Note: Implied abuse, Disturbing Implications, depresi, horor psikologikal, horor kosmik Semi-Canon.


Anak-anak Galaksi: A Memory that Remains

Oleh Murasaki Dokugi

BoBoiBoy milik Monsta


.

.

.

Bagian 2: Kompani baru

(Bukan sudut pandang Taka)

Hari ini sama seperti hari-hari biasa. Aku dan Taka menelusuri perbukitan pasir tidak jauh dari rumah kami. Ya, rumah. Aku dan Taka adalah anak-anak terlantar, jadi mau tidak mau kami harus membangun rumah kami sendiri dari berbagai macam rongsokan di planet ini. Memang rumah yang kubangun tidak seperti rumah mewah layaknya rumah milik orang-orang kaya di Planet Kubulus dan Planet Windara. Tapi setidaknya rumah yang kubangun dari barang-barang rongsokan masih mampu menampungku dan Taka. Bagi kami, rumah 'kumuh' yang kubangun sudah layak disebut istana impian.

Kutendang-tendang pasir di hadapanku seraya berjalan menelusuri rongsokan-rongsokan di sekelilingku. Taka juga melakukan hal yang sama. Tangan kecilnya meraih beberapa rongsokan yang berserakan tak jauh dariku dan memindahkan mereka ke samping.

Mungkin kalian bertanya-tanya apa tujuan kami menelusuri rongsokan-rongsokan ini. Firasatku mengatakan bahwa setidaknya terdapat sepotong atau dua potong roti yang tertimbun di bawah rongsokan-rongsokan ini. Jangan tanya kenapa kami tidak mencari makanan yang lebih cocok untuk dikonsumsi. Bagi kami, sepotong roti keras sudah cukup untuk mengisi perut kami selama sehari atau dua hari.

Kukais-kais rongsokan di hadapanku menggunakan tongkat kayuku. Benar saja. Mataku menangkap visual sepotong roti yang terselip di antara gerigi-gerigi rongsokan. Mungkin koki sebuah pesawat angkasa lupa mengambil rotinya ketika pesawat angkasanya dibuang kesini. Ah, tidak masalah. Yang terpenting sekarang aku dan Taka bisa makan.

Tiba-tiba sebuah kepulan pasir menerpaku. Aku cepat-cepat melindungi mataku menggunakan tangan agar tidak kelilipan. Gawat. Badai pasir mulai datang. Aku dan Taka harus pulang sekarang. Sepotong roti sudah cukup sebagai harta karun yang kami dapatkan siang hari ini.

Begitu aku hendak memberitahu Taka soal badai pasir itu, sekonyong-konyong dja berlari menjauh dariku. Aku terkejut dan refleks meneriakinya.

"Wei, Taka! Mana kau nak pergi tu?"

"Kejap, Kasa! Aku nampak ada seseorang kat sana!"

Huh? Seseorang? Ada orang lain selain kami disini? Instingku membuatku menggenggam tongkat kayuku dengan was-was. Tidak biasanya kami kedatangan orang asing. Aku bergegas menyusul ke arah dimana Taka berlari. Kalau orang asing itu bukan orang baik-baik, Taka bisa dalam bahaya!

Ketika aku sedang berlari menyusul Taka, kudengar dia berseru ke arahku. "Kasa! Cepat sini! Akak ni demam tinggi!"

Huh?

Seorang kakak? Demam tinggi?

"Hah? Siapa yang demam tinggi?"

Aku bergegas ke tempat dimana Taka berlutut. Di hadapannya terlihat sesosok gadis menelungkup di sela-sela rongsokan. Gadis itu mungkin lebih tua dariku jika dilihat dari perawakannya yang lebih besar. Dia memiliki rambut berwarna perak sepunggung, berpakaian serba merah tua, bertelinga runcing sepertiku, dan berkulit pucat. Pelipisnya tampak berdarah. Dia mengerang. Tampaknya dia masih setengah sadar. Taka langsung menoleh ke arahku dengan tatapan khawatir yang menghiasi wajahnya. Aku mengangguk dan mencoba memeriksa kondisi gadis itu. Kuraba pelipisnya. Betul saja. Hawa panas dari pelipis gadis itu langsung menerpa punggung tanganku, membuatku cepat-cepat menarik tanganku.

"Eh, ha'ah lah. Dia demam," ujarku panik. Apa jangan-jangan gadis ini juga dibuang oleh orangtuanya ke planet ini seperti hal-nya aku dan Taka?

Kugigit bibirku. Aku tidak boleh membiarkannya habis disini. Gadis ini masih bisa diselamatkan, aku yakin.

"Jom, Taka. Kita kena bawa Akak ni ke rumah. Bahaya kalau dia ditinggal disini."

"Okey," angguk Taka. Aku balas mengangguk lalu mulai memapah gadis asing ini. Taka ikut membantuku memapah walaupun tubuhnya lebih kecil dariku. Langkah kami terseok-seok ke dalam pasir. Ternyata gadis ini lumayan berbobot. Untung saja aku dan Taka tidak terlalu jauh pergi dari rumah.

Sesampainya di rumah, aku dan Taka pun membaringkan gadis itu di kasurku. Dia kembali mengerang. Aku segera menaruh roti temuanku di atas meja dan meraih sebuah kain bersih di dekat tungku. Kucelupkan kain itu di baskom air yang terletak di samping tungku, memeras airnya, lalu meletakkannya di atas pelipis si gadis. Dengan begini kuharap demamnya bisa segera turun, doaku dalam hati.

(Bukan sudut pandang Taka berakhir)


Kasa mendesah panjang. Sudah dua hari berlalu sejak dia dan Taka menemukan gadis misterius yang pingsan ini. Dan sudah dua hari ini pula si gadis belum sadarkan diri. Kasa memperhatikan kedua lengan gadis itu. Ada beberapa bekas lebam akibat tamparan dan pukulan disana, membuat Kasa merasa perutnya jatuh saking merindingnya.

Apa jangan-jangan gadis ini lari dari seseorang yang menyakitinya? Tapi siapa? Dunia ini kadangkala dihuni orang-orang kejam.

"Kasa, dia dah sedar kah?" Taka tahu-tahu muncul di sampingnya, membuat Kasa terlonjak.

"Ya Tuhan! Bro, jangan lah kamu buat aku terkejut macam tu," ucap Kasa kaget. "Longgar jantung aku."

"Hehe, maafkan daku," balas Taka sambil cengengesan. Dia melirik ke arah si gadis yang terbaring di tempat tidur. "Apa yang dah berlaku dekat Akak ni sampai dia boleh kita jumpa dekat barang-barang kutip kat bukit pasir?"

Kasa menggaruk dagu. "Kamu tengok lengan dia? Macam ada beberapa bekas lebam dari tumbukan," gumamnya berintuisi, membuat Taka membelalak.

"Maksud kamu... Dia disakiti seseorang ke?"

"Ya. Aku takut benda itu lah yang dah berlaku dekat dia," tukas Kasa dengan wajah iba. "Siapapun yang buat benda kejam dekat Akak ni, dia mesti punya hati sehitam lohong hitam."

Taka menelan ludah mendengar kalimat dingin Kasa itu. "Alamak... Jangan... Jangan lagi..." cicitnya gugup dengan wajah pucat. "Ini dah kali kesekian kita dapatkan mangsa kekejaman orang lain, termasuk diri kita. Aku... Aku tak tahan lah, Kasa. Sampai bila kita akan terus didzolimi macam ni?"

Taka menaruh kedua tangannya di depan dadanya dan mulai hiperventilasi. Nafasnya memburu dan wajahnya semakin memucat. Kasa melihat kondisi sahabat ciliknya dan langsung merangkulnya, berusaha menenangkannya.

"Hei, hei. Takpe, bro. Tak pe." Kasa menepuk-nepuk punggung kecil Taka yang mulai gemetar. "Kita masih punya satu sama lain. Dua budak lagi elok ketimbang satu, dan jadi tiga ditambah Akak ni. Tak pe, Taka. Kita masih boleh tahan. Aku yakin."

Taka menghembuskan nafas panjang. Serangan paniknya mulai mereda. Dia menyeka air matanya yang meluber ke pipinya. Ditatapnya Kasa dengan mata berkaca-kaca.

"Te– Terima kasih sebab dah tenangkan daku."

Kasa tersenyum lega. "Sama-sama," balasnya senang. "Okey lah kalau macam tu. Jom kita makan. Roti semalam masih ada. Aku hangatkan dia kat wajan tungku ye? Kamu jaga Akak ni. Tengok kalau-kalau dia dah sedar."

Taka mengangguk sumringah. Detik berikutnya Kasa melesat ke dapur, meninggalkan Taka bersama si gadis pingsan di kamar.


Gelap. Rabun. Fokus.

Dia mengerang pelan. Kesadarannya mulai menyusup masuk ke dalam dirinya. Pelan-pelan matanya membuka, menangkap visual sesosok anak kecil berambut keabuan dan memakai baju singlet merah.

Tunggu. Anak itu yang pertama kali dia lihat saat dia terbangun setengah sadar di sela-sela rongsokan.

Kedua matanya telah membuka sepenuhnya. Dia merasa agak linglung.

"Ugh... Di... mana..."

"Eh?" anak berambut keabuan itu terkejut melihatnya siuman. Langsung saja dia berseru ke arah sebuah ruangan.

"Kasa! Akak ni dah sedar!"

"Hah, Ye ke? Okey, Taka. Aku tiup api tungku dahulu."

Anak singlet merah yang bernama Taka itu menatap si gadis dengan cemas. "Akak okey ke? Macam mana perasaan Akak?"

Si gadis tidak langsung menjawab. Dia menatap Taka selama satu menit sebelum akhirnya dia membuka mulut.

"A... Ir..."

"E- Eh? Air? Akak nak air?" Taka melompat dari samping tempat tidur dan melesat ke arah dapur. Disana dia bertemu dengan Kasa yang baru saja menyiapkan beberapa potong roti hangat berukuran kecil.

"Akak tu dah sedar ke, Taka bro?" tanya Kasa sembari berjalan menuju kamar dimana si gadis berada. Taka mengangguk dan menciduk air matang dari panci di dapur menggunakan gelas kayu.

"Ha'ah, dia dah sedar. Hang pergi jumpa dia. Aku nak ambik air dahulu. Dia kehausan."

"Okey?"

Kasa masuk ke dalam kamar sambil menenteng sebuah piring berisi potongan-potongan roti kecil yang hangat. Si gadis terlonjak kaget melihatnya disitu, membuat Kasa ikut panik.

"Ta– Tak pe, Kak. Takpe. Saya bukan orang jahat. Akak jangan cemas," ucapnya berusaha menenangkan si gadis. "Saya dah buatkan roti hangat. Akak makan ye."

Si gadis tidak menjawab. Tubuhnya masih terlihat tegang. Kasa pelan-pelan menaruh piring berisi potongan roti hangat di samping kasur, takut si gadis merasa terancam seperti tadi. Detik berikutnya Taka masuk ke dalam kamar dengan menenteng tiga gelas kayu berisi air minum.

"Ha- Halo, kak. Ini air minum yang Akak mahukan," ujar Taka sembari menyodorkan satu gelas air ke si gadis. Pelan-pelan si gadis menerima gelas itu dan menyesap air di dalamnya dengan agak rakus, membuat Taka mengidik. Apa jangan-jangan gadis ini belum pernah makan dan minum lagi selama berhari-hari? Hal yang sama juga terjadi pada potongan-potongan roti hangat sajian Kasa. Mereka lenyap dari piring dan berpindah ke dalam perut si gadis, membuat Kasa dan Taka melongo hebat.

Gadis ini benar-benar butuh bantuan mereka.

Dua menit berlalu. Si gadis bersendawa kecil. Wajahnya yang pucat mulai terlihat segar kembali. Setelah menghembuskan nafas panjang, ditatapnya kedua bocah lelaki yang duduk di samping kasurnya.

"Te– Terima kasih..." ucapnya gagu. "Aku... Aku dah lagi baik."

Kasa mengangguk, disusul Taka. "Sama-sama, Kak. Senang boleh bantu," balas Kasa senang. "Akak masih perlu sesuatu?"

Si gadis menggeleng dan menyibak poni peraknya dari wajahnya, menampakkan wajahnya sepenuhnya. Dia berkulit putih agak pucat. Matanya berwarna merah tua. Telinganya agak meruncing seperti telinga Kasa dan Taka. Kasa mengingat-ngingat kalau dia pernah melihat spesies si gadis. Tapi memorinya lumayan kelabu. Yang jelas gadis ini sudah siuman dan baikan. Itu sudah cukup bagi Kasa.

"Nama saya Taka, kak." Tiba-tiba Taka dengan lugunya memperkenalkan diri. "Dan ini Kasa, kawan saya. Kami budak-budak yang duduk kat Planet ni, Planet Gugura."

"Planet... Gugura?"

"Yup," angguk Kasa. "Salam kenal, Kak. Maaf kalau keadaan kami tak terlampau memadai buat pelayanan terhadap Akak–"

"Rosaline." Gadis itu tiba-tiba memotong. "Nama aku Rosaline. Panggil aku Roz."

"Ah, okey kalau macam tu, Kak Roz–"

"Roz sahaja dah cukup. Kita macam cuma beza beberapa tahun."

"O– Okey lah. Roz kalau macam tu," ujar Kasa sedikit gugup. Dia tidak menyangka gadis ini akan mengintimidasinya dalam hal penyebutan nama. "Kalau boleh tahu, Roz berasal dari mana?"

Mendengar itu, Roz langsung menatapnya. "Planet Tim tam Dua. Ada bel?"

Kasa menggeleng. Dia tidak mengingat nama planet itu. Tiba-tiba dia mendengar Taka berseru.

"Oh, Planet dunia fantasi ke? Yang ada naga dan peri?"

Roz terkekeh. "Bukan cuma mereka. Ada Centaur, Siren, Merman, dan lain-lain. Kalau korang pernah kesana, korang akan nampak zaman medieval."

Mereka pun tertawa, mencairkan suasana yang sebelumnya agak kaku. Kasa menggaruk dagu kembali. Dia masih penasaran kenapa Roz bisa terdampar di Planet Gugura.

"Roz, kalau boleh tahu... Awak tengah pesiar kat Planet ni ke? Dimana pesawat angkasa Awak?"

Roz menggeleng. "Tak. Aku tak guna pesawat angkasa. Aku guna badan aku sendiri."

"Heeehhh?"

Kasa dan Taka terbelalak. Bagaimana bisa seorang gadis mampu bertahan di ruang hampa luar angkasa tanpa pesawat ataupun baju khusus. Kasa menyipitkan matanya ke arah Roz, curiga. Roz menyadari tatapan Kasa itu dan bertanya,

"Kenapa, Kasa?"

"Ah, takpe. Bukan benda penting," tukas Kasa cepat-cepat mengalihkan perhatian. "Oh, ya. Aku dan Kasa nak pergi cari makanan dahulu. Roz boleh duduk sini buat berehat selama kami pergi."

Roz tersenyum simpul. "Okey lah kalau itu yang kamu mahu, Hang Kasa."


Bersambung...

Tetap setia menunggu kelanjutannya ya ^^ Love you all, dear readers!