Kanojo to Saisho no Tomodachi
(Si Gadis dan Teman Pertamanya)
Naruto by Masashi Kishimoto
Fiction by Izumi Azues
Chapter 1
Embun pagi berkilau tak kala matahari terbit dari arah timur, hembusan angin yang tak lagi sedingin musim dingin membelai dedaunan yang bersemi indah, menandakan musim telah berlalu. Disebuah rumah yang tampak minimalis dengan gaya modern tingkat dua, seorang pemuda berada di dapur dengan sigap membolak-balik Karaage yang sedang digorengnya.
Pemuda tersebut berambut pirang dengan gaya spike, berperawakan tinggi berkulit tan dengan tanda lahir mencolok berupa 3 guratan di kedua pipinya. Ia masih asik membolak-balik masakannya sebelum ia angkat dan tiriskan Kaarage yang ia masak. Kemudian dengan cekatan ia mengisi kotak bento yang kosong dengan nasi, Kaarage, salad, dan sebuah jeruk.
"Yosh! Bento sudah jadi. Saatnya memberi makan Kurama dan siap-siap ke sekolah!"
Pemuda itu berujar sembari melihat jam dinding yang terletak di dapur yang menunjukkan pukul 07:55. Setelah ia melihat jam, pemuda itu mengambil sekaleng makanan kucing dari lemari tempel yang menempel di dinding dapur dan membukanya, lalu ia tuangkan ke wadah makanan kucing yang ia ambil dari rak piring disampingnya. Tidak lupa ia menuangkan air di samping makanan kucing yang ia tuang tadi.
"Kurama saatnya sarapan", panggilnya dengan volume agak dikencangkan.
Tap tap tap tap
Dari ruang atas terdengar ada yang berlari menuju bawah dan langsung masuk ke dapur.
"Meow meow purrrrr meow!", ternyata adalah seekor kucing berwarna oranye berjenis domestik short hair yang diketahui bernama Kurama. Kucing itu mengeong sambil menggesekkan tubuhnya ke kaki pemuda itu, berharap pemiliknya memberinya makanan.
"Yosh yosh yosh yosh, ini dia makananmu Kurama. Silahkan dinikmati", ujar pemuda pirang tersebut sembari mengelus-elus kepala, leher, hingga badan kucing tersebut sebelum menyodorkan makanan dan minuman untuk Kurama.
"Meow!", kucing tersebut mengeong sekali lagi sebelum menyantap makanannya.
"Umu umu", si pemuda hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya untuk mereaksi kucing kesayangan. Kemudian ia bangkit dan menuju sebuah ruangan yang tidak jauh dari dapur.
Ruangan tersebut nampak gelap sebelum pemuda itu menekan saklar lampu yang ada di tembok dekat pintu masuk. Di dalam ruangan tersebut nampak seperti ruang tidur pada umumnya, namun terdapat altar dan dua buah foto berbingkai hitam. Pemuda tersebut kemudian masuk dan duduk bersila di depan altar tersebut, kedua telapak tangannya ia satukan membentuk gestur seperti berdoa.
"Kaa-chan, Tou-chan, hari ini aku resmi bersekolah di Konoha High School. Doakan aku yang terbaik ya, kuharap Kaa-chan dan Tou-chan memperhatikanku dari sana", pemuda tersebut berdoa kepada mendiang Ayah dan Ibunya.
Setelah kegiatan doanya selesai, ia pun melanjutkan aktivitas paginya yaitu mandi. Setelahnya ia mengenakan seragam sekolah berupa kemeja putih lengan pendek yang ia keluarkan, dengan luaran blazer berwarna navy tidak dikancing, yang lengannya ia gulung hingga siku, dikombinasikan juga dengan celana panjang berwarna serupa, tidak lupa juga ia mengenakan dasi berwarna navy dengan corak diagonal besar berwarna merah. Sesaat, ia sedikit bergaya di depan cermin yang ada di kamarnya untuk meningkatkan percaya dirinya. Gaya berpakaiannya terkesan kasual dan terlihat keren meskipun sedang mengenakan seragam sekolah.
"Yosh! Seragamku terlihat pas", ujarnya yang masih di depan cermin. Remaja itu kemudian keluar dari kamarnya menuju kembali ke dapur untuk sarapan.
"Meow!", ketika sampai di dapur pemuda itu langsung disambut oleh kucing kesayangannya. Ia tersenyum dan mengelus-elus kucing tersebut dengan sayang ketika makanan yang disiapkan untuk kucingnya telah habis.
Setelahnya, pemuda tersebut sarapan dengan selembar roti isi selai jeruk kesukaannya dan segelas susu putih. Ia sarapan dengan tenang ditemani Kurama yang setia duduk di kursi sampingnya.
Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan sarapannya. Kemudian pemuda itu bangkit dan melihat jam yang menempel di dapur menunjukkan pukul 08:30
"Yosh! Saatnya berangkat, aku tidak mau telat saat upacara penyambutan", ucap pemuda itu setelah membaca waktu yang ada di jam tersebut.
"Kurama, jangan nakal ya saat aku tidak dirumah. Aku berangkat sekolah dulu, ittekimasu!", lanjut pemuda tersebut memberikan pesan kepada kucing berwarna oranye itu.
"Meow!", seperti paham dengan perkataan majikannya, kucing tersebut mengeong untuk memberi jawaban sebelum pemuda tersebut mengunci pintunya dari luar untuk berangkat ke sekolah.
Pemuda tersebut pergi ke sekolah dengan berjalan kaki karena jarak antara rumah dan sekolahnya dapat ditempuh selama 15 menit. Di jalan ia menyempatkan menyapa tetangga maupun kenalan yang berpapasan dengannya.
Setibanya di sekolah ia melihat papan pengumuman besar yang ada di depan gedung sekolah. Pemuda tersebut mencari namanya di daftar nama yang ada di papan pengumuman.
"Uzumaki Naruto… Mmm… Ahh, ketemu", gumamnya melihat namanya masuk kedalam daftar kelas 1-B.
"Yo, Naruto kita satu kelas lagi", sapa pemuda berambut raven ketika melihat pemuda berambut pirang yang berdiri di depannya, di sampingnya terlihat perempuan berambut pink.
"Ou, kita satu kelas lagi. Mohon bantuannya Sasuke, Sakura-chan", pemuda bernama Uzumaki Naruto itu kemudian menoleh kebelakang sembari menjawab sapaan dari teman masa kecilnya yang bernama Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura. Naruto menjawab dengan senyum lebarnya.
"Mohon bantuannya juga Naruto", balas Sasuke dan Sakura bersamaan.
Mereka bertiga pun pergi ke kelas bertuliskan 1-B. Mereka meletakkan tas masing-masing setelah memasuki kelas. Ketika sedang asik ngobrol santai, bel pengumuman berbunyi. Suara guru terdengar dan mengatakan kepada seluruh siswa baru agar berkumpul di aula sekolah untuk melaksanakan upacara penyambutan.
Upacara penyambutan pun telah usai, para siswa baru yang ada di aula sekolah itu berjalan keluar menuju kelas mereka masing-masing.
Di kelas 1-B terlihat agak bising, karena ulah para siswa baru yang asik dengan dunia mereka. Ada yang sedang ngobrol santai, ada yang sedang membaca, ada yang sedang tidur, ada yang sedang berkenalan dengan siswa lain. Seperti halnya Naruto yang sibuk berkenalan dengan siswa yang belum ia kenal sebelumnya satu-persatu.
"Namaku Naruto, Uzumaki Naruto. Salam kenal". ucap Naruto dan menyodorkan tangannya bermaksud untuk jabat tangan ke pemuda berambut spike dengan tato segitiga seperti taring yang ada di kedua sisinya.
"Ou, salam kenal Naruto. Namaku Inuzuka Kiba. Kau bisa memanggilku Kiba", balas pemuda yang bernama Kiba menerima salam dari Naruto.
Namun kegiatan mereka terhenti ketika guru berambut putih jabrik masuk ke kelas 1-B. Tampang guru tersebut terlihat sedikit malas dengan aura misterius dan cenderung seram karena menggunakan masker yang menutupi hidung dan mulutnya, serta bekas luka yang melintang vertikal di mata kirinya.
"Baik semuanya kembali ke kursi masing-masing", perintah guru berambut putih kepada siswanya.
Setelah para siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing guru tersebut kembali berbicara.
"Perkenalkan namaku Hatake Kakashi. Kalian bebas memanggilku dengan nama depan atau belakang. Aku adalah guru Pengetahuan Sosial sekaligus wali kelas kalian. Mohon bantuannya", guru tersebut menunduk setelah memperkenalkan diri kepada siswa kelas 1-B.
"Ha'i! Mohon bantuannya Sensei", jawab para murid serentak.
"Baik, saatnya kita memperkenalkan diri. Untuk yang namanya disebutkan silahkan memperkenalkan diri ke depan", ucap Kakashi-sensei dan memanggil siswa yang ada di daftar nama kelas 1-B satu-persatu. Kakashi-sensei pun memanggil nama mereka.
"Hyuuga Hinata", ucap Kakashi-sensei memanggil siswi perempuan bernama Hyuuga Hinata untuk perkenalan diri.
Seketika satu kelas memperhatikan perempuan itu. Gadis bernama Hyuuga Hinata itu mengenakan seragam sekolah dengan dalaman kemeja putih lengan pendek, mengenakan blazer berwarna navy yang dikancing untuk luarannya, dasi kupu-kupu merah, rok pendek di atas lutut berwarna merah maroon dengan pola garis tipis di dekat ujung roknya, serta mengenakan stocking hitam yang menutupi kaki jenjangnya. Gadis itu jadi pusat perhatian karena postur tubuhnya yang seperti model majalah, dengan kulit putih mulus, garis wajah ayu, serta rambut biru gelap panjang terurai hingga pinggang dengan poni yang menutupi matanya karena menunduk. Gadis itu pun berjalan menuju kedepan kelas untuk memperkenalkan diri.
"Silahkan perkenalkan dirimu Hyuuga Hinata-san", ucap Kakashi-sensei mempersilahkan gadis itu. Gadis tersebut kemudian mendongakkan kepalanya untuk melihat teman sekelasnya sebelum memperkenalkan diri.
Deg!
Seketika, hampir seluruh siswa mengalami syok dan henti jantung sementara, karena melihat air muka gadis yang bernama Hinata tersebut. Para siswa syok lantaran melihat sorot mata gadis itu. Pupil mata gadis itu berwarna ungu muda mendekati putih dengan tatapan tajam memandang ke depan. Tidak ada senyum yang menghiasi wajahnya, hanya ekspresi tajam dan datar.
"Hyuuga Hinata, mohon bantuannya", lanjutnya memperkenalkan diri sembari memiringkan badannya sedikit kedepan untuk memberi hormat.
Jedarrrrrrr!
'Ko- kowai!!', sentak hampir seluruh siswa dalam hati dengan efek seperti tersambar petir. Mereka ketakutan, berkeringat dingin, dan hampir pingsan melihat ekspresi tajam dan datar Hinata yang sedang memperkenalkan diri.
Tidak seperti hampir semua siswa kelas 1-B yang ketakutan dengan Hinata. Naruto yang melihat Hinata memperkenalkan diri didepan kelasnya malah menatapnya menyelidik sedikit penasaran.
'Aku tidak melihatnya sejak selesai upacara penyambutan tadi. Apa dia ada di tempat lain? Ohh, mungkin dia pergi ke toilet', selidiknya dalam hati. Sedikit heran karena gadis yang memperkenalkan diri itu tidak ada saat dirinya berkenalan dengan seisi kelas setelah upacara penyambutan tadi.
'Jadi namanya Hyuuga Hinata. Dia terlihat manis dan cantik. Tapi kenapa ekspresi wajah dan pandangannya seram begitu? Apa dia sedang sakit perut?', Naruto berdiskusi lagi dengan dirinya sendiri dalam hati sembari menebak kenapa gadis yang bernama Hinata itu menunjukkan wajah yang menurut hampir seluruh kelas seram dan horor.
Setelah perkenalan singkat yang dilakukan Hinata. Kakashi-sensei kembali memanggil beberapa siswa untuk perkenalan diri.
"Uzumaki Naruto", ucap Kakashi-sensei memanggil Naruto untuk perkenalan diri.
"Ha'i!", jawab Naruto sebelum maju ke depan kelasnya untuk memperkenalkan diri.
"Minna, perkenalkan namaku Naruto, Uzumaki Naruto. Aku menginginkan masa SMA terbaik bersama teman-teman semuanya. Mohon bantuannya!", Naruto memperkenalkan diri dengan semangat, tidak lupa senyum lebarnya yang selalu menghiasi wajahnya dan ditutup dengan mencondongkan badannya agak kedepan untuk memberi hormat kepada teman sekelasnya.
Prok prok prok prok prok
Suara tepuk tangan-teman sekelasnya mereaksi perkenalan diri Naruto yang menurut teman sekelasnya perkenalan diri paling heboh.
"Wahh dia manis juga ya!"
"Dia keren dan juga tampan"
"Apakah dia sudah punya pacar?"
Bisik-bisik beberapa gadis kelas 1-B mengomentari tampilan dan perkenalan diri yang dilakukan Naruto yang menurut mereka keren.
Naruto yang sedikit mendengar bisikan tersebut hanya nyengir-nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebelum ia kembali duduk kembali ke bangkunya, Naruto melihat sekilas Hinata menampakkan ekspresi kagum sebelum merubah ekspresinya kembali ke datar dan dingin.
"Baik, sudah cukup perkenalan dirinya. Sebentar lagi istirahat makan siang, dan tour keliling lingkungan sekolah setelahnya", tutup Kakashi-sensei sesaat sebelum bel tanda istirahat makan siang berbunyi. Siswa kelas 1-B pun banyak yang meninggalkan mejanya untuk keluar istirahat makan siang.
"Sasuke, Sakura-chan mau makan bento bersama-sama?", tanya Naruto pada kedua sahabatnya.
"Gomen ne Naruto, aku dan Sasuke-kun tidak membawa bento. Aku dan Sasuke-kun juga ingin melihat-lihat area sekolah dan makan di kantin", jawab Sakura menolaknya secara halus, tidak ingin melukai perasaan teman masa kecilnya itu. Sasuke hanya mengangguk mengiyakan perkataan Sakura.
"Sodesu ka, yasudah tidak apa-apa. Lain kali kita makan bersama ya", Naruto berkata setelah mendengar jawaban dari Sakura.
"Umm, kita janji", ucap Sasuke menerima ajakan makan bersama Naruto dan berlalu pergi keluar kelas bersama Sakura.
'Umm, enaknya makan dimana ya? Ahh! Sekolah ini punya atap, sepertinya asik makan siang sambil melihat langit', ucap dalam hati Naruto menentukan lokasi untuk dia makan siang.
"Yosh! Beli minuman dulu, kemudian pergi ke atap", ucap Naruto pada dirinya sendiri karena kelas 1-B sudah kosong.
Ceklek
Naruto membuka pintu yang menghubungkan atap sekolahnya itu. Ia dapat melihat pemandangan kota dan luasnya langit biru dari sana. Pemuda itu berjalan keluar untuk mencari tempat teduh agar acara makan siangnya tidak terganggu panas matahari. Namun ia melihat seorang gadis berambut indigo panjang berdiri agak jauh dari dirinya. Pemuda itu tidak tau wajah gadis tersebut karena posisinya yang membelakangi Naruto.
Namun gadis itu menoleh kebelakang karena menyadari ada orang selain dirinya. Air mukanya pucat pasi, matanya sayu.
"Hinata-san?", Naruto yang mengenali gadis itu, spontan memanggil namanya dengan ragu.
Brek
"EHHHH! Pingsan?! Kenapa?!", teriak Naruto yang mengetahui Hinata pingsan setelah melihatnya tadi. Naruto pun bergegas untuk menghampiri gadis itu. Kemudian pemuda itu pun menggendong gadis yang pingsan barusan, membawanya ke tempat yang lebih teduh.
"Hahh, coba kejadian ini setelah tour sekolah, pasti aku sudah membawanya ke UKS. Tapi untuk saat ini lebih baik disini dulu. Mungkin dia hanya kepanasan", keluh kesah Naruto entah kepada siapa. Ia pun mengambil sapu tangan yang ada di saku belakang celananya. Membasuhnya dengan air mineral yang ia beli sebelum ke atap sekolah. Kemudian sapu tangannya yang agak basah ia letakkan ke dahi gadis pingsan itu.
"Oii Hinata-san… Hinata-san… Sadarlah Hinata-san", panggil Naruto sembari sedikit menampar pelan pipi putih gadis tersebut berharap dapat membangunkannya.
"Hnggh", tidak lama kemudian gadis itu membuka matanya kembali berkat gangguan yang diberikan Naruto.
Mata amethyst milik gadis tersebut bertemu dengan mata sebiru samudera milik pemuda berambut kuning. Gadis itu merasa terjebak pada kedua mata biru milik pemuda yang ada di atasnya itu. Hingga akhirnya gadis itu pun sadar dengan keadaan memalukan yang mereka buat. Berkedip berapa kali hingga mata gadis tersebut menajam menatap Naruto.
"Akhirnya kau sadar juga", ucap Naruto ketika Hinata mengedipkan matanya yang menandakan ia telah sadar kembali dari pingsan.
Hinata yang menyadari posisinya sedang tidur di bawah pun dengan cepat ingin beranjak bangun untuk duduk. Namun usahanya dihentikan oleh pemuda yang ada disampingnya.
"Kau barusan pingsan, jangan bergerak terburu-buru atau pandanganmu akan menghitam. Sini biar kubantu untuk duduk", dengan hati-hati Naruto memposisikan gadis tersebut untuk duduk.
"Minumlah kau pasti haus karena berdiri di sana tadi", Naruto menyodorkan sebotol air mineral yang dibelinya sebelum ke atap.
"Arigatou", ucap Hinata sembari menerima botol air mineral yang diberikan Naruto. Ia meminumnya perlahan, rasanya tenggorokannya yang kering tadi sudah hilang berkat air pemberian pemuda itu.
"Terimakasih, aku ingin kembali ke-"
Kruyuk~
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, perut gadis tersebut berbunyi. Menandakan dirinya sedang lapar..
"Ahahaha, ternyata kau pingsan karena lapar ya Hinata-san?", tawa Naruto ketika mendengar suara perut Hinata yang sedang lapar.
Hinata yang makin malu dengan tebakan Naruto yang sangat tepat kemudian lebih menajamkan tatapan matanya, raut wajahnya ia buat sedingin mungkin untuk menyembunyikan rasa malunya.
Naruto yang melihat ekspresi gadis di depannya yang semakin seram pun masih tertawa, menertawai bunyi perut gadis di depannya. Tidak ada rasa ketakutan sedikitpun dengan tatapan yang diberikan gadis itu.
"Ahahaha, maaf maaf aku hanya bercanda. Kebetulan aku ingin makan siang di sini. Kalau kau mau, aku bisa membagi makan siang ku denganmu. Bagaimana Hinata-san?", tawar Naruto ramah kepada Hinata.
Hinata sedikit memikirkan tawaran pemuda itu.
"Umm", dan gadis tersebut hanya menjawabnya dengan anggukan dan sedikit gumaman.
"Ohh, apa kau bisa makan sendiri? Atau mau disuapi?", tanya Naruto sambil membuka kotak makan siangnya.
"Aku bisa sendiri", jawab singkat Hinata dengan suara halus namun dengan intonasi datar.
"Ohh! Aku cuma membawa sepasang sumpit. Apa tidak masalah kita menggunakannya bersamaan?", tanya Naruto kembali yang sukses membuat Hinata malu karena tau apa maksudnya. Dan karena malu gadis itu menajamkan matanya kembali.
Namun berbeda dengan sorot matanya yang tajam, si gadis cantik itu mengangguk, tanda bahwa tidak masalah dengan hal itu.
"Baiklah, ini makan duluan. Supaya kau tidak pingsan kembali Hinata-san", ucap Naruto menyodorkan kotak makan siang yang dia buat pagi tadi.
Dengan sedikit ragu Hinata mengambil kotak makan dan sumpit yang disodorkan pemuda itu.
"Itadakimasu", ucap Hinata sebelum memulai makan. Ia mengambil nasi menggunakan sumpit dan memakannya dengan perlahan. Setelahnya ia mengambil sepotong Karaage dan langsung memakannya. Kemudian menyuap salad. Suap demi suap Hinata makan dengan tenang.
"Umu umu, syukurlah kau menyukainya", ucap Naruto yang melihat Hinata makan dengan tenang namun terlihat menikmati makanannya.
Si gadis yang mendengar kemudian sadar bahwa bento yang sedang ia makan tinggal setengahnya. Dengan tatapan menajam Hinata menyodorkan bento tersebut ke Naruto.
Naruto yang disodorkan kotak makan siangnya hanya tersenyum.
"Kau boleh menghabiskannya Hinata-san", ucap Naruto, namun mendapatkan respon berupa gelengan dari Hinata.
"Ahh, baiklah. Apa kau sudah kenyang?", tau dengan maksud gelengan Hinata, kemudian Naruto menanyakan apakah gadis yang ada di depannya sudah kenyang, yang dijawab dengan anggukan dari Hinata.
Si gadis menunduk
"Arigatou Naruto-san", ucap sang gadis sedikit lirih.
"Umm, bukan masalah Hinata-san", balas Naruto mengangguk sambil tersenyum.
"Itadakimasu", ucap Naruto sebelum makan bekalnya yang tersisa setengah. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan sisa bekalnya.
"Fiuhh, akhirnya perutku terisi", ujar pemuda berambut pirang.
"Ne, Hinata-san. Kenapa kau tadi pingsan?", tanya Naruto kepada Hinata yang saat ini duduk disampingnya.
Gadis yang ditanya hanya diam untuk beberapa saat. Menimbulkan kesunyian di antara mereka.
"Aku telah gagal lagi", jawab gadis cantik itu lirih sembari menunduk. Kalimat itu memecah kesunyian yang beberapa saat lalu menyertai mereka.
"Ehh? Gagal? Gagal karena apa Hinata-san?", tanya Naruto kembali setelah mendapatkan jawaban Hinata.
"Aku gagal menjalankan perintah Okaa-sama", jawab Hinata yang masih belum memberikan jawaban pasti kepada Naruto.
"Perintah apa yang diberikan Okaa-san mu? Apakah itu sangat berat?", tanya Naruto yang semakin penasaran dengan kepastian kenapa gadis di sampingnya itu jatuh pingsan tadi siang.
"Aku…", jawab Hinata dengan ragu.
Glek
Naruto yang cemas akan jawaban Hinata hanya dapat menelan ludah. Cemas akan mendengarkan hal yang tidak-tidak mengenai perintah yang diemban Hinata.
"Gag-..."
Ding dong ding dong~ Ding dong ding dong~
"Sumimasen, bel sudah berbunyi. Aku harus ke kelas", ucap Hinata berlalu pergi setelah bel tanda masuk telah berbunyi.
"EEEEHHHHHHH!!!!??", Naruto yang menantikan jawaban krusial dari Hinata hanya bisa berteriak bingung dan lemas karena tiba-tiba bel berbunyi. Hatinya makin kacau memikirkan dan menduga jawaban-jawaban yang bisa saja tadi keluar dari mulut Hinata.
Selama tour lingkungan sekolah Naruto menyempatkan mencuri-curi pandang kepada Hinata. Ia masih penasaran dengan apa jawaban dari Hinata mengenai perintah Okaa-san nya tadi siang, dan juga memastikannya agar tidak pingsan lagi.
Ding dong ding dong~ Ding dong ding dong~
Bel pertanda pulang telah berbunyi. Para siswa dan siswi Konoha High School membubarkan diri dari kelas setelah kegiatan belajar-mengajar berlangsung.
"Naruto, ayo pulang bersama", ajak sahabat masa kecilnya yang memiliki gaya rambut seperti pantat ayam, disampingnya juga ada sahabat kecilnya berambut pink yang mengangguk-angguk agar Naruto mau mengikuti ajakan Sasuke.
Naruto yang sedang membereskan buku ke dalam tasnya pun menengok setelah mendengar ajakan sahabatnya.
"Maaf Sasuke, Sakura-chan, hari ini aku tidak bisa pulang bersama kalian. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Kalian hati-hati ya! Sampai jumpa besok", jawab Naruto sembari setengah berlari menuju pintu keluar kelas 1-B.
Kedua sahabatnya masih terdiam ketika Naruto terlihat tergesa-gesa tanpa mau menerima ajakan pulang bersama mereka.
"Tidak biasanya Naruto pulang terburu-buru. Aneh sekali, menurutmu bagaimana Sakura-chan?", komentar Sasuke terhadap tingkah laku Naruto barusan.
"Menurutku juga aneh. Bagaimana kalau kita membuntutinya dari jauh Sasuke-kun? Aku takut terjadi apa-apa dengan Naruto", jawab Sakura diikuti dengan saran yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Mmm, oke kita ikuti Naruto", jawab Sasuke.
Mereka berdua pun mengikuti Naruto dari jauh.
Setelah setengah berlari meninggalkan kelasnya Naruto menghampiri Hinata yang sudah lebih dulu berjalan pulang. Naruto melihat gadis itu hampir sampai di pintu gerbang sekolah mereka.
"Oii Hinata-san!", ucap Naruto agak sedikit menaikkan volume suaranya.
Hinata yang merasa dipanggil namanya menoleh ke arah sumber suara. Namun ia sedikit malu karena namanya sedikit diteriakkan jadi tatapan mata gadis itu menajam dan menampakkan raut wajah datarnya.
"Ada apa Naruto-san?", tanya Hinata
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, aku takut kau tiba-tiba pingsan seperti tadi siang. Aku akan mengantarmu pulang dan memastikan dirimu baik-baik saja" jawab Naruto panjang lebar. Dirinya merasa bertanggung jawab atas kejadian tadi siang yang menimpa Hinata.
"Terimakasih, tapi aku ingin pulang sendiri", tolak Hinata dengan suara halus bernada datarnya sembari menunduk.
"Tapi aku harus menemanimu"
"Tidak"
"Iya"
"Tidak"
"Iya"
Para siswa dan siswi lain yang melihat mereka berdua sedang sedikit berseteru mulai ingin tau apa yang terjadi, para siswa dan siswi pun ada yang berbisik-bisik.
"Hei lihat pasangan itu bertengkar"
"Uwahh sepertinya perempuannya ngambek"
"Merepotkan sekali"
Bisik-bisik para siswa-siswi melihat kejadian antara Naruto dan Hinata. Hinata yang semakin malu semakin menundukkan wajahnya dan dengan cepat ia tegakkan, menampilkan sorot matanya yang tajam, dingin dan sedikit angker.
Deg!
Tiba-tiba siswa dan siswi yang berbisik-bisik dan melihat mereka pun keringat dingin dan segera mengalihkan pandangan mereka. Mereka punya pendapat yang sama mengenai gadis bermata tajam tadi, yaitu seram.
Hinata yang tidak ingin semakin malu lagi menarik sedikit ujung blazer bagian bawah Naruto.
"Hinata-san?", Naruto yang melihat gerak-gerik Hinata berubah hanya merasa bingung.
"Mau aku antar pulang?", tanya Naruto lagi dengan senyum di wajahnya.
Hinata tidak menjawab, hanya anggukan kecil yang ia berikan untuk merespon ajakan Naruto. Naruto yang sudah mendapat respon positif dari ajakannya pun terlihat senang.
"Yosh! Ayo aku antar"
Setelahnya mereka berdua meninggalkan gerbang sekolah. Namun dari kejauhan terlihat dua orang setengah bersembunyi di balik gerbang sekolah.
"Ada hubungan apa Naruto dengan Hinata-san?", tanya Sasuke kepada perempuan di sampingnya.
"Aku juga tidak tau Sasuke-kun. Aku takut Naruto diancam sama Hinata-san. Hinata-san terlihat menyeramkan, seperti hantu", respon Sakura atas pertanyaan Sasuke.
"Mmm, melihat Hinata-san memperkenalkan diri di kelas tadi aku jadi ingat wajah Okaa-san saat murka kepada Nii-san karena lupa mematikan kompor hingga memicu kebakaran kecil di dapur dulu", Sasuke berucap sambil mengingat-ingat kejadian lama yang terjadi pada keluarganya. Ekspresi wajahnya pucat pasi karena mengingat wajah garang ibunya ketika memarahi kakaknya yang biasanya terlihat sabar dan lembut.
"Tapi kelihatannya Naruto biasa saja. Lagi pula kalau Hinata-san mengancam atau menindasnya, Naruto dapat dengan mudah membalikkan keadaan, dia sabuk hitam karate sewaktu SMP dulu kau ingat?", sambung Sasuke, sembari mengetik sesuatu di smartphone nya.
"Lalu bagaimana? Apakah kita lanjutkan mengikuti mereka Sasuke-kun?", tanya Sakura.
"Sepertinya kita pulang. Dia membalas pesanku dan mengatakan baik-baik saja", jawab Sasuke sambil menunjukkan balasan pesan dari Naruto yang ada di layar smartphone nya.
"Yokatta", respon Sakura setelah melihat balasan pesan dari Naruto.
"Sepertinya kita terlalu mengkhawatirkannya. Mau mampir minimarket dulu untuk beli es krim?", ucap Sasuke.
"Umm! Aku mau rasa strawberry!", jawab Sakura ketika diajak Sasuke mampir ke minimarket. Mereka pun meninggalkan sekolah untuk pulang.
Sementara itu.
"Ne, Hinata-san. Apa aku boleh tau mengenai perintah yang diberikan Okaa-san mu?", tanya Naruto. Mereka sedang berjalan di trotoar dekat taman bermain untuk menuju rumah Hinata.
Hinata yang ditanya mengenai hal itu kemudian berhenti berjalan dan menundukkan wajahnya.
Melihat perubahan sikap gadis berambut panjang itu, Naruto merasa tidak enak kepadanya. Ketika ia mengira bahwa telah salah bicara kepada gadis itu, Naruto menggaruk belakang kepalanya. Saat ia mengalihkan arah pandangnya, ia pun melihat toko yang menjual Taiyaki.
"Hinata-san, tunggu di ayunan di sana ya, aku ingin membeli sesuatu", ujar Naruto sambil menunjuk ayunan yang ada didalam taman. Hinata hanya mengangguk tanda ia mengiyakan keinginan Naruto.
Hinata pun duduk di bangku ayunan di sebelah kiri. Mengayunkan sedikit ayunan itu dengan lambat. Tidak lama kemudian ia melihat Naruto yang membawa bungkusan di tangannya.
"Ini untukmu Hinata-san, aku yang traktir", ucap Naruto sambil tersenyum dan memberikan bungkusan kertas bergambar ikan dan sebotol ocha.
"Dulu Baa-chan pernah bilang padaku. Kalau sedang sedih atau gundah, cobalah makan sesuatu agar merasa lebih baik", lanjut Naruto. Menyerahkan bungkusan kertas dan sebotol ocha kepada Hinata.
"Arigatou", jawab singkat Hinata. Sambil membuka bungkusan kertas bergambar ikan tersebut. Ternyata ia ditraktir Taiyaki oleh Naruto.
"Itadakimasu", ucap Hinata sebelum makan Taiyaki nya dengan tenang.
"Umm, Itadakimasu!", Naruto juga memakan Taiyaki nya. Mereka berdua makan dengan tenang, namun Naruto sedikit curi-curi pandang kepada Hinata. Pemuda itu memperhatikan sikap makan gadis di sampingnya.
"Gochisousama", ucap Hinata setelah potongan Taiyaki terakhirnya selesai ia makan.
"Jadi, apakah perasaanmu sudah jauh lebih baik Hinata-san?", tanya Naruto setelah melihat Hinata selesai makan.
"Umm", jawab si pemilik mata amethyst itu sambil menganggukkan kepalanya.
Untuk beberapa waktu diam menyelimuti mereka berdua. Mereka berdua asyik dengan pikiran masing-masing.
"Umm, a-ano Naruto-san", ucap gadis itu memecah keheningan. Ucapannya lirih dengan suara halusnya agak gugup. Ia berkata sembari menunduk, tidak berani menatap pemuda disampingnya.
"Ya, ada apa Hinata-san?", jawab pemuda yang duduk di ayunan samping kanan gadis itu. Pemuda berambut kuning itu meresponnya dengan nada santai.
"Aku…", ucap gadis itu menggantung kalimatnya. Tidak seperti sebelumnya, Naruto kini lebih sabar menunggu ucapan gadis disampingnya.
"... Hanya ingin berteman", cicit gadis cantik itu, suaranya yang halus kini bercampur serak dan terdengar sangat lirih seperti ingin menangis. Gadis itu semakin menundukkan kepalanya lebih dalam.
Naruto yang mendengar perkataan Hinata awalnya sedikit kaget, matanya sedikit membulat. Namun, setelahnya wajahnya melunak. Seakan tau maksud dari ucapan Hinata, pemuda itu tersenyum setelah gadis disampingnya menyelesaikan ucapannya.
"Umm, kita sudah berteman Hinata-san", respon Naruto pada ucapan Hinata barusan.
Gadis cantik itu pun bergetar, suara isakan kecil keluar dari gadis itu menandakan ia menangis. Naruto yang mendengar isakan tangis gadis disampingnya itu hanya bingung dan agak sedikit panik.
"E-eh Hinata-san? Kenapa kau menangis? Apa kau baik-baik saja? Ahh! Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu", ucap Naruto agak sedikit panik dan gelagapan melihat Hinata menangis.
Kemudian pemuda itu bangkit dari ayunan yang sedari tadi ia duduki. Berpikir cepat agar gadis itu berhenti menangis. Lalu ia terdiam, seperti telah menemukan jawaban untuk dapat menenangkan Hinata. Senyumnya belum luntur dari wajah tampannya. Lalu pemuda itu menjulurkan tangannya ke depan gadis yang masih menunduk terisak kecil yang masih setia duduk di ayunan itu.
"Maukah kau menjadi temanku Hinata-chan?", ucap pemuda itu setelah menjulurkan tangannya kepada gadis di depannya, berharap gadis tersebut menerima uluran tangan dan ajakan pertemanan dari pemuda rambut kuning itu. Naruto juga merubah suffix panggilan untuk Hinata agar suasana lebih mencair dan mengakrabkan diri dengan gadis didepannya.
Hinata yang mendengar ajakan pertemanan dari pemuda itu pun sedikit mendongakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Matanya yang tajam sedikit melembut dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Mulutnya sedikit terbuka, ia sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda yang berdiri di depannya.
"Bagaimana Hinata-chan? Apakah kau mau berteman denganku? Aku juga bisa membantumu untuk mendapatkan lebih banyak teman", kembali Naruto menawarkan ajakan pertemanan kepada Hinata dan sedikit menawarkan bantuan untuk gadis itu mendapatkan teman yang lebih banyak.
Hinata yang lagi-lagi mendengar ajakan pemuda dihadapannya matanya sedikit berbinar terang. Dengan gerakan lambat gadis itu menerima uluran tangan pemuda itu dan menjabatnya. Hinata yang tangannya dingin merasakan sensasi hangat dari tangan pemuda yang menjadi lawan jabat tangannya.
"Umm, mohon bantuannya", ucap Hinata lirih, air matanya masih berjatuhan.
"Umu umu", Naruto hanya manggut-manggut merespon ucapan Hinata.
"Hora, jangan menangis. Ayo semangat lagi", hibur Naruto menyemangati Hinata sembari mengeluarkan sapu tangannya. Pemuda itu lalu berjongkok dan menyeka air mata gadis cantik itu perlahan dengan sapu tangannya.
Hinata terkesima dengan perlakuan pemuda itu yang menurutnya penuh perhatian dan lembut. Perlahan, tangisan Hinata mereda.
"Sudah lebih baik? Ini minum dulu", ucap Naruto bertanya mengenai keadaan Hinata sambil menyodorkan sebotol ocha.
"Arigatou, aku sudah lebih baik", jawab Hinata memberitahukan keadaannya. Sambil menerima sebotol ocha dari Naruto, membukanya, lalu meminumnya dengan perlahan.
"Apa aku bisa memanggilmu Naruto-kun?", sambung Hinata setelah minum ocha, gadis itu berucap sedikit tersipu dengan suara lirih, meminta izin untuk mengubah suffix panggilannya kepada pemuda itu. Gadis itu menunduk, takut izinnya ditolak oleh pemuda yang masih berjongkok di depannya.
"Umm! Tentu saja Hinata-chan, kita sudah jadi teman. Jadi aku harap kita bisa berteman baik", jawab Naruto dengan semangat dan senyum lebar.
"A- arigatou… Naruto-kun", Hinata berterimakasih mendengar Naruto mengizinkan memanggilnya dengan akhiran '-kun'. Ia sedikit gugup setelah melihat Naruto tersenyum tulus kepadanya.
Pemuda yang tadinya berjongkok di depan gadis itu kemudian bangkit dan duduk kembali pada ayunan di sebelah kanan Hinata.
Untuk beberapa saat suasana hening. Menandakan keduanya sedang menyelam dalam pikirannya masing-masing.
"Ano ne, selama ini aku tidak memiliki teman. Teman sekelas ku sejak TK tidak ada yang berani mendekatiku, mereka menyebutku seperti hantu, dan mereka selalu takut dengan warna dan sorot mataku", ucap Hinata angkat suara menjelaskan dirinya kepada Naruto. Pemuda itu mendengarkannya dengan seksama, terlihat rasa iba dari raut wajahnya.
"Saat aku kecil, Okaa-sama menitipkan pesan terakhirnya untukku sebelum meninggal. Okaa-sama ingin agar aku bisa berteman dengan anak lain. Namun saat SD dan SMP aku masih tidak bisa berteman dengan siapapun. Aku masih dianggap seram dan menakutkan. Hingga saat SMA, di hari pertama masuk dan perkenalan diri pun aku masih dianggap menyeramkan oleh teman sekelas tadi. Aku telah gagal mewujudkan pesan Okaa-sama sebelum meninggal. Aku frustasi, lalu ke atap untuk menenangkan diri. Namun aku terus memikirkan pesan terakhirnya, pesan itu terus terdengar di kepalaku. Aku hanya bisa menangis, dan akhirnya pandanganku mengabur", lanjut Hinata panjang lebar menjelaskan kenapa ia pingsan dan menceritakan kisahnya.
Naruto yang sedari tadi duduk menyimak sudah sesenggukan, ia menangis mendengar penuturan Hinata dan kisah sedihnya saat ia kehilangan sosok ibunya sejak kecil, serta tidak dapat berteman dengan siapapun sedari kanak-kanak hingga sekarang.
"Hiks… A- apa aku boleh mendengar ini semua Hinata-chan? Hiks… Kau sangat kuat menghadapi ini semua sendirian sampai sekarang… Hiks…", ucap Naruto terbata-bata karena berbicara sambil menangis.
Hinata yang melihat Naruto menangis untuknya seketika terpaku. Mendapat respon tidak terduga, tatapannya melembut dan ia sedikit tersenyum, karena ini pengalaman pertamanya memiliki teman. Terlebih teman pertamanya menangis untuknya didepan matanya.
"Mmm", gadis itu menggeleng pelan.
"Saat ini aku merasa sangat senang karena aku bisa mendapatkan teman pertamaku. Aku sangat bersyukur", ucap gadis itu setelah mereaksi pertanyaan Naruto.
"Arigatou, Naruto-kun", sambung gadis itu kembali. Ia tersenyum. Senyum yang belum pernah ia tampakkan kembali setelah mendiang ibunya meninggal. Sebuah senyum tulus, menggambarkan perasaan bahagianya saat ini.
Naruto terdiam. Pemuda itu terpesona ketika gadis yang menurut orang banyak menakutkan, saat ini menunjukkan senyum tulus dan berterima kasih kepadanya. Senyum tulus yang mengingatkannya kepada mendiang kedua orangtuanya. Senyum yang membuatnya nostalgia saat masih mendapatkan cinta kasih orangtuanya.
"Doitashimashite, Hinata-chan", balas Naruto dengan semangat diiringi juga dengan senyum tulusnya.
Kemudian Naruto tiba-tiba berdiri.
"Yosh! Aku akan membantumu untuk bisa berteman dengan yang lain. Bagaimana Hinata-chan? Apakah kau mau?", ucap Naruto setelahnya.
Melihat pemuda itu menawarkan bantuannya dengan semangat membuat Hinata sedikit terkejut.
"Umm! Mohon bantuannya Naruto-kun", jawab Hinata sambil tersenyum.
"Ou!", pemuda itu mengangguk. Puas dengan jawaban yang diberikan oleh Hinata.
"Ahh, untuk awalan, bagaimana kita bertukar kontak Hinata-chan? Supaya kita bisa berkomunikasi meskipun sedang tidak bertemu", ujar Naruto menawarkan untuk bertukar kontak dengan Hinata.
"Ha'i, Naruto-kun dengan senang hati", Hinata menjawab dengan riang, karena ini pertama kalinya kontaknya bertambah sejak ia menggunakan smartphone. Sebelumnya, kontak di smartphone nya hanya berisi ayah dan adik perempuannya.
Mereka pun bertukar kontak. Keduanya menuliskan nama panjang masing-masing.
"Wahh, sudah hampir malam. Apa rumahmu masih jauh Hinata-chan?", tanya Naruto saat ia melihat jam yang ada di smartphone nya menunjukkan pukul 17:30.
"Tidak juga Naruto-kun, hanya 5 menit dari sini", jawab Hinata lembut, yang kini tanpa disadari sang gadis gaya berbicara dan ekspresinya berubah.
"Baiklah, ayo Hinata-chan kita pulang. Aku akan mengantarmu", ajak pemuda itu kepada sang gadis.
"Umm", respon sang gadis menerima ajakan pulang bersama pemuda itu.
Mereka berdua pun meninggalkan taman bermain yang menjadi saksi bisu terjalinnya pertemanan mereka. Diperjalanan, mereka ngobrol ringan mengenai hobi dan hewan peliharaan. Naruto membicarakan hobinya yaitu masak. Hinata sedikit senang karena hobi mereka berdua sama namun ia juga hobi membaca. Naruto juga menceritakan bahwa dirinya memiliki kucing bernama Kurama pada Hinata. Sedangkan Hinata menceritakan bahwa ia memiliki peliharaan berupa ikan Koi yang ada di halaman belakang rumahnya.
Perjalanan mereka terkesan singkat berkat obrolan yang menemani mereka berdua. Kini keduanya sudah sampai didepan rumah bergaya Jepang Tradisional.
"Arigatou, Naruto-kun sudah mengantarku pulang. Maaf merepotkan", ucap gadis itu berterima kasih kepada pemuda yang telah mengantarkannya pulang. Ia juga memiringkan sedikit badannya ke depan sebagai bentuk terima kasihnya.
"Doitashimashite, Hinata-chan. Bukan masalah, aku senang bisa membantu", balas Naruto sambil tersenyum kepada Hinata.
"Baiklah aku pulang dulu Hinata-chan. Sampai bertemu besok di sekolah", lanjut Naruto izin untuk pulang.
"Ha'i, Naruto-kun. Sampai bertemu besok", ucap Hinata sambil membalas senyum yang dilontarkan Naruto kepadanya. Kemudian pemuda itu berbalik, berjalan menjauh untuk pulang.
Saat jarak sudah sedikit jauh Naruto melupakan sesuatu. Seketika ia berbalik.
"Hinata-chan! Aku akan menghubungimu nanti malam", ucap Naruto sembari melambaikan tangannya dari kejauhan dengan sedikit berteriak kepada Hinata yang baru ingin melangkah masuk kedalam rumahnya.
"Ha'i! Aku menantikannya", jawab Hinata juga sedikit menaikkan suaranya agar terdengar oleh Naruto. Ia juga membalas lambaian tangan pemuda itu.
Kemudian pemuda itu berbalik, kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Hinata yang melihat Naruto telah berbelok di persimpangan jalan pun kemudian masuk ke rumahnya. Ekspresinya terlihat bahagia, senyumnya tidak lepas sedari tadi.
"Tadaima!", ucap salam Hinata sambil membuka pintu rumahnya. Hinata sedikit meningkatkan volume suaranya agar terdengar oleh penghuni rumah, tidak seperti biasanya yang terdengar datar dan lemah.
"Okaerinasai Onee-san", balas gadis berumur 13 tahun yang keluar sembari menjawab salam dari Hinata.
"Umm, aku pulang Hanabi", ucap Hinata kepada gadis yang bernama Hanabi sembari tersenyum. Kemudian berlalu pergi menuju kamarnya.
"Onee-san?", Hanabi kebingungan dengan sikap kakaknya yang tidak seperti biasanya. Dari dulu kakaknya selalu terlihat datar dan hanya berbicara seperlunya. Dan kini ia melihat Onee-san nya tersenyum sembari memberikan salam dengan hangat dan sedikit berteriak tadi.
'Ada apa dengan Onee-san? Apakah terjadi sesuatu dengannya? Atau jangan-jangan…', selidik Hanabi sedikit berpikir kenapa kakaknya bisa berubah.
'Ahh, tidak tidak. Mungkin nanti aku tanyakan langsung saja ke Onee-san', lanjut Hanabi berkata dalam hati. Kemudian ia kembali ke ruang tamu untuk kembali menonton televisi.
Tap tap tap tap tap
Suara langkah kaki Hinata sedikit agak berlari menuju kamarnya yang ada di lantai dua rumah tersebut.
Srekk
Dengan cepat ia membuka pintu geser kamarnya.
Bruk
Dan dengan sepenuh hati ia menjatuhkan badannya tengkurap ke kasur empuk yang ada di kamarnya. Masih menggunakan seragam sekolah, gadis itu menendang-nendang kasurnya dengan kedua kakinya. Wajahnya ia tutupi menggunakan bantal yang biasa digunakannya untuk tidur.
Gadis itu terlihat bahagia dan sedikit kegirangan atas apa yang terjadi hari ini. Hinata senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana pemuda itu memperlakukannya sangat baik, mulai dari membantunya sadar saat pingsan, membagi bekal makan siang untuknya, mengkhawatirkan saat ingin pulang sendiri, mengantarkannya pulang ke rumah, mentraktirnya Taiyaki, dan menawarkan diri untuk jadi teman pertamanya.
Blush
Wajah Hinata memerah saat ingat bagaimana pemuda itu tersenyum. Senyum yang tulus dan dalam. Serta perlakuan lembut pemuda itu saat mengusap air matanya.
Deg deg
Jantungnya berdebar cepat saat mengingat momen bersama pemuda bernama Naruto itu seharian ini. Hinata yang tau detak jantungnya berdebar segera menenangkan diri. Namun nihil, ketika Hinata mengingat kembali wajah tersenyum pemuda rambut kuning yang sudah mengganggu pikirannya itu.
'Ehh? Perasaan apa ini? Kenapa jantungku berdebar dan wajahku menghangat saat memikirkan Naruto-kun? Apa aku sakit?', Hinata berucap dalam hati kebingungan dengan apa yang terjadi dengannya.
Gadis itu beranjak ke meja riasnya. Membuka laci kedua dari atas dan mengambil termometer. Kemudian menggunakan termometer tersebut, ia memasangkannya di ketiak. Menunggunya sebentar agar hasilnya terlihat.
Bip bip bip
"36,3 derajat", ucap Hinata melihat hasil pada display termometer.
"Aku tidak sakit", lanjutnya polos. Ia pun berpikir sejenak, seperti mengingat-ingat sesuatu.
Blush
'Ehh? Apakah mungkin? Apakah mungkin aku jatuh cinta dengan Naruto-kun?', ucap Hinata dalam hati seraya menangkupkan kedua tangan ke pipinya. Jantungnya kembali berdegup kencang dan wajahnya memerah hingga daun telinganya.
Tok tok
"Onee-san, waktunya masak makan malam", terdengar bunyi ketukan pintu dan suara Hanabi dari luar. Hinata langsung tersadar dari pikirannya yang sempat meninggalkan untuk bermain-main dengan gambaran pemuda berambut pirang.
"Ha'i, nee-san akan segera turun", jawab Hinata, yang kemudian mengganti baju seragamnya dengan kaos hitam polos berlengan panjang dan celana legging berwarna senada.
Tidak lama kemudian Hinata menuju dapur untuk masak makan malam.
Ketika saat masak makan malam, Hanabi yang membantu Hinata terheran-heran dengan perubahan sikap kakaknya yang menurutnya lebih seperti gadis pada umumnya. Biasanya Hinata lebih banyak diam dan bersikap datar, namun kali ini di mata Hanabi kakaknya nampak senyum-senyum sendiri dan sedikit bersenandung.
"Hanabi, makan malam sudah siap. Tolong panggilkan Otou-sama untuk makan malam", ucap Hinata membuyarkan pikiran Hanabi terhadap kakaknya.
"Ha'i, Onee-san", jawab Hanabi singkat lalu berjalan meninggalkan dapur untuk memanggil ayahnya karena makan malam sudah siap.
Keluarga itupun makan malam dengan tenang. Hingga pria berumur 40 tahunan yang duduk berhadapan dengan kedua gadis itu buka suara.
"Bagaimana hari pertamamu di SMA Hinata?", tanyanya kepada anaknya yang bernama Hinata dengan suara beratnya. Hanabi yang dari tadi diam sekarang melirik kakaknya, menebak-nebak jawaban yang akan dikeluarkan Hinata.
Hinata yang ditanya seketika menghentikan kegiatan makannya dan meletakkan sumpit yang ia gunakan.
"Umm! Sangat menyenangkan Otou-sama! Akhirnya aku mendapatkan teman!", jawab Hinata semangat dengan senyum mekar di wajahnya hingga matanya menutup.
Hening sementara. Nampak Hanabi terdiam dengan mata melebar, ia melongo tidak percaya dengan ucapan kakaknya itu. Sedangkan ayahnya menutup mulutnya sendiri, matanya berkaca-kaca ingin menangis.
"A- ap- apakah itu benar Hinata?", ayahnya kembali bertanya dengan sedikit gagap, seakan tidak percaya dengan perkataan putri pertamanya itu.
"Umm Otou-sama, temanku juga tadi sempat mengantarkan ku pulang", jawab Hinata dengan masih menampilkan senyum di wajah cantiknya.
"Y- yokatta", ucap Hiashi lega, air matanya sudah mengalir deras. Ia bersyukur. Akhirnya putri pertamanya akhirnya mendapatkan teman pertamanya.
Grep
"Yokatta. Yokatta ne Onee-san", Hanabi yang sedari tadi memperhatikan percakapan keduanya pun tiba-tiba memeluk Hinata dari samping, ia juga menangis, bahagia karena kakaknya dapat berteman dengan orang lain.
"Arigatou, Otou-sama, Hanabi", ucap Hinata berterimakasih kepada keduanya sembari mengelus rambut Hanabi yang sedang memeluknya.
Suasana makan malam mereka diwarnai tangis bahagia.
"Ceritakan pada ayah caramu mendapatkan teman pertamamu Hinata", ucap Hiashi setelah menghabiskan makan malamnya. Ia tertarik untuk mendengarkan cerita bagaimana putri pertamanya itu mendapatkan teman.
"Ha'i Onee-san. Aku juga mau dengar", tambah Hanabi. Ia juga sangat penasaran dengan hal itu. Gadis berumur 13 tahun itu juga ingin tau apakah teman pertamanya jugalah yang mengubah sikap dan ekspresi kakaknya menjadi lebih normal.
"E- eh?", pekik Hinata yang kaget mendapatkan pertanyaan dari ayahnya.
Dengan sedikit malu dan gugup gadis berambut biru gelap itu menceritakan bagaimana dirinya bisa mendapatkan teman pertamanya, mulai dari kejadian ia pingsan saat istirahat makan siang hingga pulang bersama teman pertamanya. Ia menceritakannya dengan detail kepada ayah dan adiknya. Mimik wajahnya berubah-ubah sesuai dengan cerita yang disampaikan olehnya, kadang senang, kadang terasa sedih, dan terkadang ia tersipu malu dengan rona merah di pipinya, sebuah fenomena yang jarang ditampakkan oleh gadis itu kepada keluarganya.
"Hiks… Hiks… Pemuda itu sangat baik dan perhatian sekali pada putriku. Syukurlah pemuda itu yang menjadi teman pertama putriku. Aku sangat bahagia. Hiks…", tangis Hiashi kembali ketika Hinata selesai menceritakan proses mendapatkan teman pertamanya itu pada ayah dan adiknya.
"E- eh? Otou-sama jangan menangis lagi", Hinata gelagapan melihat ayahnya kembali menangis. Ia sedikit bahagia melihat reaksi dari ayahnya.
"Yokatta ne Onee-san. Aku senang Onee-san mendapatkan teman pertama yang baik dan perhatian pada Onee-san", ucap Hanabi sembari menyeka air matanya yang tersisa, ia senang kakaknya mendapatkan teman pertama yang baik.
"Umm, arigatou Hanabi, Otou-sama", ucap Hinata berterima kasih dengan tulus kepada ayah dan adiknya.
Untuk beberapa saat momen bahagia itu masih berlanjut.
"Ini dia ocha nya Otou-sama, Hanabi", setelah membereskan sisa makan malam, Hinata membuatkan ocha untuk menenangkan suasana yang tadi sempat agak ribut karena ayah dan adiknya menangis.
"Arigatou Hinata", ucap Hiashi menerima ocha yang dibuat putrinya dan kemudian meminumnya.
"Jadi, bisa kenalkan dengan ayah Uzumaki Naruto-san yang jadi teman pertamamu itu Hinata? Ayah ingin bertemu dengannya, ayah ingin berterimakasih", Hiashi berucap tiba-tiba setelah menaruh mug berisi ocha yang tadi ia minum.
"Eh?", Hinata sedikit terkejut karena permintaan yang dilontarkan ayahnya kepadanya untuk memperkenalkan Naruto.
"Umm, aku juga ingin melihat Naruto-oniisan", Hanabi angkat suara menguatkan permintaan ayahnya untuk memperkenalkan Naruto kepada orangtuanya.
Hinata terdiam. Ia berpikir untuk sesaat, menimbang-nimbang dan memperkirakan apakah Naruto mau untuk bertemu dengan keluarganya.
"B- baiklah, aku akan menanyakan terlebih dahulu kepadanya", Hinata menjawabnya dengan ragu sambil sedikit meremas ujung bajunya. Ia menunduk.
"Umm, bagus", Hiashi memberi tanggapan.
"Ahh, ayah ingin bertemu dengannya besok, karena lusa ayah akan pergi ke Suna untuk rapat dewan Asosiasi Budaya Jepang", tambahnya lagi kepada Hinata untuk mengundang temannya ke rumah besok karena ia ada rapat dewan. Hiashi merupakan anggota Asosiasi Budaya Jepang untuk delegasi Konoha.
"H- ha'i akan aku usahakan", jawab Hinata dengan terbata karena kaget dengan permintaan ayahnya untuk mengundang Naruto ke rumahnya besok.
"Aku serahkan kepadamu Hinata", ucap Hiashi sambil mengusap kepala anak bungsunya dan kemudian berlalu pergi ke kamarnya.
Sementara itu Hinata masih duduk di kursi meja makan. Ia tertunduk, wajahnya pucat pasi, keringat dingin keluar dari tubuhnya. Ia panik.
'E- ehhh, b- ba- bagaimana caranya m- mengajak Naruto-kun ke rumahku? A- apakah aku bisa dengan benar m- mengajaknya?', ucap Hinata dalam hati kecilnya, ia tidak tau bagaimana cara mengajak temannya untuk kerumahnya karena ini pertama kalinya ia mendapatkan teman.
"Onee-chan?", melihat kakaknya yang menunduk Hanabi lalu memanggil kakaknya, kemudian menggoyangkan sedikit bahu Hinata.
Hinata kemudian mendongakkan sedikit kepalanya, karena merasa dipanggil oleh adiknya, lalu ia menoleh. Mendapati raut wajah adiknya yang nampak khawatir dengannya. Hinata tersenyum simpul, ia bahagia karena memiliki adik yang pengertian dengannya, disaat ia dijauhi teman-temannya, Hanabi akan selalu menemani kesendiriannya.
"Umm, Onee-san tidak apa-apa Hanabi. Terima kasih. Onee-san kembali ke kamar dulu", ucap Hinata menenangkan Hanabi yang mengkhawatirkannya. Kemudian ia mengelus kepala adiknya dan beranjak pergi ke kamarnya.
Setelah memasuki kamar, Hinata kemudian mendudukan dirinya di tengah kasur. Lalu ia meringkuk, ia geleng-gelengkan kepalanya pada kedua lututnya yang melipat. Memikirkan bagaimana caranya ia mengajak Naruto untuk diperkenalkan kepada keluarganya.
Dilihatnya jam dinding yang menempel pada tembok menunjukkan pukul 9 malam. Sedikit termenung, kemudian tersadar bahwa ia sudah bertukar kontak dengan pemuda yang jadi teman pertamanya. Dirinya juga ingat bahwa Naruto akan menghubunginya nanti malam.
Dengan cepat gadis itu menyambar smartphone nya yang ada di meja belajarnya. Membukanya, berharap ada notifikasi pada aplikasi chatting nya. Namun ia harus mareasa sedikit kecewa karena tidak ada pesan baru yang masuk dari Naruto.
"Apakah Naruto-kun sudah tidur ya?", ucapnya pada dirinya sendiri, menerka-nerka apa yang dilakukan oleh pemuda berambut kuning.
"Apakah Naruto-kun lupa untuk menghubungiku?", tanyanya lagi, menduga bahwa Naruto lupa untuk menghubunginya.
Kemudian sebuah ide terlintas di kepalanya. Kalau Naruto belum menghubunginya kenapa tidak dirinya sendiri yang menghubungi pemuda itu.
Namun kemudian gadis itu terdiam. Ia belum menemukan cara bagaimana memulai percakapan dengan Naruto.
Setelahnya ia menjatuhkan dirinya ke kasur, bingung untuk memulai percakapan.
"Hahh…", Hinata menghela nafas panjang. Gadis itu merasa dirinya payah.
Disebuah rumah bergaya minimalis, pemuda yang diketahui bernama Naruto membuka pintu depan rumahnya yang terkunci. Terlihat ia baru pulang dari kegiatannya dengan masih mengenakan seragam sekolah Konoha High School.
"Tadaima!", ucapnya setelah membuka pintu.
Tap tap tap tap
Dari balik koridor rumah tersebut seekor kucing berwarna oranye berjenis domestik short hair berlari menuju pemuda itu.
"Meow!", kucing itu mengeong menyapa pemiliknya.
"Aku pulang Kurama, terima kasih telah menjaga rumah untukku", ucap Naruto riang pada kucingnya yang bernama Kurama sambil membelai kucing tersebut.
"Meow!", seakan paham ucapan dari majikannya, Kurama mengeong untuk menjawab ucapan terima kasih Naruto.
"Yosh! Ayo kita makan malam Kurama. Aku sudah lapar", ucap Naruto pada kucing kesayangannya. Kemudian ia berlalu pergi ke dapurnya untuk makan malam bersama kucingnya.
Setelah makan malam, pemuda itu kemudian berlalu pergi mandi untuk menghilangkan debu dan kotoran yang melekat di tubuhnya.
Tap tap tap
Suara langkah kaki pemuda berambut kuning berjalan keluar kamar mandi menuju kamar tidurnya. Terlihat bulir air masih berjatuhan dari rambutnya yang basah. Handuknya pun masih melingkar di lehernya. Sembari mengeringkan rambut pemuda itu berjalan ke arah meja belajarnya, kemudian mengambil smartphone nya.
"Ahh, sudah jam 21:35. Apa Hinata-chan sudah tidur? Aku berjanji untuk menghubunginya tadi", gumam pemuda itu saat melihat jam yang terdapat pada display gawainya. Lalu pemuda itu terdiam, menimbang-nimbang apakah ia harus menghubungi Hinata atau tidak.
"Meow!", Kurama mengeong, memecah suasana hening yang diciptakan pemuda itu. Kucing oranye itu bingung melihat pemiliknya yang hanya diam saja.
"Bagaimana Kurama? Apa aku hubungi saja Hinata-chan sekarang?", tanya Naruto pada kucing itu. Ia meminta pendapat pada hewan peliharaannya seolah-olah kucing itu adalah seseorang yang bisa memberi solusi dari permasalahan pemuda itu.
"Meow!", kucing itu mengeong memberikan respon.
"Umm, baiklah akan kukirim pesan kepadanya", ucap Naruto mengangguk, setelah Kurama memberikan respon. Kemudian ia membuka aplikasi pesan online pada smartphone nya. Mengetikkan sebuah pesan untuk gadis yang diantarkan pulang olehnya tadi.
From : Uzumaki Naruto
To : Hyuuga Hinata
Selamat malam Hinata-chan. Apakah kau masih bangun? Bagaimana keadaanmu?
Setelah ia menuliskan pesan singkat itu ia langsung mengirimkannya. Kemudian pemuda tersebut mendudukan diri di pinggir tempat tidurnya yang sebelumnya berdiri. Pemuda tersebut menunggu balasan pesan dari Hinata, berharap gadis yang baru berteman dengannya itu membalas pesannya.
Drrrtt drrrtt
Gadis cantik berambut indigo itu tersentak saat sedang asyik membaca buku sambil tiduran di kasurnya ketika merasakan smartphone di sampingnya bergetar menandakan ada notifikasi yang masuk. Dengan segera ia menyalakan smartphone nya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.
"Dari Uzumaki Naruto", gadis itu membaca nama pengirim pesan yang barusan masuk.
"Wahh, dari Naruto-kun!", ucap gadis itu kembali dengan sedikit berteriak kaget. Ia senang karena Naruto menepati janjinya untuk menghubunginya malam ini.
Dengan cepat Hinata membuka pesan online itu dan membacanya. Detik berikutnya gadis cantik itu tersenyum.
'Naruto-kun masih mengkhawatirkanku', ucap Hinata dalam hati. Dirinya senang karena pemuda berambut kuning itu masih mengkhawatirkannya dari kejadian siang tadi.
From : Hyuuga Hinata
To : Uzumaki Naruto
Selamat malam Naruto-kun. Aku masih bangun.
Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan keadaanmu?
Balas gadis itu setelah mengetikan pesannya kepada Naruto
Drrrtt drrrtt
Pemuda yang sedang duduk sambil membelai kucingnya di pinggir kasur itu pun menolehkan kepalanya ke samping karena smartphone nya bergetar tanda pesan masuk. Ia tersenyum simpul membaca nama pengirim pesan tersebut. Pemuda tersebut lalu membaca pesan balasan dari Hinata.
"Sepertinya Hinata-chan baik-baik saja Kurama", ucap Naruto pada kucing yang duduk di sampingnya setelah membaca balasan pesan dari Hinata.
"Meow!", kucing itu mengeong memberikan tanggapan kepada tuannya. Naruto yang mendengar Kurama mengeong kembali mengusap kucing oranye itu sambil tersenyum. Kemudian ia mengetikkan pesan balasan untuk Hinata.
From : Uzumaki Naruto
To : Hyuuga Hinata
Aku baik-baik saja Hinata-chan. Maaf aku agak lama menghubungimu, karena ada sesuatu yang harus kukerjakan.
Pemuda itu langsung mengirimkan pesan setelah mengetik balasannya.
Drrrtt drrrtt
Kembali smartphone milik Hinata bergetar. Dengan posisinya yang masih tiduran, langsung saja gadis itu membuka dan membaca isi pesan dari Naruto. Agak sedikit penasaran dengan kegiatan yang membuat pemuda tersebut sedikit telat menghubunginya. Setelah membacanya kemudian ia mengetikkan balasan pesan pada Naruto.
From : Hyuuga Hinata
To : Uzumaki Naruto
Bukan masalah Naruto-kun. Kalau boleh tau, apa yang Naruto-kun kerjakan tadi?
Setelah mengetikkan pesan tersebut, gadis itu kemudian langsung mengirimkan balasannya.
Drrrtt drrrtt
Naruto yang saat ini posisinya tiduran pun kembali membuka smartphone nya. Membaca pesan balasan gadis itu. Sebelum membalas pemuda tersebut sedikit memikirkan sebuah ide. Dan tidak lama kemudian ia menganggukkan sedikit kepalanya tanda pemuda itu menemukan sebuah ide yang menurutnya bagus.
From : Uzumaki Naruto
To : Hyuuga Hinata
Hanya membantu kenalanku di toko buku. Ohh iya, kau ingin mendapatkan teman lebih banyak kan Hinata-chan?
Kirim.
Drrrtt drrrtt
Gawai gadis itu kembali bergetar saat ada pesan masuk dari Naruto, yang kemudian langsung ia baca. Gadis itu tersenyum ketika membaca pesan dari Naruto yang menanyakan apakah ia ingin memiliki banyak teman.
From : Hyuuga Hinata
To : Uzumaki Naruto
Ha'i, aku sangat ingin memiliki banyak teman Naruto-kun. Aku menginginkan masa SMA terbaik bersama teman-teman.
Gadis itu tersenyum sembari mengirimkan pesan balasan untuk Naruto.
Drrrtt drrrtt
Naruto yang kini memantau balasan pesan dari Hinata sedikit senang karena gadis tersebut membalas pesannya dengan responsif. Dengan segera pemuda itu membuka balasan pesan dari Hinata. Untuk sesaat pemuda itu terdiam dengan mata yang sedikit melebar, namun setelah itu ia langsung tersenyum tulus. Pemuda itu sempat terdiam karena balasan pesan yang ia dapat dari gadis yang siang tadi pingsan. Ia sedikit terdiam karena kalimat yang ia gunakan sewaktu perkenalan diri di depan kelas digunakan oleh Hinata untuk jawaban dari pesan Naruto yang sebelumnya.
From : Uzumaki Naruto
To : Hyuuga Hinata
Jawaban yang bagus Hinata-chan!
Aku punya ide untuk menambah jumlah temanmu Hinata-chan. Bagaimana kalau aku memperkenalkanmu kepada dua sahabatku? Kebetulan mereka juga satu kelas dengan kita, namanya Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura. Bagaimana Hinata-chan?
Naruto mengetikkan ide yang ia pikirkan sebelumnya, dan langsung mengirimkan pesannya.
Drrrtt drrrtt
Sama seperti pemuda yang jadi teman chatting nya, gadis ini pun menunggu balasan pesan dari Naruto. Saat ada pesan baru, gadis itu langsung membuka dan membacanya. Gadis itu pun berpikir sejenak sebelum mengirim balasan pesan untuk Naruto. Namun tidak berselang lama Hinata meyakinkan dirinya untuk menjawab tawaran yang diberikan oleh Naruto kepadanya.
From : Hyuuga Hinata
To : Uzumaki Naruto
Ha'i, dengan senang hati Naruto-kun. Mohon bantuan dan kerjasamanya
Gadis itu pun mengangguk, menandakan ia yakin dengan jawaban yang akan diberikannya kepada Naruto. Kemudian ia mengirimkan pesan tersebut.
Drrrtt drrrtt
Pemuda berambut kuning itu dengan cepat membuka pesan yang baru masuk dari Hinata. Ia tersenyum puas karena jawaban yang diberikan oleh gadis itu sesuai dengan harapannya.
Obrolan via chatting itu berlangsung cukup lama dan seru bagi keduanya. Hingga tidak terasa waktu menunjukkan pukul 00:30.
From : Uzumaki Naruto
To : Hyuuga Hinata
Wah, ternyata sudah mulai larut malam.
Aku harus bangun awal pagi nanti untuk menyiapkan bento.
Maaf Hinata-chan sampai disini dulu malam ini. Kau juga harus istirahat.
Terima kasih banyak atas waktunya Hinata-chan. Selamat malam.
Sampai jumpa di sekolah
Ucap Naruto pada pesannya untuk menyudahi percakapan mereka malam ini. Tidak lama setelahnya pemuda itu memposisikan dirinya untuk tidur. Ia menyempatkan melihat Kurama yang sedang tertidur nyaman di dekat ujung tempat tidurnya. Pemuda itu tersenyum sebelum menutup matanya untuk tidur.
Drrrtt drrrtt
Kembali Hinata membuka pesan masuk dari Naruto untuknya. Gadis itu tersenyum membaca pesan dari Naruto. Kemudian mengetikan karakter yang ada pada layar smartphone nya untuk membalas pesan pemuda itu.
From : Hyuuga Hinata
To : Uzumaki Naruto
Ha'i Naruto-kun, tidak masalah. Aku juga cukup mengantuk.
Terima kasih kembali Naruto-kun.
Selamat malam. Sampai jumpa di sekolah
Hinata mengirim pesannya setelah mengetik isi balasan. Gadis itu kemudian sedikit membenarkan posisi tidurnya, mengenakan selimut, dan bersiap untuk tidur. Ia tersenyum senang karena hari ini dirinya mendapatkan teman pertamanya, dan barusan pengalaman baru juga didapatkannya setelah ngobrol panjang lebar dengan teman barunya. Sebelum gadis itu tidur, dirinya menyempatkan bersyukur pada Kami-sama karena ia berhasil mendapatkan teman pertama yang baik, dan perhatian.
"Oyasuminasai Naruto-kun", ucap Hinata pelan dengan senyum dan rona di pipinya sebelum gadis itu benar-benar tertidur.
