"The Good Wife"
Naruto (c) Masashi Kishimoto
The Good Wife (c) ReiraKurenai
Translated by Star Azura
Setelah semua penat dan masa-masa berat yang aku lalui selama pandemi, tiba-tiba aku merasa rindu membaca cerita tentang Ino di fanfiction.
Mengurai stress aku ingin membuat diriku kembali larut dalam dunia fiksi
Cerita ini sangat berkesan untukku.
Aku ingin tau apa yang akan dipikirkan diriku yang masih berusia enam belas tahun jika dia melihat kehidupanku yang sekarang.
Terkadang aku ingin diberi kesempatan untuk meminta maaf kepada diriku yang ada dimasa lalu.
Aku ingin memberinya lebih banyak motivasi agar dia lebih menikmati hari-harinya.
Inilah aku kini yang sedang berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih baik dimasa depan
I hope you happy to read
just like... I'm happy to translated
Enjoy it..!
The Heiress
Ino dibangunkan oleh sinar matahari yang menerpa wajahnya. Dia mengerang dan menarik kembali selimut untuk menutupi kepalanya, mencoba untuk menghalangi sinar matahari. Tapi itu membuat dia merasa pengap dan jelas tidak mungkin baginya untuk tidur kembali, jadi dia duduk dan mengutuk diam-diam di bawah sinar matahari. Dia lelah. Amat sangat lelah.
Dia tau, dia tidak bisa terus di tempat tidur sepanjang hari. Jadi mau tidak mau Ino harus meninggalkan tempat tidurnya yang hangat dan beranjak ke kamar mandi, mulai melepaskan satu per satu pakaiannya dan mengguyur dirinya dibawah shower. Dia menenggelamkan dirinya dibawah air panas, membiarkan tetesan itu dengan lembut membelai kulitnya saat dia berdiri di sana dalam diam. Dari sini Ino bisa mendengar Minato tertawa riang diluar, itu membuatnya semakin nyaman.
Setelah mandi, Ino mengeringkan dirinya dan mengenakan kimono ungu yang dia temukan di lemari pakaiannya. Untuk beberapa alasan, kimono itu mengingatkan Ino pada ibunya.
Ibu.
Kata itu melekat padanya seperti magnet. Bagaimana kabar ibunya? Kalau dia tidak salah ingat, dia sepertinya sering menghabiskan waktu bersama ibunya, karena Naruto berbicara tentang membantu ibunya saat pertama kali dia bangun sebagai dirinya yang berusia tiga puluh tujuh tahun. Itu pasti ibunya, karena Uzumaki Kushina sudah meninggal.
Ino mencatat dalam kepalanya untuk mengunjungi keluarganya sesegera mungkin. Karena bisa saja ayahnya tahu tentang perjalanan waktu dan yang membuat seseorang terjebak dalam dirinya dimasa depan. Mungkin ini bukan perjalanan waktu. Mungkin ini sesuatu seperti transfer pikiran! Memikirkannya Ino jadi bersemangat. Oh, itu mungkin saja! Jika ayahnya mengetahui sesuatu, mungkin dia bisa pulang!
Dengan gembira, Ino berlari menuruni tangga, mengambil sepotong roti dan kemudian meninggalkan rumah. Dia tahu bahwa anak-anak tidak sendirian, dia bisa merasakan kehadiran orang lain, jadi dia percaya mereka berada di tangan yang tepat untuk ditinggal sendirian sementara waktu.
Ino berharap rumahnya masih seperti dulu.
.
/
.
/
.
Rumah keluarganya tidak lagi berdiri di tempat yang sama, tetapi cukup dekat. Dan Ino langsung mengenalinya ketika melihat penanda toko yang langsung menarik perhatianya. Ino tersenyum ketika dia menatap gedung di depannya. Ino dengan cepat masuk ke dalam. Dia disambut oleh ember berisi bunga-bunga yang indah. Aroma manis menari-nari di sekelilingnya saat dia memejamkan mata. Menghirup nafas sedalam yang dia bisa. Betapa dia merindukan aroma bunga yang segar!
Rasanya sudah lama sekali dia tidak bekerja dengan bunga, padahal kenyataannya baru beberapa hari. Pintu terbuka di belakangnya, bel berbunyi keras di seluruh toko. Ino membuka matanya dan berbalik.
Ino bertatapan dengan sepasang mata berwarna lavender yang membuatnya tertegun. Tanpa sadar Ino merasakan darahnya menjadi dingin dan getaran aneh menjalar di punggungnya saat dia menatap orang di depannya.
Itu adalah seorang wanita dengan rambut hitam tergulung rumit di atas kepalanya menjadi sanggul mewah, jepit rambut dan ornamen indah mencuat dari sanggulnya. Bibirnya dipoles dengan warna merah delima dan dia mengenakan kimono merah dan emas yang amat sangat indah. Ino tanpa sadar mengepalkan tangannya.
"Ino?" tanya wanita itu, matanya bersinar terang.
"H-Hinata?" hanya itu yang bisa digumamkan Ino.
Hinata tersenyum hangat. Ino tidak percaya bahwa wanita dewasa dan cantik di hadapannya ini adalah Hinata. Hinata, gadis kecil pemalu yang selalu menarik diri terlihat seperti...dia terlihat seperti seorang ratu! Seorang ratu agung yang tahu dia memiliki kekuatan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Hinata yang pemalu?/
"Senang bertemu denganmu, Ino" Hinata tersenyum sambil membungkuk.
"Ya," Ino terdiam, "kau terlihat...luar biasa."
Hinata hanya tersenyum, rona merah kecil hadir di pipinya tetapi dia tidak gagap atau bereaksi seperti dulu, "Terima kasih, kamu sendiri terlihat sangat luar biasa.
"Jadi, apa yang membawamu ke sini?" tanya Ino, matanya masih terbelalak karena shock.
"Aku datang untuk membayar bunga yang dipesan keluargaku," kata Hinata, "Sudah kubilang aku akan datang hari ini, kan?"
Ino mengerjap, "Kau bilang begitu?"
"Ya," lanjut Hinata, kebingungan terlihat di wajahnya, "ketika kau di sini tempo hari, ingat?"
Faktanya adalah, Ino tidak ingat. Mungkin diri masa depannya akan ingat, tapi tidak dengan diri masa lalunya sekarang ini. Ino menggigit bibir bawahnya. Ini adalah sesuatu yang akan dia alami mulai sekarang ketika dia bertemu dengan teman-teman lama ... entah bagaimana itu membuatnya sedih.
Semua orang yang dia kenal di sini mengetahui begitu banyak hal tentang dirinya...hal-hal yang tidak dia sadari sama sekali. Bahkan tidak dia ketahui.
"Maaf," Ino menghela nafas, "aku tidak begitu baik beberapa hari terakhir ini, kurasa itu luput dari pikiranku."
"Masalah di surgamu yang indah?" tanya Hinata. Ino tampak terkejut. Hinata tersenyum jahat pada Ino. Itu adalah senyum yang menyeramkan, bukan senyum yang kamu harapkan dari gadis pemalu seperti Hinata.
"Ino menelan ludah, "apa maksudmu?."
"Apa kau bertengkar dengan Naruto?" tanya Hinata.
Ino terkejut. Hinata begitu lantang untuk membicarakan 'hubungannya' dengan Naruto? Semua orang tahu bahwa Hinata jatuh cinta pada Naruto! Bukankah dia akan marah atau cemburu ketika Ino 'sebenarnya' menikah dengan Naruto?
"Um...tidak juga," kata Ino, "itu rumit.
Hinata hanya mengangguk. Dia tidak membicarakan masalah ini lebih jauh. Ino bersyukur untuk itu. Jadi Ino bisa merasa lega dan tanpa sengaja matanya mengarah ke perut Hinata. Dia mengerjap, lalu matanya melebar.
"Kau... hamil?" Ino bertanya sambil melihat ke atas. Mata Hinata cerah dan dia tersenyum hangat.
"Ya!" Hinata berseru semangat, "Sepertinya tidak ada yang memperhatikan. Ini salah kimono bodoh ini. Mereka menyembunyikan semua lekuk tubuhku! Mereka hanya mengira benjolan kecil itu karena gemuk!"
Ino tertawa, "Selamat. Sudah berapa lama?"
"Dua puluh delapan minggu."
Pembicaraan mereka terputus ketika seseorang muncul dari belakang toko. Seorang wanita tua dengan rambut merah pudar dan mata biru memasuki ruangan, membawa keranjang dengan bunga ungu didalamnya. Dia mengenakan kimono ungu tradisional dengan celemek hijau di atasnya. Mata Ino berbinar saat melihatnya.
"Mama!" seru Ino. Meskipun ibunya jauh lebih tua dari yang dia ingat, tapi dia bisa langsung mengenalinya. Wanita itu tampak terkejut melihat Ino, tapi dia tetap tersenyum.
"Halo sayang, apa yang membawamu kesini?" Nyonya Yamanaka bertanya.
Ino melompat ke pelukan ibunya, menyebabkan wanita tua itu menjatuhkan keranjang berisi bunga yang dibawanya karena terkejut. Ino membenamkan wajahnya di bahu ibunya dan menangis dalam diam. Nyonya Yamanaka melihat putrinya gemetar dan melingkarkan tangannya di pinggang putrinya.
"Iya sayang," bisik Nyonya Yamanaka, "Aku di sini."
"Maafkan aku, Mama," Ino terisak, "Aku hanya merasa... sendirian."
Nyonya Yamanaka bingung, tapi dia memutuskan untuk tidak mendorong Ino. Sebaliknya dia menepuk punggung putrinya sampai dia tenang. Hinata menyaksikan adegan itu diam-diam. Wajahnya tersenyum tapi matanya serius mengamati.
Ino menarik diri dari ibunya dan menyeka matanya, lalu tersenyum. Ino dengan cepat berlutut dan mengumpulkan bunga yang dijatuhkan ibunya. Sementara itu, Nyonya Yamanaka menyapa Hinata dan menyambutnya. Ino meletakkan keranjang yang sekarang sudah kembali pebuh dengan bunga ungu di atas meja dan melirik bagaimana ibunya berbicara secara formal pada Hinata.
"Kapan Anda ingin pesanan dikirimkan?" Nyonya Yamanaka bertanya sambil membuka buku catatannya.
"Sabtu sore," jawab Hinata, "sebaiknya pukul empat. Aku tidak ingin pengiriman dan kedatangan terjadi pada saat yang bersamaan. Itu akan membuat tempat itu menjadi rumah sakit jiwa."
Nyonya Yamanaka tertawa, "baiklah! Tentu, aku mengerti. Berapa lama 'dia' akan tinggal kali ini?"
Hinata merona merah padam mendengar kata-kata Nyonya Yamanaka. Ino merasa sangat penasaran dengan apa yang dimaksud ibunya.
"A-aku tidak tahu," jawab Hinata. Ino tersenyum. Di sini kembali kegagapan Hinata!
Nyonya Yamanaka terkekeh, "Aku bercanda, Hyuga-sama! Tidak perlu gugup!"
Pipi Hinata menjadi semakin merah, tapi dia dengan cepat mendapatkan kembali ketenangannya dan menegakkan dirinya. Mereka terus mendiskusikan pilihan dan instruksi pengiriman, Ino mendapati dirinya berkeliaran di sekitar toko, sesekali berhenti untuk mengendus bunga.
"Oi, Hinata-sama, berapa lama waktu yang kamu butuhkan?" sebuah suara laki-laki bertanya, kesal. Saat pintu terbuka dan bel berbunyi. Ino mendongak dari tempatnya membungkuk menghirup bunga yang ada di vas. Di ambang pintu berdiri seorang pria muda tinggi dengan rambut hitam panjang dan mata berwarna lavender
"Neji?" Ino mendapati dirinya bertanya, tetapi ketika pria itu menoleh untuk menatapnya, dia menyadari bahwa dia mungkin terlihat seperti Neji, tapi dia sama sekali bukan Neji. Hinata berbalik menghadap pemuda itu dan menggelengkan kepalanya.
"Masahiro," kata Hinata, "apa yang sudah kukatakan tentang memanggilku 'Hinata-sama'?"
Masahiro menghela nafas, "Tapi ibu, kita di depan umum!"
Ino melongo dengan mata terbelalak pada pria itu. Apakah dia baru saja memanggil HInata ibu? Tentu saja, Ino menduga Hinata memiliki anak lain selain yang sedang dikandungnya, tapi dia tidak menyangka anak yang lain akan begitu...dewasa. Dia tampak setidaknya tujuh belas tahun, bahkan mungkin lebih tua. Ino tidak ingin menyimpulkan kemungkinan Hinata memiliki anak sedini itu.
"Selamat siang, Masahiro," Nyonya Yamanaka tersenyum, "Kau tidak ingin membeli beberapa bunga hari ini?"
Masahiro tersipu, "Hentikan! Kau tahu aku tidak punya perasaan untuk Akemi! Astaga!"
Nyonya Yamanaka tertawa, "Aku hanya menggodamu. Tidakkah menurutmu itu romantis? Kisah asmara antara putri seorang guru dan putra murid guru itu?"
Hinata terkekeh, "Aku harus setuju, itu memang kisah yang bagus.
"Lihat?" Nyonya Yamanaka bertanya, "Bahkan ibumu setuju."
Alis Masahiro berkedut, "Terserah." Dan begitu saja, pemuda itu keluar dari toko. Ino berdiri, matanya masih terbelalak kaget karena bertemu dengan putra Hinata.
"Yah, dia jelas kesal," Nyonya Yamanaka terkekeh, "Kurasa kau harus pergi, Hyuga-sama."
Hinata mengangguk setuju, "Ya, terima kasih atas bantuanmu. Sampai jumpa di jamuan makan."
"Pasti," Nyonya Yamanaka mengangguk. Hinata membungkuk dan kemudian pergi, tampak sama anggunnya dari belakang. Ino kagum betapa Hinata telah berubah.
Nyonya Yamanaka berbalik menghadap Ino, "Jadi apa yang membawamu kesini?"
.
/
.
/
.
#*To be continued*#
Perubahan Hinata disini sangat mengesankan bukan?
Iya, setelah beberapa tahun setiap orang pasti akan berubah. Bukan dirinya, tapi caranya dalam menyikapi sesuatu.
Karena dalam perjalanannya seseorang pasti melalui banyak hal yang mengasah kepekaannya, instingnya dan karakternya.
Termasuk aku dan kamu!
Baiklah, sedikit bocoran dari ReiraKurenai kalau disini Hinata memiliki peran yang penting, karena dia akan akan memberi pengaruh kepada Ino besar-besaran di sepanjang plot
Jika kalian penasaran bisa langsung baca versi aslinya di akun ReiraKurenai
s/6678938/1/The-Good-Wife
Give me your riview yaa ^_^
Thanks
by : Star Azura
