Disclaimer:
Karakter yang dipakai dalam cerita ini diambil dari Naruto karya Masashi Kishimoto.
Cerita ini banyak dipengaruhi alur cerita di Detektif Conan & sedikit aroma romansa dari The Girl Who Sees Scents.
Warning!:
Flat plot!
Bukan cerita bergenre thriller!
ForgetMeNot09
dengan
.
.
.
Blondie Case
.
.
.
BAGIAN 4
...
"Sudah pulang?"
Aku mendorong tubuh Sasori menjauh, lalu menjatuhkan tubuh ke sofa.
"Mana Ino?" tanyaku sembari memejamkan mata.
"Sedang mandi."
Pria tampan itu duduk dan mengamatiku, "Kau baik-baik saja?"
Aku tersenyum lemah, berterima kasih pada kepeduliannya. Sejak dahulu memang Sasori tempatku berkeluh kesah.
"Doakan kasus ini segera beres," ujarku lemah.
"Pasti! kabari aku jika ada yang bisa kubantu."
Sasori menepuk bahuku pelan.
"Tugasku sudah selesai, aku pulang ya. Oh ya, tadi Ino sempat belanja kebutuhan dapur, jadi kau tidak perlu repot-repot mencari keluar."
Aku meliriknya, "Tidak mau menginap?" tanyaku tulus.
Sasori menyeringai, "Mau threesome?"
Dan dia segera melarikan diri saat melihatku melempar bantal.
"Dasar otak mesum!" umpatku.
Merasa lelah, aku tiduran di sofa. Kututup mata dengan sebelah lengan. Tiba-tiba dadaku bergejolak, mengingat Danzo. Ayah macam apa yang tega membunuh anaknya sendiri? dengan cara yang sangat biadab?
Aku belum punya bukti kuat bahwa pria itu adalah pelaku pembunuhan berantai, tapi bolehkah aku menyimpulkan jika dia membunuh Shion?
Telingaku menegak saat suara gemericik air yang sejak tadi kudengar terhenti. Aku membuka mata dan melihat pemandangan yang nyaris membuat jantungku melayang.
Yamanaka Ino, berdiri di depan kamar mandi. Dia memakai kaus hitam kesayanganku, yang tentu saja terlihat kebesaran di badannya. Ia sibuk mengeringkan rambut yang basah dengan handuk kecil.
cari mati!
"Ah Kiba? kau sudah pulang?"
Kututup kembali mataku demi keselamatan sesuatu di bawah sana.
"Baru saja."
"A … apa aku boleh meminjam celana? Tadi Akasuna hanya memberikan ini, kupikir gaun ternyata cuma kaus."
Ya Tuhan, Ino! kau ini polos atau pura-pura polos?
Dan tolong ingatkan aku untuk menembak Sasori kalau ketemu. Aku tahu dia pasti sengaja melakukan ini, entah untuk dia nikmati atau untuk menjebakku. Yang mana saja tidak ada yang enak bagiku.
Lekas aku bangkit dan pergi ke kamar, tanpa menoleh sedikit pun pada si wanita Yamanaka.
"Ini," ujarku sambil menyerahkan celana joger putih padanya.
Ino mengucapkan terima kasih dan langsung memakai celana itu di kamar mandi. Sementara aku berusaha memadamkan rasa gerah dengan pergi ke dapur.
Segelas air dingin kuteguk dengan harapan itu akan membantu. Mendadak mataku terhenti di meja dapur. Dahiku berkerut, sup miso?
Aku mengambil sendok dan mencicipi sup yang masih mengepul panas.
"Enak."
Wajahku menghangat. Sup ini rasanya seperti sup buatan ibu.
"Ah … maaf aku menggunakan dapurmu tanpa izin, tapi Akasuna bilang tidak apa-apa."
Aku menoleh, setengah lega setengah menyesal melihat Ino sudah berpakaian rapat.
"Tidak masalah," sahutku tersenyum, "ini enak sekali," pujiku.
Wajah Ino merona, membuatku tercekat, karena itu membuatnya semakin cantik.
"Dapurmu rapi ya, peralatannya juga lengkap. Ada microwave, coffee maker, kulkasmu juga besar," satu per satu benda yang disebutkan ia sentuh. Kulihat pandangannya mendamba.
"Itu hanya alat-alat praktis yang membantuku saat tidak sempat memasak," jawabku yang tak melepas pandangan darinya.
Ino menoleh lalu mengendikkan bahu, "Kalau saja kau tahu aku sangat ingin punya yang seperti ini," ujarnya menyengir.
"Kau boleh memakainya kalau mau."
Entahlah, melihatnya dengan segala kecantikan, di hadapanku, membuatku ingin menggodanya.
"Eh bagaimana?"
Aku mati-matian menahan tawa, "Tinggal di sini … bersamaku."
Reaksinya membuatku menyeringai. Ino melempar sendok plastik yang sedang dipegang.
Gotcha! aku menangkapnya.
Setelah itu kami makan bersama dengan canggung.
Tak butuh waktu lama kami menghabiskan makanan, lalu memutuskan untuk duduk di sofa. Awalnya tidak ada yang mau berbicara, sampai aku tidak tahan sendiri dengan keheningan ini. Aku menatap Ino dengan saksama. Mata birunya yang bulat, pipinya memerah, bibirnya seperti buah persik. Dia benar-benar cantik.
"Maaf," kataku tiba-tiba.
Ino mendongak dan menatapku dengan pandangan bertanya.
"Kau tahu aku sedang menangani kasus yang berat."
Ino mengangguk, "Pembunuhan berantai?"
"Iya," aku ragu untuk meneruskan, tapi penasaran sejauh mana Ino perlu tahu masalah ini.
"Saat mendengar beritanya, aku merasa itu seperti di film-film, jauh dan tidak nyata. Tapi dengan kejadian tadi …."
Ino menggigil ketakutan. Aku mengelus bahunya untuk menenangkan.
"Apa karena itu kau selalu mengingatkanku untuk tidak keluar malam?" tanyanya.
Mengangguk, kutatap mata piasnya yang mulai meneteskan air. Perlahan kuusap air mata itu dengan ibu jari.
"Korban terakhir adalah orang yang aku kenal baik," lirihku.
Ino terkejut. Saking terkejutnya ia sejenak terdiam, tidak tahu harus bereaksi apa.
"Saat aku tidur di rumahmu, dia menghubungiku, ingin mengatakan sesuatu. Tapi aku bilang akan menemuinya esok pagi. Tanpa tahu sama sekali bahwa esok itu dia sudah tidak ada lagi."
Dadaku bergemuruh, penyesalan kembali mencuat saat mengingat Shion.
"Karena itu kau menjauhiku?"
Pertanyaan Ino membuatku tercekat, sekaligus merasa bodoh. Mendadak aku sangat menyesal.
"Maaf …."
"Kau berpikir gara-gara aku, kau jadi kehilangan orang itu?"
"…."
"Tapi aku sama sekali tidak tahu apa-apa, bahkan jika tahu akan begini, aku akan memintamu pergi menemuinya."
"Maaf …."
Ino menangis lagi. Aku semakin merasa bersalah. Murni insting ketika tubuhku bergerak memeluknya.
"Maafkan aku," aku menepuk punggungnya pelan.
"Aku tahu, kau hanya butuh seseorang untuk disalahkan dan kau memilihku."
Kata-kata Ino bagai panah yang menusuk tepat di jantung. Ketika kurasakan ia mulai menggeliat untuk melepaskan diri, aku justru mengeratkan pelukan.
"Lepaskan aku, Kiba!" teriaknya tertahan.
"Tidak!"
"Lepaskan!"
Dia mendorongku tapi tubuhku lebih kuat.
"Tidak sampai kau memaafkanku," ujarku pasrah.
"Kau memaksa!"
Perlahan kulepaskan pelukan. Ino menatapku sengit dengan mata basah.
"Kau tidak salah," ia berkata, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "kau hanya bodoh!"
Melihatku hanya diam, Ino mendorongku, "Pergi, aku lelah, mau tidur. Tenang saja, hanya malam ini. Besok aku akan kembali ke rumah."
Aku terkejut, "Kau gila?" geramku.
Wanita itu tak mengacuhkan dan malah merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ino, dengarkan aku!"
Dia bergeming, matanya memejam. Kubuka paksa kelopak matanya dengan jari-jariku.
"Kiba!"
"Dengarkan aku!"
Dengan kesal dia bangkit duduk. Wajahnya yang masih cemberut dengan bibir mengerucut, sungguh menggodaku untuk menerkam.
Alih-alih, kutangkup wajahnya dengan tangan. Perlakuan sederhana ini membuat jantungku sendiri kebat-kebit. Tak jauh beda dengan Ino yang wajahnya memerah pekat.
"Kau tidak boleh kembali ke rumahmu, tidak untuk saat ini!" tegasku.
Ia mendengus, "Kenapa? aku akan memanggil tukang kunci untuk membetulkan pintu."
Dia menyingkirkan tanganku. Kuhela napas dalam, sebelum mengembuskannya perlahan.
"Apa kau pikir itu menyelesaikan masalah? Kalaupun kau sudah mengganti kunci pintu, apa itu jaminan dia tidak akan datang dan membongkarnya lagi?"
Sebenarnya itu tidak mungkin, karena rumah itu sekarang menjadi TKP yang dilingkari garis polisi dan dijaga. Tidak seorang pun diizinkan masuk sampai penyelidikan selesai.
Aku menatap Ino lembut tapi tak menghilangkan ketegasan. Wanita itu masih enggan menatapku.
"Kau sudah diincar, Ino. Dia bahkan tahu di mana kau tinggal. Itu sebabnya aku katakan tidak aman jika kau pulang sekarang."
Ia menoleh, memandangku dengan alis bertaut.
"Lalu aku tidak boleh kemana-mana? Bagaimana dengan pekerjaanku?" cecar Ino.
Aku bangkit dan duduk di sebelahnya.
"Lakukan kehidupanmu seperti biasa, tapi selain itu, tinggallah di sini. Setidaknya sampai pelaku tertangkap."
Ino terdiam, tampak berpikir, "Bagaimana kalau dia membuntutiku?"
Merasa ketegangan mulai mencair, aku tersenyum, "Itu urusan kami para polisi."
Blondie Case
Langkahku terburu-buru saat menuju ruang rapat. Agak tumbang karena mataku masih mengantuk. Bagaimana tidak, semalam aku nyaris tidak tidur. Kejadian di rumah Ino membuatku sibuk, sibuk badan sibuk pikiran. Bahkan setelah Ino tidur, aku masih tidak bisa memejamkan mata. Aku malah dengan konyolnya menghabiskan waktu menemani wanita yang mendengkur di sofa. Baru satu jam menjelang fajar, aku tertidur dalam posisi duduk.
Lalu subuh tadi Naruto menelepon dan meminta tim kami menemui kapten pagi ini. Tidak sempat mandi karena saat aku bangun kamar mandi sedang dipakai Ino. Kupikir juga tidak akan sempat sarapan, ternyata di meja dapur sudah tersedia croissant sandwich dan segelas susu. Aku tertawa, rasanya seperti punya istri.
Setelah menghabiskan susu, aku mencomot sandwich dan membawanya pergi. Sebelum keluar apartemen, kugedor pintu kamar mandi dan berteriak.
"Ino, aku pergi dulu!"
Tiba-tiba ponselku bergetar tepat ketika aku baru saja duduk di ruang rapat. Kulihat beberapa pesan teks masuk, yang terbaru dari Ino.
"Kau main pergi begitu saja, ini bagaimana mengunci pintunya?"
Senyumku melebar.
"Tutup saja saat kau keluar, nanti terkunci sendiri."
"Wow, canggih sekali."
"Terima kasih sarapannya."
"Sama-sama, sebenarnya aku senang bisa mencoba alat-alat masak di dapurmu :p."
Aku masih tersenyum saat kurasakan bahu kananku ditepuk. Aku menoleh, mendapati Naruto sedang memberi isyarat. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruang rapat. Duh, ternyata aku jadi pusat perhatian, apa karena dari tadi aku senyum-senyum sendiri? Pandanganku terhenti pada Kapten Ibiki. Matanya menajam seolah menusukku.
"Ah … maaf Kapten," ujarku memelas.
"Seperti yang kau ajukan, aku sudah mengirim tim untuk mengawasi gerak-gerik Shimura Danzo."
"Tim yang mana Kapten?" tanyaku penasaran.
Naruto dan Shino juga terlihat menanti jawaban kapten.
"Tim Sabaku."
Kami bertiga mengerang. Tim Gaara adalah rival kami sejak masuk Divisi Investigasi Kriminal. Setiap kasus yang ditugaskan kepada mereka selalu bisa terselesaikan, lebih cepat dari yang dilakukan tim kami. Meskipun kadang komandan sengaja meminta kami bekerja sama, kami tetap merasa masing-masing adalah pesaing. Ego tim selalu saja muncul, apalagi kalau melihat wajah sombong Gaara saat bertemu. Ugh ….
"Jangan bersikap seperti anak-anak! Yang kita perlukan saat ini adalah kerja sama untuk bisa menuntaskan kasus!"
Semburan Kapten Ibiki sontak membuat kami bergidik. Ia mengalihkan pandangan pada Shino.
"Laporanmu, Aburame!"
Shino mengeluarkan kantong plastik berisi … ponsel?
"Kami mendapat laporan dari Tim SAR yang kebetulan sedang latihan di sungai Naka. Salah seorang anggota mereka menemukan ini. Karena kebetulan lokasi merupakan aliran yang dekat dengan TKP terakhir, komandan mereka merasa ponsel ini ada hubungannya dengan kasus, dan menyerahkannya kepada kami.
Wuah, tiba-tiba aku merasa bersemangat. Kuamati ponsel itu. Sial! aku tidak bisa memastikan bahwa itu ponsel Shion.
"Aburame!"
"Siap!"
"Kirim berita permohonan kepada Tim SAR untuk bisa melanjutkan penyisiran, jika mereka masih berlatih. Kita perlu menemukan senjata pembunuh!"
"Siap!"
"Uzumaki!"
"Siap!"
"Bawa ponsel ini ke Divisi Mekanik, minta pengerjaan segera dilaksanakan."
"Siap!"
"Aku mau ponsel itu bisa selesai diperbaiki besok, dan segera bawa ke Divisi Siber!"
"Siap!"
"Inuzuka!"
"Siap!"
"Jangan lepaskan pengawasanmu dari Nona Yamanaka!"
"Siap!"
Kapten langsung pergi meninggalkan ruang rapat, sementara Shino dan Naruto menatapku. Senyum Naruto terlihat aneh.
"Apa?" alisku bertaut.
"Enak sekali tugasmu," erangnya.
Aku memutar mataku bosan.
Blondie Case
Mataku yang sudah bagai mata panda, tak sedikit pun mengalihkan pandangan dari sosok wanita yang sedang berjalan keluar kelas. Seharusnya ia sudah sejak tadi ada di sini, menghampiriku yang sengaja menjemputnya pulang. Namun, berkali-kali perjalanannya terhenti oleh para pengganggu. Mulai dari setiap manusia mini yang berpamitan padanya sampai teman-teman laki-lakinya. Herannya, semua mendapat respons yang sama dari Ino. Dia membalas tiap sapaan dengan senyuman, perilakunya terlihat lembut. Aku tertawa, tidak tahu saja mereka bagaimana garangnya wanita itu. Mendadak jantungku berhenti berdegup, saat ada salah seorang kawan prianya, yang kuakui tampan, menyapanya. Mimik muka Ino semringah, pipinya bersemu merah, tingkahnya semakin dilembut-lembutkan.
Apa dia?
"Ino!"
Aku mengutuk mulutku sendiri yang tetiba bergerak sebelum otakku sempat berpikir. Panggilanku tidak hanya membuat wanita itu menoleh, tetapi juga pria berambut hitam di sebelahnya.
Kulihat Ino membungkukkan badan dan bergegas berlari.
"Kau lebih cepat dari biasanya?" tanya Ino yang bagiku jelas pertanyaan retorik.
Aku mengernyitkan dahi heran, "Pekerjaanku selesai lebih awal, lagi pula mengawasimu adalah tugas utamaku saat ini."
"Jangan berlebihan Kiba, kau tidak perlu mengawasiku seketat itu. Di sini kan ramai, banyak orang," balasnya sembari melipat tangan.
"Itu pula yang dipikirkan setiap pelaku kejahatan. Mereka akan menunggu saat yang tepat buat membuntutimu kan?" kilahku.
Wanita itu enggan berdebat lagi, dengan kaki mengentak ia naik ke motor yang segera kulajukan. Dari kaca spion aku melihatnya menggembungkan mulut, masih kesal rupanya.
"Kau tidak suka kuawasi atau kau tidak suka kuinterupsi saat sedang bersama si tampan itu?" tanyaku, lagi-lagi tanpa membiarkan otak bekerja dahulu.
Rasa penasaran menjadikan pandanganku tak beralih sedikit pun dari raut wajah Ino. Pipinya semakin merona, atau memang dia memakai perona?
"Dua-duanya, yang tadi itu membuatku jadi seperti anak TK tahu?"
Aku mengangguk, "Bagus dong, jadi kamu sama dengan para manusia mini itu."
"Kiba!"
"Apa kau menyukai laki-laki itu?"
Tubuhku melemas saat melihat Ino menundukkan kepala malu-malu.
Blondie Case
Aku merasa segar setelah menghabiskan waktu berendam air hangat. Kakiku melangkah keluar kamar mandi, sembari kedua tangan sibuk mengeringkan rambut. Mataku melirik ke arah dapur, di mana Ino berada. Dia terlihat sibuk melihat video memasak sekaligus mempraktikkannya. Wajahnya berbinar-binar, apa dia sesenang itu?
Tanpa sadar aku tersenyum. Aku berjalan mendekat dan duduk di dekatnya. Ia tampak tak acuh dengan kehadiranku.
Semakin kutatap, aku semakin bingung, kenapa wanita secantik ini masih betah sendiri? Melihat database kantor, usianya hanya selisih 5 tahun denganku. Di umur yang matang ini seharusnya dia sudah memiliki pasangan kan?
"Kau sudah punya pacar?" tanyaku tiba-tiba.
Ino sama terkejutnya dengan diriku sendiri. Entah dia terkejut karena suaraku tiba-tiba terdengar atau karena pertanyaanku.
"Kenapa ingin tahu?"
Aku mengendikkan bahu, "Ingin tahu saja, tidak boleh?"
Ia menggeleng, "Tidak ada waktu buat pacaran. Masih banyak hal yang harus kulakukan ketimbang buang-buang waktu untuk hal yang tidak membawa manfaat."
"Kata siapa tidak ada manfaat?"
"Kataku," tegas Ino, "emosi dan pikiranmu akan terkuras di sana. Padahal lebih baik dimanfaatkan untuk hal lain, mengajar, mengikuti kegiatan sosial, mencari uang sih yang utama," lanjutnya.
"Tapi kadang perhatian dari kekasih berguna juga untuk mengurangi penatmu, seperti saat kau sedang lelah dengan rutinitasmu mengajar, kegiatan sosial dan apa pun itu," aku masih berargumen.
"Aku biasa mencari hiburan dengan mencari kesibukan di luar rutinitas, merawat tanaman misalnya. Atau seperti sekarang, mencoba resep baru," jawabnya sembari tersenyum.
Sial! aku tidak punya argumentasi lagi.
"Bagaimana? menyerah?" sinisnya, "lagi pula, aku bisa membalikkan pertanyaanmu loh. Kenapa kau tidak punya pacar?" ia tertawa.
Tiba-tiba sebersit pikiran nakal menyambangi kepalaku. Aku berdiri, sadar sepenuhnya apa yang akan kulakukan ini sangat berbahaya. Namun tidak peduli, selain karena berniat menutup mulut gadis di hadapanku ini, juga untuk memenuhi rasa penasaranku.
"Bagaimana dengan ini? Yakin di umurmu kau tidak membutuhkannya?"
Aku mendekatkan tubuhku rapat pada tubuhnya. Ino menegang, seperti paham ke arah mana pembicaraanku bermuara.
Nekat, saat kedua tanganku meraih lengan atas Ino. Perlahan aku membalikkan dirinya agar berhadapan denganku. Netra hijau itu membulat, bibirnya bergetar, pipinya merah pekat. Seluruh tubuhnya bagai tak punya tenaga, sebab kulihat ia menyandarkan diri pada dapur. Aku mendekatkan wajahku pada wajah cantiknya, mataku menatap tajam pada iris matanya yang berpendar waspada. Tanganku bergerak ke belakang, menekan tombol "off" pada kompor listrik yang sedang menyala.
Pelan tapi pasti, mataku memejam tepat saat bibirku menyentuh lembut bibirnya.
Bertahan di sana beberapa detik, memastikan tak ada penolakan, aku mulai menggerakkan bibirku, mengecup bibir gadis itu, bergantian.
gila!
Ini gila! Aku tak pernah merasa segerah ini saat mencium wanita. Sebab aku yang sudah lama tidak melakukannya? atau memang sedemikian besar pengaruh Ino padaku?
Berniat memastikan, meski tahu itu hanya dalih, aku memutuskan bertindak lebih jauh. Aku meraih tangan Ino, mengalungkannya di leherku, lantas bergerak pelan menarik pinggangnya merapat. Memberi penyangga, antisipasi jika setelah ini tubuhnya benar-benar hilang energi.
"Balas, Ino!" perintahku serak.
Kembali kulumat bibirnya, masih dalam irama yang lambat. Aku tidak ingin membuatnya takut dan pergi. Namun, gadis itu belum memberi tanggapan apa pun. Aku melepas lumatanku, menatapnya penuh nafsu. Sementara mata itu masih menatapku waspada.
"Aku tidak akan menyakitimu, percayalah!" lirihku berusaha meyakinkan, sebelum kembali mendaratkan bibir pada bibirnya.
Hanya sebentar ketika akhirnya aku dikejutkan olehnya. Kendati terasa jelas dia masih malu-malu. Aku tersenyum tak peduli, semakin merapatkan diri.
Sekuat tenaga aku harus menahan diri, karena lumatan bibir mungil itu padaku, mampu membangkitkan gairah yang akhirnya muncul lagi setelah sekian lama. Getaran panas kurasakan merambat ke seluruh bagian tubuh, hell, bahkan pada sesuatu di antara kakiku.
Meski akhirnya keinginanku yang terpenuhi, aku menyerah juga. Pelan-pelan kulepaskan pagutan, demi keselamatan kami berdua.
Aku menatap matanya yang terpejam lalu perlahan membuka, menampakkan permata tercantik yang pernah kulihat. Wajahnya memerah padam.
Aku menang? Tidak, justru sebaliknya, aku merasa kalah. Jika tadi tidak kupaksa diriku berhenti, aku bisa benar-benar kalah.
"Suka?" tanyaku tidak mampu menahan seringai.
Dia memutuskan pandangan kami dan menunduk. Tangannya terasa dingin dan bergetar di bahuku.
"Ini yang pertama?" ucapku lagi, seperti biasa, tidak membiarkan otak berpikir dahulu.
Mendadak dia mendongak, menatapku sengit, "Kau senang ya mempermainkanku seperti ini?"
Aku tertawa. Ino melepas tangannya dan berjalan mengentakkan kaki keras-keras, meninggalkanku menuju sofa.
Aku mengikutinya, tapi sebelum itu memilih pergi ke kamar untuk memakai baju.
"Duh, aku harus menutup ini," rutukku melihat yang di bawah sana sudah mengeras.
Kulihat dia merebahkan badan di sofa, menutup rapat tubuhnya dengan selimut. Aku mendekatinya dan duduk di lantai.
"Kau marah?"
Ino menggeleng, "Aku tidak marah, hanya …."
"Hm?"
"Pergilah Kiba! Jangan dekat-dekat!"
"Kau bilang tidak marah, tapi melarangku dekat-dekat. Kontras sekali," sinisku.
Tiba-tiba dia membalikkan badannya dan menatapku tajam, "Berani sekali kau bilang begitu! Dasar tidak bertanggung jawab!"
Aku menaikkan sebelah alis, "Aku harus apa?"
Dalam pikiranku aku harus melakukan apa agar kemarahannya mereda? Namun jawabannya yang polos dan lirih justru membuatku diam …
"Aku jadi … terangsang."
… lalu terpingkal.
"Aku sangat bersedia bertanggung jawab, Ino …." laguku.
Ino memukulku dengan bantal sofa dan berteriak, "Masakanku jadi gagal, kau harus bertanggung jawab, Bodoh!"
Blondie Case
"Naruto!"
Pria yang sedang berlari mendahuluiku menoleh, "Oh Kiba."
Aku menyejajarkan langkahku dengannya. Mataku melirik bungkusan plastik transparan berisikan ponsel yang diduga milik Shion.
"Bagaimana hasilnya?" tanyaku.
"Kakuzu berhasil memperbaikinya."
"Hebat sekali monster itu," ledekku.
Naruto tertawa, "Kita berutang budi padanya, tahu?"
Aku mengangguk. Melihat ponsel itu, ada semangat yang kembali menyala dalam diriku. Secepat mungkin, Shion, secepat mungkin kami akan mengungkap kasus ini.
Jujur saja, ponsel itu menjadi titik harapan bagi tim kami karena menjadi satu-satunya petunjuk yang kami miliki untuk saat ini. Sedang untuk investigasi, kami telah mulai melakukannya beberapa waktu lalu, dengan mendatangi keluarga setiap korban dan menanyakan perihal yang kurang lebih sama. Seperti halnya saat ini, aku dan Shino yang akan segera menemui pihak keluarga dari korban ketiga.
"Naruto, aku duluan!" seruku melambaikan tangan.
Baiklah, setengah berlari aku menuju parkir mobil. Rupanya di sana Shino sudah menungguku. Pria yang selalu berkacamata hitam itu bersandar pada sisi mobil.
"Sudah lama?" tanyaku.
"Sudah lumutan," jawabnya datar.
Aku terkekeh.
Tepat saat aku duduk di jok mobil, ponselku bergetar. Dahiku berkerut membaca nama yang terpampang di sana.
Hinata
"Hina … Hinata?" teriakku tiba-tiba antusias.
Aku mengangkat telepon yang sudah teramat lama kunantikan.
"Halo Hinata? bagaimana?"
"Hasilnya sudah keluar, Kiba. Kau butuh cepat? Mau kukirim ke mana?"
"Ah kau kirim saja ke alamat surelku, kau tidak keberatan kan?"
"Tidak masalah."
"Syukurlah, terima kasih Hinata. Aku minta maaf sampai merepotkanmu begini."
"Santai saja Kiba, aku justru senang bisa membantumu."
"Baiklah, sekali lagi terima kasih. Titip salam untuk Neji."
Tidak lama setelah telepon kututup, sebuah pemberitahuan masuk ponselku. Tak sabar aku membuka surel tersebut. Satu per satu dari setiap kalimat kubaca, tak setitik pun terlewat. Aku takut jika lalai satu kata saja, akan berakibat fatal untuk penyelidikan.
Mataku berbinar senang dan bibirku tersenyum lebar ketika membacanya.
"Apa ada sesuatu yang menyenangkan?" tanya Shino.
"Haaa … ini informasi kepemilikan ponsel yang diberikan Danzo kepadaku."
"Jadi?"
"Sesuai yang kita duga sebelumnya, ini ponsel Danzo, bukan Shion," tanganku bersemangat menggeser layar, "dan tanggal pembeliannya tepat satu hari setelah penemuan mayat Shion."
Rupanya tak hanya aku, sempat kulihat Shino tersenyum tipis.
Blondie Case
Terengah-engah aku berlari keluar kantor. Kutatap langit yang sudah sepenuhnya gelap, pun bulan tak tampak untuk sekadar berbagi cahaya. Kulirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 9. Sial! aku terlambat menjemput Ino. Bukan terlambat, sangat terlambat. Aku mengambil ponsel di saku dan membaca pesan yang masuk.
"Aku sudah di rumah ya, kau tidak usah menjemputku," ujar Ino dalam pesan tersebut.
Ya Tuhan! aku jadi merasa bersalah.
Ini semua lantaran hasil pertemuan dengan keluarga korban ketiga yang malah membuahkan teka-teki yang kian membuat bingung.
"Dua hari sebelum dia pergi, dia bilang kalau dibuntuti. Tapi kami malah tertawa mendengarnya, tidak percaya dan menganggap dia bercanda."
Sepotong kalimat yang diucapkan kakak korban. Setengah membentak saat aku menanyakan apakah ada informasi lebih lanjut. Sambil ketakutan, kakak korban mengatakan tentang ciri-ciri yang pernah diucapkan adiknya.
Sayang sekali hanya sedikit yang ia ingat lantaran ia tidak serius mendengarkan cerita sang adik. Bagiku sendiri itu sudah merupakan suatu keteledoran, mengingat berita tentang kasus ini sudah mencuat sejak korban pertama jatuh.
"Adikku tidak yakin, tapi dia bilang sempat melihat si penguntit yang memakai hoodie. Dia juga bilang saat itu dia berbalik dan berteriak keras tepat di depan muka penguntit. Kupikir … kupikir dia mengerjaiku karena ceritanya seperti di film-film."
Ada sesuatu yang janggal dari cerita tersebut, tapi apa? Waktuku habis untuk mencari tahu tentang keganjilan itu. Entah kenapa aku jadi kesal sendiri. Kutendang batu kecil yang menghalangi jalanku. Kuembus napas kasar, dan mataku memejam.
Sembari menunggu di bangku halte, aku mengeluarkan ponsel dan menelepon Ino. Inginnya meminta maaf karena lalai, alih-alih mesin penerima yang menjawab teleponku.
"Ino, setengah jam lagi aku sampai, jangan ke mana-mana!"
Waktu menunggu, hingga bus itu datang dan berjalan, terasa sangat lama. Aku heran, biasanya dalam keadaan lelah seperti ini, aku cepat tertidur, terlebih ketika berada di kendaraan umum. Namun malam ini berbeda. Sesuatu yang mengganjal pikiranku tadi, mungkin itu yang menjadi sebab aku enggan memejamkan mata. Ditambah lagi, Ino belum membalas pesanku sampai sekarang.
Apa dia baik-baik saja?
Atau dia tertidur?
Jantungku berdebar keras membayangkan kemungkinan buruk, sebelum kutepis dengan pikiran yang mengatakan, "Tenang, Danzo tidak tahu di mana kau tinggal."
"Tapi dia bisa saja membuntuti Ino," kilah pikiranku yang lain.
"Tidak mungkin, kan ada Gaara dan timnya yang mengawasi setiap gerak-gerik Danzo."
Akhirnya menyerah, aku memilih memercayakan Danzo pada Gaara.
Pikiran yang berhasil kutenangkan setelah turun dari bus, kembali ribut ketika sampai di apartemen. Panik aku berkeliling, meneliti setiap sudut untuk mencari keberadaan gadis pirang itu.
"Ino!" panggilku kesekian kali yang masih tidak mendapat tanggapan.
"Ino!" teriakku putus asa.
Aku mengambil ponsel dan menghubunginya, dengan seluruh bagian tubuhku bergerak-gerak tidak keruan.
"Angkat teleponnya, sialan!"
Berlari menuju sudut ruang tamu, mataku terbelalak. Pakaian Ino masih ada, meski tinggal beberapa pasang. Aku mendesah.
Deru napasku masih memburu saat aku mendudukkan diri di sofa. Kututup mata dengan sebelah tangan, lantas menarik napas dalam.
Mungkinkah ….
.
.
.
Bersambung
