Chapter 15 : De Javu
.
.
.
.
.
Perjalanan pulang dari Pulau Kiri terasa sangat panjang. 3 jam terasa seperti 3 hari bagi Haruno Sakura yang sekarang sedang duduk menatap langit dari jendela bus. Matanya bengkak dan tak lupa kantung mata menghiasi manik hijau itu. Ia bahkan tidak ingat pernah tertidur kemarin malam. Kejadian kemarin adalah hal yang akan tertanam dalam core memory sang Ketua Dewan Murid.
Kemarin, setelah ia menangis sepuasnya dan menenangkan diri, Sasuke membawanya ke taman. Itu adalah inisiatif yang sangat baik. Bahkan, Uchiha Sasuke menawarkan untuk mengambil lampion kertas dan ikut menerbangkannya. Akhirnya, keduanya menulis permohonan dan menerbangkan lampion cantik yang membawa serta harapan dan doa mereka untuk masa depan.
Tidak lama setelah menerbangkan lampion, Tenten datang dengan terengah-engah. Akhirnya, Sakura mau tidak mau menceritakan semuanya pada Sasuke dan Tenten yang sudah susah payah mencarinya. Seperti dugaan, keduanya terlihat marah, terutama Tenten. Tapi, gadis yang baru saja lolos dari maut itu menenangkan mereka dan memohon untuk tidak menceritakan ini kepada siapapun. Ia tidak ingin Ino semakin membencinya dan membuat keadaan semakin parah. Ia akan berbicara pada Ino jika saatnya sudah tepat.
Sebenarnya, Sakura merasa Ino tidak sepenuhnya salah, dia sendiri juga mengambil peran dalam penderitaan Ino. Jadi, menurutnya lebih baik untuk memikirkan strategi rekonsiliasi dengan Ino daripada mempublikasikan kejadian ini. Ino akan lebih menderita dan reputasinya sendiri bisa buruk. Ia tidak mau itu terjadi.
Pikirannya kembali melayang pada detik-detik pintu terkutuk itu terbuka karena dobrakan kuat. Ia tidak menyangka Uchiha Sasuke, dari semua orang, adalah orang yang menyelamatkannya. Sakura berhutang satu nyawa pada Sasuke. Gadis itu tersenyum kecil mengingat hidupnya yang seperti dongeng Disney, gadis lemah yang memohon untuk diselamatkan pangeran tampan.
Omong-omong soal permohonan, ia tidak tahu apa yang Sasuke tulis di lampion, meski sebenarnya ia agak penasaran.
Mungkin dia memohon supaya perjodohan konyol itu dibatalkan. Pikirnya dalam hati.
Bagaimana dengan permohonannya sendiri?
Dalam keadaan yang sangat emosional dan luapan berbagai perasaan yang bercampur dalam dadanya, Sakura menulis kalimat yang datang tulus dari hatinya,
Kami-sama, tolong izinkan aku untuk berhenti membenci Uchiha Sasuke.
.
.
.
.
.
Ayo sedikit lagi…!
Sedikit lagi…
Sedikit lagi…
Tinggal belokkk!
YOSHHHH KECEPATAN PENUHHH!
BRUK!
"Aaah!" seru seorang murid KSHS yang sedaritadi berlari membabi buta agar bisa sampai kelas tepat waktu. Pelajaran pertama adalah kelas Ibiki-sensei. Tidak ada satupun orang yang berani berpikir untuk terlambat. Tidak seorangpun. Tapi kenyataannya, Haruno Sakura yang hampir tiba di kelas malah harus menabrak…
Uchiha Sasuke.
Ini pertama kalinya mereka bertemu lagi sejak field trip. Tapi keadaannya malah seperti ini.
Hei tunggu, bukankah ini seperti de javu?
"Sasuke…" nama itu meluncur begitu saja dari bibir si penabrak.
Di sisi lain, Uchiha Sasuke terlihat mengusap bahu kirinya yang sakit seperti baru saja ditabrak buldozer. Ia hampir saja mengeluarkan kata-kata itu. Tapi ia kembali teringat kejadian kerjar-kejaran dengan titisan Shinigami di depannya. Ia masih ingin hidup.
"Maaf." ucap Sakura cepat sambil tertunduk. Entah kenapa, saat ia melihat mata Sasuke tadi, rasanya jadi tidak nyaman. Seperti… err… canggung?
"Hn." jawaban default Sasuke dalam segala keadaan.
Dengan sangat canggung Sakura berjalan mundur dan membalikkan tubuhnya lalu kembali berlari menuju kelas. Tinggallah pria berambut seperti pantat ayam yang sebenarnya sedang… berdebar.
.
.
.
.
.
Penjelasan Kakashi-sensei tidak ada bedanya dengan suara angin, tidak dianggap sama sekali. Setidaknya, itu yang dirasakan Uchiha Sasuke. Murid senior di tahun ketiga itu tidak bisa fokus dan pikirannya melayang kemana-mana. Bukan kemana-mana juga sih, tapi melayang ke kejadian tadi pagi. Ditabrak Haruno Sakura memang sakit, tapi ia sudah mengantisipasi untuk dipukul atau dilempar tas, sepatu, atau tiang bendera. 4 tahun yang lalu, gadis itu mengamuk ketika mereka bertabrakan. Sekarang? Dia bilang maaf…
Sasuke menyeringai sambil mengibaskan poninya.
Apa Sakura sudah sadar dengan pesonaku? batinnya sangat percaya diri.
"Pesonaku tidak bisa dihindari." gumamnya tanpa sadar sambil geleng-geleng.
"Apa?"
"Hah?"
"Kau mengatakan sesuatu, Uchiha Sasuke? Tentang pesona dan menari?" ternyata suara gumamannya cukup keras untuk bisa didengar Hatake Kakashi.
"Tidak." astaga. Sasuke ingat ini. Ia sangat paham perasaan de javu ini.
"Sasuke, kau sudah kelas 3. Berhenti menghayal tentang pesonamu saat menari dan pergi cuci wajahmu yang mengantuk itu." ujar Kakashi yang wajahnya sendiri seperti tidak tidur berhari-hari.
Cih. Sasuke bisa mendengar jelas Naruto menahan tawa di belakangnya.
Akhirnya Sasuke berjalan keluar kelas untuk jalan-jalan. Tentu saja ia tidak ingin mencuci wajahnya, ia tidak mengantuk. Kenapa ia harus menuruti Kakashi?
Kelas 3 berada di lantai 4 dan ia ingin jalan-jalan hingga ke lantai 1 lalu kembali lagi ke lantai 4. Ia hanya ingin menghirup udara segar dan mengalihkan pikirannya dari Haruno Sakura.
drrrt…drrrt…drrtt…
Sasuke mengambil ponselnya yang bergetar.
From : Karin
Message :
Sasuke-kun! Kenapa tidak membalas pesanku? Aku akan segera kembali ke London, aku hanya ingin bertemu denganmu :( haruskah kita bertemu di sekolahmu? Aku merindukanmu :*
Deg…
Uchiha bungsu itu bisa merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Ia lupa membalas pesan Karin dan sekarang ia teringat lagi akan mantan pacarnya yang ternyata psikopat itu. Sasuke menyesal membalas pesan Karin dan menemuinya di bandara dulu. Andai saja ia tidak sebodoh itu, Karin tidak akan mengejar-ngejarnya seperti ini.
Aku telah membuka kotak Pandora dan aku harus menutupnya lagi. Aku harus mengakhiri segalanya dengan Uzumaki Karin dan—
Belum selesai ia melamun, tiba-tiba
"KYA!"
Seseorang terjun bebas dari tangga.
.
.
.
.
.
"EHM Haruno Sakura!" suara seperti gemuruh guntur itu bergema di seluruh kelas. Suasana kelas itu mencekam. Ketika Ibiki-sensei sudah megeluarkan dehaman saktinya, tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara, bahkan suara nafas mereka sendiri.
Hari ini Haruno Sakura benar-benar sial. Ibiki-sensei sudah memberinya death glare ketika ia telat 3 menit tadi pagi. Hanya 3 menit. Sekarang tiba-tiba Sakura mengantuk dan kepalanya tertunduk hanya beberapa detik. Lalu dehaman sakti itu muncul.
"Haruno Sakura, bawa buku-buku ini ke mejaku dan cuci wajahmu! Ini adalah peringatan pertama dan terakhir." ucap guru Fisika itu dengan tajam. Seharusnya dia bukan guru fisika, tapi satpam.
Sial, harusnya Sakura tidak marathon Netflix semalam suntuk. Well, itu salahnya karena tidak punya kontrol diri. Tapi, yang benar saja, diperingatkan seperti itu di depan semua orang? Astaga, mau ditaruh dimana wajah sang Ketua Dewan Murid?
Tiba-tiba kalimat 'di bokong juga tidak masalah' terngiang-ngiang di kepalanya. Sungguh de javu yang salah timing.
"Hai, sensei." Sakura bisa melihat Ino menyeringai tipis. Masa bodo.
Gadis dengan rambut merah muda yang sekarang berantakan itu berjalan membawa tumpukan buku yang cukup tinggi dan melangkahkan kaki menuju ruang guru di lantai 1.
Sakura menggerutu dalam hatinya sepanjang jalan, mengganti-ganti nama Ibiki dengan berbagai hal yang otaknya temukan, seperti
Ibikigila
Ibikisinting
Ibikutil
Ibinatang
Ibanci
Ibikini
Ibikentut
Sudah cukup. Jika dilanjutkan kalian akan menyesal.
Di persimpangan tangga lantai 2 dan 1, Sakura merasa ada yang salah. Ia menunduk untuk melihatnya.
Tapi itu semua terlambat.
Tali sepatunya yang lupa diikat membawa petaka
Ia terserimpat dan terjun bebas dari atas tangga bersama dengan tumpukan buku-buku yang juga dia kutuki.
"KYA!"
Bruk!
"Ouch…."
Sakura sudah menyiapkan diri untuk menghantam lantai marmer yang keras itu, tapi tubuhnya tidak merasakan sakit sehebat itu.
Sial. Umpatnya. Ia sadar seseorang ada tepat dibawah tubuhnya.
Tidak perlu kaget, tentu saja orang itu adalah Uchiha Sasuke.
De javu menghantamnya untuk kesekian kalinya dalam hari ini. Ini bukan pertama kalinya ia menindih Uchiha Sasuke. Secara tidak sengaja. Catat itu.
Sasuke tampak kacau. Selain tertindih gadis yang bisa-bisanya terjun bebas dari tangga itu, ia juga tertimpa buku-buku sialan yang sangat banyak.
"Sakura… kau mau membunuhku ya…" ucapnya tertahan. Untungnya, saat melihat Haruno Sakura jatuh dari tangga, Sasuke reflek mengambil ancang-ancang untuk menangkap gadis itu dan menahannya dengan kuat. Dan untungnya lagi, tubuh Sakura kecil dan tidak berat. Tapi tetap saja, buku-buku sialan itu terlempar dan menghujani mereka.
"Sasuke…" mata Sakura terbelalak. Sial, Sakura masih tidak bisa menatap Uchiha Sasuke secara langsung. Apalagi sedekat ini.
Seakan tersadar, Sakura buru-buru bangkit dan mengumpulkan buku-buku (sialan) yang terserak kemana-mana. Tanpa suara, Sasuke ikut mengumpulkan buku-buku (sialan) tersebut.
"Ehm…" deham Sakura untuk memecah keheningan. "Maaf dan terima kasih." Sakura merutuki dirinya yang sangat canggung. Hei, kemana skill debatnya yang mampu mengalahkan Tsunade-sensei? Ia merasa seperti orang bodoh.
"Hn." jawab si bodoh 2. Bodoh 1 dan bodoh 2 benar-benar canggung. Siapapun tolong pecahkan kecanggungan orang-orang bodoh iniiiiiiiiii!
Baru saja si bodoh 1 berdiri untuk melangkah, tiba-tiba dia jatuh tertunduk. Kaki kanannya terkilir.
Bodoh 2 yang melihat bodoh 1 jatuh tertunduk dengan cepat memeganginya. Sekaligus mencegah tumpukan buku-buku (masih sialan) itu jatuh lagi.
Sasuke mengamati wajah Sakura yang terlihat sedikit merah. Sebenarnya ia ingin mengawasi Sakura sebanyak yang ia bisa. Keberadaan Karin di Jepang membuatnya was-was. Tiba-tiba sebuah ide brilian (atau membawa petaka) muncul.
"Aku akan mengantarmu pulang hari ini. Jangan protes." ucap Sasuke dengan suara dingin yang ia buat-buat.
Sakura terlihat terkejut. Ia menatap Sasuke dan sepersekian detik kemudian langsung memalingkan wajahnya. Ya, masih canggung.
Melihat Sakura yang malu-malu membuat Sasuke menyeringai tipis.
Tuh kan dia terpesona.
.
.
.
.
.
"STOP!"
Kaki pria itu menginjak pedal rem dengan panik. Seketika itu juga, Lamborghini Huracan berwarna dark blue berhenti beberapa meter sebelum kediaman megah keluarga Haruno.
"Kenapa?!" Sasuke panik sendiri.
"Lihat ada siapa di pintu gerbang." Ujar Haruno Sakura sambil melirik ke arah pintu gerbang megah.
"Ibumu?" ucap Sasuke ragu.
"Tepat sekali."
"Memangnya kenapa?" si pengemudi tidak habis pikir perempuan disebelahnya ini ingin menghindari ibunya sendiri.
"Kau pikir apa yang akan terjadi jika ibuku melihat kita sekarang?" kali ini, si penumpang yang tidak habis pikir dengan laki-laki disebelahnya yang pikirannya tumpul.
Sasuke terdiam, ia menatap Nyonya Haruno yang terlihat keluar dari gerbang dan diikuti dengan mobil Vellfire hitam yang siap mengantarnya kemanapun.
"Menyuruhku masuk?" tebak Sasuke dengan ragu.
"TENTU SAJA DIA AKAN MENYINGGUNG TENTANG PERJODOHAN KITA, BAKA!" Yaampun, rasanya sangat lega setelah mengumpat pada Uchiha Sasuke.
Sasuke agak terkejut karena jeritan Sakura yang tiba-tiba, namun sekarang ia paham. Ia menetralkan gigi pada mobil dan menunggu Nyonya Haruno masuk ke mobil.
Benar juga, akhir-akhir ini hidup mereka tidak diganggu soal perjodohan. Kedua orang tua mereka sedang sibuk dengan urusan perusahaan. Alhasil, mereka lolos dari janji di pertemuan keluarga terakhir, saat Sakura berulang tahun umur 17. Mereka meminta waktu selama sebulan, tapi ini sudah 3 bulan lebih.
Nyonya Haruno membawa barang bawaan yang sangat rempong. Ia membuka pintu mobil dan mengambil ancang-ancang untuk memasuki mobil. Tapi sejurus kemudian ia tidak jadi masuk dan malah mengoceh pada seseorang dari arah pintu masuk rumah.
Sasuke dan Sakura yang sudah berharap ia masuk mobil harus kecewa.
Akhirnya Nyonya Haruno berhenti berbicara dan masuk ke dalam mobil.
Tapi tiba-tiba ia keluar lagi. Ternyata hanya meletakkan barang bawaan.
Sasuke dan Sakura yang sudah mulai tegang terlihat mengernyitkan dahi.
Nyonya Haruno kembali masuk ke mobil dan kali ini menutup pintunya.
Huft.
Sasuke dan Sakura yang sedaritadi menahan napas akhirnya menghelanya dengan lega.
TAPI TIBA-TIBA
Haruno Yachiru, bocah perempuan itu berlari dari pintu utama menuju ke mobil. Alhasil, Nyonya Haruno turun lagi.
Sasuke dan Sakura kembali menahan napas.
Nyonya Haruno dan Yachiru terlihat membicarakan sesuatu. Lalu Yachiru menengok ke…arah…mobil mereka….
Sakura terperanjat dan—
"MENUNDUK!" Ia cepat-cepat menunduk dan menundukkan Sasuke secara paksa.
Sasuke yang tidak siap dengan semua kegilaan ini menoleh ke arah Sakura sambil tertunduk menghadap stir dan protes, "kenapa lagi sih?!"
"Adikku akan selalu mengenaliku. Jika kita tertangkap basah disini, maka sia-sia lah usaha kita menunggu ibuku yang sangat rempo—"
"ONEE-CHAN! SAKURA ONEE-CHAN!" Terlambat. Yachiru sedang melambai-lambai sambil sedikit melompat ke arah mereka.
Sasuke dan Sakura saling berpandangan…keduanya menghela napas.
"Maju, Sasuke."
Dengan terpaksa Sasuke menjalankan mobilnya dan berhenti tepat didepan gerbang. Terlihat Yachiru yang sedang tersenyum tanpa dosa. Disampingnya, terlihat Nyonya (rempong) Haruno dengan ekspersi wajah terkejut dan berbinar.
"Aku akan turun, kau langsung pulang saja. Thanks Sasuke." ucap Sakura yang dengan cepat turun dari mobil dengan kaki agak pincang.
Belum sempat ia menutup pintu mobilnya, sang ibu menyapa Sasuke dengan heboh.
"OHHHH Astaga Sasuke-kuuuuuun! Bagaimana kabarmu? Hiyaaaahhh! Ya ampun, kau memang anak yang baik sudah mengantar Sakura pulang." ucap Nyonya Haruno terlampau ekspresif.
Sasuke menurunkan kaca jendelanya. "Obaa-san, kabarku baik. Kaki Sakura terkilir jadi kuantar pulang."
"Obaa-san? Astaga! Yang betul itu Okaa-san! Ahahahahahhaha. Sasuke, mau masuk dulu? Kau pasti lelah kan pulang sekolah." tawa itu sangat menyebalkan sampai-sampai Sakura ingin menguncir bibir ibunya sendiri.
"Tidak! Maksudku… Sasuke harus buru-buru pulang." Sela Sakura, berusaha menyelamatkan Sasuke.
"Kenapa? Kau sakit?" tanya Nyonya Haruno dengan nada kecewa.
"Tidak… umh… dia… celananya kena kotoran dan harus segera diganti." Astaga. Alasannya memang out of the box tapi itu membawa petaka.
"Bukan masalah. Kakakmu Natsu punya banyak celana di kamarnya."
"TAPI! Sasuke… tidak suka celana Natsu-nii. Dia hanya memakai celana tertentu saja." Sialllllll. Haruno Sakura mengumpat dalam hatinya.
"Oh! Sasuke-niichan kan sukanya celana legging! Iyakan nee-chan?"
Astaga, lagi-lagi sebuah de javu yang tidak ingin Sasuke rasakan. Sebuah memori mengerikan yang ingin ia bakar dan kubur selamanya. Ingatan bahwa ia pernah menggunakan celana legging ketat milik Mikoto di pertemuan keluarga…
Yachiru tersenyum cerah sambil mengatakan hal terlarang itu.
Sakura setengah mati menahan tawanya.
Nyonya Haruno mengangguk paham.
Sasuke ingin mati saja.
Siapapun tolong kamui Uchiha Sasuke ke dimensi lain detik ini juga.
.
.
.
.
.
Hari panjang yang penuh dengan de javu ini akhirnya hampir berakhir. Sambil memijit keningnya, Sasuke mengingat kembali kejadian hari ini yang dipenuhi Haruno Sakura. Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya terangkat. Hari ini melelahkan tapi…menyenangkan.
Oke fokus Sasuke. Batinnya mengingatkan untuk fokus kepada berkas didepannya. Pria 18 tahun itu sedang duduk di meja belajar dan mempersiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk mendaftar kuliah kedokteran.
cklik!
Pintu kamarnya tiba-tiba dibuka. Sasuke menoleh dan mendapati Fugaku sedang berjalan masuk sambil membawa berkas di tangannya.
Pria paruh baya itu melihat berkas yang ada di meja Sasuke dan terdiam beberapa saat.
"Sasuke, hentikan membuang waktumu untuk mendaftar kuliah kedokteran. Kau akan masuk jurusan bisnis." ujarnya sambil meletakkan berkas pendaftaran jurusan bisnis.
Sasuke sudah memendam ini sejak lama. Ia benci sekolah bisnis dan tidak mau melanjutkan bisnis keluarga Uchiha.
"Aku ingin menjadi dokter." ucapnya pelan.
"Aku mengerti dokter menghasilkan banyak uang dan dihormati. Tapi, seorang pebisnis menghasilkan uang yang jauh lebih banyak dan kau akan jauh lebih dihormati. Percayalah." Fugaku berusaha menjelaskan pada Sasuke dengan nadanya yang dingin.
"Tapi ini bukan masalah uang dan hormat. Aku ingin menjadi dokter karena—"
"Cukup. Keputusan ini sudah final dan aku tahu ini yang terbaik untukmu, Sasuke. Patuhlah seperti Itachi dan jangan membuat masalah." ucap Fugaku dengan penekanan pada kata-kata terakhirnya. Sejurus kemudian ia keluar dari kamar.
Mata Sasuke yang tadinya penuh kehidupan sekarang terlihat redup. Ini bukan pertama kalinya mereka membicarakan tentang masa depan Sasuke, dan hasil akhirnya selalu sama. Fugaku selalu memaksakan kehendaknya.
Kini pria tampan itu menjambak sendiri rambut hitamnya. Ia tidak ingin menjadi seorang pebisnis tapi ia tidak bisa menolak keputusan ayahnya.
Dan malam itu, Sasuke sadar, neraka depresinya telah dimulai.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
A/N : kalian ada yg tau Kak Jill gelombang gorden ga sih? Jujur suaranya terngiang2 di kepalaku dan itu jadi inspirasi buat suara Nyonya Haruno.
Anw! Konflik final mulai muncul bibit2nya disini.
Apakah Sasuke bakal boleh kuliah kedokteran? Atau Sasuke harus ngikutin keinginan orang tuanya?
Terus, apa Sakura akhirnya bisa berhenti benci Sasuke?
Gimana nasib perjodohan mereka?
Dan kira2 apakah Karin akan melakukan hal2 psikopat ke Sakura?
Sampai jumpa di Chapter 16!
