Disclaimer:

Karakter yang dipakai dalam cerita ini diambil dari Naruto karya Masashi Kishimoto.

Cerita ini banyak dipengaruhi alur cerita di Detektif Conan & sedikit aroma romansa dari The Girl Who Sees Scents.

Bukan cerita bergenre thriller.


ForgetMeNot09

dengan

.

.

.

Blondie Case

.

.

.

BAGIAN 1

...

Huftt ….

Aku mendesah. Sungguh tumpukan kertas di hadapanku ini tidak memberikan ide sama sekali. Rasanya ingin menangis. Hari ini sudah separuh dari waktu tenggat yang diberikan kapten.

Perlahan kupijit kening yang terasa berat, entah karena memikirkan kasus ini atau karena masuk angin. Ya, belakangan penyakit satu itu gemar menghampiri. Namun tentu saja itu tak menjadi masalah besar, cukup minum jamu penolak angin, kerokan, lalu ditinggal tidur, dijamin esok hari angin minggat whes ewes ewes.

"Memikirkan sesuatu, Tuan Muda?"

Suara itu membuyarkan pikiranku. Tanpa menoleh, aku sudah tahu siapa itu.

"Berhenti memanggilku Tuan Muda!" kujawab dengan sedikit dengusan.

Kursi di kubikel sebelah berputar menghadapku, dengan muka malas kusambut si pelaku.

"Enggak ada kerjaan kah?" semburku.

Yang ditanya malah tertawa.

"Daripada cemberut begitu mendingan temani aku!"

"Nampang?"

"Bukan, berkelana di jalan pencarian sosok pendamping hidup," balasnya berpuisi.

Perlahan dan tanpa basa basi aku berdiri dan meliriknya, "Di mana posmu?"

Dia melompat sambil tertawa. Shit! bahkan dengan tingkah konyolnya, ia masih terlihat tampan. Tentu saja, didukung wajah bayi dan seragam yang dia pakai.


Blondie Case


Siapa sangka, ajakan Sasori ternyata tidak buruk. Ya, bagiku tidak buruk, entah bagaimana dengan Sasori. Laki-laki yang menjadi temanku sejak masuk akademi polisi itu kini sedang tersenyum manis pada dua gadis muda yang menjadi "mangsa"nya.

"Kami tidak tahu kalau ada tanda larangan di situ. Lihat saja letaknya yang tersembunyi. Jangan-jangan polisi sengaja ya, untuk memancing korban seperti kami?"

Aku tertawa tertahan mendengar omelan si gadis muda. Mataku juga tidak luput memperhatikan tingkah sok gagah polisi berambut merah itu.

"Kamu ini, sudah salah masih berkilah. Mana surat izin mengemudinya?"

"Ketinggalan, Pak."

Sasori memijit pelipisnya, "Ya sudah, mana identitas kalian, apa pun yang kalian bawa!"

Lambat-lambat si gadis muda menyerahkan kartu ke tangan Sasori. Lepas mengamati kartu itu, ia langsung tersenyum sinis.

"Pasal berlapis ya, sudahlah melanggar rambu lalu lintas, ternyata kalian juga belum cukup umur untuk mengendarai sepeda motor."

Aku mendengus, kupikir Sasori akan mengeluarkan jurus buaya darat. Kan lumayan, tontonan gratis.

Kualihkan pandangan pada jalan raya yang tidak terlalu besar. Meski tidak terlalu besar, jalan ini cukup ramai dilewati kendaraan. Aku tersenyum, mengembara dalam keriuhan lalu lintas. Sejenak kukeluarkan sebatang rokok dan korek dari saku jaket, kunyalakan lantas kuisap dengan penuh penghayatan. Kadang, dalam hal sepele begini, inspirasi datang tanpa diundang. Ya, siapa tahu beberapa keganjilan dari kasus yang sedang kutangani bisa terpecahkan di sini.

Alih-alih, aku melihat keganjilan itu sendiri. Bukan murni keganjilan, melainkan pemandangan yang sedikit mengganggu konsentrasiku berpikir. Jauh di seberang sana, ada rombongan mini yang berdiri di tepi jalan. Manusia-manusia kecil memakai seragam sekolah bertuliskan "Nintama Kindergarten". Tak jauh dari mereka, seorang wanita terlihat sedang bercengkerama, bercanda dan tertawa bersama mereka. Sesekali wanita itu tampak menoleh kiri dan kanan.

"Mau apa mereka?" gumamku.

Agak bodoh untuk ukuran lulusan akademi polisi, mengingat mereka berdiri tepat di jalur yang biasa disebut zebra crossing. Selekas sadar, aku menoleh ke arah Sasori. Rupanya polisi lalu lintas itu sedang sibuk melayani para pelanggar aturan lalu lintas.

Aku mendesah dan mengusap wajah kasar. Cepat kulangkahkan kaki sedikit berlari, menyeberang tak hati-hati, dan mendekati para manusia mini. Nyaris saja terserempet taksi.

"Selamat siang," sapaku.

Yang disapa mendadak berhenti dari kegiatan mereka.

"Ah selamat siang Pak," jawab sang wanita menatapku bingung.

Asli, baru kali ini terjadi padaku. Kebingungan wanita itu membuat bola matanya melebar, bola mata itu berwarna biru khas, seperti air kolam renang di rumah ayah. Rasanya ingin aku menceburkan diri ke dalamnya.

"A … ah, iya. Apakah Anda dan anak-anak ini mau menyeberang?" tanyaku gagap.

"Betul Pak, tapi jalannya ramai sekali."

Aku mengangguk, "Mari saya bantu."

"Anu Pak, mohon maaf sebelumnya, tapi apa boleh rokok itu dimatikan dulu?"

Gelagapan aku menyingkir dari mereka, mencabut rokokku dan menginjaknya, semoga anak-anak itu tidak melihat.

"Bapak siapa?" tiba-tiba seorang anak bersuara polos, menatapku dengan pandangan penasaran setelah aku kembali.

"Ah bapak ini polisi," jawabku sembari menggaruk leher.

"Bohong! Bu Guru, bapak ini bohong. Katanya polisi, padahal tidak pakai baju polisi. Itu yang bapak polisi!" teriaknya sambil menunjuk Sasori.

Duh, rasanya ingin kugendong manusia mini ini dan melemparkannya ke jalanan. Kenapa aku jadi seperti psikopat?

"Moegi, tidak semua polisi memakai baju polisi," jelas gurunya sebelum aku sempat membuka mulut.

Bocah itu menatap curiga, tapi aku mengabaikan dan mulai berkonsentrasi menghadap jalan.

Ya Tuhan, apa biasanya jalanan seramai ini? Aku berharap sepi jadi akting sok jagoanku tidak gagal dan semakin menimbulkan ketidakpercayaan pada bocah bernama Moegi itu.

Aku mengangkat tangan, meminta para pengendara untuk berhenti sejenak demi memberikan kesempatan anak-anak ini – dan gurunya – menyeberang. Yang benar saja, sejak tadi tidak ada yang memberikan kesempatan kepada kami menyeberang. Apa mereka mendapatkan SIM dengan cara menembak sehingga tidak tahu bahwa setiap ada orang yang hendak menyeberang di jalur yang legal, para pengendara motor harus memberikan kesempatan!

"Terima kasih banyak, Pak," ucap sang guru kepadaku saat sampai di seberang.

"Sama-sama," jawabku kaku.

Terasa ada yang hilang saat aku menatap kepergian rombongan itu.

Apa ya?

"Hei!"

"Sialan Sasori! Tidak bisakah menepukku pelan-pelan?"

Polisi itu tertawa, "Hari ini kau jadi pahlawan anak-anak TK?"

"Hmm …."

"Lalu kenapa menatap seperti itu? Kau ingin punya anak?"

Aku mendengus, lalu berjalan mengekori langkah pria itu.

"Aku bahkan berpikiran melempar salah satu manusia mini itu ke jalanan."

Sasori tak bersuara, tapi aku bisa merasakan sebelah alisnya naik.

"Kenapa?"

"Dia tak percaya kalau aku polisi."

Seketika ia tertawa terbahak-bahak sambil memegang perut.

"Ampun Kiba! Kau kesal dengan anak TK hanya karena hal itu?"

Kujawab dengan dengusan … dan suara tak terduga yang datangnya dari perut. Wajahku sontak memerah malu.

"Lapar? ayo kutraktir makan!"

"Kau ulang tahun?" tanyaku penasaran.

"Anggap saja begitu."


Blondie Case


"Aku pulang!"

Setelah meneriakkan kata-kata itu aku tertegun, menatap ruangan gelap di depan bagai menatap masa lalu yang kelam. Aku mendesah kasar, berjalan masuk lalu menutup pintu.

Kebiasaan itu tak pernah aku hilangkan agar tak merasa sendirian. Bagaimana pun, aku selalu rindu kehangatan keluarga seperti yang dahulu aku rasakan. Apa daya semuanya kini telah sirna, sejak bisnis ayah membentang bagai sayap elang.

Ah, membahas masa lalu tak akan ada habisnya. Lebih baik aku segera mandi, melepaskan penat setelah bekerja sehari ini.

Benar saja, otot-ototku terasa habis dipijit saat aku keluar kamar mandi. Mandi air hangat memang hal yang selalu aku idamkan lepas kerja.

Aku berjalan ke dapur, mengambil panci, berniat memasak mi instan. Namun gurat kekecewaan segera tampak di wajahku, ketika membuka lemari dan menyadari stok mi instanku habis.

"Ya Tuhan!" gerutuku.

Sedikit kubanting pintu lemari hingga menutup.

Mau tidak mau harus mencari makan ke luar. Setengah malas aku mengeringkan rambut dengan handuk, lalu memakai celana jin hitam yang sudah pudar, hadiah ulang tahun dari Sasori lima tahun lalu, kaus putih tipis, hoodie hitam dan … perfek.

Duh sejak kapan aku peduli soal penampilan?

Tak lama motorku melaju. Sepanjang jalan aku menimbang-nimbang mau makan apa? Malam ini cuaca mendung syahdu, mungkin mi dengan kuah panas pilihan tepat, seperti niatku di awal tadi. Dengan senyum lebar aku membawa motorku menuju kedai ramen favorit yang menjadi langganan.

"Hai Kiba, apa kabar?"

Aku tersenyum kecil pada sosok yang sedang menyajikan semangkuk mi di meja pelanggan.

"Baik Shion, kau sendiri?"

"Super! lama sekali kau enggak mampir ke sini, kukira sudah lupa dengan kedai kecil kami."

"Mana mungkin lupa, aku hanya sedang sibuk."

"Kasus?"

Aku mengangguk. Gadis dengan rambut pirang itu pun ikut mengangguk.

"Duduklah, aku akan membuatkan kesukaanmu, semoga saja enggak berubah," ujarnya sembari mengedipkan sebelah mata.

Pandanganku mulai berkelana. Tempat ini adalah tempat favorit sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Saat itu, penghasilanku belum seberapa karena masih menjadi polisi junior. Harga murah, porsi berlimpah menjadi pilihan utama tentu saja. Namun ternyata, rasa yang disajikan Shion dan orang tuanya juga tidak sembarangan.

"Ramen pedas dengan daging berlimpah untuk Letnan Kiba," teriak Shion girang saat menyajikan mi untukku.

Mataku sontak berbinar, "Wah … terima kasih Shion, tapi berhenti memanggilku seperti itu," dengusku.

Shion tertawa, "Kan memang nyatanya kau ini letnan," sembari berjalan meninggalkanku.

Tanpa membuang waktu, aku menyeruput kuah mi. Duh rasanya selalu saja membuat hatiku menghangat, seperti … ramen buatan ibu.

Menolak mengingat ibu, aku menghabiskan ramen dengan cepat. Beruntung tidak sampai tersedak kuah panas dan pedas.

"Shion, terima kasih," teriakku sembari meletakkan uang di bawah mangkuk, dan keluar.

Dari kejauhan aku bisa merasa Shion memanggilku, "Kiba, ini terlalu banyak."

Aku tersenyum, tidak sebanyak kehangatan yang dia dan ayahnya berikan kepadaku saat aku masih pendatang dahulu.

Sampai di luar kedai, aku kaget, ternyata hujan. Kepalaku menengadah – dengan bodohnya – memastikan bahwa benar hujan. Ya, memang hujan. Tidak terdengar dari dalam karena kedai Shion menggunakan lapisan kedap suara dengan tujuan kenikmatan pelanggan saat makan.

Tidak berniat lama-lama di sini, aku memakai tudung kepala, memasukkan tangan ke saku hoodie, dan hendak berlari. Tepat saat mataku menangkap sosok yang tidak asing.

Aku ternganga, seorang wanita dengan rambut pirang panjang, terurai begitu saja, sedikit berkilau memantulkan cahaya lampu jalanan. Ia memakai gaun biru tanpa lengan, bagian bawah sepanjang lutut, dan sandal tipis.

"Bodoh, pasti dia kedinginan," gumamku.

Wanita itu sepertinya gelisah, mungkin dia buru-buru karena beberapa kali melihat jam tangannya. Entah setan apa yang merasuki, aku yang biasanya tidak peduli, mendadak berjalan menghampiri.

"Halo," sapaku.

Ia menoleh dan terkejut, tampak berpikir sesaat.

"Ah Pak Polisi!"

Aku mengangguk, "Hujannya cukup deras."

"Iya, padahal aku sedang ditunggu kakakku," erangnya putus asa.

Aku melirik bungkusan yang dia bawa, sepertinya berisi makanan, "Dia … kelaparan?"

Kulihat ia menoleh dan menatapku dengan sedikit kesal, "Dia sedang sakit dan belum makan."

Aku menggangguk, "Kau tidak bawa payung?" dia menggeleng.

"Naik taksi?"

Dijawab dengan gelengan lagi, "Aku tidak punya uang sebanyak itu."

Suaranya terdengar sinis. Mungkin ia tipe wanita dengan gengsi tinggi. Kalau saja tidak, sudah kupesankan taksi.

Lalu hening cukup lama, hanya terdengar deras air hujan.

"Sepertinya aku terjang saja," gumamnya.

Mendadak ide konyol melintas di pikiranku.

"Mau kuantar? Kebetulan aku bawa motor."

Otakku bahkan tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut ini.

Wanita itu menatapku menyelidik, memastikan apakah aku serius atau bermain-main.

"Kalau kau mau," ujarku lirih.

"Aku mau, terima kasih."

Hal yang tak terduga, ia mengucapkan itu dengan senyuman manis yang membuat matanya menyipit. Tiba-tiba ada yang berdetak kencang di dalam. Oh jantungku, apa kau baik-baik saja?

Senyumannya tak bertahan lama, matanya membelalak tak percaya saat melihat motorku.

"Kau yakin?" tanyanya sembari menggigit bibir.

Aku juga heran, bisa-bisanya menawarkan untuk membonceng, padahal tahu motorku seperti ini. Ducati Diavel 1260, tahu kan? Yang boncengannya lebih tinggi dan sempit dari tempat pengemudi. Hampir semua tipe Ducati seperti ini sih.

"Maaf, aku lupa kalau motorku begini. Kalau kau tidak mau, aku bisa …."

"Ehm, jujur aku ragu, tapi bayangan wajah kakakku yang kesakitan menghantuiku."

Aku menahan tawa, tapi gagal. Malah jadi menyemburkan liur, untung tidak ke arah wanita itu.

Kulihat hujan masih bersikeras tidak mau mereda. Lalu dengan mendecak kesal, sedikit mengumpat dalam hati, aku melepas hoodie yang kupakai dan menyodorkan kepada wanita itu.

"Pakai!" perintahku singkat.

Dia menggeleng, "Tidak, tidak perlu, aku sudah biasa hujan-hujanan."

Aku yang notabene tidak sabaran, langsung mengambil bungkusan plastik yang dia bawa dan menggantungnya di setang. Lantas memakaikan hoodieku pada wanita itu.

Aku tidak sengaja melihat, pipi wanita itu memerah. Apa dia sudah mulai demam?

Karena panik, aku cepat-cepat mengambil helm dan memakaikan padanya.

"Kau polisi tapi tidak memakai helm saat berkendara?" teriaknya berusaha mengalahkan suara hujan, dari belakang saat kami sudah mulai melaju.

"Hanya kali ini," gumamku.

"Apa?"

Aku mendecih.

Jujur saja, pertama kali aku berada dalam posisi seperti ini. Tidak pernah sebelumnya aku membonceng wanita, ya karena sadar tipe motorku yang bisa membuat suasana menjadi canggung. Saat ini saja, terkadang tubuh wanita di belakang ini membentur punggungku. Bukan sengaja, aku tahu itu, dia mati-matian memegang ekor motor demi tidak bersinggungan denganku.

"Pegangan aku saja!" teriakku melewati bahu.

"Apa?"

budek!

Aku menarik tangan kirinya dan meletakkan di pinggangku, lalu tangan kanannya.

Aku tidak peduli apa yang dia rasakan, mungkin dia menggerutu, mengumpatku di dalam hati. Aku juga tidak peduli dengan degup gempita yang mirip gempa di dalam dada. Saat ini yang utama adalah keselamatan kami berdua …

… dan makanan ini.


Blondie Case


"Jaketmu basah," ujarnya sembari menyerahkan helm.

"Tidak apa-apa, aku bisa mencucinya nanti."

"Jangan! aku jadi tidak enak. Duduklah dulu, aku buatkan teh hangat."

"Tidak perlu, aku langsung pulang saja."

"Kau ini benar-benar tidak sopan! Seharusnya kalau tuan rumah mempersilakan singgah, kau mau!"

Aku terlonjak kaget, tidak menyangka dia akan marah-marah seperti ini.

"Kau tidak basa-basi?" gumamku bodoh.

Benar saja, wanita di depanku sudah seperti setan yang mulai mengeluarkan tanduknya.

"Ah baiklah, aku mampir dulu," kataku menyerah.

Dia tersenyum. Aku bergidik ngeri, wanita ini bisa berubah suasana hati dengan cepatnya.

Aku menurut, duduk di teras rumahnya, sementara dia masuk. Dari pengamatan sekilas saja aku tahu, penghuni rumah ini orang yang rapi. Meskipun kecil, rumah ini bersih dan tersusun dengan baik, nyaris tak ada cela. Halaman yang sempit dipenuhi tanaman yang tertata atau bergantung menghias.

"Ini tehnya."

Aku menoleh, wanita itu sudah berganti pakaian kering.

"Bagaimana keadaan kakakmu?"

"Sudah lebih baik, dia makan dengan lahap," jawabnya ceria.

"Sudah lama dia sakit?"

Kulihat dia menggeleng, "Baru tadi siang."

"Tidak dibawa ke dokter?"

"Tidak perlu, masuk angin saja!"

Hah? Kok rasanya gemas dan ingin menelan mentah-mentah wanita ini ya.

"Apa?" sepertinya dia menyadari kekesalanku, "masuk angin juga bisa jadi berbahaya lho," lanjutnya.

"Hmmm …."

Aku menyeruput teh perlahan. Panasnya benar-benar nyes, membuat perutku yang kedinginan menjadi hangat.

"Kau benar-benar polisi?"

Tiba-tiba pertanyaan itu dia lontarkan bagai palu gada yang menghantam kepala.

"Kenapa? kau tidak percaya, sama seperti manusia mini itu?"

Dia mengernyitkan dahi, "Manusia mini?" lalu tertawa, "jahat sekali kau bilang manusia mini. Kau juga pernah kecil seperti dia kan?"

Aku mendengus, lalu menyeruput teh lagi.

"Aku tidak percaya, ada polisi naik motor tanpa memakai helm."

"Sudah kubilang tadi, baru kali ini, itu pun keadaan darurat kan? Kau bilang kakakmu kesakitan, dan ekspresimu seolah kakakmu memang sudah sekar … sakit parah, maksudku."

Matanya mendelik.

"Ada lagi, memang gaji polisi besar ya, sampai mampu membeli motor itu," ia menunjuk motor kesayanganku, "itu motor mahal kan?"

Aku mengangguk, "Itu hadiah … dari ayahku," jawabku lirih.

"Ayahmu orang kaya?"

Aku menoleh padanya, menatap matanya yang berkilat.

"Apa kau suka mengulik kehidupan orang lain?" sinisku.

"Tidak, hanya untuk memastikan bahwa kau polisi."

"Kau sendiri? Benar guru TK? Apa cuma magang?" balasku.

"Maksudmu?"

"Ya, sifatmu malam ini benar-benar berbeda dengan hari itu. Kalau hari itu saja aku percaya kamu guru TK, malam ini tidak."

Di luar dugaan dia malah tertawa, "Terserah kau saja, aku tidak perlu membuktikan apa pun padamu. Namun, satu hal yang perlu kau tahu, seorang guru harus bisa menjaga sikapnya di depan murid. Di luar, bisa jadi dia hanya melepaskan diri dari hal-hal yang mengikatnya."

"Dengan kata lain, sebenarnya kau tidak menikmati peranmu sebagai guru?" serangku.

"Tidak juga," ia menjawab dengan senyuman mengejek.

Berdua dengan wanita ini sungguh membuat emosiku jumpalitan. Dia tidak bisa ditebak.

"Terima kasih tehnya, aku pamit pulang ya," ucapku.

Dia mengangguk, lalu menyerahkan sebuah jaket yang bukan punyaku. Aku mengernyitkan dahi.

"Jaketmu masih basah, biar kukeringkan, nanti kukembalikan. Ini pakai saja dulu punya kakakku, bersih kok."

Enggan beradu argumen dengannya, aku menerima jaket itu dan memakainya.

"Terima kasih, nanti kukembalikan," ucapku dan aku berjalan pergi.

"Terima kasih Pak Polisi."

Diam-diam aku tersenyum, senang rasanya dia percaya profesiku. Bagaimana pun, itu profesi yang membanggakan.


Blondie Case


"Tuan Muda!"

Aku mengabaikan panggilan itu.

"Baiklah, Kiba!"

"Apa?"

Aku menoleh malas pada temanku satu tim ini.

"Berkas baru," ujarnya saat melempar setumpuk tipis dokumen berbungkus map.

"Apa ini?"

Aku membuka dokumen itu dan mulai membacanya.

"Berkas ketiga bulan ini," ujarku mengerutkan dahi.

Naruto mengangguk, ia menggeser kursinya mendekat.

"Kapten Ibiki tidak mengatakan apa pun?"

Naruto menggeleng, "Mungkin siang ini baru akan rapat. Kudengar dia baru saja pulang dari markas besar."

Suara pria ini terdengar pecah, aku yang bingung, menoleh menatapnya.

"Korban memiliki ciri yang sama, Kiba, rambut pirang."

"Ya."

"Aku takut, jangan-jangan target berikutnya …,"

mendengar suara lirih Naruto, aku menelan ludah kasar dan menatapnya,

"… aku."

Pret! kupukul keras kepala detektif narsis itu dengan map.

"Gila!"

Dia malah meringis, "Rambutku pirang, Tuan Muda."

"Korban berambut pirang panjang, kau cepak, Bodoh! Dan yang paling penting, kau laki-laki! Dua korban – tiga – semuanya wanita."

Naruto mengendikkan bahu, menyalakan komputer dan membaca berkas-berkas kasus sebelumnya.

Mata slitku ikut menatap komputer jelek itu dengan saksama. Berusaha menemukan rantai penghubung dari semua kasus yang terjadi, "kasus pembunuhan wanita berambut pirang panjang."

"Ehm …."

Aku tersentak mundur, rupanya saking saksama, aku terlalu menunduk hingga kepalaku nyaris terantuk kepala Naruto.

"Daripada itu, lebih baik kau scan saja dulu dokumen-dokumen itu," perintahnya halus.

Aku mendengus tapi menurut.

"Omong-omong, jaketmu baru?"

Aku menggeleng, "Pinjaman."

"Tuan Muda pinjam jaket kepada orang lain?" ledek Naruto sambil tertawa.

"Jaket kesayanganku basah kehujanan saat dia pakai, jadi dia pinjamkan jaket ini sebagai ganti."

"Pacarmu?"

Aku tersedak ludah sendiri, "Ngaco!"

Dia mengamatiku sejenak, lalu berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat.

"Kau punya kelainan?" bisiknya.

"Maksudmu?"

"Ini jaket laki-laki," lanjutnya dengan mimik serius.

"Lalu?"

Tanpa menjawab, dia berlalu pergi. Tidak luput dari pandanganku, laki-laki itu sempat bergidik. Tiba-tiba sekelebat ide tentang apa yang ada di pikiran Naruto memasuki otakku.

"Sialan kau Naruto! Aku masih normal!"

Sebatang spidol melayang tepat mengenai kepalanya.

Aku memasukkan berkas ke dalam feeder mesin scan. Lumayan, tidak perlu dijaga dia akan bekerja sendiri. Sambil menunggu, aku berjalan ke arah jendela. Mengamati kota di luar sana.

Pemandangan yang kulihat, anak-anak kecil yang berlarian, diikuti orang tua mereka. Mendadak aku teringat si manusia mini, kawan-kawannya, dan gurunya tentu saja.

Aku tersenyum tipis, aku harus mengembalikan jaket ini.

Kapan ya? dan ke mana?

Aku merogoh saku dan mengambil ponsel, gerakanku yang cepat terhenti oleh sebuah kesadaran.

"Hah? berapa nomor ponselnya?" tanyaku bodoh.

Kugigit bibir tanpa sadar, berpikir dan menepuk dahiku sendiri.

"Aku bahkan tidak tahu siapa namanya!" teriakku putus asa.

Suara mesin scanner mengejutkanku, lantas dengan menggerutu aku membereskan pekerjaan, memindahkan berkas tersebut ke komputer di meja Naruto.

"Terpaksa ke rumahnya lagi."


Blondie Case


"Pak Polisi?"

"Hai, kau mau pergi?"

Aku bertanya seperti itu karena pintu rumahnya terbuka sebelum aku sempat mengetuk. Dia terlihat akan pergi.

"Baru saja sampai rumah, ini mau ke minimarket, ayo duduk!" pintanya.

"Tidak perlu, aku cuma mau mengembalikan ini," ucapku menyodorkan bungkusan tas kecil.

"Wah terima kasih, kalau begitu kuambilkan jaketmu."

Dia berlari masuk ke dalam, tidak lama, keluar lagi dan jaket kesayanganku sudah ada di tangan. Ada bau aneh yang menusuk hidungku.

"Mawar …."

Wanita itu menoleh, "Ah iya, aku cuma punya sabun cuci aroma mawar, err apa kau keberatan?"

Kujawab dengan gelengan, lalu kupakai jaketku dengan cepat.

"Kau bilang mau ke minimarket?" ia mengangguk, "Ayo kuantar," lanjutku.

Dia tampak berpikir sejenak.

"Tidak usah," jawabnya.

"Aku memaksa! Ambil helmmu cepat!" geramku.

Dia berlari masuk rumah lagi untuk mengambil helm.

"Kenapa kau kunci?" tanyaku saat dia menyusul keluar pagar.

"Tidak ada orang di rumah, kau berharap aku membuka pintu rumah lebar-lebar?" sahutnya sarkas.

Aku menggeleng, "Kakakmu tidak ada?"

"Tidak," ia menaiki motorku perlahan, mungkin ragu, "dia sudah pulang."

"Pulang? ke mana?"

"Ke rumahnya, dia kemari hanya mengunjungiku dan memastikan semua baik-baik saja."

Hening sejenak, mataku menyapa jalanan yang diterangi cerah matahari.

"Kau tinggal sendiri?" tanyaku berusaha meredam rasa penasaran yang menyeruak.

"Hmmm …."

"Kenapa? orang tuamu?"

"Apa kau suka mengulik kehidupan orang lain?" balasnya sinis yang membuatku terdiam malu sebab teringat kata-kata itu adalah bumerang yang kembali kepadaku.

Cukup lima menit untuk kami sampai ke tempat yang dituju. Dia turun dari motor dan mengucapkan terima kasih. Aku mengangguk lalu hanya diam di tempat.

Merasa tak luput dari pandangan setiap orang yang lewat, aku tahu, bukan wajahku yang menjadi perhatian sebab aku tengah memakai helm, melainkan motorku. Saat pertama kali menerima motor ini, aku merasa risih dan tidak mau memakainya. Tentu saja, ini hadiah dari orang yang aku benci, lagi pula aku tidak mau menjadi pusat perhatian seperti saat ini. Namun, perkataan Sasori kala itu membuatku merenung.

"Ayahmu mengantar sendiri motor ini kepadamu adalah bukti sebuah penghargaan. Dia mungkin terlihat jahat dan tidak peduli, tapi sejatinya dia pasti menyayangimu, hanya dia tidak mampu mengungkapkan seperti sosok ayah yang lain."

Yang membuatku merenung bukan makna kata-kata itu sendiri, melainkan fakta bahwa kata-kata itu keluar dari mulut seorang Sasori.

"Kau masih di sini?"

Aku tersentak dari lamunan, menoleh ke arah pemilik suara.

"Kuantar pulang," ujarku.

"Tidak usah Pak Polisi, aku malah merepotkanmu. Aku biasa bolak-balik mini market ini kok."

Kutatap dirinya yang terlihat kesulitan membawa barang belanja. Dua kantong belanja berukuran besar dan terlihat berat, di kedua tangannya. Ditambah helm yang ternyata masih ia pakai. Kutepuk dahiku pelan.

Turun dari motor, aku langsung merebut kantong belanjanya, dan menepuk jok belakang.

"Kau suka sekali memaksa," desahnya saat sudah berada di atas motor. Aku mendengar nada kesal di sana, tapi kuabaikan.

Saat hendak menjalankan motor, ponselku bergetar. Dengan cepat kuambil ponsel itu.

"Kapten?"

Aku menekan panel "terima".

"Selamat siang Kapten!" sapaku sembari menegakkan posisi tubuh.

"Posisi?"

"Siap, distrik 5, Kapten."

"Ada laporan dari warga di batas timur, tepat di bawah jembatan tol menuju distrik 3."

"Siap Kapten, saya segera meluncur."

"Tidak, karena kebetulan kau berada di sana, aku ingin kau ke simpang lima pusat kota. Salah seorang warga mengaku melihat orang mencurigakan dan dia mengikutinya setelah menelepon polisi. Namun dia kehilangan jejak di simpang lima. Aku akan kirimkan fotonya setelah ini. Usahakan kau dapat petunjuk, Kiba."

"Siap."

"Setalah itu baru kau susul Uzumaki ke TKP."

"Siap, Kapten."

Badanku rasa terbakar dengan api amarah setiap mendengar ada korban lagi dari kasus yang sedang kami tangani. Aku menghela napas, berusaha untuk tenang. Tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang.

"Pergilah, aku bisa jalan kaki."

Ternyata wanita itu sudah turun dari motor, kapan turunnya? Aku sama sekali tidak merasa.

Aku menatapnya … menatap mata birunya yang itu balas menatapku. Ada binar kekhawatiran di sana. Untuk apa?

Entah bagaimana tatapan itu seolah air, yang mampu memadamkan gejolak api di dalam diriku. Aku kembali tenang.

"Siapa namamu?" tiba-tiba pertanyaan konyol itu keluar dari mulutku.

"Hah?"

"Ah anu, aku tidak tahu mau memanggilmu dengan apa," ujarku menggaruk leher belakang, salah tingkah.

Kulihat dia tersenyum, manis … membuatku menelan ludah gugup.

"Yamanaka Ino," jawabnya.

Yamanaka?

Saat dia menyebutkan namanya, angin berembus meniup pelan rambut pirangnya yang panjang dan indah.

"Rambut … pirang?" aku bergumam.

Sesaat kemudian, aku tersentak. Jantungku berdetak kencang menyadari warna rambut wanita ini. Aku menarik tangannya cepat dan memaksa naik ke motor.

"Ada apa?"

"Naik!"

Aku bahkan tidak mengenali suaraku sendiri, mungkin sebab itu pula dia – Yamanaka – merasa ketakutan.

Begitu dia sudah berada di motor sepenuhnya, aku melaju dengan kecepatan di atas yang seharusnya, memaksa Yamanaka memelukku erat.

Yamanaka?

Pikiranku bekerja keras mengingat-ingat namanya yang tak asing.

.

.

.

Bersambung