"Chanyeol, aku ingin spaghetti carbonara dan cheese cake."
"Astaga. Kau sudah menghabiskan sekotak es krim dan semangkok ramen itu sendirian. Dan sekarang...?" Chanyeol shock.
Baekhyun memasang wajah setengah memelas dengan puppy eyes andalannya.
"Tapi ini permintaan bayi."
Chanyeol selalu saja terkecoh dengan tipu daya Baekhyun.
"Oke, sayang. Akan aku belikan." jawab Chanyeol mencium kening Baekhyun penuh sayang.
Jackson sering kena fitnah oleh Baekhyun sejak bayi itu masih berada dalam kandungan. Nafsu makan Baekhyun semakin membludak sejak ia mengandung, dan ia tidak bisa mengontrol itu hingga berat badannya naik. Makan adalah satu-satunya hal yang membuatnya senang. Ia akan membawa kantong besar berisi snack dan wafer ke sekolah dan memakan itu semua saat jam istirahat.
Baekhyun benar-benar sangat dimanjakan oleh Chanyeol.
Ada udang dibalik batu.
Baekhyun sedikit menjinjit untuk mengalungkan tangannya pada leher suaminya, kemudian mencium pipinya mesra. "Terima kasih. Aku mencintaimu darling." ucapnya tersenyum manis.
Oh, bahkan Baekhyun masih bisa genit ketika hamil. Setelah menggunakan lotion di sekujur tubuhnya seusai mandi, Baekhyun akan mulai menggagumi dirinya sendiri di depan cermin. Ia selalu mengamati perkembangan baby bump-nya.
Segera saat Chanyeol pulang dengan beberapa paper bag berisi makanan, saat itulah Baekhyun merasa jatuh cinta berkali-kali padanya yang sangat suamiable. Pria itu sangat pengertian dan perhatian.
"Sayang, jangan menjinjit seperti itu.. apakah tidak berat...?" Chanyeol malah panik. Ia terlihat ingin memegang perut besar Baekhyun dengan takut-takut.
"Tidak darling..! Our baby bee baik-baik saja kok."
Baekhyun kembali tersenyum dengan tatapan penuh cinta yang ia berikan untuk Chanyeol. Murni dan manis.
Ia sangat menggemaskan dan lucu. Mengapa bisa ada orang dewasa yang dapat bertingkah manja dan dewasa sekaligus? Maksudnya, orang itu adalah Byun Baekhyun. Ia sangat menggagumkan.
Baekhyun terlihat berisi dan semakin cantik saat hamil. Terkadang ia mengambil tumpukan helaian rambutnya dan kemudian dikaitkan di belakang telinganya. Rambutnya lebih cepat memanjang, sehingga ia terkadang menjepitnya. Kulit putihnya semakin bersinar seperti snow white dan beberapa bagian tubuhnya semakin montok―tapi juga sensitif ketika disentuh. Karena itu Baekhyun jadi tidak ingin dekat-dekat dengan Chanyeol, padahal pria itu tidak melakukan apapun.
Berhubungan seks adalah suatu hal yang mereka harus lakukan saat usia kehamilan semakin tua―dan itu membuat Baekhyun menderita.
Pengeluaran uang meningkat dalam rangka mempersiapkan kelahiran anak kedua. Separuh budget dihabiskan untuk memenuhi nafsu makan Baekhyun dan juga keinginannya membeli baju-baju hamil yang lucu. Chanyeol sangat heran dan berpikir ada lubang dimensi di dalam perut Baekhyun. Tapi pria itu menurut padanya. Jika tidak, Baekhyun dan sang jabang bayi akan marah.
Setidaknya itulah yang Chanyeol percayai. Ia hanya ingin membuat Baekhyun dan bayinya senang. Chanyeol suka melihat pipi gembul Baekhyun bergerak lucu saat ia mengunyah dan berkata bahwa makanannya enak. Baekhyun membohongi Chanyeol perihal permintaan bayi. Terkadang bukan selalu karena Baekhyun ngidam, tapi memang ia yang ingin makan.
Ck, bodoh juga Chanyeol mau percaya. Tapi sebenarnya ia hanya berpura-pura bodoh.
Mereka akan cuddling bersama di sofa saat malam hari ketika Taehyung sudah terlelap. Chanyeol sangat suka membelai perut bulat Baekhyun yang menggemaskan. Bayinya tumbuh dengan sehat dan baik. Setelah menyapa bayinya, pria itu kemudian akan mencium kening ibu si bayi. Jika ia tidak melakukannya, Baekhyun akan merajuk karena merasa Chanyeol hanya memperhatikan bayinya.
Baekhyun berubah menjadi sangat manja dan cerewet. Ia harus tidur, berjalan, mengajar di sekolah dan secara harfiah melakukan apapun seraya membawa bayi di dalam perutnya. Ia harus mempersiapkan dan melayani segala kebutuhan suami dan anaknya disaat dirinya mengalami morning sickness yang menyebalkan. Karenanya Baekhyun ingin Chanyeol bergantian dan juga memperhatikannya.
"Sayang, aku pikir bayi kita perempuan."
Baekhyun menatapnya tak senang. "Kenapa kau bisa berpikir begitu?"
Jelas-jelas hasil USG menunjukkan bayi mereka berjenis kelamin laki-laki. Apa itu artinya Chanyeol tidak menginginkan bayi laki-laki dan tidak menghargai perjuangan Baekhyun selama mengandung. Baekhyun mulai kesal.
Chanyeol meraih jemari lentik Baekhyun dan memberinya kehangatan dengan memijatnya lembut. Ia tahu bahwa Baekhyun akan marah. Baekhyun diam saja membiarkan Chanyeol mengurut jemarinya yang terasa dingin. Wajahnya terlihat cemberut.
"Jangan marah ya sayang. Aku cuma pikir kau makin cerewet sejak hamil, dan uh... kau tahu... kau juga suka makan makanan yang manis." Chanyeol mengamati bahwa Baekhyun berubah menjadi sangat cerewet sejak hamil, makanya ia berpikir demikian. "Tapi aku tidak masalah jika bayi kita laki-laki atau perempuan. Aku tetap akan menyayanginya. Jika dia perempuan, dia pasti cantik sepertimu." tambahnya tersenyum.
Bukannya mereda, Baekhyun malah semakin kesal. Baekhyun langsung melepaskan tautan tangan Chanyeol pada jemarinya. Sebuah tanda bahwa ia benar-benar kesal dan Chanyeol harus peka dengan kode itu.
"Oh jadi menurutmu aku cerewet?" tanya Baekhyun ketus.
"Sejak kau hamil." Chanyeol menjawab polos.
Baekhyun menghela nafas. Oh, lelaki manis itu sedang marah. Bayinya dapat merasakan detak jantung ibunya memacu cepat.
"Kalau sebelumnya?"
Baekhyun memang cerewet, bahkan sebelum ia hamil. Tidak ada yang bisa membantah kebenaran itu. Ditambah Baekhyun juga mengalami mood swing sejak hamil.
Chanyeol bingung ingin menjawab apa. "Uh... kurasa..." ia yakin jika dirinya menjawab jujur, maka Baekhyun akan mengusirnya malam ini. Yakinlah.
"Iya katamu?" Baekhyun menatapnya garang.
Chanyeol ngeles. "Tidak sayang.. aku belum berkata apapun."
"Aku membawa anakmu dalam perutku ..itu sangat melelahkan asal kau tahu Park.. aku bahkan susah untuk tidur dan kau malah mengataiku seperti itu." jawab Baekhyun mengomel panjang.
Chanyeol tersenyum tulus. "Baiklah maafkan aku. Aku yang salah. Kau jangan marah-marah terus. Kasihan bayi kita." ucapnya sabar.
Chanyeol selalu mengalah untuknya. Demi Baekhyun dan bayinya.
.
.
Jika mereka sudah memiliki Taehyung yang mirip dengan Baekhyun, maka Chanyeol berharap yang kali ini akan mirip dengannya. Supaya adil.
"Chanyeol, bayi kita menendang sangat keras."
"Coba tendang balik."
Baekhyun mendelik, kemudian menjitak kepala Chanyeol.
"Sayang, aku cuma bercanda."
Baekhyun mengusirnya. "Jangan dekat-dekat dengan aku." ia sedikit menjauh seraya mendekap perutnya seolah takut Chanyeol akan menyakiti bayinya. Tatapannya mendelik ganas dengan wajah merengut. Layaknya kucing betina yang takut anaknya diambil, seakan Chanyeol adalah manusia tak punya hati yang tega memisahkan induk dari anaknya.
Oh, tidak. Mood sensian Baekhyun kumat lagi. Baekhyun bisa tiba-tiba menjadi galak di waktu tidak menentu.
Ini pertanda buruk.
Chanyeol menghela nafas. Ini bukan permintaan bayi, mana mungkin anaknya sendiri akan menghindar darinya. Ini adalah permintaan absurd Baekhyun yang tidak masuk akal. Permintaannya sangat menguji iman kesabaran. Contohnya ketika Baekhyun meminta diantar ke rumah Lucas si brondong tampan. Rumah pemuda itu tak jauh dari sini. Kemudian Chanyeol akan dipaksa menonton Baekhyun bergelayutan manja dan genit dengan Lucas.
Itu bukan permintaan bayi! Lagipula bayi di dalam perut Baekhyun itu berjenis kelamin laki-laki, bukan perempuan. Memang dasar Baekhyun saja yang ingin berdekatan dengan brondong. Ia bukan contoh guru yang baik untuk dilihat oleh murid-muridnya. Untung saja tidak ada kejadian Baekhyun cosplay jadi dory dan lupa bahwa Chanyeol adalah suaminya.
Baekhyun bahkan menamai kontak whatsapp suaminya dengan nama 'Psikopat'. Hanya karena Chanyeol pernah tanpa sengaja memberikan susu hamil untuk Taehyung. Padahal Baekhyun sudah bilang bahwa susu untuk Taehyung ada di toples beruang. Chanyeol bodoh.
Baekhyun seringkali tiba-tiba mengusir Chanyeol dan beralasan sedang malas melihat wajahnya. Chanyeol tidak ambil pusing, karena Baekhyun pasti akan mencarinya ketika meminta uang bulanan atau minta diantarkan ke pasar.
Tidak, kalaupun Baekhyun tidak meminta diantarkan―Chanyeol akan langsung menawarkan diri. Ia tidak akan membiarkan Baekhyun berpergian seorang diri.
"Bayi kita sedang marah padamu, karena kau tidak membelikan bantal strawberry itu untuknya." lanjut Baekhyun memberitahu.
Chanyeol memutar bola matanya. "Itu 'kan keinginanmu." batinnya kesal.
Baekhyun mengungkit peristiwa ketika ia melihat bantal strawberry berukuran raksasa yang dipajang di sebuah toko boneka―saat mereka jalan-jalan ke mall kemarin malam. Baekhyun naksir dengan benda empuk berwarna merah itu, ia sangat menginginkannya. Tapi, Chanyeol pasti tidak ingin membeli sesuatu tak penting dengan pengeluaran uang yang sudah membengkak di bulan ini. Tagihan listrik naik drastis, entah apa yang dilakukan Baekhyun dengan alat elektronik kesayangannya.
Chanyeol punya penghasilan cukup besar, tapi mereka harus mempersiapkan biaya persalinan, perlengkapan bayi dan segala tetek bengek dalam rangka menyambut kelahiran buah hati kedua. Sementara itu, Baekhyun cukup pelit meski ia punya penghasilan sendiri. Ia akan merepotkan Chanyeol dengan cara apapun.
Selain memfitnah Jackson, Baekhyun juga memfitnah Taehyung untuk melancarkan aksinya.
Baekhyun secara sepihak langsung masuk ke toko mahal itu seraya menggandeng Taehyung. Ia beralasan bahwa Taehyung ingin membeli boneka baru untuk menggantikan boneka dino miliknya yang sudah usang. Taehyung tentu senang karena akan dibelikan boneka baru, tanpa tahu dirinya dijadikan kambing hitam oleh sang mama.
Chanyeol menggendong putra kecilnya seraya melihat-lihat etalase.
Baekhyun merengut. Ia cemburu karena Chanyeol menuruti permintaan Taehyung, tapi tidak untuk dirinya. Ia akan memangkas uang jajan Taehyung sebagai balasan. Jahat. Padahal urusannya sama anak sendiri.
Setelah itu, Chanyeol yang merasa kesal.
Tidak, bukan karena ia harus membelikan boneka baru untuk Taehyung. Bukan itu yang membuat Chanyeol kesal, tapi karena keinginan bodoh Baekhyun. Lelaki manis itu merajuk karena keinginannya tidak dikabulkan. Mereka sebelumnya baru saja keluar dari supermarket dengan belanjaan satu troli penuh. Baekhyun bukan lagi meminta, tapi merampok. Kali itu saja Chanyeol bertekad tidak menuruti permintaan Baekhyun.
Bagaimana mungkin nantinya mereka berbahagia menyambut kelahiran buah hati kedua seraya menangis dalam kemiskinan.
Huft. Orang yang sedang hamil itu merepotkan.
"Aku ingin tidur dengan Taehyung malam ini."
"Baek, kau harus mengerti bahwa―"
"Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Kau paham itu."
Chanyeol pun menuruti permintaannya. Pria itu bangkit dari sofa, melangkah ke konter dapur dan membuat kopi.
Baekhyun bersungut-sungut dengan menimang sebuah buku pelajaran di atas pahanya. Ia memilah materi pelajaran yang akan diberikan besok. Ujian semakin dekat dan Baekhyun tidak ingin ada muridnya yang mendapat nilai jelek. Chanyeol seharusnya membantunya, tapi malah membuatnya kesal. Ia semakin kesal ketika Chanyeol tidak menolak ketika pria itu diusir.
Alih-alih menyuruhnya pergi, Baekhyun sebenarnya berharap Chanyeol membujuknya dan menemaninya. Ia merasa gengsi.
Baekhyun meletakkan buku pelajaran itu di atas tumpukan buku lainnya yang berada di meja. Tak lama setelah sosok jangkung itu menghilang, Baekhyun mulai mengusap perutnya yang terbalut selimut tebal nan hangat. Ia menyenderkan punggung letihnya pada sofa yang empuk. Perutnya semakin besar, membuatnya sesak dan sulit bergerak. Rasanya berat dan merepotkan.
Tinggal beberapa minggu lagi si bayi akan keluar dan melihat dunia. Baekhyun bahkan sudah lupa bagaimana nantinya ia akan bersalin dan mengeluarkan bayinya dari perutnya. Ia melakukannya tujuh tahun yang lalu, dan perjuangan itu mengerikan.
Dan bahkan pria menyebalkan bernama Park Chanyeol itu tidak datang lagi hanya untuk sekedar menemaninya. Pria itu pasti sedang sibuk sendiri dengan ponselnya.
Baekhyun mulai bermonolog dengan bayinya, berharap bayinya dapat mengerti bahwa hatinya sedang nelangsa dan nestapa karena ulah ayah dari si bayi.
"Anakku, jangan menjadi pelit seperti ayahmu. Dia juga tidak tampan seperti Brad Pitt, tapi kenapa aku mau."
Baekhyun yakin harus mengadu pada bayinya. Wajahnya dibuat sedih dan memelas seolah dirinya melakoni peran sebagai istri yang tersakiti dalam drama picisan ala keluarga berantakan. Lebih tepat disebut menjelek-jelekkan Chanyeol di depan bayinya.
"Dia lebih mencintai ponselnya daripada aku. Ayahmu tega membiarkan mommy-mu ini menyikat wc sendirian dan dia sibuk bertelponan dengan seseorang entah siapa itu. Aku tidak paham... harusnya kan ayahmu bisa menundanya. Iya 'kan sayang..."
"Astaga. Itu klienku. Urusan bisnis tidak bisa ditunda. Byun Baekhyun bodoh." Chanyeol mencak-mencak dalam hati.
Chanyeol benar-benar menuruti perintah Baekhyun yang tadi mendeklarasikan tidak ingin melihat wajahnya lagi. Pria itu memilih untuk menikmati kopinya di dapur seraya menghadap jendela dan memandangi langit malam. Tidur sendirian tanpa Baekhyun malam ini disampingnya bukan masalah besar. Chanyeol hanya tahu dirinya harus menuruti permintaan Baekhyun yang bawel.
Omong-omong, Chanyeol dapat mendengar apa yang Baekhyun katakan pada bayinya.
Mereka berdua aneh, tapi juga saling mencintai. Setelah pertengkaran kecil semalam, keesokan harinya terlihat keduanya kembali mesra. Baekhyun terlihat kembali manja dan jinak, mungkin juga terbesit rasa bersalah dalam benaknya. Semalam, Baekhyun merenung cukup lama seraya memandangi wajah putra kecilnya yang sudah terlelap. Memikirkan bahwa Chanyeol adalah orang yang sangat menerima kehadiran Taehyung dan menyayangi anak itu tanpa memandang masa lalunya.
Baekhyun merasa sangat beruntung memiliki Chanyeol.
Orang tuanya terlihat bahagia bersama. Tidak pernah ada penyesalan yang singgah sejak mereka menikah. Mereka menjalani hidup, menjalankan komitmen hubungan dengan apa adanya. Terutama Baekhyun yang hanya bekerja sebagai guru dan bukan berasal dari keluarga berada. Mereka berdua sama-sama bekerja keras.
Taehyung terkadang tiba-tiba terbangun dan mencari Baekhyun, tetapi lelaki manis itu sedang menikmati waktunya berdua bersama suaminya. Taehyung hanya mengamati dibalik pintu dengan pikiran kecil nan polosnya. Mereka berdua terus membicarakan tentang bayi.
Keluarganya sangat senang dan berkunjung secara rutin setiap minggu untuk melihat keadaan Baekhyun.
Taehyung kesal. Neneknya berkata bahwa orang tuanya mengharapkan dan sedang menanti kehadiran seorang bayi laki-laki. Orang tuanya bahkan tidak pernah memberitahunya tentang itu.
Ketika ia dan ayahnya tiba di rumah setelah pergi jalan-jalan bersama, dua orang itu mendapati Baekhyun sedang tidur setengah meringkuk di atas sofa. Saat itu Baekhyun sedang hamil tujuh bulan―dan jalan delapan bulan. Perut besarnya yang bulat seperti diisi buah semangka itu terlihat aneh tetapi menggemaskan di mata Taehyung.
Taehyung menatapnya antusias dan penasaran, tapi sorot mata Chanyeol terlihat khawatir. Baekhyun seringkali kelelahan, tapi ia selalu menyembunyikannya. Merawat seorang bocah kecil yang nakal seraya membawa bayi di dalam perut bukanlah suatu hal yang mudah.
Teman-teman Taehyung di sekolah juga berpikir hal yang sama. Perut Baekhyun songsaenim kesayangan mereka terlihat membesar setiap harinya. Baekhyun juga berjalan dengan lambat seraya menahan pinggangnya. Anak-anak kecil itu menatap ngeri ketika melihat Baekhyun meringis saat ingin duduk ataupun berdiri. Otak polos mereka berpikir tubuh kecil Baekhyun tak cukup kuat membawa perut sebesar itu, dan itu membuat Baekhyun menderita.
Itu tidak sepenuhnya salah. Baekhyun memang merasa 'lumayan' menderita di kehamilan kedua. Dulunya ketika ia mengandung Taehyung, rasanya tidak seperti ini. Bayi di dalam perutnya ini sangat sehat dan aktif. Si bayi sering menendang di waktu tidak menentu, misal ketika Baekhyun sedang mengajar. Anak-anak selalu terlihat khawatir ketika Baekhyun harus berdiri untuk menulis di papan tulis―jadi mereka menolaknya.
Mereka anak-anak yang manis.
Tentu saja karena Baekhyun adalah guru terfavorit dan kesayangan di sekolah, karena itu banyak anak-anak yang mengkhawatirkannya. Baekhyun juga biasanya memiliki jam tambahan mengajari anak-anak bermain musik―tapi untuk sementara digantikan oleh guru yang lain karena Baekhyun harus pulang lebih cepat dan beristirahat.
Semua anak-anak sering membicarakan tentang perut Baekhyun songsaenim yang besar, dan berkata sebentar lagi Taehyung akan memiliki adik bayi. Mereka juga berencana membeli hadiah untuk adiknya Taehyung. Tetapi, malah Taehyung tidak tahu apa-apa tentang itu―terutama tentang Baekhyun yang sebenarnya sedang hamil, dan dirinya yang akan menjadi seorang kakak. Taehyung hanya tahu ibunya bertambah gemuk karena banyak makan. Chanyeol sering membelikan makanan untuk Baekhyun saat tengah malam, mungkin perut Baekhyun membesar karena itu. Tapi rupanya salah.
Jimin marah-marah sendiri ketika Taehyung mengaku tidak tahu tentang bayi.
Jadi, Taehyung terus bertanya pada ayahnya tentang perut besar Baekhyun. Ia ingin mencari tahu kebenaran tentang pernyataan Yoongi tadi siang―bahwa ia akan memiliki seorang adik bayi.
"Itu membuat mommy kesakitan. Bisakah kita membantunya?"
Pertama-tama, Chanyeol berkata bahwa di dalam perut itu ada bayi kecil, makanya terlihat besar.
Jawaban dari ayahnya sudah cukup untuk mengkonfirmasi gosip ala-ala anak kecil di sekolah―bahwa benar Taehyung akan menjadi seorang kakak.
Namun muncul sebuah pertanyaan baru di kepala Taehyung. Apa atau siapa itu adik bayi?
"Dia sangat kecil dan mungil, karena baru keluar dari perut mama." Chanyeol tersenyum.
"Kita harus menyebutnya adik bayi atau dia?"
"Dengan namanya, Taehyungie. Kita akan memberinya nama yang bagus."
"Namanya siapa?"
Chanyeol menghela nafas. "Dia belum memiliki nama, karena belum lahir."
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Papa dan mama masih memikirkan nama yang bagus untuknya."
"Apakah dia akan menjadi cantik seperti Krystal?" tanya Taehyung penasaran. Ia akan memberitahu pada Jungkook dan seluruh teman-temannya.
"Mmhh.. sepertinya iya? Tapi dia laki-laki."
"Kenapa papa bisa tahu? Katanya belum lahir." Taehyung merengut kesal. Ia merasa dibohongi oleh ayahnya.
Chanyeol terkekeh ringan. "Taehyungie juga bisa merasakannya walau adik belum lahir. Coba pegang perut mamamu."
"Jadi kapan keluarnya?"
"Nanti. Sebentar lagi."
Taehyung tidak tahu harus bahagia atau sedih. Ia cukup kaget mengetahui dirinya juga pernah ada di dalam perut Baekhyun selama sembilan bulan. Ia tidak pernah ingat tentang hal itu.
Taehyung berlari menghampiri ibunya, dan meletakkan telapak tangan kecilnya di atas perut bulat yang baru ia ketahui terasa keras persis buah semangka. Bocah kecil itu pernah berpikir perut itu akan terasa kenyal seperti jelly.
Chanyeol hampir jantungan karena takut Taehyung akan meremas atau memukulnya.
"Ini adik?" Taehyung mulai mengusap pelan perut Baekhyun yang masih tidur dengan tenang. Tak sadar suami dan anaknya sudah pulang.
Chanyeol mengangguk. Ia mengulurkan tangan besarnya untuk menuntun tangan Taehyung mengusapnya dengan lembut tanpa membangunkan Baekhyun. Chanyeol sangat tidak sabar menunggu buah hatinya lahir. Benih cintanya dengan Baekhyun. Mereka berdua menunggu waktu cukup lama agar Baekhyun kembali siap mengandung dan memiliki anak lagi.
"Kadang-kadang adikmu nakal dan mama bisa merasakan pergerakannya." Chanyeol berbisik memberitahu.
"Tapi sekarang adik pasti sedang tidur bersama mama."
Baekhyun tampak seperti kucing yang sedang tidur. Kelopak matanya terpejam lembut dengan bulu matanya yang lentik. Lelaki manis itu tertidur tenang dengan sedikit rasa letih yang terlukis di wajah porselennya. Helaian rambut poninya sedikit berjatuhan menutupi kening putihnya. Sejak perutnya semakin membesar, Baekhyun memakai baju yang berukuran lebih besar juga―dan menutupi seluruh lengannya. Baekhyun tak kuat dengan udara dingin, dan ia sering kelelahan.
Chanyeol cukup terkesima bagaimana Baekhyun yang bertubuh kecil dan mungil bisa memiliki manusia kecil lagi di dalam perutnya.
Chanyeol bergegas menggendong Baekhyun ke kamar. Ia berjalan pelan untuk meminimalisir guncangan yang dapat membangunkan Baekhyun.
Baekhyun mulai menggeliat kecil di dalam gendongan hangat Chanyeol, tapi ia belum terbangun selama beberapa saat. Lelaki manis itu mulai membuka kelopak matanya dan menyesuaikan pandangannya. Suatu hal yang refleks Baekhyun lakukan adalah memegang perutnya. Sekedar memastikan bahwa bayinya merasa tenang. Dengan itu Baekhyun ingin berkomunikasi dan berkata pada bayinya bahwa dirinya baik-baik saja. Ada ikatan batin yang kuat antara ibu dan bayi saat di dalam perut. Ketika Baekhyun merasa kelelahan atau sedih, ia tahu bayinya juga akan merasakan hal yang sama.
Taehyung yang pintar segera membukakan pintu kamar dengan jinjitan di kaki kecilnya.
Ini di rumah. Setidaknya itu yang Baekhyun pikirkan pertama kali ketika kesadarannya kembali penuh.
"Chanyeol, jam berapa ini?"
"Hampir jam sembilan malam, sayangku."
Ada ketidaksetujuan yang terukir di wajah Baekhyun.
Chanyeol dengan hati-hati meletakkan tubuh Baekhyun di atas ranjang. "Sssst... lanjutkan tidurmu. Aku yang akan mencuci piring." ucapnya langsung ketika melihat Baekhyun yang mulai tampak panik.
Ajaibnya, Baekhyun dengan perut besarnya itu langsung mengangkat tubuhnya untuk duduk. Rasa panik memunculkan kekuatan tak terduga. Padahal yang biasanya ia harus menahan pinggangnya untuk berdiri.
Baekhyun melupakan rasa kantuknya seketika.
"Tidak... Taehyung..." Baekhyun bergegas ingin turun dari kasur untuk mencari anaknya. Ia tak melihatnya, mengapa hanya Chanyeol yang muncul.
Dengan keadaan hamil besar, Baekhyun seharusnya mulai mengurangi aktivitasnya. Chanyeol segera mencegahnya. Ia menghela nafas. Baekhyun begitu keras kepala. Kalau begini terus, ia akan meminta Baekhyun cuti lebih cepat.
"Aku disini!"
Taehyung sedari tadi bersembunyi di depan pintu menunggu momen yang tepat untuk muncul. Ia memekik dengan senyuman lebar yang menunjukkan deretan gigi kecilnya yang rapi. Bocah kecil itu setengah berlari dan hampir berniat menerjang Baekhyun, tapi ia mengurungkan niatnya. Baekhyun pasti akan merasa kesakitan ketika ia menerjangnya.
Baekhyun menuntun putra kecilnya untuk memeluknya. Taehyung terlihat takut-takut ketika mendekat, tapi akhirnya ia membenamkan kepalanya di dada sang ibu.
Baekhyun bernafas lega. Ia benar-benar berpikir Chanyeol lupa membawa Taehyung pulang dan meninggalkannya di mall. Baekhyun memperhatikan penampilan putra kecilnya dengan detail dari ujung kepala hingga ujung kaki. Taehyung masih memakai setelan pakaian berwarna navy yang Baekhyun pakaikan untuknya tadi sore.
Ini adalah salah satu kecemasan terbesar Baekhyun ketika ia tak melihat batang hidung putra sulungnya. Taehyung adalah harta berharganya―yang kedua adalah Jackson. Baekhyun memiliki dua anak, dan ia menyayangi keduanya tanpa dibedakan.
Tapi, Taehyung tidak berpikir hal yang sama. Baekhyun adalah orang yang merawat dan mengasihinya dari ia lahir hingga sekarang, sehingga anak itu merasa aneh ketika Baekhyun melakukan hal yang sama pada anak yang lain. Taehyung tidak suka ketika Baekhyun membagi kasih sayangnya untuk Jackson.
Mereka mendapatkan bayi laki-laki yang lucu, tapi Baekhyun hampir harus membayarnya dengan nyawanya. Baekhyun mengalami pendarahan, sehingga Jackson lahir sedikit lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Itu adalah hal pertama yang membuat Taehyung merasa aneh. Mengapa Baekhyun harus sampai merelakan nyawanya hanya demi mendapatkan seonggok makhluk kecil yang menangis kencang. Bayi itu seperti anak monyet dengan helaian rambut kekuningannya.
Chanyeol kewalahan karena Baekhyun hampir terkena baby blues, dan Taehyung yang merasa tidak suka dengan kehadiran anggota baru di keluarga kecilnya. Baekhyun pula tidak sedang dalam keadaan fit pasca melahirkan. Kesehatannya mendadak turun dan suasana hatinya memburuk. Setiap hari Chanyeol harus mendengar suara tangisan bayi, Taehyung yang berteriak dan omelan Baekhyun. Ditambah pemandangan Baekhyun yang terlihat lesu dengan mata sembab yang kurang tidur.
Chanyeol sangat khawatir padanya. Baekhyun sering terbangun dan tergopoh-gopoh menggendong bayinya yang sering menangis tengah malam. Ia berusaha membuat Jackson tenang agar tak membangunkan Taehyung yang masih tidur. Ia akan semakin repot kalau saja anak itu juga terbangun dan mencarinya. Baekhyun mengganti popoknya, menimangnya dan menyusuinya hingga ia tanpa sadar ketiduran. Tapi kemudian Baekhyun kembali terjaga ketika menyadari Jackson menggeliat tak nyaman. Dan akhirnya, Baekhyun tidak tidur hingga subuh.
Baekhyun yang kelelahan akan mendadak sensitif dan sering marah. Ia mungkin akan marah ketika Taehyung membuat kamar menjadi berantakan, Chanyeol yang lupa mematikan keran air dan hal sepele lainnya. Ia sudah sangat lelah ketika mengurus seorang bayi yang tak bisa lepas darinya selama 24 jam, ditambah dua orang lainnya.
Chanyeol mengerti itu, karenanya ia selalu menawarkan diri untuk membantunya. Membiarkan Baekhyun beristirahat tenang bersama bayinya―sementara pria itu melakukan pekerjaan rumah―membelikan makanan kesukaannya dan memujinya agar Baekhyun merasa senang. Chanyeol bergantian menjaga bayi mereka dan memberi Baekhyun waktu untuk menikmati kesendirian atau pergi berjalan-jalan bersama temannya.
Karena itu, Taehyung berpikir kehadiran adiknya malah membuat Baekhyun semakin repot. Ibunya masih memperhatikannya, tapi intensitasnya berkurang.
Taehyung kesal karena Jackson adalah bayi yang suka cari perhatian.
Ketika mereka berkumpul di ruang tamu, Baekhyun lebih sering memperhatikan adiknya. Jackson hanya bisa mengucapkan kata random berupa dada atau maa yang tidak jelas. Bayi itu akan mulai merangkak pada ibunya dan merengek manja. Jackson akan menarik baju Baekhyun ketika ingin menyusu, atau mencakar wajahnya ketika bayi itu bosan. Ia bayi yang kejam. Jackson tidak segan akan menjambak rambut Chanyeol ketika bayi itu tidak mau digendong oleh ayahnya―atau siapapun itu dan ketika keinginannya tidak dituruti.
Taehyung mengerjakan PR, sementara Baekhyun membuka lembaran buku bergambar dan memperkenalkan objek-objek hewan pada Jackson di pangkuannya. Meski mata bulatnya tertuju pada objek yang ditunjuk ibunya, Jackson tampaknya tidak peduli dengan Baekhyun yang berceloteh panjang. Jackson hanya merasa nyaman dalam dekapan hangat dan mendengar suara Baekhyun. Bayi itu menguap dan mengedipkan matanya polos, sesekali menatap Taehyung seolah mengejeknya.
Baekhyun sibuk membolak-balikkan lembaran buku di pangkuannya seraya menahan Jackson yang ingin lepas dari dekapannya. Ia tak sadar bahwa Taehyung sedang melirik cemberut dengan bibir kecilnya. Baekhyun sesekali bergumam menyuruh Jackson agar diam dan tak banyak bergerak. Jika Jackson dilepas, Baekhyun takut bayi itu akan menggangu kakaknya yang sedang mengerjakan PR.
"Daaa... daaa... daaa..."
Jackson menepuk-nepuk kakinya sendiri sembari tertawa ke Taehyung. Ia berusaha lepas dari dekapan ibunya dan merangkak ke kakaknya, yang sebenarnya ia hanya ingin mengajaknya bermain.
"Yaampun sayang. Jangan mengganggu kakakmu." ujar Baekhyun menahannya.
Taehyung menggunakan bukunya sebagai tameng. "Iiiiih mama! Aku tidak mau dekat dengannyaaa! Adik pasti belum mandi." sahutnya langsung.
Bayi itu mana mungkin bisa mengerti. Baekhyun meletakkan bukunya dan kini menggunakan tenaga dua tangannya untuk menahan tubuh gempal bayinya yang nakal. Jika Baekhyun lengah sedetik saja, Jackson pastilah melarikan diri dan merangkak kemanapun yang bayi itu sukai. Bahkan ibunya sering kewalahan menjaga Jackson yang terlalu aktif. Itu membuat Taehyung juga kesal.
Beruntung kedatangan Chanyeol mengalihkan suasana. Pria itu membawa Jackson keluar seraya mencari angin segar dan menyapa tetangga. Sebelum keluar rumah, Baekhyun mencium pucuk kepala lembut bayinya penuh sayang dan diikuti Chanyeol menghujani kecupan di wajah bulat bayinya―sehingga bayi gembul itu tertawa geli. Jackson cekikikan yang disambut tawa bahagia dari orang tuanya.
Baekhyun tersenyum lebar melihat suami dan anaknya pergi jalan-jalan sore di dekat taman. Jackson sudah punya banyak teman. Bayi itu sudah berkenalan dengan hampir semua anak kecil dan sesama bayi di kompleks. Chanyeol yang mengenalkannya, menunjukkan jagoan kecilnya dengan bangga.
Taehyung mencibir dalam hati melihat momen lovey dovey ala keluarga harmonis di hadapannya. Tapi tidak apa, 'toh ia bukan lagi anak kecil yang masih perlu dicium seperti itu. Ia akan tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tidak manja seperti adiknya.
Ketika Jackson tidak ada, Taehyung bisa mencuri atensi Baekhyun padanya. Berpura-pura tidak mengerti dengan tugasnya dan ingin minum susu cokelat dengan ditemani ibunya. Dunia kecilnya terasa damai ketika adiknya tidak ada.
Taehyung mulai menyimpan rasa tidak suka sejak menyadari bahwa Baekhyun memberi perhatian lebih untuk adik bayinya. Ia mengadu pada Baekhyun bahwa Jackson sangat bawel dan mengganggunya terus. Jadi Baekhyun meletakkan Jackson di roda bayi, memasak dan mencuci seraya mengawasinya. Jika bayi itu tidak mau duduk disana, Baekhyun terpaksa menggendongnya seraya melakukan pekerjaan rumah.
Taehyung kesal kenapa Baekhyun memperhatikan Jackson terus meski bayi itu rewel. Kenapa tidak langsung dibuang saja ke got?
Taehyung ingat Jackson awalnya masih kecil dan berwarna kemerahan dengan lendir putih disekujur tubuhnya ketika baru lahir. Kepalanya bahkan hanya sebesar kepalan tangan Baekhyun. Bayi kecil itu menangis dengan rintihan menyedihkan ketika Baekhyun menggendongnya pertama kali. Dengan perlahan dan hati-hati, Baekhyun menggengam tangan mungil bayinya.
Jackson saat itu baru berusia dua jam. Baru saja menghirup oksigen segar setelah keluar dari perut ibunya.
Tetapi kini ia tumbuh menjadi bayi yang gemuk dan sehat. Suatu hari nanti, Jackson akan tumbuh jangkung seperti ayahnya. Taehyung berpikir bahwa makhluk kecil yang lemah dan tak berdaya itu sekarang tumbuh menjadi si kecil yang menyebalkan!
Bocah itu harus sengaja berteriak memanggil ibunya ketika melihat Baekhyun tampak sibuk mengurus adiknya. Ia merebut kembali atensi Baekhyun dengan cara yang merepotkan. Taehyung seringkali membuat Baekhyun semakin repot dan menambah pekerjaannya di rumah. Ketika Baekhyun sedang menyuapi bubur untuk Jackson, tak sulit bagi Taehyung untuk sengaja membuat kekacauan dan berteriak memanggilnya.
Taehyung hanya merasa dirinya perlu diperhatikan juga, karena itu Baekhyun hampir sama sekali tidak punya waktu untuk bersantai ketika di rumah. Baekhyun hanya memiliki dua orang anak, yang terasa seperti memiliki sepuluh orang anak. Pinggangnya terasa ingin lepas. Bahkan untuk beristirahat selama sepuluh menit pun membuatnya tak tenang. Ia takut sesuatu terjadi pada kedua anaknya.
Ketika orang-orang bertanya pada Taehyung apakah ia merasa cemburu karena adiknya, anak kecil itu hanya akan berlari memeluk dan membenamkan wajahnya pada Baekhyun. Ketika Jackson ada di gendongan Baekhyun, bayi itu akan menarik rambut kakaknya dan itu membuat Taehyung mendongak kesal. Ia akan mencubit tangan Jackson ketika Baekhyun tidak melihatnya.
Ya Tuhan, bisakah bayi bernama Park Jackson diambil kembali?
Keesokan harinya, Baekhyun bangun dengan tubuh yang pegal dan otaknya mengirim sinyal bahwa tubuhnya masih lelah. Ia bangun lebih pagi, menyadari dirinya masih menggunakan pakaian kemarin. Chanyeol dan Jackson masih tertidur nyaman disampingnya. Rupanya semalam ia tertidur selagi menyusui Jackson. Ia paksakan tubuhnya berdiri bagaimanapun lelahnya.
Baekhyun mencuci muka, melangkahkan kaki ke kamar Taehyung―sekedar memastikan bahwa putra sulungnya masih tidur. Kemudian ia pergi ke dapur, dan mulai melakukan kegiatan rutin yang membosankan. Memasak, mencuci, menyiapkan pakaian suaminya, memandikan dan menyusui bayinya, dan banyak lagi.
Pagi itu Chanyeol terlihat banyak diam, dan Taehyung terlihat cuek. Anak itu tidak ingin memanggilnya lagi. Atmosfirnya terasa sangat berbeda. Bukan lagi suasana riang penuh canda tawa yang menemani keluarga kecilnya. Wajah Chanyeol terlihat suram. Baekhyun dapat merasakan itu, tapi ia tidak tahu mengapa. Taehyung tadi membuatnya menangis, tapi Baekhyun tidak mempermasalahkannya. Ia hanya tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Chanyeol memunda niatnya memberitahu Baekhyun. Karena itu, Baekhyun tidak tahu apapun. Karena itu, Baekhyun takut Taehyung menyakiti perasaannya lagi. Jika Baekhyun tahu apa yang terjadi, ia tidak pergi ke kamar anaknya.
Taehyung telah menyakiti hati Baekhyun. Bocah kecil itu rupanya juga bangun lebih awal dan merapikan tempat tidurnya sendiri dengan wajah tertekuk. Rasa kesal masih meliputinya.
Setelah memandikan dan menyusui Jackson, Baekhyun meletakkan bayi gembul itu di box bayi dan membiarkan Jackson bermain sendiri―sementara Baekhyun merasa perlu untuk melihat Taehyung. Jadi, ia melangkahkan kakinya ke kamar putra sulungnya.
"Mama kenapa kesini? Pergi saja sana."
Itu adalah kalimat pertama yang Taehyung berikan ketika menyadari sosok Baekhyun berdiri di depan pintu. Secara harfiah, ia mengusir Baekhyun. Ia tidak ingin melihat wajahnya. Nadanya terdengar seperti membentak dengan wajah tidak senang.
"Maksudnya? Pergi kemana?"
Bodohnya Baekhyun masih sempat bertanya seperti itu disaat air mata mulai memaksa keluar dari kelopak matanya.
"Sama adik. Dia kan tidak bisa mandi sendiri. Kalau Taehyungie sudah bisa." jawab Taehyung cuek. Ia ingin membuktikan pada Baekhyun bahwa ia bisa melakukan semuanya sendirian.
Baekhyun berusaha mengabaikan respon tak enak dari putranya. "Adikmu sudah mandi Taehyungie sayang. Sekarang mama akan mengurusmu." jawabnya secepat kilat mengusap matanya yang memerah dan berair. Ia berjongkok dan berniat memungut baju Taehyung yang berserakan di lantai.
Anak kecil itu lagi-lagi berkata sesuatu yang menyakitkan.
"Jangan diambil. Taehyungie bisa sendiri."
"Kenapa?" Baekhyun mendongak.
"Urus saja anaknya papa dan mama. Jangan aku."
Mata Baekhyun berkaca-kaca dengan bibir bergetar kecil. Ia buru-buru melangkahkan kakinya keluar sebelum air matanya akan tumpah dengan deras. Taehyung rupanya benar-benar tidak ingin kehadirannya disini. Baekhyun akan pergi ketika ia tahu putranya tak menginginkan kehadirannya. Ia tak pernah ingin membuat Taehyung merasa tak nyaman.
"Oh baiklah. Mama tidak akan mengganggu lagi. Maaf..." gumam Baekhyun.
Tak mungkin ia harus mengakui bahwa ucapan putranya itu telah menyakiti hatinya. Baekhyun merasa dirinya terlalu cengeng. Ia kembali ke kamarnya, duduk di kasur dan menangis sendirian.
Baekhyun sadar bahwa sejak peristiwa Jackson terjatuh di lantai, Taehyung selalu merasa bahwa Jackson lebih disayang. Anak itu berusaha menjauh dan bersikap cuek padanya. Ketika Baekhyun mengajar di kelasnya, Taehyung bersikap seolah tak kenal. Tak ingin menyalam padanya.
Jackson memandangi cukup lama pada sosok Baekhyun yang menangis terisak. Jelas bayi itu tidak mengerti, tetapi entah apa yang ada di pikirannya ketika melihat ibunya menangis. Bayi pintar itu berusaha berceloteh dan mengeluarkan suara untuk menarik perhatian, tapi Baekhyun sama sekali tidak menggubris.
Baekhyun merasa gagal merawat Taehyung. Sikap anak itu berubah tanpa ia tahu alasannya.
Chanyeol baru saja selesai mandi dan pemandangan Baekhyun yang sedang menangis itu membuatnya runyam. Ia tampak sudah tahu mengapa.
"Sayang... apa yang terjadi?"
"Katakan padaku... apa yang terjadi padanya?"
Baekhyun bertanya pilu dengan air mata berlinangan, sehingga Chanyeol merasa hatinya ikut tersayat. Baekhyun tidak tahu bahwa Taehyung membencinya.
Chanyeol akan menyuruh Taehyung untuk meminta maaf, tapi Baekhyun menolak. Ketika Chanyeol menapakkan kakinya di kamar Taehyung, tampak anak itu sedang berusaha memakai baju seragamnya sendiri dengan agak kesulitan. Begitu melihat sosok ayahnya, Taehyung langsung berlari ke arahnya dan memeluk kaki Chanyeol dengan manja.
"Papaaa! Ayo antarkan ke rumah Jungkook!"
"Apakah Taehyung sudah mengatakan pada mama tentang hal kemarin?" tanya Chanyeol lembut. Ia berjongkok menatap putra sulungnya.
Taehyung menggeleng.
"Bilang pada mama. Dia sekarang ada di kamar."
Bocah itu menggeleng lagi. Pasti ada Jackson. "Tidak mau!"
Kejadian pada pagi hari itu membuat Baekhyun murung dan sedih. Taehyung bahkan tidak mau repot-repot menatap bekal makan siang yang Baekhyun berikan untuknya. Anak itu tampak benar-benar marah.
Aktivitas pagi hari di rumah selesai ditandai dengan penghuninya keluar dari rumah dan bersiap-siap naik ke mobil. Baekhyun keluar dari rumah dengan Jackson berada di gendongannya. Biasanya ia akan kewalahan dengan tangan sebelahnya menenteng tas dan juga menggandeng Taehyung yang berlarian.
Hari ini tidak. Anak itu digandeng oleh Chanyeol.
Sementara ayahnya sedang mengunci pintu, dengan tangan tak lepas dari ujung kemeja ayahnya, Taehyung menatapi sosok Baekhyun dan adik bayinya yang berjalan terlebih dahulu. Jackson meletakkan kepalanya di bahu ibunya dan menatap polos pada Taehyung dengan matanya yang bulat. Pipi gembulnya sedikit berwarna keputihan karena Baekhyun memakaikan bedak terlalu banyak.
Meski Jackson adalah bayi yang tantrum dan jahat, tapi ia menyayangi kakaknya. Bayi itu akan selalu mencari Taehyung, merangkak dengan telapak kecilnya dan mengajaknya bermain. Tak peduli seberapa jahil Taehyung padanya. Merampas botol susunya, menindih tubuhnya, mencubit kaki gemuknya, menggulungnya dengan selimut atau melimpahkan kesalahannya pada Jackson yang polos―seperti menumpahkan kopi Chanyeol. Padahal Taehyung yang melakukannya, tapi ia menuduh adiknya agar Baekhyun tak memarahinya. Untungnya Jackson tidak mirip dengan Baekhyun, jadilah Taehyung tidak pernah merasa bersalah ketika menjahili adiknya.
Baekhyun harus mengawasi kedua anaknya ketika bermain bersama. Ia takut antara itu Jackson mengganggu Taehyung hingga anak itu kesal, dan Taehyung yang kesal pasti akan menjahili Jackson hingga bayi itu menangis. Kemudian Taehyung akan berteriak memanggil Baekhyun dan mengadu bahwa tangisan adiknya sangat berisik.
Mengapa Taehyung tidak mencarinya lagi?
Ada kecemasan yang terlukis di wajah Baekhyun. Ia merasa ada yang aneh, mengapa sikap Taehyung berubah. Baekhyun masuk ke mobil dan duduk diam seperti melamun. Matanya masih terlihat sembab secara samar. Ia ingin meminta maaf pada putranya.
.
.
.
Setelah mengantarkan Taehyung ke rumah Jungkook― karena anak itu merengek ingin berangkat sekolah dengan temannya―Chanyeol bergegas pulang dengan terburu-buru ke rumahnya. Ia cemas memikirkan apa yang akan dilakukan Baekhyun di rumah sendirian. Baekhyun tak bisa melakukan hal normal ketika perasaannya sedang kacau.
Baekhyun sedang berada di sofa ruang tamu dengan matanya yang sembab.
Chanyeol sudah mengatakan tentang itu padanya.
Meskipun sudah tahu, Baekhyun membuat suasana pagi hari itu tetap normal, karena tak ingin membuat suasana tak enak bersama keluarga kecilnya. Ia masih membuatkan sarapan dan bekal makan siang untuk suami dan anaknya, meski Taehyung sangat cuek menanggapinya.
"Aku merasa.. Taehyung membenciku."
Baekhyun menyadari kesalahannya. Mungkin memang dirinya lebih sering memperhatikan Jackson. Ia seharusnya menyadarinya sendiri dan meminta maaf pada Taehyung lebih cepat. Insiden Jackson yang terjatuh membuat Baekhyun sadar tentang perasaan Taehyung. Mungkin anak itu sering menjahili Jackson karena ia memang nakal, atau sebenarnya ia hanya merasa cemburu pada adiknya.
"Tidak, sayang. Percayalah, itu tidak akan terjadi. Taehyung hanya berada dalam suasana hati yang buruk saja."
Butuh waktu dua hari baginya untuk menyetujui kepergian Taehyung. Kalaupun Baekhyun tak setuju, Taehyung akan tetap pergi.
Baekhyun melepaskan kepergian Taehyung dengan sangat berat hati. Ia berpesan banyak hal, dan anak itu tidak menjawab apapun. Chanyeol segera mengecup pipinya sebelum Baekhyun akan menangis lagi, berbisik padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Setelah mobil itu menghilang, Baekhyun masuk ke rumah dengan lesu. Ia bahkan belum sempat mandi dan bersiap-siap berangkat kerja.
Chanyeol menatap sosok Baekhyun yang sedang membaringkan Jackson di pahanya dan mengganti popok bayi mereka.
Hari ini Jackson tidak bersemangat, seolah mengerti apa yang sedang dirasakan ibunya. Tatapan Baekhyun sangat kosong, ia sampai tak sadar suaminya kini sudah pulang dan berdiri di hadapannya.
"Sayang, apakah kau sudah siap? Kita harus berangkat lima belas menit lagi." suara Chanyeol membuyarkan lamunannya.
Baekhyun mendongak. Pipi porselennya kini basah karena air mata. Chanyeol tahu pasti ia menangis lagi. Baekhyun mengusap wajahnya untuk menghapus jejak dirinya yang menangis beberapa menit lalu.
"Sebentar. Aku menyiapkan susu dan popok Jackson dulu.." lelaki manis itu menidurkan Jackson di kasur bayinya dengan sangat hati-hati. Kali ini ia tak lagi lalai meletakkan bayinya di sofa untuk mengulang kebodohannya. Tubuhnya berlari kecil ke kamar untuk mengambil susu formula dan popok Jackson yang akan dibawa ke tempat kerja.
Chanyeol memandangnya dengan runyam. Bagaimana tubuh sekecil dan serapuh itu bisa kuat menghadapi ini semua. Pria itu menatap Jackson yang tampak nyaman di atas kasurnya, sedang mengisap jempol gemuknya. Setelah memastikan Jackson akan baik-baik saja ditinggal sebentar, Chanyeol bergegas menyusul Baekhyun ke kamar. Ia ingin membantunya.
Pintu kamarnya terbuka setengah. Chanyeol menggesernya pelan dan mendapati punggung kecil Baekhyun yang sedang menyusun popok, botol susu dan beberapa baju ganti Jackson di tas bayi dengan tergesa-gesa.
"Baekhyun.. perlukah kubantu?" Chanyeol menawarkan diri. Ia cukup jarang memanggilnya dengan nama. Ia hanya akan melakukannya jika suasana tidak mendukung. Misalnya, sekarang ini, mereka tak punya waktu untuk bermesraan.
Baekhyun menggeleng pelan, "Tidak.. cukup dengan mengawasi Jackson saja." gumamnya tak begitu fokus.
Chanyeol menyadari kemeja putih yang dipakai Baekhyun bahkan belum dikancing dengan benar. Pria itu menatapnya cukup lama, sebelum ia mengangguk samar dan berjalan kembali ke ruang tamu. Jackson kini bertelungkup dan tengah menatapnya dengan mata bulatnya yang lucu. Chanyeol terkekeh geli, mengangkat tubuh gempal bayinya dan menciumnya dengan gemas.
"Bersabarlah, oke? Mama sedang menyiapkan barang-barang milik Jackson di kamar." Chanyeol mendaratkan sebuah kecupan di kepala lembut Jackson. Ia menyesap dalam-dalam wangi khas bayinya yang beraroma bedak bayi dan minyak telon. Tangannya menepuk gemas pantat Jackson yang menggembung karena dipakaikan pampers oleh Baekhyun.
Jackson menjatuhkan kepalanya di bahu tegap sang ayah, sesekali menguap kecil dan air liurnya mengintip keluar dari mulut kecilnya. Mata bulatnya terlihat lesu dan mengantuk.
Baekhyun keluar dari kamar setelah beberapa menit berlalu. Ia menenteng tas berisi keperluan Jackson, tas kerjanya dan beberapa buku pelajaran anak. Baekhyun meletakannya di pinggir sofa, kemudian kembali melangkahkan kakinya ke kamar lainnya. Ia mendatangi kamar Taehyung yang sudah kosong. Chanyeol yang melihat itu hanya mengerutkan keningnya, apakah Baekhyun menganggap putranya masih berada disini?
Chanyeol menurunkan pandangannya pada Jackson yang menatap datar pada sosok ibunya. "Mama sedang bersedih, Jackson pasti menyadarinya 'kan?" tanyanya bermonolog pada bayinya yang bahkan tidak mengerti apa yang ia bicarakan.
Jackson lantas membenamkan kepalanya di dada bidang ayahnya tanpa minat. Bayi itu mengantuk.
Tak biasanya Jackson sangat tenang seperti hari ini.
Baekhyun keluar dari kamar itu dengan membawa sebuah boneka dinosaurus milik Taehyung. Ia berjalan pelan dengan wajah yang menunjukkan keraguan.
"Chanyeol, bisakah kau membawakan ini padanya? Taehyung tidak bisa tidur tanpa boneka ini."
Chanyeol menyunggingkan senyumannya.
"Tentu saja. Aku akan memberikannya nanti."
Chanyeol menutup pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi dengan tenang. Ia mencoba untuk mengabaikan apapun hal buruk yang terjadi hari ini atau hari selanjutnya, karena tak ingin membuat Baekhyun terus berlarut dalam kesedihan. Chanyeol memang tak bisa mencegahnya, namun setidaknya ia tidak melakukan hal yang dapat memperburuk keadaan.
Taehyung yang berada di kursi penumpang di sampingnya hanya meneguk susu kotaknya dengan senyap. Mereka sehabis berkunjung ke minimarket setelah pulang sekolah, sebelum ayahnya akan mengantarnya ke rumah neneknya yang cukup jauh. Ayahnya membelikannya banyak snack untuk bekal menginap di rumah sang nenek.
Chanyeol mengecek jam tangannya dengan matanya yang menyipit. Pria itu harus kembali lagi ke sekolah untuk menjemput Baekhyun yang menunggu disana.
"Apakah Taehyung sudah siap?" Chanyeol bertanya sembari menggulung lengan kemeja birunya hingga ke siku tangannya.
Taehyung menggangguk. Ia terlihat gelisah. "Papa.. bisakah kita membuang adik... Taehyung tidak suka dengan dia." ucapnya lugu.
"Eh?" Chanyeol kaget, tapi kemudian ia tersenyum. "Tidak boleh. Dia 'kan adikmu. Nanti mama juga akan sedih."
Taehyung ingin menangis. Tidak berani menjawab.
"Bolehkah papa tahu kenapa Taehyung sangat ingin pergi dari rumah?" pria itu sekali lagi bertanya untuk meminta kepastian karena Baekhyun menjadi gila sesaat memikirkan anaknya ini.
"Taehyung malas melihat adik... dan mama juga tak menyayangiku lagi."
Taehyung sebal dengan adiknya yang masih bayi. Dia adalah Jackson yang jelek dan cengeng. Jackson yang suka menangis tengah malam dan merepotkan Baekhyun. Jackson si bayi aktif yang suka mengisap jempol gemuknya dengan air liur yang menetes. Jackson si bayi yang suka cari perhatian pada Baekhyun.
Jackson si bayi lucu dengan sepasang mata almond yang besar dan menggemaskan, tapi terlihat menyebalkan di mata Taehyung.
Taehyung pernah sangat menyayangi Jackson. Anak itu suka memeluk perut Baekhyun dan menyapa calon adiknya yang masih dibalut kehangatan di dalam rahim ibunya. Kalau tahu sesuatu yang keluar dari perut Baekhyun adalah gumpalan daging yang berisik dan menyebalkan―Taehyung tidak pernah setuju!
Apakah bisa ditukar dengan sesuatu yang lebih bagus, misalnya mainan robot kesukaannya.
Bagaimanapun, Chanyeol juga tahu bahwa Taehyung adalah anak yang bandel dan pembangkang.
"Tidak ada orang yang mau repot-repot menggendong bayi sambil mengerjakan tugas kuliahnya, nak." Chanyeol berkata dengan serius sembari menyetir mobil membelah jalanan Seoul yang cukup padat.
"Apa maksudnya?" Taehyung bingung.
"Itu bukti bahwa mama sangat sayang padamu."
Taehyung memasang wajah tidak mengerti. Chanyeol menghela nafas, ia pikir bahwa inilah saatnya untuk memberitahu anaknya. Mereka terpaku pada jalanan selama beberapa menit, karena Chanyeol tak kunjung membuka suaranya dan Taehyung tak berani bertanya kembali.
"Jujur saja papa tak suka Taehyung berkata seperti itu."
Suara pria dewasa itu kembali terdengar. Taehyung sengaja memandangi jendela seperti tidak ingin mendengar tentang hal ini.
Chanyeol memandang jalanan dengan getir. Ia tahu apa yang sudah dilalui oleh Baekhyun selama ini, maka ia sangat tersinggung ketika Taehyung mengatakan hal barusan karena Baekhyun sudah mengorbankan semua yang ia punya demi Taehyung.
Baekhyun harus menelan pil pahit ketika tahu ia mengandung dan kekasihnya meninggalkannya begitu saja. Ia harus berjuang banyak sekali hal sulit dari mengandung sampai anaknya lahir. Taehyung tidak pernah diharapkan untuk lahir. Semua orang mencemohnya, namun Baekhyun memperjuangkannya sampai ia dianggap kotor oleh keluarganya.
Baekhyun meninggalkan rumah karena masalah itu. Tiada seorangpun yang menginginkan dirinya dan calon anaknya.
Pertemuan pertamanya dengan Chanyeol adalah di perpustakaan kota. Kala itu Chanyeol menangkap pemandangan aneh karena Baekhyun membaca buku sambil menggendong bayi di dekapannya. Lelaki manis itu berkata perpustakaan universitas tak mengizinkan masuk dengan membawa anak, dan ia berakhir di perpustakaan kota. Baekhyun juga bekerja part time sambil membawa Taehyung ke tempat kerja, dan itu membuat hati Chanyeol pedih mengingat segala perjuangan yang harus dilalui malaikat ini sebelum ia mempersuntingnya.
Itu adalah pertemuan yang tak disengaja. Baik itu Chanyeol dan Baekhyun saat itu tak tahu bahwa mereka berdua akan saling jatuh cinta dan berkencan beberapa tahun kemudian. Chanyeol sering mengamati bahwa Baekhyun membawa pakaian dan keperluan anak di dalam tasnya. Bercampur baur dengan buku dan alat tulisnya.
Ketika jam pergantian kelas, Baekhyun diam-diam melipat baju anaknya. Ia hanya tak ingin semua orang tahu bahwa ia memiliki anak. Setelah kelas selesai, ia menjemput Taehyung yang ia titipkan pada tetangganya.
Kemudian, Baekhyun mulai bekerja part time hingga malam hari.
Andai Chanyeol saat itu selangkah lebih maju, mungkin ia akan langsung melamarnya dan tak akan membiarkan Baekhyun melalui masa sulit ini sendirian.
"Mama berjuang banyak hal demi Taehyung. Dia melakukan apa saja untuk Taehyung karena Taehyung adalah harta paling berharga yang dia punya. Bukan papa, bukan Jackson juga, tapi Taehyung."
Taehyung membuka setengah bibirnya tak percaya.
"Setiap malam mama bercerita tentangmu pada papa. Dia bercerita banyak hal, dari Taehyung masih di dalam perut mama, lalu bagaimana Taehyung tumbuh menjadi anak yang nakal.. tapi mama tak pernah mengeluh..."
Chanyeol kembali mengingat momen konyol ketika ia dan Baekhyun berkencan di akhir pekan. Mereka harus membawa Taehyung karena balita itu tak mau lepas dari ibunya meski hanya semenit. Persis seperti Jackson.
"Tapi mama menyalahkan Taehyung karena adik jatuh..." anak kecil itu bergumam pelan sambil mengeratkan kedua tangannya di atas paha kecilnya.
Chanyeol mencuri pandangan pada putranya dan ia tertawa sekilas.
"Tidak, sayang. Mama tidak pernah menyalahkanmu. Mama bilang pada papa bahwa dia yang salah karena membiarkan adik di sofa. Maafkan mama, ya? Dia memiliki banyak masalah. Jadi... kalau sikap mama sedikit berbeda. Itu tidak sengaja..."
Chanyeol menghela nafas setelah menyelesaikan kalimatnya. Pria itu mengurangi kecepatan mobilnya saat memasukki area lampu lalu lintas. Ia menoleh pada putranya, kini ia bisa menatap wajah kecil itu lebih lama karena jeda waktu lampu lalu lintas. Melihat tak ada respon dari putranya, Chanyeol mengusap wajahnya dengan lesu.
"Tolong sayangi mama, tolong hargai dia. Dia adalah orang yang sudah membawa Taehyung ke dunia ini. Mama berjuang banyak hal demi Taehyung... Taehyung boleh tidak menyukai papa atau Jackson, tapi jangan benci pada mama." Chanyeol memohon.
Baekhyun harus bekerja saat hamil besar demi menyambung kehidupan. Ia juga harus menerima hinaan tentang dirinya karena mengandung anak yang tidak memiliki ayah.
"...perjuangan papa tak sebanding dengan mama. Kita bahkan tak akan bisa membalas apa yang sudah mama korbankan..." pria itu berbisik rendah di kalimat terakhirnya, suaranya serak tak sanggup menumpahkan semuanya. Ia seperti akan menangis detik itu juga.
Chanyeol begitu emosional mengungkapkan seluruh curahan hatinya, ini adalah kedua kalinya sejak ia melamar Baekhyun tiga tahun lalu. Ia mengusap matanya yang berkaca-kaca, dirinya sangat lemah jika menyangkut Baekhyun. Itu dapat membuatnya menangis kapan saja, dimana saja.
Chanyeol hanya berharap Taehyung mengerti tentang ini. Anak itu harus mengerti bahwa dirinyalah yang sangat berharga bagi Baekhyun. Jackson lahir ketika Baekhyun sudah memiliki Chanyeol di sisinya dan mereka juga sudah cukup secara finansial. Tetapi, Taehyung lahir ketika Baekhyun berada di titik terendah hidupnya. Disaat Baekhyun tidak memiliki apapun, disaat semua orang tak menginginkan keberadaannya.
Mereka berbeda.
"Apa yang harus Taehyung lakukan..." anak itu akhirnya bertanya dengan ragu.
Chanyeol kembali memacu pedal gas mobilnya dengan kecepatan sedang. "Dengan tidak membuat mama sedih, apalagi menangis." jawabnya.
"Eum, apakah mama sedih?"
"Tentu saja. Mama sangat sedih mengkhawatirkanmu sampai dia mogok makan."
Taehyung merasa hatinya ikut hancur ketika tahu ibunya sedih karenanya. Tetapi, mengapa?
"Kita tak boleh membuatnya sedih, karena mama pasti lelah melakukan pekerjaan di rumah dan di sekolah." Chanyeol berujar sebuah permintaan sederhana agar dimengerti oleh anak berusia tujuh tahun.
Baekhyun tidaklah spesial. Ia terkadang masih melakukan kesalahan. Lelaki bertubuh kecil itu terkadang lupa memandikan Jackson, masakannya terkadang terasa sangat asin atau Baekhyun yang merasa bersalah karena bangun kesiangan dan tidak sempat memasak. Ini bukan tentang hasilnya yang sempurna tanpa cela, tapi bagaimana ia berusaha melakukan ini semua demi keluarga kecilnya. Byun Baekhyun hanyalah manusia biasa yang masih ingin terus belajar dan berusaha, karena itulah.. Chanyeol sangat mencintainya.
Chanyeol mengulurkan sebelah tangannya untuk mengacak-acak surai kecokelatan Taehyung sambil tersenyum hangat.
Anak itu kini hanya merapatkan bibirnya sambil berpikir dengan pola pikirnya yang masih polos, ia tak mengerti kehidupan orang dewasa. Tetapi melihat sang ayah yang menceritakannya dengan emosional dan hampir menangis, Taehyung tahu pria itu bersungguh-sungguh.
Taehyung sebenarnya tidak sampai hati melihat Baekhyun sedih dan menangis. Apalagi itu karenanya.
Suasana kembali hening. Chanyeol kembali pada pikirannya sendiri yang mencemaskan Baekhyun, dan Taehyung yang sedang merenung tentang sikapnya yang telah membuat ibunya sedih. Beberapa menit telah berlalu dan pemandangan berganti menjadi deretan rumah bedeng yang cukup luas dengan suasana asri. Chanyeol menyetop mobilnya di halaman salah satu rumah dengan warna hijau.
Pria itu menuntun anaknya keluar dan ia segera membungkuk hormat pada wanita paruh baya yang keluar menyambutnya. Taehyung segera berlari menuju wanita itu, yang ia kenal sebagai neneknya. Ia tak begitu dekat dengan neneknya, tapi wanita ini adalah orang yang baik.
"Nenek sudah lama sekali tidak melihat Taehyungie, dulu masih sekecil ini dan masih harus digendong." sang nenek berkomentar sambil mengusap kepala cucunya yang kini memeluk manja kakinya dengan erat.
"Ibu, mohon bantuannya ya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi." Chayeol berkata dengan sungkan.
"Tidak apa-apa. Tetapi, apa yang terjadi?"
Chanyeol tertawa kecil dengan canggung. Bagaimana menjawabnya, ya?
Ia belum sempat menjawab ketika ibu mertuanya kembali bersuara.
"Apakah dia baik-baik saja? Dia tak boleh melakukan pekerjaan berat. Baekhyun tak boleh kelelahan atau terlalu banyak pikiran. Anak itu mudah sekali sakit."
Taehyung mengangkat kepalanya untuk melihat pembicaraan ayah dan neneknya.
"Baekhyun baik-baik saja, bu. Ada sedikit masalah namun kami bisa mengatasinya." Chanyeol menjawab cepat.
Wanita paruh baya itu tersenyum, begitu juga dengan Chanyeol. Hubungan Baekhyun dan ibunya pernah merenggang dan kini menyatu kembali setelah menikah dengan Chanyeol.
"Berapa lama Taehyung akan menginap disini?" neneknya kembali bertanya sembari tersenyum dengan garis wajah yang sudah tampak jelas di senyumannya.
Chanyeol hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku tidak tahu, ibu. Mungkin paling lama seminggu. Namanya juga anak-anak." ia menjawab dengan sedikit bercanda agar suasana tak begitu kaku. Chanyeol sejujurnya juga tak begitu dekat dengan ibu mertuanya ini.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum hangat. Chanyeol tersentak kecil mengingat sesuatu yang dititipkan oleh Baekhyun tadi pagi. Ia kembali menuju mobilnya dan memasukkan setengah tubuh tingginya untuk mencari sesuatu di dalam sana.
Ayahnya menyodorkannya boneka dinosaurus yang sudah lusuh itu pada anaknya. "Mama menitipkan ini. Katanya Taehyung tak bisa tidur tanpa boneka ini."
Taehyung memandangnya tak percaya. Boneka itu sudah lama sekali dibeli oleh ibunya. Warnanya sudah mulai menguning dan deterjen pemutih tak mampu lagi menghalangi noda kuning di permukaannya. Tetapi Taehyung tetap menyimpannya dan tidur bersama boneka ini. Boneka ini adalah saksi bisu kehidupannya dulu ketika ia dan Baekhyun masih tinggal di apartment yang sempit dan kotor dengan makanan yang seadanya.
Saat itu ibunya belum menikah dengan Chanyeol, dan Jackson belum ada. Hanya Baekhyun seorang diri yang berusaha menghidupi anak semata wayangnya. Saat-saat terpuruk ketika Baekhyun bekerja hingga jam dua belas malam demi mendapatkan susu untuk Taehyung. Ia pulang berjalan kaki tengah malam dengan Taehyung yang tertidur di gendongannya. Ketika Taehyung ingin sesuatu, Baekhyun bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang dan mewujudkan keinginan putra kecilnya.
Itu adalah saat-saat dimana setiap malam Baekhyun meminta maaf pada putranya.
Cuaca malam hari dengan udara dingin yang menusuk kulit telah meninggalkan ingatan yang berkesan untuk Taehyung. Bagaimana rasanya ketika Baekhyun mendekapnya dengan erat hingga kuku tangannya memutih. Ia takut putranya merasa kedinginan, tapi tak pernah pikir bahwa dirinya juga kedinginan. Mereka berjalan bersama di tengah kesunyian malam, sesekali Baekhyun melontarkan candaan demi menghibur dirinya sendiri.
Orang itu selalu memberikan makanan untuknya, dan membiarkan dirinya sendiri kelaparan. Ia terlihat sangat kurus.
Chanyeol tidak bohong dengan ucapannya, bahwa Baekhyun berjuang melakukan apapun untuk Taehyung.
Ibunya adalah orang paling hebat sedunia. Taehyung sadar dirinya harus bangga mengatakan itu. Ia tidak boleh membuatnya sedih.
"Papa pulang dulu, ya? Jangan merepotkan nenek." Chanyeol berkata setelah anaknya meraih boneka itu. Kakinya siap melangkah balik menuju mobil, namun suara gumaman Taehyung yang memanggilnya sukses membuat langkah kakinya terhenti. Telinganya cukup peka untuk mendengar gumaman pelan itu.
"Kenapa, sayang?" tanya Chanyeol berjongkok dihadapan putranya.
"Terima kasih papa tidak berbohong."
Chanyeol tersenyum.
"Apakah mama dan adik akan baik-baik saja?"
Chayeol tak tahan untuk mengembangkan senyumannya lebih lebar.
"Tentu saja."
Jackson rindu kakaknya.
Di suatu waktu seringkali bayi itu merangkak, dan kemudian hanya duduk diam memandangi pintu kamar Taehyung. Ketika Baekhyun menggendongnya pergi, bayi itu akan marah dan menjambak rambut ibunya. Beberapa kali Baekhyun membawa Jackson tidur siang di kamar Taehyung. Sementara bayi itu tidur, Baekhyun membersihkan kamar kosong itu. Agar kamar itu tak benar-benar mati karena tak ada penghuninya.
Baekhyun merasa sedih ketika membersihkan kamarnya. Desain kamar itu dibuat olehnya, dan Taehyung awalnya senang dengan kamar barunya. Anak itu tak benar-benar sadar bahwa ia harus tidur sendirian di kamarnya, dan ia harus belajar mandiri. Sementara adik bayinya masih di kamar yang sama dengan orang tuanya, dan mendapatkan banyak perhatian manis.
Karena Jackson masih bayi. Semua orang pasti tahu alasan mengapa bayi itu tidur bersama orang tuanya, kenapa Jackson lebih diperhatikan. Tapi Taehyung terlalu polos untuk memahaminya―yang ia tahu hanyalah ia sangat menyayangi ibunya dan tak ingin melihatnya menyayangi anak yang lain.
Taehyung adalah anaknya. Sampai kapanpun, bahkan kalaupun anak itu tak ingin menganggapnya lagi sebagai ibunya.
Baekhyun tak tahu kapan anaknya ingin kembali. Ia masih bertemu dengan anaknya di sekolah, tapi atmosfirnya terasa berbeda. Ketika Baekhyun memanggilnya ke ruangannya untuk mengambil bukunya―anak itu hanya diam seribu kata saat mengambilnya, kemudian pergi. Ia dapat melihat Jungkook mengintip di pintu dengan takut-takut. Baekhyun hanya sempat bertanya satu dua kalimat padanya, apakah anak itu sudah memakan bekalnya dan mengerti dengan tugasnya.
Taehyung hanya menjawab iya atau tidak.
Jungkook pastilah tahu karena ia teman terbaik Taehyung. Anak itu selalu bercerita apapun ke Jungkook. Karena penasaran, Baekhyun membawa Jungkook ke ruangannya dan bocah manis itu hampir ingin menangis. Ia takut bahwa Baekhyun songsaenim memarahinya karena nilai jeleknya.
Baekhyun hanya ingin tahu apa yang Taehyung ceritakan padanya. Ia memulainya dengan langkah yang tidak membuat muridnya takut. Baekhyun adalah guru, jadi ia mengerti caranya agar tidak membuat muridnya merasa terintimidasi.
Baekhyun menyuruh anak itu mendekat, dan mengusap surai kecoklatannya dengan sayang seperti anaknya sendiri. Ia menyuruhnya duduk di kursi. Anak itu menggeleng gugup, kemudian Baekhyun menawarkan untuk duduk di pangkuannya. Jungkook menolak lagi. Bocah itu terlihat berkeringat dingin.
Ah, Jungkook ingat ia tidak boleh memberitahu rahasia itu pada siapapun. Bahkan kepada Baekhyun songsaenim.
"Taehyung bilang kalau dia tidak suka... sama adik bayi... dan songsaenim.. Tae suka marah. Songsaenim tidak sayang lagi padanya, jadi dia mau mengambil ibunya Kookie." ucap anak itu takut-takut. Wajah Baekhyun hanya datar, dan jujur terlihat mengerikan baginya.
Pada akhirnya, anak itu menceritakan semuanya. Jungkook berkata bahwa Taehyung sering curhat dirinya iri dengan adiknya. Taehyung juga mengaku pada sahabatnya bahwa ia sengaja menghilangkan botol susu adiknya dan mengganggunya. Ia akan melakukan apapun hanya agar Baekhyun memperhatikannya.
Oh benar, Taehyung memang benci padanya. Semakin lama perasaan itu tumbuh sampai-sampai anak itu memilih ibunya Jungkook. Ia tak boleh menaikkan egonya. Perasaan Taehyung yang terluka tidak bisa dikembalikan lagi. Baekhyun tahu dirinya salah. Ia yang membuat Taehyung sedih karena merasa tak dianggap. Anak itu merasa bukan lagi anggota di keluaga kecilnya. Taehyung merasa dirinya tak lagi diperlakukan seperti anaknya.
Hari-hari yang berlalu terasa amat lambat bagi Baekhyun dan Taehyung.
Baekhyun merasa bodoh dan gagal sbagai orang tua karena membuat anaknya sendiri membencinya. Sementara Taehyung, ia tidak terbiasa tinggal di rumah neneknya.
Rumah itu terasa asing baginya, dan juga makanan yang dibuat oleh neneknya tidak bersahabat dengan lidahnya yang selalu dimanjakan makanan favorit yang dibuatkan ibunya. Sunyi dan senyap juga dirasakannya karena neneknya hanya tinggal bersama pamannya yang bekerja lembur hingga malam hari. Tidak ada suara adik bayinya, suara ibunya memasak di dapur dengan mixer atau blendernya yang berisik, atau suara ayahnya yang sedang menonton pertandingan bola dengan heboh.
Taehyung menyukai kesunyian ini, tetapi perlahan mulai merindukan suasana rumahnya yang bising.
Anak berusia tujuh tahun itu sedang mengancing piyamanya dengan mandiri, sedikit kesulitan. Meski ia tidak lagi dimandikan, tetapi ibunya tahu ia sedikit kesulitan mengaitkan kancing-kancing itu dan Baekhyun pasti akan membantunya. Neneknya sedang berada di dapur, sedang menyiapkan makan malam. Taehyung sedikit merengut ketika mengingat ia harus memaksa lagi lidahnya untuk mengunyah aneka sayur-sayuran. Gigi kecilnya tak suka mengunyah sayuran utuh.
Baekhyun selalu memotongnya ukuran kecil agar mudah dikunyah, tetapi tentu saja kini yang memasak di dapur adalah neneknya.
"Taehyungie! Ayahmu menelpon!" suara neneknya berbunyi nyaring memanggilnya.
Taehyung segera meninggalkan kegiatannya, masih tersisa dua kancing yang belum dikaitkan. Ia berlari dengan kaki-kaki kecilnya menuju dapur. Wajah bahagia khas anak kecil terukir sempurna di paras manisnya.
"Ayah!" teriaknya bersemangat sebelum menggapai telepon. Ia meloncat-loncat kecil dengan antusias.
Terdengar sebuah tawa ringan dari suara yang berat ketika mendengar suara sang anak. "Apa Taehyung sudah makan malam?" tanya pria di seberang sana.
Taehyung menggeleng antusias. Ia menggenggam gagang telepon itu dengan kedua tangan mungilnya dan pose yang lucu. Takut telepon itu akan terjatuh dan merepotkan neneknya. Bocah itu menempelkan telepon pada telinganya dengan sangat dekat. Hampir tidak ada jarak. Taehyung sangat menggemaskan.
"Kenapa papa menelepon?"
"Eum? Tidak ada kok. Hanya ingin tahu apa yang anak papa lakukan disana. Tidak nakal 'kan?" jawab Chanyeol enteng.
Neneknya kembali ke dapur sambil mengawasi kegiatan cucu kecilnya.
"Tidaaak! Tidak nakal!" sahut Taehyung cempreng.
Chanyeol tersenyum. Ia melirik ke arah dapur dimana tampak Baekhyun hanya diam dan pura-pura tidak mendengar. Baekhyun tahu bahwa Chanyeol menelpon Taehyung. Wajahnya terlihat dilema dan khawatir. Seperti ia ingin ikut menyapa putranya, tapi ia tak berani.
Wajah Baekhyun tampak sangat tertekan.
Baekhyun mengalihkan perasaan runyam itu dengan berkutat pada bayinya yang rewel. Jackson sangat tantrum hari ini, sejak tadi siang. Bayi itu berteriak dan menangis hingga suaranya serak. Entah sudah keberapa kalinya wajah Baekhyun menjadi korban cakaran Jackson. Baekhyun berhasil menidurkannya dengan tidak beranjak pergi dari sisinya. Ia menepuk pelan pantatnya, bersenandung pelan seraya mengusap kepala kecilnya― menuntun Jackson hanyut dalam tidur siang yang nyaman. Seraya memandangi wajah imut bayinya. Baekhyun juga memakaikan kaos kaki agar bayinya tak kedinginan.
Tidur siangnya terlihat nyaman dan tenang. Suasana kembali damai walau hanya beberapa saat. Baekhyun pikir Jackson hanya tidak ingin jauh darinya, jadi ia melakukan itu―menemaninya tidur siang. Tapi Jackson kembali berteriak ketika bayi itu bangun. Seolah bayi itu mencari sesuatu dan ia sangat marah karena tidak menemukannya.
Chanyeol juga membawanya jalan-jalan sore, tetapi tidak merubah apapun. Jackson masih mengamuk. Bayi itu marah, dan orang tuanya tidak tahu mengapa.
Hari ini adalah hari minggu yang terburuk. Seharusnya mereka dapat bersantai menikmati hari libur.
Jackson tersedak air liurnya sendiri, membuat Baekhyun sedikit panik. Ia tak tahu apa yang terjadi pada bayinya. Bayi itu tidak demam, popoknya juga tidak penuh. Jackson juga tidak mencari mainannya. Biskuit bayi kesukaannya yang biasanya Baekhyun berikan sebagai cemilan sore pun tak mempan. Jackson membuang seluruh biskuit itu dan menambah lagi pekerjaan Baekhyun yang harus menyapu lantai.
Baekhyun membersihkan lantai seraya bergumam pasrah, hampir menangis. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa.
"Maaf ya mama tidak bisa menyapamu. Dia sangat sibuk sekarang." Chanyeol kembali berbicara. Ia dan Baekhyun memang sibuk sejak tadi siang. Mengurusi Jackson yang rewel.
"Kenapa?" Apa karena Jackson lagi?
Taehyung dapat mendengar suasana berisik yang membuatnya kembali rindu dengan rumahnya.
"Adikmu rewel sekali hari ini."
Chanyeol yang berada nan jauh disana seketika menyesali ucapannya, mengingat Taehyung yang tidak menyukai adiknya. Ia seharusnya tidak mengatakan itu.
"Maafkan pap―"
"Adik kenapa?" sela sang putra sulung. Taehyung tiba-tiba merindukan sosok adiknya, meski itu tidak lebih dari sebuah tangisan berisiknya dengan air liurnya yang menetes atau Jackson yang memeluk kakinya untuk mengajaknya bermain. Jackson cukup sering menggangunya dan ingin bermain dengannya, dan entah mengapa kini Taehyung merindukan momen itu.
Chanyeol diam sesaat, setelah pikirnya tak apa, ia pun menjawab. "Jackson sangat galak. Papa tidak tahu kenapa. Jackson sampai mencakar wajah mamamu. Lihatlah wajah cemberut mamamu itu."
Tawa Chanyeol lepas seketika, kemudian terdengar suara umpatan yang begitu meyakinkan. Chanyeol tampak lupa bahwa Taehyung juga sedang kesal dengan Baekhyun, tapi ia malah menyebutnya di depan anak itu.
Bukannya Chanyeol senang melihat Baekhyun menderita, tapi ia hanya suka melihat wajah cemberutnya yang terlihat imut. "Kau tetap cantik kok walau dicakar seperti itu." ucapnya tersenyum.
Baekhyun emosi. Ia tidak kesal karena wajahnya dicakar, tapi kesal karena menghadapi anak bungsunya. Baekhyun yang sedang menimang Jackson langsung melempar guling kecil milik sang anak tepat ke wajah suaminya.
Taehyung tahu ayahnya itu memang perhatian, tapi terkadang juga tidak berguna. Sama sekali tidak membantu dan malah memperburuk keadaan. Contohnya, saat ini. Taehyung tebak pasti Chanyeol tidak membantu apapun, jadilah Baekhyun mengomel panjang seperti kereta api.
Lemparan itu tepat sasaran, tetapi Chanyeol malah tertawa semakin puas.
"Kau tidur diluar bersama Toben!"
"Sayang, kau lucu sekali. Aku mencintaimu."
"Saat ini aku tidak mencintaimu!"
"Kalau semalam?"
"Berisik!"
Baekhyun kini melemparkan bantal Jackson.
"Kau tidak bisa hidup tanpaku, iya 'kan."
"Percaya diri sekali kau Park." Baekhyun mencibirnya.
Taehyung sangat merindukan suara itu. Akhir-akhir ini Baekhyun terlihat banyak diam dengan wajah datar saat mengajar di kelasnya. Sering tak fokus dengan apa yang dilakukannnya.
Mereka bahkan masih sempat-sempatnya bertengkar karena hal yang tak berfaedah.
Mendengar orang tuanya yang sedang ribut tidak jelas membuat Jackson menangis lagi.
Baekhyun panik ketika tangisan kembali Jackson terdengar, dan bahkan lebih membahana. Bayi itu memberontak entah ingin kemana. Baekhyun menahan tubuhnya dengan kuat ketika Jackson berusaha turun dari gendongannya.
Suara Baekhyun tak henti-hentinya menenangkan bayinya. Baekhyun melakukan multitask antara mendiamkan Jackson dan mengomeli Chanyeol seraya membuat makan malam.
Chanyeol sesekali menyahutinya yang maksudnya untuk menenangkan istrinya, tetapi Baekhyun berada dalam mood yang jelek. Semua yang Chanyeol lakukan kini terlihat menyebalkan dan selalu salah di matanya. Pria itu seharusnya diam dan duduk manis saja mendengarkan ocehannya jika tidak ingin membantu.
Barangkali sejak Taehyung pergi dan menjauhinya, Baekhyun berubah menjadi sensitif. Ia mencemaskan dan memikirkan anaknya hingga furustasi.
"Papa?" panggil Taehyung.
"Ya?" jawab Chanyeol tidak begitu fokus.
Baekhyun meletakkan wajan di atas kompor dengan kekuatan tak biasa. Ia sedikit membantingnya karena kesal. Malam ini makan malam cukup dengan udang tempura, dan Chanyeol tidak boleh protes. Sementara Baekhyun sibuk membalur udang itu dengan tepung―Jackson masih menangis sesegukan. Ingusnya meleleh jatuh ke bajunya. Bayi itu menarik-narik baju Baekhyun dengan brutal dan itu membuatnya kesulitan menggerakkan tangannya. Baekhyun menghela nafas emosi, bahkan ingin menggoreng udang saja sesulit ini.
Jackson akan berhenti menangis selama beberapa saat, kemudian menangis lagi.
Baekhyun mencoba sabar dalam menghadapi si bungsu. Pakaiannya berantakan, basah karena air mata dan ingus Jackson. Kabar buruknya, Jackson tidak ingin duduk di roda bayi. Bayi itu seakan ingin merepotkan Baekhyun. Duh.
"Sayang.. diamlah... diam ya... mama harus membuatkan makan malam untuk papamu dulu. Dia sama sekali tidak berguna." ucap Baekhyun penuh penekanan. Ia berharap Jackson dapat mengerti kata-katanya melalui mimik wajahnya yang seakan memohon padanya agar diam.
Sekaligus menyindir. Baekhyun melirik ke arah ruang tamu.
"CHANYEOL!"
Chanyeol meletakkan ponselnya, kemudian menghampiri Baekhyun di dapur yang tak jauh dari ruang tamu. Telepon itu masih tersambung, sehingga Taehyung masih bisa mendengarnya.
"Sayang, rambutmu berantakan."
Baekhyun hanya diam. Merasa tak perlu meladeni Chanyeol di saat genting seperti ini. Ia membolak-balikkan udang-udang itu di atas tepung seraya berpikir keras mengapa bayinya menangis rewel tak henti-henti. Tak biasanya Jackson sebegitu keras kepalanya seperti saat ini. Sepertinya Jackson lapar, dan Chanyeol juga lapar. Ya ampun. Dasar duo ayah-anak yang merepotkan. Mana mungkin ia harus menggoreng udang seraya menyusui Jackson. Tidak, itu sangat sulit.
Chanyeol membuka kulkas dan mencari jus kemasan di dalam sana.
Baekhyun mendelik ganas. "Bantu aku atau pulangkan aku pada ibuku." tukasnya datar. Ia terlihat menyeramkan dengan aura hitam di sekelilingnya.
Taehyung mematung beberapa saat mendengar kebisingan di seberang sana. Ia tak melihat, tetapi dapat membayangkan akan seperti apa pemandangannya. Baekhyun pasti terlihat sibuk mondar-mandir dengan Jackson berada di gendongannya. Jackson adalah bayi yang manja. Jackson terkadang tidak ingin lepas dari ibunya walau hanya semenit, sehingga Baekhyun harus menggendongnya sambil melakukan pekerjaan rumah. Jackson bisa tahu yang mana pelukan ibunya dan bukan ibunya.
"Eum.. papa?" panggil Taehyung ragu. Tidak ada jawaban. Jadi ia berpikir ayahnya sedang bersama ibunya di dapur.
Chanyeol takut bahwa Baekhyun meminta cerai, walau ia tahu Baekhyun tidak serius mengatakannya. Ia pun bertugas menjaga wajan penggorengan yang sedang dipanaskan.
Sementara menunggu minyak mendidih, Baekhyun duduk di kursi dan membuka kancing kemejanya. Ia pikir Jackson lapar dan ingin menyusu, tapi rupanya bayi itu menolak. Jackson mendorongnya kesal dan membuang muka. Tidak minat dengan puting kemerahan yang disodorkan padanya. Baekhyun memiliki sumber ASI yang melimpah dan biasanya Jackson menyukainya. Bahkan menggigitnya hingga membuat Baekhyun meringis.
Tetapi tidak. Tidak kali ini. Bayi itu mendadak tidak suka.
Baekhyun menggerutu. "Chanyeooool ini anakmuuuu lihatlah...!" teriaknya pasrah. Ia tidak mau tahu lagi.
Taehyung hapal itu teriakan ibunya. Baekhyun memasang wajah kesal. Chanyeol dan Jackson adalah ayah-anak yang seperti hasil duplikat―membuatnya kesal sendiri.
"Ya ampun iya sayang, apa yang harus kulakukan?" Chanyeol panik.
"Buatkan susu formula untuknya!"
Chanyeol pun menghilang, dan Baekhyun kembali dengan kegiatan menggoreng udang tempura untuk suaminya yang menyebalkan. Sepasang kakinya berpindah dengan gesit mengambil piring, kemudian kembali ke kompor. Baekhyun merasa kesal, dan yang ia tahu hanyalah menggoreng udang ini dan membuat Jackson diam. Misi ini harus selesai dengan cara apapun.
Sesulit apapun, ia tetap harus melewatinya. Dan itu pasti selalu berhasil, tak peduli seberapa kesalnya umpatan Baekhyun pada mulanya.
Jackson memasukkan jempolnya ke dalam mulutnya, dan air liurnya kembali menetes ke bajunya. Tangan kirinya menggendong bayinya, sementara tangan kanannya berkutat dengan penggorengan. Baekhyun membolak-balikkan udang-udang yang sedang digoreng itu seraya melirik―mengawasi Jackson. Dalam hatinya berharap Jackson tidak akan menangis lagi.
Jackson cegukan kecil dengan suara tercekik. Taehyung menamai suara itu seperti suara tikus kejepit dan sering mengejeknya. Mata bulat bayi itu tampak berkilauan karena air mata. Baekhyun mengambil tisu, dengan cepat mengusap hidung kecil bayinya yang penuh ingus dan bibirnya yang penuh air liur. Jackson membenamkan kepalanya manja di dada ibunya. Bayi itu terlihat ngambek.
Ponselnya berbunyi, dan Baekhyun mengabaikannya. Tak ada urgensi untuk menyambut telepon dalam keadaan mood yang jelek. Baekhyun berdiri menunggu udang-udang ini matang. Ia dengan sabar membelai kepala bayinya, sesekali mengecupnya pelan. Setelah beberapa saat, Baekhyun pikir Jackson mulai tenang, tetapi tidak. Dewi Fortuna tidak berpihak pada Baekhyun untuk hari ini.
Sialnya, Jackson kembali merengek. Pertanda sebentar lagi bayi itu akan menangis. Baekhyun hapal tanda-tandanya. Mungkin bayi itu lapar, mungkin bayi itu merasa tak enak badan, mungkin bayi itu mengantuk. Ah terserah, Baekhyun benar-benar sudah lelah. Melakukan apapun tak ada gunanya, hanya menghabiskan tenaganya. Ia tampak ingin tidak peduli lagi, tapi Jackson adalah anaknya. Anak yang ia kandung dan lahirkan sendiri. Sungguh bodoh sekali jika ia menelantarkannya, tapi Baekhyun tidak tahu lagi harus melakukan apa.
Entah kenapa, bayi itu tidak lelah menangis sepanjang hari. Kalaupun lelah, Jackson tetap akan menangis karena hanya itu cara berkomunikasi yang dapat bayi itu lakukan. Orang tuanya masih belum menemukan alasan mengapa Jackson marah dan merajuk.
Baekhyun menempelkan pipinya pada kepala Jackson. Dengan lembut dan tanpa menekannya.
Ia mulai bersenandung lagu yang sering ia dengarkan ketika Jackson masih di dalam perutnya. Bayi itu mengingat dan tahu selera musiknya, dan biasanya Jackson akan tenang ketika Baekhyun menimangnya sembari menyanyikan lagu-lagu itu untuknya.
Baekhyun sempat berpikir akan meninggalkan Jackson pada Chanyeol, dan ia akan menginap di rumah temannya. Bersantai ria menonton film hollywood yang dibintangi aktor-aktor tampan sebagai pencuci mata, dan melupakan apa yang terjadi di rumahnya. Biarkan saja Chanyeol kerepotan mengurus Jackson sendirian.
Oh.. Baekhyun tidak sejahat itu, tetapi hanya belum. Ada kalanya kesabarannya habis dan ia sangat muak. Kalau saja Jackson belum diam juga, Baekhyun akan melakukan rencana liciknya.
Chanyeol kembali dengan sebuah botol susu yang masih hangat. Ia meletakkannya di meja. Beruntung tangisan Jackson perlahan mereda. Bayi itu ajaibnya kini terlihat tenang dan mulai mengantuk. Chanyeol yang tidak berguna hanya memandangi Baekhyun dan bayinya dengan senyuman bodoh. Baekhyun selalu punya seribu cara dalam menghadapi Jackson yang rewel dan tantrum. Ia sangat luar biasa.
Meski dua-duanya aktif dan nakal, menjaga Jackson itu seribu kali lebih merepotkan daripada Taehyung. Dalam hati kecilnya, Baekhyun ingin menitipkan Jackson pada Chanyeol selama satu hari penuh. Baekhyun ingin menikmati waktu berdua bersama Taehyung.
Baekhyun sudah memikirkan hal itu jauh sebelum hubungannya dengan putranya merenggang. Taehyung tidak hanya sebagai anak, tapi anak itu juga adalah penyemangat untuknya―ia saksi kehidupan Baekhyun yang rumit. Karena Taehyung, saat itu Baekhyun masih bisa menemukan tujuan hidupnya.
Anak itu sangat spesial.
Orang-orang berkata Taehyung seperti versi kecil dari Baekhyun. Mereka mirip, dan memiliki ikatan batin yang kuat. Baekhyun telah melewati kehidupan susah dan titik terendahnya bersama dengan Taehyung. Anak itu memiliki segala arti untuknya. Baekhyun merelakan segala yang ia punya demi membawa Taehyung ke dunia.
Taehyung yang membuatnya tersenyum. Meski mereka tinggal di apartment yang sempit dan hanya makan seadanya. Baekhyun menjalani kehidupan yang sulit, yang mana ia setiap hari harus berpikir agar besok anaknya bisa makan. Baekhyun pernah frustasi dan berpikir harus menjual tubuhnya ke pria hidung belang, tapi ia mengurungkannya. Taehyung berkata ia tidak pernah malu dengan apa yang terjadi, karenanya Baekhyun bertekad tidak akan membuat putranya malu karena mengetahui ibunya bekerja sebagai pelacur.
Ketika Baekhyun pulang―ia selalu tersenyum melihat putranya. Taehyung bertingkah lucu demi menghibur Baekhyun yang lelah. Sangat lelah hingga ia merasa tubuhnya akan jatuh begitu saja, tapi ia mendapat kekuatannya kembali ketika melihat Taehyung.
Ia adalah segalanya untuk Baekhyun.
Suasana perlahan menjadi senyap. Hanya terdengar bunyi dentingan wajan dan spatula yang bertemu. Baekhyun mematikan kompornya. Jackson telah berhenti menangis, tetapi Baekhyun tak bergerak dari tempatnya berdiri. Ia mematung sesaat sebelum meletakkan udang-udang itu diatas penyaringan. Punggung kecilnya terlihat bergetar, dan perlahan terdengar isakan.
Chanyeol tak dapat mengamati wajahnya karena Baekhyun membelakanginya. Ia pun mendekat pada Baekhyun yang sedikit menunduk.
"Aku rindu pada anakku." ia berucap getir. Seperti bisikan.
Baekhyun ingin Chanyeol tahu bahwa hidupnya terasa berantakan ketika Taehyung tidak ada.
"Aku tahu, sayang." jawab Chanyeol langsung. Ia mengambil alih Jackson yang berada di gendongan Baekhyun. "Mama jangan menangis. Jackson akan menangis juga. Kan?" katanya menuntun tangan Jackson untuk memegang wajah Baekhyun.
Jackson bergumam sesuatu dengan bibir kecilnya. Jari mungilnya menyentuh pipi ibunya yang lembut dan lembab karena air mata. Sosok cantik itu sering menangis dan berwajah murung akhir-akhir ini. Jackson tahu itu. Jackson juga tahu Baekhyun menangis sendirian dalam diam ketika sedang memandikannya, dan di setiap waktu ketika Chanyeol tidak ada. Bayi itu selalu mengamati ibunya.
"Aigooo Jackson pintar sekali. Ini karena mama 'kan? Mama sudah merawatmu dengan baik dan penuh sayang." ucap Chanyeol tersenyum.
Jackson menatap Chanyeol dan Baekhyun bergantian.
Baekhyun menangis pelan. Ia meraih
tangan kecil bayinya. "Maafkan mama.. yang sering marah padamu. Jackson juga segalanya untuk mama." ia ingat kadang-kadang melampiaskan kemarahannya pada Jackson yang tidak mengerti apa-apa. Karena dalam mood yang buruk, Baekhyun tidak ingin menyusui Jackson karena seringkali membuat putingnya sakit.
Semuanya, bahkan hal kecil, membuatnya frustasi. Baekhyun mendadak benci dengan dirinya sendiri. Ia tidak ingin melakukan apapun.
Chanyeol sampai harus membujuk Baekhyun agar ia ingin menyusui bayinya. Pria itu berjanji akan menemaninya, memegangi Jackson agar tak melakukan sesuatu yang membuat ibunya semakin murung. Ketika Baekhyun tertidur di sandarannya, Chanyeol memisahkan Jackson darinya, merapikan pakaiannya yang terbuka dan membiarkannya tidur dengan tenang.
Chanyeol telah berusaha keras melakukan yang terbaik untuk Baekhyun dan anaknya.
"Jangan khawatir. Kami akan tetap menyayangimu. Mommy bee."
Jackson hanya menatap polos. Bayi itu merengek ingin berpindah ke pelukan Baekhyun.
"Jackson pasti lapar, tapi ia tidak mau menyusu padaku. Maafkan mama waktu itu..." gumam Baekhyun menatap cemas. Tampak Jackson menjadi takut untuk menyusu karena belakangan ini Baekhyun selalu marah-marah dan merutuk ketika melakukannya.
"Mama juga pasti akan melakukan apapun untuk Jackson. Jadi bersabarlah." Chanyeol mengalihkannya. Ia tak ingin membuat Baekhyun mengingat sesuatu yang membuatnya semakin sedih.
Baekhyun kini merasa bersalah pada dua putranya, dan juga Chanyeol. Ia sudah membuat suasana keluarga kecilnya tidak kondusif lagi karena sikapnya.
"Chanyeol, maaf."
Chanyeol memeluk tubuh kecil Baekhyun dengan erat, mengusap kepala dengan mahkota hitamnya dan mencium keningnya. Ia akan menenangkan Baekhyun dengan segala cara. Tak sanggup hati melihat malaikatnya menangis.
Taehyung masih senantiasa menunggu suara Chanyeol kembali menyambutnya. Ia mulai ragu untuk menunggu lebih lama, dan berpikir akan mematikan teleponnya. Neneknya juga mulai memanggilnya untuk makan malam.
"Kau, aku dan Taehyung sangat bahagia menunggu kehadiran Jackson. Seharusnya kita tak membencinya." bisik Chanyeol.
"Tapi―" Baekhyun menggeleng pelan.
"Jackson yang lahir lebih cepat juga bukan salahmu. Baby bee hanya ingin cepat-cepat bertemu denganmu. Dia tak sabar ingin melihat wajah cantik ibunya yang bernyanyi untuknya setiap hari. Iya 'kan?"
Chanyeol tersenyum hangat pada Jackson. Jika bayi itu dapat mengerti dan berbicara, pastilah ia akan menjawab iya.
Jackson yang berada ditengah keduanya hanya menatap polos. Tatapan polos dengan mata bulat besarnya yang seperti kelereng itu benar-benar membuat Baekhyun merasa bersalah. Jackson memasang wajah lugu itu saat Baekhyun memarahinya. Kemarin Baekhyun sangat marah ketika Jackson menjatuhkan keranjang baju, membuatnya harus menyusunnya kembali. Tak tahu mengapa ia marah, kini ia bersyukur keranjang itu tidak jatuh di atas kepala Jackson.
Tatapan polos itu menyadarkan Baekhyun bahwa Jackson tidak tahu apapun. Ia tak seharusnya menjadikan bayi itu sebagai pelampiasan amarahnya. Saat Baekhyun memarahinya, Jackson hanya berceloteh pelan untuk mengalihkan amarah ibunya. Bayi itu melihat Baekhyun marah, jadi ia berusaha menghiburnya dengan membuatnya tertawa.
Dan Baekhyun melongos pergi. Beruntung Chanyeol mendapati Jackson sendirian di ruang tamu.
Baekhyun menyesali tindakannya kemarin malam. "Maaf..." ia terus meminta maaf. Baekhyun menciumi bayinya dan membenamkan wajahnya pada Jackson seraya bergumam maaf berkali-kali. Jackson memegang kepala Baekhyun seraya berceloteh lucu dengan bibir kecilnya.
Entah apa yang bayi itu katakan.
"Maafkan mama ya sayang.. mama sangat menyayangimu.." bisik Baekhyun tulus.
Baekhyun tidak tahu bahwa telepon itu masih tersambung. Tetapi Taehyung tak bisa mendengar jelas apa yang terjadi. Mengapa suasana tiba-tiba menjadi sunyi.
"Papaaa! Taehyungie matikan dulu yaa teleponnya!"
Baekhyun menangis dalam pelukannya. Tanpa suara, tanpa menunjukkan wajahnya. Ia mungkin selalu terlihat kuat seolah tak memiliki masalah. Tapi kenyataannya, Baekhyun tidak baik-baik saja seperti yang ia tunjukkan. Tersenyum dan tertawa ceria seolah tidak ada yang terjadi. Ia bukanlah seseorang yang memiliki kehidupan menyenangkan.
Chanyeol akan membiarkan Baekhyun melepaskan bebannya dengan menangis hingga puas. Mungkin hanya itu yang dapat ia lakukan untuknya.
"Sayang, terima kasih kau sudah bekerja keras untuk aku dan anak-anak. Terima kasih. Kau luar biasa. Aku sangat mencintaimu."
"..." Baekhyun menggeleng pelan. Ia merasa tak pantas.
"Kau adalah segalanya untuk anak-anak. Mereka tak akan bisa seperti ini tanpamu. Jadi aku berjanji akan membawanya kembali." Chanyeol tersenyum.
"Dengan cara apa? Kau berjanji?" tanya Baekhyun sesegukan. Ia menghapus sisa air matanya.
"Demi kau Byun Baekhyun. Kau ibu dari anak-anakku."
.
.
.
.
.
Yuhuuu wordsnya udah kebanyakan. Aku izin pamit lagi ya /sending loves/
ChanBaek jaya jaya jaya
