Otonari no Tenshi-sama
Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichiei Ishibumi
Rated: T
Genre: Slice of Life, Romance.
Peringatan keras! Serius deh! Multi-Chap, OOC, EYD Hancur, Typo(s)
Enjoy.
[…]
[…]
[…]
[…]
Chapter 8 – Festival musim panas.
Libur musim panas akan segera berakhir, dan Gabriel masih harus memeriksa jawaban dari beberapa muridnya yang mengikuti kelas tambahan setelah ini. Saat ini Gabriel tengah merapikan buku-buku yang baru saja ia gunakan untuk mengajar kelas tambahan.
Saat ia berjalan di lorong sekolah, ia tak sengaja melihat sesuatu yang menarik tertempel di papan pengumuman sekolah.
"Festival?"
Ia sebenarnya sangat ingin untuk pergi ke sebuah festival, bahkan sangat banyak guru maupun murid-muridnya yang mengajaknya untuk pergi ke sana. Tapi ia selalu menolak mereka semua karena alasan pekerjaan, sesungguhnya ia hanya merasa tak nyaman jika harus pergi ke sebuah festival dengan orang tak dikenal.
Tapi mungkin tahun ini akan berbeda, ia punya seseorang yang bisa diajak pergi ke sana, pikirnya. Ia kemudian segera beranjak dari sana untuk segera pulang sembari bersenandung kecil di tengah perjalanan pulang.
[...]
"Festival musim panas?"
"Ya, apakah kau sibuk?"
"Tidak juga sih, tapi kenapa?"
"Aku hanya ingin pergi ke sana, apakah kau tak mau?"
Inilah yang ia benci dari sikap Gabriel. Gadis ini selalu saja menyerangnya dengan wajah sedih seakan-akan ingin menangis. Ia sebenarnya tak berniat menolak ajakan gadis tersebut, ia hanya penasaran kenapa gadis ini ingin pergi ke festival musim panas. Tidakkah ia memikirkan akibat yang akan ditimbulkan jika mereka berdua pergi berkencan?
"Bukan begitu, tentu saja aku mau. Jadi kapan festivalnya akan berlangsung?"
"Sore ini."
"Ya ampun, seharusnya kau menanyakan itu kemarin."
Gadis ini mengajaknya tanpa bertanya terlebih dahulu. Bagaimana kalau ia memiliki janji?
"Aku tak tau kalau neet sepertimu bisa memiliki sebuah janji?"
"Oii!"
Gadis ini memang selalu selangkah di depan jika membicarakan tentang fakta. Naruto penasaran, fakta menyakitkan apa lagi yang akan ia ucapkan berikutnya.
"Kalau begitu, aku akan kembali ke apartemenku untuk bersiap-siap. Kita akan bertemu lagi nanti."
Gadis itu kemudian beranjak dari apartemen miliknya, meninggalkan dirinya yang tengah berpikir keras sekarang.
Oke, tenangkan dirimu Naruto. Kau hanya pergi kencan, apa yang kau takutkan?
'Yukata kah… aku penasaran, bagaimana penampilan gadis itu ketika menggunakan yukata.'
'Kenapa kau begitu yakin Gabriel akan menggunakan yukata?'
'Karena ia akan berkencan denganmu.'
Naruto menyesal bertanya kepada Kurama.
Ia kemudian beranjak dari tempatnya berada sekarang menuju ke arah kamar miliknya. Ia berniat untuk merapikan dirinya sedikit. Memastikan dirinya tampak bagus di cermin, ia kemudian berniat mengambil mantel miliknya dan bergegas menuju ruang tamu, sebelum akhirnya ia teringat akan sesuatu.
Seorang gadis membutuhkan waktu yang lama untuk berdandan.
Yah, bagaimanapun juga Gabriel masihlah seorang gadis, dan seorang gadis membutuhkan waktu untuk berdandan. Walaupun Naruto agak sangsi. Seorang Gabriel akan tetap terlihat manis meski ia tak merias dirinya sekalipun, sungguh sebuah keajaiban memang.
[…]
"Naruto-kun~"
Gabriel mengucapkan namanya dengan nada lembut.
Saat ini dia tengah mendapati dirinya terbaring di atas sofa ruang tamu miliknya, dengan keadaan Gabriel berada di atas tubuhnya. Berkatnya, ia bisa merasakan tubuh bagian atasnya sangat berat, sampai tak mampu ia rasakan lagi.
Ketika gadis itu semakin mendekat ke arahnya, ia bisa merasakan sentuhan lembut dari tangan gadis itu, serta suara deruan nafas milik Gabriel. Dengan pandangan malu-malu, Gabriel kemudian mengalungkan kedua tangan miliknya, mengikis jarak di antara mereka.
Naruto sedikit mendongak ketika menatap malaikat tersebut, ia bisa melihat dengan jelas bibir ranum tersebut sedang berusaha mengucapkan sesuatu.
"Aku menyukaimu~"
Naruto tak mampu menjawab dan hanya mencoba untuk memalingkan wajah miliknya, namun Gabriel menahan pergerakannya sembari tersenyum hangat ke arahnya. Naruto tak mampu melakukan apapun, ia hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan dilakukan gadis ini kepadanya.
"Tolong... tetaplah bersamaku... selamanya."
...
...
...
...
...
...
...
'Mimpi indah?'
"?!"
Setelah mendengar suara Kurama memanggilnya, ia sadar, jika kejadian barusan hanyalah mimpi. Ia merasakan nafasnya tak teratur. Ia menyandarkan dirinya pada sofa sembari mendinginkan kepalanya. Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya ke tembok saja guna menenangkan pikirannya, sebelum ia akhirnya teringat akan janjinya dengan Gabriel.
Ia kemudian melihat ke arah arloji yang ia gunakan. Pukul 18.30 dan Gabriel masih belum berada di sini. Ia kemudian beranjak dari sofa menuju ke arah dapur untuk minum.
Ia benar-benar tak habis pikir dengan kejadian yang ia alami barusan, itu bahkan terlalu indah untuk disebut kenyataan.
"Ah, kau sudah bangun?"
Ia terkejut, saat ini Gabriel berada di dapur miliknya tengah mempersiapkan sesuatu.
"Sejak kapan?"
"Mungkin tiga puluh menit yang lalu. Kau tidur sangat nyenyak, jadi aku membiarkanmu."
"Hahh... maafkan aku. Seharunya kau membangunkanku."
"Tak apa, lagi pula kita belum terlambat untuk melihat kembang apinya."
Naruto merasa sangat bersalah sekarang, bisa-bisanya ia memimpikan gadis itu dalam mimpinya, apalagi sampai membuatnya menunggu seperti ini.
'Bukankah aku begitu bodoh?'
'Itu reaksi yang normal ketika kau menyukai seseorang.'
Seperti yang Kurama katakan. Ia sudah tak mau membohongi perasaannya lagi sekarang, ia memang menyukai gadis ini. Lagi pula, mana ada laki-laki yang tak jatuh hati jika kau memiliki seseorang yang merawatmu dengan penuh kasih sayang setiap harinya.
"Jadi?"
Naruto kemudian berbalik ke arah Gabriel dan menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Bagaimana menurutmu?"
Gabriel kemudian berpose, merentangkan kedua tangannya, menunjukkan yukata yang ia gunakan kepada pemuda itu. Gabriel terlihat mengenakan yukata berwarna putih dengan aksen bunga plum di sekitarnya. Ia menggunakan obi berwarna biru yang melingkar di pinggang ramping miliknya. Rambutnya dikuncir ekor kuda dengan tambahan aksesoris berupa bunga canola yang memiliki warna senada dengan rambutnya.
Naruto membeku di tempat ketika memperhatikan gadis tersebut. Sejujurnya ia memang sedikit penasaran bagaimana penampilan gadis ini menggunakan yukata. Tapi ia melupakan hal itu ketika ia sibuk memikirkan mimpinya barusan.
Hanya ada satu kata di pikirannya sekarang.
"Benar-benar imut."
"Te-terima kasih."
Yukata yang dipakai Gabriel benar-benar sederhana, dengan warna putih sebagai dasarnya, memberikan kesan ketenangan bagi yang melihatnya. Dengan tambahan bunga sebagai aksesoris pendukung memberikan suasana menyegarkan di sekitarnya.
"Sejak awal kau memang sudah imut, tapi yukata itu membuatmu terlihat jauh lebih imut."
"Se-sebaiknya kita segera berangkat."
"Oii, pelan-pelan sedikit."
Gadis itu hanya mengabaikan teriakan pemuda itu dan menyeretnya keluar dari apartemen miliknya.
[…]
Ketika mereka tiba di festival, Naruto menyadari satu hal. Bahwa mereka sangat menarik perhatian, atau lebih tepatnya Gabriel sangatlah menarik perhatian banyak orang. Tak banyak orang yang menggunakan yukata ketika pergi ke festival musim panas, jadi tidak heran jika gadis ini menjadi pusat perhatian. Ditambah parasnya yang sangat cantik itu membuatnya sangat menonjol.
Festival berlangsung sangat meriah, Naruto pernah berada dalam lautan manusia ini beberapa kali dan tak berniat untuk berada di dalamnya lebih lama lagi. Ia bahkan tak berniat untuk membeli apapun sekarang ketika ia melihat begitu panjangnya antrean yang ia lihat disetiap stand makanan.
"Wahh... ramai sekali."
"Jangan sampe tersesat oke."
"Aku tak akan tersesat semu- hyaa!"
Gabriel kehilangan keseimbangan saat ia tak sengaja tersenggol oleh orang lain, Naruto dengan sigap segera memegang kedua bahu miliknya.
"Sepertinya kau butuh bantuan?"
"Terima kasih."
Naruto kemudian mengulurkan tangan miliknya ke arah gadis itu.
"Setidaknya pegang tanganku, itu akan memudahkanmu berjalan."
Gadis itu hanya tersenyum sebagai balasan sebelum kemudian memegang tangan pemuda itu dengan erat.
Gabriel yang menggunakan yukata pasti punya kesulitan berjalan, apalagi ia menggunakan geta sebagai alas kakinya, hal itu pasti sangat menghambat mobilitas miliknya. Mereka kemudian berjalan berdempetan karena ramainya pengunjung yang datang ke festival malam ini.
Sejujurnya ia tak suka akan keramaian ini. Ingin sekali rasanya ia menggendong gadis itu dan melompat pergi dari sini.
'Bukankah ada kuil tak terpakai di sekitar sini?'
Oke, itu mengingatkannya akan sesuatu. Di sekitar sini memang ada kuil yang tak terpakai yang pernah ia gunakan untuk beristirahat. Tempat itu agak tinggi dari tempat mereka berada sekarang, jadi mungkin tempat tersebut adalah pilihan yang bagus untuk menonton kembang api.
Naruto kemudian membawa mereka menerobos kerumunan, seperti yang ia duga bahwa keberadaan gadis ini sangat menarik perhatian banyak orang. Butuh waktu cukup lama untuk bisa sampai ke kuil ini karena mereka harus berdesakan melewati ramainya pengunjung yang datang, belum lagi orang-orang yang sengaja berhenti karena terpukau akan pesona malaikat ini.
"Kau mau mengajakku ke mana?"
"Kau akan tau nanti."
[…]
Setelah berjalan cukup lama, kira-kira tiga puluh menit, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Naruto tak mengira akan menghabiskan waktu selama itu hanya untuk pergi ke kuil ini. Tepat ketika ia akan berbicara, ia melihat kilatan cahaya yang selanjutnya diikuti dengan suara ledakan khas sebuah kembang api.
*BLARR
"Waaah..."
"Kau menyukainya?"
"Ya! Terima kasih karena sudah membawaku kemari, Naruto-kun."
'Ya Tuhan, Gabriel. Tolong kendalikan dirimu. Senyummu itu bisa membunuhku, kau tau?'
Senyum manisnya benar-benar berbahaya, satu tindakan ceroboh dari gadis ini dapat membuat laki-laki di sekitar mereka jatuh hati karena senyum milik malaikat ini. Bahkan Naruto sendiri yang sudah sering melihat senyum itu masih tak bisa menghentikan detak jantungnya yang berpacu dengan liar.
"Ah, aku hampir lupa. Aku membuat beberapa onigiri."
"Terima kasih."
Naruto kemudian menerima onigiri buatan Gabriel, sembari duduk menyaksikan pertunjukkan kembang api yang terlihat begitu indah dari kuil ini.
"Kau tau? Aku tak pernah tertarik sekalipun untuk pergi ke festival musim panas. Tapi entah kenapa, tahun ini aku begitu tertarik untuk pergi ke sini."
"Hehh... bolehkah aku bertanya alasannya?"
"Karena aku bisa pergi dengan seseorang yang aku kenal."
"Bukankah kau punya kenalan lain yang bisa kau ajak untuk pergi?"
"Entahlah, aku tak terlalu mengenal mereka begitu dekat."
'Jika aku tak mengenalmu, mungkin aku juga tak akan tertarik untuk pergi kemari.'
Naruto hanya bergumam sejenak, sebelum melirik gadis itu melalui sudut matanya, mengagumi setiap inci kecantikan yang dipancarkan oleh gadis ini.
"Ada apa, Naruto-kun?"
"Tidak, bukan apa-apa."
"Ehh, aku jadi penasaran~"
Naruto hanya memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan milik Gabriel.
*BLARR
Saat kembang api itu meledak, kilatan cahaya menyinari wajah milik pemuda itu. Ia dapat melihat goresan tipis seperti kumis kucing di pipi pemuda ini. Gabriel tanpa sadar mengarahkan tangannya ke arah pemuda tersebut, berusaha untuk menyentuhnya.
Naruto yang sadar akan sentuhan tersebut seketika menoleh ke arah samping dan mendapati Gabriel tengah berusaha menyentuhnya.
"Ahh, maafkan aku."
"Tak masalah, kau boleh menyentuhnya."
"Benarkah?!"
"Tentu."
Gabriel yang sudah mendapat izin dari pemuda itu kemudian tanpa malu-malu menyentuh pipi pemuda tersebut. Entah kenapa goresan itu membuatnya terlihat lucu atau lebih tepatnya imut, begitulah pikirnya.
"Hihi..."
Naruto hanya bisa membeku di tempat, ia sedang berusaha untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat. Bahkan hanya dengan interaksi sederhana seperti ini dapat membuatnya kewalahan, ia merasa malu dengan dirinya sendiri.
Namun kesenangannya itu tak bertahan lama ketika ia merasakan getaran dari arah saku celana miliknya. Ia kemudian mengambil ponsel pintar miliknya dan membaca pesan yang masuk tersebut.
Jika kau tidak sibuk, temui aku di tempat biasa. Ada hal yang harus kubicarakan denganmu.
Azazel.
'Semoga kali ini hanya perasaanku saja.'
Ketika ia merasakan akan terlibat dengan suatu masalah, perasaannya tak pernah berbohong akan hal tersebut.
Dan ia membenci hal itu.
[…]
[…]
[…]
[…]
[…]
To Be Continued
