My Youth

Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto

Pairing : Kiba/Ino

.

.

My youth, my youth is yours

Troye Sivan ~ My Youth

.

.

Ino tidak bisa berhenti mengumpat setelah pelajaran biologi selesai. Sialan Naruto, bagaimana mungkin dia meninggalkan pelajaran dan membuat teman satu tim nya terkena masalah seperti ini. Guru Kurenai, selaku guru Biologi memberi mereka hukuman membuat mind map mengenai sistem saraf akibat ketidak hadiran Naruto dalam pelajarannya.

"Sudah ku telfon, nggak diangkat." Lee bergumam pelan. "Ku pikir dia memang sudah nggak pakai nomor lamanya."

"Ish, tadi pagi kan dia masuk kelas. Kenapa mendadak hilang dan nggak bisa dihubungi begini?" Tenten berkomentar jengkel. "Dia pasti nongkrong di kantin belakang, dasar. "

"Sepertinya aku punya nomor baru Naruto."

Ino yang paling merasa jengkel diantara yang lain, meraih ponsel Karin. "Aku minta." Dia menyalin nya dengan cepat, dan segera menghubungi pemilik nomor.

Dalam deringan ketiga, panggilan itu terjawab. "Naruto, kemana saja kau? Kenapa kau kabur dari pelajaran Bu Guru Kurenai? Kau mau mencelakai kami ya? Kau tahu sendiri kan jika mencari masalah dalam pelajarannya Bu Guru Kurenai sama saja cari mati? Setidaknya kalau ganti nomor itu bilang ke yang lain?" Dia menarik napas sejenak, dan kembali meneruskan kejengkelannya. "Kau ke kantin ya? Sekalian saja pulang sana. Pokoknya kau yang harus bertanggung jawab membuat mind mapnya, kami tidak mau peduli lagi. Hasilnya harus bagus, harus perfect, aku nggak peduli bagaimana caranya."

"Hallo, ini siapa?"

"Siapa katamu? Ini Yamanaka Ino, teman sekelasmu, bagaimana mungkin kau bertanya begitu? Kau pura-pura lupa ya?"

Ada helaan napas di seberang telfon. "Maaf Yamakana, aku bukan Naruto. Aku Inuzuka Kiba, kelas 11 B."

What the hell. Kiba Inuzuka? Bagaimana mungkin? "Eh, tapi, tapi bukannya ini nomor Naruto? Kata Karin ini nomor Naruto?" Suaranya yang awalnya meluap-luap karena marah berubah jadi lebih pelan. Ia menatap satu persatu kawannya yang hanya menyaksikan dengan pandangan bingung.

"Bukan, ini nomorku. Naruto sempat menghubungi nomor Karin pakai ponselku."

"Maafkan aku Inuzuka, aku tidak bermaksud menganggumu, maksudku--"

"Nggak apa-apa."

"Oh ya, apa Naruto bersamamu?"

"Sayangnya, tidak."

"Oh, ya sudah kalau begitu. Thanks ya, sorry juga."

"Oke."

Ino menutup panggilan, dan meletakkan ponsel nya dengan gemetar.

"Ada apa?" Cuma Karin yang berani mengawali pembicaraan.

"Kau dan sepupumu itu sama saja. Itu nomor Inuzuka, bukan nomor Naruto." Dengan ekspresi kesal yang diliputi malu berlebihan, Ino menelungkupkan wajahnya ke meja. Shit, mau diletakkan dimana wajahnya ini?

.

.

Sudah lewat beberapa hari soal insiden salah sambung itu, dan Ino nyaris lupa andai saja siang itu tidak ada Kiba dan kawan-kawannya yang kebetulan berpapasan dengannya. Tidak ada yang spesial, namun cara cowok itu menatapnya dengan binar mata yang seolah menyiratkan tawa membuatnya ingin menutupi muka.

Untung saja, ia tak sedang berjalan dengan Sakura atau siapapun. Bisa jadi buruk kalau sampai terjadi.

"Gimana mind mapnya? Sudah selesai?" Sedikit memperlambat langkah, Kiba sepertinya sengaja memisah dari grupnya dan menyapa Ino. "Naruto bertanggung jawab kan?"

Cewek itu mengerjap, menatap sekitar sejenak? Kiba bicara padanya ya? "Oh, yeah. Tentu, dia nggak punya pilihan buat menghindar."

"Bagus kalau begitu." Setelah mengulas senyum miring sekilas, ia menatap lekat-lekat iris biru muda di hadapannya. Cantik. "Oke, sampai nanti." Tangannya melambai pelan sebelum berjalan lebih cepat untuk mengejar Gaara dan Sasuke.

Astaga, mimpi apa ia tadi malam sampai si kapten sepak bola mengajaknya bicara? Hal tak penting pula?

"Ngapain melamun disini?"

Jantung Ino seolah terlepas dari rongganya. "Ya Tuhan, Sakura, kau membuatku terkejut."

.

.

"Hey, ini Inuzuka Kiba. Simpan nomorku ya"

Tidak ada hujan tidak ada angin, Kiba mendadak mengiriminya pesan demikian di akhir pukul 10 malam. Ino membaca berulang-ulang pesan itu dengan mata setengah terpejam, sementara buku tugasnya masih berhamburan di atas meja belajar. Ia memikirkan jawaban yang paling tepat, namun akhirnya hanya memilih kata singkat 'Oh, oke.'

Eh, apakah ini terkesan terlalu cuek?

.

.

"Naruto ada?"

Ino yang tengah sibuk bercerita panjang lebar bersama Sakura mendadak terdiam ketika suara bass Kiba mengusik gendang telinganya. "Uhm, baru saja keluar bareng Neji, katanya mau ke kelas 11 B."

"Serius?"

Ino mengernyitkan kening, kendati Sakura, Tenten dan yang lainnya kembali bercerita mengenai drama Mandarin yang baru mereka tonton, Ino tak lagi berminat. Nada pertanyaan Kiba begitu datar, seolah dia sudah tahu jawaban yang sebenarnya.

"Woi Kiba, dipanggil berkali-kali masih saja ngeluyur." Naruto berteriak jengkel di dekat pintu. "Kurasa, tadi kau sempat melihatku."

"Lah itu Naruto." Cewek pirang itu menunjuk ke arah pintu.

"Oh yeah." Inuzuka mengarahkan tatapan ke pintu. "Sampai jumpa Yamanaka." Ujarnya sembari mengulas senyum tipis, sebelum beranjak meninggalkan tempat itu.

Ino terlalu speechless untuk menanggapi, sejak insiden salah sambung itu Kiba mendadak jadi sok akrab dengannya. Why?

.

.

Bagi Ino, tak ada orang yang paling menjengkelkan melebihi Naruto. Entah kenapa di setiap kesempatan bocah Uzumaki itu selalu saja berhasil membuatnya naik pitam. Seperti siang itu, bisa-bisanya Naruto menumpahkan segelas jus strawberry ke seragamnya. Ini benar-benar keterlaluan, seragam bagian atas pula. Dan rasa dingin yang menyengat kulitnya membuat Ino dua kali lebih marah.

"Kenapa sih kau ini suka sekali mencari masalah denganku?" Ino membentaknya, tak peduli jika seisi kantin memperhatikannya.

"Aku kan nggak sengaja, lagi pula itu salahmu sendiri yang jalan malah fokus lihat ponsel." Bocah itu memutar bola matanya, tak mau tahu. Dan berpikiran bahwa Ino tak perlu bersikap berlebihan hanya karena masalah jus yang tumpah ke bajunya.

"Sialan Naruto, kau harusnya minta maaf, bukan malah balik menyalahkanku." Ino merasa pelipisnya berdenyut, dan mengabaikan bisik-bisik beberapa siswi di dekatnya.

"Aku minta maaf? Enak sa--" Belum sempat kalimatnya usai, sebuah jitakan membuatnya mengaduh keras.

"Kau yang salah. Minta maaf saja." Kiba yang dari tadi hanya duduk di salah satu bangku kantin melerai.

"Ish, sakit tahu. Kenapa kau malah menjitakku? Kau bahkan tidak membela teman baikmu ini Inuzuka?" Iris birunya melotot tak percaya. Sementara itu, Ino merasa membeku di tempat. Entah kenapa, aura kedatangan Kiba membuatnya mendadak gugup.

"Minta maaf saja, ayolah. Kau yang salah."

"Tidak mau."

"Oke, atau aku akan menjitakmu lagi."

"Demi Tuhan Kiba." Naruto mengertakkan giginya gemas bercampur jengkel. "Ya sudah, aku minta maaf Yamanaka. Aku yang salah."

Ino mendengus, tak menjawab. Dia merasa lega sekaligus ingin tertawa di sana. Namun rasa lega itu berubah jadi rasa malu yang tak berkesudahan saat Kiba mendekatkan bibir ke telinganya sambil berbisik.

"Cepat pergi dari sini dan bersihkan bajumu. Bramu kelihatan."

Jantungnya mencelos, ingin rasanya menghilang atau terjun ke dasar sumur paling dalam agar tak seorang pun melihatnya.

.

.

"Kau nggak bisa ya sehari saja berhenti bertengkar dengan Naruto? "

"Dia yang cari gara-gara duluan." Ino mendecak, sepenuhnya fokus pada langkah kakinya yang menapak di paving sekolah. Untung saja hari ini pulang cepat, ia ingin segera pulang dan melupakan insiden konyol di kantin tadi.

"Eh, kenapa Inuzuka menatapmu terus dari tadi?"

Reflek Ino mengikuti pandangan Sakura dan menemukan Kiba tengah berdiri bersama teman sepak bolanya di tepi lapangan. Cowok itu agak terkejut ketika pandangan mereka bertemu, namun segera melukiskan senyum miring khas miliknya.

"Jangan naksir dia, saingannya berat." Haruno menepuk pelan pundak sahabatnya.

Ino terkekeh pelan. "Berlaku juga buatmu dan Sasuke."

"Ish, Ino."

.

.

"Kau naksir Yamanaka ya?" Naruto naik pitam siang itu akibat ulah sang teman yang sok jadi pahlawan kesiangan bagi cewek pirang menjengkelkan itu.

Kiba mengerling Neji dan teman-temannya yang ada disana, dan sepenuhnya tertarik dengan jawaban yang bakal dilontarkan si cowok Inuzuka.

"Kalau iya kenapa?" Seluruh pasang mata yang tengah istirahat di tepi lapangan melebarkan mata tak percaya.

.

.

"Total semuanya 600 yen, Nona."

Ino mengangguk dan mengeluarkan uang dari dompetnya. Ah sial, ia lupa jika uangnya tinggal 400 yen, sebab tadi Sakura meminjamnya untuk membeli kado buat sang ibu. Bagaimana ini? Setengah panik dan agak malu, ia menatap satu-persatu belanjaannya. "Susunya yang ini nggak jadi Kak."

Belum sempat si kasir menyahut, sosok di belakang Ino maju ke sebelahnya dan meletakkan uang 300 yen di meja kasir. "Cukup?"

Ino melebarkan matanya, demi Tuhan, dari mana datangnya Inuzuka? Kenapa dia mendadak muncul disini?

"Ya, ini cukup." Si kasir menyudahi acara hening yang agak canggung itu.

"Nikmati susunya." Cowok itu bergumam pelan sembari bergeser ke kasir yang lain.

Damn, Ino tak mampu mengatakan apapun. Jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Astaga, kenapa senyum cowok itu semakin menawan tiap harinya.

.

.

"Thanks ya, nanti aku kembalikan uangnya."

Kiba mengernyitkan kening membaca pesan singkat tersebut, dan tanpa dia sadari bibirnya melengkungkan senyum. Mendadak suara Naruto dan kawan-kawannya yang lain terlupakan begitu saja.

"Nggak usah, nggak apa-apa." Jemarinya mengetikkan pesan singkat sembari berharap Yamanaka tak segera menyudahi acara berkirim pesan itu.

"Cieee... " Lee yang tak sengaja melirik ke arah layar ponsel Kiba bersorak dan menarik perhatian yang lain.

"Whats happend man?" Hozuki yang penasaran merasa sedikit terganggu dengan sorakan yang tiba-tiba itu.

"Kiba jadian sama Yamanaka."

"Eh, nggak." Kiba membantah, tapi suaranya teredam oleh hiruk-pikuk teman-temannya.

.

.

Hari-hari yang melelahkan, Ino tidak tahu sampai kapan otaknya terus diperas untuk persiapan ujian matematika ini. Shit, sialan kenapa akhir-akhir ini otaknya agak lamban untuk diajak berpikir.

Ia sekali lagi menghela napas dan menatap jajaran buku dalam rak. Sudah sejak tadi ia berputar-putar dalam perpustakaan kota hanya untuk mencari buku yang tepat untuk belajar kalkulus. Ino tak sengaja mengumpat ketika tak berhasil meraih buku yang diinginkannya. Perasaan dia tak terlalu pendek, tapi...

"Makanya berdiri."

Jantung Ino nyaris melompat dari rongganya mendengar kekehan si cowok. Ia sampai menahan napas karena posisi Kiba di belakangnya, jarak mereka terlalu dekat, seolah cowok itu bakal merengkuhnya. Astaga, kenapa dia ada di mana-mana? Apa Inuzuka sengaja mengikutinya?

"Nih."

Bibirnya yang semula terbuka lantaran terkejut langsung tertutup rapat. Sembari menenangkan degup jantungnya yang terasa menggila, ia berusaha bicara dengan nada datar. "Apa kau juga kesini untuk belajar?" Sejujurnya tangannya agak gemetaran ketika menerima uluran buku dari Kiba.

"Yeah, apalagi kalau bukan untuk belajar?" Jemarinya menyisir rambut, sementara itu iris matanya menatap lekat-lekat cewek di hadapannya. "Kau belajar matematika ya?"

Ino tersenyum canggung. "Aku payah soal matematika, jadi--"

"Mari belajar bersama."

"Eh?"

.

.

"Ini menjengkelkan." Sakura merengut di bangkunya, dan Ino segera mengalihkan tatapan ke gerombolan anak kelas 11 B yang mulai memasuki lab kimia.

Hari ini guru Iruka tidak masuk kelas, ayahnya dirawat di rumah sakit. Dan sebagai gantinya, akan ada kelas gabungan antara kelas 11 B dan 11 A. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, namun alih-alih mengeluh, Ino justru menyunggingkan senyum tipis ketika melihat Kiba berjalan diantara kerumunan teman-temannya. Cowok itu tengah serius bicara dengan Gaara, entah apa yang menjadi topiknya.

"Kau kenapa senyum-senyum sendiri?" Haruno mendecak kesal, dan memutar mata bosan.

"Aku apa?" Ino pura-pura mengalihkan tatapan pada catatan di buku tulisnya. "Aku nggak senyum kok. Perasaanmu saja."

Sakura mengabaikan jawaban teman sebangkunya dan sibuk menutup wajah dengan buku. "Jangan sampai si Hidan sinting itu melihatku."

"Dia sudah melihatmu, percuma kau menutup wajah pakai buku." Ia mendengus. "Kalau dia menyapa, sapa balik saja. Mudah kan?"

"Astaga, kau ini pura-pura nggak tahu atau bagaima--"

"Pagi Saku-chan yang cantik." Hidan mendadak berhenti di depan bangku keduanya dan memasang senyum lebar yang menurut Ino agak cabul.

Ino ingin tertawa, namun melihat Sakura menghela napas sedikit jengkel, ia jadi urung untuk tertawa. "Sakura sedang nggak ingin diganggu, jadi... kurasa lain kali saja ya, Hidan."

"Aku nggak sedang bicara denganmu." Cowok itu menatap Ino sekilas sebelum kembali fokus pada Sakura yang pura-pura serius membaca buku paket kimianya.

"Aku kan cuma memberi tahu, lagipula kenapa sih kau nggak cari bangku biar kebagian tempat. Sebentar lagi Pak Guru Asuma datang."

"Cewek berisik, kau nggak bisa diam ya?" Nada bicara Hidan agak meninggi. Jujur, Ino terkejut.

'Tak'

"Aduh." Bocah pirang itu agak kaget ketika seseorang tiba-tiba menjitak kepalanya. Kiba berdiri di dekatnya bersama Gaara dan Neji. "Inuzuka, apa-apaan sih?"

"Hei, cari tempat dudukmu. Jangan buat keributan." Tangannya menepuk pelan bahu Hidan. "Sorry, dia memang begitu."

Kejengkelan yang bergelayut dalam dadanya mendadak lenyap, sembari terkikik pelan Ino berujar. "Yeah, kami tahu soal itu. Benar kan Sakura?"

"Hm." Sakura mengangguk. "Kurasa sebaiknya kalian segera cari tempat duduk, Pak Guru Asuma sudah berjalan ke arah sini."

Ketiga cowok itu menoleh ke arah yang dimaksud si cewek Haruno.

"Ya sudah kalau begitu. Dan Ino, jepitan rambutmu agak miring." Kiba melengkungkan senyum tipis sebelum mendorong Hidan yang agak berontak untuk segera beranjak dari tempat itu.

Ino yang awalnya masih terkikik langsung terdiam. Shock dengan ucapan Kiba barusan.

"Aku yakin deh, dia itu naksir sama kamu."

Demi Tuhan, Yamanaka merasa debaran jantungnya menggila.

.

"Tolong dong, masukkan KMnO3 nya ke gelas ukur." Karin berujar singkat sembari fokus pada buku panduan praktikum.

Ino yang posisinya paling dekat dengan beaker glass berisi KMnO3 segera meraihnya dan menuangkan ke dalam gelas ukur. Sejujurnya tatapan Kiba yang sejak tadi fokus padanya membuatnya gugup. Entah kenapa mereka kebetulan berada dalam satu kelompok, dan itu jadi masalah tersendiri buat Ino. Lihat saja sekarang, tangannya bahkan gemetaran hanya karena tatapan cowok itu, dan...

'Pyang'

Seisi lab langsung hening melihat beaker glass yang pecah di lantai, cairan keunguan di dalamnya tumpah membasahi lantai. Meluber mengerikan mirip tinta cumi-cumi.

"Oh, tidak." Ino menggigit bibirnya setengah ketakutan, sebab tahu sendiri Guru Asuma agak galak kalau soal muridnya yang kurang hati-hati.

"Siapa yang melakukannya?" Langkah lebar pria setengah baya itu berhenti di dekat kelompok mereka.

Tak ada dari mereka yang berani menjawab, tatapan guru yang satu itu terlalu tajam dan membuat tiap anak ciut nyali.

"Saya Pak." Kiba mengacungkan tangan setelah melihat ekspresi ketakutan Ino. "Saya yang memecahkannya."

"Dasar bocah bandel dan kurang hati-hati. Yang ada di otakmu pasti cuma sepak bola dan permainan-permainan tidak penting. Bereskan itu dengan cepat, aku tidak mau sisa pecahannya masih ada. Pel juga lantainya. Aku tidak akan segan-segan memukulmu kalau sampai ada yang terpeleset disana."

"Baik Pak." Kiba mengambil pengki dan sapu di pojokan. Sementara Ino yang merasa bersalah reflek mengikuti langkah Kiba.

"Yamanaka, kau mau kemana?"

Cewek pirang itu berdiri di tempat, memandang sang guru dengan ketakutan yang tak bisa dideskripsikan. "Membantu Inuzu--"

"Kembali ke posisimu semula dan lanjutkan praktikum. Tidak boleh ada kecerobohan lain yang lebih parah. Biarkan Inuzuka memberrskannya, dia harus tahu caranya bertanggung jawab." Guru Asuma berlalu menuju ke kelompok lain, dan praktikum kembali dilanjutkan.

"Astaga, aku nggak percaya Kiba sampai melakukan ini." Naruto bergumam pelan di dekat Ino. Dan membuat cewek itu merasa bersalah total, apalagi Inuzuka malah membalas tatapan khawatirnya dengan senyum tipis seolah-olah semuanya bukan masalah.

.

.

"Dari Yamanaka Ino." Lee mengulurkan sebotol minuman dingin ke arah sang kapten yang baru saja menepi dari lapangan.

Kiba tertegun, dari Yamanaka Ino? Serius? "Dia menitipkannya padamu?"

"Yeah."

Kiba tersenyum sembari melihat minuman dingin di tangannya. Sederhana, tapi beda rasanya kalau dari orang yang menurutmu berarti.

"Kalian jadian ya?"

"Eh? Nggak."

"Nggak? Nggak salah maksudnya?"

Ah, terserahlah. Bodo amat yang lain mengira mereka jadian.

.

.

"Yamanaka."

Ino mengurungkan niat untuk meletakkan beberapa buku paket ke dalam lokernya. Dan membiarkan loker itu terbuka terabaikan. Jujur suasana sepi tempat itu membuat detakan jantungnya seolah menggema di tiap dinding. "Ya?"

Kiba menghela napas panjang, tersenyum sembari menatap lekat iris biru langit di depannya. "Thanks ya buat minumannya."

"Oh." Ino tidak tahu harus manjawab apa, semua kata dalam otak seolah lolos satu-persatu. "Harusnya aku yang berterima kasih padamu. Lagipula kenapa kau mengakui kesalahan yang bukan kesalahanmu waktu pelajaran kimia tadi?"

Kiba agak menundukkan pandangan sembari menggaruk tengkuk. Ransel yang mengait pada pundak kanannya nyaris jatuh. "Aku nggak tega kalau lihat kamu yang dimarahi."

Aduh, alasannya kok begitu? Ino jadi bingung harus menjawab apa. "Aku... Aku merasa bersalah. Kau kan nggak harus melakukannya." Ia menguatkan diri untuk tak mengalihkan pandangan dari Kiba, meski rasanya ia tak kuat lagi menatap pria itu yang membuatnya nyaris pingsan. Ditambah lagi aura Kiba lebih mempesona dalam balutan seragam sepak bolanya. "Jadi... Maksudku, minuman yang ku berikan padamu nggak ada apa-apa nya. Mau ku traktir sesuatu?"

Senyum Kiba makin lebar, seraya menggeleng ia memperhatikan sekitar dan sepenuhnya menyadari jika mereka hanya berdua disana, tak ada siapapun lagi. Sinar jingga matahari sore membias lewat celah-celah udara. Sebentar lagi malam bakal tiba. "Mari ku antar pulang saja."

"Hah? Tapi... itu bukan--"

"Ya sudah, berkencan lah denganku Yamanaka Ino."

Ino melongo mendengar pernyataan itu. Kencan?

tbc

.

19 September 2021

~Lin