DISCLAIMER : MASASHI KISIMOTO
Pairing : Narusaku
Rated : T
Genre : Drama Fantasy
Warning : OOC, OC, AU, TYPO, MAINSTREAM THEME etc.
Story by me serriello
DONT LIKE DONT READ MINNA BUT I HOPE U READ THIS AND LIKE IT:V
.
.
.
.
"AKHHHHH!!"
Suara teriakan membahana itu sukses membuat seluruh pelayan bergaun hitam putih yang tengah berdiri dibalik pintu menjulang tinggi, terkejut bukan main.
Pasalnya teriakan tersebut berasal dari ruangan di balik pintu dibelakang mereka ini.
Segera saja sang kepala pelayan mendorong pintu dan berinisiatif masuk terlebih dahulu yang kemudian disusul oleh para bawahan nya.
"Ada apa ini Yang Mulia Permaisuri?"
Wanita paruh baya dengan tubuh langsing seperti jam pasir khas para wanita di era kerajaan abad 19 itu bertanya dengan panik setelah sebelumnya ia tetap membungkuk sopan, kesopanan sangat amat dijungjung tinggi rupanya.
"A-aku.. K-kalian ini siapa?!"
Wanita dengan surai merah muda panjang sepinggul itu nampak melangkah mundur mengantisipasi serangan mendadak yang mungkin saja ia dapat dari para 'orang asing' ini.
"Ada apa ini Yang Mulia Permaisuri? Apa ada sesuatu yang membuat anda tak nyaman?"
Wanita paruh baya itu kembali bersuara dan melangkahkan kaki nya guna lebih dekat dan berniat mengecek apa yang terjadi tapi wanita yang dipanggil 'Permaisuri' ini malah semakin menjauhinya.
"TIDAK! AKU TANYA SIAPA KALIAN?! JANGAN MENDEKAT!"
Wanita itu mengangkat kedua belah tangannya dan mencoba menghalangi para pelayan yang berada didepan nya.
"Anda kenapa? Kami ini pelayan anda Yang Mulia, saya Marry. Kepala pelayan yang telah mengabdi pada anda sejak anda menikah dan di nobatkan sebagai Permaisuri. Kenapa anda bertingkah aneh seperti ini?"
Wanita paruh baya yang mengenalkan dirinya sebagai Marry itu nampak mengernyit kan dahi nya bingung, lebih bingung lagi si wanita 'Permaisuri', ia nampak bengong tak percaya dengan apa yang didengar nya.
Sejak kapan ia jadi permaisuri?
Wanita dengan gaun tidur berwarna putih gading itu segera berlari menghampiri cermin besar yang ada di tembok tengah ruangan.
Iris emerald nya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sebuah pantulan dari pahatan indah karya Tuhan yang Esa kini dapat dilihatnya dengan leluasa.
Seorang wanita dengan surai merah muda sepinggul yang dibiarkan tergerai bebas dengan kulit seputih susu serta iris emerald memukau itu cukup membuat rahangnya kaku.
'Ini benar aku?'
Diraba nya seluruh tubuh itu tanpa terkecuali, pipi nya, rambutnya, lehernya, perutnya, bahkan dadanya. Seakan tak puas dengan apa yang dilihatnya ia bahkan sampai berputar 360 derajat demi meyakinkan diri bahwa ini adalah dirinya.
Ok benar itu memang benar diri nya tapi dengan 'versi' yang 'berbeda' ini jelas lebih mewah dan lebih 'wah' untuk ukuran dirinya yang biasa saja.
Rambut merah muda dan iris hijau itu memang miliknya tapi dirinya yang sekarang ini jauh lebih 'berkelas'.
Tingkah laku nya yang aneh jelas membuat para pelayan tambah tak mengerti.
Kenapa permaisuri aneh seperti ini?
"Yang Mulia Permaisuri Sakura, apa anda sakit? Kami akan bawakan ramuan jika memang iya."
Sang kepala pelayan kembali angkat bicara mewakili perasan gundah para bawahannya.
Sikap sang Permaisuri kali ini cukup membuat mereka semua khawatir.
"A-apa tadi? Kau bilang siapa nama ku tadi?" Wanita itu menghadap sang kepala pelayan dengan pandangan sulit dijelasan.
"Yang Mulia Permaisuri Sakura, Sakura Esmee De Abella Eleanor Marlene, itu kan nama anda, Yang Mulia?"
Marry nampak semakin tak mengerti, dibelakang nya kini para bawahannya tengah sibuk saling bisik tentang keanehan yang terjadi ini sehingga membuatnya mesti menyenggol pinggul salah satu pelayan dibelakangnya demi membuat mereka diam.
"Aku... Sakura Esmee De Abella Eleanor Marlene?"
Wanita yang diyakini bernama Sakura ini nampak bergumam, ia kembali berputar menghadap cermin dimana pantulan dirinya berada.
'Apa ini sungguhan? Aku Permaisuri? Nama ku Sakura Esmee De Abella Eleanor Marlene? Sungguh? Itu kan nama permaisuri dari novel fiktif yang ku baca dari perpustakaan kota. Tidak! Ini aneh!'
"Yang Mulia, apa anda benar-benar sakit?"
Marry kembali bersuara begitu melihat keringat dingin muncul dari pelipis sang Permaisuri, membuatnya bertambah khawatir.
"Tidak, a-aku baik-baik saja. Kalian boleh keluar sekarang."
Sakura melirik tumpukan kain mewah nan elegan yang berada ditangan seorang pelayan berambut ungu dibelakang Marry. Sadar tengah diperhatikan, sang pelayan pun maju kedepan.
"Yang Mulia, ini gaun yang anda pakai hari ini."
Iris emerald itu kembali terbelalak tak percaya melihat tumpukan kain yang lebih mirip tumpukan laundry baju kotor itu adalah pakaian yang harus dipakainya.
Tidak, bukan karena bajunya lusuh atau kotor seperti yang kalian bayangkan, yang dimaksud disini adalah beratnya yang tak tanggung-tanggung.
Ukuran tumpukannya pun lebih mirip seperti tumpukan pakaian yang belum di cuci selama 2 minggu saking tinggi nya tumpukan itu, padahal hanya berupa beberapa potongan baju.
"Apa anda tak menyukai pakaian ini Yang Mulia? Jika iya, saya akan membawakan yang baru."
Gadis pelayan itu sedikit terkejut melihat reaksi Sakura yang tengah membelalakan matanya membuat seluruh pelayan bersiap mengambil pakaian baru lainnya.
"Tidak, bukan begitu maksud ku. Ahaha aku suka kok dengan pakaiannya." Jawab Sakura dengan tertawa getir, ahh terlihat sekali terlalu dipaksakan.
"Aku akan mandi dulu."
Mendengar pernyataan itu membuat para pelayan mundur dengan teratur. Setelah sosok mereka lenyap ditelan pintu raksasa barulah Sakura bisa bernafas dengan lega.
'Gila! Ini semua gila! Bagaimana bisa aku terbangun ditubuh seorang Permaisuri dari tokoh fiksi terkenal itu? bukannya aku sudah mati ya? Aku kan bunuh diri.'
Tubuh lunglai itu terjatuh diatas hamparan karpet merah halus yang menawan.
Bibir mungilnya bergetar hebat.
Jelas ia masih ingat apa yang terjadi sebelum ia terbangun dan mendapati diri berada pada dunia lain ini.
Sakura Haruno, adalah seorang wanita berusia 25 tahun yang memilih mengakhiri hidupnya karena patah hati ditinggal menikah oleh sang mantan tunangan.
Cih, Menyedihkan sekali memang.
Tapi dengan begitu bukan kah seharusnya ia ada disurga? Atau mungkin tempat semacam nya?
Bukan malah terbangun di sebuah kasur empuk Queen size dengan gerlap gerlip kemewahan khas istana kerajaan.
Belum lagi dunia ini hanyalah sebuah dunia fiksi.
Sakura jelas tau, siapa itu Permaisuri Sakura Esmee De Abella Eleanor Marlene, seorang wanita yang memiliki nama depan dan penggambaran fisik yang hampir serupa dengannya itu adalah seorang Putri kerajaan Negeri seberang yang telah dipinang oleh seorang Raja berhati dingin, Naruto Ademar Abelard.
Pada novel yang telah ia baca, disana disebutkan bahwa Sakura adalah seorang permaisuri yang tidak pernah diingin kan oleh sang Raja, ia amat sangat mencintai Raja tapi Raja tak mencintainya. mereka menikah karena dijodohkan.
Sedangkan sang Raja sendiri sudah mempunyai seorang kekasih yang akhirnya ia pilih menjadi selirnya, seorang budak yang kabur bernama Hinata La Adriana Barbara yang akhirnya mempunyai anak, rasa cinta sang Raja pun bertambah ketika dia tau dia akan menjadi seorang Ayah sedangkan sang Permaisuri Sakura semakin ditinggalkan dan dilupakan.
Mala petaka pun datang, ketika secara tiba-tiba putri pertama dari Raja dan sang penari itu ditemukan sudah tak bernyawa akibat racun yang terkandung dalam susu nya dan para saksi berkata bahwa susu itu dari Sakura, sehingga permaisuri malang yang tak pernah mendapat kasih sayang dari sang suami itu pun meninggal dengan hukuman gantung yang diperintah oleh suami nya sendiri padahal bukan ia pelakunya, pembunuh sesungguhnya adalah si ibu dari bayi itu sendiri. Dia dengan tega membunuh putri nya demi menggulirkan Permaisuri sehingga ia bisa naik tahta.
Tragis.
"TIDAKKKK!!!"
"YANG MULIA? APA ANDA BAIK-BAIK SAJA?!"
.
.
.
.
Ok sudah cukup bersungut-sungut ria nya.
Mau menampik seperti apapun kenyataan nya memang begitu, sekarang mau tak mau ia telah terlahir kembali dengan wujud baru dalam sebuah cerita fiksi tentang seorang Permaisuri menyedihkan yang tinggal di kerajaan Maja Valeria yang ada di era peradaban abad ke 19 pada daerah sekitar Eropa yang entah tepatnya dimana, pada novel tersebut tak disebutkan, yang jelas ini merupakan kerajaan bergaya Eropa-Yunani dengan para penghuni serta terdahulu berdarah kekaisaran Jepang.
Yang lebih tragis nya lagi ia akan tetap mati ditangan suami sendiri, lalu untuk apa reinkarnasi? percuma.
Memikirkannya membuat kepala merah mudanya sakit.
Sakura nampak mengurut pelipisnya pelan, secangkir teh hangat masih terpatri dengan nyaman didepan nya sekarang beserta cemilan-cemilan manis lainnya yang jika dilihat, sangat menggiurkan tapi tak menggairahkan bagi Sakura.
Ayolah, bagaimana keluar dari dunia ini?
Jika memang ia direinkarnasi, Ia mungkin akan lebih memilih kembali ke dunia nyata dan hidup sederhana saja dari pada masuk dunia fiksi dan bergelimangan harta tapi tetap berakhir tragis.
Kan miris jadinya.
'Benar-benar, ini tak bisa dibiarkan. Bagaimana cara nya kabur?'
Sakura mengetuk-etukkan jari telunjuknya diatas meja bundar untuk bersantai dengan minum teh di balkon istana Aylin.
Dipandangannya sekarang ia dapat melihat dengan jelas dibawah sana terdapat hamparan rumput hijau nan luas, tepatnya didepan pintu masuk istana yang dijaga dengan ketat oleh para pengawal berseragam baja.
Sedangkan disisi kiri dan kanan nya terdapat menara mercusuar yang digunakan untuk memantau lautan.
Terbukti jauh didepan sana terdapat hamparan laut biru yang sangat memanjakan mata.
Sungguh, Pemandangan langka.
Jika dilihat lebih lanjut, dibelakang istana besar ini terdapat sebuah istana lagi yang jauh lebih kecil ukurannya.
Menurut apa yang ia dengar dari sang kepala pelayan bernama Marry itu, ia berkata bahwa tempat itu adalah istana Chiara, tempat tinggal para selir, sedangkan tempat ini adalah istana khusus Permaisuri dan istana yang lebih besar lagi dari istana ini yang berada di sebelah Utara adalah istana utama yang dihuni oleh Raja sendiri dan juga beberapa ajudan nya.
Raja?
Berarti si Naruto brengsek yang telah dengan dinginnya memerintahkan hukuman gantung pada istrinya demi selir tak tahu dirinya itu tinggal disana?
Cih mendadak kesal melihatnya.
"Apa ada yang ingin ditanyakan lagi Yang Mulia?"
Suara lembut yang berasal dari kepala pelayan itu menginterupsi kegiatan Sakura memaki Raja membuatnya kembali tersadar bahwa memaki saja pun tak cukup sepertinya karena pada kenyataan nya dia bener-benar berada di posisi ini sekarang.
Dia tak mungkin hanya memaki saja kan? Perlu tindakan untuk bertahan hidup.
"Sudah cukup. Sepertinya aku terlalu lelah sampai-sampai aku melupakan hal-hal penting seperti lokasi istana bahkan nama ku sendiri. Aku harap aku tak merepotkan mu, Marry." Sakura meneguk air kecoklatan itu dan menyisakan setengahnya.
"Bukan masalah besar Yang Mulia, hamba telah berjanji untuk mengabdi pada Yang Mulia."
Wanita paruh baya itu membungkukan badan dan pamit undur diri untuk mengerjakan tugas lainnya begitu Sakura mengizinkan dia pergi.
Mau dipikir bagaimana lagi, kenyataan memang sudah seperti ini.
Fakta bahwa ia harus tetap melanjutkan hidup bukan hanya merutuki kebodohan Raja bengis nan dingin itu memang ada nya.
"Sepertinya aku harus keluar dari sini, kemanapun itu asal aku tak bertemu Raja bodoh yang kurang ajar itu. Pulang ke dunia nyata sepertinya tak mungkin tapi tetap tinggal disini pun rasanya menyakitkan. Lambat laun hal itu akan terjadi seperti yang sudah tertulis di buku novelnya. Aku tak mau mati tragis seperti itu huhuhuhu."
Sakura menjatuhkan kepala nya diatas meja datar itu dengan perasaan campur aduk bingung hendak berbuat seperti apa.
Jika dilihat dari pertahanannya. Kerajaan ini jelas tak bisa ditembus sembarang orang. Terbukti dengan jumlah para penjaga yang berdiri siap siaga dibawah sana.
Apa jadinya kalau dia keluar dengan santai dan beralibi ingin jalan-jalan?
Mereka akan mencari jika tau sang Permaisuri setelah itu tak kembali.
Lalu apa yang terjadi jika ia tertangkap nanti?
Hukuman pancung?
Ahhh itu lebih mengerikan daripada hukuman gantungnya.
Sepertinya ia harus mengurungkan niatan kabur dari sini dan hidup selayaknya rakyat biasa.
Oh ayolah lagipula kau pasti tau seperti apa kehidupan rakyat biasa diluar sana di era kerajaan seperti ini kan?
Tertindas.
Mereka pasti akan dipaksa kerja rodi, membayar upeti belum lagi pakaian lusuh mirip karung goni.
Tentu tak mau seperti itu kan?
"Ahh tidak! Ini makin rumit."
Sakura memegangi kedua sisi kepala nya. Sanggul Rambutnya terasa lebih berat sekarang. Ahh apakah para pelayan telah menarik rambutnya terlalu kencang sehingga menyebabkan pusing berkepanjangan?
"Kabur tak mau, tapi tetap tinggal pun bukan pilihan yang bagus." Sakura merenung. Menatap potongan-potongan cookies yang bagaikan batu bata yang jika dipaksa makan akan melukai giginya.
"Satu-satu nya cara adalah... MERUBAH TAKDIR!"
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
APA INI?!! ga tau deh silahkan netizen aja yg berkomentar_-" :"v ga tau kenapa tiba2 kepikiran aja bikin fic ini
aslinya ini adalah gabungan dari banyak sekali tema yg muncul secara tiba2 diotak ku
saking banyak nya aku jadi kan 1 fic aja:"
pokoknya silahkan disimak saja lah ya:" semoga kalian semua suka :"v
kita liat respon readers aja deh klo banyak yg minta di lanjut bakal aku lanjutin. klo engga ya berarti sampe sini aja:"V
RnR minna? mohon dukungannya
3 Juli 2019 - Seriello
