(A/N): Hanya sekedar informasi. Dimohon untuk jangan terlalu banyak review dengan permintaan "CEPAT LANJUT". Fic ini hanya ke-isengan Ero yang lagi bingung buat menulis cerita Ero di akun utama milik Ero. Ya, ini akun kedua Ero, dan cerita ini hanya untuk sampingan saja. Ero hanya akan mengetik di akun ini di saat Ero gak dapet ide buat cerita Ero di akun yang satu lagi, ataupun di saat lagi males buat menulis genre petualangan.

Oke, itu saja. Silakan menikmati cerita penuh gairah ini.

.

.

.

My Life has Changed

Disclaimer:

Naruto milik Masashi Kishimoto.

High School DxD milik Ichie Ishibumi.

Dan Semua Karakter Milik Pengarang-nya Masing-masing.

Genre: Lemon, Mature, Harem, Hentai, Ecchi, School Life, Etc.

Pair: Naruto x Harem

Rated: M (Mature for Sex scene!)

Warning: 18 (FOR SEX SCENE!) INCEST! Tata Bahasa Kacau, Bahasa Terlalu Kaku, Alur Gaje, Typo(s), Etc.

.

Summary: Naruto, seorang pemuda yang menjalani kehidupannya dengan normal. Namun, kehidupannya itu mulai berubah menjadi lebih ber-gairah dan panas, ketika dia mengetahui sebuah fakta, bahwa … adiknya ternyata adalah seorang succubus!

Chapter 1: Sebuah Fakta yang Mengubah Hidup

.

.

.

"Hoaamm …!"

Namikaze Naruto, itulah nama dari orang yang baru saja menguap dengan lebar. Dia baru saja bangun dari acara tidurnya. Mengedarkan pandangannya ke segala arah, satu alisnya pun langsung terangkat. "Lho? Ke mana semua orang?!"

Mata sewarna safirnya pun melirik pada jam dinding yang ada di atas sebuah papan tulis. "Jam setengah empat sore," gumamnya. Dia pun menepuk jidatnya, "Aku ketiduran. Dan lagi, kenapa tidak ada yang membangunkanku?!" lanjutnya setengah berteriak dengan marah. Ia mengacak-acak dengan kesal rambut kepalanya yang memiliki warna kuning model jabrik. Heran, punya teman satu kelas, tapi kenapa tidak ada yang mau membangunkan dirinya jika jam sekolah sudah habis.

Ya, Naruto saat ini ada di dalam ruang kelas. Kelas 2-B tepatnya. Menghelas napas pelan, dia pun mulai merapikan buku-bukunya dan memasukkan-nya pada tas miliknya.

Sreeek ….

Menghentikan kegiatannya sesaat, Naruto pun menatap pada pintu kelasnya. Di ambang pintu yang terbuka itu, berdiri seorang gadis dengan rambut kuning panjang dengan poni yang menutupi jidatnya. Wajah gadis itu terlihat cemberut saat melihat orang yang sudah dia anggap sebagai kakak malah hanya diam menatapnya. "Kamu pasti ketiduran 'kan, Onii-sama?" ucapnya.

Terkekeh pelan, Naruto pun mengambil tasnya dan menentengnya. Ia berjalan ke arah perempuan tadi yang masih setia berdiri di ambang pintu kelas. "Hahaha, ya … begitulah."

"Aku sudah menunggumu dari tadi, kamu tahu?!" Gadis itu menggembungkan pipinya. Kesal, karena dibuat berdiri selama setengah jam di gerbang sekolah oleh Naruto. Sedangkan sang pemuda malah enak-enakan tidur disini. Terlebih lagi, dia tidak merasa bersalah sama sekali karena sudah membuatnya lelah menunggu di depan sekolahan.

Naruto tersenyum kecil. "Hai', hai', maaf sudah membuatmu menunggu selama itu, Imouto." Dia mencubit pipi adiknya pelan dengan gemas, membuat sang empu mengaduh kecil.

"Sakiiit~, Onii-sama!" Pukul si gadis kuning pada dada kakaknya.

"Aduh, aduh …," kata Naruto sambil berpura-pura memasang raut wajah sakit, "Oke, maaf. Ayo pulang kalau begitu."

Gadis tadi pun mengangguk kecil, kemudian mengikuti langkah Naruto di sampingmya.

Namikaze Naruto adalah anak kedua dari pasangan Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Keduanya adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak cabang perusahaan, baik di dalam negeri ataupun di luar negeri. Karena kesibukan mereka itulah, kadang membuat Naruto selalu di rumah sendirian bersama adiknya akibat kedua orang tuanya yang sering pergi ke berbagai tempat.

Ya, Naruto memang sudah biasa akan hal itu sejak kecil, jadi dia tidak terlalu mempermasalahkan kalau orang tuanya tidak ada di rumah. Lagipula, semua yang kedua orang tuanya lakukan juga demi masa depan anak-anaknya kelak.

Naruto sudah biasa seperti itu di rumah. Dia menikmatinya juga. Tapi, semua itu berubah sejak satu tahun yang lalu, ketika kedua orang tuanya membawa satu anggota keluarga baru ke rumah mereka. Seorang gadis yang Minato angkat menjadi anaknya. Asia Argento, itulah namanya.

Asia Argento, atau mungkin sudah berubah nama menjadi Namikaze Asia, adalah seorang gadis yang dulu baru berumur 15 tahun. Kata Minato, dia mengadopsi gadis itu dari sebuah panti asuhan. Tidak tahu kenapa alasannya, seperti pria Namikaze itu hanya ingin membawa gadis tersebut untuk dia jadikan salah satu keluarganya saja. Kushina sendiri tidak menolaknya, dan Naruto serta adiknya pun begitu. Lagipula, itu juga hal baik, karena dengan begitu … ada seseorang lagi yang bisa menemani Naruto dan adiknya saat orang tua mereka pergi ke luar negeri.

Menurut Naruto dan adiknya, yang pertama kali melihat Asia, dia adalah tipe gadis yang pemalu. Untuk awalnya, bahkan mereka berdua sendiri mangalami kesulitan walau hanya untuk berbicara pada keluarga barunya tersebut.

Asia tidak banyak bicara. Tapi, setelah banyaknya waktu yang gadis itu habiskan di keluarga Namikaze, secara perlahan … sifat pemalunya sedikit berkurang. Dan tentu saja hal itu membuat keluarga Namikaze menjadi senang.

Saat ini umur Asia adalah 16 tahun, berselisih dengan Naruto yang baru 17 tahun dan adiknya yang berumur 15 tahun. Naruto dan Asia sekarang bersekolah di tempat yang sama. Konoha Senior Highschool, itulah tempat adik-kakak tak sedarah tersebut dalam menimba ilmu. Naruto kelas dua, sedangkan Asia kelas satu. Lalu adik Naruto yang lain bersekolah di Konoha Junior Highschool, kelas tiga tepatnya.

Mungkin hanya segitu saja untuk perkenalannya.

—o0o—

Naruto dan Asia saat ini sudah berdiri di depan gerbang sebuah rumah besar dengan lantai tiga tingkat. Ya, mereka berdua berjalan kaki dari sekolah. Tidak, bukannya mereka tidak punya kendaraan, justru di dalam garasi rumah besar keluarga Namikaze itu, ada banyak jenis berbagai motor dan mobil. Hanya saja, karena jarak rumah mereka dengan SMA Konoha cukup dekat, jadi keduanya lebih memilih untuk jalan kaki daripada harus naik kendaraan yang biasanya akan berujung pada kemacetan.

Gerbang itu terbuka. Naruto dan Asia hanya tersenyum singkat kepada penjaga gerbang yang membukakan gerbang tadi. Setelah itu, keduanya pun terus berjalan menuju rumah yang berjarak beberapa meter dari gerbang. Ya, itu karena halaman rumah mereka yang terlampau luas. Bahkan, butuh hampir satu menit untuk berjalan dari gerbang ke pintu rumah mereka.

"Tadaima/Tadaima~"

"Okaeri~"

Muncul seorang gadis berambut kuning panjang yang diikat twinstail dari ruang tamu. Namanya adalah Namikaze Naruko, adik kandung Naruto. Dia tersenyum cerah saat melihat kedua kakaknya sudah pulang.

Naruto menatap heran pada adiknya. "Oh, kau sudah pulang, Naruko?" Biasanya adiknya tersebut akan pulang lebih sore dikarenakan ada materi tambahan dari pihak sekolah. Biasa lah ..., untuk persiapan Ujian Nasional karena Naruko sekarang sudah kelas tiga SMP.

"Ya, begitulah. Tidak ada les hari ini, kok," jawab gadis berambut twinstail itu dengan senang. Ya, jarang-jarang 'kan, dia bisa pulang lebih cepat, sehingga bisa mengistirahatkan pikirannya yang lelah dikarenakan banyaknya materi, yang ditampung di dalam otaknya.

Setelah itu, Naruko pun kembali menuju ruang tamu untuk menonton acara televisi.

Naruto dan Asia hanya mengangguk mengerti. Melepas sepatu mereka dan meletakkannya ke tempat alas kaki, keduanya pun mulai melangkah ke dalam rumah.

"Kau cepatlah duluan mandi, Asia."

Gadis itu hanya mengangguk sambil bergumam pelan, tatkala mendengar perintah sang kakak.

Naruto sendiri berjalan ke arah dapur, berniat mengambil minuman untuk membasahi kerongkongannya yang sedang kering.

"Haah~" desahnya saat merasakan kesejukan dari minuman dingin yang ada di tangannya, mulai memasuki tenggorokkannya. Dia pun berjalan ke ruang tamu. Setelah mendudukkan dirinya ke sofa empuk, mata safirnya menatap ke seluruh ruangan tersebut.

Beberapa menit terdiam, dia hanya membiarkan pikirannya untuk istirahat sejenak, tidak menghiraukan Naruko yang ribut pada acara TV yang sedang ditotonnya. Naruto sendiri tidak begitu mengetahui acara televisi apa itu.

Tap … tap … tap ….

"Naruto-Nii, aku sudah selesai mandi. Aku juga sudah menyiapkan air hangat untukmu."

"Hm?" Naruto menoleh sedikit ke belakang, "Ah, iya, maaf sudah merepotkanmu, Asia."

Asia menggeleng kecil. "Umm, tidak masalah, Onii-sama." Dia tersenyum manis ke arah kakaknya, lalu berjalan menuju dapur, "Cepatlah mandi, setelah itu … kita makan malam."

Naruko menatap antusias pada kakak perempuannya yang sedang berjalan menuju dapur. "Aku akan membantu!"

Asia menoleh pada Naruko sambil tertawa kecil. "Boleh saja. Mari!" Si kecil Namikaze itupun langsung berlari mengikuti kakak angkatnya.

Naruto hanya memandang sesaat tubuh mungil kedua adiknya tersebut, lalu tertawa pelan. Dia senang karena mereka berdua sudah sangat akrab. Setelahnya, remaja berambut kuning itu pun bangkit dari duduknya, dan mulai berjalan ke kamar mandi.

Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, Naruto berjalan ke arah dapur. Ia melihat bahwa kedua adiknya tersebut sedang memasak sesuatu yang entah tidak dia ketahui.

Tersenyum jahil, dia pun berjalan mengendap-endap di belakang tubuh Asia, bermaksud untuk mengagetkan adiknya. Pemuda itu memasang ekspresi "tolong diam" pada Naruko, yang dibalas gadis itu dengan mengangguk polos. Saat tinggal dua langkah lagi, dia pun mengangkat kedua tangannya—

"Jangan lagi, Naruto-Nii!"

—dan kaget sendiri hingga membuatnya jatuh tidak elitnya. Ternyata Asia sudah menyadari keberadaannya.

Naruko yang melihat itu tertawa keras. Dia pun berteriak seperti "Huu~" atau semacamnya, berniat mengejek kakak tertuanya yang saat ini masih duduk di lantai. Naruto yang ditertawai adik kecilnya hanya mendengus pelan.

"Huh … kok, kau bisa tahu, sih?" tanya si pemuda dengan heran sambil mengelus punggungnya.

Asia menghela napas, lalu membalikkan tubuhnya, menghadap pada kakak angkatnya. "Kamu sudah sering melakukannya, jadi aku sudah menduga hal ini akan terjadi lagi," ujarnya sambil memutar matanya bosan. Asia pun kembali membalikkan badannya, melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda gara-gara Naruto.

Naruko terkikik geli, yang dibalas Naruto dengan delikan tajam pada adik kecilnya. Setelah itu, Naruko kembali membantu Asia yang sedang memasak.

Naruto sendiri hanya menghela napas. Gagal sudah kegiatan mengerjai adik angkatnya. Dia yang sudah berdiri, hanya menengok pada apa yang sedang dimasak kedua adiknya. Sup miso, itulah yang dia lihat. Membiarkan adiknya menyelesaikan kegiatannya, Naruto pun duduk di kursi meja makan.

Ya, keluarga Namikaze memang tidak memperkerjakan pembantu atau semacamnya untuk mengurusi kebutuhan sehari-hari. Ini juga bertujuan untuk melatih kemandirian anak-anak mereka nantinya. Karena itulah, mereka hanya memperkerjakan penjaga rumah saja, yang bertugas di siang dan malam hari.

Setelah menunggu beberapa menit, masakan buatan Asia dan Naruko pun datang. Ketiganya berdo'a sesaat, sebelum mulai menyantap makan malam mereka. Makan malam itu terasa tenang, karena bagaimana pun, tidak baik berbicara ketika sedang makan. Adik-kakak itu hanya makan bertiga, karena kedua orang tua mereka sedang pergi ke luar negeri sampai beberapa hari ke depan.

Makan malam tersebut berakhir. Karena tadi yang memasak adalah Asia dan Naruko, maka tugas yang membersihkan peralatan yang kotor adalah bagian Naruto.

Asia melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Menguap pelan, dia pun beranjak menuju kamarnya yang ada di lantai dua. "Aku tidur dulu ya, Onii-sama."

Naruko mengucek matanya dengan pelan. Terlihat imut. "Aku juga," ujarnya, lalu menguap kecil.

"Ya," jawab Naruto tanpa menoleh sedikitpun.

Tik … tik … tik ….

Jarum jam terus berdetik, menemani Naruto yang saat ini sedang menonton televisi, setelah dirinya tadi menyelesaikan pekerjaannya. Beginilah kesehariannya, bangun pagi, pergi ke sekolah, pulang, makan, nonton televisi dan tidur. Dia jarang pergi ke luar rumah, mungkin … dia hanya pergi disaat ada teman laki-lakinya yang mengajak saja. Perempuan? Dia jarang keluar bersama mereka, atau bahkan tidak pernah? Ya, mungkin beberapa kali saja, dan itu pun beramai-ramai dengan teman laki-lakinya yang lain. Tidak pernah dia pergi berdua saja bersama seorang gadis, oke … mungkin hanya bersama adiknya saja dia melakukan hal itu. Dia tidak pernah memiliki niat untuk mendekati seorang gadis, lagipula untuk apa dia melakukan hal itu? Pacaran? Tidak ada untungnya juga. Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan-nya. Ya, seperti inilah kehidupan seorang Namikaze Naruto. Datar. Tidak ada yang menarik.

Merasa kalau matanya sudah mengantuk, Naruto pun mematikan TV-nya. Setelah itu, ia mengambil gelas minumnya dan membawanya ke wastafel.

Tidak ingin membuang waktu karena matanya sudah benar-benar merasakan kantuk yang luar biasa, dia mulai melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai dua.

Tapi, mata yang sudah hampir tertutup itu kembali terbuka, tatkala dirinya yang sedang lewat di depan kamar adik angkatnya. Naruto mendengar suara aneh.

Merasa kalau itu cuma perasaannya saja, dia pun berniat melanjutkan jalannya. Tapi, belum sempat dia melangkah, telinganya kembali mendengar suara seperti tadi.

"Ah~"

Naruto mengerjap beberapa kali. Dia pun mendekatkan telinganganya ke pintu kamar sang adik, dan benar saja kalau suara itu berasal dari dalam sana.

'Tunggu … beneran suara itu dari kamar Asia?!' batinnya tidak yakin. Tapi, sekeras apapun dirinya menolak kenyataan di depannya, suara dari dalam sana benar-benar sudah membuktikannya.

"Ah, hyaah! Ah, ah, ahaa …! Engh, ah!"

Semakin lama, suara di dalam sana juga semakin keras terdengar. Naruto menggeleng keras. Dia pun membatin, 'Tidak, itu tidak mungkin. Asia adalah gadis yang baik, jadi telingaku pasti sedang rusak. Ya, begitulah … ahaha ….'

"Hyaaan!"

Naruto terlonjak kaget saat mendengar suara desahan barusan. Dia yang saat ini sedang terduduk, hanya bisa mengelus dadanya. Mencoba menormalkan detak jantungnya. Masa' benar, Asia sedang melakukan "itu"?! Naruto menggeleng keras, mencoba mengenyahkan pikiran aneh yang saat ini berputar-putar di kepala kuningnya. Tapi, suara-suara desahan tadi sudah membuktikannya, 'kan?

Setelah itu, dia pun mengangguk mantap. Dia akan mengintip apa yang saat ini sedang dilakukan adiknya, agar tahu kebenaran apa yang saat ini mengganggu pikirannya. Bergerak pelan, dia pun berniat membuka pintu tersebut sepelan yang dia bisa, lalu mengintip sebentar saja dari celah kecil tersebut. Ternyata Asia lupa mengunci pintu kamarnya!

Setelah memantapkan hatinya lagi, ia mendekatkan matanya pada celah pintu yang telah ia buat. Betapa terkejutnya dia, di dalam sana, Asia sedang berpeluh dengan mulut terbuka. Tubuhnya polos tanpa tertutupi sehelai benang pun. Tangan kanannya meremas dadanya yang sudah tumbuh sedikit untuk ukuran remaja seusianya, sedangkan jari tangan kirinya melakukan gerakan keluar-masuk di area kewanitaannya. Mulutnya terus mengeluarkan suara yang begitu erotis, dan Naruto akui … suara adiknya terdengar sangat begitu indah. Bahkan, hanya dengan mendengar lantunan desahan tersebut, sudah berhasil membuat si junior Naruto untuk bangun dari tidurnya.

Naruto menggeleng. Tidak, itu tidak boleh. Meskipun Asia hanyalah adik angkatnya, dia tidak boleh sampai melakukan hal ini pada si gadis ber-marga asli Argento tersebut. "Sebaiknya aku kembali saja ke kamar. Lagipula, aku tidak tahu alasan apa yang dia miliki sampai melakukan hal ini," gumamnya lemas. Dia pun berniat menutup pintu itu, tapi karena terlalu keras dia menutupnya … sehingga menciptakan suara yang berhasil membuat Asia sadar dari "kegiatan menyenangkannya".

'Waduh, gawat, nih. Kalau sampai aku ketahuan …,' batin Naruto panik. Ah, tidak ada waktu untuk berdiam diri. Berniat kabur, tapi sudah terlambat—

Cklek … krieeet ….

"Onii-sama?!"

—karena pintu di belakangnya sudah terbuka.

Naruto menoleh dengan gerakan patah-patah, dan nampaklah Asia yang berdiri dengan tubuh yang dibaluti sebuah selimut besar.

"Apa yang kamu—"

Bruk!

Saat melihat Asia yang akan berteriak, Naruto langsung menerjang ke arah gadis itu sambil berusaha menutup mulutnya, sehingga membuat keduanya jatuh terlentang di atas lantai. Naruto di atas, sedangkan Asia di bawah. Beruntung Naruto tadi sempat menahan kepala belakang gadis itu, sehingga membuat kepalanya tidak menghantam lantai di bawahnya. Selimut yang membalut tubuh gadis itu sedikit acak-acakan, hingga membuat beberapa lekuk tubuhnya dapat dilihat dengan jelas.

Jarak mereka sangat dekat, bahkan tubuh mereka saling berdempetan. Ya, yang memisahkan mereka hanya beberapa lembar kain, pakaian Naruto dan selimut Asia.

Wajah Asia memerah saat menyadari posisinya dan juga kakaknya sekarang terlihat begitu erotis. Bisa gawat kalau tiba-tiba Naruko melihat mereka saat ini. Dia mencoba bergerak, memberontak dari kekangan kakaknya.

"Tunggu-tunggu-tunggu, Asia! Ini tak seperti yang kau pikirkan!" Naruto berkata degan panik saat melihat raut wajah adiknya yang tampak hampir menangis.

Asia tidak membalas, karena mulutnya saat ini masih dibekap oleh kakaknya. Mata hijau terang miliknya menatap kedua safir kakaknya.

Entah mengapa, Naruto seperti merasa terhipnotis oleh adiknya. Tidak, bukan hipnotis dalam artian yang sesungguhnya, tetapi hipnotis akibat baru menyadari kecantikan Asia yang sesungguhnya ketika dari dekat. Wajah putih, cantik. Mata hijau terang, indah. Rambut kuning, mirip seperti miliknya. Secara tidak sadar, tangan Naruto melepas bekapannya pada mulut sang adik. Wajahnya ia dekatkan pada wajah Asia. Matanya tertutup saat wajahnya semakin dekat dengan wajah sang adik.

Asia yang melihat itu awalnya terkejut dan panik saat menyadari apa yang akan dilakukan oleh kakaknya, tapi sesaat kemudian, gadis tersebut malah menyeringai senang. Ya, dia sekarang akan mendapatkan kembali apa yang sudah lama tidak dia dapatkan.

Sebenarnya, dia adalah succubus, iblis mimpi dan hawa nafsu yang selalu haus akan kegiatan intim dan seksual. Dia dulunya hanyalah seorang gadis biasa, tapi pada suatu malam … dia menemukan seorang gadis succubus yang sedang terluka. Lukanya parah, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah membiarkan succubus itu untuk mencari tubuh yang baru. Karena itulah, Asia yang saat itu masih polos, merasa tidak tega tatkala melihat keadaannya,djadi Asia membiarkan succubus itu masuk ke dalam dirinya. Keduanya pun saling berbagi tubuh sampai saat ini.

Karena di dalam tubuh Asia ada seekor succubus, maka secara tidak langsung membuat gadis itu memiliki sifat iblis yang ada dalam dirinya. Bahkan, Asia juga bisa melakukan sihir yang dimiliki succubus tersebut.

Asia yang saat itu ada di dalam panti asuhan, membuat succubus itu tidak bisa melakukan "rutinitas kesenangannya" seperti saat memakai tubuhnya sendiri dulu. Karena itulah, succubus itu bilang pada Asia, untuk memintanya mencari orang tua angkat. Asia yang sepertinya paham akan kesengsaraan dari "diri" lainnya, memenuhi keinginan sang succubus. Dan akhirnya, dia pun berhasil masuk ke keluarga Namikaze setelah dia menghipnotis Minato dan Kushina.

Dan disinilah dia, di rumah ini, succubus itu bisa leluasa melakukan kesenangannya menggunakan tubuh Asia setiap malam. Asia sendiri juga tidak menolaknya, entah mengapa … dia juga menyukai kegiatannya tersebut, dan semakin lama serta seringnya dia melakukannya … dirinya seperti merasa kecanduan akan sentuhan. Tidak ada yang mengetahui rutinitasnya setiap malam. Semua aman. Tapi, itu berakhir pada malam ini, karena dirinya sudah ketahuan oleh sang kakak angkat.

Awalnya Asia berpikir kalau Naruto akan memarahinya, tapi ternyata … siapa yang menyangka kalau kakaknya itu akan mendekati tubuh polosnya ini. Dan ini merupakan kebahagiaan bagi si succubus. Setelah sekian lama, dia akan bisa merasakan lagi bagaimana rasanya berhubungan badan. Karena sejak memakai tubuh Asia, dia tidak pernah melakukan hal "itu", dan tentu saja dia tidak mau memaksa inang-nya untuk melakukannya. Sang succubus memilih untuk membiarkan Asia merasakan apa itu yang namanya hubungan intim ketika gadis polos itu sudah siap saja.

Kembali pada cerita.

'Asia, kau yakin akan melakukan hal ini?' tanya sang succubus lewat telepati.

'Y-Ya, kamu juga sudah lama tidak me-merasakannya, 'kan?' balas Asia melalui telepati juga.

'Ini pertama kali untukmu, jadi kau harus bisa menahannya, oke?'

Asia hanya mengangguk. Tak lama setelah itu, dapat dia rasakan sebuah benda hangat menempel di bibirnya. Dia mendapat ciuman pertama, dan itu dari sang kakak!

"Ugh …."

Tubuh mungil gadis itu menggeliat saat merasakan ciuman sang kakak terasa semakin dalam, semakin panas. Tiap detik berlalu, jantung Asia juga semakin berdetak lebih kencang. Dapat gadis itu rasakan betapa manisnya mulut lelaki di atasnya.

Naruto mengangkat kepalanya. Wajahnya memerah, begitupula pada Asia. "Maaf, Asia! Aku …."

Asia menggeleng. Dia memalingkan wajahnya ke samping. "Tidak apa-apa, Onii-sama. Ini pertama kalinya untukku, jadi … lakukanlah dengan pelan, oke?"

Seperti mendapat sebuah persetujuan dari adiknya, mata pemuda itu pun melebar. Naruto langsung kembali mencium bibir Asia. Ciuman yang lembut, berusaha memberi kenyamanan bagi keduanya. Bagaimana pun juga, ini pertama kalinya untuk mereka. Jadi, Naruto akan membuat kegiatan ini sebagai kenangan yang tidak akan pernah mereka lupakan untuk selamanya.

Naruto menggerakkan lidahnya, mengusap bibir bawah dan atas milik gadis di bawahmya, sebelum memberikan gigitan kecil yang membuat Asia untuk membuka mulut mungil tersebut. Tidak membiarkan kesempatan itu hilang, Naruto langsung melesatkan lidahnya untuk masuk. Mengabsen tiap gigi rapi milik Asia. Meng-observasi langit-langit mulut gadis berambut kuning tersebut. Tidak lupa juga, dia pun mengajak lidah Asia untuk ikut berdansa, meskipun masih terasa kaku akibat gadis berusia 16 tahun itu belum terbiasa. Saling bersilat lidah, itulah yang keduanya lakukan, meskipun sebenarnya hanya Naruto saja yang mendominasi. Decakan seksi keluar dari kedua mulut yang saling bertautan tersebut. Selama beberapa menit, Naruto terus saja yang mendominasi karena Asia masih tetap diam, terlalu malu atau mungkin masih ragu akan apa yang sedang mereka lakukan saa ini.

"Emmm ... hah! Akh, egh!" Memukul dada bidang kakaknya dengan pelan, memberi tahu bahwa dirinya sudah hampir kehabisan napas. Naruto yang paham akan hal itu pun menjauhkan wajahnya dari Asia.

Napas keduanya tampak tak beraturan. Terus menarik udara ke dalam paru-paru mereka dengan rakus, seakan masih belum cukup akan sebanyak apapun mereka menghirup oksigen.

Wajah Naruto dan Asia memerah. Keduanya saling menatap dengan sorot mata lembut. Tersenyum singkat, itulah yang Naruto lakukan saat melihat wajah adiknya sudah memerah padam. "Masih ingin dilanjut, hmm?"

Mengatur napasnya, Asia pun mengangguk. "Sudah terlanjur juga, nanggung kalau berhenti sekarang," ujarnya masih dengan terengah. Entah kenapa, rasa malu langsung menggelitik hatinya, sesaat setelah dirinya sadar akan apa yang baru saja dia katakan. Gadis itu pun menutup wajahnya yang semakin memerah.

"Kyaa~" Seperti itulah suara malu Asia tatkala menyadari ucapannya tadi yang terkesan menantang kakaknya. Padahal dia secara tidak sadar mengatakan hal itu, tapi tetap saja dia malu. Ingin sekali dia segera menutup wajahnya dengan bantal dan masuk ke dalam selimut saat ini juga.

Naruto terkekeh pelan. Dia senang malihat kelakuan adiknya ini. Imut, satu kata itulah isi dari pikiran Naruto ketika melihat Asia yang terlihat malu-malu.

Setelah menutup pintu kamar adiknya tanpa menguncinya sama sekali, ia pun langsung mengangkat tubuh adiknya ke dalam rengkuhannya, tidak lupa dengan selimutnya juga, lalu membawanya ke atas kasur yang memiliki ukuran Queen size.

Naruto menatap lembut Asia yang masih menutup wajahnya dengan ke sepuluh jari tangan. Senyuman tulus ia berikan untuk si gadis. "Kau siap?" tanya sang pemuda dengan tangan yang memegang ujung selimut, berniat membuka tubuh adiknya yang tertutupi satu kain tersebut.

Dengan lewat sela-sela jarinya, dia menatap mata safir di depannya. "Tapi … aku malu, Onii-sama," ujarnya dengan menggigit bibir bawahnya. Terlihat manis di mata Naruto, dia rasanya ingin sekali langsung menerkam adiknya sekarang juga—tapi itu tidak boleh. Ini pertama kalinya untuk mereka, jadi dia harus bersikap selembut mungkin.

Naruto mengangguk pelan. Dia paham perasaan adiknya ini, makanya dia tidak akan memaksa. Biarkan saja waktu yang berlalu bagaimana nantinya. Mengelus rambut Asia pelan, yang kemudian langsung ia dekatkan lagi wajahnya pada wajah gadis di bawahnya tersebut.

Mengecup pelan mulut mungil itu, yang kemudian semakin ganas setiap detiknya. Saling melumat dan menggigit kecil, Naruto terus melakukan hal itu, akibat candu yang dirasakannya pada bibir manis Asia.

"Engh, … emmhh!" Desahan kembali terdengar dari mulut Asia. Tidak ingin terus didominasi, gadis itu pun ikut membalas ciuman dari kakaknya. Naruto awalnya terkejut saat merasakan balasan dari adiknya, tapi kemudian dia pun tersenyum senang.

"Aha, aaah~ Narutoh—"

Desahan gadis itu terhenti saat Naruto memperdalam ciuman mereka. Lelehan cairan saliva mengalir melewati sudut bibir keduanya. Asia menutup matanya, menikmati setiap sentuhan bibir kakaknya.

"Ah~ Onii-sama …."

Tangan gadis itu yang sedari tadi diam, mulai bergerak membuka lilitan selimut di tubuhnya, membiarkan tubuh polosnya terpampang jelas sekarang. Kedua tangannya kembali bergerak, merangkul leher belakang Naruto yang kemudian menariknya, menyuruh pemuda itu untuk semakin memperdalam ciuman mereka.

"Ah, haah …."

Kedua mulut itu kembali terlepas dari penyatuannya, membiarkan satu benang saliva menjembatani kedua bibir itu. Jantung mereka berdua berdetak semakin cepat. Belum pernah mereka merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Perasaan seperti layaknya jutaan kupu-kupu yang berterbangan di dalam dada mereka. Nyaman sekali.

Keduanya kembali terengah. Mencoba untuk menormalkan degup jantung mereka yang kian lama semakin cepat. Perasaan asing tersebut terus membesar. Dan kedua adik-kakak itu benar-benar sudah mabuk kepayang dibuatnya.

Naruto menatap terkejut pada Asia yang sudah membuka selimutnya. Dia tidak sadar kapan gadis itu melakukannya. Sekarang dapat pemuda itu lihat bagaimana bentuk tubuh dari sang adik. Putih bersih tanpa cacat. Payudara yang cukup besar untuk anak SMA, meskipun tidak terlalu berlebihan, sangat pas menurut Naruto pribadi. Dan dia sangat menyukai pemandangan kedua bukit kembar tersebut. Gairah laki-lakinya semakin memuncak, dia kembali terangsang berkat pemandangan di depannya. Junior miliknya semakin menegang.

Asia memalingkan wajahnya, malu karena sang kakak yang terus melihat kedua payudaranya tanpa berkedip sama sekali. "Apa kamu hanya akan menatap mereka, Onii-sama?" tanyanya dengan wajah yang sudah sangat merah.

Naruto terkesiap. "Eh?! Boleh kupegang, nih?!" tanyanya ragu, dan hal itu hanya dibalas Asia dengan mengangguk saja. Pemuda itu tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya lagi, berniat kembali mencium adiknya.

Asia yang melihat itu pun langsung memiringkan wajahnya dengan mulut yang terbuka. Tidak seperti tadi, kali ini Naruto langsung memulainya dengan ganas, membuat si gadis merasa kuwalahan karenanya. Dia juga beberapa kali melumat bibir gadis itu yang terasa manis bagi Naruto. Tidak mau kalah, sang adik membalas ciuman kakaknya. Kedua tangannya mengalung di belakang leher Naruto, menarik kepala pemuda itu agar semakin memeperdalam kegiatan silat lidah mereka. Suara desahan tertahan kembali memenuhi ruang kamar yang hanya diterangi satu lampu tidur tersebut.

Tidak ingin diam saja karena sudah diberi izin, kedua tangannya pun mulai bergerilya di kedua payudara adiknya. Meraba dengan pelan adalah apa yang saat ini Naruto lakukan pada dada Asia. Tak berselang lama, gerakan tangan Naruto semakin berani, awalnya memang cuma meraba, namun … semakin waktu berlalu, pemuda tersebut mulai melakukan berbagai macam gerakan. Meremas, memutar, memijit, bahkan sampai menarik ke samping kedua payudara itu untuk saling berjauhan dan akhirnya melepaskannya hingga terlihat bergoyang.

"Emh, eeengh … Narutoh-Niiih-samaaaah!"

Asia yang merasakan pertama kalinya disentuh oleh lelaki pun merasa kepalanya benar-benar seperti dimabuk kepayang. Sengatan listrik muncul di sekujur badannya saat merasakan gerakan lembut yang diberikan kakaknya. Walaupun kadang dia juga berteriak saat merasakan gerakan yang cukup kasar dari kedua tangan kakaknya, di kedua dada miliknya. Desahan kembali meluncur lewat sela-sela penyatuan ciuman mereka. Saliva keduanya meleleh keluar dari sudut bibir Asia, turun menuju leher putihnya, terlihat seksi~

Puas berdansa dengan lidah sang adik, Naruto pun menurunkan ciumannya menuju leher Asia. Mengecup, menjilat, menghisap, menggigit, adalah apa yang pemuda itu berikan, hingga membuatnya meninggalkan sebuah bekas merah di leher si gadis kuning. Naruto sebenarnya kaget kenapa dia malah memberikan kissmark, takut-takut kalau nantinya ada seseorang mang menyadari kegiatan mereka berdua malam ini.

"Ha! Agh … hyaa! Ah~"

Desahan kembali keluar dari mulut Asia, memberi semangat pada Naruto yang saat ini sedang menghisap kedua dada gadis itu secara bergantian. Memainkan lidahnya di pucuk payudara kanan Asia, menjilat, memutarinya, bahkan sesekali menghisapnya seperti bayi, hingga membuat kaki gadis itu menegang sesaat dan bergerak-gerak tidak tenang. "Enaaahk ... dan nikmaht~" racau Asia sambil menggigit bibir bawahnya.

"Onii-sammaaah~ lagiih, berikan ya—ah! Lebih kuat~"

Menuruti permintaan adiknya, dia pun menggigit keras pucuk payudara kanan, sementara tangan kanannya memelintir pucuk payudara yang kiri. Tangan kirinya mengelus perut rata adiknya, kadang juga ia gelitik perut putih tersebut.

Asia yang merasakan kenikmatan yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya, langsung mendongak. Kedua tangannya meremas rambut kuning kakaknya dengan keras, bahkan juga menjambaknya, tapi tidak dihiraukan oleh Naruto. Si gadis tersenyum lebar, merasakan kenikmatan yang menghantam dirinya.

"HYAAAHH …!"

Teriakan keras, penanda kalau Asia sudah mencapai puncak. Tubuhnya langsung lemas seketika saat merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa. Cairan cinta keluar dari vaginanya yang masih tertutup rapat, belum pernah dimasuki oleh siapapun. Napasnya tidak beraturan. Mulutnya mengembangkan senyuman mesum, jarang sekali dia melakukannya, bahkan belum pernah sekalipun. Ya, mungkin ini pertama kalinya dia tersenyum seperti ini!

Naruto menghentikan kegiatannya, membiarkan sang adik untuk menikmati tabrakan klimaksnya yang pertama. "Kau sudah lelah? Masih mau lanjut?"

Asia mengatur napasnya, lalu menatap kedua safir milik sang kakak. Dia sedang duduk dengan pakaian yang masih utuh. "Tentu saja, haahh …."

Naruto yang mendegarnya pun mengangguk. Setelah itu, dia melepas semua pakaiannya sehingga telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Tidak ada rasa malu, karena bagaimana pun … dia juga sudah melihat tubuh adiknya. Jadi sekarang mereka sudah impas, karena mereka telah sama-sama menunjukkan tubuh masing-masing.

Wajah Asia benar-benar memerah sekarang saat kedua matanya tidak sengaja melihat barang milik kakaknya yang sudah berdiri tegak. Bahkan, muncul semacam uap-uap panas yang keluar dari kepala gadis itu, akibat dirinya yang sudah ber-"fantasi ria" hanya dengan melihat barang itu sesaat.

Naruto melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. "Mari kita lanjutkan dengan cepat karena sudah malam. Takutnya besok kita malah kesiangan ke sekolah. Jadi, langsung ke menu utama saja, bagaimana? Kita lanjutkan lain kali saja main-main-nya, oke?" kata Naruto memberi usul. Lagipula, ini pertama kalinya buat mereka, jadi … pemuda itu masih bingung mau melakukan apa lagi. Dia bahkan tidak punya pengalaman sama sekali melakukan hal ini sebelumnya.

Asia yang mendengar itu hanya mengangguk. Napasnya masih tidak beraturan, dan tenaganya belum sepenuhnya kembali, bahkan dia tidak bisa hanya untuk menjawab perkataan kakaknya. Naruto langsung bergerak mendekati sang adik yang sudah siap terlentang dengan kedua kaki yamg mengangkang lebar. Kedua safirnya menatap dalam pada mata hijau terang gadis itu. "Kau siap?"

Kembali mengangguk, itulah yang Asia lakukan. Dia menutup matanya tatkala matanya melihat benda tumpul itu mulai bergerak mendekati lubang suci-nya. Naruto mengatur napasnya, dia harus melakukannya selembut mungkin, tidak ingin menyakiti sang adik angkatnya.

Kedua tangannya memegangi pinggul adiknya. Dia bersiap, mulai menempelkan ujung penisnya di bibir vagina adiknya yang sudah basah sedari tadi akibat klimaks pertamanya, dan hal itu langsung direspon Asia dengan menggigit bibir bawahnya. Mendorong pelan pinggulnya, yang langsung disambut rintihan sakit Asia.

"Akh! Uughhh~"

Kepala penis Naruto sudah masuk. Sedikit demi sedikit … batang kemaluan itu terus melaju dengan pelan di dalam dinding lorong vagina tersebut. Naruto menggeram pelan ketika merasakan betapa nikmatnya miliknya di remas-remas di dalam sana, yang langsung mengundangnya untuk harus berbuat kasar—tapi itu tidak boleh. Dia tidak akan melakukannya.

"Asiaaaa …," geram Naruto sambil meringis menahan hasratnya untuk berbuat kasar pada adiknya.

Asia yang sepertinya sadar kalau kakaknya benar-benar tersiksa karena tidak bisa langsung menuntaskan hasratnya, hanya bisa tersenyum kecut. Dia pun merentangkan tangannya, memeluk kakaknya dan menarik kepala kuning jabrik itu untuk dibenamkan di dadanya. "Lakukan, Onii-sama. Aku tidak apa-apa jika kamu mau langsung bermain kasar. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Lakukan apa yang kamu mau …," ujar gadis itu dengan lirih di samping telinga Naruto.

Mata Naruto melebar. Dia pun menarik penisnya, menyisakan kepala penisnya saja di dalam sana, lalu langsung menancapkannya dengan keras membuatnya langsung masuk sepenuhnya ke dalam tubuh gadis itu, yang mengundang teriakan pilu dari Asia. Darah keluar dari penyatuan tersebut, menandakan kalau si gadis ber-marga asli Argento itu benar-benar masih perawan. Dan Naruto-lah yang membuat gadis itu sekarang berubah menjadi seorang wanita.

"Aargh …! Hiks, hiks, Onii-sama, sakit~" Asia tidak menyangka kalau robeknya selaput dara miliknya akan terasa sesakit ini. Dia mulai menangis, sambil terus menyebut kakaknya berharap itu bisa membuatnya tenang.

"Onii-chan disini, Imouto. Tenanglah, sssttt~"

Mencoba menenangkan tangisan Asia adalah apa yang dilakukan Naruto saat ini. Dia membisikkan kata-kata dengan lembut di telinga adiknya, berharap si gad—wanita itu melupakan rasa sakit di bawah sana.

Seperti jutaan listrik menyambar tubuhnya, Asia dapat merasakan kalau semua tubuhnya seperti tersengat. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, dia dapat merasakan perasaan asing ini. Marah, sakit, senang, kecewa, benci, hina, sedih, tangis, tawa, dan semua perasaan lainnya seperti tercampur menjadi satu pada saat itu juga. Asia ingin sekali melepaskan semua emosi tersebut, tapi dirinya tidak bisa, tidak bisa melakukannya ...!

Rasa panas yang menyengat kulitnya benar-benar membuatnya ingin berteriak sekencang mungkin. Tapi percuma saja, dia seperti tidak memiliki kekuatan sama sekali saat ini. Dia sesenggukkan, cairan bening terus mengalir lewat kedua mata hijau terangnya, ketika rasa sakit di bawah sana belum juga menghilang.

Naruto terdiam. Ini salahnya karena berbuat kasar. Seharusnya dia tidak perlu terburu-buru tadi. Dia terus merutuki kebodohannya dalam hati.

Keduanya hanya terdiam, meskipun sesekali juga terdengar rintihan sakit dari mulut Asia. Naruto mencoba untuk mengabaikan rasa nikmat di bawah sana, menunggu Asia untuk menyesuaikan benda asing yang saat ini memasuki tubuhnya.

"Onii-chan~ Onii-chan~"

"Ya, Onii-chan-mu disini, Asia-chan. Tolong, berhentilah menangis …."

Pemuda itu kadang memberi ciuman pada gadis itu, berharap dia melupakan rasa sakit yang mendera di bawah sana. Dia juga menjilati air mata yang terus mengalir keluar dari kedua mata hijau terang itu. Tangannya bergerak, meremas payudara sang adik dengan lembut, bahkan juga memelintir kedua puting berwarna merah muda tersebut. Naruto terus memberi kenikmatan pada Asia di setiap lekuk tubuhnya, berharap perbuatannya bisa mengalahkan rasa sakit yang sedang mendera Asia.

Setelah beberapa menit, wanita itu pun berhenti menangis.

Asia mengelus pipi kakaknya. "Kamu boleh bergerak sekarang, Onii-sama~" Senyuman manis merekah di bibir gadis yang sudah menjadi wanita baru tersebut.

Naruto menatap singkat wajah cantik adik angkatnya, kemudian mengangguk. Dia menggerakkan pinggulnya dengan pelan, yang langsung disambut Asia dengan desahan. Pemuda itu, atau yang mungkin sudah berubah menjadi pria, menggeram saat merasakan penisnya dicengkeram kuat oleh vagina adiknya yang benar-benar terasa sangat sempit sekali bagi Naruto.

"Ah, ah, hah! Onii-sama … hyaah! Lebih cepat~, Naruto-Nii!"

Merespon permintaan adiknya, pemuda itu pun mempercepat gerakan pinggulnya, membuat kedua payudara itu bergerak dengan erotis.

"Hyaah! Terusss~ ah, aha, hah!"

Tidak ingin diam saja, tangan kanan Naruto mulai menggerayangi tubuh Asia, sementara tangan kirinya untuk menopang tubuhnya agar tidak menindih perempuan berumur 16 tahun yang saat ada di bawahnya itu. Bergerak dengan halus, mengelus mulai dari paha gadis itu yang masih mengangkang kemudian menuju ke atas. Terus bergerak ke atas sampai pada payudara kiri Asia. Tangannya pun mulai meremas kecil yang berhasil membuat desahan kembali lolos dari mulut adiknya.

"Yaaahh~ disitu, Onii-chan~"

Kedua mata Asia terpejam, menikmati setiap sentuhan kakaknya. Mulutnya terbuka, dengan cairan saliva yang terus mengalir turun menuju lehernya. Dia benar-benar menyukai ini. Ingin terus rasanya dia melakukan kegiatan yang belum pernah dia lakukan saat ini. Sedangkan si succubus yang mendiami tubuh Asia hanya tersenyum senang ketika mengetahui pikiran dari inang-nya. Ya, meskipun yang mendapatkan sentuhan adalah inang-nya, si succubus itu juga merasakan bagaimana rasanya sentuhan dari pemuda bernama Naruto ini. Dia juga menyukainya, meskipun ini pertama kalinya bagi kedua adik-kakak tak sedarah itu, ini tetaplah nikmat. Dan succubus itu memang mengakuinya. Si succubus yang ada di dalam tubuh Asia juga terus mendesah, merasakan bagaimana nikmatnya sentuhan dan tusukan Naruto.

Kedua adik-kakak itu terus saja bergerak. Naruto menggerakkan penisnya keluar-masuk di dalam tubuh Asia, di dalam lorong sempit vagina adiknya. Terus saling membenturkan kulit mereka yang membuat keduanya menciptakan suara kecipak mesum.

Plak, PLAK! Plak, PLAK!

Membenturkan dengan pelan, lalu membenturkan dengan keras. Itulah yang Naruto lakukan, bergerak pelan, kemudian keras. Dia terus mempertahankan tempo itu untuk beberapa menit ke depan. Suara desahan Asia juga semakin erotis ketika merasakan bagaimana kakaknya bisa memainkan tempo yang seperti ini.

"Hyah! Narutoh-Niih, lagiiih~ aku ingin—"

Tak berselang lama, Asia kembali merasakan akan ada yang keluar dari dalam perutnya. Naruto yang merasakan kalau penisnya serasa dijepit kuat oleh dinding vagina Asia, juga sadar kalau wanita itu sudah hampir mencapai puncaknya. Dia pun semakin mempercepat gerakannya, membuat tubuh gadis itu terhentak-hentak. Dan setelah itu …

"KYAAAH~"

... cairan cinta menyembur dengan deras keluar dari dalam vagina Asia hingga membasahi penis Naruto, membuat pemuda itu merasa semakin mudah menggerakkan miliknya di dalam sana akibat lorong adiknya itu yang semakin licin. Bahkan, ada beberapa cairan yang keluar melewati penyatuan kemaluan mereka. Putih bening bercampur merah, itulah warnanya. Ya, cairan itu bercampur dengan darah keperawanan Asia, yang baru saja dijebol oleh Naruto.

"Hah, hah, tunggu dulu … aku baru saja keluar, Onii-chan~," kata Asia yang merasa kalau kakaknya masih menggerakkan penisnya di dalam tubuhnya. Napasnya benar-benar terengah akibat klimaks keduanya ini terasa lebih hebat dibandingkan sebelumnya.

"Maaf, Asia. Tunggu sebentar lagi, aku hampir sampai juga," ucap Naruto dengan sedikit menggeram karena miliknya kembali dijepit lebih kuat oleh vagina itu.

"T-Tapi, aku lelah—kyaaah!"

Protesan wanita itu langsung berubah teriakan, saat tubuhnya dibalik kakaknya menjadi menungging. "Nah, kau bisa sambil istirahat sekarang," kata Naruto dengan tangan yang memegang piggul adiknya, sementara pinggulnya masih tetap bergerak, mengeluar-masukkan penisnya dari vagina sempit Asia. Dia melenguh keenakan, saat lorong itu semakin kuat menjepit penisnya dikarenakan posisi yang dia gunakan saat ini menusuk adiknya dari belakang. Entah dapat darimana dia tentang pemikiran posisi seperti ini, jujur saja, posisi seperti ini tiba-tiba saja terlintas di otak Naruto.

Wajah Asia langsung memerah saat menyadari posisi memalukannya ini. Dia pun menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Tapi, dia mencoba untuk tidak memprotesnya, asalkan kakaknya senang … dia tidak keberatan.

Naruto pun kembali menggerakkan pinggulnya dengan cepat, membuat tubuh gadis itu terhentak-hentak ke depan dengan keras.

"Ah, ah, aha! Lebih cepat lagi, Onii-chan~"

"Baiklah, Imouto-chan!"

"Kyaaah~"

Naruto menarik kedua tangan adiknya ke belakang, membuat wajah memerah itu kembali terlihat. Si lelaki Namikaze pun membungkuk-kan badannya, lalu dengan nada menggoda adiknya, ia pun berbisik tepat di sebelah telinga Asia, "Jangan menutupi wajah manismu, Imouto~"

Godaan pria itu berhasil membuat wajah adiknya semakin memerah. Dia juga meniup belakang telinga adiknya, membuat sang wanita merinding dan membantu gairahnya semakin memuncak. Asia benar-benar merasa akan gila berkat mendapat berbagai macam rangsangan dari kakak angkatnya.

Kedua tangan Naruto kembali bergerak, meremas kedua bukit kembar Asia yang semakin bergerak erotis ketika gerakan pinggulnya semakin cepat.

"Ah~" Entah Asia yang memang sudah lelah mendesah atau karena napasnya yang sudah terengah-engah. Suara desahan wanita itu terdengar semakin pelan. Dan Naruto yang menyadari itu pun mendengus.

"Mendesahlah lagi, Asia~"

"Ah, hah … aku lelah, Onii-chan~"

Naruto yang mendengar balasan adiknya, langsung semakin mempercepat gerakannya saat penisnya terasa berkedut-kedut semakin membesar. Asia yang sepertinya merasakan hal itu, juga mencengkeram benda yang ada di dalam vaginanya dengan dinding lorongnya yang semakin menyempit. Keduanya hampir mencapai klimaksnya.

Terus bergerak dan mendesah semakin keras di setiap hentakan yang dilakukan Naruto, Asia pun merasa kalau dia sudah tidak bisa menahan cairannya lebih lama lagi agar tidak keluar.

"Aku hampir sampai, Onii-chan~"

"Aku juga, Asia~"

"Kelu-arkaannh di dalammh. Biarkaahn aku meraaahhsakan cairan spermamu, Naruto-Niihh~"

"Kau yakin~"

Asia mengangguk.

"Ini … diaaaa~ GUUUH …!" Naruto pun menancapkan penisnya sedalam mungkin di vagina Asia, bahkan sepertinya sampai pada dinding pintu rahim wanita itu. Dia terus menembakkan sperma-nya beberapa kali ke dalam rahim adik angkatnya.

"KYAAAHH~"

Rasa panas langsung menyebar di seluruh bagian bawah tubuh Asia. Dapat wanita itu rasakan betapa banyaknya cairan sperma yang ditembakkan kakaknya di dalam sana, bahkan sampai sekarang pun masih terus berlanjut.

Rasa lelah langsung menghampiri keduanya, dan kedua tubuh adik-kakak itu pun ambruk secara menyamping. Naruto tetap berada di belakang tubuh Asia, dan penisnya pun masih menancap di dalam sana.

"Maaf, Asia, swpertinya aku mengeluarkannya terlalu banyak di dalam sana." Meski sudah mendapat izin adiknya, tetap saja perasaan bersalah menyelimuti hati Naruto.

Asia menggeleng lemah. "Tidak apa-apa, malam ini aku aman kok, jadi kamu tidak perlu khawatir jika aku hamil, Nii-chan," jawabnya yang langsung memberi ketenangan pada kakaknya itu.

Ini pertama kalinya mereka melakukan hubungan intim, dan seperti inikah rasanya?! Entah mengapa … untuk pertama kalinya, Naruto seperti merasa punya keinginan besar dalam kehidupannya. Dia ingin mewarnai hidupnya dengan sensasi seperti ini. Dia ingin melakukan hal ini lagi, tapi bagaimana caranya? Biarlah itu dijawab nanti ….

"Aku ingin melakukan ini lagi," gumam Naruto pelan, tapi sayang sekali, Asia tidak mendengarnya dikarenakan sudah tertidur pulas. Dia benar-benar kelelahan. Untuk pertama kalinya, wanita itu klimaks sebanyak tiga kali dalam semalam. Ya, dia kadang memang setiap malam cuma sekali saja klimaksnya, dan tentu saja dia melakukannya sendirian untuk memenuhi hasrat sang succubus.

Dengan tangan yang menarik selimut ke atas, Naruto menutupi tubuh polosnya serta tubuh adiknya. Mengelus pelan rambut dari pemilik kepala kuning di depannya yang memang sudah tertidur, dia pun berbisik, "Terima kasih untuk malam ini, Imouto-chan." Setelah itu, dia pun mengikuti adik angkatnya yang telah menyelam ke alam mimpi.

.

.

.

.

.

Bersambung

Author Note:

Fyuuh …! Akhirnya selesai juga dalam waktu tiga hari, dan cerita ini bersih lebih dari 6k word untuk jalan ceritanya, wakakaka …!

Ini pertama kalinya Ero buat cerita seperti ini, jadi maaf kalau scene-nya kurang hot. Lagipula, Ero cuma cari referensi dari bacaan di fanfiction.

Maaf sekali lagi kalau kurang panas, karena bagaimana pun … Ero pinginnya buat agar Asia tidak terlalu OOC di awal ini, tapi nanti akan semakin berubah sikap dan sifatnya saat cerita ini semakin berjalan. Dan lagi, Naruto disini masih pertama kali melakukannya, jadi dia belum ada pengalaman melakukan hubungan sex sebelumnya, tapi tentu saja, dia akan semakin beringas ke depannya, mwehehe (semoga aja begitu XD).

Seperti yang dijelaskan di atas, Asia memiliki succubus di dalam tubuhnya. Dia juga bisa melakukan segala sihir yang dimiliki succubus itu, termasuk hipnotis. Jadi, jalan cerita ini untuk ke depannya adalah … membuat hidup Naruto penuh warna dengan kegiatan hubungan intim melalui bantuan Asia! Bwahaha …! Tentu saja Asia juga akan ikut bergabung, jadi mungkin kebanyakan akan Threesome, meskipun ada kalanya juga cuma Naruto dan satu karakter perempuan. Pokoknya tidak bakal lebih dari tiga orang dalam sekali permainan, karena nantinya jadi tidak seru jika pada rebutan.

Kayaknya cuma itu saja dari Ero. Jadi … ada yang punya saran, untuk siapa yang akan muncul di chapter depan? Silahkan dipilih sendiri~ kalo bagus sarannya, mungkin akan Ero pikirkan saran kalian~ jangan lupa dikasih alasannya juga kenapa pilih karakter tersebut, ya. (WAJIB MASUK AKAL ALASANNYA!)

NOTE: JANGAN LUPA SAMA [A/N] DIATAS SANA, YAITU NOTE SEBELUM CERITA INI DIMULAI TADI. KALAU LUPA … SILAKAN DIBACA ULANG~

Ero-Kun666 out.

(29/Juni/2020)