Kanojo to Saisho no Tomodachi
(Si Gadis dan Teman Pertamanya)
Naruto by Masashi Kishimoto
Fiction by Izumi Azues
Chapter 3
Senja telah berganti malam, mengisyaratkan bahwa siang telah usai. Taburan bintang menghiasi langit malam ini, pemuda yang sedang berjalan itu pun memandangnya dengan sedikit senyum terpatri di wajahnya. Ia sedikit mengingat-ingat pertemuannya dengan keluarga Hinata tadi.
'Ternyata keluarganya harmonis, aku sempat berpikir yang tidak-tidak sebelumnya', batin Naruto berkata, sedikit tidak menduga bahwa ayah dan adik Hinata memiliki sifat yang berbeda dengan gadis itu.
Tidak terasa pemuda itu kini sudah ada di depan rumah sahabat masa kecilnya, Sasuke. Rumah itu tidak berubah sama sekali, rumah bergaya Jepang modern dengan taman di halaman depan rumahnya. Naruto sedikit kilas balik melihat rumah sahabatnya itu. Setelahnya, ia tanpa ragu masuk ke dalam halaman depan untuk menekan bel yang ada di pintu masuk rumah itu.
Ding dong~
"Ha'i", terdengar suara wanita dari dalam rumah.
Ceklek
"Ara, ternyata Naruto. Ada apa Naruto? Atau ingin pergi main dengan Sasuke?", ucap Mikoto bertubi-tubi setelah menyadari yang datang ke rumahnya adalah Naruto anak dari mendiang sahabatnya.
"Aaa, aku ingin mengembalikan ini pada Oba-san", ucap Naruto sambil menyodorkan sebuah kartu pada Mikoto.
"Ara, ini benar punyaku. Tapi seingatku, aku memberikan ini pada Sasuke untuk belanja bahan makan malam hari ini, tapi kenapa ada padamu Naruto?", ucap Mikoto bingung, wajahnya sedikit miring dengan jari telunjuk berada di dagunya.
"Sepertinya Sasuke tidak sengaja menjatuhkannya, kemudian temanku dan aku menemukannya di lantai dekat mejanya. Ketika aku lihat nama di belakang kartu itu, ternyata milik Oba-san", tutur Naruto menjelaskan kenapa kartu ATM milik Mikoto ada di tangannya. Mikoto yang mendengar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Naruto?", ucap seorang pemuda yang baru memasuki halaman rumah tersebut. Pemuda itu masih mengenakan seragam sekolahnya.
"Aaa, Sasuke. Kau baru pulang?", tanya Naruto setelah membalikkan badannya.
"Ya aku baru pulang", ucap Sasuke sedikit mengangkat kedua tangannya yang menenteng plastik, tanda bahwa ia habis belanja.
"Ada perlu dengan Oka-san?", sambung Sasuke.
"Sasuke, kau belanja dengan uang siapa?", sebelum Naruto menjawab pertanyaan Sasuke, sudah terlebih dahulu dipotong oleh Mikoto. Wanita itu sedikit menaikkan suaranya.
"E- ehh… E- eto… Ano", Sasuke yang gugup semakin tidak karuan. Wajahnya pucat dan keringat dingin langsung membasahi sekujur tubuhnya. Ia sulit untuk mengatakan bahwa kartu ATM milik ibunya hilang entah kemana dan ia belanja menggunakan uang sakunya dan sedikit meminjam pada Sakura.
"S- sebenarnya k- ka- kartu ATM Oka-san h- hilang. Dan a- aku belanja dengan u- uang sakuku dan sedikit pinjaman d- dari S- Sakura-chan", dengan mengumpulkan segenap keberanian Sasuke menjelaskan kenapa ia bisa tetap belanja bahan makan malam hari ini. Wajah pemuda itu tertunduk, menyiapkan mentalnya untuk menghadapi murka ibunya.
"Kau menjatuhkan ini Sasuke?", tanya Mikoto pada anak bungsunya sambil memegang kartu ATM nya. Sasuke yang sedang menunduk seketika menegakkan kepalanya.
"Kartu ATM Oka-san! Bagaimana bisa ada pada Oka-san?!", tanya Sasuke sedikit kaget dan bingung karena seingatnya tadi pagi ibunya memberikan kartu ATM nya untuk belanja, tapi sekarang ada pada ibunya lagi.
"Naruto yang mengembalikannya pada Oka-san. Berterima kasihlah pada Naruto", ucap Mikoto pada Sasuke.
"Benarkah? Syukurlah, terima kasih banyak Naruto", ucap Sasuke sambil membungkuk tanda bahwa ia benar-benar berterima kasih.
"Tidak tidak tidak, aku hanya mengembalikannya pada Oba-san. Yang menemukannya adalah Hinata-chan", ucap Naruto sedikit melambaikan kedua tangannya.
"Hyuuga-san?", tanya Sasuke sedikit penasaran.
"Umm, sore tadi aku bersamanya, kemudian Hinata-chan yang menemukannya dekat tempat dudukmu. Karena aku tau itu milik Oba-san, jadi aku mengantarkannya", jelas Naruto pada Sasuke.
"Jadi, mungkin yang lebih pantas mendapatkan terimakasih harusnya Hinata-chan, Sasuke", sambung Naruto.
"E- eh?", Sasuke yang mendengar pernyataan Naruto sedikit gugup campur takut.
"Ada apa Sasuke? Kau harus berterima kasih dengan benar pada temanmu", ujar Mikoto yang melihat anaknya agak celingukan.
"Tapi Oka-san-"
"Ne, Sasuke. Hinata-chan tidak semenyeramkan itu. Sebelumnya ia berpesan untukku agar mengembalikannya dengan baik. Barusan juga aku mengirimkannya pesan bahwa aku telah mengembalikannya dan dia bersyukur atas itu. Jadi, apakah kau masih tetap menganggap Hinata-chan menyeramkan?", potong Naruto sebelum Sasuke menyelesaikan ucapannya. Naruto berkata dengan nada sedikit berat.
"Jadi seperti itu, aku tidak tau mengenai itu. Maafkan aku Naruto", ucap Sasuke dengan sedikit nada penyesalan.
"Apakah kau mau menemaniku berterima kasih kepadanya?", sambung Sasuke.
"Tentu, aku akan menemanimu", jawab Naruto tanpa ragu, sambil mengangguk.
"Baiklah, aku pulang dulu Oba-san, Sasuke", ucap Naruto, bersiap untuk melangkah pergi.
"Ara, kau tidak makan malam disini saja Naruto?", tanya Mikoto menawarkan Naruto untuk makan malam di rumahnya.
"Terima kasih Oba-san. Aku ingin makan malam di rumah, lagipula kucingku sedang menungguku", tolak Naruto halus.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak Naruto. Maafkan Sasuke kalau ia ceroboh. Dan sampaikan terima kasihku juga pada Hyuuga-san", ucap Mikoto ramah sambil tersenyum.
"Ha'i akan aku sampaikan", ujar Naruto menganggukkan sedikit kepalanya.
"Hati-hati dijalan Naruto. Sampai jumpa besok", ucap Sasuke.
"Ou, sampai jumpa besok", jawab Naruto kemudian melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumahnya.
Sementara itu, di sebuah minimarket terlihat Hinata yang sedang mondar-mandir mencari letak rak yang menyediakan bumbu dapur. Gadis itu enggan untuk bertanya kepada staf minimarket tersebut karena penyakit malunya. Alhasil gadis itu kesana-kemari untuk menemukan rak bumbu dapur.
Sebelum ke minimarket dirinya sedang memasak makan malam dengan adiknya. Namun persediaan soyu dan garam di dapurnya habis. Awalnya adiknya lah yang ingin membelinya, namun gadis itu terlihat sedikit pede setelah mendapatkan teman baru, dan berakhir ia lah yang ke minimarket. Setelah berkeliling gadis itu kemudian menemukan apa yang sedang ia cari, yaitu rak bumbu dapur. Diambilnya soyu dan garam dari sana. Setelahnya ia pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.
Namun saat pandangannya melihat keluar jendela, ia melihat seorang gadis yang dikelilingi oleh dua pria dewasa. Gadis itu terlihat terpojok, dan sedikit kewalahan. Hinata sedikit mengenalinya, gadis itu memiliki warna rambut merah muda dan mengenakan seragam sekolahnya. Ia sedikit menebak-nebak.
"Haruno-san?", ucap Hinata pelan, ia menebak kalau gadis yang sedang terpojok itu adalah sahabatnya Naruto yaitu Haruno Sakura. Setelahnya ia membayar belanjaannya, kemudian berlalu pergi meninggalkan minimarket tersebut.
"Ayolah, kita akan bersenang-senang kau mau kan?", goda pria dengan rambut berwarna merah pendek yang memiliki wajah baby face. Pria itu sedikit menghimpit tubuh Sakura ke tembok yang ada di belakangnya.
"Kujamin kau juga akan menyukainya", sambung pria dengan rambut warna kuning panjang yang dikuncir tinggi.
Sakura yang sudah kepalang takut tidak bisa melawan balik. Gadis itu hanya berharap ada yang menolongnya, mengingat ini masih jam 7 malam.
"Haruno-san, apa kau sudah lama menunggu?"
Ucapan Hinata memecah kegiatan kedua pria itu, keduanya kemudian menoleh. Sakura yang namanya dipanggil juga mendongakkan wajahnya. Mereka bertiga melihat seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka, gadis itu terlihat menundukkan kepalanya sehingga sebagian wajahnya tertutup poni ratanya.
"Oi, gadis kecil kau ingin bergabung juga bersama kami?", ujar pria rambut kuning panjang dengan nada provokatif.
"Aku ingin menjemput temanku", ucap Hinata dengan nada dingin. Dibarengi dengan menegakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk.
Deg!!!
Hinata menampakkan wajah garangnya pada kedua pria dewasa itu. Tatapannya tajam, pupil amethyst nya berkilat terkena cahaya bulan, menambah kesan horor dari ekspresinya.
"H- HA- HAN- HANTUUUUU!", teriak kedua pria dewasa itu kemudian lari tunggang-langgang entah kemana.
"Kyaaaa!! Kaa-chan, Tou-chan aku menyayangi kalian. Maafkan aku yang sering makan manisan persik diam-diam. Sasuke-kun aku sangat mencintaimu. Naruto terima kasih selalu melindungiku dari dulu. Kami-sama maafkan dosa dan kesalahanku", yang takut bukan cuma kedua pria tadi, melainkan Sakura juga takut setengah mati melihat penampakan yang ada di depan matanya. Wajahnya pucat pasi, kakinya gemetar, matanya tertutup rapat, tangannya bertaut seperti memanjatkan doa, dan meracau seperti sedang menghadapi kematian.
"Haruno-san, ini aku Hyuuga Hinata", ucap Hinata sedikit menepuk pundak Sakura.
Sakura yang merasa pundaknya ditepuk kemudian membuka matanya.
"Hyuuga-san?", tanya Sakura sedikit kebingungan.
Grep
"Hyuuga-san, terima kasih banyak sudah menolongku. Aku sangat ketakutan tadi. Terima kasih. Terima kasih banyak", ucap Sakura bertubi-tubi setelah memeluk Hinata tiba-tiba karena ketakutannya sudah lenyap. Gadis itu merasa lega karena ternyata dirinya baik-baik saja. Hanya sedikit syok.
Hinata yang tiba-tiba dipeluk sedikit kaget, setelahnya ia membalas pelukan Sakura. Gadis itu bisa merasakan bahwa Sakura ketakutan, terlihat dari tubuhnya yang sedikit bergetar. Hinata membalas pelukan Sakura dengan hangat, bermaksud menenangkannya. Dan benar saja, cara itu berhasil.
"Kau sudah lebih baik Haruno-san?", tanya Hinata setelah melepaskan pelukannya pada Sakura.
"Umm, ya aku merasa lebih baik Hyuuga-san. Terima kasih", jawab Sakura dengan sedikit menyeka ekor matanya. Ternyata ia juga menangis.
"Aku ingin kembali ke minimarket. Kau ingin ikut Haruno-san?", tanya Hinata kembali pada Sakura.
"Umm", gadis berambut pink itu hanya mengangguk sambil membuntuti Hinata dari belakang.
Setelahnya Hinata kembali ke minimarket untuk membeli minuman bermaksud untuk lebih menenangkan Sakura dari kejadian barusan. Setelah membeli sebotol ocha Hinata kemudian keluar, menemui Sakura yang menunggunya di samping pintu keluar minimarket tersebut.
"Ini untukmu Haruno-san", ucap Hinata setelah keluar dari minimarket, menyodorkan sebotol ocha pada Sakura.
"Terima kasih Hyuuga-san", balas Sakura sambil menerima minuman yang diberikan Hinata.
"Kalau boleh tau, kenapa kau bisa terpojok seperti tadi Haruno-san?", tanya Hinata sedikit penasaran kenapa sahabat Naruto itu bisa terpojok dan kenapa dia baru pulang sekolah.
"Sepulang sekolah aku pergi belanja dengan Sasuke-kun. Setelahnya kami sedikit bermain ke game center dan pulang sedikit telat. Karena terburu-buru, Sasuke-kun pulang lebih dulu, dan saat di jalan tadi aku dihadang pria itu. Setelahnya kau menolongku Hyuuga-san", jawab Sakura panjang lebar, menceritakan runtutan kejadian yang dialami gadis itu tadi. Hinata mendengarkannya dengan seksama.
Drrtt drrrtt
Gawai Hinata bergetar, dilihatnya pesan masuk dari adiknya.
From : Hyuuga Hanabi
To : Hyuuga Hinata
Onee-san dimana? Kita sudah lapar, apa ada masalah?
Sontak Hinata melihat jam yang tertera di smartphone nya yang menunjukkan pukul 19:30. Gadis itu sedikit kaget, setelahnya ia berdiri.
"Haruno-san, maaf aku harus segera pulang. Sampai jumpa di sekolah. Hati-hati dijalan", ucap Hinata cepat dan segera meninggalkan Sakura.
"Ehh, ahh ya. Sampai jumpa di sekolah. Terima kasih banyak Hyuuga-san", ucap Sakura sedikit berteriak pada Hinata yang sudah agak jauh darinya.
"Ternyata dia orang yang baik. Sepertinya aku bisa berteman dengannya", ujar Sakura pada dirinya sendiri sembari tersenyum. Kemudian berlalu pergi untuk pulang ke rumahnya.
Angin malam mulai berhembus, orang-orang yang pulang ke rumahnya setelah beraktivitas kian sedikit, menandakan malam yang semakin larut. Di sebuah kamar terlihat pemuda berambut raven tengah membaca sebuah buku di atas kursi meja belajarnya. Matanya dengan serius membaca tulisan yang ada pada buku tersebut.
Drrrtt drrt drrrtt drrt
Fokus pemuda itu pun pecah ketika gawainya bergetar menandakan ada telfon masuk. Pemuda itu kemudian membaca nama kontak yang menelponnya. Ia sedikit tersenyum setelah membaca nama tersebut. Tanpa pikir panjang kemudian ia menggeser layar smartphone nya ke atas untuk menjawab panggilan telfon itu.
"Moshi moshi Sakura-chan", ucap pemuda itu setelah menempelkan gawainya ke telinga sebelah kanannya.
"Moshi moshi Sasuke-kun, apakah aku mengganggu waktumu?", balas lawan bicara yang ada di seberang sana.
"Tidak, aku hanya sedang membaca. Ada apa Sakura-chan?", jawab Sasuke santai sambil meregangkan tubuhnya di atas kursinya.
"Ano ne, Sasuke-kun. Tadi setelah kau pulang lebih dahulu, di jalan pulang aku tadi hampir dilecehkan oleh dua orang pria", ujar Sakura dengan nada sedikit serak seperti ingin menangis.
"Apa!! Siapa yang mengganggumu? Akan kuhajar karena telah berani menyentuhmu!!", Sasuke sedikit berteriak. Posisinya yang semula santai jadi menegang, jemarinya menggenggam dengan kuat.
Sakura yang ada di kamarnya sedikit tersentak karena ucapan Sasuke. Pipinya merona, sedikit senang karena kekasihnya mengkhawatirkannya.
"Tapi hanya hampir Sasuke-kun. Hyuuga-san menolongku tadi sebelum mereka menyerangku. Jadi aku tidak apa-apa", ucap Sakura di sana menenangkan Sasuke.
Sasuke yang tadinya terbawa emosi sedikit tenang karena tidak terjadi apa-apa pada kekasihnya. Ia sedikit lega, kemudian membenarkan posisi duduknya. Lalu pemuda itu sedikit berpikir.
"Ehh? Kau ditolong Hyuuga-san?!", ucap Sasuke tersadar karena tidak disangka yang menyelamatkan Sakura adalah Hinata.
"Ya, Hyuuga-san tadi menolongku Sasuke-kun", ucap Sakura lagi untuk memperjelas ucapannya tadi.
"Syukurlah kau tidak apa-apa Sakura-chan", ucap Sasuke sedikit lega karena Sakura tidak kenapa-napa.
"Tapi ini kebetulan sekali. Kau ingat tadi aku kehilangan kartu ATM milik Oka-san?", sambung Sasuke.
"Umm, dan itu juga yang membuatmu pulang terlebih dahulu", balas Sakura.
"Ternyata yang menemukannya adalah Hyuuga-san dikelas tadi sore, dan meminta bantuan Naruto untuk mengantarkannya ke rumahku", tutur Sasuke, pandangannya ia alihkan ke langit-langit kamar tidurnya. Sedikit rasa bersalah hadir dalam benaknya.
"Ehh? Benarkah? Kalau begitu, sepertinya kita terlalu jahat pada Hyuuga-san. Kita harus meminta maaf dan berterima kasih dengan benar padanya", ucap Sakura dengan nada sedikit sedih. Dirinya memikirkan tentang istirahat siang tadi, dimana ia dan Sasuke malah terlihat takut dan enggan pada Hinata yang hanya ingin berkenalan dengannya.
"Umm, aku juga merasa bersalah pada Hyuuga-san", ucap Sasuke yang kini menutupi kedua matanya menggunakan lengan kanannya.
"Menurutku, kita berdua hanya melihat sampulnya saja Sasuke-kun. Kita terlalu takut dengan ekspresi yang dibuatnya", ucap Sakura, perasaannya sedikit campur aduk.
"Ya, aku pikir juga begitu. Naruto juga tadi mengatakannya padaku bahwa Hyuuga-san tidak seperti kelihatannya", balas Sasuke sambil mengingat-ingat perkataan Naruto tadi.
"Aku ingin berteman dengannya", ucap Sakura di sana mengutarakan keinginannya untuk dapat berteman dengan Hinata.
"Mmm, aku juga ingin berteman dengannya. Sekaligus berterima kasih karena sudah menolongmu", ucap Sasuke.
"Ahh! Aku jadi penasaran kenapa Naruto sangat dekat dengannya. Apa mungkin mereka berpacaran? Bagaimana menurutmu Sasuke-kun?", selidik Sakura penasaran, karena penasaran kenapa sahabatnya itu bisa sangat dekat dengan Hinata.
"Aku rasa tidak seperti itu Sakura-chan. Saat berbicara padaku tadi Naruto terlihat seperti melindungi Hyuuga-san. Aku rasa Hyuuga-san punya suatu hal yang bisa membuat Naruto seperti itu", ujar Sasuke menganalisa apa yang dia amati dari percakapan singkatnya dengan Naruto tadi saat mengembalikan kartu ibunya.
"Jadi begitu, tapi itu bisa kita pastikan nanti. Untuk sekarang kita harus minta maaf dengan baik, sekaligus berkenalan dengannya", ucap Sakura sedikit semangat.
"Aku setuju, besok kita katakan saat jam makan siang", ucap Sasuke.
"Ha'i Sasuke-kun. Ahh, aku ingin membawa bekal untuk besok, apakah Sasuke-kun juga mau aku buatkan?", tanya Sakura, sedikit malu.
"Pas sekali. Oka-san sedikit memberikan hukuman dengan tidak mengganti biaya belanja yang tadi aku keluarkan dari uang sakuku. Dan juga, sepertinya sudah lama aku tidak makan masakanmu, jadi aku sangat senang apabila kau juga membuatkan ku bekal Sakura-chan", ucap Sasuke dengan sedikit nada menggoda di akhir kalimat.
"E- eh? Baiklah Sasuke-kun", balas Sakura sedikit malu.
"Ada hal lain yang ingin kau sampaikan lagi Sakura-chan?", tanya Sasuke saat melihat jam digital yang ada di meja belajarnya menunjukkan pukul 00:15.
"Sepertinya tidak ada Sasuke-kun. Sebentar lagi aku ingin tidur", jawab Sakura setelah melihat jam dinding di kamarnya.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa di sekolah", ucap Sasuke.
"Sampai jumpa di sekolah Sasuke-kun. Bye bye"
Bip
Percakapan mereka berakhir ketika Sakura menghentikan panggilan suaranya. Sasuke meletakkan smartphone nya kembali ke meja belajarnya. Setelahnya ia berdiri, untuk mematikan lampu kamarnya, lalu merebahkan dirinya pada kasur untuk tidur.
Detik berganti menit, malam yang dingin berganti pagi yang cerah. Suara merdu burung kenari mengalun indah mewarnai pagi ini. Dunia seolah memberi tau orang-orang untuk semangat menjalani harinya. Tidak terkecuali pemuda berambut kuning jabrik yang sedang melambaikan tangannya pada gadis cantik di depannya.
"Ohayou Hinata-chan. Sudah lama menunggu?", sapa Naruto hangat dengan senyuman secerah mentari. Ternyata yang disapanya adalah Hinata yang sedang berdiri dipinggir persimpangan jalan.
"Ohayou Naruto-kun. Aku juga baru sampai", Hinata menjawab sapaan dari Naruto. Gadis itu juga tersenyum, wajah cantiknya semakin menawan. Tanpa disadari, Naruto sedikit tersipu, terpana melihat ekspresi gadis itu.
"Baiklah, ayo kita berangkat sekolah", ucap Naruto.
"Umm", jawab Hinata singkat sambil mengangguk.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Mereka pergi bersama karena semalam Naruto mengirimkan pesan pada Hinata, mengajaknya untuk berangkat sekolah bersama. Hinata sangat antusias karena ini pertama kalinya ia bisa ke sekolah bersama temannya, terlebih bersama Naruto.
"Eh? Semalam kau menolong Sakura-chan?", ucap Naruto sedikit syok sambil masih berjalan beriringan dengan Hinata.
"Umm, Haruno-san dipojokkan dua orang pria. Jadi aku spontan untuk menolongnya. Aku juga tidak percaya dengan tindakanku semalam, aku bergerak begitu saja", ucap Hinata sedikit menjelaskan kejadian semalam.
"Wahh, kau keren Hinata-chan", Naruto berkomentar, matanya berbinar, seperti anak kecil yang menyaksikan super hero kesayangannya menang melawan monster jahat.
"E- eh? Benarkah?", cicit Hinata sedikit malu mendengar Naruto menyanjungnya.
"Ya, kau sangat keren Hinata-chan", Naruto memperjelas komentarnya, namun bukan dengan wajah berbinar, melainkan dengan senyum yang dapat memikat siapapun yang melihatnya.
"Naruto-kun", gadis itu terkesima, ia tenggelam dalam pemandangan yang ada di depannya saat ini. Hinata terpesona.
"Erai erai", ucap Naruto sedikit menepuk-nepuk pucuk kepala Hinata.
"Mou, Naruto-kun", rengek Hinata setelah Naruto memperlakukannya seperti anak kecil yang berhasil menyelesaikan tugas pertamanya. Wajahnya tersipu malu. Namun dalam hati, gadis itu menyukai perlakuan pemuda itu.
"Ahaha, maaf maaf", ucap Naruto sedikit tertawa, sambil menghentikan kegiatannya menepuk-nepuk kepala Hinata.
"Tapi, sejak dulu masalah selalu datang pada Sakura-chan. Sewaktu kecil, dia pernah menantang anak SMP untuk bermain dodgeball hanya karena meledeknya cebol. Lalu permainan dimulai, tiga lawan tiga. Aku dan Sasuke berjibaku untuk tetap melindungi Sakura-chan karena lawan bermain curang. Alhasil kita kalah telak, aku dan Sasuke pulang dengan baju penuh dengan debu dan beberapa goresan. Tapi kami berhasil melindungi Sakura-chan. Dia hanya bisa menangis, tapi aku dan Sasuke harus selalu bisa membuatnya tenang. Ya, benar-benar seperti badai. Ahaha", ucap Naruto panjang lebar menceritakan kisah masa kecilnya kepada Hinata.
"Aku sedikit iri pada Haruno-san", ucap Hinata, kini kepalanya tertunduk.
"Ehh? Apa maksudnya Hinata-chan?", ujar Naruto sedikit panik melihat perubahan sikap Hinata.
"Bukan apa-apa Naruto-kun", ucap Hinata mendongakkan kepalanya, dengan sedikit senyuman jahil.
"Ahh, kau ini", ucap pemuda itu lega karena gadis itu hanya sedikit mengerjainya.
"Ne, Naruto-kun", gadis itu memanggil Naruto dengan suara pelan. Ia juga mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ada apa Hinata-chan?", pemuda itu merespon panggilan gadis di sampingnya.
"A- apakah kau menyukai Haruno-san?", ucap Hinata, suaranya masih pelan. Namun masih tetap terdengar oleh Naruto.
"Aaa, tidak-tidak. Aku hanya menganggapnya teman masa kecil dan bagian dari keluargaku. Lagipula Sakura-chan sudah berpacaran dengan Sasuke sejak Sekolah Menengah", ujar Naruto santai.
"Sounan desuka, yokatta", ucap Hinata sangat lirih diiringi senyum simpul.
"Kau bilang sesuatu Hinata-chan?", tanya Naruto yang tidak mendengar ucapan Hinata dengan baik karena suaranya yang sangat kecil.
"E- eh? Tidak Naruto-kun, aku tidak mengatakan apa-apa", ucap Hinata sedikit kikuk.
"Are, benarkah Hinata-chan?", goda Naruto yang melihat Hinata sedikit gugup.
"Mou, Naruto-kun. Aku benar-benar tidak mengatakan apapun", jawab Hinata sedikit berbohong pada Naruto.
"Ahaha, aku hanya bercanda", Naruto hanya tertawa renyah saat Hinata sedikit kerepotan karenanya.
Pagi muda-mudi itu terlihat indah, terlebih bagi Hinata yang notabene belum pernah berangkat sekolah bersama temannya sejak dulu. Diperjalanan, mereka berdua terus asyik ngobrol satu sama lain, mereka sangat akrab, dan tanpa terasa mereka telah sampai di sekolah.
Tidak lama setelahnya jam pelajaran dimulai. Para siswa mengikuti pelajaran Sastra Jepang yang diajar oleh Asuma-sensei.
Tuk
Ditengah proses pembelajaran, sebuah kertas yang dilipat beberapa kali jatuh di meja Naruto. Pemuda yang semulanya fokus pada papan tulis pun mengalihkan pandangannya pada kertas itu. Naruto menoleh ke kanan-kiri untuk mencari tau siapa yang melakukannya. Dan ternyata yang melakukannya adalah Sasuke, karena sahabatnya itu terus menengok padanya. Naruto menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan kertas itu untuknya. Sasuke hanya mengangguk tanda bahwa memang surat itu ditujukan pada Naruto.
'Nanti kita makan siang bersama di atap. Ajak Hyuuga-san bersamamu', ucap Naruto dalam hati saat membaca surat dari Sasuke. Pemuda itu sedikit bingung, namun kemudian menulis jawabannya di bawah tulisan Sasuke.
'Baiklah, aku akan mengajaknya', batinnya sambil menuliskan jawabannya. Setelahnya ia melipat kertasnya lagi dan melemparkannya pada Sasuke.
Sasuke yang menerimanya kemudian dengan cepat membaca balasan dari Naruto. Setelahnya, pemuda itu sedikit menganggukkan kepalanya pada Naruto, puas karena sahabatnya itu menjawab sesuai keinginannya.
Mereka pun kembali fokus pada pelajaran yang diberikan, meskipun ada diantara mereka yang tidur dikelas. Pelajaran berlalu begitu saja, hingga akhirnya bel tanda istirahat makan siang berbunyi.
"Hinata-chan, mau makan siang bersama di atap?", tanya Naruto yang barusan menghampiri Hinata ke mejanya.
"Umm, dengan senang hati Naruto-kun", jawab Hinata tersenyum kepada pemuda itu.
Setelah itu, mereka berdua pergi ke atap untuk makan siang bersama. Setibanya di atap mereka menemukan Sasuke dan Sakura yang sedang mengobrol santai. Sakura yang menyadari kehadiran Naruto dan Hinata kemudian menyapa mereka.
"Naruto, Hyuuga-san sini-sini", ucap Sakura memanggil Naruto dan Hinata untuk mendekat.
"Ha'i ha'i Sakura-chan", jawab Naruto sambil berjalan. Hinata yang sedikit canggung karena adanya keberadaan Sasuke dan Sakura hanya bisa mengekor dibalik punggung Naruto.
Mereka kemudian duduk melingkar.
"Jadi, ada apa Sasuke, Sakura-chan? Tumben kalian berdua duluan yang mengajak kami makan siang bersama?", tanya Naruto setelah duduk, ia sedikit penasaran dengan alasan Sasuke dan Sakura yang mengajak dirinya dan Hinata makan siang bersama.
"Kami ingin berterima kasih dan minta maaf dengan baik pada Hyuuga-san. Dan kami rasa jam makan siang adalah waktu yang tepat", jawab Sasuke. Sakura yang mendengarnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
"Hyuuga-san, terima kasih karena telah menemukan kartu ATM milik Ibuku. Naruto, terima kasih telah mengantarkannya kemarin", sambung Sasuke sedikit menundukkan badannya.
"Terima kasih Hyuuga-san karena telah menolongku semalam. Aku tidak tau nasibku bagaimana jika kau tidak ada disana tadi malam. Aku benar-benar berterima kasih", susul Sakura juga sedikit menundukkan badannya.
Naruto yang melihat dua sahabatnya menundukkan badan mereka hanya tersenyum simpul. Ia menengok ke samping, mendapati wajah Hinata yang terlihat bingung.
"Bagaimana menurutmu Hinata-chan?", tanya Naruto pada gadis disampingnya.
"E- eto, maaf aku sedikit bingung memberi tanggapan. Tapi, aku senang mendapat ucapan terima kasih dari kalian berdua. Aku senang bisa membantu", ucap Hinata sedikit gugup, diiringi senyum kaku.
Sasuke dan Sakura yang mendengar itu kembali menegakkan badannya, mereka melempar senyum satu sama lain.
"Ahh, satu lagi. Kami benar-benar minta maaf saat kemarin kami tiba-tiba sedikit menghindari perkenalan Hyuuga-san. Saat kami pikir-pikir lagi itu merupakan tindakan yang kurang sopan. Maafkan kami berdua", ucap Sasuke, mereka berdua kembali menundukkan badan, tanda mereka menyesali sikap mereka kemarin.
Hinata yang melihat mereka berdua kembali menundukkan badan sedikit kelabakan. Gadis itu menengok ke samping, menatap mata pemuda yang ada disampingnya, berharap pemuda itu dapat menolongnya dari situasi ini. Naruto yang paham maksud dari Hinata hanya tersenyum.
"Tegakkan badan kalian Sasuke, Sakura-chan. Kalian membuat Hinata-chan kerepotan", ucap Naruto buka suara, menyuruh kedua sahabatnya itu berhenti menundukkan badan mereka. Sasuke dan Sakura kemudian menegakkan badan mereka kembali.
"Lagipula kalian berdua sudah dimaafkan. Bukan begitu Hinata-chan?", lanjut Naruto.
"Ha'i, kalian berdua sudah aku maafkan. Jadi, aku anggap masalah kemarin sudah selesai", ucap Hinata.
"Umu umu, semua masalah sudah selesai. Saatnya kita mak-"
"Sebentar Naruto, ada satu hal yang ingin kami sampaikan pada Hyuuga-san", potong Sakura cepat sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya.
"Eeeeeehhh?!", Naruto sedikit kecewa karena perutnya sudah lapar.
"Namaku Haruno Sakura. Kau bisa memanggilku Sakura, maukah kau berteman denganku Hyuuga-san?", lanjut Sakura sambil menyodorkan tangannya berniat mengajak berjabat tangan dengan Hinata.
"Aku Uchiha Sasuke. Mungkin kau sudah pernah dengar Naruto menceritakan tentang kami. Kau bisa memanggilku Sasuke", Sasuke juga melakukan hal yang sama seperti Sakura.
Hinata yang mendengar ajakan pertemanan dari Sasuke dan Sakura terlihat sedikit terharu, matanya sedikit berkaca-kaca. Gadis itu tidak mampu berkata-kata. Kembali gadis itu menengok kearah samping, berharap Naruto memberikan jawaban lagi padanya. Namun gadis itu hanya menemukan wajah Naruto yang tersenyum hangat dengan sedikit anggukan kepala. Seolah paham maksud dari pemuda itu, Hinata tersenyum.
"Namaku Hyuuga Hinata. Kalian bisa memanggilku Hinata seperti Naruto-kun. Mohon bantuannya", ucap Hinata memperkenalkan diri dan menjabat tangan Sakura dan Sasuke bergantian.
"Mohon bantuannya Hinata / Hinata-chan", ucap Sasuke dan Sakura bersamaan.
"Yokatta ne Hinata-chan", ucap Naruto pada Hinata. Pemuda itu bersyukur karena kedua sahabatnya ingin berteman dengan Hinata.
"Umm, terima kasih Naruto-kun", ucap Hinata. Gadis itu tersenyum senang karena Naruto benar-benar menepati janjinya untuk membantunya mendapatkan teman.
"Baiklah, saatnya makan", ujar Naruto.
Setelahnya mereka makan bekal mereka masing-masing. Disela-sela kegiatan makan siang, mereka sedikit ngobrol satu sama lain, bertukar menu bekal, dan sedikit bercanda. Sungguh hal yang tidak terbayangkan bagi Hinata.
"Jadi, bagaimana kau bisa akrab dengan Naruto, Hinata-chan?", tanya Sakura setelah mereka semua selesai menghabiskan bekal yang mereka bawa.
"Eto, ceritanya lumayan panjang. Apa kau masih ingin mendengarnya Sakura-chan?", ucap Hinata.
"Ya ya ya, aku sangat ingin tau", ucap Sakura cepat. Gadis itu sangat tertarik dengan hal itu.
"Baiklah", ucap Hinata.
Hinata pun menjelaskan bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Naruto di atap. Menemaninya pulang dihari pertamanya. Mengajaknya berkenalan dengan keluarganya. Menceritakan masalah sulit mendapatkan teman, dianggap menyeramkan, dan sedikit dijauhi. Gadis itu menceritakannya dengan rapih. Sasuke yang mendengar sedikit iba. Lain halnya dengan Sakura, gadis itu sudah menangis sesenggukan disamping Sasuke.
"Hiks… Hiks, ternyata… Hiks, kau sangat… Hiks, kesepian… Hiks, kau sangat kuat Hinata-chan", ucap Sakura di sela tangisannya. Sasuke yang melihat Sakura menangis kemudian memberinya sapu tangan.
"E- ehh? Jangan menangis Sakura-chan. Aku sudah tidak memikirkannya lagi. Lagipula ini semua berkat Naruto-kun, dia sudah sangat membantuku", ucap Hinata berusaha menenangkan Sakura.
Tidak lama kemudian Sakura berhenti menangis. Air mata terakhirnya sudah ia usap. Ia sedikit berpikir mengenai penuturan Hinata yang selalu mendapatkan bantuan dari Naruto. Terlihat Hinata sangat senang mengatakan. Senyum jahil terpatri di wajah Sakura.
"Ne, Hinata-chan. Kau menyukai Naruto ya?", tanya Sakura dengan senyum jahilnya.
Hinata yang ditanya wajahnya merah padam sampai ke telinga. Kepalanya langsung tertunduk. Matanya tertutup poni ratanya. Ia sangat malu.
Deg!
Dan ketika malu, Hinata akan menampakkan wajah dingin beraura angker kepada siapapun, tanpa terkecuali.
Sakura yang melihatnya langsung membatu. Wajahnya pucat, mulutnya menganga, matanya terbuka lebar. Nyawanya bersiap meninggalkan tubuhnya lewat mulutnya.
"Oi, Sakura bertahanlah. Sakura, jawab aku. SAKURAAAAAAA", ucap Sasuke panik, dirinya mengguncang-guncang bahu Sakura. Takut kekasihnya tidak bisa kembali.
"Dan terjadi lagi", ucap Naruto memijat keningnya yang tidak sakit.
Kegiatan makan siang mereka ditutup oleh Sakura yang pingsan karena terlalu syok dengan apa yang ia lihat, Sasuke yang kebingungan, Naruto yang hanya geleng-geleng kepala, dan Hinata yang kelabakan karena ulahnya. Kasihan Sakura.
