Ada banyak halaman cerita yang mungkin terbentuk. Sayangnya ia bukan seorang penyair. Ia hanya seorang penikmat karya tersebut. Bukan favorite, tapi ia punya rasa tersendiri dari irama yang dibuat tiap baris puisi. Penuh sendu dan melankolia. Meski tidak semua yang ia baca adalah demikian.
Hampir dari setengah jam yang lalu ia mengitari berbagai toko buku di pusat kota hanya demi mencari apa yang sedang ia cari. Namun berakhir sesuai rekomendasi Sakura. Ada sebuah toko buku klasik di arah jalan menuju rumah orangtuanya. Maka disinilah ia sekarang.
Mengamati buku puisi yang cukup terkenal. Ia tersenyum simpul dan menawan. Tanpa berpikir dua kali atau bahkan beratus kali, ia segera menghampiri kasir lalu menyelesaikan transaksi.
A Story by woodvale
.
an elegy
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
(Hope you like and enjoy it ^^)
.
Suatu hari engkau bertanya kepadaku, manakah yang lebih penting bagimu
hidupku atau hidupmu?
Aku berkata, hidupku
lalu engkau pergi tinggalkan aku,
Tanpa kau tahu
Engkaulah sejatinya hidupku itu
(Kahlil Gibran)
Hinata tersenyum-senyum kala membacanya. Kata-katanya teramat indah, begitupun dengan beberapa halaman sebelumnya. Ia pernah mendengar nama penyair ini namun belum pernah benar-benar membaca karyanya. Dan ternyata sungguh luar biasa.
Mata lembut itu beralih ke arah Naruto. "Dimana kau dapatkan buku ini?"
"Suatu tempat di antah berantah,"
Hinata tertawa. "Naruto-kun, aku serius."
"Sakura merekomendasikan toko buku klasik di suatu tempat. Aku bisa mengajakmu kesana jika kau mau,"
Si Hyuuga memutar bola mata ketika Naruto baru saja menggodanya. Tapi tawarannya tidak dipungkiri membuatnya tertarik. Siapa tahu ia bisa menemukan lebih banyak buku-buku klasik yang jelas sangat membantu perkembangan tulisannya.
"Buku ini untukmu. Sebagai referensi tulisan yang sedang kau buat,"
Hinata terkejut. "Kukira kau meminjamkannya padaku,"
Naruto tertawa. Ia menyisir rambut pirangnya menggunakan jari. "Kau lebih membutuhkannya. Anggap saja hadiah,"
"Hadiah? Dalam rangka?"
"Haruskah hadiah diberikan hanya pada momen tertentu?" Senyumnya tampak menawan. Membuat Hinata jadi merasa sudah merepotkan. Pemuda ini sangat baik.
"Terima kasih, ya," ujarnya tulus. Sungguh.
Naruto tersenyum. Kali ini penuh makna. "Sebagai rasa terima kasihmu, kau harus makan malam denganku,"
"E-eh?"
"Tenang saja, aku akan bayar bagianku," cengirnya.
Hinata sedikit gelagapan. Yang ada di pikirnya bukan tentang siapa membayar siapa. Sasori. Bagaimana jika kekasihnya itu tahu ia pergi makan dengan seorang laki-laki. Hanya berdua.
Melihat raut wajah gadis itu yang kemudian berubah, Naruto tampak canggung sendiri. Apa ia tampak berlebihan? Pemuda itu mengusap tengkuknya lalu berkata, "Tidak masalah jika kau keberatan," dengan sedikit kekehan.
Sedangkan Hinata semakin bimbang. Naruto sudah sangat baik padanya. Pemuda itu hanya mengajaknya makan malam. Tidak berarti apa-apa. Akan sangat tidak sopan jika ia menolak. Lagipula mereka hanya teman. Jika pulang tepat waktu, maka Sasori tidak akan tahu.
Dengan cepat Hinata mengangguk dan mengatakan ia bersedia. Mengusir rasa kecewa yang sempat hadir dalam Naruto. "Tapi kau tidak perlu mengantarku pulang,"
Naruto membungkuk bak prajurit, "Dengan senang hati, Nona."
Lalu mereka tertawa.
an elegy
Waktu menunjukan pukul enam tigapuluh sore ketika mereka sampai di kedai Teuchi. Ramen adalah menu utama mereka. Salah satu favorite Naruto. Itulah mengapa ia mengajak Hinata kesini.
Sore itu kedai sedang ramai, meja yang tersisa hanya ada di outdoor dengan pemandangan yang cukup indah. Karena letaknya yang berada di puncak bukit, maka hamparan gemerlap lampu-lampu malam dari berbagai rumah dan gedung sangat memanjakan mata.
Itulah yang menjadi spot Hinata dan Naruto saat ini.
Si Hyuuga mencoba mengingat kapan terakhir kali Sasori mengajaknya makan malam dengan suasana seperti ini. Entah ada di memorinya atau tidak. Entah pemuda itu ingat atau tidak. Hinata tidak ingin berharap banyak.
"Bagaimana?" tanya Naruto dengan pandangan menuntut. Biru samuderanya mengintimidasi agar Hinata memberi kesan.
"Bagus sekali," komentar Hinata "Kau pasti sering mengajak pacarmu kesini,"
Naruto justru tertawa renyah. "Kalaupun pernah, aku sudah lupa kapan itu terjadi,"
Hinata melemparinya dengan tatapan bingung. Matanya membulat dengan alis mengkerut lucu. Naruto kembali tertawa, paham akan maksud tatapan itu. Tangannya kembali menyisir helaian pirang. "Apa aku terlihat seperti taken?"
"Kau bahkan tidak sama sekali terlihat single," jawab Hinata. Jujur saja. Perawakan Naruto yang bisa dikatakan goodlooking dan karismatik, pasti membuatnya digandrungi banyak kaum hawa. Jadi ia berpikir bahwa pemuda itu pasti memiliki kekasih.
"Kami sudah lama putus. Sejak saat itu aku belum berkeinginan mencari yang baru,"
"Masih cinta kah?"
"Tidak. Kami sepakat untuk menjadi teman baik,"
Hinata tersenyum mendengar cerita singkat yang Naruto utarakan. "Siapapun perempuan baru itu, dia sangat beruntung,"
Naruto mengedipkan sebelah mata. "Kau tampak tergiur."
Kepalan tangan Hinata meninju pelan bahu pemuda itu. Membuatnya tertawa keras hingga beberapa orang memperhatikan.
"Jangan mengada-ada,"
Pesanan mereka datang. Ramen pedas dengan satu porsi jumbo. Tentu itu milik Naruto. Sedangkan Hinata memesan dengan porsi paling sedikit. Karena ia tahu Sasori akan mengajaknya makan malam bersama di apartemen saat ia pulang nanti.
Tidak ada yang memulai percakapan selama mereka makan. Hiruk pikuk orang yang bercengkrama di sekeliling mereka tampak terdengar jelas. Hinata yang pada dasarnya tidak pernah berbicara ketika makan, kini sibuk dengan ramennya. Berbeda lagi dengan Naruto. Meski lapar menjalari perutnya dan porsi ramen yang sangat menggoda, ia tetap memiliki waktu luang untuk sekedar mengambil kesempatan melirik gadis di depannya.
Kenapa?
Naruto tidak merasa ada yang salah. Hinata tampak menarik, dan ia tertarik untuk melirik. Lihat saja ketika angin menggoyangkan anak rambutnya. Entah mengapa hal itu terlihat menyenangkan untuk dipandang. Naruto tersenyum lalu melanjutkan makan.
Sayangnya, Hinata menyadari itu.
Berbagai tanya melintas di kepalanya, namun meletakan sumpit lalu merapikan anak rambutnya yang menari kesana kemari menjadi pilihan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Mengundang kekehan kecil dari mulut Naruto.
"Kenapa dirapikan?" tanyanya ketika mereka sudah selesai.
"Apanya?" Hinata yang tengah membersihkan bibirnya dengan tisu justru kembali bertanya bingung.
"Rambutmu,"
"Oh, um... terlihat berantakan,"
"Tidak juga,"
Hinata mendelik. "Tapi kau menertawakanku,"
Naruto menaikan kedua alisnya tanda speechless. Apa gadis ini berpikir bahwa tadi ia menertawakan rambutnya yang berantakan? "Aku tidak menertawakanmu, Hinata."
"Lantas?"
Naruto justru menahan kurva yang nyaris terbentuk lebar di bibirnya. Ia hanya mengedipkan mata lalu berkata,"Tidak ada."
Gadis Hyuuga itu mengerucutkan bibirnya dan mendelik kesal. Naruto terkadang sangat tidak jelas. Ia melirik arlogi hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sebaiknya aku pulang,"
"Kenapa terburu-buru?"
"Aku harus menyiapkan makan malam,"
Baiklah. Sebagian dari diri Naruto seperti ada yang meninju. Entah siapa dan dimana tinjuan itu terasa. Ia seperti disadarkan dari amnesia panjangnya. Meski Hinata tidak secara gamblang mengatakannya, tapi Naruto dapat menduga untuk siapa Hinata menyiapkan makan malam, sementara ia sendiri baru saja makan malam.
"Biar aku antar,"
Gadis itu nampak terkejut. "T-tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri,"
"Kau yakin?"
"Tentu saja, lagipula kita sudah sepakat untuk tidak mengantarku pulang,"
Naruto hanya diam. Merutuki kebodohannya yang setuju untuk tidak mengantar gadis ini pulang.
Hinata tampak meronggoh tasnya dengan cepat. Tapi sayangnya, kepekaan milik Uzumaki Naruto memang perlu di perhitungkan ulang oleh Hinata. Tak apalah ia ingkar dengan omongannya sendiri dan kesepakatan mereka diawal. Hinata bisa saja marah akan hal ini—
Jrasss
—atau mungkin saja tidak.
"Semua ini kubayar, dan kau kuantar pulang. Tidak ada penolakan ataupun komentar."
Seperti magis yang menyerang tiap saraf di otaknya, dalam sekejap Hinata menurut. Ia beranjak dan memilih mengikuti pemuda itu saat lengannya ditarik. Hipnotis dari birunya mata Naruto seolah menyingkirkan tiap kata yang hendak Hinata utarakan. Ia tidak paham dan tidak mengerti. Atau lebih baik tidak berusaha mengerti sama sekali.
Meski gemuruh di dadanya mengatakan ia harus pulang seorang diri, tapi ia benar-benar tidak menolak ketika Naruto membukakan pintu mobil penumpang untuknya. Menyelipkan tanya pada diri sendiri akan hal itu. Tapi ia sendiri tidak menemukan celah untuk menjawab secara tepat.
Hingga mobil itu pergi meninggalkan café bersama rintik hujan yang mulai membasahi.
an elegy
Entah kegilaan apa yang sudah merasukinya, tetapi ia bertekad untuk mengantar pulang Hinata. Instingnya mengatakan ia harus. Ditambah semesta tampak sedang berpihak kepadanya dengan menurunkan hujan.
Gadis yang kini duduk di kursi penumpang itu hanya terdiam. Jika ditilik dari rautnya, Naruto berasumsi jika Hinata tidak marah—alih-alih justru terlihat gelisah dan sedikit khawatir.
Setidaknya jika gadis itu hendak berkomentar sekarang, ia bisa beralibi kalau hujan di luar bisa membuatnya basah kuyup.
"Dimana alamat rumahmu?"
Hinata menoleh dari diam panjangnya. Menatap ragu kearah Naruto. "Kau benar-benar ingin mengantarku pulang?"
Naruto mengangkat bahunya. "Sudah terlanjur setengah jalan," lalu menampilkan cengiran khas.
Setelah Hinata menyebutkan alamat apartemennya, pemuda itu melajukan kecepatan mobil sedikit lebih tinggi. Menembus aspal yang basah dan menerjang hujan. Ada banyak yang berseliweran di pikirannya saat ini. Pertannyaan-pertanyaan retoris yang sebenarnya tidak ingin dia pahami, tapi mendesak untuk dicari tahu.
Mengenai gelombang yang Hinata uarkan sejak kali pertama mereka bertemu. Kemudian berubah menjadi debar halus yang imajiner yang terlalu terasa. Padahal tidak ada komunikasi yang intim diantara mereka berdua. Hanya sekelebat dan sekilas. Semua serba puisi dan teman-temannya.
Bahkan ketika kenyataan bahwa gadis itu telah tertaut pun seperti tidak mengubah getaran-getaran yang terlanjur ia terima.
Untuk kali pertama, dalam sejarah hidupnya, seseorang menatapnya dengan mata yang penuh dengan angkara murka. Naruto tidak tahu dimana letak kesalahannya—oke, mungkin membawa Hinata lalu memulangkannya sedikit larut sudah membangunkan seekor singa.
Tapi yang ditelaahnya justru lebih dari itu.
Bagaimana ketika pintu apartemen Hinata ternyata tidak terkunci, uar-uar panik dari punggung gadis itu seperti dapat Naruto baca, sampai pemuda berambut merah dengan wajah tidak ramah menyapa mereka bedua.
Ada ketakutan mendalam dari suara Hinata ketika ia mengatakan, "K-kau sudah pulang, S-sasori-kun?
Ah. rupanya namanya Sasori.
Pemuda itu justru menyeringai. "Okaeri, Hime. Tampaknya habis bersenang-senang, diluar hujan pula. Romantis sekali," Lirikan matanya terayun pada Naruto. Menatap dengan sedikit memicing tidak suka. "Dengan siapa?"
"I-ini Naruto-kun. T-teman satu komunitasku,"
Naruto mengulurkan tangan sebagai perkenalan, "Uzumaki Naruto," yang tidak dihiraukan sama sekali oleh si rambut merah. Sasori justru menampilkan raut menyebalkan.
"Oh, jadi ini si Uzumaki Naruto itu?" pandangannya meneliti dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kalau saja kontrol diri Naruto jelek, bisa saja ia menghajar pemuda tidak sopan dihadapannya ini dengan satu tinjuan.
"Baiklah, Uzumaki. Terima kasih sudah mengantar Hinata dengan selamat,"
Belum sempat pemuda pirang ini membalas perkataannya, Hinata—yang terlihat ketakutan—ditarik paksa oleh Sasori lalu membanting pintu tepat di depan wajahnya.
Apa yang baru saja terjadi benar-benar membuatnya terkejut. Mungkinkah Sasori cemburu? Seposesif itukah? Cara bicaranya yang sarkas itu seperti menabuhkan genderang perang.
Tanpa berpikir panjang ia segera beranjak dari sana.
an elegy
Hari berikutnya Hinata absen dari pertemuan komunitas. Begitupun hari berikutnya lagi.
Naruto bertanya-tanya kemana gadis itu. Karena ia yang membawa pulang gadis itu terakhir kali. Mungkinkah ia tidak diizinkan oleh Sasori? Atau gadis itu sendiri yang menghindar darinya karena sudah membuat pertengkaran.
Tunggu. Toh, ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya mengajak Hinata makan malam lalu mengantarnya pulang karena hujan. Ia tidak melakukan hal berarti atau hal intim lainnya yang seolah-olah akan merebut gadis itu.
Ia menumpu tangan kirinya pada jendela kaca sedangkan tangan kanannya menggenggam segelas plastik kopi. Meneliti tiap manusia yang tertangkap indra penglihatnya. Siapa tahu diantara orang-orang itu ia menemukan Hinata. Mungkin ia harus minta maaf.
Naruto meronggoh saku celana ketika ponsel miliknya bergetar. Satu pesan masuk dari ibunda tercinta.
Bisakah kau mampir ke rumah dulu sebelum pulang, sayang? Ibu perlu bantuan. Ah, ya, sekalian titip belikan buah-buahan di supermarket biasa ya.
Naruto memutar bola matanya. Bantuan? Jangan sampai itu dijadikan alasan untuk membicarakan mengenai menantu dan cucu yang minggu lalu sudah mereka bahas. Bukan tidak ingin. Di usianya yang menginjak dua puluh enam tahun ini ia belum menemukan pasangan yang sekiranya mampu untuk ia jadikan istri. Ia pun tidak ingin terburu-buru.
Tapi Ibunya yang rempong itu selalu mendesak ingin segera menimang cucu seperti teman-temannya.
Setelah pamit dengan Kurenai untuk pulang lebih cepat, Naruto segera beranjak.
Sejak sudah bekerja, Naruto memilih untuk tinggal seorang diri. Apartemennya tidak jauh dari tempat komunitas, tapi cukup jauh dari kompleks rumah orang tuanya. Beginilah ia sekarang. Berebut jalan dengan pengendara lain yang juga baru pulang. Ramai.
Supermarket yang ibunya maksud berada dua blok dari gedung salah satu penerbit, yang mana disanalah Hinata bekerja. Naruto menyugar rambutnya kebelakang selagi menunggu lampu merah. Lantunan lagu milik The Script yang terputar di radio memenuhi ruang di mobilnya.
Diam-diam ia tersenyum. Mengingat si pengisi pikirannya untuk akhir-akhir ini. Apa ia sudah melakukan suatu hal yang berdosa? Gadis itu milik orang lain dan seharusnya ia tidak tertarik. Seharusnya pula mampu untuk disangkal—yang sebenarnya semakin ia sangkal, maka semakin jelas perasaan itu ada. Dan jika ibu dan ayahnya benar-benar ingin membicarakan perihal pernikahan, entah bagaimana ia membayang Hinata ada disitu.
Naruto memejamkan matanya sejenak. Apa ia sudah gila?
Bunyi klakson dari mobil di belakang membuat ia kembali membuka mata. Sedikit mendengus atas apa yang barusan ia pikirkan, lalu mulai melajukan mobil. Berusaha fokus dan membuang hal-hal tak masuk akal yang berusaha mempengaruhinya untuk merebut Hinata.
Naruto berbelok ke kiri lalu memarkirkan kendaraannya tepat di depan supermarket.
"Hinata?"
Suatu hal yang mengejutkan. Sangat mengejutkan, dan… menggembirakan? Entahlah.
Saat Naruto menyusuri konter buah, ia mendapati gadis itu tengah berdiri membelakanginya di konter daging sebelah. Hinata masih menggunakan setelan formal serta mengikat setengah rambutnya ke belakang. Naruto memperkirakan gadis itu baru saja pulang kerja.
Merasa namanya terpanggil, ia pun menoleh. Reaksi yang sama, Hinata juga tampak terkejut. "N-naruto-kun?"
Naruto segera menghampiri. "Kau kemana saja?"
Langsung kepada intinya. Naruto adalah tipe yang ceplas-ceplos dan inilah buktinya. Ia tidak ingin mengulur waktu dengan basa-basi. Pertanyaan dalam pikirannya perlu jawaban saat ini. Sedangkan yang ditanya tampak bingung.
"A-aku sedang kurang enak badan. Jadi..." Hinata tidak melanjutkan perkataannya, alih-alih mengangkat bahu. Memberitahu Naruto; kau tahu kan maksudku dalam tersirat.
"Umm, aku minta maaf," ucap Naruto. Ia mengusap tengkuknya canggung.
"Untuk?"
"Aku membuat kalian bertengkar,"
Setelah mengerjap dua kali—sedikit bingung dengan maksud Naruto, Hinata tertawa singkat. Tangannya memilah-milah daging dalam kemasan. "Tidak perlu minta maaf, Naruto-kun. Kau tidak salah,"
"Tapi pacarmu terlihat sangat tidak suka,"
"Dia memang begitu dengan orang baru. Justru sepertinya aku yang harus minta maaf. Dia sudah berlaku tidak sopan padamu," gadis itu menatapnya lalu tersenyum.
Satu lagi dari sekian hal akan Hinata yang membuatnya terkesan; sifatnya yang sangat rendah hati. Sasori adalah lelaki yang beruntung. Naruto sedikit menyeringai. "Bukan masalah. Jika aku adalah dia, mungkin akan berperilaku sama,"
Mereka berdua tertawa singkat. "Ah ya, aku belum mengatakannya padamu, terima kasih sudah mengantarku pulang, Naruto-kun," ujar Hinata.
Naruto tersenyum menawan. Hatinya tampak melambung. Diam-diam ia teliti wajah Hinata dari samping. Hidung mancungnya, bulu matanya yang lentik, pipinya yang chubby dan poninya yan—
—sebentar.
"Keningmu kenapa, Hinata?" Naruto melihat sebuah perban di pelipis gadis itu yang tertutup poni. Saat akan menyentuhnya, gadis itu segera menepis lalu berjalan sedikit lebih cepat.
"K-kau sedang apa disini, Naruto-kun?"
Bukannya menjawab, Hinata justru tampak mengalihkan. Belum lagi mata teduhnya yang berputar kesana kemari.
"Mencari beberapa buah pesanan ibuku." Jawabnya. "Hinata, boleh aku bertanya?"
"Ya?"
"Keningmu kenapa?" kali ini dengan sebuah penekanan. Meminta Hinata untuk menjawabnya.
"T-terantuk buffet saat sedang memasak di dapur. K-kurasa itu hal yang wajar, 'kan?"
Naruto terdiam sejenak. Bukankah terantuk hanya akan membuatnya tampak benjol? Kenapa pula harus di perban? Kecuali jika Hinata dengan sengaja menghantam pelipisnya berkali-kali hingga berdarah.
"Boleh kulihat?" dengan sedikit memaksa, Naruto memutar tubuh Hinata agar menghadapnya.
Pemuda itu mengerutkan kening. Menahan rasa terkejut dan rasa ingin meledakan tanya beruntun pada Hinata. Jika dilihat secara detil, rahang kanan gadis itu tampat sedikit bengkak. Belum lagi sudut mata kirinya sedikit membiru. Sekilas mungkin tidak terlihat, namun jika ditilik dari dekat, itu tampak jelas.
Semua ini karena Hinata terantukkah?
"Kau... kenapa?"
Di matanya Hinata tampak gelagapan. Berusaha melepas pegangan tangan Naruto pada bahunya dan melangkah kebelakang. Menghindari tatap pemuda itu yang memaksanya untuk menjawab. Tangannya sibuk memilih belanjaan yang akan dibelinya secara acak.
"A-a..."
Ponsel Hinata bergetar. Sebuah angin segar menerpa jantungnya yang kini berdegup kencang. Ia segera mengangkat. "Ya, halo, Tayuya-san?... sudah kuperbaiki... memang belum kau terima? Aku sudah mengirimnya sejak siang… baik, akan ku email ulang... ya, sama-sama, Tayuya-san,"
Setelah menyudahi pembicaraan itu, Hinata menatap Naruto. "A-aku harus segera pulang. Sampai jumpa lagi, Naruto-kun,"
Setelah mengatakan itu, Hinata mendorong trolinya menjauhi Naruto dengan sedikit tergesa. Mungkin panggilan pekerjaan dadakan. Meninggalkan pemuda itu dengan pertanyaan yang lebih banyak lagi. Memenuhi tiap ruang di kepalanya. Memaksa untuk mendapat jawaban namun ia tidak mendapatkannya.
Sedangkan Hinata meluruhkan napasnya yang sejak tadi tercekat. Dadanya terasa berat. Ada rasa gelisah dan takut. Bercampur hingga membuatnya tidak nyaman. Ia berharap Naruto tidak membahasnya secara lanjut jika mereka bertemu lagi di lain waktu, di kelas komunitas misalnya. Karena jika iya, Hinata tidak memiliki alasan lain yang sekiranya dapat dipercaya.
Ia mengelus singkat perban di pelipisnya. Vas bunga, ujung sofa, telapak tangan, hingga umpatan. Masih begitu jelas di ingatannya. Teramat jelas. Tidak tahu akan hilang atau tidak.
Drrtt
Drrtt
Hinata yang sedang menunggu antrian kasir membuka pesan masuk di ponselnya.
Diluar hujan deras. Tunggu 10 menit, nanti kujemput.
Tentu saja itu dari Sasori. Setelah membalas pesan tersebut Hinata segera menyelesaikan transaksi berlanjaannya.
Intensitas hujan sedang tinggi untuk beberapa hari kedepan. Mengharuskan setiap individu untuk menggunakan pakaian yang sesuai. Tapi tidak dengan Hinata. Pada dasarnya ia mencintai hujan. Ia tidak perlu repot-repot menggunakan mantel hujan ketika ia bisa dengan sengaja membiarkan ribuan tetesan itu membasahi tubuhnya.
Pandangannya lurus pada langit. Menghalau rasa ngilu pada rahangnya karena mendongak.
Tepat 10 menit setelahnya Sasori datang. Menyampirkan jaket yang ia gunakan pada Hinata. Tanpa banyak bicara ia menuntun gadis itu untuk masuk kedalam mobil dengan segera.
"Pakai ini."
Sasori menyodorkan kantung plastik putih pada Hinata. Gadis itu mengernyit bingung ketika melihat isinya. Mata teduhnya melirik sang kekasih. "Ini apa?"
"Tadi aku mampir ke apotek. Itu obat serta salep untuk mengobati bengkakmu," jawabnya tanpa memandang Hinata. Kedua tangannya memegang kemudi sedangkan matanya memandang lurus kedepan. Raut wajah itu nampak melentur meski nada suaranya masih terdengar ketus.
"Untuk pemakaian dan waktu minumnya, kau bisa baca aturan yang tertulis."
Hinata terdiam. Atensinya kembali pada isi kantong plastik tersebut.
"Terima kasih," ucapnya lirih.
Pemuda itu mulai melajukan mobilnya. Menembus hujan dengan wajah yang tidak ramah. Meski begitu Hinata tahu Sasori sudah melunak. Selalu begini. Pola yang selalu sama.
Disamping itu, Naruto ada disana. Menenteng belanjaannya dengan sepasang biru yang tidak lepas memperhatikan kepergian mobil hitam milik Sasori.
.
Yang kulakukan hanya bersimpuh
Menyembah dan menjadi hamba
Rotasi dari alur cerita Tuhan seperti lelucon
Pahit,
lalu menjadi manis
Serta janji adalah janji
Memang tidak selalu tepat
Tetapi yang kerap kali terjadi memang keingkaran
.
an elegy
"Sepertinya dia tertarik padamu,"
Ia menoleh dengan terkejut.
"Kenapa bisa berpikir begitu?"
"Memangnya tidak terlihat, ya? Menurutku sih sudah sangat jelas,"
"B-bisa saja dia memang seperti itu. Bukan berarti tertarik, 'kan?"
Ino memutar bola matanya. Jarinya yang panjang membalik halaman buku yang—sepertinya—sedang ia baca. Punggungnya menempel pada tembok. Menghadap Hinata yang sedang menulis sesuatu pada buku catatannya, sedang didepannya kamus bahasa terbuka lebar.
"Kau bilang begitu karena kau sudah punya pacar, Hinata."
Gadis Hyuuga itu memandangnya tidak mengerti. "Lalu?"
Ino menarik lalu menghela napas. Mencoba memberikan energi bagi dirinya sendiri untuk menghadapi perempuan yang tidak peka di hadapannya ini. "Sudah, intinya adalah; dia menyukaimu. Titik."
Hinata tampak bingung dengan alis mengkerut. Pertama, kenapa secara tiba-tiba dan random Ino mengatakan hal itu? Kedua, apakah itu benar?
"Jangan mengada-ada, Ino -chan. Mana mungkin Naruto-kun menyukaiku,"
"Tentu saja mungkin, Hinata..."
Oke. Bisa dikatakan Ino ini sedang cepu. Meski apa yang ia katakan barusan, tidak pernah ia dengar secara gamblang dari Naruto kalau pemuda itu menyukai Hinata. Memang bisa dibilang ia seperti sedang mengada-ada. Tapi, hei, yang merasa demikian bukan hanya dirinya seorang.
Hampir seluruh komunitas tahu kalau pemuda itu menyukai Hinata, bahkan seorang Kurenai. Tanpa peduli jika gadis ayu itu sudah memiliki pawang. Mereka semua kerap kali melempar candaan serta godaan yang mengaitkan mereka berdua. Pemuda pirang itu tentu saja salah tingkah. Hinata? Melenggang dengan cuek.
"Coba kau perhatikan. Cara dia memandangmu, cara dia perhatian padamu, gelagatnya ketika berinteraksi denganmu. Memangnya kau tidak sadar?"
Hinata mencoba mengingat. Kini setelah Ino mengatakannya, yang selama ini Naruto perbuat jadi terkesan memang berbeda.
Tidak jarang Hinata mendapati pemuda itu tengah melirik atau memandangnya, lalu segera berpaling ketika ketahuan. Pernah sekali waktu saat hujan turun dengan deras dan Hinata lupa membawa payung, ia menunggu bersama gadis itu sembari membolak-balik buku di genggamannya.
Masih hujan, begitu katanya saat Hinata bertanya kenapa tidak pulang, yang pada akhirnya membuat pertanyaan besar menggantung di kepala Hinata ketika tahu ternyata pemuda itu membawa mobil.
Well, kalau saja Hinata tahu alasan sebenarnya adalah; ia tidak berani mengantarkan Hinata pulang karena takut memicu pertengkaran seperti sebelumnya. Maka ia beralasan menunggu hujan.
Alibi dalam modus.
"Kau terlalu lama berpikir, Nona," sela Ino.
"T-tapi bisa saja itu tidak berarti apapun,"
Ino menghela napasnya sedikit kasar. Lelah juga meyakinkan gadis ini, pikirnya. Lagipula ia hanya berusaha menyomblangkan keduanya. Perihal Hinata sudah berpawang atau belum itu tidak jadi masalah. Ia hanya mengikuti kata hati jika mereka tampak serasi satu sama lain.
Begitulah Ino.
"Ya sudahlah. Suatu saat kau akan tahu." Ujarnya setelah menutup buku yang ia baca lalu melenggang pergi. Bergabung dengan yang lainnya.
Meninggalkan Hinata dengan perasaan yang campur aduk. Tak bisa ia urai. Justru semakin kusut.
an elegy
"Sudah sembuh?"
Naruto bertanya di satu kesempatan saat mereka tengah berdiskusi mengenai progress puisi Hinata. Sakura sedang membahas perihal novel yang sedang dibuatnya pada Kurenai, sedangkan yang lainnya sibuk dengan pembahasan masing-masing yang ia sendiri tidak tahu apa.
Hinata menghentikan kegiatan menulisnya, lalu mendongak perlahan. Menatap sepasang biru meneduhkan. "Apanya?"
"Keningmu,"
Dalam hati Hinata mengutuk. Sudah hampir dua minggu yang lalu dari pertemuan mereka di supermarket. Sejak itu pula perlahan bengkak dan luka pada keningnya mulai menghilang. Mungkin Naruto menyadari ketiadaan perban dari pelipisnya.
Hinata tersenyum. "Sudah mendingan,"
Naruto mengangguk. Matanya tidak lepas dari Hinata. Ingin sekali ia mengutarakan perihal luka di keningnya. Kenapa dan bagaimana. Namun jika mengingat kembali respon Hinata kala itu, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Gadis itu sepertinya tidak nyaman. Entah karena apa.
Ia diam. Hanya memperhatikan Hinata yang sibuk menulis dan membolak-balikan halaman pada kamus bahasa. Ketekunannya terhadap puisi yang ia buat patut untuk di berikan apresiasi. Akan selalu ada puisi-puisi baru setiap minggu, yang mana hampir keseluruhannya bernada kelam.
Sekali waktu ia pernah bertanya, dan jawaban gadis itu membuatnya mengangkat alis tinggi-tinggi. Aku menulis apa yang aku rasa, aku lihat dan aku pahami. Kalau terkesan kelam, ya... mungkin representasi yang sebenarnya. Meski setelahnya Hinata tertawa kecil setengah bercanda, tapi Naruto seperti menangkap kalau gadis itu sedang jujur.
Naruto menopang dagunya.
Hinata itu penuh misteri. Sikapnya sederhana namun kadang gelagatnya menimbulkan pikiran yang berlebihan. Apa karena Naruto menyukainya hingga terkesan berlebihan, atau memang gadis itu menutupi sesuatu? Mata birunya kemudian melirik puisi yang sedang direvisi oleh penulisnya.
"Hinata?"
"Ya," jawabnya tanpa mendongak.
Naruto tampak tidak yakin. "Aku ingin bertanya, tidak dijawab juga tidak apa-apa,"
"Apa puisi yang sekarang kau buat ada kaitannya dengan luka di keningmu tempo lalu?"
Hinata diam. Gerakan pulpen yang sedang ia lakukan seketika terhenti. Bahkan kata yang ia tulis belum sempurna. Semua itu tertangkap indra penglihat Naruto. Perubahan dan gelagat yang sangat misterius. Rasa penasaran membuncah ruah dalam benaknya tapi Naruto tidak ingin gegabah untuk menubruk Hinata dengan pertanyaan beruntun.
Apa Naruto berlebihan?
Semua orang berlebihan jika sudah menyangkut hati, bukan?
Hinata mendongak perlahan. Mengamati seksama wajah di hadapannya. Bibirnya terkatup rapat dan lidahnya kelu untuk bicara.
"Aku sudah bilang, tidak dijawab juga tidak apa-apa,"
Naruto tersenyum sedangkan Hinata masih menatapnya serius.
"EKHM!"
Keduanya tersentak lalu menoleh ke sumber suara. Yamanaka Ino. Siapa lagi selain perempuan itu. Membuyarkan mereka semua yang sedang berdiskusi untuk tertuju padanya seorang. Sedangkan si pelaku pirang hanya mesem-mesem tidak jelas.
"Kok, cuma lihat-lihatan? Tanggung, sudah dekat sekali,"
Hinata yang pipinya memerah segera menunduk. Sedangkan Naruto mengusap tengkuknya salah tingkah. Mana kini semuanya melihat ke arah mereka berdua. Ino itu bukan hanya merusak suasana, tapi juga mempermalukannya.
"A-apa sih?"
"Tidak usah sok, ya, wahai Uzumaki. Aku memperhatikanmu sejak tadi," dengan lantang Ino berbicara. Membuat keduanya memerah seperti kepiting rebus.
"Memperhatikan apa?"
"Perlu diperjelas?" Ino menyeringai seram. "Tentu saja matamu yang terus-terusan melihat kearah Hinata,"
Perempuan itu sungguh berbahaya, pikir Naruto.
Sementara itu ruangan kembali riuh. Ada yang berdehem-dehem seperti baru saja menelan serangga, ada yang bercie-cie dengan wajah minta ditonjok, ada pula yang senyam-senyum tidak jelas seperti ketahuan sudah buang angin. Ingatkan Naruto untuk berterima kasih pada Ino setelah ini. Terima kasih sudah membuatnya malu.
Hinata sendiri sudah merah sampai telinga.
Ditengah keramaian yang dibuat Ino, tiba-tiba pintu utama terdengar seperti digedor-gedor secara brutal oleh seseorang. Mereka semua lantas kembali terdiam. Fokus pandang mereka berubah ke arah pintu utama. Mungkin pintu itu akan hancur jika saja Sakura tidak berlari untuk segera membukanya.
"Maaf, mencari siapa ya?"
"Dimana Hinata?"
Sambil mengerutkan kening tidak suka, Sakura kembali bertanya sewot, "Kau ini siapa?"
"Kubilang, dimana Hinata!?"
Mendengar suara bentakan dari seseorang yang entah siapa, berpasang mata menatap Hinata pernuh tanya. Sedangkan yang ditatap panik luar biasa dan segera berlari ke sumber suara.
Sasori.
Benar saja. Pemuda itu berdiri dengan wajah dan mata yang memerah marah di depan pintu. Hinata menghampirinya dengan rasa tidak tenang. Gemuruh di dadanya membuat pikirannya tidak berjalan dengan baik.
"A-ada apa, Sasori-kun?"
"Ikut aku!"
Tanpa persetujuan, lengannya dicengkram lalu ditarik paksa oleh Sasori. Menggiringnya menjauh dari ruang utama ke halaman depan yang sekiranya sepi.
Tubuhnya dihempas ke tembok hingga Hinata mengaduh. Punggungnya terasa nyeri luar biasa. Apalagi sekarang?
"K-kau ken—"
Plak
Perih. Pipinya terasa perih dan panas.
"Itu ganjaran atas apa yang sudah kau perbuat,"
"Aku salah apa?"
"Masih bertanya kau, bodoh!?"
Plak
Sekarang pipi yang berbeda. Nyeri di keningnya belum hilang kini Sasori ingin mencetak mahakarya baru.
"Sudah kubilang berhenti mencampuri urusanku!"
Rahang gadis itu dicengkram kuat dan memaksa Hinata untuk menatap Sasori yang tengah murka. "S-sakit,"
"Kau kemanakan barang miliku?" Sasori menggeram tepat di telinga Hinata.
"Barang a-ap—"
"Jawab!"
Hinata bergetar. Seharusnya ia tidak sebodoh itu. Karena lambat laun Sasori akan tahu. Jika sudah begini ia hanya akan menjadi samsak hidup bagi kemarahan kekasihnya. Meski yang Hinata lakukan pun demi kebaikan pemuda itu.
"K-kubuang ke tempat sampah belakang,"
"Bodoh!"
"K-kumohon. Itu karena aku menyayangimu,"
"Tapi tidak dengan mencampuri urusanku, paham?"
Sasori menghentakan cengkramannya pada rahang Hinata, membuat gadis itu terhempas cukup kencang ke dinding di belakangnya.
"Sekali lagi kau mengulangi..." tatapannya begitu tajam. Menembus mata Hinata yang mulai berkaca, "Aku tidak akan mengampunimu,"
Sebelum Sasori benar-benar pergi dari sana, ia sempatkan untuk mencium ubun-ubun gadis itu meski sedikit kasar. Lalu segera pergi sebelum ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Sepeninggal kekasihnya, Hinata yang mulai menangis pilu. Tubuhnya merosot jatuh. Tak lagi mampu menopang. Punggungnya terasa nyeri. Rahangnya kembali mengilu. Belum lagi pipinya yang masih terasa panas oleh tamparan keras Sasori.
Mengutuk kebodohannya dari segala aspek. Bahkan dalam konteks mencintai seorang Akasuna Sasori. Mungkinkah rasa itu masih ada? Atau hanya terbiasa dengan keadaan sehingga menyimpulkannya seolah rasa itu masih ada? Entah. Hinata sendiri tidak tahu.
Tanpa Hinata sadari, seseorang bersembunyi. Mendengar setiap percakapan. Lalu tetap setia disana meski yang ia dengar kini hanya sebuah isak tangis yang terasa mengiris. Tangannya menggeggam erat sebuah kertas yang kini terlihat sedikit lecak. Sorot matanya tak terbaca.
Kini ia paham. Teramat paham.
Dibalik nada kelam yang tercipta. Bahkan yang kini berada ditangannya.
Maka pertanyaan baru muncul pada ruang keingintahuannya, kenapa gadis itu bertahan?
.
Luka...
Aku terluka seorang diri
Tiada atma yang rela untuk melindungi
Rasa yang mati
Pilu dan lara dalam hati
Mana kutahu jika hidup adalah neraka yang tak pas—
.
.
.
.
.
To Be Continued
Notes :
Cerita tetap di teruskan dengan nekat walaupun ide agak kesendat-sendat karena satu dan lain hal :D
Buat yang sudah mempir, yuk tinggalin reviewnya. Sekedar mengoreksi juga boleh.. semoga kalian suka..
Salam,
woodvale
