My Life has Changed
Disclaimer:
Naruto milik Masashi Kishimoto.
High School DxD milik Ichie Ishibumi.
Genre: Slice of Life, School Life, Supranatural, Lemon, Harem, Hentai, Ecchi, Etc.
Pair: Naruto x Harem
Rated: M (Mature for Sex scene!)
Warning: 18 (FOR SEX SCENE!) INCEST! Tata Bahasa Kacau, Bahasa Terlalu Kaku, Alur Gaje, Typo(s), Etc.
.
Summary: Naruto, seorang pemuda yang menjalani kehidupannya dengan normal. Namun, kehidupannya itu mulai berubah menjadi lebih bergairah dan panas, ketika dia mengetahui sebuah fakta, bahwa … adiknya ternyata adalah seorang succubus!
Chapter 3: Malam yang Panas Bersama Dua Gadis Imut
.
.
.
"Jadi, begitu ceritanya…."
Naruto yang duduk di sofa ruang tamu, menggosok-gosok janggutnya. Di depannya, duduk Asia dan seorang gadis berambut putih panjang tergerai. Ada juga dua model rambut bercepol di kepalanya.
Ia baru saja selesai mendengar cerita kehidupan Asia setelah menyelamatkan Succubus waktu di panti asuhan, termasuk menggunakan hipnotis kepada orang tuanya agar mau mengadopsinya.
Naruto sudah mengetahui kegiatan malamnya, jadi Asia hanya bisa menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. Ia tak bisa menimbun kebohongan lebih dari ini. Ia sudah siap jika akan diusir dari rumah ini.
Tapi, Naruto ternyata mengatakan sesuatu di luar bayangannya. "Maa, ya udahlah. Tou-san dan Kaa-san kulihat sangat tulus menyayangimu saat kalian berbincang-bincang, jadi perasaan yang tumbuh itu bukan lagi karena kekuatan hipnotismu."
"E-Eh? Kalian tidak akan marah?" tanya Asia masih belum puas.
"Marah? Tentu saja. Kau harusnya lebih cepat memberitahu kami tentang ini, Asia."
Asia menundukkan wajahnya, merasa bersalah.
Naruto berpaling pada gadis di samping Asia. "Dan kau… kau tidak melakukan macam-macam pada tubuh Asia selama ini, 'kan?"
"Fufufu, tidak mungkin lah. Paling cuma mengajak Asia-chan bermain basah-basahan saja." Dia mengatakan itu sambil menjilat bibirnya dengan seksi.
Naruto menepuk dahinya. Dia bahkan tak mau membayangkannya.
Gadis itu tertawa pelan melihat reaksi kakak tiri Asia. Namanya adalah Maria, Succubus yang dulu pernah diselamatkan Asia. Setelah lukanya sembuh, ia sebenarnya bisa saja langsung meninggalkan tubuh Asia karena dia bisa menciptakan tubuh fisiknya sendiri. Namun, Maria tak melakukannya. Entah kenapa, ia jadi suka dan memilih untuk tetap bersama si gadis pirang. Apalagi setelah diadopsi oleh keluarga Namikaze, akhirnya dia bisa lebih leluasa bersenang-senang bersama Asia.
Tiap malam, saat semua orang tidur, mereka berdua selalu bermain permainan panas. Tidak ada yang mengetahuinya—sampai rahasia itu berakhir kemarin malam, Asia tertangkap basah oleh Naruto. Siapa sangka jika Namikaze muda itu malah menyantap adik angkatnya sendiri?
"Aku tak akan membahas ini lagi, ataupun menceritakannya pada orang tua kita. Dan kuharap, kau tidak melakukan hal aneh pada Asia, semacam memakan jiwanya ataupun itu, kau mengerti… ah, siapa tadi namamu?"
"Maria. Setidaknya, ingatlah namaku." Ia menggembungkan pipinya. "Aku tak 'kan melakukan itu. Aku ini Succubus! Jadi aku hanya tertarik pada hawa nafsu, paham?"
"Aku akan terus mengawasimu." Naruto menggerakkan jari telunjuk dan tengahnya, berulang kali ke matanya dan Maria. Itu adalah bahasa isyarat.
Asia tertawa tidak nyaman. "Apa aku tidak jadi diusir?"
"Tidak akan! Aku dan Naruko sudah menganggapmu sebagai saudara, jadi mana mungkin kami membiarkanmu sendirian di luar sana begitu saja?" Naruto memberikan senyum lebar tatkala mengatakannya.
Asia sungguh bersyukur karena memilih keluarga ini sebagai keluarga barunya. "Terima kasih, Nii-san."
Naruto bangkit, beranjak menuju kamar mandi. "Kalau begitu, aku akan mandi dulu."
Mereka membicarakan hal yang panjang setelah pulang sekolah, ia bahkan lupa untuk melakukan rutinitas penting lainnya. Asia juga baru ingat kalau dia harus masak.
"Benar juga. Aku akan menyiapkan makan malam."
.
.
.
Uap-uap panas mengepul di seluruh ruang kamar mandi. Naruto tampak menikmati acara berendamnya.
"Aku tak pernah berpikir akan melakukan 'itu' dengan Sona. Haah~"
Pikirannya melayang di kejadian Perpus Sekolah siang tadi. Naruto semakin menenggelamkan wajahnya di bak mandi dengan wajah memerah. Suara gelembung-gelembung pecah memasuki indra pendengarnya.
"Maa, biarlah. Sona juga tidak kelihatan keberatan."
Setelah kegiatan mereka berdua usai, Naruto ingat betul bagaimana ekspresi imut gadis itu yang ngambek karena dibuat kelelahan sampai klimaks 6 kali. Mau bagaimana lagi, Naruto tidak bisa menahan hasratnya, terlebih lagi ia sedang "bermain" bersama gadis cantik seperti Sona!
"Huh…kamu sering melakukan yang beginian kah, Naruto-kun?"
"Uhh, itu… tidak, belum lama ini, kok. Sungguh! Tolong percayalah…aku bukan seperti orang yang kau pikirkan, Sona!"
"Tidak menyangkalnya, huh? Berarti kamu pernah melakukan ini sebelumnya. Siapa nama perempuan pertamamu itu?"
"A-Ah, etto…sulit unjuk dijelaskan."
Naruto cukup kesulitan ketika ditanyai mengenai itu. Mana mungkin 'kan kalau dia bilang jika pengalaman pertamanya dengan Asia?! Meskipun dia hanyalah adik angkatnya, tetap saja….
Srek!
"Eh—Asia?! Apa yang kamu lakukan?!"
Naruto cukup terkejut karena pintu kamar mandinya tiba-tiba terbuka. Baru juga orangnya dia pikirkan, eh tiba-tiba udah muncul aja. Disana sudah berdiri Asia yang hanya mengenakan satu handuk tipis untuk menutupi tubuhnya!
"Bo-Bolehkan aku…mandi bersamamu, Onii-san? A-Aku akan membasuh pu-punggungmu!" Dia mengatakannya dengan wajah memerah sempurna.
Naruto yang panik langsung menjawab, "Ti-Tidak perlu! Aku sudah selesai membasuh tubuhku, kok! Ini aja aku mau keluar, ahaha!" Ia tertawa gugup.
Asia yang mendengar itu berubah kecewa.
"Tidak baik~ kamu sungguh jahat, Naruto-san."
Dari belakang Asia, muncul Maria yang juga dalam keadaan memakai handuk saja. "Kamu harusnya bisa membaca suasana, bagaimana mungkin kamu bisa menolak gadis yang sudah susah payah memantapkan niatnya? Karena itulah, biarkan kali ini kami memanjakanmu!"
Apa yang dikatakan Maria benar. Naruto bisa melihat Asia yang kelihatan hampir menangis.
"Tunggu dulu, apa maksudnya dengan 'kami', huh?!" Dia baru menyadari ada yang aneh dari kalimat Maria.
"Tentu saja aku ikut, ehehe."
Naruto bisa melihat seringaian mesum di wajah Maria. 'Dasar Succubus Loli!'
Naruto kembali memandang Asia. Entah kenapa ia jadi tak tega. Lagipula, adiknya itu pasti sudah susah payah menyiapkan makan malam untuk mereka, makanya dia baru bisa masuk ke kamar mandi sekarang
"Baiklah, baiklah!" jawab Naruto tidak ikhlas. Dia keluar sambil menutupi kemaluannya dengan handuk kecil di tangannya. Ia mengambil kursi kecil di pojokkan, dan duduk membelakangi dua gadis itu.
Senyum sumringah memenuhi wajah Asia. Dia segera mengambil sabun cair dan busa, lalu mulai menggosok punggung kekar kakak tirinya. Gelembung-gelembung sabun putih tercipta sangat banyak.
Naruto cukup nyaman ketika mendapat sedikit pijatan dari adiknya. Belakangan ini, ia merasa cukup kecapekan. "Ngomong-ngomong, apa Naruko sudah pulang, Asia?"
"Tadi dia menelepon, katanya mau menginap di rumah temannya malam ini. Besok hari libur, jadi aku pikir tidak masalah. Apa seharusnya tidak kukatakan begitu, Onii-san?" jawabnya ragu.
Naruto menggeleng. "Tidak apa-apa, biarkan saja Naruko untuk sesekali bersenang-senang bersama temannya. Sebentar lagi dia akan menjalani ujian kelulusan, pasti pelajaran tambahan di sekolah membuatnya sedikit stress."
Asia setuju. Dulu mereka juga pernah mengalami masa-masa ini.
"Pssst, Asia-chan," Maria berbisik-bisik di telinga Asia, kemudian wajahnya berubah memerah tidak lama setelahnya. Gadis pirang itu mengangguk.
"Hei, hei, apa yang kalian rencanakan? Jangan bisik-bisik, kalian sudah terlihat mencurigakan sejak awal, aku sadar itu!" Naruto mengatakannya sambil menoleh ke belakang. Ia terkejut karena Asia tiba-tiba saja melepas handuk yang melilit tubuh kecilnya, bahkan sekarang menuangkan sabun cair ke dadanya.
Maria muncul, dan duduk di pangkuan Naruto. Tubuh si Succubus sudah polos seutuhnya. "Bukankah kami tadi bilang akan memanjakanmu?" katanya, kemudian meniup telinga Naruto, membuatnya merinding.
"A-Aku mulai, Nii-san."
"Tu-Tunggu dul—ugh!"
Ia tak bisa menahan gejolak di dalam dirinya yang tiba-tiba bangkit. Dada Asia sungguh lembut ketika menyentuh punggungnya!
Asia mulai menggerakkan dadanya; memutar, menggosok, bahkan menekan, semua itu dia lakukan ke tubuh kakak tirinya. Ia cukup lincah juga.
"Oya? Apa ini~?"
Maria tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang menekan pantatnya ke atas. Dia tanpa permisi menarik handuk Naruto, mengabaikan protesan si Namikaze muda.
"Woy!"
"Ufufu, kamu sudah terangsang hanya karena tubuh adikmu sendiri, Naruto-san? Apakah kamu ini penyuka incest?" Dia mengatakan itu untuk menggoda Naruto.
"Adik tiri! Dia itu adik tiriku, ingat?!"
"Tetap saja, dia adalah a-dik-mu~"
Wajah Naruto semakin memerah. Sial dia terjebak, ini pasti memang rencana Maria sejak awal.
"Ba-Bagaimana menurutmu, Onii-san? Apa terasa enak?" tanyanya sungguh malu. Asia tak menyangka akan mengatakan itu!
Naruto mengangguk. Dada Asia tidaklah cukup besar, tetapi itu sungguh lembut. "Ya, sangat en-enak."
Kedua tangan Asia bergerak ke depan, menggosok dada dan perut Naruto menggunakan busa di tangannya. Dia juga lebih menekan payudaranya ke punggung kakaknya. Naruto memejamkan matanya sambil menggeram keenakan. Mana mungkin dia tidak menikmati ini?!
Ini adalah sesuatu yang diidam-idamkan oleh semua laki-laki! Terakhir kali Naruto mandi bersama perempuan adalah dengan Naruko, itu pun saat mereka masih kecil. Ia tidak begitu ingat bagaimana kejadiannya.
Maria bangkit dari pangkuan Naruto. "Sekarang waktunya bagian depan, Asia-chan!" Dia mengatakannya dengan senang. Naruto dan Asia terkejut mendengarnya.
Naruto tidak punya pilihan ketika melihat ekspresi kesulitan adiknya. Pasti Asia tidak sanggup memintanya untuk menghadapnya, karena itulah Naruto mengambil inisiatif.
Gadis itu terkejut melihat penis kakaknya yang sudah berdiri tegak. 'I-Ini…besar sekali!' batin Asia malu. Ada semacam uap mengepul dari atas kepalanya.
"Tidak perlu memaksakan…dirimu, Asia." Naruto tahu ini pasti bukanlah keinginan Asia. Adiknya hanya mengikuti perkataan Maria.
Dia menggeleng, berusaha fokus. "Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya. Aku mulai, Onii-san…."
Tangannya bergerak untuk memegang penis kakaknya, dari ujung dan bergerak turun. Ia melakukan itu berulang kali, memancing Naruto untuk mengeluarkan suara kenikmatannya. Tubuh laki-laki itu dibuat merinding oleh perlakuan Asia.
Maria tidak ingin ditinggalkan sendirian melihat Kakak-Adik tak sedarah itu bermain, jadi ia memutuskan mendekati Naruto dari belakang. Ia menggigit telinganya, membuat Naruto terjengit kaget.
"Jangan diam saja, Naruto-san. Kenapa kamu tidak menyentuh tubuh Adikmu? Bukankah curang jika kamu saja yang menikmati ini?" Dia meniup telinga Naruto setelah selesai dengan bisikannya. Tangannya bergerak ke depan, menggerayangi dada bidang laki-laki.
"Aku tahu, kau tidak perlu mengingatkanku," balas Naruto berbisik pula. Setelah itu, ia menggerakkan tangannya untuk meraih payudara Asia. Menggenggam, meremas, bahkan memelintir puting, adalah apa yang ia lakukan terhadap aset perempuan di depannya.
"Engh~"
Karena perbuatan Naruto, Asia malah jadi tidak bisa fokus untuk memanjakan penis kakaknya. Gerakan menaik-turunkan tangannya berubah tidak teratur. Napas si gadis pirang semakin memburu, wajahnya kian memerah karena terangsang.
"Kalian cukup menikmatinya, ufufu." Maria tidak bisa untuk tidak menahan komentarnya. Melihat pergumulan Kakak-Adik ini membuatnya semangat.
Naruto memegang pinggul Asia, mengangkatnya untuk duduk di pangkuannya. "Boleh aku menciummu, Imouto?"
Asia sebenarnya malu, tetapi ia berusaha mengangguk. Karena sudah mendapat persetujuan, Naruto langsung saja mendekatkan bibirnya ke bibir adiknya. Ia melumatnya pelan, mengajak Asia untuk menuruti hawa nafsunya yang kian melonjak. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menekan kepala bersurai pirang panjang itu, sementara tangan kanannya sudah turun untuk bermain di area kewanitaan sang adik tiri.
"Emmh! Ahn~"
Desahan Asia bagaikan melodi penyemangat bagi Naruto. Ia semakin berani untuk membuka liang senggama adiknya, memasukkan jari telunjuknya untuk menggosok dinding vagina di dalam sana. Ia tak menyangka jika perbuatannya ini semakin mengeraskan desahan tertahan Asia. Naruto tidak bisa menahan gairahnya lebih dari ini!
"Asia…, bisa kumasukkan milikku ke dalam punyamu?" tanyanya ragu. Tapi, ternyata Asia menyetujuinya, ia sudah tidak tahan dengan vaginanya yang terus berkedut sejak tadi.
Naruto berdiri dan duduk di tepi bak mandi. Dia meminta Asia untuk membelakanginya, membiarkannya masuk dari belakang. Asia mengikuti perintah kakaknya, dia sudah mengangkat pinggulnya dan bersiap memasukkan penis di bawah sana ke lubang vaginanya yang terbuka.
"Kurasa kau belum klimaks tadi, tapi cairanmu sudah keluar sedikit. Sepertinya, ini akan sedikit menyakitkan bagimu, Asia," kata Naruto khawatir.
Asia menggeleng. "Uhm! Tidak apa-apa, justru ini akan menjadi pengalaman berhargaku, Onii-san."
"Begitu, ya? Tolong tahan sebisamu."
"Aku mengerti."
Setelah perbincangan itu, Asia menurunkan pinggulnya, memaksa memasukkan penis besar kakaknya ke dalam tubuhnya. Kedua matanya melebar, ia tak menyangka akan sesulit ini!
"Akh! Enggh!"
Tangan Naruto bergerak ke depan, meremas payudara Asia untuk mengalihkan rasa sakit yang Asia rasakan di bawah sana. Ternyata itu berhasil.
"Sedikit lagi, kau pasti bisa, Imouto!"
Mendengar sorakan kakaknya, Asia mana mungkin mengecewakannya! Dia mengangkat pinggulnya lagi. Setelah menghirup udara panjang, ia menurunkannya dengan sekuat tenaga.
Bless!
Penis besar Naruto masuk sepenuhnya ke dalam vagina Asia. Rasa kesakitan itu segera berubah menjadi keenakan karena Naruto menggerakkan pinggulnya.
"Hei, hei, kalian tidak melupakanku, 'kan?"
"Oh maafkan aku, Maria."
Naruto dan Asia merasa bersalah karena mengabaikan Succubus itu. Mereka tertawa gugup karena melihat ekspresi kesal di wajah Maria.
"Kalau begitu, biarkan aku juga menciummu."
Naruto hanya bisa mengangguk, kemudian menolehkan wajahnya ke samping. Maria mendekatkan bibirnya, mencium laki-laki yang saat ini sedang menyetubuhi adik tirinya sendiri.
Naruto membuka mulutnya, menjilati bibir Maria, dan itu langsung dibalas olehnya. Naruto tak menyangka kalau Succubus ini jago banget memainkan lidahnya. Ia bahkan sempat dibuat kuwalahan oleh Maria.
"Emmh! Hah, hah, mmph!"
Desahan beserta decakan lidah Maria sungguh eksotis. Gairah Naruto makin memuncak, dan…
Croot!
Ia menyemburkan spermanya ke dalam rahim Asia, mengagetkan adiknya yang masih asyik menaik-turunkan pinggulnya. "Ah, maafkan aku, Asia! Aku lupa denganmu."
"Tidak apa-apa, aku masih kuat, kok. Kita lanjutkan?"
Entah cuma perasaan Naruto, atau memang adiknya ini semakin terlihat menggoda baginya. Memikirkannya saja sudah membuat penis Naruto kembali mengeras.
Maria bergerak ke depan, berjongkok di depan dua Kakak-Adik itu. Ia menjilati tempat penyatuan penis dan vagina mereka. Tangannya sendiri bergerak ke bawah, menggesek bibir vaginanya untuk mencari kenikmatan.
Tanpa mengucapkan balasannya, Naruto memegang pinggul Asia dan menggerakkan dengan cepat. Desahan Asia meluncur begitu saja karena perbuatan tiba-tiba kakaknya ini.
"Agh, hah! Kamuh…terlalu bersema-nghat, Nii-saaaahn!"
"Pokoknya kau harus bertanggung jawab karena memulai ini, Imouto. Kau juga, Maria."
Maria di bawah sana tersenyum menggoda. "Benarkah~? Aku tidak sabar menantikannya~"
Suara desahan dan kecipak mesum memenuhi ruang kamar mandi tersebut. Tubuh Naruto dan Asia semakin panas karena bergerak "keluar-masuk", melakukan hubungan senggama yang harusnya terlarang ini. Mereka bukanlah saudara sedarah, tetapi tetap saja adalah keluarga.
'Incest, kah? Mungkin Maria benar, aku sedikit menyukai hubungan seperti ini,' batinnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja Naruto teringat pada perkataan Maria sebelumnya.
Asia merasa pikirannya sungguh kacau. Ia tak menyangka dia akan ketagihan melakukan hubungan sex akibat kejadian kemarin malamnya bersama sang kakak. Jujur saja, ini sungguh…nikmat!
Dia mempercepat gerakannya. Penis Naruto mengobrak-abrik dinding vagina Asia. Menyadari bahwa dialah yang telah membuat adiknya mendesah kenikmatan seperti ini, adalah sesuatu yang menjadi kebanggaan di dalam diri Naruto.
"Hah, ah, akuh—!"
Naruto mengangguk. Ia tahu kalau adik tirinya sudah tidak tahan lagi untuk melepaskan cairan cintanya. "Tidak perlu ditahan, Asia~" bisiknya, lalu meniup belakang telinganya.
"Kyaaaaah!"
Asia pun mendesah keras dengan wajah mendongak penuh kenikmatan. Karena Maria sedari tadi berjongkok di depan mereka, jadinya cairan Asia mengotori seluruh wajah dan dadanya. Napasnya sungguh tidak beraturan setelah klimaks pertamanya.
Naruto menyingkirkan tubuh Asia dari pangkuannya. Dia menatap Maria yang tengah melenguh nikmat sambil memainkan klitorisnya. "Sekarang giliranmu," kata Naruto menyeringai mesum.
"Aku sudah tidak sabar, loh. Ufufu~"
Dia mendorong tubuh Maria agar terlentang di lantai dingin kamar mandi. Ia memosisikan penisnya di depan liang Succubus ini. Karena ini adalah tubuh fisik, tentu saja Naruto bisa melakukan hubungan sex bersama Maria.
"Aku tak 'kan menahan diri."
"Itu yang kuharapkan, ehehe~"
Setelah mendengar balasan Maria, Naruto langsung saja menusuknya dengan kekuatan penuh. Dinding vaginanya sudah licin berkat permainan Maria sendiri, jadi Naruto tidak perlu khawatir menyakitinya.
"Uoogh!"
Tubuh Maria lebih kecil dibandingkan Asia ataupun Sona, begitu pula dengan ukuran lubang kewanitaannya. Rasanya sungguh berbeda ketika Naruto memasukkan penisnya. Dia merasa sedang dijepit sangat erat di dalam sana!
"Inikah yang dinamakan melakukan hubungan sex dengan…Loli?!" kata Naruto menggebu-gebu. Dia mulai menggerakkan pinggulnya ke depan dan ke belakang.
"Sangat lembut! Vaginamu enak sekali, Maria!"
"Terima kasih pujianmu, Naruto-san~ ahh, hegh!"
Naruto mengangkat kedua kaki Maria, dan melebarkannya. Ia merasa bisa masuk lebih dalam sekarang. Meski tubuhnya kecil, entah bagaimana penisnya bisa dilahap seluruhnya ke dalam tubuh Maria. Ketika menggerakkan bendanya, Naruto bisa melihat sesuatu yang menonjol di perut Maria. Sepertinya…itu adalah penis miliknya.
Maria mendesah kenikmatan. Entah kapan terakhir kali ia bisa merasa senikmat ini, ia tak begitu ingat. Tubuhnya digenjot oleh pemuda SMA kelas 2, ia tak menyangka Naruto akan seahli ini. Padahal, Maria tahu jika laki-laki ini baru melepas keperjakaannya kemarin malam bersama sang adik. Bagaimana Naruto sehebat ini?
"Nee, Naruto-san? Apa kamu sering menonton film yang beginian, ataupun melihat komiknya? Kamu terlihat cukup tahu cara-caranya."
"Aku juga remaja normal, memangnya salah?" Naruto tak berniat membohonginya.
"Tidak, tidak apa-apa. Itu bisa menjadi pembelajaran di saat seperti ini, jadi ada gunanya kamu pernah menontonnya. Ehehe~"
Naruto mengangguk. Ia berdiri dan mengangkat tubuh Maria, mengeluarkan-masukkan penisnya dalam kondisi seperti itu.
Asia maupun Maria cukup kaget karena Naruto berani melakukan itu. Si Succubus mengalungkan lengannya ke leher Naruto, sementara kakinya melingkar ke pinggulnya, berusaha agar dirinya tidak jatuh.
Naruto mencengkeram pantat Maria, menekan-nekannya agar penisnya bisa lebih masuk ke dalam sana. Ia semakin bermain kasar.
"Agh, hah, ka-muh luar biasa, Narutohh-saaahn!"
Maria tidak kuat lagi menahan gempuran dari manusia ini. Vaginanya berkedut-kedut, dan akhirnya ia mengeluarkan cintanya.
Crot! Crooot!
Ternyata Naruto juga mencapai puncaknya. Ia menyemburkan banyak spermanya ke rahim Succubus itu. "Kau…tidak akan hamil 'kan, Maria?" tanyanya was-was. Dia menurunkan tubuh Maria ke lantai.
"Ufufu~ tenang saja, dengan kekuatanku ini…aku bisa mengendalikan diriku untuk hamil atau tidak, jadi kamu tidak perlu khawatir. Oh iya, aku juga bisa melakukan hal yang sama pada Asia-chan loh~"
Ohhh! Itu sangat membantunya. Naruto tidak perlu bingung jika dirinya kelepasan di dalam ketika ia berhubungan sex, ia bisa tinggal minta pertolongan Maria.
"Naruto-Niisan, bisakah kamu…melakukan lagi denganku?"
Naruto menoleh ke belakang. Ia bisa melihat Asia yang sudah menungging ke arahnya sambil berpegangan pada pinggiran bak mandi. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Naruto berjalan mendekati adiknya. Ia memosisikan penisnya di depan vagina Asia yang mengeluarkan cairan putih; cairan cinta mereka berdua. Dia pun mendorongnya, menusuknya dengan gerakan pelan.
Asia melenguh nikmat ketika benda kakaknya sudah di dalam tubuhnya lagi. Naruto menghentak-hentakkan pinggulnya, membuat dada Asia bergerak ke depan dan ke belakang.
"Hah, hah! Penismu terasa panas, Nii-san!"
"Kau mendesah mesum, Imouto. Aku menyukainya, ghh!"
Desahan Asia memang yang terbaik. Nafsunya untuk menjamah seluruh tubuh Asia makin meningkat. Dia menaikkan sebelah kaki Asia ke pangkuan pundaknya, lalu menggesekkan penisnya semakin cepat.
"Posisi ini memalukan, Naruto-Nii~" Wajah Asia jadi memerah. Posisi ini membuat vaginanya jadi terekspos jelas, ia bahkan bisa melihat penis kakaknya yang keluar masuk di dalam tubuhnya.
Naruto mengabaikan protesan Asia. Ia menurunkan tubuhnya, kemudian menggigit leher adiknya, memberikan bekas ciuman sebagai pertanda bahwa Asia hanyalah milik Naruto seorang.
Naruto semakin brutal bergerak. Cairan mereka sebelumnya bahkan menetes ke lantai kamar mandi.
Keduanya merasakan kedutan di masing-masing alat kelamin mereka dan akhirnya—
"AAAAAAAHHHN…!"
"GUUHhhhh!"
Naruto menyemprotkan spermanya lagi di dalam tubuh adik tirinya, memaksa rahim perempuan itu untuk dipenuhi cairan cinta mereka berdua.
Desahan mereka belum berhenti sama sekali. Naruto belum mencabut bendanya dari area kewanitaan Asia. Ia ingin membiarkan penisnya merasakan lebih lama akan sensasi hangat dari cengkraman dinding erat vagina itu.
Beberapa menit berlalu, dan mereka menyelesaikan acara mandi masing-masing. Mereka segera menyantap makan malam yang disiapkan Asia sebelumnya, untung saja makanannya belum keburu dingin.
Naruko saat ini menginap di rumah temannya, sementara orang tua mereka masih di luar kota sampai beberapa hari ke depan. Sepertinya, tak akan ada yang mengganggu mereka jika ketiganya meneruskan kegiatan di kamar mandi tadi.
Jadi, setelah memikirkan berbagai pertimbangan, Naruto meminta Asia dan Maria untuk menemaninya melakukan hubungan badan sebelum tidur. Ia belum puas saat di kamar mandi.
"Apa kalian marah?" tanya Naruto karena tidak mendapat balasan cukup lama.
Mendengar penjelasan Kakaknya, Asia hanya bisa tertawa kaku. Sementara Maria, ia juga terkejut. Ia tak menyangka kalau si Namikaze muda ini begitu ketagihan dengan tubuh mereka.
"Maa, kalau kamu berkata seperti itu, aku tidak bisa menolaknya, Naruto-san. Fufufu."
"Uhm, benar. Karena Nii-san yang minta, Asia akan berusaha semaksimal mungkin agar Nii-san puas!"
.
.
.
Bersambung!
[A/N:
Ketemu lagi ama gw. Kangen gak? Kangen gak? Wkwk.
Maria di sini aku ambil dari LN/Anime Shinmai Maou no Testament. Kalo kalian ada yang gak kenal, silahkan tanya dulu ke Mbah Google, pasti langsung dijawab.
Gw bingung mau ngomong apa lagi. Kayaknya gak ada yang perlu gw jawab dari kotak review ya, jadi itu…aja dah.
Ero-Kun666,
Logout!
(27/September/2022)
