CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA
...
Lima bulan yang lalu...
Bangun pagi dengan sarapan dan olahraga ringan bisa membantu agar tubuh tetap optimal menjalani hari. Naruto sangat meyakini itu.
"selamat pagi Naruto"
Sapaan pertama yang datang dari sang ibu membuat semangat Naruto berada di tingkat atas. dia tersenyum pada wanita itu.
"selamat pagi juga untuk wanita yang paling cantik di dunia" Naruto menyengir lebar dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk ibunya.
Mai menyambut pelukan Naruto dengan sukacita.
"bagaimana persiapan pidatomu?" Mai bertanya
"sudah sangat sempurna karena ada wanita hebat yang mengajariku"
Mai tertawa lagi mendengar pujian Naruto pagi ini, dia mengacak rambut putranya gemas sebelum mengecup pipinya lembut.
"kamu ini, sudah sangat jago sekali membuat bunda senang"
Senyuman Naruto mengembang.
"karena kalau bunda senang, bunda akan sering tersenyum dan jika bunda sering tersenyum maka aku akan semakin bersemangat" Naruto berkata dengan bernada seperti berorasi.
Mai kembali tertawa.
"kalau begitu bunda akan terus tersenyum"
"aku akan menjadi anak paling bahagia di dunia"
Naruto menyadari sesuatu, "dimana ayah?"
"ayah berangkat pagi-pagi sekali, dia tidak sempat sarapan bersama kita"
Naruto berusaha memaklumi.
"tidak apa-apa bunda, ayah akan cemburu padaku karena bisa berduaan dengan ibu"
Mai menggelengkan kepalanya, di antara suami dan putranya, ada saingan kecil diantara mereka untuk merebut kasih sayangnya. dan Mai menyukainya.
.
.
"sudah mengecek barangmu? tidak ada yang kamu lupakan?" Mai bertanya pada putranya, memastikan bahwa Naruto sudah menyiapkan keperluannya.
Naruto menyeringai dan menepuk ranselnya.
"semuanya sudah aman bunda"
Mai memeluk Naruto sebelum melepaskan putranya.
"bunda harap kamu bisa menjalaninya dengan baik" ucap Mai penuh ketulusan dan harapan pada putranya.
Naruto tersenyum percaya diri dan menepuk dadanya.
"percayakan semuanya padaku"
"bunda selalu percaya padamu"
–[Naruto point of view]–
"aku berangkat bunda"
Aku melambaikan tangan pada bunda sebelum benar-benar meninggalkan rumah.
"hati-hati di jalan"
"iya!"
Aku berlari keluar dan menuju halte terdekat untuk menaiki bus. jarak sekolah dan rumahku tidak terlalu jauh, dengan menaiki bus cukup mempersingkat waktu.
Namun, aku melihat seseorang lebih dulu tiba di halte. aku tau dia siapa. hmm, itu adalah... hmm~ apa yah? teman kecil? yah kalimat itu seharusnya itu sudah tepat sih tapi ketika orang-orang bertanya padaku bagaimana hubunganku dengan dia dan aku menjawab itu. dia marah.
aku tidak mengerti alasan bagaimana dia bisa marah tetapi ketika aku mencari di internet dan aku menemukan sebuah forum dan menemukan jawabannya.
Dan jawabannya hanya satu. orang itu membencimu dan enggan dihubungankan denganmu.
Yah, itu masuk akal sih menurutku tapi dari ciri-cirinya dan sikapnya sungguh sangat berbeda dengan yang kubaca di artikel yang sama.
Apa mungkin cara bencinya yang berbeda? entahlah, aku tidak tau.
"uhum~ halo Mizuhara-san"
Mizuhara Chizuru, gadis itu hanya melirikku dari ekor matanya dan kembali menatap ke depan.
Owalah, bahkan dia tidak menjawab sapaanku. hmm, sepertinya dia benar-benar membenciku. aku tidak lagi bersuara, takut mengganggunya.
Aku agak canggung dengan suasana hening ini setelah aku diabaikan.
"kalau sapa orang, itu harusnya pakai nama depan. kalau cuman marga berarti kau manggil keluarganya dong" Chizuru sepertinya kesal karena aku menyapanya dengan nama marga.
Lah, loh, di negara ini kan memanggil nama kecilnya berarti menunjukkan keakraban, yah?
Bahkan sebagian orang melihat orang dibencinya saja sudah membuatnya kesal setengah mati. lah, ini minta disapa dengan panggilan akrab oleh orang yang dibencinya.
aku sama sekali tidak mengerti. apa kebencian orang itu berbeda-beda?
"selamat pagi Chizuru-san" aku menyapa ulang.
Kali ini Chizuru menatapku dan mengangguk.
Kirain sapaanku bakalan di balas, ternyata sama aja.
Ternyata balikin mood orang gampang banget yah, tadi aku keluar dari rumah dengan rasa semangat membumbung tinggi, sekarang sudah jatuh lagi cuman gara-gara satu perempuan di depanku.
Hadeh, kelakuan.
Tapi aku tidak bisa menyia-nyiakan kepercayaan bunda padaku.
Bus yang akan kami tumpangi tiba, aku naik terlebih dahulu dan duduk di kursi urutan kedua dari belakang. aku melirik Chizuru yang baru naik. dia melihat-lihat kursi yang kosong tapi anehnya dia malah duduk disampingku.
"ano, Chizuru-san–"
"aku tidak suka duduk sendiri"
Aku menatapnya dengan takjub, dia seperti sudah menduga atas pertanyaanku tentang 'kenapa kamu duduk disini?'
Aku melihat kedepan dan ada orang yang duduk sendirian, di sebelahnya kosong sebelum kembali menatap Chizuru yang yang menolak melihatku
"bukannya–"
"aku juga tidak suka duduk di samping orang tidak ku kenal"
aku semakin takjub dengan kemampuan intuisi Chizuru yang sangat tajam. bahkan sebelum pertanyaanku ku berikan padanya dengan jelas dia sudah tau jawabannya.
Sungguh kemampuan luar biasa.
Aku jadi berpikir, apa mungkin perempuan itu sehebat ini yah? mengagumkan dan mengerikan secara bersamaan.
Aku tidak bertanya lagi dan membiarkan Chizuru melakukan apapun yang dia suka.
–[Naruto point of view end]–
.
.
"selanjutnya, perwakilan dari siswa baru. Azusagawa Naruto"
Yang disebutkan berdiri dari tempatnya, di sekelilingnya tampak orang-orang bertepuk tangan.
Naruto mulai berjalan keatas podium dengan tenang meski hatinya bergejolak penuh kegugupan.
Dia sudah belajar, menguatkan tekad, dan berusaha menampilkan diri sebaik mungkin. tapi meskipun begitu, ketika dihadapi dengan kenyataan langsung semuanya terasa berbeda.
Naruto menarik nafas sejenak dan mulai berpidato. sebagian perhatian orang-orang mengarah padanya. sebelum Naruto berhenti sejenak.
Orang-orang memperhatikan ini dengan bingung.
Wajah Naruto seperti menahan sesuatu dan...
Hachi!
Naruto dengan cepat menutup mulutnya, karena tidak sengaja bersin di tengah pidatonya. wajah memerah malu.
Terlihat beberapa orang menahan tawa.
"maaf atas gangguan kecil ini!" Naruto menundukkan sedikit kepalanya.
"kalau begitu saya akhiri pidato ini, terima kasih!"
Naruto terburu-buru mengakhiri pidatonya dan turun dari atas podium. wajah terus tertunduk karena merasa malu. dia merasa bahwa seluruh perhatian orang-orang mengarah padanya.
Tanpa Naruto sadari, inilah awal 'bencana' baginya.
.
.
.
Di Kelas.
"apa yang sudah kulakukan?"
Naruto mengcengkram rambutnya erat, matanya enggan berpaling dari mejanya. melupakan orang-orang yang datang dan berbisik-bisik mengenai kejadian tadi.
Naruto tidak tau, pembahasan macam apa saja yang mereka bahas mengenai dirinya.
"apa ada orang yang mengacaukan pidatonya dengan bersin"
Naruto mengacak rambutnya frustasi. padahal dia sudah menyiapkan sambutannya berjalan dengan mulus tanpa gangguan.
Yah, seperti yang dikatakan orang-orang, sebaik apapun manusia berencana tetapi Tuhan lah yang menentukan. Naruto rasa itu kalimat tepat untukmya.
"aahh, aku sudah malu setengah mati, aku tidak sanggup berada disini"
Naruto memejamkan matanya kuat.
"hei"
Naruto tidak mendengarnya.
"hei"
Naruto mengabaikannya.
"hei!"
Naruto membuka matanya dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Kisara!"
Kisara tersenyum manis
"halo casu!" Kisara menyapa dengan riang.
[Naruto monolog " Namanya Kisara, teman kecilku yang lain. berbeda dengan Chizuru. Kisara tidak masalah jika aku menyebutnya teman kecilku atau dikaitkan denganku, bahkan dia sangat senang kalau aku mengakuinya. namun, jika mereka bertemu, mereka seperti orang musuhan sejak lama. aku tidak mengerti kenapa mereka selalu berkelahi jika di sekitarku "]
Naruto menaikkan alisnya bingung, "casu? apa itu casu?"
Kisara tersenyum lebar, kedua jari tangannya tertaut, "itu panggilan spesial dariku, kepanjangannya–"
"apa yang kau lakukan disini chibi, kembali ke kelasmu"
Belum sempat Kisara menyelesaikan ucapannya, Chizuru datang dan menarik kerah belakang Kisara.
"lepaskan aku nenek tua" Kisara memberontak, berusaha melepaskan diri.
"apa katamu?!" Chizuru melepaskan Kisara dan kini berhadapan dengannya.
"kenapa? kau tidak terima?" tantang Kisara.
"kau!"
Naruto memandang keduanya lelah, sepertinya ini akan mulai lagi.
"Kisara, Chizuru-san, tolong berhenti" Naruto berdiri di tengah-tengah antara kedua gadis yang kini sedang berdebat itu sebelum keadaan semain runyam. sayangnya sudah terlambat.
"ya ampun, jadi dia mempermaikan hati seorang gadis?"
"menjijikan, siapa perempuan itu, apa dia berselingkuh?"
"direbutin dua cewek cantik, haruskah aku menghormatinya atau menendang kepalanya?!"
"cowok sok keren, ke laut aja sana!"
Omongan orang yang gak tau apa-apa kadang memang menyakitkan yah. apalagi hanya Naruto yang jadi sumber perbicangan 'miring' merek, padahal dia gak salah apa-apa loh.
BRAK!
Pintu kelas terbuka lebar, menampilkan tiga orang yang hendak masuk di kelas Naruto mengintrupsi keributan kecil itu. bahkan Kisara dan Chizuru berhenti berdebat.
"aku mencari Azusagawa Naruto" salah satu diantara mereka mencari Naruto.
"eh itu anggota osis" terbukti dari ban lengan yang terpasang di lengan kanannya.
"habislah dia, di cari osis"
"rasakan itu"
"hmm, ya ampun kasihan sekali"
Wajah Naruto menjadi pucat pasi, baru hari pertama loh ini. kenapa dia harus berurusan dengan ini semua.
Naruto melirik ke belakang melihat kedua gadis yang tadi berdebat. Kisara dan Chizuru melempar pandangannya ke lain arah, menolak menatap Naruto.
Naruto hanya mampu tersenyum pasrah.
"hari ini aku boleh pulang gak yah, tiba-tiba aku merindukan kamarku" gumam Naruto lelah dan tersenyum pasrah.
.
.
.
.
.
.
.
.
off
(casu : kepanjangan dari calon suami)
balasan untuk reply0 :
uhum, terima kasih atas masukanmu. terima kasih karena perhatian pada cerita ini.
untuk karakternya yang terlalu banyak sejujurnya saya masukin buat bisa bagiin masing-masing kepribadiannya.
cerita ini dibuat karena terinspirasi dari sifat 'dere' gitulah
dan pemilihan karakter, sejujurnya saya pilih random berdasarkan anime yang sudah ku tonton
