Cahaya mentari pagi menembus gorden jendela, pertanda hari senin telah datang dan suara tanda aktivitas pagi hari mulai terdengar di ruang makan. Baekhyun sedang menggendong dan mengecup sayang bayi berusia tujuh bulan di gendongannya. Ia sudah bangun sejak jam lima pagi tadi, mandi dan menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Sesekali Baekhyun mengangkat tubuh gempal bayinya yang disambut kekehan lucu dari anaknya yang memperlihatkan gigi susunya yang baru saja tumbuh.

Beberapa menit kemudian, Chanyeol menyusul keluar dari kamar dengan setelan kerja yang sudah rapi dan wangi. Pria itu sumringah melihat istri cantiknya dan bayinya sudah bangun dan berada di ruang makan, sedang menunggunya. Chanyeol segera menghampiri Baekhyun dan mencium keningnya. Baekhyun terkekeh pelan, ia sangat terbiasa dengan kebiasaan suaminya setiap pagi. Bayi mereka yang berada ditengah-tengah orang tuanya ikut tertawa lucu karena melihat ibunya tertawa.

"Ya ampun, Jackson benar-benar wangi!" Chanyeol memberikan banyak kecupan untuk bayi gemuknya ini yang beraroma bedak khas bayi.

Baekhyun kembali tertawa, ia membelai dengan lembut kepala Jackson yang ditumbuhi beberapa helai rambut kekuningan seperti rambut jagung. Lelaki manis itu kembali mencuri kecupan terakhir di pucuk kepala Jackson, dan dengan segera bayi itu terkekeh senang sambil mengangkat tangannya.

"Yeol, bisakah aku meninggalkan Jackson padamu? Aku akan membangunkan Taehyung."

Baekhyun berhenti sejenak, namun Chanyeol masih belum puas bermain dengan Jackson. Pria itu kini menggelitik perut gembung Jackson sambil tertawa jahil. "Ya, sayang. Kami akan menunggu." ia hanya bergumam tak jelas sebagai jawaban untuk istrinya.

Baekhyun tersenyum samar. Ia mengambil keranjang baju di samping mesin cuci dan beranjak ke kamar anak sulungnya.

Baekhyun mengetuk pelan pintu kamar yang dihuni oleh Taehyung, putranya yang berusia tujuh tahun. Taehyung tersenyum senang dibalik selimutnya, lalu ia terkikik. Anak itu sudah bangun sejak tadi, namun ia berpura-pura tidur agar Baekhyun datang ke kamar dan membangunkannya.

Baekhyun memutar knop pintu dan melihat tubuh kecil putranya digulung oleh selimut seperti kepompong. Ia mendudukkan diri di ranjang dan membelai pelan tubuh kecil anaknya. Taehyung seketika membuka matanya dan menerjang tubuh ibunya hingga Baekhyun sedikit kaget, namun ia kemudian tersenyum.

"Aigoo.. membohongi mama lagi?" Baekhyun terkekeh jahil sembari mengusap surai kecokelatan Taehyung. Putra sulungnya itu masih memeluk tubuhnya dengan erat.

Taehyung menggeleng sebagai jawaban. Ia membenamkan kepalanya di perut Baekhyun. Anak itu sangat suka memeluk dan mencium aroma manis khas strawberry dari tubuh ibunya.

"Taehyung harus mandi sekarang, oke?"

Taehyung kembali mengangguk antusias, "Bersama mama?" tanyanya berharap.

"Tidak, sayang. Taehyung harus mandi sendiri. Mama disini menyusun baju, panggil mama jika butuh, ya?"

Baekhyun menggeleng pelan. Ia ingin putranya ini belajar mandiri sejak dini. Taehyung merengut, mungkin sudah tiga tahun lalu sejak terakhir kali ia dimandikan oleh Baekhyun―bahkan ia sudah tidak pernah lagi digendong oleh ibunya.

Setelah mandi dan memakaikan seragam sekolah untuk putranya, Baekhyun menuntun Taehyung ke ruang makan dimana ayah dan adiknya telah menunggu. Chanyeol masih asyik sendiri bersama Jackson yang kini hanya diam menanggapi ayahnya, bayi kecil itu tampaknya mulai lapar dan ingin di beri susu. Baekhyun menjepit kedua ketiak Taehyung untuk membantu anak itu duduk di kursinya dan menyendok makanan di piring milik putranya. Setelahnya, ia beralih pada Jackson yang berada di gendongan Chanyeol. Baekhyun tersenyum sangat manis melihat Jackson yang langsung merengek ingin berpindah padanya.

Insting Baekhyun sebagai ibu langsung tahu bahwa Jackson lapar dan benar-benar ingin susu.

"Anak ayah yang tampan ini sudah tak sabar ingin menyusu. Ayo berikan padanya, mama!" Chanyeol menyeletuk untuk membuka obrolan hangat di pagi hari. Ia beranjak ke kursinya dan mulai menyendok makanan di piringnya.

Baekhyun tertawa gemas melihat kelucuan Jackson. Taehyung ikut tersenyum ketika melihat ibunya tertawa hingga membentuk eye smile yang sangat cantik, tetapi ia menjadi gusar ketika melihat adik bayinya.

Taehyung menatap tak suka pada pemandangan manis di hadapannya, ketika Baekhyun hanya memperhatikannya sesaat dan kembali menaruh atensinya secara penuh pada adiknya yang masih bayi. Ia tidak pernah menyukai Jackson, ataupun ayah tirinya ini. Baekhyun harus melalui masa sulit ketika mengandung Jackson, rahimnya lemah, dan ia mengalami pendarahan hebat ketika Jackson akan lahir. Beruntungnya, Jackson Park lahir dengan sehat, begitu juga dengan kondisi Baekhyun―meski ia harus bed rest selama satu bulan sebelum beraktivitas normal.

Taehyung sangat membenci itu. Tidak terlalu dengan Chanyeol, ia hanya tak suka adiknya karena Baekhyun lebih memberikan perhatiannya pada Jackson. Taehyung bahkan sudah lupa kapan terakhir kali Baekhyun menggendongnya, atau kapan tangan itu membelainya dan memeluknya penuh sayang hingga ia terlelap. Baekhyun selalu mengutamakan Jackson, dan Taehyung sangat cemburu melihatnya.

"Taehyungie kenapa tidak makan, sayang?" Baekhyun bertanya ketika menyadari Taehyung sama sekali belum menyentuh makanannya.

"Taehyung tidak lapar, ma." jawabnya berbohong. Ini adalah makanan kesukaannya yang selalu dimasak Baekhyun setiap pagi, Taehyung tak mungkin menolaknya. Makanan buatan ibunya akan selamanya menjadi favoritnya. Hanya saja, rasa sebalnya mengalahkan segalanya. Ia kini menatap makanan itu tanpa minat. Tak peduli jika makanan itu dibuat oleh tangan dari orang yang sangat disayanginya.

Taehyung sesekali melirik Jackson yang membenamkan kepalanya di dada Baekhyun dengan manja, seolah tak ingin lepas dari pelukan hangat ibunya. Jackson mengulum jempol kecilnya dengan polos dan Taehyung kembali jengkel dibuatnya. Air liur bayi itu membuatnya merasa geli. Bibir kecil Taehyung sedikit mencebik tidak suka.

Jackson masih sangat kecil untuk dapat menyadari bahwa kakaknya tidak menyukainya.

Chanyeol tidak menyadari keanehan ini, oleh karena itu ia hanya diam dan menikmati sarapannya. Ia harus berangkat ke kantor setengah jam lagi.

Baekhyun hanya menghela nafas melihat putra sulungnya ini, ia mendudukkan Jackson di kursi tinggi khusus bayi dan menuju konter dapur untuk membuat susu sebagai pengganti sarapan Taehyung. Setelahnya, ia memindahkan makanan yang belum tersentuh itu di kotak bekal, jemari lentiknya menyusunnya sangat apik dan menambahkan potongan buah-buahan sebagai pencuci mulut.

Chanyeol tidak bertanya ketika melihat Baekhyun memindahkan makanan itu ke dalam kotak makan, sebab ia tahu Baekhyun lebih mengerti tentang putra kandungnya sendiri.

"Makanlah ini untuk nanti siang. Ini makanan kesukaanmu, Taehyungie." Baekhyun berkata lembut dengan senyum hangat khas seorang ibu, terselip nada memohon di kalimatnya karena tak ingin makanan itu terbuang sia-sia.

Taehyung mengangguk cuek sembari meneguk susunya. Suasana hatinya yang buruk membuat susu cokelat itu terasa hambar di lidahnya. Ia akhirnya tak menghabiskan susu itu dan Baekhyun yang menyadari itu kembali cemas memikirkannya. Putra sulungnya tak biasanya seperti ini.

Setelah sarapan dan bersiap-siap, keluarga kecil itu menuju mobil yang digunakan sehari-hari. Chanyeol akan mengantar Baekhyun dan Taehyung ke tempat yang sama, karena istrinya bekerja sebagai guru di sekolah Taehyung dan ia harus membawa Jackson kesana. Baekhyun membawa Jackson karena tidak ingin merepotkan ibunya yang sudah tua. Setelah itu, Chanyeol baru bisa bernafas lega menuju kantornya. Ia tak ingin Baekhyun dan anak-anaknya berangkat sendirian menggunakan bis.

Chanyeol biasanya akan menuntun Taehyung di kursi belakang dan memakaikan seat belt pada putranya ini. Namun Taehyung kembali bertingkah aneh, ia menolak digandeng ayahnya dan memilih menuju kursi depan dimana Baekhyun sedang duduk sambil memangku Jackson di dalam dekapannya. Hal ini menimbulkan tanda tanya dikepala Chanyeol.

"Kenapa, sayang?" Baekhyun menoleh dan mengerutkan keningnya.

"Taehyung ingin duduk bersama mama."

"Tidak bisa, sayang. Mama 'kan harus menggendong Jackson." Chanyeol yang menjawabnya. Jackson kini tengah terlelap nyaman di pelukan Baekhyun setelah menyusu beberapa menit lalu, dan Chanyeol mengerti Jackson tidak ingin lepas dari ibunya ketika bayi itu sudah merasa nyaman.

"Kalau begitu Taehyung ingin bergantian dengan adik bayi." anak kecil itu kembali memaksa dan Baekhyun menghela nafas kedua kalinya menghadapi tingkah aneh putranya.

Taehyung tidak suka duduk di kursi belakang, dimana ia hanya bisa memandangi Baekhyun dan Jackson. Adiknya terkadang menatap ke belakang dengan tatapan polos, dan Taehyung menganggapnya sebagai ejekan untuknya. Ia sangat benci melihat mata bulat Jackson.

"Baiklah, mama akan berpindah ke belakang. Bagaimana?" Baekhyun akhirnya mengalah agar tidak mengulur waktu. Ia tak mungkin membiarkan Jackson sendiri, namun tidak juga dengan membuat Taehyung kecewa.

Taehyung mengangguk ragu dan setelah itu Chanyeol dapat tersenyum lega. Pria itu membantu istrinya untuk berpindah ke kursi belakang. Beruntunglah pagi ini Jackson tidak terlalu rewel. Ia segera menyetir mobilnya dengan agak sedikit terburu-buru agar sampai ke tujuan tepat waktu.


Hari ini cuaca cukup panas meski jam telah menunjukkan angka lima sore. Matahari bahkan masih bersinar dengan terik, membuat Taehyung merasa gerah dan sesekali mengusap peluh di dahinya. Kaosnya yang bergambar superhero bahkan sudah sedikit basah karena keringat. Bocah kecil itu kembali menaruh atensinya pada buku gambar di hadapannya dengan malas. Itu adalah pekerjaan rumah yang diberikan gurunya, atau ibunya, di sekolah tadi pagi.

Baekhyun berada di dapur, sedang menyiapkan makan malam karena Chanyeol akan pulang sebentar lagi.

Jackson merengek manja di atas sofa. Hari ini bayi itu sangat aktif bergerak. Bayi montok itu berbaring tak nyaman, namun masih menoleh dengan lucu pada kakaknya yang berada di lantai sedang menggambar diatas meja lipatnya. Tangan mungilnya terangkat ingin menggapai kakaknya. Taehyung memasang gestur menutup telinganya karena tak suka dengan rengekan adiknya ini. Rengekan Jackson sangat menggangu fokusnya dan ibunya tak kunjung datang juga sekedar menenangkan adiknya yang rewel ini.

Taehyung menggerutu sebal.

"Mama, sepertinya adik bayi lapar!"

Taehyung akhirnya memanggil Baekhyun setelah beberapa menit bersabar. Tak ada jawaban darinya, lelaki manis itu sedang menghaluskan daging dengan blender hingga suara disini teredam karena suara berisik alat itu. Taehyung memandang tak suka pada sosok Jackson yang mulai bergerak-gerak diatas sofa. Taehyung memicingkan matanya tidak peduli, kemudian kembali fokus pada buku gambarnya.

Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu meraih pensil warna berwarna hijau untuk mewarnai objek pohon di bukunya. Bibir kecilnya sesekali bersenandung lagu anak-anak yang diajarkan oleh Baekhyun pada mata pelajaran kesenian. Taehyung terlalu fokus pada kegiatannya, hingga tak sadar bahwa Jackson mulai bergerak ke ujung sofa dan merangkak maju hingga terjatuh ke permukaan lantai yang dingin karena tak ada permukaan yang menyangganya.

Jackson menangis seketika dengan kencang dan Baekhyun tidaklah tuli. Lelaki kecil itu mematikan blendernya dan tergopoh-gopoh berjalan ke ruang tamu dengan wajah panik. Tangisan Jackson amat keras dan ia sempat mendengar bunyi bentuman di lantai. Ia khawatir kepala Jackson menghantam lantai, karena tempurung kepala bayi masih sangat lembut.

Setelah kedua kakinya berpijak di ruang tamu, Baekhyun mendapati Taehyung hanya berdiri melihat adiknya yang menangis di lantai, dengan wajah tanpa ekspresi. Ibu dua anak itu segera menggendong Jackson yang sedang meraung keras, ia mengusap punggung bayinya dengan penuh kasih sayang dan merapalkan kata-kata penenang untuk Jackson.

"Apa yang terjadi? Apa Taehyung tidak menjaga adik?"

Suara Baekhyun itu membuat Taehyung membeku. Anak itu menatap ibunya yang masih berusaha menenangkan adiknya, dan wajahnya sangat panik. Baekhyun hampir ingin menangis juga karena bayinya yang tak kunjung berhenti menangis. Baekhyun mendaratkan sebelah tangannya untuk mengusap tempurung kepala bayinya, berharap tidak ada benjolan disana yang menjadi sebab Jackson menangis kesakitan.

Taehyung menatapnya dengan tak enak hati. Ia mulai memikirkan satu spekulasi. "Apa mama menyalahkan Taehyung?" tanyanya.

Baekhyun mengerutkan keningnya. "Tidak, sayang. Mama hanya bertanya."

Tangisan Jackson semakin keras.

"Mama menyuruh Taehyung untuk mengerjakan tugas. Jadi Taehyung tidak bisa memperhatikan adik!" anak kecil itu menjawabnya dengan sedikit membentak, membuat Baekhyun bingung. Ia semakin tidak mengerti apa yang terjadi, ditambah tangisan Jackson ini semakin membuatnya kewalahan.

Baekhyun tidak tahu harus menjawab apa pada putra sulungnya ini. Ia terlalu panik, bingung dan takut untuk situasi sekarang.

Melihat tak ada jawaban dari ibunya, air mata mulai menyeruak keluar dari sudut mata Taehyung. Anak kecil itu menahannya agar tidak lolos. Baekhyun kembali menaruh atensinya pada Jackson yang masih belum berhenti menangis dan Taehyung sangat tidak suka melihatnya. Ibunya tidak pernah sayang lagi padanya, semua diberikan untuk adiknya. Tangan kecilnya mendorong meja lipatnya sehingga buku dan pensil warnanya berjatuhan di lantai. Suara itu membuat Jackson kaget dan Baekhyun juga tersentak kaget melihatnya.

Tanpa berkata apapun, Taehyung segera berlari ke kamarnya sambil menangis, ia membanting pintu kamarnya dengan tenaganya yang tidak seberapa, namun Baekhyun dapat mendengarnya. Taehyung kini menangis tersedu-sedu di dalam selimutnya.

Baekhyun semakin tidak mengerti, ia memandangi buku serta pensil warna milik anaknya dengan sedih dan bingung yang bercampur menjadi satu. Ia segera mengambil ponselnya dan menelpon Chanyeol.

"C-Chanyeol.. bisakah kau pulang lebih cepat?" Baekhyun sedikit terbata-bata karena terlalu panik. Tangannya bahkan bergetar kecil memegang ponselnya.

Chanyeol di seberang sana mengerutkan dahinya heran, namun ia tetap memfokuskan dirinya yang tengah menyetir.

"Aku bodoh karena membiarkan Jackson di sofa. Anak kita jatuh dan tidak berhenti menangis, d-dan.. dan... Taehyung..."

Satu isakan lolos dari bibir Baekhyun, yang membuat Chanyeol panik dan memacu mobilnya dengan lebih cepat.

"Tidak apa-apa, sayang. Aku akan sampai lima menit lagi, tunggulah. Semua akan baik-baik saja."


Setelah insiden Jackson terjatuh, Taehyung bertingkah semakin aneh. Anak kecil itu lebih sering diam, ia tidak pernah lagi tersenyum pada Baekhyun. Jam mata pelajaran yang dibimbing Baekhyun yang biasanya menjadi jam favoritnya pun bahkan tidak meluluhkannya. Tidak ada lagi Taehyung yang biasanya aktif bertanya banyak hal pada Baekhyun saat di kelas. Hal ini membuat banyak pertanyaan yang berputar di pikiran Baekhyun.

Baekhyun menghela nafas, entah apa yang salah pada anaknya. Iris matanya mengintip dibalik jendela kelas putranya. Ini adalah kegiatan rutin yang ia lakukan, yaitu mengantar bekal makan siang Taehyung ke kelasnya. Terkadang anak itu akan menghampirinya langsung ke ruang guru, merengek minta disuapkan, sementara ia cukup kewalahan karena harus menyusui Jackson yang rewel. Sekarang momen itu tidak ada lagi, dan ini cukup membuat Baekhyun gelisah memikirkannya. Taehyung bahkan tidak menghampirinya sendiri setelah lima belas menit terlambat diantarkan.

"Ada Baekhyun songsaenim!"

Baekhyun disambut suara nyaring khas anak kecil yang berhamburan menyapanya dengan semangat. Ia tersenyum lebar sambil bercanda ria dengan muridnya, dan iris matanya beralih mencari keberadaan Taehyung yang sedang duduk di bangkunya bersama Jungkook. Dua anak kecil itu sedang membaca buku bersama. Teriakan dari temannya membuat Taehyung tersadar dari kegiatannya. Ia tahu sosok orang dewasa yang kini berdiri dihadapannya dan sedikit menunduk untuk meletakkan kotak makan di meja.

Taehyung hanya menatap objek di mejanya tanpa berkomentar.

"Ini makan siangmu, sayang." ucap Baekhyun lembut, namun tak sepatah katapun ia dapatkan sebagai respon dari putranya. Wajahnya seketika berubah menjadi sendu, namun ia menampiknya karena tak pantas ditunjukkan didepan murid-muridnya.

Taehyung meraih kotak makannya, namun ia tak kunjung membukanya.

"Apakah Taehyung tidak ingin disuapkan oleh mama?" Baekhyun ingin tahu.

"Tidak, ma. Mama harus memberi susu dan meniduri adik." jawabnya. Dalam hati kecilnya berharap bahwa Baekhyun akan menggeleng.

Baekhyun memandangnya lurus, dan ia cukup sadar diri untuk tidak membuat Taehyung tidak nyaman dengan berada disini. Sepertinya Taehyung tidak menyukai keberadaannya disini, karena putranya tak ingin menatap padanya.

Jungkook mengerjapkan matanya dengan lugu melihat interaksi Taehyung dan ibunya yang di rasanya sangat berbeda untuk hari ini.

"Makanlah, dan jangan nakal pada teman-temanmu."

Baekhyun berkata pelan sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kelas berisik itu. Taehyung mengangkat kepalanya setelah siluet ibunya pergi dan ia sangat sedih karena kalimat terakhir itu terkesan dingin. Tidak ada senyuman hangat untuknya, tidak ada pelukan penuh sayang untuknya. Semua telah berbeda.


Taehyung memandangi langit-langit kamarnya dengan perasaan campur aduk. Jam sudah hampir menunjukkan angka delapan malam dan anak itu belum sama sekali berniat untuk tidur. Setelah mengerjakan tugas menghitungnya, ia hanya termenung sendiri diatas kasurnya. Malam ini, Baekhyun tidak lagi datang ke kamarnya untuk bertanya tentang kesehariannya di sekolah, atau sekedar mengucapkan selamat malam.

"Taehyung, bolehkah papa masuk?"

Chanyeol mengetuk pelan pintu kamar putranya. Taehyung tak menjawab, namun pria itu segera melenggang masuk tanpa peduli putra sulungnya ini mengizinkan atau tidak.

"Taehyung kenapa belum tidur?" tanya Chanyeol setelah mencari posisi duduk yang nyaman di kasur milik anaknya. Taehyung hanya berbaring lurus, dan pria itu tahu ada rasa gelisah yang terlukis di wajah anaknya.

Baekhyun sudah bercerita padanya tentang Taehyung. Hal ini membuat istrinya itu frustasi karena terlalu memikirkannya, lelaki mungil itu sampai tidak bernafsu makan dan tidak fokus bekerja. Jadi, malam ini Chanyeol memutuskan untuk bertanya sendiri pada anaknya.

"Taehyung belum mengantuk, pa."

Chanyeol tersenyum mendengar sebuah jawaban klise yang ia dapatkan. Ia memandang seisi kamar putranya yang cukup rapi untuk seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Baekhyun sudah berhasil mendidik anaknya.

"Ada hal yang membuat Taehyung gelisah, tidak?"

Taehyung menoleh pada ayah tirinya yang kini tersenyum hangat padanya. Sepasang mata besar, bentuk telinga khas dan fitur wajahnya sangat mirip dengan Jackson―membuatnya tidak ingin berlama-lama menatap wajah pria dewasa itu karena teringat pada adiknya. Ditambah, ayahnya bertanya tentang hal yang sebenarnya ia enggan untuk menjawabnya.

"Tidak ada." Taehyung berbohong.

Chanyeol pura-pura mempercayainya. "Kenapa ya mama akhir-akhir ini merasa sedih? Apakah Taehyung tahu kenapa?" tanyanya memancing.

Taehyung bungkam.

"Mama bilang sangat menghawatirkan Taehyung." Chanyeol mengangkat tangannya untuk mengusap puncak kepala Taehyung, suatu hal yang cukup ia jarang lakukan.

"Apakah itu benar?" tanya Taehyung berharap. Ia kini kembali menoleh pada ayahnya.

Chanyeol memandanginya sejenak, paras wajah Taehyung mengingatkannya pada Baekhyun. Pria itu kemudian tertawa pelan, yang disambut rengekan manja dari putra kecilnya.

"Ya, sayang. Jadi, bolehkah papa tahu apa yang terjadi pada mama? Papa yakin Taehyung mengetahuinya."

Taehyung menatapnya ragu. Ia tidak begitu dekat dengan sosok ayah tirinya ini. Ia bukanlah anak kandung dari Park Chanyeol. Taehyung tidak pernah tahu sosok ayah biologisnya, ia hanya tahu bahwa ayah kandungnya meninggalkannya sejak ia masih berada di kandungan.

Taehyung memilin ujung piyamanya dengan bimbang. Chanyeol tertawa melihat tingkah anak ini, pria itu berusaha membuat suasana tidak canggung karena hubungan antara ayah dan anak tiri yang tidak begitu dekat.

"Taehyung tidak suka dengan anaknya papa dan mama."

Chanyeol menautkan alisnya bingung. "Apa maksudmu, sayang? Taehyung juga anaknya papa dan mama, dan Jackson adalah adiknya Taehyung."

Taehyung kembali menggeleng.

"Taehyung tidak suka mama lebih sayang pada Jackson."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir kecil Taehyung. Senyum Chanyeol merekah, karena sudah menduga inilah jawaban yang akan dilontarkan oleh anaknya.

"Itu karena Jackson masih sangat kecil. Jackson belum bisa melakukan apapun dengan sendiri, makanya mama lebih sering bersama Jackson." Chanyeol menjelaskan dengan hati-hati agar tak salah bicara.

"Taehyung tetap tidak suka." Taehyung berkata mutlak.

Chanyeol lagi-lagi tertawa ringan, mengabaikan raut wajah tidak senang dari putranya. "Nanti ketika Jackson sudah besar, mama tak lagi sering bersamanya. Mama bilang ingin Taehyung belajar menjadi mandiri. Jackson juga akan seperti itu nanti."

Chanyeol berusaha menjelaskannya dengan kata-kata yang tidak membuat putranya salah paham. Ia dan Baekhyun memang ingin mengajarkan anak untuk mandiri sejak kecil. Taehyung bahkan sudah diberikan kamar sendiri beberapa bulan lalu, sejak ia telah menjadi seorang kakak untuk Jackson.

Namun, ekspresi wajah Taehyung yang berubah membuat Chanyeol bingung. Anak itu tak kunjung membuka mulutnya selama beberapa saat.

"Taehyung kenapa?"

"Tidak, pa. Taehyung janji akan belajar mandiri."

Chanyeol tersenyum mendengarnya.

"Kalau begitu Taehyung ingin tinggal bersama nenek saja." lanjutnya yakin. Ia yakin ini keputusan yang terbaik. Orang tuanya ingin dirinya mandiri, atau sebenarnya tidak menyayanginya lagi. Itu tidaklah berbeda.

Senyum Chanyeol luntur seketika dan ada tanda tanya besar di kepalanya. Ia tak sempat bertanya apapun karena Taehyung mulai menangis terisak. Pria itu segera memeluk putranya. Taehyung kembali merengek berteriak ingin bersama neneknya dan anak kecil itu cukup brutal dengan melemparkan bantal dan gulingnya pada sosok ayahnya yang menatapnya tidak mengerti.

"Aku benci mama!" Taehyung berteriak nyaring sambil meraung keras yang membuat Chanyeol semakin kalang kabut.

Chanyeol tidak punya pilihan lain, ia mendadak menyesali tindakannya ini. Ia bahkan tak ingin bertanya pada Baekhyun tentang ini, karena takut membuat istrinya semakin sedih. Chanyeol segera mengemasi barang milik putranya yang dirasanya penting untuk dibawa, terutama seragam dan buku-buku sekolahnya. Ia tahu Taehyung tidak bisa dibantah ketika menginginkan sesuatu, sama seperti ibunya.

"Apa Taehyung sudah yakin... ingin meninggalkan mama?" Chanyeol menatap putranya ini dengan gundah.

Taehyung mengangguk, ia masih sesegukan dan tak ingin menatap ayahnya.

"Baiklah, ayo ke kamar. Beri salam untuk mama dan adik."

Chanyeol menuntun tubuh kecil Taehyung menuju kamar satu lagi yang lebih luas dan anak itu tidak menolak. Pria itu mendorong pintu dengan pelan dan mendapati Baekhyun sedang tertidur membelakanginya, sedangkan Jackson berada di dekapannya. Baekhyun ketiduran setelah menyusui Jackson. Tangannya bahkan masih mendekap bayinya dengan erat. Nafasnya naik turun dengan teratur, pertanda tidurnya amat pulas. Chanyeol tak mau membangunkannya karena tak tega.

Chanyeol melihat punggung kecil itu dengan getir. Sosok orang dewasa yang tertidur itu adalah orang yang sudah berjuang keras sepanjang hidupnya, bahkan jauh sebelum mereka menikah. Baekhyun tak pernah kenal lelah atau mengeluh dengan kesibukannya di rumah dan sekolah. Jam tidurnya terlewat akhir-akhir ini, karena lembur untuk menyelesaikan rapor murid-muridnya. Chanyeol tahu Baekhyun pasti sangat lelah. Wajahnya yang biasanya terlihat ceria dan berseri-seri itu bahkan kini terlihat sangat kosong.

Taehyung dan Jackson sangat beruntung memiliki Baekhyun sebagai ibu mereka. Chanyeol pun tak pernah bosan mengucapkan terima kasih pada sosok lelaki mungil yang sedang tertidur itu.

"Mama sedang tidur." Chanyeol berbisik agar tak menimbulkan suara keras.

Taehyung hanya mengangguk kecil, ia memang tak ingin bertemu Baekhyun atau Jackson untuk salam berpisah. Tidak sama sekali terpikirkan.

Chanyeol menjadi sangat bimbang sekarang. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan hal ini pada Baekhyun besok pagi, tanpa membuat istrinya menangis.

"Ayo, pa. Taehyung sudah tidak sabar bertemu nenek." Taehyung kembali merengek.

Chanyeol memijat pelipisnya dengan wajah suram, sementara itu suara rengekan Taehyung membuyarkan pikirannya yang melayang jauh. Ia segera membawa Taehyung keluar kamar agar tak membangunkan Baekhyun.

"Taehyung, papa akan mengantarkanmu ke rumah nenek besok pagi. Kita tak boleh pergi tanpa memberitahu mama." Chanyeol bernegosiasi.

Taehyung merengut tidak suka.

Chanyeol berjongkok untuk mengusap pipi tembam putranya yang basah karena air mata. Pria itu mengusap hidung bangir putranya yang sembab dengan sapu tangan, mengecup penuh sayang keningnya, dan menatapnya lurus untuk meminta jawaban dari pertanyaan tadi.

Taehyung tidak pernah bisa membantah tatapan dari ayah tirinya ini.

Taehyung memilin ujung piyamanya, yang membuat Chanyeol tersadar sesuatu. "Bahkan anak papa yang satu ini juga belum mengganti baju. Apakah tidak malu dengan nenek?" timpalnya kemudian.

Chanyeol mengulum sebuah senyuman yang merekah menjadi tawaan ringan. Taehyung yang mendengarnya ikut menyunggingkan senyum kecilnya tanpa sadar. Kepala kecilnya mengangguk perlahan sebagai jawaban.

..