My Youth

.

Chapter : 3

Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto

Pairing : Kiba/Ino

.

.

Please don't be in love

With someone else

Please don't have somebody

Waiting on you

.

Taylor Swift~Enchanted

.

.

Suasana rumah makan malam itu ramai, tak memberi Kiba kesempatan untuk sekedar mengistirahatkan punggung sebentar. Rasa nyeri mati-matian ditahannya, demi memberi pelayanan yang terbaik untuk para pelanggan. Dia bersama pelayan yang lain mondar-mandir mengantar pesanan sekaligus mencatat pesanan pelanggan lain. Beginilah kesehariannya usai kuliah yang melelahkan, sebab mengharapkan kiriman uang dari orang tua kadang tak cukup. Ia harus menyokong keuangannya dengan usaha sendiri.

"Pelayan."

Seseorang melambai ke arahnya, Buru-buru ia mendekati meja tersebut. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Tambah jus stroberi satu, jus melon dua dan tolong onigirinya tambah dua." Kata si wanita paruh baya, dia bersama dua anak dan suaminya sepertinya tengah menghabiskan waktu malam minggu yang menyenangkan.

"Baik Nyonya, pesanan anda akan segera datang." Usai mencatat pesanan, Kiba berjalan ke arah dapur. Menyerahkan kertas tulisannya ke arah salah satu koki disana.

"Kau kelihatan lelah sekali Ko-inu." Pak Yamato, kepala koki disana menyapanya sembari menepuk pundaknya. "Kuliahmu lancar?"

"Yeah, tentu saja."

"Bagaimana pacarmu? Kau lama tak mengajaknya kemari."

Kiba menghela napas, "oh ayolah Pak, aku kesini untuk bekerja bukan untuk kencan."

"Oke, oke," dia tertawa, "kau tak perlu marah begitu."

"Aku nggak marah," dia berlalu dari dapur, "aku harus kembali bekerja Pak." Paling tidak ia perlu 2 jam lagi sampai shift nya benar-benar selesai.

Yamato tertawa pelan, melihat semangat bocah Inuzuka itu. Kiba sudah bekerja di tempat itu sekitar empat bulanan, jadi ia sedikit paham kepribadian anak itu. Tidak jarang juga mereka saling bertukar pengalaman, dan Kiba bilang berteman dengan orang yang lebih dewasa memang banyak manfaatnya. Yeah, benar. Bocah dua puluh tahunan seperti dia pasti belum mahir menghadapi dunia, dia perlu banyak pengalaman untuk bisa membedakan jalan yang baik dan jalan yang menjerumuskan ke hal yang tidak diinginkan.

.

.

Usai mandi air hangat dan mengenakan piyama, Kiba hendak merebahkan diri di atas tempat tidur. Rasa lelah dan kantuk yang melebihi batas membuatnya tak sanggup melakukan aktivitas lain. Lagi pula ini sudah pukul setengah sebelas, ia harus bangun pagi besok dan memulai aktivitas yang berat lagi. Namun, ponsel di atas nakas yang tampak berkilau karena sinar lampu tidur membuatnya teringat dengan Ino. Apa gadis itu sudah tidur sekarang?

Anehnya, ketika memegang ponsel itu, ia merasa memiliki kekuatan lagi dan kantuk nya sedikit hilang. Apa coba telfon saja ya. Tak perlu waktu lama, sebab dari dering pertama panggilannya langsung terjawab.

"Halo," suara Ino agak diliputi rasa kantuk, dan seolah berusaha keras menutupinya. "Kiba, ada apa?"

"Cuma mau dengar suaramu," Inuzuka muda tersenyum tipis, "maaf mengganggu, kau pasti sudah tidur ya tadi."

"Lebih tepatnya ketiduran." Tawa pelannya mengalun menghangatkan malam yang dingin. "Aku sedang mengerjakan tugas, belum selesai dari tadi sore. Benar-benar membuatku pusing."

"Kau nggak lupa makan kan?"

"Eh? Mmm... "

"Belum makan ya?" Kiba mendesah, Ino sering begitu. Sering lupa waktunya makan jika tengah serius mengerjakan sesuatu. Ia mengerling jam weker di atas nakas, ini terlalu malam bagi gadis seperti Ino untuk keluyuran cari makan sendirian. "Tunggu sebentar."

"Eh? Maksudnya?"

.

.

Sudah nyaris pukul dua belas malam, ketika ia berdiri di depan kamar kos Ino. Berpikir beberapa kali untuk mengetuk pintunya atau malah pergi saja karena takut menganggu tidur gadis itu. Tapi tanggung sekali, ia sudah sampai sini. Sudah beberapa minggu ia tak melihat gadis itu karena kesibukan masing-masing, mereka hanya sempat video call atau berkirim pesan yang durasi waktunya juga singkat.

Dengan keberanian yang setengah terkumpul di ujung jarinya, ia akhirnya mengetuk pintu tersebut.

Butuh beberapa waktu untuk membuat si penghuni membukakan pintu. Ketika melihat Ino untuk pertama kalinya Kiba merasa lega, sekaligus menyesal karena ekspresi ngantuk berlebihan si gadis.

"Kiba?" Matanya melebar, menampakkan biru muda matanya yang indah. "Ini beneran kamu?"

"Yeah," Cowok itu mengulurkan tas plastik bening berisi beberapa kotak makanan, "beberapa hari lalu kau bilang ingin makan yakitori dan takoyaki."

Ino terdiam beberapa saat, menghela napas panjang melihat kelelahan yang menggantung di wajah lelaki itu. Pelan ia menarik tangan Kiba, "ayo masuk."

Setelah pintu tertutup, fokus pandang Kiba teralihkan pada buku-buku yang terbuka di atas meja belajar. "Kau seharusnya istirahat, kenapa malah ngajak aku masuk?"

"Kangen." Dia meletakkan makanan dari Kiba ke atas meja yang lain, lalu bergerak merapikan buku-bukunya yang berantakan. "Kamu tengah malam kok nekat kesini sih?" Tempat kos Kiba yang berada di Tokyo dan kosnya yang berada di Yokohama tak bisa dianggap dekat. Apalagi ini kunjungan dadakan tengah malam.

"Aku nggak tahu kenapa bisa senekat ini." Ia tertawa pelan, sementara Ino justru mengerutkan kening heran. "Cuma khawatir, kau harus makan tepat waktu."Tulang punggungnya rasanya mau patah, belum lagi beban yang disangga kaki lelahnya. Rasanya ia ingin berbaring saat itu juga saat melihat ranjang Ino yang rapi dan tampak nyaman.

"Kau tadi sudah menyampaikan pesan itu lewat telfon," ia menghela napas panjang, "kau naik apa kesini?"

"Taksi, masih menunggu di luar. Jadi aku nggak bisa terlalu lama."

Rasa hangat menyebar dalam dada, belum pernah ada cowok yang malam-malam melakukan perjalanan lintas kota hanya perkara membawakan nya makanan karena takut ia tak makan. Benar-benar deh Kiba ini.

"Tolong dimakan ya, kalau sampai sakit nanti yang rugi juga kamu sendiri."

Meski kalimat itu sedikit dibumbui dengan humor, ketulusan yang terbersit membuat hatinya tersentuh. "Iya, pasti ku makan. Kau jadi mirip ayahku."

"Aku kan calon pendamping hidupmu, jadi aku bisa lebih protektif daripada ayahmu."

"Masa?" Ino tertawa ketika Kiba malah gemas mengacak rambutnya.

"Aku harus kembali sekarang, besok harus kuliah. Berangkat pagi."

Ino tahu Kiba lelah, semua terekspos jelas di ekspresi wajahnya. Tapi ia juga tak ingin kebersamaan ini cepat berlalu. Jadi ketika mereka berdiri bersisian di ambang pintu, tanpa aba-aba ia justru berjinjit dan mencium pipi Kiba. Pemuda itu agak terkejut, sebelum akhirnya tertawa bercampur heran.

"Kau ngapain?"

Dengan pipi bersemu merah yang tak mampu ditutupi, Ino bergumam, "pipimu dingin sekali."

"Iya, butuh kehangatan ini."

Ino memukul pelan lengan si pria, dan akhirnya ikut tertawa.

"Aku kembali ke Tokyo ya, jangan terlalu memforsir diri. Kalau capek ya istirahat."

"Iya, iya tahu." Ia diam sejenak. "Hati-hati ya Kib."

"Pasti."

Ino tak mampu mengalihkan tatapan dari punggung Kiba yang berjalan semakin menjauh. Ia seperti berada dalam mimpi, Kiba datang mendadak dan pergi dengan cepat. Membuatnya sulit percaya jika ini nyata.

.

.

Kiba nyaris tersedak ketika Naruto yang datang tiba-tiba menepuk pundaknya saat ia tengah minum. Menjengkelkan. "Astaga Bro, kenapa sih kau ini?"

Peluh di pelipis Uzumaki menetes turun, dan ia cuma tersenyum bersalah. "Sorry." Dia ikut duduk berselonjor di tepi lapangan futsal, dan cuma mengamati beberapa anak yang masih berebut bola meski permainan sudah usai.

"Habis ini kau langsung kembali ke Yokohama?"

Naruto mengangguk, "aku numpang mandi di kosmu ya. Boleh kan?"

"Tidak."

Lagi-lagi Naruto menepuk pundaknya, "pelit sekali."

"Kau kan bisa mandi di toilet umum." Inuzuka tertawa melihat ekspresi si lawan bicara, padahal ia cuma bercanda tapi Naruto malah mengartikan sebaliknya. "Ya Tuhan, aku cuma bercanda. Kita kan teman sejak SMA, masa kau nggak tahu kalau aku suka bercanda."

"Aku tahu kau bercanda, aku hanya sedang teringat sesuatu." Ia diam sejenak ketika Kiba tak merespon apa-apa. "Man, kau putus dengan Ino ya?"

"Apa? Nggak? Siapa yang bilang begitu?"

Kali ini ia mengira Kiba justru bercanda, "tapi aku melihat Ino sering jalan bareng cowok lain, dan cowoknya selalu sama. Aku yakin itu Ino, rambut pirangnya nggak bisa bohong." Ia menatap ke depan tak terlalu memperhatikan si teman bicara. "Kalau memang sudah putus bilang saja sudah, kau takut aku mengejekmu ya."

Kiba tak menjawab, ia justru penasaran Naruto ini sekedar memanasinya atau bagaimana? "Maksudmu apa sih? Aku belum putus dari Ino. Memang yang rambutnya pirang cuma Ino saja ya?" Meski memilih jurusan yang berbeda, Naruto dan Ino sama-sama menempuh pendidikan di Yokohama University. Opsi kedua setelah mereka tak diterima di Todai.

Kini giliran Naruto yang menatap Kiba dengan kernyitan di kening. "Aku nggak salah lihat kok, itu memang Ino."

Lama ia tak menyahut, mungkin Naruto salah mengartikan saja. Barangkali itu bukan Ino, atau itu memang Ino hanya saja si cowok cuma teman satu organisasi. Yeah, pasti begitu.

.

.

"Ku antar ke kos mu."

Ino mengerling sosok lelaki yang berjalan di sebelahnya, dan mendapati pria itu menenteng tas plastik berisi kotak makan. "Kos ku dekat kok, nggak usah diantar."

"Nggak apa-apa, sekalian memastikan kau makan dengan benar."

Sudah beberapa minggu ini Sasori berusaha mendekatinya, entah bagaimana awalnya, tapi pria itu selalu mencari kesempatan untuk bisa berdua dengannya. Awalnya Ino kira sikap humble nya cuma sekedar sikap baik seorang teman, tapi lama-lama ini rasanya sudah tidak wajar. "Aku pasti makan dengan benar kok." Ia tak mau dikira judes, lagi pula yang naksir Sasori itu banyak tapi kenapa malah ia yang jadi sasaran. "Kiba juga nggak pernah absen mengingatkan." Ekspresinya langsung berubah masam tiap kali ia menyebut nama Kiba. Sejujurnya, kalau masalah visual, Sasori jauh melampaui Kiba. Dia ganteng, tipe-tipe pemuda flamboyan yang digandrungi banyak cewek. Tapi ada sebagian diri Kiba yang tidak bisa ditukar dengan visual memukau milik Sasori.

"Cowokmu kan nggak bisa memastikan kau makan atau nggak, kau bohongi juga dia nggak bakal tahu."

"Ya aku berusaha nggak bohong lah." Maniknya menatap lurus trotoar yang tampak agak lengang di jam seperti ini, padahal belum terlalu malam.

Tak ada yang mulai bicara, keduanya hanya saling melangkah berdampingan sembari menikmati hembusan angin malam musim gugur yang lumayan menusuk tulang. Kalau saja Sasori tahu, ia sudah ingin lari dari sana.

"Ya sudah, ini untukmu." Ia mengulurkan tas plastik itu pada Ino. "Makan yang benar biar nggak sakit."

Kalau tidak diterima kesannya ia terlalu sombong, diterima pun kesannya juga tidak membuatnya lega. Namun demi menghargai si pemberi, Ino menerimanya. Tetangga kos nya yang lain pasti akan senang diajak makan enak seperti ini. "Terima kasih banyak. Tapi seharusnya kau tak merepotkan diri seperti ini."

"Nggak repot kok." Sasori menatap Ino lekat-lekat, sebelum memutuskan untuk melangkah pergi. "Ya sudah, aku pergi dulu. Sampai jumpa besok."

Ino tak menyahut, hanya terdiam menatap punggung si pria yang kian menjauh dari tempatnya. Sasori itu teman satu jurusannya, cowok asal Kyoto yang punya banyak penggemar cewek. Bahkan kalau dia mau, dalam satu bulan gonta-ganti cewek pun bisa. Tapi anehnya, malah ia yang jadi sasaran, padahal Sasori juga tahu kalau ia sudah punya pacar.

.

.

Langit agak mendung ketika Kiba turun dari bus, titik-titik gerimis membasahi kemejanya saat langkahnya yang agak terburu-buru menuju ke trotoar. Rasanya ia tak punya banyak waktu, tapi nekat sekali datang ke Yokohama demi memberikan kue ulang tahun dan buket bunga mawar merah untuk Ino.

Ia membayangkan malam yang romantis, dengan sang pujaan hati. Paling tidak sampai tengah malam. Tapi sayangnya, si bos menyuruhnya untuk menggantikan shift Chouji sore itu. Nenek Chouji meninggal, yeah bukan musibah yang diharapkan, dan bocah itu beserta keluarganya harus pergi ke Osaka untuk pemakaman sang nenek. Dan jadilah Kiba yang kena imbasnya, padahal sudah jauh-jauh hari ia meminta libur di hari ulang tahun Ino supaya bisa menghabiskan waktu bersama. Lalu berakhir menjengkelkan seperti ini. Rasanya ia ingin mengumpati seluruh dunia.

Ketika berbelok ke tikungan, setapak jalan kecil membawanya ke kos Ino. Ia yakin Ino masih belum pulang dari kampus, jadi ia sengaja mengetuk pintu rumah Nyonya Ayume, si pemilik kos, yang ia kenal cukup akrab (ini karena ia sering meminta ijin ke wanita itu tiap kali menjemput dan mengantar Ino pulang saat kencan singkat mereka). Agak lama menunggu sampai sosok wanita berusia sekitar lima puluhan membukakan pintu. Wanita itu berambut sebahu, tampak ramah dengan senyum tipis dan mata yang selalu berbinar.

"Kiba?" Ekspresinya agak terkejut, apalagi melihat tas kertas besar yg ditenteng Kiba beserta buket besar mawar merah, yeah dia pasti tahu itu buat siapa. "Ino belum pulang ya?"

Kiba mengangguk, mengulas senyum agak bersalah karena menganggu kegiatan apapun yang mungkin dilakukan wanita itu saat ini. "Saya minta maaf karena menyita waktu anda. Saya mau titip ini untuk Ino."

"Pacar yang romantis."

"Dia ulang tahun hari ini, tapi bos menyuruh saya menggantikan shift seorang teman. Jadi, yeah... saya terpaksa harus kembali ke Tokyo." Ia mengulurkan kue dan bunga pada Nyonya Ayume, dan tiba-tiba bingung harus bicara apalagi.

"Tidak apa-apa Kiba, Ino pasti senang kok. Kau sudah jauh-jauh datang kesini, lagipula antusiasme Ino kalau cerita soal kau luar biasa." Nyonya Ayume jelas paham perasaan si lawan bicara, ia pernah muda, dan beberapa hal soal kisah romansa anak muda ia pahami dengan baik. "Sejauh ini kau selalu berusaha jadi pacar yang baik."

Ia jadi canggung sendiri, "terima kasih Nyonya."

Pacar yang baik? Kiba tiba-tiba teringat cerita Naruto soal lelaki yang bersama Ino. Apa benar Ino mempertahankannya sampai sejauh ini karena sayang? Atau mungkin karena kasihan dan tak tega melepaskannya? Hatinya tak tenang selama perjalanan kembali ke Tokyo, dan ia hanya mengirim pesan singkat ucapan selamat ulang tahun untuk Ino yang sampai satu jam kemudian belum dibaca oleh si gadis.

.

.

Ia baru sampai kos ketika Naruto mengirim foto-foto kebersamaan Ino dan teman-temannya, sebagian cewek tapi ada beberapa cowok dan Naruto melingkari foto cowok berambut merah. Kiba mengernyit, dan nyaris mengabaikan itu saat pesan selanjutnya terkirim padanya.

'Namanya, Sasori. Kayaknya dekat dengan Ino.'

Sambil meletakkan ransel di meja, ia terdiam sejenak. Memperbesar gambar Sasori dan baru menyadari jika cowok itu good looking luar biasa. Ketidak percayaan diri menguasainya begitu telak. Apa benar Ino memang dekat dengan Sasori? Mungkinkah mereka punya hubungan yang lebih daripada teman? Dilihat dari foto itu, Sasori menempatkan diri di belakang Ino, seolah ingin memeluk cewek itu. Rasanya hatinya jatuh ke dasar perutnya.

.

.

'Sorry honey, nenek Chouji meninggal. Bos menyuruhku menggantikan shift nya. Kau nggak keberatan kan kalau aku menemuimu saat libur minggu depan?'

Ino mendesah berat ketika membaca pesan yang dikirim Kiba berjam-jam lalu. Ia merebahkan tubuh di ranjang, kue dalam tas kertas dan bunga mawar merah tergeletak di sebelah nya. Kenapa sih cowok itu repot-repot kesini kalau ternyata tidak punya banyak waktu. Suka sekali merepotkan diri.

Mungkin sebaiknya ia menelfonnya, sekarang juga masih belum jam sebelas malam. Kiba pasti belum tidur.

Cukup lama sebelum panggilannya terangkat, layar ponsel menampilkan Kiba dengan rambut basah dan muka yang agak segar. Sepertinya dia baru saja mandi.

"Hai, bagaimana harinya?"

Pertanyaan itu meruntuhkan seluruh lelahnya, hanya dengan melihat senyum Kiba saja hatinya merasa tenang. "Not bad." Sejujurnya ia rindu sekali, dan seolah tak mampu ditahan lagi. "Miss you so much."

"Me too." Kiba tergelak, dia agak menjauhkan diri. Tapi Ino bisa melihat jika cowok itu tengah mengenakan kaos. Sempat melihat pundak lebarnya yang telanjang saja sudah mampu membuat jantungnya berdebar. "Selamat ulang tahun, boleh tahu harapanmu? Mungkin aku bisa bantu mewujudkan."

Kiba tetaplah Kiba yang dulu, tetap perhatian meski kadang agak cuek, seolah stok rasa sayangnya tak berkurang sedikit pun sejauh ini. Dan sejujurnya hal itu membuat Ino menjatuhkan hati semakin dalam. "Aku nggak berharap muluk-muluk kok." Dia diam sejenak, mengamati ekspresi lelah di sorot mata cowok itu. "Berharap hubungan kita langgeng, itu saja."

Keduanya sama-sama diam, kalau saja mereka tak sedang melakukan video call mungkin Ino bakal mengira Kiba ketiduran. Sebab Kiba tampak tengah memikirkan hal lain, seolah ingin mengucapkan sesuatu tapi tak jadi.

"Aku merasa beruntung sekali punya kamu. Aku nggak tahu kamu merasa seperti ini juga atau nggak, cuma mau bilang aku sayang kamu. Sayang banget." Dia mengakhiri kalimatnya dengan helaan napas pelan.

"I love you soo much, Kib. Kenapa nada suaramu agak hopeless begitu sih? Seolah kamu nggak percaya kalau aku juga beneran sayang sama kamu." Ia mengerjapkan mata, mengamati senyum tipis namun ragu-ragu yang ditorehkan Kiba di bibirnya.

"Aku bukannya nggak percaya." Ada kalimat yang seperti tertahan, dan Ino mengira itu mungkin hanya karena Kiba kelelahan dan ngantuk.

"Omong-omong, makasih ya kue nya. Bunganya juga. Nyonya Ayume bilang ekspresimu seperti orang nggak tidur seminggu waktu kesini tadi."

"Eh iya?"

"Sepertinya kamu harus banyak istirahat, siapa yang selalu koar-koar jangan terlalu memforsir diri, kalau sakit siapa yang repot. Kan kamu sendiri."

Kiba terkekeh mendengar kalimat Ino yang mengutip nasehatnya. Pikirannya penuh dengan cerita yang dijelaskan Naruto lewat chat beberapa menit lalu, namun melihat sikap Ino yang seperti biasanya, membuat Kiba merasa mungkin ini tidak seperti yang dipikirkan Naruto.

.

.

Pertemuannya dengan Kiba di malam minggu itu benar-benar berjalan mulus, kecuali satu hal yang membuat pikirannya terusik. Ia cuma iseng memeriksa ponsel Kiba ketika cowok itu pamit ke toilet. Dan menemukan pesan-pesan yang ia harap tak ia baca sejak awal. Itu bukan pesan romantis dari seorang gadis atau apapun yang mengindikasikan Kiba selingkuh, melainkan isi percakapan cowoknya dengan Naruto. Kiba belum menghapusnya dari dua minggu lalu, dan isinya membuat napasnya tercekat. Semuanya tentangnya. Seolah Naruto berusaha memanasinya jika selama ini ia selingkuh dengan Sasori. Sialan Naruto.

'Yeah, aku nggak heran juga sih. Cewek kayak Ino banyak yang mau Bro.' Tulis Naruto dalam percakapan.

'Tapi sejauh ini, belum ada tanda-tanda Ino minta putus. Kalau mungkin Ino pada akhirnya ninggalin aku, yeah mau bagaimana lagi, aku nggak bisa berbuat apa-apa Man. Kadang cinta itu bukan soal bersama, tapi bagaimana kau bisa merelakan orang yang kau cintai bahagia.'

'Astaga Kiba, tolol sekali sih kau ini.'

'Terserah kau, aku menunggu Ino sendiri yang mengakui ini baru aku mau percaya. Tapi untuk saat ini, aku belum berani menanyakannya.'

Ada begitu banyak fotonya dengan Sasori yang diambil secara diam-diam. Shit, Naruto sering menguntitnya. Brengsek sekali bocah itu. Tapi kalimat-kalimat Kiba membuat matanya berkabut. Barangkali ini yang menganggu pikiran cowoknya beberapa hari belakangan.

Buru-buru Ino mengembalikan ponsel itu ke tempatnya, berharap Kiba tak tahu. Dan ia akan pura-pura tak paham soal apapun.

"Habis makan, mau nonton nggak?" Ucap Kiba ketika kembali duduk di kursinya.

"Kamu beneran nggak sibuk?" Kiba tampak biasa saja, tak menunjukkan jika dia tahu sesuatu. Pintar sekali cowok itu menyembunyikan perasaan tak nyamannya.

Pemuda itu mengangguk, dan ia bisa melihat pancaran sendu dari mata si gadis. Why?

.

.

Semilir dingin angin malam menelusup ke pori-pori, membekukan hingga tulang. Kiba melepas jaketnya ketika menyadari Ino menggigil di balik blouse ungu yang dikenakannya. Pelan ia memakaikan jaket itu ke pundak gadisnya.

"Eh, nanti kamu kedinginan." Sejujurnya hangat jaket Kiba membuatnya merasa begitu nyaman, tapi melihat cowok itu yang hanya mengenakan kaos abu-abu pendek membuatnya agak merasa bersalah.

"Aku lebih tahan dingin dibanding kau." Tangannya memeluk pundak Ino, hari ini semuanya rasanya berjalan begitu mulus. Mereka pergi nonton, makan bersama di rumah makan tradisional yang lumayan romantis, jalan-jalan ke taman, pusat perbelanjaan, dan yeah sulit sekali rasanya mengakhiri pertemuan ini. Tapi mau bagaimana pun juga ia tetap harus kembali ke Tokyo, besok harus kuliah kemudian lanjut kerja.

Ino menghela napas, menengadah dan mendapati tatapan Kiba fokus ke depan, entah apa yang diperhatikan cowok itu. Dan untuk sesaat ia terpesona. Kiba memang bukan cowok dengan tampang luar biasa ganteng, kharismanya pas-pasan, tidak akan membuatmu jatuh hati hanya dalam sekali tatap. Tapi perhatiannya, bagaimana caranya menghormati orang lain, sikap humble nya, bakal membuatmu menempatkan nya sebagai orang istimewa. Ino pun begitu, dan takut membayangkan ada cewek lain di luar sana yang juga naksir Kiba karena sikapnya.

"Kenapa menatapku begitu?" Keningnya mengernyit, dan ketika tatapannya jatuh ke dalam biru jernih manik gadisnya, sorot kekaguman begitu kentara disana.

"Habisnya, kamu ganteng banget."

Kiba tak mampu menahan tawanya, "apa itu berarti sebaliknya?"

Ino nyaris menjawab pertanyaan Kiba, namun kehadiran Sasori di depan kosnya membuatnya terkejut bukan kepalang. Tanda tanyanya bukan lagi soal bercanda dengan Kiba, melainkan hal yang lebih serius mengenai alasan cowok berambut merah itu disana. "Well, ngapain kau disini?"

Kiba mengeratkan pelukannya, bukan apa-apa tapi berhadapan langsung dengan cowok yang selama ini jadi rivalnya membuatnya agak ciut nyali.

"Syukurlah kalau kau baik-baik saja." Tatapan Sasori mengarah ke Kiba, diam sejenak, kemudian beralih ke Ino. "Aku menelfonmu dari tadi tapi nggak kau angkat."

Ino sengaja memasang mode silent di ponselnya, hanya karena tak ingin seorang pun mengganggu acara pentingnya. Dan ia seratus persen merasa bangga pada diri sendiri karena melakukan itu. "Ada perlu apa, Sasori?"

"Yeah, nggak ada." Sasori mengedikkan bahu. "Selamat bersenang-senang. Ku pikir malam minggu kalian benar-benar romantis." Dia cuma mencemaskan Ino, itu saja. "Ya sudah, aku mau pulang dulu." Ia sudah nyaris melangkah pergi andai saja suara bass Kiba tak menghentikannya.

"Bro, thanks ya, sudah menjaga Ino selama ini." Butuh nyali besar untuk mengucapkan sepenggal kalimat itu, meski sebenarnya tidak serumit itu.

"Eh?"

Ino mengerjap, terkejut dengan pernyataan Kiba barusan. Dan Sasori juga tampak kaget, kekagetannya justru lebih parah.

"LDR an memang nggak mudah, ada banyak sekali rintangannya. Aku nggak bisa sering-sering nganterin Ino pulang dari kampus, nggak bisa sering-sering belikan dia makanan, nggak bisa sering-sering juga nemenin dia ngerjakan tugas. Yeah, pokoknya ini sulit bagiku." Ia menghela napas, dinginnya udara menyelip ke dalam pori, tapi masih tak mampu membuat kulitnya yang hangat menjadi dingin. "Trims ya."

Sepertinya Sasori tersentuh dengan kalimat panjang lebar si pemuda Inuzuka, ada senyum tipis yang tertoreh di bibir, dan ketika ia menepuk pundak Kiba mendadak ia tahu apa yang memang harus dikatakan. "Kayaknya aku tahu apa yang membuat Ino jatuh cinta parah padamu."

Kiba meringis mendengarnya. Dan sejujurnya, dia minder parah, dilihat dari jarak sedekat ini Sasori jauh lebih tampan dari pada di foto.

"Dan Sasori, Karin naksir padamu." Yamanaka bersemangat mengungkapkannya yang hanya dibalas Sasori dengan lambaian tangan. Dia kemudian melangkah pergi setelah mengucapkan sampai jumpa dan kalimat senang bertemu denganmu yang pastinya ditujukan untuk Kiba.

Entah kenapa, Kiba merasa lega telah mengungkapkan unek-uneknya selama ini, meski itu secara tersirat.

.

.

"Aku sudah baca isi chatmu dengan Naruto." Ekspresi terkejut Kiba sudah ia perkirakan, namun melihat sikap cowok itu yang tetap tenang membuatnya kembali bicara. "Aku nggak ada apa-apa sama Sasori. Sekedar teman saja."

"Yeah, aku percaya kok." Ia berdiri di depan kos Ino, dan tengah melakukan salam sampai jumpa yang sepertinya bakal lebih panjang dari biasanya. Sebenarnya tidak apa-apa juga, tapi ia bakal kehilangan sedikit waktu istirahat. Buat Ino apa yang tidak?

Tatapan Kiba tak fokus, sekilas menatap ke dalam kos, berpindah ke bawah, dan pindah lagi menatapnya. Ada yang ingin diucapkan cowok itu, jadi Ino merasa ia perlu diam untuk mendengarkan.

"Sejujurnya aku merasa minder." Ia menarik napas dan menyaksikan manik biru Ino melebar. "Ada banyak cowok tampan dengan kehidupan yang lebih mapan yang berusaha mendekatimu. Aku jauh sekali levelnya dari mereka. Itu agak menggangguku akhir-akhir ini, bahwa mungkin bisa dekat denganmu itu anugerah. Tapi disisi lain, aku kadang merasa nggak pantes karena kamu bisa mendapatkan yang lebih dari aku."

"Kiba, kenapa bilang begitu sih?" Sengatan perih menyebar di sekitar matanya, dan mungkin bakal lolos jika Kiba melanjutkan kalimatnya.

"Yeah, aku nggak memaksa kau bakal terus bersamaku. Kalau misalnya kamu bisa bahagia sama yang lain, aku rela kok melepaskanmu--"

Ino berjinjit dan membekap nya dalam ciuman. Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi Kiba merasa momennya tidak pas. Bagaimana jika ada yang melihat? Kalau saja ini bukan di depan kos yang bisa saja kepergok orang, Kiba mungkin bakal khilaf dan melumat habis bibir tipis milik Ino.

"Hei, aku belum selesai bicara." Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari ciuman Ino, dan tertawa melihat air mata yang mengalir di pipi cewek itu.

"Aku nggak mau lepas dari kamu." Ia serabutan menghapus air mata. "Harusnya aku yang bilang bahwa jadi pacarmu itu sebuah keberuntungan. Nggak banyak cowok dengan sikap kayak kamu, lihat, Sasori saja terkesan. Aku takut bakal ada cewek lain yang merasa nyaman sama kamu, dan berusaha mengambilmu dariku."

Gemas sekali rasanya, Kiba tak bisa menghentikan aksi tangannya yang mengacak rambut Ino. Ia tergelak, karena menyadari Nyonya Ayume ternyata memergoki drama kacangan mereka. Dan karenanya Ino justru membenamkan diri dalam pelukan Kiba.

"Dasar anak muda." Wanita itu menggeleng, tapi juga ikut tertawa. "Ini sudah malam Kiba, kau nggak pulang? Takutnya kau besok ngantuk dan nggak bisa fokus kerja."

"Anda benar." Setelah melepas pelukannya, ia membungkuk ke arah si pemilik kos. "Titip Ino ya Nyonya, tolong diingatkan makan, kalau nggak mau makan dimarahi juga nggak apa-apa. Jangan biarkan dia belajar terlalu keras jika itu bisa mengganggu kesehatannya. Dan terakhir, yeah... Terima kasih banyak untuk segala bantuan anda."

"Berlebihan sekali kau, tapi terima kasih juga, aku merasa tersanjung."

Saat menatap tawa Kiba yang tulus dan menular ke Nyonya Ayume membuat hati Ino menghangat. Cowok seperti Kiba barangkali seribu banding satu. Dan ia belum tentu mendapat kesempatan kedua untuk bertemu dengan sosok seperti Kiba. "I love you."

Kiba hanya mengulas senyum, dan mengedipkan sebelah matanya. Bagi Ino, memiliki Kiba adalah anugerah terindah. Ia tak peduli orang lain berkata apa.

end

.

~Lin

28 September 2022