan mu. Jika bibi marah-marah seperti tadi, aku tak yakin tekanan darah mu stabil." Ucapnya sambil memegang pundak sang Nyonya Namikaze mana kala Kushina nampak lemas dan memegang erat tepian anak tangga, sang suami turut menjaganya dari belakang.

"Istirahatlah." Lanjutnya sambil tersenyum lebar.

Kushina mengelus punggung tangan Sakura yang berada di lengan kirinya, ditatapnya wajah sang gadis sembari tersenyum membayangkan betapa beruntung nya ia memiliki seorang calon menantu yang perhatian seperti ini padanya, memang ia tak salah pilih. Rencana 'membuat janji' dadakan seperti tadi rasanya memang ide bagus.

Sekarang sepertinya ia patut berziarah pada makam Tsunade dan Jiraiya untuk mengucapkan terimakasih karena telah meninggalkan seorang putri cantik seperti Sakura untuk dijadikan menantu.

Omong-omong soal Tsunade, ia juga cukup menyayangkan sahabat terbaiknya itu meninggal dalam kecelakaan tunggal bersama suami nya, kenapa ia jadi berakhir setragis itu.

Tunggu dulu, berbicara soal orang tua yang meninggalkan Sakura, apa kah Tsunade dan Jiraiya tak memberi pesangon yang cukup sampai-sampai Sakura tadi berbicara soal hutang?

"Omong-omong Sakura-chan, apa kami boleh tau tentang hutang-hutang mu? Maksud ku, kenapa kau sampai punya hutang bahkan seakan-akan kau tengah di kejar-kejar renteinir?" Tanyanya ketika ia sudah duduk disofa ruang tamu bersama Minato dan juga Sakura, gadis dengan surai merah muda itu nampak terkejut dan susah payah menelan ludahnya.

"Etto, Mmm aku.." Dia nampak gelagapan, membuang pandangan asal dan bingung hendak berkata apa. Ayolah, mana mungkin ia harus berkata tentang judi dan lain sebagainya kan?

"Apa orang tua mu tak memberi kan sepeserpun harta warisan atau uang asuransi dan sejenis nya?" Tanya nya membuat Sakura menghela napas berat, ya setidak nya dugaan Kushina itu memang ada benarnya. Tapi tetap saja dia bingung hendak bercerita dari mana.

"Sebenarnya aku sudah ditipu, sehari setelah kematian orang tua ku, semua uang asuransi dan juga warisan beralih nama kepada paman ku, jadi aku tak menerima sepeserpun dari harta orang tua ku, maka dari itu aku terpaksa berhutang untuk memenuhi kebutuhan ku." Jawabnya sambil menundukan wajah, iya sebenarnya Sakura tidak sepenuh nya berbohong, setidaknya itu lah yang memang ia alami dua tahun lalu.

Tragisnya lagi ia diusir dari rumah nya sendiri dan harus tinggal disebuah flat sederhana dengan uang hasil jerih payahnya bekerja sambilan sebagai kasir market 24 jam. Karena itulah ia akhirnya menjadi gadis urakan yang terlunta-lunta dikota besar seperti Tokyo ini.

Kau tau? Jika Sakura mesti mendefinisakan kata "jahat" dan "keterlaluan" maka ia akan menyerukan nama "Danzo!" Dengan lantang karena paman nya itu memang manusia biadab tak punya belas kasihan.

Bagaimana mungkin ia tega menipu ponakannya sendiri kemudian mengusir nya dari rumah dan menguasai semua harta kekayaan milik orang tua nya? Tragis sekali memang kisah hidup sang gadis malang yang ditinggal orang tua nya saat masih berusia 18 tahun ini.

Dan pasal hobby nya berjudi, Sakura memang memiliki kebiasaan ini pasca ia hidup sendiri, dulu saat masih kecil hingga remaja ia sering melihat ibu nya berjudi. Sang wanita legenda yang terkenal di cassino dekat tempat tinggal mereka.

Tsunade adalah sang legenda dimeja judi, ia selalu menang. Entah dengan trik dan tipuan macam apa sehingga banyak orang yang minta dijoki olehnya, tak heran jika orang-orang di cassino mengenal Sakura karena Tsunade selalu membawa putri manisnya kesana. Maka jangan salah kan Sakura mana kala ia sudah dewasa ia jadi tergiur terjun dalam dunia serba tipuan ini, mencoba mengadu nasib pada sebuah meja penuh dosa.

Sayangnya, nasib nya tak seberuntung sang ibunda, pasalnya ia selalu kalah diatas meja judi. Tak heran kalau kini hutangnya menumpuk bagaikan baju kotor belum dicuci.

Dan sekarang ia tengah dikejar-kejar oleh suruhan sang renteinir, tapi justru ia malah kabur pindah dari flat dan ikut tinggal bersama keluarga Namikaze ini yang berarti dirinya menyanggupi pasal perjodohannya.

Ah ayolah, persetan dengan perjodohan. Sakura tak mau ambil pusing soal hal ini, yang jelas adalah ia hanya mau terlepas dari lilitan hutang yang apabila menunggak maka semakin mencekik pula bunga nya. Jadi pernikahan bukan masalah besar kan ketimbang ia jadi buronan Orochimaru yang mempersempit ruang gerak nya?

"Begitu ya? Kasihan sekali kau ini. Aku jadi menyesal kenapa kita tak menemui mu dua tahun yang lalu, sejak orang tua mu tiada. sehingga kau tak perlu merasakan penderitaan seorang diri." Kushina mulai berkaca-kaca, meskipun ia adalah wanita galak tiada tara tapi percayalah, ia punya hati yang lembut juga maka tak heran kalau kini ia tengah memeluk Sakura dengan penuh kasih sayangnya sebagai seorang ibu.

"Kata kan pada ku nomor rekening mereka, aku akan segera membayar hutang mu sekarang juga." Lanjutnya lagi membuat Sakura melongo tak percaya dengan pendengarannya.

"A-ah baiklah." Jawabnya sambil mengutak atik ponsel nya mencari secarik nomor rekening yang disertai ancaman dari Orochimaru beberapa hari yang lalu.

'Mampus kau raja ular! Sekarang kau tak bisa mencekik ku lagi dengan bunga dari uang pinjaman mu itu! Lihat, calon mertua ku mau membayarnya demi aku hahaha'

Inner Sakura tertawa jahat membayangkan betapa terkejutnya Orochimaru ketika ia membayar lunas semua hutangnya tanpa sisa sepeserpun.

sekarang ia boleh bersombong tidak?

.

.

.

.

"Heh, pendek! Kau itu sebenarnya siapa?"

Seruan tiba-tiba dari belakangnya membuat Sakura hampir tersedak jus apel yang tengah ia tenggak, menggulirkan bola mata bosan sambil menyenderkan pinggulnya pada pantry dapur mana kala mendapati pemuda pirang berdiri didepan pantry tengah menatap nya tajam bagai elang hendak menerkam tikus kecil tak berdaya. Cih seketika ia menyesal tak ikut Minato mengantarkan Kushina periksa tekanan darah nya tadi. tau kalau di rumah hanya ada mereka berdua jelas Sakura akan memilih kabur keluar saja. Pria ini seperti nya memang patut dihindari ketimbang ditemui.

"Aku Haruno Sakura. Dan ah iya, aku bukan berasal dari antah berantah tuan muda Namikaze!" Jawabnya sarkas menyindir soal tadi siang ketika pemuda ini mengatainya seperti itu.

"Oh ya? Kalau begitu dari mana asal mu? Saluran irigasi air?" Tanya nya sambil menyunggingkan senyum miring penuh arti, Sakura mendecih. Ia tak tau kalau pemuda ini 100 kali lebih menyebalkan dari kesan pertamanya.

"Ck kau ini bodoh atau bagaimana? mana ada seorang gadis suci dan terhormat seperti ku berasal dari saluran irigasi air? Coba tanya pada kekasih mu itu, mungkin ia yang berasal dari sana." Sindirnya keras membuat Naruto mengernyit tak terima ketika kekasihnya dikatai seperti itu.

"Berani sekali kau berkata seperti itu! Hyuga itu kalangan terhormat tau!" Jawabnya sombong, Naruto yakin dalam hati bahwa Hyuga lebih terhormat dari pada gadis merah muda aneh didepan nya ini.

"Oh ya? Ck ck tuan muda ini seperti nya tidak tau mana yang 'terhormat' dan mana yang 'murahan'. Kau tau? Wanita terhormat tidak akan mau diajak kekasihnya ke rumah bahkan masuk ke dalam kamarnya dan bermesraan seperti itu. Ah atau seperti nya dijaman sekarang terhormat dan murahan itu beda tipis ya? Kalau begitu aku tak mau dikata terhormat kalau padanan katanya disandingkan dengan murahan." Sindirnya membuat Naruto kalah telak, pemuda itu nampak mengepalkan tangannya karena marah kekasihnya dikatai oleh orang yang tidak dikenalnya, kalau saja Gadis merah muda ini adalah laki-laki, maka ia tak yakin tangannya masih suci dan bersih tanpa bercak darah baku hantam.

"Itu karena dia mencintai ku! Maka nya dia mau." Bela nya sambil yakin dalam hati bahwa ia telah menang kini.

Sakura nampak menahan tawanya sambil menuntaskan isi gelas yang tengah ia pegang.

"Mencintai kata mu? Seorang pria yang mencintai kekasih nya tidak akan berniat 'merusak' seujung kuku pun dan seorang wanita yang 'terhormat' tak akan dengan mudahnya menyerahkan yang pertama baginya meskipun pada pria yang ia cintai jika mereka belum menikah." Jawabnya sukses membuat amarah Naruto tersulut sempurna kini.

"Sebenarnya kau ini siapa?! Kau ini bekerja sama dengan orang tua ku dalam hal memisahkan aku dan kekasih ku ya?" Tuduh nya membuat Sakura tertawa geli, ada apa sebenarnya dengan pemuda ini? Apa otaknya sudah di cuci bersih oleh wanita itu sampai-sampai ia nampak tergila-gila pada nya hingga menuduh yang tidak-tidak?

"Dengar ya tuan muda Namikaze yang terhormat! Tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat ku pada tuan dan Nyonya Namikaze, aku sama sekali tidak tau menahu soal hal ini. Apa yang terjadi antara kau dan juga wanita bernama Hyuga Hinata itu, bukan lah urusan ku. Jika kau pikir aku ikut andil dalam perjodohan ini, maka kau salah besar! Aku sama sekali tidak tau. Tiba-tiba orang tua mu mendatangi rumah ku dan memperkenalkan diri bahwa mereka adalah sahabat mendiang orang tua ku dan mereka telah mengikat janji bahwa kau dan aku akan di jodohkan. Aku tidak tau soal perjanjian konyol itu jadi jangan harap bahwa aku pun menerima begitu saja. Lagipula siapa yang mau dinikah kan dengan pria arogan dan kurang ajar seperti mu?"

"Kau in-"

"A a a a aku belum selesai bicara tuan muda Namikaze. Jadi tolong dengar kan dengan seksama, aku tidak tau bahwa keluarga terhormat seperti Namikaze tidak memberikan pelajaran tentang etika berbicara dengan orang lain pada mu, tapi masa bodo dengan hal itu, yang lebih penting adalah aku sama sekali tidak menyukaimu! Jadi jangan harap aku mencoba mengambil keuntungan dengan hal ini. Apa untungnya coba? Menggelikan. Jika kau masih ada niatan untuk kabur dengan kekasih Hyuga mu maka silahkan saja, pintu depan terbuka. Tapi jangan salah kan aku jika masa depan mu terancam. Aku tidak mau tau. Tapi jika kau tak mau hal itu terjadi maka turuti saja semua ini dan bertingkah lah bahwa kau menerima nya dengan lapang dada."

Sakura tersenyum miring menatap pria didepannya dengan perasaan penuh kemenangan.

'ah ayolah terima saja perjodohannya dan jangan berontak sehingga aku bisa membayar hutang ku pada Orochimaru'

Gumam Sakura dalam hati sambil sesekali menahan tawa nya, ah ia jadi merasa seperti gadis licik menyebalkan sekarang.

"Apa maksudmu? Kau bilang tak mau ambil keuntungan dari perjodohan ini tapi kenapa kau meminta ku menerima? Cih wanita ini benar-benar. Kau ini jelmaan ular atau bagaimana?"

"Terserah kau sebut aku apa, ular atau buaya sekalipun tak masalah yang jelas adalah orang tua mu meminta ku menjadi menantu nya dan aku tak punya kuasa untuk menolak sama sekali, karena ini berkaitan dengan orang tua ku. Dan lagi pula, kan sudah ku bilang jika kau menolak, aku tak yakin bahwa masa depan mu tak terancam. Aku cukup tau apa yang terjadi antara kau dengan kekasih mu itu, dan mereka terlihat amat sangat tidak suka. Mau ku beri gambaran dugaan tentang apa saja yang mungkin akan kau terima jika kau menentang orang tua mu?"

Sakura menawarkan diri sambil keluar dari dapur dan melangkah kan kaki jenjangnya ke arah direksi Naruto berdiri.

"Pertama, mungkin kau diusir dari rumah serta hak waris mu akan dihapus secara permanen, kedua jika kau pergi dari rumah maka hal yang paling rasional yang akan dilakukan orang tua mu adalah memblokir Black card milik mu sehingga kemungkinan besar kau akan tinggal di perumahan kumuh karena hanya itu yang kau mampu bayar dengan jerih payah mu tanpa tunjangan dari orang tua yang selama ini kau miliki, iya aku tau mungkin saja pacar mu itu akan membantu juga, tapi apa kau yakin orang tua nya tak melakukan hal yang sama seperti orang tua mu? Aku berani bertaruh, bahwa sekarang pun ia tengah di marahi oleh orang tua nya."

Sakura tersenyum bangga, apa pemuda ini mau belajar tentang 'hidup susah' dengannya? Ayolah, Sakura cukup pengalaman dalam hal itu. Ia sudah menekuninya selama dua tahun lama nya.

"Kau ini.."

"Aku sudah memberikan mu gambaran wahai tuan muda Namikaze, setidak nya mungkin itu bisa membuka pikiran mu sekarang. Jadi apa yang akan kau pilih? Tetap berada dalam lingkungan keluarga konglomerat mu bersama ku atau pergi dan menjadi 'orang terbuang' dengan kekasih mu?"

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Satu lagi fic gaje dari saya, tiba2 aja muncul diotak jadi yaudah diketik deh.

Menarik? Atau justru aneh? Silahkan tinggalkan di review ya! Kalau fic ini kurang enak dan mainstream serta kurang bikin kalian penasaran maka ada kemungkinan aku unpublish dengan senang hati. Tpi klo responnya baik maka aku lanjutin.

RnR minna? Jangan ada siders diantara kita! Wkwk

25 Juli 2019 - seriello