Part 23 Satelit Pertama

Assalamualaikum semuanya, yah beberapa hari ini aku memiliki waktu luang untuk melanjutkan tulisanku, jadi untuk update kali ini tidak perlu menunggu waktu yang terlalu lama. Pertempuran di Anteinde telah selesai dan kita tidak akan melihat banyak aksi di bagian kali ini. Mungkin itu saja yang dapat aku sampaikan dan selamat membaca.

###

Benteng Andalusia

Fasilitas peluncuran roket antariksa

Di ruang kontrol fasilitas peluncuran roket antariksa pertama yang dibangun di Edela, semua staf yang bekerja di ruang kontrol sibuk melakukan persiapan di depan monitor mereka masing-masing. Beberapa dari mereka mondar-mandir kesana-kemari, mungkin untuk melaporkan hasil pekerjaan dan situasi mereka. Di ruang kontrol yang luas itu, di sisi depan terdapat sebuah layar lebar yang memproyeksikan kondisi utama persiapan peluncuran.

Benar, mereka sedang sibuk mempersiapkan peluncuran roket yang mengangkut satelit pertama yang akan mengorbit di Edela. Sebuah pencapaian besar dimana fasilitas seperti ini sudah selesai dibangun dan hendak meluncurkan satelit pertamanya yang bernama "Al Huda" hanya dalam waktu 2 bulan saja. Satelit ini yang nantinya akan mempermudah navigasi sekaligus mengaktifkan fungsi GPS dan fungsi-fungsi lainnya yang saat ini mati karena tidak adanya satelit.

Di tengah ruangan itu, Jenderal Ayyub yang juga menjadi penanggung jawab operasi peluncuran mengawasi seluruh proses persiapannya. Beberapa ketua staf datang dan pergi untuk bertanya atau sekedar melapor. Ayyub sebenarnya pernah menghadiri proses peluncuran satelit sebelumnya ketika masih di bumi. Hanya saja waktu itu dia tidak menjadi penanggung jawab keseluruhan operasi seperti sekarang.

"Jenderal, energi dan bahan bakar sudah selesai di isi, insyaallah roket siap diluncurkan kapan saja." Ucap salah satu ketua staf yang melapor.

"Semua sistem elektronik sudah selesai dicek dan berfungsi dengan baik."

"Koneksi dengan satelit lancar dan tidak ada masalah."

Akhirnya setelah menunggu selama berjam-jam, laporan selesainya persiapan peluncuran pun berdatangan satu per satu. Setelah laporan terakhir sudah dikonfirmasi, Ayyub mengangguk kecil lalu memberikan aba-aba untuk memulai proses peluncuran.

"Baiklah, kalau begitu mulai proses peluncuran."

Layar utama yang tadinya menampilkan kondisi roket, sekarang berganti menampilkan tampilan langsung roket yang dimaksud. Salah satu staf kemudian memulai hitung mundur untuk meluncurkan roketnya.

"Roket meluncur dalam 10, 9, 8, 7, 6,"

Semua orang di ruangan itu berhenti mengerjakan apa yang tadinya mereka kerjakan dan dengan was-was menatap layar utama sembari menunggu hitung mundur. Bahkan beberapa di antara mereka sampai mengeluarkan keringat dingin. Kesalahan sedikit saja dapat menggagalkan operasi ini yang nantinya akan membuat kerugian jutaan atau puluhan juta dinar.

5, 4, 3, 2, 1, roket diluncurkan."

Di layar utama, roket yang ditampilkan mengeluarkan asap tebal yang disertai api di bawahnya. Tak lama kemudian roket mulai terangkat dan dengan cepat meluncur secara vertikal ke langit. Suara gemuruhnya bahkan bisa didengar oleh orang-orang yang berada di dalam ruang kontrol.

###

Pengungsi yang tinggal di sekitar benteng Andalusia dan menjadi pemukim di tempat itu penasaran dengan suara gemuruh yang tiba-tiba terdengar dari dalam benteng. Memang suara gemuruh sering sekali terdengar dari dalam benteng yang merupakan bunyi jet pesawat. Tapi gemuruh yang mereka dengar kali ini sangat berbeda dan suaranya jauh lebih keras dari suara mesin mana pun yang pernah mereka dengar. Mau tak mau kebanyakan penduduk pun memandang ke sumber suara dan menyaksikan benda besar panjang yang meluncur ke langit. Kebanyakan mereka tidak tahu apa yang meluncur itu, tapi yang mereka itu pasti sesuatu yang hebat.

###

Duke Arnold menatap ke langit dari jendela istananya di Anteinde. Dua berita buruk sekaligus baru saja dia terima dari bawahannya. Serangan besar-besaran ke tempat persembunyian pasukan hitam di kotanya berhasil digagalkan. Armada angkatan laut Leonia yang seharusnya berlabuh di kota ini dihabisi dalam waktu hitungan menit saja. Andai saja dia tidak ceroboh membiarkan pelabuhan kota ini kosong sejak awal penaklukan kota, atau jika saja dia lebih cepat menyiapkan pelabuhan itu untuk kedatangan armada laut, pasti pasukan hitam itu tidak akan dapat bersembunyi di kota ini.

Duke Arnold tidak tahu bagaimana dia harus melaporkan hal ini ke Raja Cheldric nantinya. Bisa-bisa nanti dirinya sendiri malah akan dipenggal karena kegagalannya mempertahankan kota ini. Di tengah kesibukannya memikirkan nasibnya, matanya yang menatap keluar jendela tiba-tiba menatap suatu objek. Objek yang terbang lurus ke atas berwarna kuning-oranye dari jauh. Melihat objek itu, matanya membelalak lebar, isi pikirannya dikeluarkan dalam bentuk gumaman secara tidak sengaja.

"Dewa telah meninggalkan kita."

Di belakangnya Duke mendengar langkah berlari yang membuatnya membalik badan dan ternyata salah satu prajuritnya datang melapor.

"Tuanku, barak prajurit, pos prajurit, dan gudang persenjataan kita diledakkan oleh sihir musuh. Selain itu, armada musuh sudah berlabuh di pelabuhan kota. Apa yang harus kita lakukan tuan?"

Duke Arnold tersenyum sinis, lalu membalik badan lagi menghadap jendela dan membelakangi prajurit itu.

"Kita sudah kalah, kota ini sudah jatuh ke tangan musuh. Kumpulkan semua pasukan dan perintahkan mereka semua untuk mundur meninggalkan kota ini. Bawa para penduduk asli Leonia bersama kita juga. Kita tidak boleh meninggalkan rakyat asli Leonia di tangan musuh, mereka akan menghadapi kebiadaban yang sama seperti yang kita lakukan pada penduduk Scotia."

###

Di area gudang dermaga yang menjadi pusat operasi kompi J, Kapal ISS Barbarossa dan ISS Yusuf berlabuh dan menurunkan sebagian awak kapalnya untuk membantu pasukan kompi J. Mereka sibuk merawat yang terluka, menghitung kerusakan, dan juga menghitung korban jiwa. Dari sekitar 150 orang, 20 luka ringan, 10 luka berat, dan 10 gugur dalam tugasnya sebagai syuhada. Termasuk Aryan dan Hamzah. Kapten Fadil yang memimpin satuan tugas angkatan laut menuruni kapalnya dan mendatangi Ahmed.

Kapal-kapal armada Leonia yang masih tersisa dirapatkan di dermaga dan kru-kru nya yang masih hidup ditahan di masing-masing kapal mereka. Mereka nantinya akan diproses oleh pasukan yang sebentar lagi sampai di kota dan kapal-kapal mereka beserta seisinya akan diambil sebagai rampasan perang untuk nantinya dijual dan hasilnya dapat digunakan sebagai tambahan menutupi biaya perang.

Ahmed berada di tengah-tengah prajurit terluka yang dikumpulkan di satu tempat untuk mempermudah perawatannya. Dengan tangannya sendiri, Ahmed ingin membantu menyelamatkan nyawa prajurit di bawah komandonya, mengingat untuk sementara tempat operasi mereka aman dan tidak ada hal lain yang benar-benar bisa dilakukan. Fadil yang menemui Ahmed mengulurkan tangan, menawarkan jabatan tangan yang selanjutnya disambut oleh Ahmed.

"Assalamualaikum kapten Kuzey, aku kapten Fadil yang memimpin kapal ISS Barbarossa, bagian dari armada laut ke 7, aku dengar kau yang memimpin pasukan yang beroperasi di sini. Maaf atas terlambatnya kedatangan kami."

"Waalaikumsalam, senang bertemu denganmu kapten Fadil. Kau tidak perlu minta maaf karena ini juga bukan salahmu mengingat keberadaan angkatan laut Leonia tidak ada yang mengetahui. Atas izin Allah pertolongan darimu sendiri yang datang di tengah pertempuran sudah seperti keajaiban dari Allah."

"Kudengar kalian sudah mempertahankan tempat ini sejak beberapa hari yang lalu. Aku salut dengan tindakanmu kapten, tidak semua orang akan mengambil keputusan menyelamatkan semua budak dan bertahan di tengah-tengah musuh lebih lama. Padahal misi kalian seharusnya hanya berlangsung 2 sampai 3 hari saja paling lama."

"Sudah tugas kita sebagai muslim untuk menolong yang lemah bukan? Apalagi kita sebagai Ghazi yang juga memiliki kekuatan untuk itu."

Kapten Fadil mengamati prajurit terluka di sekitarnya dengan perasaan bercampur aduk. Kalau saja dia datang lebih cepat, mungkin korban bisa jauh diminimalisir.

"Baiklah, kau boleh meminta anak buahku kapan saja jika kau membutuhkan bantuan mereka. Aku akan berada di sekitar kapal kalau kau mencariku."

Ahmed mengangguk dan dengan begitu Fadil melangkah meninggalkan Ahmed lagi. Tidak jauh dari tempat Ahmed berdiri, Faruq dan Sylvania sibuk merawat korban luka yang masih belum selesai dirawat. Seperti yang satu ini, sebuah pecahan batu runcing menancap di dekat pundak prajurit itu. Faruq dan Sylvania sedang berusaha mencabut batu.

"Sylvania, ketika batu ini dicabut, dia akan langsung pendarahan, ketika itu terjadi, aku ingin kau langsung menggunakan kemampuanmu untuk menghentikan pendarahannya. Kau masih punya energi Mana bukan?"

Sylvania mengangguk.

"Jangan khawatir, aku masih punya cukup Mana untuk menghentikan beberapa pendarahan."

Faruq pun memberi aba-aba sambil memegang batu yang menancap. Setelah menghitung mundur, Faruq langsung mencabut batu itu dan tempat di mana batu itu tertancap langsung mengeluarkan aliran darah dari dalam dan di saat bersamaan prajurit itu berteriak kesakitan. Tapi aliran darah itu tidak lama kemudian berhenti ketika Sylvania mengarahkan telapak tangannya ke luka itu hingga luka itu mengeluarkan cahaya samar.

"Seperti yang diharapkan dari Sylvania yah." Faruq tersenyum melihat hasil pekerjaan Sylvania.

"Tidak, ini bukan apa-apa kok. Lagipula kalian juga memiliki alat sendiri untuk menghentikan pendarahan kan? Yang berbentuk seperti pasta merah itu."

"Ah, itu… memang benar dapat menghentikan pendarahan, tapi saat ini kita sedang kehabisan dan lagipula alat itu juga menimbulkan rasa sakit ketika diaplikasikan ke korban.

Di sisi lain, Ahmed melangkah mendekati salah seorang prajuritnya yang duduk memandangi prajurit lain yang tidak sadarkan diri. Memang prajurit itu masih hidup, tapi lukanya cukup berat hingga membuatnya tidak sadarkan diri. Indra kehilangan salah satu kakinya karena hantaman batu dari armada laut Leonia dan kehilangan banyak darah. Indra memang salah satu bawahan Ahmed yang berasal dari provinsi nusantara. Orang yang duduk di dekatnya memandangi Indra adalah Adi Iskandar yang juga berasal dari nusantara.

"Ah kapten, kau kemari rupanya." Sapa Adi yang menyadari kedatangan Ahmed.

"Bagaimana keadaan Indra?" Tanya Ahmed sambil duduk di samping Adi.

"Alhamdulillah, Indra akan baik-baik saja. Sayangnya akan butuh lama bagi Indra untuk dapat terjun ke medan Jihad lagi. Kakinya yang hilang harus diganti dengan kaki prostetik, ditambah lagi proses pemulihan dan rehabilitasinya nanti mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sepertinya Indra akan pulang lebih dulu ke kampung halaman kami di nusantara."

"Begitu ya, senang mendengar kalau Indra baik-baik saja. Yang terpenting adalah dia masih hidup saat ini."

Adi mengangguk kecil.

"Kau tahu kapten, datang ke dunia ini, di mana ada kekuatan mirip "sihir" dan makhluk fantasi. Hal ini mengingatkanku tentang daerah nusantara di masa lampau."

Ahmed penasaran, pasalnya Adi membandingkan Edela dengan wilayah nusantara di jaman dulu. Padahal hal-hal seperti yang disebutkan Adi di dunia ini belum pernah mereka temukan di bumi.

"Kenapa dengan nusantara di masa lalu Adi?"

"Aku sering mendengar dari mendiang kakekku jika di zaman dulu wilayah nusantara juga dipenuhi oleh orang-orang "sakti". Mereka memiliki kekuatan yang bisa dibilang super dan di luar nalar, yang bahkan tidak dapat ditemukan lagi di zaman sekarang, terutama petinggi-petinggi militer dan raja-rajanya. Semuanya memiliki kesaktian yang tidak manusiawi."

Mendengar cerita Adi, Ahmed seperti teringat sesuatu.

"Ah, aku juga sedikit teringat, ketika masa sekolahku, aku memiliki guru yang juga berasal dari daerah nusantara. Di kelas guruku menceritakan tentang hal yang sama. Manusia dengan kekuatan super, mampu meloncat setinggi pohon, mengalahkan segerombolan orang dengan satu ayunan pedang, lari dengan kecepatan angin. Aku bahkan mendengar cerita tentang ulama yang disebut wali ini yang juga memiliki kemampuan hebat dengan sebutan karomah."

Adi mengangguk.

"Benar, kau tahu kapten, tempat ini mungkin tidak jauh berbeda dengan di cerita itu bukan? Maksudku kemampuan sihir-sihir elemen yang mereka gunakan tanpa campur tangan ghaib. Huh mendengar sesuatu yang berkaitan dengan ghaib selalu saja membuatku merinding."

Ahmed tersenyum sekaligus terkekeh, sepertinya mereka berhasil mengubah mood. Keduanya terus bercerita tentang sejarah dan kaitannya dengan kekuatan super. Pada akhirnya mereka menyimpulkan kekuatan yang dimiliki orang-orang di Edela kemungkinan juga pernah dimiliki di dunia mereka.

"Kapten, coba lihat itu."

Adi tiba-tiba menunjuk ke atas sambil memanggil Ahmed. Kedua mata Ahmed pun ikut memandang ke atas mengikuti arah di mana Adi menunjuk. Keduanya melihat objek yang meluncur lurus ke atas dengan jet kuning yang terlihat sangat jelas meski dari kejauhan. Keduanya tahu benar jika yang meluncur itu adalah roket. Tapi keduanya juga tahu kalau itu bukanlah roket biasa, tapi roket yang mengarah ke luar angkasa.

"Kapten, sepertinya tak lama lagi kita akan memiliki koneksi satelit di sini."

"Yah kau benar, insyaallah dengan adanya satelit ini urusan kita akan lebih dipermudah."

###

Benteng Andalusia

Ruang kontrol badan antariksa Edela

Beberapa menit setelah peluncuran, kamera yang berada di satelit menampilkan pemandangan luar angkasa sekaligus bola dunia dari atas.

"Satelit telah mencapai posisi orbit, memulai pengecekan fungsi satelit." Ucap salah satu pimpinan divisi staf.

Para staf di ruang kontrol kembali sibuk dengan layar di depan mereka untuk melakukan berbagai uji coba fungsi-fungsi satelit yang telah mengorbit.

"Fungsi jaringan komunikasi baik."

"Fungsi kamera tidak ada masalah."

"Koneksi dengan GPS berjalan normal."

Berbagai laporan berdatangan dari staf-staf yang mengecek fungsi satelit. Pada akhirnya tidak ada masalah yang berarti selain penyesuaian tertentu yang terkait dengan perbedaan antara bumi dengan dunia ini.

"Jenderal, satelit berfungsi dengan baik dan siap digunakan." Salah satu ketua staf melapor ke Jenderal Ayyub.

"Alhamdulillah, baiklah sekarang langkah pertama kita adalah mulai membuat peta dunia ini. Aku ingin informasi tentang luas daratan dan lautan, kontinen selain Edela, bahkan diameter planet ini, aku ingin semua informasi dasar planet ini digali."

"Siap jenderal."

"Kalau diingat-ingat, kita selalu menyebut tempat ini dengan nama 'Edela', padahal Edela ternyata hanyalah nama benua."

"Benar Jenderal, kita masih belum memiliki nama untuk planet yang kita pijak."

Jenderal Ayyub berpikir sejenak, lalu mendapatkan ide yang mungkin cocok dengan nama planet ini.

"Bagaimana dengan Hilmi?"

"Kenapa Hilmi (impian) Jenderal?"

"Kau tau, tempat ini seperti tempat impian, dunia baru, tanah baru, banyak hal baru di sini. Semua hal baru yang biasanya hanya datang di mimpi dan angan-angan belaka. Karena itu, aku rasa Hilmi adalah nama yang cocok."

"Hmm, sepertinya boleh juga jenderal, kami akan mengabari khalifah tentang usulan ini."

###

Beberapa jam sebelumnya

Di langit-langit sekitar Anteinde. Sekumpulan helikopter terbang meninggalkan area kota Anteinde mengangkut para penduduk. Mereka akan diantarkan ke kota terdekat yang dalam kendali Daulah, yaitu Orluire. Selain mengantarkan penduduk, helikopter-helikopter itu juga punya tujuan mengisi ulang roket dan amunisi mereka sebelum kembali beraksi lagi di kota Anteinde.

Di dalam salah satu helikopter itu terdapat salah satu sosok yang terus mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Bagi Cecilia, hal ini merupakan pengalaman pertamanya terbang mengingat dirinya juga tidak pernah mengendarai wyvern. Ketika pertama kali helikopter lepas landas, Cecilia dan penumpang lain yang tidak terbiasa dengan penerbangan seketika mengalami mual dan pusing. Mungkin mabuk udara. Awalnya Cecilia merasa sedikit merinding melihat keluar jendela.

Tapi sedikit demi sedikit rasa merinding itu berubah menjadi takjub. Dari atas sana, kota Anteinde, dataran, hutan, semua terlihat kecil, mengingatkan betapa kecil dirinya sebagai manusia. Di sisi lain, Cecilia juga tidak bisa berhenti khawatir ketika memikirkan penyelamat hidupnya. Meskipun Cecilia tahu bahwa pasukan Ghazi memiliki senjata yang hampir tak terkalahkan, tapi tetap saja pasukan Ahmed berada di tengah-tengah musuh. Dengan jumlah yang lebih banyak lagi, pasukan Leonia bisa saja menyerang lagi dan membanjiri tempat Ahmed bertahan.

Pemandangan kota pun sudah tak terlihat lagi, hanya ada garis pantai, dataran, dan hutan yang bisa dia lihat. Melihat pantai dan laut membuatnya teringat pembicaraannya dengan Ahmed sebelum penyerangan Leonia. Cecilia tidak habis pikir bagaimana bisa sebuah agama kepercayaan bisa menyebabkan dampak yang begitu besar. Kemajuan teknologi, pembangunan peradaban, penghapusan perbudakan, semuanya hanya karena satu agama yang disebut Islam.

Sangat berbeda sekali dengan di Scotia, tidak lebih tepatnya di Edela atau di dunia ini. Agama hanya digunakan untuk keperluan spiritual. Tidak peduli agama apa yang dimiliki, tidak ada perbedaannya. Pemerintahan, politik, peperangan, peradaban, semuanya hampir tidak ada hubungannya dengan agama. Belum lagi pemuka agama yang seringkali mencari keuntungan dengan mengatasnamakan agama dan memaksakan doktrin yang mereka buat sendiri.

Jika dipikir-pikir lagi, Cecilia tidak banyak menemukan dampak positif dari agama di dunianya. Itu juga yang membuat Cecilia sedari kecil berpikir bahwa agama tidaklah penting. Tapi apa yang diceritakan Ahmed benar-benar berbeda, membuat Cecilia pensaran dan ingin mencari tahu lebih lanjut agama orang-orang hitam ini yang membawa pengaruh besar.

Dari jendela helikopter, mata Cecilia tiba-tiba menangkap pergerakan besar di darat. Terlihat seperti kereta-kereta besar yang membentuk kolom di sepanjang jalan dan bergerak menuju Anteinde. Anehnya dari banyak kereta yang bergerak dengan cepat itu tidak ada kereta yang ditarik kuda sama sekali. Semuanya berjalan sendiri tanpa ada hewan apapun yang menariknya. Sepertinya pasukan hitam yang disebut Ghazi ini tidak pernah berhenti membuat Cecilia terkejut. Pikirannya bertanya-tanya keajaiban seperti apa lagi yang mungkin akan ditunjukkan oleh para Ghazi.

Tidak terasa helikopter sudah mencapai tujuannya. Cecilia dapat melihat pemandangan seluruh kota Orluire dari atas. Kota pelabuhan yang menjadi perbatasan antara Scotia dan Gallinea. Alasan kenapa kota itu tidak terlalu berkembang adalah karena Scotia memang sering bersitegang dengan kerajaan Gallinea, membuat kota Orluire menjadi salah satu kota yang paling terancam dari pada kota-kota lain. Bahkan Scotia menjalin hubungan yang lebih baik dengan Leonia, tentunya sebelum Leonia tiba-tiba menyerang secara mendadak.

Anehnya kota yang seharusnya tidak memiliki banyak keistimewaan itu sekarang nampak hidup dan ramai. Jalanan dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang. Di atas tembok kota terdapat beberapa pasukan yang berjaga di sana-sini dan ada beberapa alat yang mengarah ke atas di atas tembok. Cecilia tidak tahu alat apa itu, tapi ujungnya mirip dengan ujung tongkat yang dibawa oleh pasukan hitam. Hanya saja dengan ukuran yang jauh lebih besar.

Tidak hanya di dalam tembok, di luar tembok pun juga banyak penduduk yang berlalu lalang dengan aktifitas masing-masing. Helikopter di arahkan ke salah satu daerah di luar tembok yang kelihatannya dipenuhi oleh tenda. Di tengah proses pendaratan helikopter, perut Cecilia kembali merasakan perasaan yang aneh. Mungkin perasaan mual pikirnya, pada akhirnya Cecilia masih belum terbiasa dengan helikopter.

Pintu belakang helikopter Ababil dibuka, Cecilia dan penduduk lainnya pun diarahkan untuk turun dan disambut oleh sekumpulan orang-orang berpakaian putih di luar. Orang-orang dengan seragam putih itu memiliki emblem bulan sabit merah di seragam mereka. Lambangnya sama seperti di bahu seragam Ahmed yang juga menunjukkan bulan sabit. Hanya saja bulan sabit di seragam Ahmed berwarna putih.

Jika diingat-ingat lagi, Cecilia baru tersadar jika semua kendaraan helikopter dan alat-alat yang orang muslim pakai kebanyakan memiliki lambang bulan sabit. Cecilia pun diarahkan ke sebuah tenda yang di atasnya terdapat bendera bulan sabit merah dengan background putih. Bendera itu berbeda dengan yang ada di gerbang kota. Bendera di gerbang kota memiliki background merah dengan tulisan yang tak dapat dia baca.

Di dalam tenda, Cecilia diminta untuk pergi ke salah seorang yang sudah duduk dengan beberapa peralatan yang ada di meja di depannya. Mungkin seorang dokter atau perawat, seragamnya sama dengan yang menyambut mereka di luar. Pikir Cecilia.

"Tolong tunjukkan lenganmu." Pinta perawat yang sekarang berada di depannya. Dengan sedikit ragu Cecilia menuruti permintaannya.

"Jangan khawatir, aku hanya ingin memeriksa suhu dan tekanan darahmu untuk memastikan kondisimu baik-baik saja." Perawat itu berbicara lagi dengan ramah membuat Cecilia sedikit lega.

"Apa anda dan yang lainnya seorang elf?" tanya Cecilia tiba-tiba membuat perawat itu terkekeh sambil melingkarkan sesuatu di tangan Cecilia.

"Ah, mana mungkin, satu-satunya elf yang pernah kukenal di sini hanyalah Sylvania saja. Kamu pasti mengenal Sylvania kan? Salah satu dari rombongan yang menyelamatkanmu."

"Anda mengenal Sylvania?" Cecilia terkejut ketika orang di depannya mengenal Sylvania. Mengingat Sylvania membuat Cecilia sedikit lesu karea bagi Cecilia Sylvania adalah rival cintanya. Cecilia memang tidak menyangkal bahwa dirinya sendiri sudah jatuh cinta dengan penyelamatnya itu. Hal ini juga yang membuat Cecilia sering bertingkah agresif di depan Ahmed.

"Kami berteman cukup akrab. Kau tahu, pertanyaanmu sama persis dengan gadis muda seusiamu yang beberapa hari lalu kemari. Hanya karena gadis muslim yang pertama ditemuinya adalah elf, dia menyangka semua yang menggunakan kerudung di sini adalah elf.

Perawat itu terlihat selesai dengan pekerjaannya memeriksa Cecilia dan melepas alat yang tadi dipasang dilengannya.

"Baiklah, kondisimu bagus dan tidak ada penyakit yang terdeteksi. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku Lusie."

"Lusie? Apa jangan-jangan anda sebenarnya orang Scotia?"

Sejak awal Cecilia ingin mengatakan hal itu, karena bagaimanapun fitur wajah Lusie yang putih hampir pucat sangat berbeda dengan wanita berbaju putih lain yang wajahnya putih kekuningan. Apalagi setelah mendengar namanya membuat Cecilia lebih yakin dengan tebakannya.

"Benar, aku memang penduduk asli Scotia yang menjadi muslim dan ikut membantu mereka."

"Menjadi muslim? Jadi penduduk Scotia juga bisa menjadi seorang muslim?"

"Tentu saja, siapapun boleh menjadi seorang muslim, terlepas dari dari mana dia berasal, apa rasnya, apa latar belakangnya, semua boleh menjadi seorang muslim."

"Begitu ya, aku Cecilia, Cecilia Norma de Scotia." Cecilia memperkenalkan dirinya dengan suara kecil, tapi tetap terdengar oleh Lusie yang membuat Lusie terkejut.

"MAKSUDMU CECILIA PUTRI DARI RAJA RAUFFE?" Ucap Lusie terkejut sambil berdiri.

Karena suara Lusie yang mengeras, semua orang di ruangan itu ikut terkejut dan langsung menoleh ke arah mereka. Seketika Lusie meminta maaf ke orang-orang lain dan kembali terduduk.

"Aku pikir seluruh keluarga kerajaan sudah dibunuh oleh Leonia ketika ibu kota kerajaan jatuh."

"Tidak, aku berhasil lolos waktu itu bahkan beberapa minggu sebelum ibukota diserang dan orang-orang Leonia yang menangkapku pun juga tidak mengetahui identitasku yang sebenarnya. Mereka hanya mengenalku sebagai pemimpin gerakan pemberontakan Scotia."

"Hmm, begitu ya… Jadi, mulai sekarang apa yang ingin anda lakukan, tuan puteri?"

"Aku tidak tahu Lusie, aku ingin negeri dan rakyatku bebas dan bahagia, tapi orang-orang hitam yang disebut muslim ini lah yang sekarang menduduki dan menguasai wilayah Scotia. Di sisi lain, aku juga tahu kalau orang muslim adalah orang-orang yang baik. Aku tak tahu harus bagaimana. Kalau pun aku ingin mengambil kembali Scotia, aku juga sudah tidak punya kekuatan apa-apa lagi."

Lusie tersenyum mendengar penuturan Cecilia yang menjadi dilema. Meskipun di usianya yang sangat muda, Cecilia harus memikirkan banyak hal yang berkaitan dengan politik sekaligus memikirkan rakyatnya. Apalagi seluruh keluarganya yang merupakan anggota kerajaan sudah tidak ada lagi dan negerinya sudah dikuasai oleh negeri lain sekarang. Tapi Lusie tahu benar jawaban seperti apa yang perlu dia berikan kepada tuan puterinya.

"Putri Cecilia, percayalah padaku kalau rakyat anda sekarang bahkan lebih bebas dan lebih bahagia di bawah naungan orang-orang muslim ini. Kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka lagi. Jika ini menyangkut negeri Scotia, aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu. Tapi aku yakin orang-orang muslim ini sama sekali tidak ada niatan buruk dan mungkin anda bisa merundingkannya dengan pemimpin mereka. Lagipula negeri yang sedang mereka perangi sekarang bukanlah Scotia kan?"

Cecilia pun mengangguk paham dan ikut tersenyum kecil. Mendengar rakyatnya yang bahagia membuat beban di pundaknya sedikit terangkat.

"Baiklah tuan puteri, tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya ingin meminta anda untuk berpindah karena di belakang masih ada orang lain yang mengantri untuk diperiksa kondisi kesehatannya."

Cecilia menoleh ke belakang sambil sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang benar di belakangnya ada bangku untuk mengantri yang sudah diduduki beberapa orang lain dari Anteinde juga yang datang bersama Cecilia tadi.

"Ah maaf, aku jadi terbawa suasana. Kalau begitu aku akan segera berpindah."

"tidak apa-apa, aku hanya ingin pekerjaan di sini segera diselesaikan agar aku bisa cepat ikut dengan helikopter ke Anteinde menemui kekasihku di sana. Setelah ini anda dapat memilih tenda yang akan menjadi tempat tinggal anda sementara."

Cecilia yang hendak berdiri terhenti dan tidak jadi melangkah karena ucapan Lusie.

"tunggu, kamu bilang tadi kamu mau ke kota Anteinde?"

"Iya benar, tenaga medis yang tadi ikut dengan pasukan utama sebenarnya masih terlalu sedikit, jadi setelah ini akan ada beberapa tenaga medis yang ikut kesana termasuk aku."

"Kalau begitu, izinkan aku untuk ikut kesana! Kumohon!"

"Eh, meskipun anda bilang begitu, tapi saya tidak punya wewenang untuk itu. Lagipula bukannya anda juga perlu beristirahat di sini terlebih dahulu? Padahal sudah keluar dari zona perang."

"Tidak apa-apa, ada yang ingin aku temui juga di sana. Jangan khawatir, kau tahu kan aku salah satu pengguna sihir berbakat di Scotia. Aku janji tidak akan menjadi beban dan membantu apapun yang aku bisa."

Lusie pun menghela nafas berat sebelum akhirnya mengangguk menerima permintaan Cecilia.

"Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengan atasanku. Untuk sementara ini anda bisa menunggu di tenda pengungsi. Nanti aku yang akan mengabari Anda kapan kita berangkat."

Cecilia pun tersenyum sambil mengangguk senang. Sepertinya penantian untuk bertemu dengan penyelamat hidupnya lagi tidak akan menunggu waktu lama.

Beberapa jam kemudian di sekitar tenda pengungsi, Lusie berjalan mencari tenda Cecilia untuk mengajaknya berangkat seperti yang dijanjikannya. Kebanyakan pengungsi di sana adalah perempuan yang merupakan campuran korban dari goblin dan bekas budak yang ditahan di Anteinde. Di antara mereka ada beberapa anak-anak juga. Lusie dapat mengingat pertama kali mereka datang dengan wajah yang sangat murung, namun sekarang mereka terlihat lebih baik. Bahkan beberapa anak-anak terlihat tertawa sambil bermain bersama.

Beberapa wanita lain hanya nongkrong sambil bergosip ria. Ada juga yang terlihat memasak dan mencuci baju atau peralatan makan. Padahal sudah disediakan tempat mencuci di dalam tenda, tapi entah kenapa sepertinya orang-orang terbiasa mencuci di luar.

"Kak Lusie!"

Lusie dapat mendengar seseorang memanggilnya dan menoleh ke sumber suara.

"Elle!"

Di sana, Elle berlari ke arah Lusie sepertinya keduanya menjalin hubungan baik semenjak Elle pertama kali datang ke tempat ini.

"Bagaimana kabarmu Elle?"

"Aku baik-baik saja, kau tahu? makananku tercukupi, aku memiliki cukup pakaian dan juga tempat tinggal. Bagaimana mungkin aku tidak baik-baik saja dengan semua itu."

Lusie tersenyum mendengar kabar Elle sambil mengusap kepalanya.

"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Tapi, kamu tahu? tempat ini tidak akan selamanya menjadi tempat tinggalmu."

"Apa maksudmu orang-orang hitam akan mengusir kita?" wajah Elle berubah sedih ketika mendengar dia tidak bisa tinggal di sana selamanya.

"Bukan itu, mereka sedang membangun tempat tinggal yang lebih baik dan bagus untuk kalian semua, jadi tempat ini hanya akan menjadi tempat tinggal untuk sementara."

"Beneran? Padahal tempat ini sudah cukup nyaman untuk kami. Tapi membangun tempat tinggal yang lebih bagus itu sungguh…-"

"Tidak apa-apa, mereka memang orang-orang baik. Baiklah kalau begitu aku mau pergi dulu ya."

"Heh? Jangan pergi, tetaplah di sini! Kau tahu, aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri."

Wajah Elle berubah sedih lagi, memang semenjak bertemu Lusie, Elle sudah menganggap Lusie seperti kakaknya sendiri. Lusie juga sudah mendengar kalau Elle kehilangan kakaknya di penyerangan goblin. Karena itu Lusie tidak keberatan ketika Elle ingin menganggap dirinya sebagai kakaknya. Lagipula dari dulu Lusie juga menginginkan seorang saudara.

"Aku harus pergi Elle, ini sudah menjadi tugasku. Aku pasti akan kembali, orang-orang muslim lainnya pasti akan melindungiku, jadi Elle tidak perlu khawatir. Kau tahu kan mereka itu kuat."

Elle mengangguk lemas.

"Nee.. kak Lusie. Kak Lusie seorang muslim juga kan? Apa aku juga bisa menjadi seorang muslim?"

Lusie terkejut mendengar pertanyaan itu dari Elle. Lalu mulutnya kembali tersenyum, kalau Elle mau menjadi muslim, itu adalah hal yang bagus tentunya. Tapi Lusie tidak mau Elle menjadi muslim tanpa tahu apa itu muslim dan menjadi pengikut buta. Lusie juga tidak mau kalau Elle sampai menyesali pilihannya menjadi seorang muslim. Karena itu Lusie ingin memastikan kalau nanti dirinya harus mengajari Elle tentang Islam. Mungkin Lusie juga perlu meminta bantuan Faruq. Lusie pun mengangguk dan menjawab.

"Tentu saja, semua orang bisa menjadi muslim termasuk Elle. Tapi sebelum itu ada yang harus aku ajarkan dulu nanti ke Elle. Kenapa tiba-tiba ingin menjadi muslim?"

"Baiklah, aku akan menunggu sampai saat ini. Kau tahu, aku lihat orang muslim adalah orang-orang yang baik. Aku ingin menjadi seperti mereka. Selain itu aku juga ingin menjadi seperti kak Lusie juga."

Lusie jadi teringat dengan Cecilia. Padahal Elle dan Cecilia hampir seumuran, tapi entah kenapa pola pikir mereka sangat berbeda. Lusie merasa Cecilia berpikir terlalu dewasa untuk gadis seumurannya. Pada akhirnya Lusie harus berpamitan ke Elle sebelum akhirnya pergi berkeliling lagi sampai menemukan tenda yang ditempati Cecilia. Belum sempat memasuki tenda, teryata pintu tenda sudah tersingkap memperlihatkan Cecilia yang sudah siap pergi dengan tas selempang kecil. Lusie penasaran dari mana Cecilia mendapat tas selempang kecil itu.

Cecilia yang seolah paham dengan tatapan mata Lusie yang mengarah ke tas selempangnya langsung menjawab tanpa memberikan Lusie kesempatan bertanya.

"Aku mendapatkannya dari salah satu pengungsi lain. Katanya mereka sudah tidak membutuhkannya lagi."

Lusie pun akhirnya mengangguk paham sambil mulutnya membentuk "oh". Setelah itu mereka berjalan meninggalkan tenda, menjauhi area pengungsi dan tiba di landasan helikopter di mana sejumlah helikopter sudah siap lepas landas dengan memutar baling-balingnya. Beberapa staf medis yang lain sedikit heran dengan keberadaan penduduk sipil di dalam helikopter, tapi mereka memilih diam saja. Mungkin seseorang dengan izin khusus atau semacamnya, pikir mereka.

Lusie dan Cecilia dapat mendengar bunyi radio komunikasi pilot dari tempat mereka duduk. Tentu saja Cecilia yang tidak memahami bahasa Arab tidak paham apa yang dibicarakan di radio itu. Tapi dari kedengarannya yang menggunakan nada panik, keadaannya terdengar gawat. Cecilia pun tidak bisa menahan rasa penasarannya. Apalagi ketika menoleh ke Lusie, wajah Lusie juga terlihat tegang.

"Lusie, sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Kenapa mereka terlihat tegang?"

"Pasukan yang ada di Anteinde diserang oleh armada laut musuh dalam jumlah besar."

"Armada laut?"

Cecilia pun mau tidak mau juga ikut menegang dan khawatir dengan keadaan seseorang di sana. Rasanya ingin sekali dia cepat-cepat sampai di Anteinde. Mungkin harusnya sejak awal Cecilia menetap saja bersama Ahmed di sana daripada pergi ke Orluire. Tangannya tanpa sadar meremas pakaiannya sendiri. Pikirannya tidak dapat berhenti memikirkan nasib pria yang sudah menjadi penyelamatnya.

###

Secangkir kopi memang selalu bisa menenangkan suasana hati dan pikiran, apalagi suasana setelah pertempuran intensif. Termasuk kopi yang sekarang sedang dinikmati oleh Ahmed di pusat operasi pasukannya yang sekarang terletak di ruang bawah tanah gudang yang menjadi markas mereka. Pada dasarnya bangunan gudang yang ditempatinya sudah rusak sedemikian rupa dengan sebagian besar atapnya runtuh dan beberapa bagian temboknya juga rusak.

Betapapun rusaknya bagian luar gudang, ruang bawah tanahnya tetap tidak terpengaruh dan terlihat baik-baik saja seolah tidak pernah ada serangan selama ini. Beberapa menit yang lalu sebagian anggota kompi J disebar di beberapa sudut kota untuk mengganggu pergerakan pasukan musuh dan merebut pos-pos strategis. Kegiatan mereka didukung oleh kapal ISS Barbarossa dan ISS Yusuf yang juga sesekali menembakkan meriam 203 mm nya ke area yang ditunjukkan oleh anggota kompi J.

Memang membedakan bangunan sipil dan bangunan militer dari atas melalui drone saja sangat sulit mengingat sebagian konstruksi bangunannya sama. Diperlukan tim pengintai yang dapat memastikan gedung mana yang menjadi basis atau fasilitas militer Leonia yang nantinya memberikan koordinat bangunan itu ke kru kapal ISS Barbarossa.

Hasilnya adalah kekacauan total di pihak Leonia. Pasukan Leonia benar-benar kocar-kacir tidak tahu arah. Rantai komando mereka berantakan, ditambah lagi bangsawan-bangsawan yang menjadi pimpinan mereka dijatuhkan oleh tim penembak jitu kompi J yang ikut tersebar. 1 Jam sebelum kedatangan pasukan utama ke kota ini dan misi pasukan Ahmed adalah sebisa mungkin mengacaukan pasukan musuh dan mempermudah proses pembebasan kota oleh pasukan utama. Hal ini juga bertujuan untuk meminimalisir korban penduduk sipil. Kompi J yang tersebar memiliki tugas sampingan meyakinkan para warga agar tidak keluar dari rumah mereka sampai pasukan utama datang.

"Kapten, ada yang perlu anda lihat di sini." Ucap salah satu pasukan Ahmed yang ada di ruangan itu yang bernama Syarif.

Ahmed mendekat ke arah Syarif dan melihat apa yang dimaksud olehnya. Di layar komputer yang dipegang Syarif menampilkan hasil tampilan kamera drone. Di sana terlihat pasukan Leonia bergerak secara masif. Bukan pergerakan untuk persiapan menyerang, melainkan pergerakan yang mengindikasikan kalau mereka meninggalkan kota. Pasukan Leonia berbondong-bondong keluar dari gerbang timur. Mereka bahkan tidak berbaris dan hanya berjalan biasa layaknya rombongan pengungsi. Bahkan di antara mereka juga ada banyak penduduk sipil yang ikut meninggalkan kota.

"Mereka mundur?"

"Sepertinya begitu kapten, saya sendiri kurang begitu mengerti tapi…-"

"Bisa jadi ini hanya jebakan atau tipu muslihat, ada kemungkinan pasukan bantuan mereka sedang ada di luar kota dan mereka bergabung dengan pasukan bantuan itu untuk kembali menggempur kita. Buat kota kosong dan bikin kita lengah. Syarif, awasi terus mereka yang keluar dari kota. Di waktu yang sama aku juga ingin kau memastikan bahwa tidak ada pasukan Leonia di sekitar kota."

"Siap Kapten."

Ahmed kembali berkeliling mengawasi anggota yang lain dengan tampilan monitor yang berbeda. Beberapa di antaranya menampilkan anggotanya yang berada di tengah kota. Ada juga yang menyamar menjadi penduduk dan berkeliling sambil membaur, meskipun Ahmed juga bisa mengatakan bahwa kota ini terlihat sepi dari pada hari-hari sebelumnya. Mungkin karena peringatan dari anggotanya berhasil, ditambah lagi beberapa jam sebelumnya terdapat pertempuran besar di sini dan sebagian mengungsi keluar kota.

Tidak lama kemudian, Ahmed mendengar ketukan di pintu ruangan. Karena seluruh orang di ruangan itu terlihat sibuk, Ahmed pun akhirnya berinisiatif membuka sendiri pintu itu. Cangkir kopi yang sejak tadi dibawanya diletakkan di meja. Ahmed melangkahkan kakinya ke pintu dan membuka pintu itu, mungkin Karim yang ingin melapor atau Kapten Fadil yang ingin mendiskusikan sesuatu pikir Ahmed.

Perkiraan Ahmed salah, sosok yang mengetuk pintunya bukanlah salah satu bawahannya. Sosok itu adalah Sylvania, kekasihnya yang sudah sah menjadi pasangan sehidup dan semati Ahmed. Tentu saja Ahmed terkejut melihat Sylvania yang tiba-tiba datang ke pusat operasi. Bukan berarti Sylvania bisa memberitahu Ahmed terlebih dahulu jika ia ingin bertemu mengingat Sylvania tidak memegang perangkat radio seperti anggota Ahmed yang lain.

Meskipun dalam hal bahasa Sylvania dapat belajar dengan cepat, tetapi Sylvania memiliki kelemahan sedikit lambat dalam memahami teknologi, kebalikan dari Lusie yang cepat tanggap dalam belajar peralatan modern. Bahkan sampai sekarang sebenarnya Sylvania masih sering meminta bantuan Ahmed jika dia ingin menggunakan suatu perangkat tertentu yang tidak dikenalnya. Memang benar jika setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

"Ada apa Vania?" Tanya Ahmed yang melihat Sylvania berdiri di ambang pintu.

"Emm, Ahmed… apa kau sedang sibuk?"

Ahmed menoleh ke belakang, sepertinya anggotanya di dalam tidak benar-benar membutuhkan keberadaannya.

"Sepertinya tidak."

Sylvania mengangguk kecil, lalu berbicara lagi.

"Bisa ikut aku sebentar?"

Ahmed mengangguk mengiyakan. Sylvania berbalik dan berjalan menjauhi ruangan diikuti oleh Ahmed di belakangnya. Mereka menaiki tangga keluar dari ruang bawah tanah dan sekarang berada di salah satu ruangan gudang yang terlihat sama rusaknya dengan ruangan lain. Ahmed bahkan bisa melihat hampir seluruh isi gudang mengingat sebagian besar temboknya sudah runtuh. Hanya ada beberapa tembok di sana-sini yang masih berdiri.

Sylvania kembali berjalan sambil kepalanya menoleh kekanan dan kiri seolah mencari sesuatu. Tak lama kemudian seolah menemukan sesuatu yang dicarinya, Sylvania membelokkan langkahnya dan berjalan ke depan pintu ruangan lain. Ruangan itu terlihat tertutup dengan tembok yang sebagian besar masih berdiri. Hanya atapnya saja yang terlihat terbuka. Sylvania membuka pintu ruangan itu dan mengajak Ahmed masuk.

Setelah keduanya masuk ke ruangan itu, Sylvana menutup pintunya kembali, lalu berjalan mendekati Ahmed dan berdiri tepat di depannya. Tak lama kemudian, bola mata Ahmed membesar ketika melihat apa yang dilakukan oleh Sylvana. Sylvana memeluk leher Ahmed dan mencium bibirnya sambil kakinya berjinjit karena perbedaan tinggi mereka.

Ahmed yang memahami situasinya pun akhirnya membalas pelukan Sylvania dan membalas ciumannya. Entah berapa lama mereka berciuman, saling menyalurkan perasaan keduanya melalui ciuman itu. Sebelum akhirnya keduanya melepas ciuman dengan tangan mereka yang masih saling memeluk.

Wajah keduanya saling berdekatan, membuat Ahmed dapat melihat dengan jelas betapa cantiknya wajah istrinya itu, ditambah dengan mata biru Sylvania yang menambah kadar kecantikannya. Tangan Ahmed yang tadinya memeluk Sylvania bergerak ke atas, membuka kerudung yang dikenakan oleh Sylvania, menampakkan rambut perak Sylvania dan telinga runcingnya. Tangan kiri Ahmed bergerak mengusap rambut Sylvania, sedangkan tangan kanannya bermain-main dengan telinga Sylvania yang ternyata membuat Sylvania geli.

"Emmhh, Geli Ahmed… Sudah… jangan… lama-lama."

Ahmed akhirnya berhenti sambil terkekeh.

"Kau tahu, telingamu itu selalu membuatku gemas." Ujar Ahmed yang membuat Sylvania sedikit menghela nafas, namun akhirnya ikut tersenyum juga.

"Apa kau menyukainya?"

Ahmed mengangguk, tangan kirinya berganti mengusap pipi Sylvania kali ini.

"Aku pernah membaca sebuah buku yang menceritakan sebuah fiksi fantasi, karangan seseorang bernama J.R.R. Tolkien. Dia bukan seorang muslim, tapi cerita karangannya cukup bagus. Menceritakan dunia yang dihuni makhluk dan ras fantasi seperti naga, orc, troll, dwarf, elf, hobbit, sangat kreatif sekali pikirku. Bahkan dia juga mendeskripsikan dengan detail. Itu adalah buku fantasi pertama yang pernah terbit secara luas di tempat asalku sebelum cerita-cerita fantasi lainnya ikut bermunculan."

"Ahmed, apakah menurutmu aku adalah fantasi?"

"Hmm, yah, setahun yang lalu kau adalah fantasi. Tapi fantasi itu sekarang berubah menjadi bagian dari hidupku."

Kali ini Sylvania yang terkekeh, mengingat dirinya disebut sebagai fantasi.

"Tapi Ahmed, setidaknya kau pernah punya gambaran tentang duniaku. Sebaliknya aku bahkan sama sekali tidak memiliki gambaran tentang duniamu. Kendaraan yang dapat berjalan sendiri, belum lagi yang bisa terbang, senjata yang bisa membunuh dari jauh, obat-obatan dan peralatan medis yang begitu efektif, aku bisa memahami bagaimana duniamu bisa hidup tanpa sihir atau energi Mana. Bahkan belum lama ini aku melihat kapal yang terbuat dari besi dan meski begitu kapal itu tidak tenggelam, bagaimana mungkin kami bisa membayangkan hal seperti itu."

Ahmed mengajak Sylvania untuk duduk di lantai berdampingan sambil bersandar di tembok. Di samping Ahmed, Sylvania bersandar ke samping di bahu Ahmed, sedangkan salah satu lengan Ahmed merangkulnya sekaligus merapatkan posisi keduanya.

"Kau juga perlu tahu kalau kami bahkan sudah pernah ke bulan."

"Bulan? Maksudmu benda bulat putih kecil yang di langit itu?"

"Yah, kau tahu, ukuran bulan tidak sekecil itu. Bahkan ukurannya mungkin lebih besar dari benua Edela."

Sylvania sedikit terkejut, kebanyakan orang berpikir bahwa bulan memang sekecil itu ukurannya. Hanya saja bagaimanapun orang-orang terbang menunggang Wyvern, tidak pernah ada yang dapat mencapai bulan. Beberapa orang bahkan menganggapnya sebagai pintu ke surga atau semacamnya.

"Akhir-akhir ini, aku merasa kita jarang sekali memiliki waktu berdua. Kau tahu seberapa besar aku merindukanmu? Kita mungkin saja dekat secara fisik, tapi aku merasa seolah kita saling berjauhan."

"Maaf, ini karena tugasku. Jika tugasku sudah selesai, aku janji akan meluangkan waktu sebanyak mungkin untukmu."

"Seperti sekarang?"

"Yah, Seperti sekarang."

Mereka terdiam selama beberapa saat. Mungkin tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Hal ini membuat suasana mereka berdua sedikit canggung. Tapi Sylvania tidak keberatan dengan situasi ini. Selama dirinya bisa bersama dengan orang yang dicintainya.

"Ahmed, ceritakan lagi tentang duniamu." Ucap Sylvania memecah keheningan.

"Baiklah, hmm bagaimana ya? Kebanyakan kota kami berisi gedung-gedung tinggi. Di baghdad terdapat menara setinggi 200 meter. Di semenanjung arab bahkan ada gedung setinggi 400 meter milik orang badui. Entah kenapa orang-orang badui sepertinya suka sekali berlomba membangun gedung tinggi. Jalanan luas yang dipenuhi oleh mobil, sebuah kendaraan untuk penduduk sipil yang juga bergerak tanpa kuda. Kehidupan kami dipenuhi oleh perangkat elektronik. Orang-orang terpelajar menyebutnya sebagai 'zaman digital'."

Ahmed terus bercerita tentang kehidupan sosial, politik, ekonomi, semua yang bisa diceritakan. Tidak lupa Ahmed juga menceritakan bahwa di dunianya pun juga ada perselisihan, antara blok Islam dan Kapitalis. Sebelumnya juga ada yang bernama komunis yang akhirnya runtuh karena tergerus waktu yang memperlihatkan kebobrokan mereka. Entah berapa menit berlalu sampai Ahmed tidak sadar Sylvania sudah tertidur di sampingnya.

Dilihatnya wajah Sylvania yang terlihat damai dalam tidurnya. Sudah lama semenjak terakhir kali Ahmed melihat wajah itu, mengingat selama di kota ini mereka tertidur di tempat yang terpisah. Hari sudah menunjukkan waktu sore. Mungkin sebentar lagi maghrib. Selama seharian ini mereka hampir tidak dapat beristirahat karena gempuran pasukan Leonia. Meskipun tahu bahwa tidak baik tidur di sore hari, Ahmed ingin membiarkan Sylvania tidur sejenak melepas kepenatannya. Tiba-tiba radio yang dibawa oleh Ahmed berbunyi.

"[bzzz] Pasukan utama yang dipimpin oleh kolonel Umar sudah sampai di gerbang kota tanpa perlawanan."

"[bzzz] Seluruh pasukan musuh sudah mundur dan keluar dari kota."

Ahmed tersenyum senang mendengar laporan di radio itu. Setelah dirasa sudah cukup, Ahmed pun membangunkan Sylvania dan mengajaknya untuk berjalan keluar dari gudang menyambut pasukan utama yang datang. Tidak lupa Ahmed juga kembali membenarkan kerudung Sylvania sebelum berjalan keluar.

Ahmed mendengar suara baling-baling helikopter mendekat. Sekelompok helikopter Ababil dan Saqr datang dan mendarat pelataran. Dari dalam muncul petugas medis yang mendatangi korban dari pasukan Ahmed dan mengantarkan mereka masuk ke helikopter satu persatu untuk diantar ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap di benteng Andalusia. Di salah satu tempat terlihat Faruq yang sedang berpelukan dengan gadis muda yang Ahmed kenal bernama Lusie. Melihat itu membuat Ahmed tersenyum karena teringat hubungannya sendiri dengan Sylvania.

"Mereka kelihatannya bahagia sekali setelah melepas perpisahan." Ujar Sylvania yang masih berdiri di samping Ahmed.

"Yah, sama seperti kita."

Beban di pundak Ahmed seketika itu terasa ringan, mengetahui misinya telah berakhir dengan sukses. Yang perlu mereka lakukan selama seminggu kedepan sekarang adalah beristirahat dan menjernihkan pikiran mereka, meskipun di waktu yang sama Ahmed juga sedih karena sebagian prajurit bawahannya gugur. Ahmed hanya dapat berharap prajuritnya yang sudah gugur itu mendapat tempat yang terbaik di sisi yang kuasa sebagai syuhada.

Ahmed juga merasa senang karena akhirnya memiliki waktu untuk dihabiskan berdua dengan istrinya setelah hampir seminggu ini disibukkan dengan misinya. Pikirannya mulai membayangkan apa saja yang akan dia lakukan bersama Sylvania selama beberapa hari ke depan. Akan tetapi dalam sekejap banyangan itu mengabur ketika Ahmed merasakan pelukan dari belakang. Melihat ke samping, istrinya masih berdiri di sampingnya. Ahmed pun sadar bahwa kali ini yang memeluk dirinya bukan Sylvania, melainkan…

""Cecilia?""