...
Fireflies : From Book, To Hearts
.
Disclaimer
Bleach © Tite Kubo
Burn The Witch © Tite Kubo
X-Over
...
..
.
Chapter 5 : Mengobrol
.
Ginjo menunggu jawaban dari Ichigo tentang siapa orang yang membencinya. Indra pendengarannya tadi secara tidak sengaja mendengar perkataan Ichigo walau sebenarnya tidak terlalu keras, tapi ia berterima kasih kepada kedua telinganya karena menangkap sesuatu yang mungkin ada sangkut pautnya dengannya.
Kesan di wajah Ginjo tidak seperti orang kasar layaknya preman yang sedang menggangu orang lain ataupun berwajah dingin datar seperti ekspresi yang sering dipasang Noel saat tidak bersama dengaN Ichigo, ia hanya berekspresi seperti kebanyakan orang saat sedang bingung atau bertanya... ya seperti mungkin.
Sebenarnya, Ginjo sudah sering mendapati dirinya yang menjadi bahan pembicaraan orang lain, bahkan rasa-rasanya setiap hari ada saja orang yang membicarankannya. Menjadi omongan orang lain bukanlah masalah besar baginya, bahkan ia sedikit menyukai hal tersebut.
Walaupun begitu, tetap ada momen dimana yang digosipkan kadang-kadang merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya dibicarakan tentang dirinya. Dan itu berlaku untuk saat ini, Ginjo tentunya penasaran dengan orang yang dimaksud Ichigo.
"Ada apa?" tanya Ginjo.
"T-Tidak, tidak ada apa. haha," jawab Ichigo sangat gugup. Sepertinya ini adalah akhir, firasat Ichigo mengatakan jika masa tenang SMAnya akan segera habis, dan bermasalah dengan Ginjo adalah pintu awal berakhirnya kenyamanan dirinya di sekolah ini.
Saat ini, Otak Ichigo sudah penuh dengan bermacam-macam alasan untuk menyangkal semua pertanyaan Ginjo yang entah berguna atau tidak nanti. Tentu saja ia tidak akan semudah itu untuk menyerahkan posisi yang sudah ia pertahankan sejak dirinya menjadi murid baru.
Sementara disisi lain, Kanata tetap pada posisinya, bersandar dengan menyilangkan kedua tangannya tidak jauh dari Ichigo. Matanya melirik tajam ke arah Ginjo, yah~ ia memang tidak ada niatan untuk berbicara dengan Ginjo karena benci dengan pemuda tersebut.
Kasus Kanata sama persis seperti Noel...
Kanata memang tidak punya masalah pribadi kepada laki-laki tersebut, hanya saja sifat dari orangnya yang membuatnya malas untuk hanya sekedar membuat komunikasi baik antar siswa yang masih satu angkatan dengannya tersebut.
Menurut Hoshijima Kanata, berteman dengan orang seperti itu tidak akan ada untungnya bagi dirinya, bahkan buruknya ia bisa tertular... ugh, menjijikkan.
"Aku tidak sengaja mendengar ucapanmu tadi, kalau tidak salah kau mengatakan tentang seseorang yang membenciku," kata Ginjo menjelaskan tentang pertanyaan awalnya tadi.
Kanata menatap Ichigo, sebenarnya sahabatnya tersebut bisa saja menjadikan dirinya sebagai alasan. Ia tahu jika Ichigo tidak seperti dirinya yang membenci Ginjo, tapi kesamaan dari mereka adalah sama-sama tidak menyukai sifat Ginjo.
Kanata membenci sifat sekaligus orangnya...
Sementara Ichigo, ia berbeda dengan Kanata. Benci dengan sifat yang dimiliki seseorang bukan berarti membenci orang yang memiliki sifat tersebut. Mungkin itu sedikit sulit untuk dilakukan, tapi tidak untuk Ichigo.
Ichigo menemukan sifat seperti itu di berbagai buku yang ia baca, kemunculan karakter yang seolah tidak membenci orangnya dan hanya membenci sifatnya sudah sangat terlampau sering hitungannya.
Naif sekali bukan? Dan Ichigo mengambil sifat naif seperti itu untuk dirinya...
"Mungkin Kugo-san salah dengar, kami tidak sedang membicarakanmu," kata Ichigo.
"Jangan bohong, telingaku tidak mungkin salah dengar," kata Ginjo.
Bisa saja ia menyebut nama seorang Nihashi Noel kepada pemuda yang sudah memiliki ban Komisi Disiplin di lengannya tersebut. Tapi entah kenapa Ichigo tidak ingin salah langkah, seandainya saja ia asal ucap ini itu, masalah yang lebih panjang akan menghampirinya.
Masalah... itu saja yang tidak ingin didapatkan oleh Ichigo.
Ginjo sedang memandang mata-mata Ichigo lekat-lekat, mencari titik kebohongan yang muncul dari pandangan matanya. Ichigo merasa sangat gugup sekarang, rasanya seperti seorang yang sedang dituduh mencuri.
"Sepertinya aku tahu siapa yang membenciku," ucap Ginjo tiba-tiba. Mata Ichigo sedikit membola mendengar hal tersebut, ia tidak percaya jika Ginjo akan mengetahuinya hanya dengan memandang dirinya.
"J-Jadi..." Ichigo mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ginjo menggerakkan kepalanya untuk melihat orang yang ada di belakang Ichigo, siapa lagi kalau bukan Kanata yang masih tetap pada posisinya.
"Apa itu kau?" Tanya Ginjo sedikit kasar.
"Kau?" Ichigo bertanya pada dirinya sendiri, terkejut dengan orang yang dimaksud oleh Ginjo bukanlah orang yang sebenarnya mereka bicarakan. Dan justru, Kanata lah yang dianggap oleh Ginjo membencinya.
"Apa maumu?" Tanya balik Kanata dengan mata melirik tajam ke arah Ginjo. Ginjo tetap pada posisi santainya dengan kedua tangan yang berada di sakunya.
"Aku bertanya, apa kaulah yang dimaksud pemuda berambut oren ini?" Balas Ginjo tidak ingin kalah.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Kugo-san," jawab enteng Kanata.
"Hey! Jaga ucapanmu! Sialan!" Salah satu teman Ginjo yang Ichigo tidak tahu siapa dia berteriak dengan kesal kepada Kanata.
"Apa kau mendapat masalah HAAAH!?" Yang satu lagi juga ikut berteriak.
Ichigo bingung, kenapa selalu ada orang stres dimana-mana...
Kanata dan Ginjo mengabaikan semua yang ada di sekitar mereka untuk beberapa saat, saling bertukar intimidasi untuk menjatuhkan satu sama lain. Kedua orang yang tadi berani meneriaki Kanata tiba-tiba bekeringat merasakan hawa yang tidak enak di sekitar mereka.
Ichigo hanya memperhatikan keduanya, bersiaga seandainya ada kejadian yang melebihi batas... walau ia sedikit tidak percaya diri untuk melerai dua hewan buas yang sedang saling menatap tersebut.
"Aku tahu jika kau membenciku. Tetapi, aku percaya jika ada orang lain yang sedang kalian lindungi... dari orang sepertiku. Masalahnya ada disitu, kalian berdua tidak menyukai, dan kalian berdua sedang melindungi orang lain yang juga tidak menyukaiku," kata Ginjo.
Hal tersebut membuat ekspresi Ichigo dan Kanata sedikit berubah. Kanata yang semakin serius dan Ichigo yang sedang menahan napasnya sejenak.
"Baiklah jika kalian berdua tidak ingin menyebutkan nama. Aku tidak peduli jika ada orang yang membenciku. Aku juga tidak ingin memaksa kalian untuk menyebutkan siapa orang yang kalian maksud itu, tapi sebagai gantinya..."
Ichigo memiringkan kepalanya, sementara Kanata tetap pada posisi bersedekapnya sambil bersandar di pintu.
"Nama kalian."
"Hoshijima Kanata."
"K-Kurosaki Ichigo."
Mendengar nama Ichigo, Ginjo menoleh ke arahnya. Dia tiba-tiba merubah raut wajahnya seperti sedang memerhatikan atau menghafal sesuatu. Ichigo kembali menelan ludahnya gugup.
"Akan aku ingat kalian. Tenang saja, aku tidak akan menjadikan kalian incaranku. Dengan tahu nama kalian, kita mungkin bisa mengobrol bersama nanti, na?" Ucap Ginjo sambil tersenyum.
"Kau bisa datang kepadaku kapanpun, Kugo-san. Aku akan menantinya," balas Kanata dengan ikut-ikutan tersenyum seperti yang dilakukan oleh Ginjo. Ichigo hanya mengangguk.
Ginjo dan kedua temannya pun berlalu pergi melewati Ichigo dan Kanata, tidak lupa dengan sebuah tepukan di bahu Ichigo.
.
Cklek
Kanata membuka pintu yang sejak tadi ia sandari.
"Sudah aman?" Tanya Noel datar kepada Kanata. Pemuda tersebut mengangguk.
"Nihashi-san?" Panggil Ichigo.
Noel keluar dari ruangan tersebut, ia menepuk-nepuk beberapa bagian pakaiannya yang kotor. Mengusap rambut indahnya kemudian memandang dua ke arah dua pemuda yang sedang berdiri di sisi kanan dan kirinya.
"Kenapa kau takut sekali dengan si bajingan itu?" Noel berkata kasar tepat di depannya adalah sesuatu yang baru bagi Kanata. Walau ia tidak terlalu terkejut dengan hal tersebut karena sering melihat Noel melakukannya saat bersama Ichigo. Dan Noel sepertinya juga acuh dengan Kanata yang akan mengetahui sisi lain dari dirinya.
"A-Apa maksudmu? Nihashi-san," Tanya Ichigo tidak paham.
"Aku bisa mendengar suaramu yang bergetar seperti anak kecil dari dalam ruangan saat kau berhadapan dengan Ginjo tadi," kata Noel sedikit keras kepada Ichigo.
"Contohlah dia, berani menantang Ginjo," kata Noel. Kanata merasa terhibur melihat Ichigo yang sedang dimarahi oleh Noel.
"Memangnya kau anak TK."
"Laki-laki macam apa kau ini."
"Dasar penakut!"
Ichigo berjongkok di bawah pohon, terlihat mendung gelap muncul di atas kepalanya. Kanata ingin tertawa melihat Ichigo pundung karena dirundung seorang perempuan. Walau ia sendiri juga tidak akan mencari masalah dengan Noel.
Ngomong-ngomong, Kanata lebih berani satu lawan satu dari artian yang luas... daripada beradu langsung dengan Noel.
"Ngomong-ngomong siapa yang bersama Ginjo tadi?" Tanya Noel kepada Kanata. Pemuda tersebut hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia juga tidak tahu.
"Aku juga tidak mengenal mereka, tapi mereka juga bagian dari Komisi Disiplin," jawab Kanata dengan jujur. Noel mengangguk mengerti.
"Apa mereka..."
"Bodoh? Ya, mereka idiot," Noel tertawa kecil mendengar perkataan dari sahabat Ichigo tersebut, Kanata ikut tersenyum melihat wajah senang Noel.
"Sepertinya masih ada siswa lain di Komisi Disiplin yang menjadi bawahan Ginjo," celetuk Kanata.
"Itu tidak terlalu mengejutkan, karena nama seorang Kugo Ginjo itu sendiri," balas Noel.
"Kau benar. Menjadi salah satu anggota Komisi Disiplin atau tidak, siswa-siswa bodoh akan mengidolakan orang sepertinya," kata Kanata. Noel mengangguk setuju.
"Jika aku bisa memberikan pendapat, Seito Kaichou. Mungkin saat ini kita tidak perlu terlalu memperdulikan apa yang diinginkan Ginjo dengan menjadi anggota Komisi Disiplin. Dia pastinya masih harus beradaptasi dengan peraturan di Komisi Disiplin," kata Kanata.
"Aku hargai pendapatmu," jawab Noel.
"Ciiiyeeeee lagi PDKT."
Urat kemarahan tiba-tiba muncul di dahi Noel dan Kanata, ekspresi mereka menjadi semakin mengerikan mendengar Ichigo yang sekarang tertawa. Pemuda tersebut tidak sadar jika sebuah bahaya sedang mengancam dirinya.
"Huahahaha... Eh? Lah kok... HUWAAAAAA!"
Janganlah menjadi orang yang usil. Jika tidak ingin seperti Ichigo... yang sekarang sudah tergantung di atas pohon tidak bernyawa...
.
.
Ah iya, bagaimana dengan Sena yang terjebak di kamar mandi?
... Entah.
.
.
.
"Kalian menganggu jam tidurku!"
"Ayolah, jangan kasar seperti itu kepada teman-temanmu ini."
"Dia benar, setidaknya… ayo menggosip sampai mati."
Noel menghembuskan nafas, kemudian mempersilahkan teman-temannya masuk ke dalam rumahnya. Padahal malam sudah cukup larut, dan menurutnya teman-temannya sedikit kemalaman untuk berkunjung ke rumahnya. Selain ia merasa tidak enak dengan Papa dan Mamanya yang waktu istirahat mereka mungkin akan terganggu karena dirinya dan teman-temannya tidak jelasnya tersebut, ia kurang suka membicarakan orang lain/menggosip lah.
Tapi disisi lain. Ia juga sedang gabut…
Beberapa hari kedepan sudah libur akhir tahun, sekolah sudah mulai santai karena ulangan baru saja selesai hari ini. Guru-guru mulai menfokuskan pekerjaannya untuk membuat laporan akhir tahu, mengisi nilai ke dalam rapot para siswa dan hal-hal ribet lainnya. Itu bukan urusannya…
Akhirnya Ketua OSIS kita dapat menghembuskan nafas sejenak…
Kembali ke masalah gabutnya tadi, kedatangan teman-temannya tersebut mungkin dapat meredakan perasaan bosannya. Hanya saja, jika ada pilihan lain… ia akan memilih hal tersebut daripada bergosip ria.
Pergi ke toko milik Ichigo contohnya…
Nuuut!
"AAAWW, RUKIAAAA!"
"Kau melamun."
Noel mengangkat tubuh kecil Rukia dengan kekuatan besarnya kemudian melemparkannya ke dalam kamar miliknya tanpa ampun, gadis pendek tersebut selalu suka menjahilinya disaat-saat ia sedang lengah. Dasar cebol!
"Ada apa sih berisik-berisik?"
Noel menolehkan kepalanya, disana ada Shimizu, dan beberapa cewek lainnya yang baru saja muncul dari tangga. Sepertinya mereka baru saja selesai mengucapkan salam kepada mamanya, kecuali gadis cebol barusan yang langsung nyelonong masuk ke dalam rumahnya dengan seenaknya.
Oh, waktunya kita berkenalan…
Ada Mikasa Ackerman, Satsuki Uchiha, Erina Nakiri, Tifa Lockhart, Yor Briar, dan Minako Arisato.
Dia baru sadar jika Rukia membawa rombongan terlalu banyak, untungnya kamarnya cukup luas. Jadi, banyak tempat bagi para ciwi-ciwi tersebut untuk menggabut. Sungguh, apa Rukia memanfaatkan kamarnya yang luas sebagai tempat dirinya menggosip?
"Kalian mau tawuran atau gimana sih? Kenapa kalian ramai-ramai kesini?" Noel bertanya kepada mereka setelah menutup pintu kamarnya. Uhh, melihat kamarnya yang biasanya kosong dan damai… sekarang menjadi penuh sesak… walau tidak seperti itu sih, yang sebenarnya.
?
Abaikan permasalahan kamar milik Noel.
"Kami secara kebetulan sedang gabut semua, kemudian Rukia mengajak kami berkunjung ke rumahmu," jawab Shimizu sambil mengambil tempat duduk di karpet yang berada di dekat ranjang Noel… punggungnya sudah seperti nenek-nenek yang rasanya selalu ingin menyender.
"Aku tidak tahu jika Rukia belum membuat janji denganmu," sambung Erina yang duduk di sebelah gadis berkacamata tersebut, ia mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya.
"Panas sekali disini, nyalakan ACnya Noel!" Bukan gadis Nakiri yang berucap barusan, melainkan Satsuki. Noel langsung mendelik ke arah Satsuki untuk mempertanyakan darimana asal ucapannya tersebut. Di tengah-tengah musim dingin seperti ini menyalakan AC, sama saja bunuh diri…
"Dasar aneh," balas Noel.
"Jangan menyalakan ACnyaaaaaa! Aku alergi dingin- Hachuw" Yor bersin di sapu tangannya.
"Ini Yor, rambut Minako. Siapa tahu rambut merahnya bisa menghangatkanmu," kata Tifa sambal menarik kerah belakang gadis berambut merah tersebut.
"Nyari masalah?" Minako tidak terima.
"Apa! Kau ngajak berantem?" Balas Tifa yang juga tidak ingin kalah.
"Sudah sudah, jangan buat keributan. Kita tidak ingin menganggu keluarga Noel kan?" Kata Mikasa melerai keduanya. Noel menggelengkan kepalanya, para gadis terutama teman-temannya akan sangat random jika sudah berkumpul bersama. Tertawa Bersama atau saling menghina satu sama lain. Mereka tidak akan jauh berbeda dengan laki-laki saat berkumpul Bersama kawanannya, hanya saja… standar wanita masihlah di atas para laki-laki.
Hidup kesetaraan gen-
Ah, bukan seperti maksudnya. Kesetaraan gen- itu hanya hal konyol. Laki-laki tetaplah pemimpin bagi mereka. Noel bertanya-tanya, siapa yang akan menjadi pemimpinnya?
Apa itu pemuda dengan berambut oren?
Nuuut!
"AAAWW, HENTIKAN RUKIA! ATAU AKU AKAN MELEMPARMU DARI JENDELA!"
"JANGAN BERISIK ANAK-ANAK! PELANKAN SUARA KALIAN!"
Dan Noel bersama teman-temannya… langsung terdiam dengan keringat dingin di pelipis mereka.
.
.
Noel baru saja mengirim sebuah pesan bertuliskan 'Selamat malam' kepada seseorang yang kalian tahu sendiri siapa, ia sedikit kesal kepada orang tersebut karena ditinggal tidur. Tapi apa boleh buat, pemuda tersebut pasti sedang lelah. Semoga saja dia tidak memaksakan dirinya terlalu keras.
"Apa Himeko, Shiro, dan Aigis tidak bisa datang?" Tanya Minako. Rukia menggelengkan kepalanya.
"Mereka sedang menyelesaikan semua pekerjaan mereka agar dapat libur tepat waktu, Himeko dengan pekerjaan menempelkan label nama ke minuman dewasanya, Shiro sedang fokus dengan Microhard Excelnya, dan Aigis di toko elektronik. Untuk mendapatkan libur akhir tahun, mereka harus bekerja keras. Aku harap mereka baik-baik saja," Rukia menunduk sedih, begitu juga dengan yang lainnya. Ketiga teman mereka tersebut memiliki kehidupan yang cukup berbeda dengan mereka.
Noel, Erina, Satsuki, Rukia berada di kalangan yang cukup terpandang karena keluarga mereka. Kemudian Shimizu, Mikasa, Tifa, dan Yor berada di keluarga yang normal, sementara Minako dan ketiga gadis tadi berada di tempat yang cukup berbeda.
"Apa kau sudah tidak ada job lagi yang harus diselesaikan? Minako," tanya Noel, Minako melambaikan tangannya.
"Syukurlah pekerjaanku selesai tepat waktu, dan aku bisa sedikit santai sekarang," jawab Minako.
"Apa kakakmu juga?" Pertanyaan tersebut membuat Minako terlihat sedih.
"Nii-chan sedang bekerja keras menyelesaikan pekerjaan, aku merasa hanya menjadi beban baginya," kata Minako. Yor yang berada di dekat gadis berambut merah tersebut dengan reflek memeluknya, memberikan sedikit perasaan hangat kepadanya agar ia dapat meredakan kesedihannya.
"Jangan bilang seperti itu Minako, Makoto-san pasti sangat menyangimu. Apalagi kepada adik siscon sepertimu, hehe," kata Tifa.
"Aku bukan siscon!"
"Oh ya? Berarti Makoto-san akan menjadi Makoto-kun ku."
"Tidak boleh."
Noel dan lainnyapun tertawa melihat pertengakaran Minako dan Tifa. Setidaknya, keributan kecil mereka dapat mencairkan suasana menjadi lebih santai. Walau Noel tiba-tiba kepikiran akan sesuatu.
Ichigo pasti lelah karena bekerja keras sendirian…
Pemuda tersebut selalu ia repotkan, ia tidak sadar jika pemuda tersebut mungkin kurang istirahat atau semacamnya. Sebaiknya ia melakukan sesuatu sebagai tanda permintaan maaf sekaligus terima kasih. Ide bagus, Noel! Nah, sekarang… apa kelanjutan dari ide bagus barusan?
Mumpung sebentar lagi akan pergantian tahun, menutup buku lama dan memulai lembaran baru…
Apa yang harus ia lakukan?
"Jadi, bagaimana kabar cowok-cowok kalian?" Tanya Minako kepada yang lainnya. Noel mengangkat kedua alisnya, di mulailah acara utama…
Dia sendiri juga belum punya siapa-siapa sih…
"Siapa yang kau maksud?" Tanya Rukia.
…
Mereka semua sebenarnya belum punya siapa-siapa sih…
Tetapi entah jika hati mereka telah tertuju kepada seseorang, siapa tahu bukan?
Seperti halnya Noel…
To Be Continued
Terima kasih sudah membaca
Nulisnya entah dari kapan
Uploadnya Kamis Pon, 29 September 2022
By San Arya
*Note:
Hehe… setahun sekali upnya :V
