Disclaimer:
Bleach: Tite Kubo
Hyperdimension Neptunia: Idea Factory
.
.
.
Main Character: female Ichigo
Genre: fantasy, family, humor, adventure, action, scifi
Rating: T
Setting: dunia Gamindustri
.
.
.
Goddess Shinigami
By Hikayasa Hikari
.
.
.
Fic request for Special Pairing 15
.
.
.
Chapter 4. New Purple Sister
.
.
.
Gadis berambut putih panjang yang tergerai lepas, terlebih dahulu maju untuk menyerang Neptune. Dia, Noire, Goddess pemimpin Lastation. Melayangkan pedangnya horizontal ke arah Neptune. Mereka bertarung dengan kecepatan sangat tinggi.
Neptune bertampang panik. "Neptune-nee!"
Adik Noire, Uni, menukikkan alis. "Noire-nee, jangan kalah dari Neptune-nee!"
"Ichigo-nee, lakukan sesuatu. Jangan sampai Neptune..."
Nepgear menoleh ke arah Ichigo. Keningnya mengerut. Ternganga. Pasalnya, muka Ichigo merebus merah karena melihat penampilan gadis berambut hijau.
"Ichigo-nee!" seru Nepgear menggoyang-goyangkan badan Ichigo.
Ichigo tersentak, melebarkan mata. "Hah? Ada apa?"
"Ichigo-nee, apa yang terjadi padamu sehingga wajahmu memerah begitu?"
"Eh? Tidak ada apa-apa. Oh ya, mana Neptune?"
"Dia sedang bertarung dengan Noire-nee di atas sana!"
Nepgear menunjuk ke langit pagi yang masih cerah. Neptune dan Noire saling bertarung, melepaskan jurus masing-masing. Terbang tinggi, menjauhkan jarak beberapa meter.
"Blaze Slash!" teriak Neptune yang meluncur tinggi ke arah Noire.
"Infinite Slash!" pekik Noire juga melesat menuju Neptune. Dia akan melakukan tebasan cepat dan berkali-kali pada target.
"Tidak! Neptune-nee!" jerit Nepgear bergegas terbang ke arah Neptune.
Noire berhasil menghindari serangan pilar cahaya menyerupai api dari Neptune. Dia melakukan tebasan beberapa kali pada Neptune dengan rapier-nya. Neptune tidak bisa melawan, terpaksa menerima serangan itu. Menimbulkan kristal-kristal biru yang muncul dari luka-luka di tubuh Neptune akibat sabetan rapier Noire.
Noire melemparkan Neptune ke udara. Menebas Neptune dengan cepat. Neptune berteriak bersama banyak kristal biru yang keluar dari luka-luka di tubuhnya. Kemudian Noire menjentikkan jarinya, dan menebas diagonal Neptune beberapa kali. Untuk penyelesaian terakhir, dia menebas Neptune dengan pilar cahaya yang sangat besar.
"Aaah!" Neptune berteriak keras karena mendapatkan ledakan besar di tubuhnya. Dirinya berubah kembali menjadi manusia. Jatuh dengan cepat, untung ditangkap oleh Nepgear.
"Neptune-nee." Nepgear memeluk Neptune yang sudah tak sadarkan diri. Meneteskan air mata.
Noire melayang anggun di udara. Mengacungkan ujung rapier ke bawah. Matanya menyipit.
"Kakakmu yang lemah, tidak pantas menjadi Goddess yang memimpin Planeptune ini. Jadi, biarkan aku yang mengambil alih kekuasaannya," ucap Noire tersenyum sinis.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil alih negara ini!" balas Nepgear menukikkan alis. Suaranya meninggi.
"Kau hanya anak kecil yang tidak bisa apa-apa. Menyerahlah dan pergilah dari sini bersama kakak-kakakmu."
"Aku dan kakak-kakakku akan tetap bertahan di sini!"
"Hei, kalian semua! Kalian sudah menyakiti adikku! Aku tidak akan memaafkan kalian!" teriak Ichigo yang membuat semua orang melihatnya, "Zangetsu!"
Ichigo melayang diikuti cahaya keunguan yang menutupi seluruh tubuhnya. Semua mata terbelalak saat menyaksikan perubahan pada diri Ichigo.
Ichigo berubah wujud menjadi CPU atau HDD. Rambut ungunya yang pendek semula menyerupai gaya rambut Arisawa Tatsuki, menjadi panjang sepunggung. Atasannya masih berbentuk pakaian Shinigami, tetapi berwarna ungu, ditambah dengan bawahan berupa rok hitam mini.
Klip berbentuk tengkorak ungu terpasang di sisi kanan rambutnya. Sepatu boost tinggi ungu di atas paha, membungkus kakinya. Dilengkapi dengan Zanpakutou besar terpasang di punggung, bertransformasi menjadi pedang berteknologi canggih dengan cahaya ungu di bilahnya.
Mata Ichigo yang semula terpejam, perlahan terbuka. Warna matanya menjadi ungu-kehitaman dengan simbol CPU bercahaya.
Rambut dan pakaian Ichigo berkibar pelan karena ada angin yang meniup. Ichigo memandang tajam semua Goddess dengan perasaan muak. Kemudian dia memegang pedangnya dengan dua tangan. Kedua kakinya melebar. Badannya condong ke depan.
"Getsuga Tenshou!" teriak Ichigo mengayunkan pedangnya vertikal ke bawah. Tercipta badai reiratsu yang berupa pilar cahaya besar biru. Serangan itu meluncur ke arah para Goddess.
"Gawat!" Uni membelalakkan mata.
"Semuanya, menghindar!" Vert berteriak panik, langsung terbang ke langit bersama yang lain.
Serangan Getsuga Tenshou tidak mengenai sasaran, justru mengenai tebing yang ada di tepi kota. Tebing itu meledak hebat. Karena itu, Ichigo menggeretakkan gigi-giginya. Perasaannya semakin kesal. Kemudian terbang menuju Noire.
"Getsuga Tenshou!" Ichigo bersuara meninggi. Melepaskan pilar cahaya biru lewat sabetan vertikal pedangnya.
Noire membelalakkan mata. Dirinya ditarik oleh Uni. Serangan Ichigo melewati udara.
"I ... itu kakak tertua Neptune yang tidak memiliki kekuatan Goddess, 'kan?" tanya Vert tergagap. Melipat tangan di bawah dadanya. Dia dan semua Goddess sudah cukup jauh dari Ichigo.
"Ya. Benar. Sosoknya berbeda dari sosok pertama kali kita lihat," jawab Blanc, melayang di sisi kanan Vert.
"Blan-nee, aku merasakan aura tidak mengenakkan dari Goddess baru itu," kata Rom diikuti dengan anggukan Ram.
"Kita pulang saja, Blan-nee," balas Ram. Badannya sedikit bergetar.
"Sepertinya lawan kita kali ini kuat. New Purple Sister, itulah julukan yang pantas untuknya." Vert memandang lama Ichigo.
"Ya. Mari, kita kembali dulu ke tempat masing-masing." Blanc mengangguk.
Blanc terbang bersama kedua adiknya. Diikuti oleh Vert, Noire, dan Uni. Mereka terpaksa kabur daripada menanggung resiko yang mungkin bisa merenggut nyawa mereka.
Ichigo menghela napas karena berhasil membuat semua musuh itu pergi. Padahal dia tidak berniat untuk bertarung dengan mereka, tetapi hanya menggertak saja. Kemudian dia melirik Nepgear, menampilkan senyum menawan.
"Nepgear, kita menang lagi," ujar Ichigo. Matanya melembut.
"Ichigo-nee," tukas Nepgear terpaku, lalu tersenyum, "kau keren, Onee-san. Kau sudah menjadi CPU sekarang. Tapi, pakaian tempurmu berbeda dari kami."
"Ya. Lebih baik begini, daripada aku berpakaian minim seperti itu."
Ichigo manyun. Tidak berani membayangkan kalau dia berpakaian tempur seperti Neptune dan Goddess lain. Apa lagi membayangkan Vert yang membuat otaknya mampat.
"Aaah, apa yang kupikirkan? Aku ini perempuan, bukan laki-laki," gerutu Ichigo menjambak rambutnya.
"Eh? Ichigo-nee bilang apa?" tanya Nepgear mengerutkan kening.
"Hah? Bukan apa-apa."
"Aku dengar apa yang kau katakan."
"Hah? Apa itu benar?"
"Benar, tetapi itu bohong."
"Nepgear! Kau ... dasar!"
Nepgear terkikik geli, sementara Ichigo hanya bisa mendeliknya. Kemudian Ichigo juga tertawa dan membantu menggendong Neptune ala gaya bridal. Pulang bersama Nepgear.
.
.
.
Noire dan Uni kembali ke Lastation. Mereka tinggal di sebuah gedung mirip kastil. Gedung yang terpisah dari gedung-gedung lainnya.
Noire duduk di pinggir ranjangnya yang sangat besar, tepatnya di kamarnya. Berwujud gadis berambut hitam panjang yang diikat dua dan berpakaian mewah serba hitam-biru. Menunjukkan paras datar.
"Aku sangat kaget dengan serangan kakak tertua Neptune-nee itu. Kalau begini, kita tidak bisa merebut negara Planeptune itu," ujar Uni mondar-mandir. Dia berwujud gadis berambut hitam bergelombang melewati bahu dan bergaun hitam.
"Serangannya sangat kuat, bahkan bisa meledakkan tebing sampai hancur total begitu," balas Noire menyipitkan mata, "tetapi penampilannya sebagai Goddess baru berbeda dari kita. Dia tidak memiliki sayap atau amor apapun."
"Benar juga. Dia menyebutkan jurus pedangnya juga dengan kalimat yang aneh. Get ... apa tadi, ya?"
"Aku semakin penasaran dengan New Purple Sister itu, dan ingin sekali bertarung dengannya."
"Hah? Jangan, Onee-chan! Itu berbahaya!"
"Mengapa?"
"Dia itu lawan yang tidak seimbang untuk kita."
"Itu bagus."
Noire berdiri, tersenyum. Matanya menyipit seiring alisnya naik.
"Semakin kuat musuh kita, aku akan semakin tertantang untuk melawannya," ungkap Noire bermuka serius.
"Tapi, Onee-chan, aku tidak mau kau terluka," tukas Uni mengernyitkan dahi.
"Jangan khawatir."
Noire tersenyum lagi. Matanya melembut. Wajahnya perlahan berseri-seri.
.
.
.
Nepgear, Compa, dan IF melihat Ichigo membalut luka-luka yang ada di sekujur tubuh Neptune. Mereka tercengang, terutama Compa.
Ichigo yang duduk di tepi ranjang, tersenyum dan memberikan kotak P3K pada Compa. "Sudah selesai. Terima kasih buat kotak obatnya, Compa."
Compa mengangguk, menerima kotak obat. "Ya, tetapi Ichigo-nee, kau seperti sudah terbiasa melakukan itu."
"Ya. Karena ayahku dokter, aku terbiasa membantunya. Sekedar membalut luka-luka dengan perban ini, aku bisa sekali."
"Eh? Ayahmu dokter? Bukankah ayah kalian sudah tidak ada lagi, Gear-chan?"
Nepgear menggeleng. "Ayah kami bukan dokter, tetapi..."
Ichigo memotong pembicaraan Nepgear. "Maksudku ... aku belajar dari buku yang kutemukan di perpustakaan hari ini."
"Oh, begitu." Compa dan Nepgear menyahut kompak.
Ichigo tersenyum kikuk. Sebisa mungkin menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya. Tapi, dia tidak berani membayangkan apabila semua orang tahu bahwa dia dahulunya laki-laki di dunia lain.
Tiba-tiba, muncul sebuah buku tebal melayang lewat jendela kamar Compa yang terbuka lebar -- Ichigo bersaudara tinggal di rumah Compa untuk sementara waktu. Kedatangan buku tebal itu mengejutkan Ichigo sehingga Ichigo terjungkal ke belakang.
"Neptune!" teriak gadis kecil berambut pirang kecokelatan panjang diikat dua, duduk di atas buku itu. Melayang mendekati Neptune.
"Histoire," balas Nepgear tersenyum.
"Apa Neptune baik-baik saja, Nepgear?"
"Ya."
"Siapa dia?" tanya Ichigo terduduk di lantai, menunjuk Histoire. Menyela pembicaraan Nepgear dan Histoire.
"Dia Histoire. Makhluk perwujudan dari buku sejarah dunia ini," jawab Nepgear tersenyum.
"Benar. Aku Histoire, mengetahui segala hal tentang dunia ini, termasuk menentukan siapa-siapa saja yang menjadi Goddess dan bisa membuka portal dimensi."
Histoire melayang mendekati Ichigo. Menatap lebih dekat wajah Ichigo. Matanya menyipit.
Makhluk yang menentukan siapa-siapa saja yang menjadi Goddess? Jangan-jangan dia yang membawaku datang ke dunia ini, batin Ichigo.
"Hei, kau itu Ichigo, 'kan?" tanya Histoire menunjuk hidung Ichigo.
"Ya," jawab Ichigo mengangguk.
"Kau tidak mengenalku?"
"Tidak."
"Kau pasti amnesia."
"Mungkin saja."
Ichigo tersenyum kaku. Sedikit menjauh dari Histoire. Kemudian Histoire menatap wajah-wajah yang ada di sekitarnya.
"Goddess biru yang menyerang kota ini, namanya Rei Ryghts, datang dari dimensi lain. Aku telah salah membawanya ke sini, tetapi bukan aku yang memberikannya kekuatan Goddess," jelas Histoire menukikkan alis.
"Kalau bukan kau yang memberikan kekuatan Goddess padanya, lalu siapa?" tanya Ichigo, sudah berdiri.
"Mungkin ... Croire yang menyebabkan semua ini."
"Siapa itu Croire?"
"Dia makhluk sepertiku, bisa melintasi antar dimensi dan memberikan kekuatan Goddess pada gadis yang dipilihnya. Pasti dia bersembunyi di suatu tempat. Jadi, aku ingin kalian menemukannya sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan."
"Kalau begitu, biar aku yang mencari Croire itu."
"Eh? Tapi, Ichigo-nee, sebaiknya kau tetap di sini. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu," sela Nepgear bermuka kusut.
"Jangan cemas, Nepgear. Aku akan menemani Ichigo sampai menemukan Croire." Histoire melirik Nepgear, tersenyum.
Nepgear masih bermuka kusut. Melihat Neptune yang masih terbaring. Sungguh menyesakkan dadanya.
"Tapi, Neptune masih belum sadar. Sebaiknya kalian jangan terburu-buru pergi," ungkap Nepgear meredupkan mata.
"Benar juga. Masalah Neptune dengan para Goddess belum selesai," balas Ichigo sedikit melebarkan mata.
"Aku tahu sumber masalah yang menyebabkan semua Goddess malah melawan Neptune. Itu karena hasutan penyihir jahat yang bernama Arfoire."
"Di mana aku bisa menemukannya?"
"Mungkin tidak jauh dari kota ini."
"Baiklah. Tunjukkan jalannya padaku, Histoire!"
Ichigo bergegas berlari keluar dari kamar. Histoire terbang mengikuti Ichigo. Nepgear yang hendak mengikuti mereka, dicegah oleh gelengan Compa dan IF.
"Gear-chan, tetaplah di sini. Hanya kau Goddess yang bisa menggantikan Nep-chan sampai Nep-chan bangun lagi," ucap Compa tersenyum.
"Aku mengerti. Tapi, aku sangat mencemaskan Ichigo-nee," tukas Nepgear sedikit menundukkan kepala.
Ichigo berlari menyusuri jalanan yang masih sepi. Histoire terbang mengikutinya dari samping. Memperhatikan saksama Ichigo.
"Kau benar-benar tidak mengenaliku?" tanya Histoire mengerutkan kening.
"Tidak," jawab Ichigo menggeleng, menatap Histoire.
"Aku yang mengantarkanmu ke dunia ini."
"Eh? Kau yang berbicara padaku waktu itu?"
"Iya. Kau hampir mati, jadi aku terpaksa menyelamatkanmu dan membawamu ke dunia ini."
"Aku mengerti."
"Kau tidak marah saat mengetahui dirimu menjadi perempuan?"
"Jangan mempermasalahkan itu sekarang. Masalah utama itu, kita harus menyelesaikan permasalahan Neptune."
"Baiklah."
Histoire mengangguk. Menunjuk jalan yang benar menuju tempat Arfoire berada. Jalan menuju hutan yang menjadi perbatasan antara negara Lastation dan Planeptune.
.
.
.
Gadis berambut biru panjang duduk di dekat pohon rindang. Napasnya terengah-engah. Merasakan badannya sangat sakit. Memegang kacamatanya erat sekali.
"Hei, kau payah sekali!" seru gadis kecil berambut pirang platinum pendek yang duduk bersila di atas buku tebal melayang. Muncul tiba-tiba di samping Rei.
"Rupanya kau, Croire," balas Rei membuka kacamatanya, "maaf, aku sudah dikalahkan oleh kakak tertua Purple Heart."
"Kakak tertua Purple Heart ... bukankah dia tidak memiliki kekuatan Goddess itu?"
"Ya. Tapi, sepertinya dia punya kekuatan lain. Kekuatan yang sangat besar. Dia menyebut dirinya Goddess Shinigami."
"Goddess Shinigami? Hmmm, aku pernah berkunjung ke dunia yang ada Shinigami, Hollow, Quincy, dan Fullbring. Mungkin kakak tertua Purple Heart berasal dari sana."
"Hah? Goddess Shinigami itu berasal dari sana?"
"Ya. Mungkin Histoire yang telah membawanya ke sini. Huh, dasar, Histoire itu!"
Cloire merengut. Dia bersedekap dada, sedang memikirkan rencana selanjutnya. Ingin melihat dunia ini hancur, itulah harapannya.
"Rei, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," ungkap Cloire menukikkan alis.
"Melakukan apa?" tanya Rei mengernyitkan dahi.
Cloire terbang mendekati Rei. Membisikkan rencananya itu. Rei manggut-manggut.
"Aku mengerti," kata Rei memakai kacamatanya, "aku akan melaksanakannya sekarang."
"Ayo, kita pergi!" ajak Croire, memunculkan lingkaran portal dimensi digital setinggi beberapa meter. Rei berdiri dan berjalan masuk ke lingkaran itu.
Rei dan Croire menghilang dalam hitungan detik. Mereka berpindah tempat ke dimensi lain. Entah apa yang direncanakan mereka.
Hutan yang menjadi tempat persinggahan Rei, telah sepi. Merupakan wilayah perbatasan yang dilalui Ichigo dan Histoire.
"Histoire, apa masih jauh tempatnya?" tanya Ichigo berjalan di jalan setapak yang ditumbuhi semak-semak belukar.
"Beberapa meter lagi," jawab Histoire, melihat ke depan. Menukikkan alis.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Update cepat. Terima kasih.
Dari Hikayasa Hikari.
Minggu, 9 Oktober 2022
