Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Seishun Buta Yarou: Hajime Kamoshida
.
.
.
Pairing: Naruto x Mai
Genre: romance, fantasy, supranatural, humor
Rating: T
Setting: Alternate Universe (AU)
.
.
.
Reset Cafe
By Hikayasa Hikari
.
.
.
Chapter 3. Ada apa dengan Naruto?
.
.
.
Naruto dan Mai tiba juga di depan gedung apartemen milik Mei. Gedung apartemen itu berarsitektur modern dan mewah. Berlantai dua puluh lima.
"Mai, aku harus pulang sekarang," ucap Naruto tersenyum, menghadap Mai di dekat pintu utama.
"Ya. Kau harus berhati-hati. Jangan pergi kemana-mana lagi, malam ini," balas Mai mengangguk, tersenyum.
Giliran Naruto yang tersenyum. Kemudian dia mengangguk. Perlahan berjalan memunggungi Mai. Menyusuri halaman depan gedung apartemen yang sangat luas.
"Naruto, tunggu!" seru Mai. Suaranya sangat keras.
"Ya, ada apa lagi?" tanya Naruto menoleh ke arah Mai.
"Aku..."
Perkataan Mai terputus sejenak. Rona merah tipis hinggap di dua pipinya. Hatinya tidak tahan lagi, ingin mengutarakan perasaan cinta yang selama ini terpendam sangat lama.
"Aku ... aku mencintaimu, Naruto," ungkap Mai menundukkan kepala. Mengepalkan tangan.
Naruto terkesiap. Matanya membeliak. Ternganga. Semburat merah tipis seolah hinggap di dua pipinya. Tapi, dia malah pergi begitu saja, tanpa menjawab pernyataan cinta Mai.
Sunyi. Mai merasakan keanehan. Menengadah untuk melihat ke arah Naruto pergi tadi. Giliran netranya yang membesar. Merasakan hatinya tercabik-cabik karena Naruto mengabaikannya.
"Sudah kuduga. Jika aku menyatakan cinta duluan, tentu Naruto akan menolakku. Aaah ... sia-sia saja aku kembali ke masa lalu ini." Mai menghela napas. Jantungnya yang semula berdetak kencang, berangsur berdenyut normal.
Mai tetap berdiri di sana. Melihat langit yang sudah gelap. Tidak ada bintang maupun bulan yang tampak. Merasakan angin dingin berdesir pelan, menerpa diri.
Mai memutuskan untuk melangkah masuk ke apartemen. Apartemen yang dibelinya dari hasil keringat sendiri. Hanya ditinggali dirinya seorang.
Mai masuk ke apartemennya. Mengunci pintu. Meletakkan tasnya yang disandangnya di bahu sejak dari masa depan. Mendaratkan pantatnya ke sofa panjang biru tua.
Mata Mai meredup. Memikirkan perasaannya yang tetap bertepuk sebelah tangan. Berharap Naruto menerima cintanya, tetapi harapan itu telah pupus seolah dibakar hingga menjadi abu, lalu beterbangan karena ditiup angin.
"Aku tahu perasaanku ini salah. Aku sudah jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Tapi, aku tidak mampu membuang perasaan ini lagi," gumam Mai menundukkan kepala. Menutupi wajahnya dengan dua tangan. Ingin menangis.
Mai membayangkan peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa Naruto. Waktu itu, Naruto mengantarkan Mai pulang dengan menggunakan mobil miliknya. Naruto yang sudah pergi meninggalkan Mai di depan pintu gerbang pagar gedung apartemen, tiba-tiba ditabrak mobil lain dari arah kanan. Mobil yang menabrak mobil Naruto, langsung meledak dan membakar Naruto yang terjebak dalam mobil.
"Tidak! Naruto!" teriak Mai yang menjadi saksi mata peristiwa kecelakaan itu, membelalakkan mata. Dia berlari kencang menuju lokasi tabrakan itu. Menangis histeris.
Mai tersadarkan dari lamunan masa lalu karena suara ponsel yang berdering keras. Dia mengambil gawainya yang ada di dalam tas, mengecek pesan Whatsapp yang tertampil di pemberitahuan di bagian atas layar gawainya.
Mai-sama, seminggu lagi, kita akan konser. Jadi, persiapkan diri anda semaksimal mungkin. Jangan kecewakan aku.
Mai menghapus air matanya dengan cepat usai membaca pesan dari pihak penyelenggara konser. Dia ingin menghubungi Naruto, tetapi hatinya melarangnya.
Aku akan memberitahukannya pada Naruto besok saja, batin Mai.
Mai berusaha tersenyum di tengah kegalauan yang menimpanya. Bergegas berdiri dan berniat membersihkan dirinya dengan cara berendam di air hangat.
.
.
.
Mai berlari tergesa-gesa melewati koridor lantai tiga yang dihuni beberapa orang. Ingin menemui Naruto yang biasanya sudah hadir di ruang latihan. Hatinya tidak sabar ingin memberitahu pada Naruto soal pesan dari pihak penyelenggara konser.
Mai tampil anggun dengan dress putih selutut, tas, dan sepatu boots berhak rendah. Rambutnya tetap tergerai. Ada tiga jepit rambut menyerupai batang korek api terpasang di sisi kanan rambutnya.
"Naruto, selamat pagi," sapa Mai masuk ketika pintu ruang latihan terbuka lebar.
"Selamat pagi, Mai-sama," sahut gadis berambut merah muda pendek bersetelan bisnis, duduk di dekat piano.
"Hah? Kau siapa?"
"Aku Haruno Sakura. Pelatih piano anda yang baru. Naruto yang memintaku menggantikannya untuk melatih anda."
"Apa?"
Mai melongo. Matanya melebar. Terpaku di ambang pintu. Haruno Sakura tersenyum, berjalan menghampirinya.
"Maaf, mengagetkan anda. Naruto mengatakan padaku, dia tidak bisa mengajari anda lagi. Jadi, dia juga memutuskan berhenti menjadi Manager anda," jelas Sakura bermuka tidak nyaman, "semula aku menolak tawaran Naruto, tetapi Naruto terus-terusan memohon, jadinya aku tidak tega menolak penawarannya. Tapi, jika anda tidak setuju aku yang menggantikan Naruto, aku siap untuk keluar dari ruangan ini."
"Tunggu! Aku harus menelepon Naruto dulu," tukas Mai mengambil handphone dari dalam tas yang disandangnya di bahu kanan.
Mai mencoba menelepon Naruto, tetapi tidak mendapatkan respon apapun. Mengirim pesan, juga malah mendapatkan centang satu. Menimbulkan kekesalan yang berkobar di jiwa Mai.
"Naruto malah memblokirku!" pekik Mai melototkan mata, "Haruno-san, aku harus pergi dulu ke apartemen Naruto! Kita latihan nanti saja!"
Sakura tersentak, membelalakkan mata. "Tapi, Mai-sama..."
Mai berlari lagi menjauhi Sakura. Keluar dari ruang latihan. Pikirannya adalah menuju rumah Naruto.
Mai menggunakan kereta listrik agar cepat sampai ke rumah Naruto. Saat itu, dia belum memiliki mobil sendiri. Biasanya dia diantar dan dijemput oleh Naruto. Namun, sejak Mai menyatakan perasaannya itu, Naruto tidak datang menjemputnya.
Naruto, ada apa denganmu? Apa kau marah karena aku menyatakan cinta padamu? batin Mai.
Langkah Mai tergesa-gesa ketika menapaki lantai koridor lantai tiga gedung apartemen, tempat Naruto tinggal. Dia sendirian. Tidak ada seorangpun yang lewat. Hingga langkah Mai terhenti di depan pintu apartemen Naruto.
Jantung Mai berdebar kencang saat menghadap pintu. Merasakan badannya seolah tidak bisa digerakkan. Hatinya panik, tidak tahu harus bersikap bagaimana saat bertatap muka dengan Naruto. Tangan kanannya yang ingin mengetuk pintu, bergetar hebat.
Ayolah, Mai! Kau harus bersikap biasa saja, batin Mai lagi.
Mai menukikkan alis. Memantapkan jiwa dan raganya untuk memberanikan diri. Mengetuk pintu berkali-kali. Suaranya yang nyaris tercekat di tenggorokan, akhirnya keluar juga.
"Naruto! Ini aku Mai! Buka pintunya! Aku ingin berbicara denganmu!" teriak Mai. Alisnya tetap menukik.
Tidak ada jawaban. Mai terpaku. Kesabarannya tidak bisa terbendung lagi. Menggedor-gedor pintu dengan kuat.
"Naruto! Keluarlah! Jangan tanggapi soal perkataanku semalam!" seru Mai bernada lebih tinggi dari sebelumnya, "aku tidak memaksamu untuk menerima cintaku. Aku ... hanya ingin kau mengetahui perasaanku ini. Karena aku tidak tahan memendam perasaan ini lebih lama lagi. Apa lagi setelah mengetahui dirimu..."
Mai membulatkan mata sempurna. Tiba-tiba, kepalanya sakit sekali. Mencengkeram sisi-sisi kepalanya dengan kedua tangan. Menyebabkan dirinya jatuh berlutut.
"Aaah!" pekik Mai. Suaranya seolah menggelegar sampai ke langit sana.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Chapter 3 up. Terima kasih.
Tertanda, Hikayasa Hikari.
Rabu, 28 September 2022
