Yang dijual di tempat ini hanyalah buku. Di setiap sisi rak tertata rapi buku dengan isi yang berbeda satu sama lain. Cover yang bergambar atau hanya dengan tulisan, versi anak-anak atau dewasa, ukuran kecil hingga besar, semuanya lengkap. Ada juga buku yang jarang ditemui di tempat lain tapi bisa ditemui disini, begitu juga dengan buku keluaran lama yang bisa di dapatkan disini.
Salah satu tokoh besar pernah mengutip tentang buku yang berbunyi "Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas", itu yang diucapkannya. Dengan buku kalian bisa mendapatkan banyak hal, banyak manfaat yang diberikan dari membaca buku.
Buku memanglah menakjubkan...
Walau begitu, kadang buku tidak memberi "manfaat" ke penjual buku. Terutama di tempat ini, yang terlihat memang sedikit sepi. Berjualan buku memang sedikit sulit dijaman penuh kemajuan seperti sekarang. Buku benar-benar terdampak atas kedatangan sistem pencarian seperti Google. Karenanya, buku sekarang mulai tersisih dari tempatnya yang menjadi sumber ilmu pengetahuan.
Alhasil, tempat ini yang dulunya ramai sekarang menjadi kurang pendatang. Tapi walau begitu, masih ada beberapa orang yang tetap setia dengan buku. Di tempat yang banyak buku seperti disini memang menjadi surga bagi penikmat kumpulan kertas tersebut. Yap, surganya untuk mendapatkan dan membeli buku.
Hanya saja...
"A-Anoo... bisakah kau membayarnya? Nihashi-san."
"Tolong jangan ganggu aku. Ichigo-kun."
... masih saja ada orang yang seenaknya sendiri.
...
Fireflies : From Book, To Hearts
.
Disclaimer
Bleach © Tite Kubo
Burn The Witch © Tite Kubo
Warning : Gaje, Ancur, AU, OOC, mungkin ada OC nya, alur berantakan, banyak Plot Hole, unsur jepang ngawur dan Typo yang gak mau ilang... Ilmu penulisan dan kualitas otak saya masih rendah.
Summary : Seorang pemuda bekerja sebagai penjual buku, dengan usia 17 tahun dan tentu saja masih duduk di bangku SMA. Ia berjualan buku di gerai yang diwariskan oleh Ibunya. Di masa remaja ini, ia lebih mencintai buku daripada lawan jenis. Ia ingin menjadi seorang penulis profesional, dan hidup terus dengan buku. Buku adalah kekasihnya, dan gadis ini adalah pelanggan terburuknya.
...
...
..
.
Chapter 1 : Penjual buku, Kurosaki Ichigo
.
Karakura Town
Pukul 21.11
"Nihashi-san, kau tidak pulang kah?"
"Jangan berisik! Sialan!"
Pemuda pemilik toko hanya bisa mendesah lelah, sudah beberapa kali ia menegur gadis satu sekolahnya yang dengan seenak hidungnya membaca buku jualannya untuk segera pulang. Pemuda bernama Kurosaki Ichigo itu menyandarkan punggungnya kebelakang untuk mendatangkan rasa santai, ia menyerah menghadapi gadis cantik di depannya ini.
Pemuda penjual buku tersebut bernama Kurosaki Ichigo. Lahir membawa rambut dengan warna khas yaitu oranye berbentuk runcing acak-acakkan. Tubuh tegap tinggi yang dilapisi dengan kulit persik serta bola mata yang memiliki warna sama dengan mendiang ibunya... Kurosaki Masaki... yaitu cokelat. Hal menarik dari dirinya adalah warna rambut yang entah bagaimana bisa berwarna oranye. Ichigo sempat menduga kalau warna oranye di rambutnya itu karena ibunya sering memakan kulit jeruk...
Tidak penting itu sialan!
Ichigo memandang ke sekitarnya yang sepi... karena memang sudah malam... dan buku-buku jualannya. Lapak jualan dan toko di dekatnya juga banyak yang sudah tutup. Kurosaki Book Store adalah nama dari toko milik Ichigo ini, toko milik Ibunya dulu.
Semua perasaan dan hal apapun tidak bisa mengalahkan rasa sayang dan hormat Ichigo terhadap Ibunya, jadi dia tetap akan menjalankan toko ini sampai benar-benar Kami-sama menyuruhnya berhenti. Lagipula banyak kenangan yang sudah terjadi di toko kecil ini antara dirinya dengan Ibunya saat beliau masih hidup dulu.
Yah, lagipula Ichigo sekarang adalah yatim piatu... Ichigo mendecak lirih karena setelah teringat Ibunya sekarang ia jadi teringat dengan ayahnya juga.. Kurosaki Isshin.
Buk
Ichigo mendengar suara yang sedikit keras. Ia kembali melihat kearah gadis di depannya yang sekarang sedang menunduk. Suara tadi berasal buku atau lebih tepatnya novel yang ditutup dengan keras oleh si gadis berambut hitam tersebut. Ichigo merasa lega karena sepertinya orang yang seharusnya menjadi pembelinya ini sebentar lagi akan pulang.
"Sudah selesai kah? Nihashi-san," tanya Ichigo ramah yang disertai penasaran tingkat dasar... gadis itu mengangguk lalu menatap Ichigo dengan senyum kecil menawannya.
"Buku ini sangat bagus, aku menyukainya," jawab singkat gadis tersebut.
Yah, dia adalah Nihashi Noel, gadis yang benar-benar sempurna di mata banyak orang, begitu juga dengan Ichigo yang setuju dengan semua hal baik pada Noel. Kami-sama sepertinya sangat menyayangi Noel sampai ia diberi begitu banyak anugerah kesempurnaan, itu menurut Ichigo. Jarang-jarang ada wanita dengan keadaan yang sama seperti dengan Noel.
Sedikit meluruskan, tidak ada dalam kamus manapun Ichigo jatuh cinta kepada Noel. Ia tidak terlalu fokus dengan hal yang namanya asmara di masa remajanya ini. Ia lebih baik menjalin pertemanan yang abadi daripada percintaan dengan ending tidak jelas. Itu yang ada di pikiran Ichigo sekarang... SEKARANG.
Noel memliki tubuh indah ramping... ditambah SELURUH asetnya yang mantap... dengan tinggi badan sedikit lebih rendah dari Ichigo. Kulit putih, rambut hitam sebatas pinggang dengan poni panjang, bibir merah muda pada umumnya serta hidung mancung.
Noel juga sama dengan Ichigo yaitu sama-sama tertarik dan sangat menyukai yang namanya buku, Noel bahkan lebih maniak daripada Ichigo. Hampir setiap hari jika tidak sibuk ia akan datang ke toko milik Ichigo ini, bukan sebagai pembeli tapi sebagai peminjam. Walau kondisi ekonomi Noel tidak ada di dalam garis ekonomi bawah dan tengah hanya saja karena yang berjualan adalah orang yang dikenalnya jadi ia bebas melakukan apapun, memanfaatkan kondisi dengan baik yaitu Ichigo yang takut terhadap dirinya.
Menurut Noel... Ichigo takut dengan dengannya. Tapi sebenarnya tidak... Ichigo mengijinkan Noel membaca buku dagangannya asal buku yang sudah tidak disampul plastik. Noel juga selalu membaca buku yang ia pinjam di toko jadi Ichigo lebih mudah untuk mengawasi bukunya.
"Eenggghh~" Noel meregangkan badannya dengan mengeluarkan suara yang "indah". Ichigo yang mendengarnya sedikit malu dengan muncul warna merah tipis di kedua pipinya.
"Kapan kau tutup? Ichigo-kun," tanya Noel sambil menatap Ichigo yang berada di depannya.
"Yah~ kurasa tutup sekarang adalah waktu yang tepat. Aku malas jika harus terlambat sekolah besok," jawab Ichigo sambil merapikan beberapa buku. Noel menggembungkan pipinya kesal, padahal ia masih belum ingin pulang dan lebih memilih untuk membaca buku disini.
"Mou~ kenapa sih, harus tutup sekarang? Padahal aku kan masih ingin meminjam bukumu lagi. Jangan tutup dulu ya? Ichigo-kun," ujar Noel dengan semakin mengimutkan pipinya. Ichigo tertawa kecil mendengar gadis yang menjadi idola di sekolahnya ini merengek kepadanya seperti anak kecil.
"Kau bisa melanjutkannya besok. Aku harus tutup sekarang," jawab Ichigo sambil memakai jaket berwarna putihnya.
"Ck... Hemf!" Noel memalingkan wajahnya kesal. Ia gagal mempengaruhi pemuda berambut oranye tersebut agar buka lebih lama.
"Kalau begitu, kau harus mengantarku pulang sampai ke rumah!" perintah Noel tiba-tiba. Ichigo menoleh ke arah Noel dengan ekspresi bingung.
"Mengantarmu?"
"Apa aku harus mengulangnya dua kali."
"Nihashi-san, kenapa aku harus mengantarmu? Seingatku, teknik Judo, Taekwondo, dan Karate milikmu itu sudah tidak diragukan lagi. Lalu Apa yang Nihashi-san takutkan lagi?" kata Ichigo panjang.
"Hal buruk bisa terjadi kapan saja, Ichigo-kun. Pokoknya! Kau harus mengantarku, aku tidak menerima penolakan darimu," kata Noel seenaknya lalu mengambil tas miliknya.
"Aku tunggu di luar," sambungnya kemudian berjalan keluar. Ichigo hanya bisa mengehela nafas, ia sebenarnya ingin segera pulang dan beristirahat. Tapi sepertinya ia harus menunda hal tersebut karena "Ratu" memberi perintah yang tidak bisa ia tolak.
Ah, sebenarnya Ichigo juga kasian melihat Noel pulang sendiri apalagi malam-malam seperti ini. Walau Noel punya semuanya tapi itu belum cukup untuk menjamin keamanannya. Ichigo memutuskan untuk mengantar Noel pulang, tapi setelah ia membereskan tokonya...
"Daripada menunggu di luar? Kenapa dia tidak membantuku saja?"
.
.
.
"Hoaaamm~"
Ichigo mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan punggung tangan untuk menutupi mulutnya yang baru saja menguap. Entah benar atau tidak katanya jika semakin lebar orang menguap maka akan semakin keras iblis untuk menertawakannya. Yah, iblis suka dengan orang yang menguap lebar. Ini jelasin apasih woy!
Disinilah Ichigo sekarang, terjebak dengan gadis cantik bernama Noel. Dia tidak menganggap berjalan berduaan dengan seorang gadis apalagi yang seperti Noel di malam hari seperti ini sebagai sebuah rejeki. Mungkin tidak banyak laki-laki yang bisa sedekat ini dengan Noel, Ichigo juga sebenarnya bingung kenapa Noel mau-maunya dan repot-repotnya berteman dengan seorang sepertinya. Entah dirinya dianggap teman oleh Noel atau sebatas penjual dan pembeli...
Selain itu, apa Noel tidak punya pacar?
Hal itu mungkin privasi bagi Noel dan Ichigo tahu batas pada dirinya agar tidak mencoba masuk ke dalam hal tersebut. Ichigo mencoba berpikir positif, mungkin saja Noel sudah punya orang yang tepat hanya saja dirinya tidak mengenalnya. Atau pacar Noel berada di Inggris karena Noel bersekolah SMP disana. Tidak mungkin kan Noel tidak punya pacar dengan semua yang dimilikinya? Itu hal mudah bagi gadis yang berjalan disampingnya tersebut.
Atau mungkin Noel benar-benar tidak punya pacar? Arrrgghh~ Ichigo ingin sekalu mengacak-ngacak rambutnya sambil berteriak dengan keras. Tapi itu tidak mungkin karena hari sudah malam dan ada Noel di sampingnya.
Itu memalukan sialan!
Terkutuk kau hal privasi orang lain!
"Eh, besok hari apa ya? Nihashi-san," tanya Ichigo tiba-tiba, otaknya entah kenapa mengalami pikun mendadak.
"Rabu, 4 Desember 20XX. Sepertinya memori di otakmu sudah penuh dengan buku sampai lupa dengan hari," kata Noel pedas seperti biasa. Ichigo hanya menghela nafas.
"Namanya juga manusia, maaf."
"Kau memang aneh, Ichigo-kun."
"Ngomong-ngomong Nihashi-san, kenapa kau suka membaca buku di tempatku?" Tanya Ichigo. Noel menolehkan kepalanya kearah pemuda berambut oren tersebut.
"Apa kau tidak senang aku ke tempatmu?" Tanya Noel yang entah kenapa suasanya menjadi menakutkan bagi Ichigo.
"B-Bukan begitu, kau tahukan tempatku itu... sederhana. Tidak seperti toko-toko buku lainnya," jawab Ichigo sekaligus meluruskan maksud pertanyaannya.
"Hmm~ Kenapa ya? Entah, aku juga tidak tahu," kata Noel asal.
"Kau itu tidak penting bagiku, Ichigo-kun. Yang paling penting adalah buku milikmu itu, selama aku bebas membacanya tempatmu itu akan selalu aku datangi," lanjut Noel dengan seringainya. Ichigo menyikapi perkataan Noel dengan mengerutkan dahinya.
"Apa maksudnya itu?" Batin Ichigo.
"Jika aku ini tidak penting, kenapa kau menyuruhku untuk menemanimu pulang?" Tanya Ichigo.
"Memangnya kau tega membiarkan seorang gadis SMA sendirian di malam hari?" Tanya balik Noel.
"T-Tidak tega sih sebenarnya."
"Itu kau tahu."
Anjing, jadi bingung. Ok, dititik ini Ichigo benar-benar merasa bingung dengan gadis cantik bernama Noel ini. Pertama Noel bilang jika dirinya tidaklah penting, lalu jika dia tidak penting, kenapa Noel meminta dirinya untuk mengantarnya pulang? Bukannya aneh menyuruh seseorang yang dibenci untuk mengantarnya pulang?
Ichigo bingung apakah Noel membencinya atau tidak... Kalian ikut bingungkah?
"Sial, kepalaku jadi pusing sendiri," kata Ichigo dalam hati lalu memijat-mijat kepala depannya.
Setelah scene membingungkan yang baru saja terjadi, Ichigo dan Noel berjalan dalam keheningan ditambah suasana sekitar yang juga sudah sepi. Ichigo melirikkan matanya kearah Noel yang sekarang sedang berkutat dengan ponselnya... dan ia terlihat kesal.
"Ada masalah? Nihashi-san," tanya Ichigo memastikan. Noel menganggukan kepalanya. Lalu Noel dan Ichigo berhenti sejenak di sebuah jembatan. Ichigo melihat kearah sungai yang berada di bawahnya sambil menunggu Noel yang masih serius dengan ponsel hitamnya.
"Ketua kelasku yang sok tampan itu baru saja membuatku kesal," jelas Noel. Ichigo mengangkat kedua alisnya.
"Ginjo-san?"
"Ya, si sialan itu tiba-tiba saja mengajakku untuk membahas sesuatu yang PENTING besok malam," tambah Noel.
"Lalu, dimana letak masalahnya?"
"Ck, apa kau tidak mengerti Ichigo-kun, jika itu sesuatu yang penting, kenapa tidak di sekolah saja? Si sialan itu pasti hanya ingin berduaan denganku. Aku bingung kenapa banyak yang menyukai PlayBoy bajingan sepertinya," ucap Noel kesal. Ichigo bingung untuk bereaksi apa, dia tidak terlalu mengerti masalah apa antara Noel dengan laki-laki tersebut.
"Aku benci saat dia menggodaku... pokoknya aku membencinya. Huft~" Noel mendengus kesal lalu menggembungkan Kedua pipinya.
Ichigo yang melihat gadis cantik di sebelahnya tersebut sedang dalam mode imut menahan kedua tangannya untuk tidak menarik kedua pipi Noel... Ichigo memang benci hal-hal imut karena dirinya selalu terpengaruh dan sulit menahan diri untuk tidak "Menyerang".
Mengehela nafas lalu kembali menatap sungai di bawah jembatan. "Itu berarti dia menyukaimu, Nihashi-san," kata Ichigo santai.
Set
Duagh
Noel yang kesal langsung memukul kepala Ichigo dengan keras. Pemuda tersebut bukannya memberi solusi justru mengatakan hal yang menyebalkan, Ginjo menyukainya? Emang itu penting? Mau ditaruh dimana mukanya nanti jika harus menjadi kekasih dari seorang PlayBoy bajingan bernama Kugo Ginjo itu. Harga diri Noel tidak serendah itu kalian tahu... Dirinyakan SEMPURNA.
Noel melipat kedua tangannya sambil menatap datar Ichigo yang masih mengelus-elus kepala dan rambut jeruknya. "Ittai... Ittai... Kau memukulku sedikit berlebihan, Nihashi-san," kata Ichigo.
"Salah sendiri karena membuatku kesal, jika mau aku bisa saja menjatuhkanmu ke sungai," ucap Noel sambil mengerlingkan matanya kearah sungai. Ichigo menghela nafas untuk kesekian kalinya, dirinya malas untuk membalas ucapan Noel. Ia juga tidak menyangka jika ucapannya tadi membuat Noel kesal.
Yasudah... Ichigo menurut sajalah
"Jadi kau menolak ajakannya?" tanya Ichigo menatap Noel.
"Aku menerimanya."
"E-Eh, kau menerimanya?"
"Sepertinya kau tidak pernah membersihkan telingamu, Ichigo-kun. Apa aku harus mengulangi setiap perkataanku?" kata Noel dengan wajah datarnya.
"Bangsat nih orang," batin Ichigo.
"Terserah kau sajalah, Nihashi-san."
"Ya iyalah terserahku, kau tidak berhak mengaturku. Memangnya kau siapaku?"
Sabar Ichigo...
"Baiklah baiklah, aku kalah darimu. Jangan marah-marah terus seperti itu... Nihashi-san," kata Ichigo dengan mengangkat kedua tangannya.
"Emmh, Hump!" Noel memalingkan wajahnya lalu berjalan meninggalkan Ichigo. Ichigo tanpa pikir panjang mengikuti Noel dari belakang, dirinya masih punya tugas untuk mengantarkan "Ratu" di depannya tersebut.
.
.
.
.
.
Karakura Town
"Tadaima...," kata Ichigo pelan setelah memasuki rumahnya, ya itukan adat orang jepang. Ichigo melepas sandalnya kemudian menuju ke ruang tengah tempat yang biasa keluarganya berkumpul...
Begitu juga saat mereka berdua masih ada...
Ichigo menekan saklar yang berada tidak jauh darinya dan seketika suasana terlihat jauh lebih baik. Menaruh minuman kaleng yang berisi teh hijau di meja lalu menjatuhkan badannya ke sofa. Ichigo merogoh ponsel lipat di dalam saku celananya lalu menyalakannya, melihat ada sesuatu yang masuk atau tidak.
"Sialan, viewers Bleach masih kalah dengan Naruto dan One Piece. Apa mereka tidak bisa membedakan Anime berkualitas dengan anime sampah?" kata enteng Ichigo dengan membanggakan Anime yang menjadi favoritnya... Bleach.
Menghela nafas sejenak, menaruh ponselnya ke meja lalu kembali menyandarkan badannya ke sofa. Ichigo menerawang dengan menatap langit-langit rumahnya... Yap, rumah peninggalan kedua Orang tuanya yang sekarang mereka sudah tidak ada.
Ibu Ichigo bernama Kurosaki Masaki, sementara Ayah Ichigo bernana Kurosaki Isshin. Mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta api...
Ichigo mau tidak mau teringat kembali dengan salah satu tragedi kecelakaan transportasi terburuk dalam sejarah Jepang tersebut. Tragedi yang dinamai sebagai Kereta Malaikat Kematian itu terjadi saat Ichigo masih duduk dikelas 4 Sekolah Dasar. Singkat cerita Masaki dan Isshin saat itu baru saja mengunjungi sebuah Festival Buku di Osaka, semuanya berjalan lancar sampai tragedi itu terjadi.
Karakura Town menjadi tempat terjadinya tabrakan antara 2 kereta cepat...
Layaknya 2 Banteng ganas yang saling membenturkan kedua kepala mereka...
Menurut berita serta informasi yang Ichigo tahu, penyebab utama tragedi tersebut karena kesalahan operator serta masalah teknis di sistem pengaturan rel. Ichigo yang saat itu masih belum terlalu mengerti sekaligus masih syok tidak mengikuti kelanjutan investigasi yang dilakukan. Investigasi memanglah cara untuk mengetahui penyebab dan bagaimana terjadinya sebuah kasus...
Tapi, sampai sekarang... Ichigo tidak tahu siapa pelaku utama sekaligus orang yang bertanggung jawab penuh dalam kecelakaan besar itu. Tidak pernah mendengar siapa, dan apa yang sebenarnya terjadi. Yang ada hanyalah informasi-informasi tanpa alasan jelas serta konferensi pers omong kosong yang dilakukan oleh pemerintah dan orang-orang sialan yang sengaja menutup-nutupi kasus tersebut.
Ichigo mengusap kasar kedua matanya yang akan mengeluarkan air mata, kemudian menarik badannya kedepan. Memikirkan hal tersebut membuatnya kesal, jika saja ia memiliki "kekuatan" untuk membuka kebenaran tragedi Kereta Malaikat Kematian...
"Ck"
.
.
.
.
.
Rabu, 4 Desember 20XX
Karakura HighSchool
Kelas 2-F
"Sensei kita dimana sih?"
"Aku benci jam kosong seperti ini."
"Kalian aneh, benci dengan jam kosong. Memangnya kalian mau belajar terus?"
"Belajarkan membuat kita pintar."
"Kita ini murid SMA, yang kita lakukan seharusnya adalah menikmati masa remaja kita."
"Itu benar."
"Kalian jangan terlalu banyak belajar jika tidak mau sepertinya." kata salah satu gadis sambil menunjuk ke arah Ichigo yang sedang membaca bukunya.
"Lihatlah, laki-laki menyedihkan ini. Inilah jika kalian terlalu banyak belajar. Jam kosong seperti ini adalah pertanda dari Kami-sama jika kita harus menikmati masa muda kita. Hidup jam kosong!"
"Hidup jam kosong! Hidup jam Kosong!..."
"Cringe bangsat, apa mereka sebodoh itu?" batin Ichigo sambil mengerutkan dahi ke arah teman-teman sekelasnya tersebut.
Ichigo menjalani kehidupan SMAnya di Karakura HighSchool. Sekolah ini dikelilingi oleh pepohonan, kompleks sekolah terdiri dari sejumlah bangunan yang bervariasi dari satu hingga empat lantai, bersama dengan area terbuka. Atap yang dikelilingi pagar, sering digunakan oleh siswa sebagai tempat makan siang. Fasilitas sekolah meliputi lapangan, jalur lari enam jalur, dan pusat kebugaran yang ada kolam renang...
Kolam renang... pakaian renang gadis-gadis remaja... Waaah~
Ada sejumlah klub di sekolah, dari sepak bola, bola basket hingga Kendo, olahraga dan akademik lainnya juga ada. Sekolah ini agak terkenal dengan tim karate yang kuat. Setiap tahun, dikejuaraan apapun, selalu ada siswa yang memenangi event karate atau setidaknya ada yang berdiri di podium.
Entah menggunakan dukun atau cheat... memang kenyataannya Karakura HighSchool berhasil melakukannya...
Ichigo sendiri bukanlah murid Hits di Karakura HighSchool, dirinya hanyalah siswa biasa yang bersekolah dengan normal. Tidak pernah mengikuti sebuah ekstra atau klub-klub di sekolahnya. Walau begitu, Ichigo memang cukup terkenal di sekolah ini karena... rambut orennya. Ditambah tinggi tubuh yang memang sedikit tidak biasa membuatnya mudah dikenali.
Ichigo yang sejak kecil sudah menjadi seorang Kutu Buku walau masih bisa mengingat Real life memang sering diejek oleh murid-murid lainnya. Kebanyakan yang mengejek Ichigo adalah murid yang bisa dikatakan... populer... atau nama mereka terkenal di sekolah ini. Bullying memang sudah menjadi hal biasa di sekolah-sekolah menengah atas.
Dan Ichigo memang tidak bisa menyanggah hal tersebut, remaja seusianya memanglah suka seenaknya sendiri. Untungnya Komisi Disiplin dan OSIS disini melakukan pekerjaannya dengan baik jadi pembullyan masih bisa ditekan oleh mereka walau masih ada yang melakukannya.
Ngomong-ngomong tentang OSIS, pelanggan setia sekaligus pelanggan terburuknya yaitu Nihashi Noel, adalah Ketua OSIS saat ini. Yah... sudah bisa ditebaklah bagaimana Noel bisa menjadi Seto Kaichou.
Drrrt
Drrrt
Kegiatan Ichigo terganggu karena ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Menaruh bukunya kemudian mengambil ponsel jadulnya tersebut dari saku celananya. Hal pertama yang bisa ia lihat adalah sebuah pesan dari seseorang...
"Nihashi-san?" Kata Ichigo setelah membaca nama si pengirim.
"[ Keluar dari kelas jelekmu itu sekarang juga! ]"
Ichigo mengerutkan dahinya, ia bingung kenapa Noel bisa tahu jika dirinya masih berada di dalam kelas. Pandangan Ichigo tiba-tiba teralihkan oleh teman-teman sekelasnya yang sekarang sedang gaduh di depan pintu. Sepertinya ada sesuatu sampai-sampai membuat suasana menjadi heboh.
Ichigo memasukkan buku yang ia baca tadi kedalam tasnya kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah kerumunan tersebut.
"Ada apa sih sebenarnya?" Gumam Ichigo kemudian menengok kearah luar.
"Hwaak..." Ichigo membuka lebar-lebar mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Dan ternyata adalah... Noel yang sedang dipeluk oleh Ginjo.
To Be Continued
Terima kasih sudah membaca
Jangan dimasukin ke Hati
Good Bye... and Good Night... BAAM
15 November 2019
By SanArya
