CIGARETTE AND LIQUOR
SASUKE X HINATA FANFICTION
PRESENTED BY
H E X E
SMOKE VI
"Haruskah aku membawa Locco?" Jack memandang Hinata di pantulan cermin dengan tatapan bertanya.
Belum ada jawaban yang terdengar; Hinata masih terdiam saat Jack sedang memakaikannya dreess warna hitam rancangan Yamanaka Ino yang beberapa hari lalu ia ambil dari butik Yamanaka.
Locco terlihat sedang bergelung di kedua kaki Hinata; sedikit mengganggu pekerjaan Jack karena ukuran anjing itu yang besar.
Jack menyanggul rambut Hinata; sanggulan sederhana dengan menyisakan anak rambut di kedua sisi wajah Hinata. Senyum tipis terlihat saat Jack memandang tampilan Hinata yang sudah rapi dalam cermin.
Hinata berbalik kemudian duduk di sisi ranjang, "kalian bertiga; ikutlah denganku."
Jack sempat menghentikkan langkahnya saat hendak membawa tas dan kaca mata milik Hinata dalam lemari.
"Sakura masih di rumah sakit, dan sepertinya Shino membutuhkan bantuanku." Jack menghampiri Hinata dengan tas dan kaca mata di masing-masing tangannya. Pria itu berlutut dan meletakkan kepalanya di pangkuan Hinata dengan kedua lengannya memeluk satu betis milik Hinata.
Untuk beberapa detik berikutnya; hanya ada kesunyian yang cukup membuat mereka berdua merasa kurang nyaman. Jacak tahu jika malam ini Hinata akan pergi mengunjungi ayahnya di kediaman Hyuuga. Hinata akan bertemu dengan kedua saudaranya; Neji dan Hanabi.
"Aku akan membereskan pekerjaan secepat mungkin. Aku juga akan membawa Sakura."
Hinata menepuk-nepuk puncak kepala Jack dengan pelan, "tidak. Bawa saja Locco denganmu; sudah lama dia tidak keluar dari rumah."
Rumah.
Satu kata yang begitu berarti untuk Jack. Bukan hanya untuk dirinya saja; satu kata itu juga sangat berarti untuk Sakura dan juga Locco. Hinata adalah rumah bagi mereka bertiga, wanita itu adalah tempat untuk mereka kembali. Dan sekarang; Hinata akan pulang ke tempat yang sempat wanita itu anggap sebagai rumah.
Kediaman utama Hyuuga.
Jack merasa khawatir karena tidak bisa menemani majikannya seperti sebelum-sebelumnya. Biasanya Hinata akan ditemani oleh dirinya atau oleh Sakura. Namun kunjungan saat ini mereka tidak bisa menemani Hinata untuk datang ke sana.
Entah apa yang akan terjadi nanti. Jack masih ingat betul saat kunjungan terakhir ke kediaman Hyuuga terjadi keributan yang cukup besar antara Hinata dengan kakak perempuannya; Hanabi. Acara makan malam kala itu berakhir dengan kacau; bahkan ayah Hinata harus mengerahkan beberapa pengawalnya untuk melerai pertengkaran mereka berdua.
Hinata yang hampir tertusuk dengan pisau dan garpu saat Hanabi menyerangnya merasa tidak terima dan meluapkan amarahnya dengan menodongkan smith & wesson 500 magnum tepat ke arah tengkorak Hanabi. Semua orang yang berada di ruang makan terkejut saat Hinata menodongkan pistol itu pada Hanabi. Setelah itu beberapa pengawal mengamankan Hanabi dan Hinata juga diamankan oleh Jack dan Sakura.
Kejadian itu sangat berdampak buruk bagi Hinata. Saat setelah mereka meninggalkan kediaman Hyuuga; Hinata menembak dua orang pria mabuk yang mencoba menggodanya saat di basemen Heaven. Kedua pria itu tewas seketika.
Jack bersama Kiba, Shino, dan Sakura membereskan kekacauan yang dibuat oleh Hinata malam itu. Tepat setelah kejadian penembakan; Hinata mengurung diri di ruangannya. Menghabiskan puluhan botol liquor dengan jenis yang berbeda dan dilarikan ke rumah sakit dua hari setelahnya karena tidak sadarkan diri.
"Kau tidak boleh membawa senjatamu, Luna. Aku mohon." Jack menggesekkan hidungnya di paha Hinata, "Aku akan menjemputmu bersama Sakura."
"Bawakan liquor yang ku pesan kemarin. Aku akan memberikannya malam ini."
Jack bangkit berdiri; diikuti Hinata yang juga bangkit dan berjalan keluar kamar dengan Locco yang mengekor dibelakangnya. Hinata terlihat menghindari kalimat permohonan Jack.
Sepertinya Hinata akan mampir ke apartemen sebelah; pria yang sempat menolong Hinata dan kebetulan menghuni satu unit di gedung ini. Hiinata sepertinya tertarik dengan pria itu; Uchiha Sasuke. Seorang penulis kawakan dengan karya-karyanya yang sudah terjual di dalam negeri maupun di luar negeri.
Sebuah kejutan saat Jack menemukan satu amplop besar di meja kerja Hinata –dan isi amplop itu adalah informasi mengenai Uchiha Sasuke. Jack bahkan melihat foto-foto yang entah darimana foto-foto itu berasal. Informasi itu sangat lengkap; silsilah keluarga, saudara, sepupu, bahkan informasi mengenai buku apa saja yang sudah diterbitkan semuanya tertulis dengan rinci.
Hinata sudah keluar dari kamar dan turun ke ruang tamu. Jack masih memandang kosong ranjang berukuran queen size yang tampak luas dan kosong; apakah pria itu tidak berbahaya? Jack masih ragu dengan tindakan yang akan diambil oleh Hinata. Setiap kali Hinata tertarik pada seorang pria; tidak ada akhir baik yang akan terjadi.
Para pria yang didekati Hinata selalu berakhir dengan kekacauan –dan Uchiha Sasuke adalah target yang cukup merepotkan karena pria itu banyak dikenal oleh publik.
Haruskah dia berbicara dengan Sakura?
Haruskah mereka berdua menghentikkan Hinata?
Tidak.
Mereka berdua tidak akan bisa mencegah Hinata untuk mendekati Sasuke. Wanita itu sudah sangat tertarik dengannya. Hinata akan melakukan apa saja agar target yang ia incar bisa ia dapatkan. Cara kotor dan cara terkeji pun akan Hinata lakukan selama hal itu diperlukan untuk mendapatkan buruannya.
Manusia, hewan, ataupun benda mati; Hinata tidak pernah membedakan ketiganya. Bagi wanita itu –ketiga hal tersebut adalah sesuatu yang sama. Bahkan Hinata membunuh empat pria dengan meledakkan mobil di tengah jalan raya hanya untuk satu botol liquor tua yang melegenda.
Jack harus menjauhkan pria itu dari Hinata. Jack harus memperingati Uchiha Sasuke agar tidak terbawa dengan suasana yang akan diciptakan oleh majikannya; Hinata.
Tapi bagaimana?
Sepertinya pria Uchiha itu juga memiliki ketertarikan pada Hinata. Dua hari yang lalu Jack menerima laporan jika pria yang menjadi tetangganya itu sempat menanyakan perihal Hinata pada Genma; sang manager yang mengurus gedung ini –dan yang membuat dirinya geram adalah Genma memberitahukan jika Hinata adalah pemilik dari gedung ini; dia juga memberitahukan jika Hinata sudah menempati apartemen ini selama dua belas tahun.
Ada satu hal yang membuat Jack sedikit terkejut; kabar mengenai Sasuke yang ternyata sudah menghuni dan tinggal di gedung ini selama sepuluh tahun. Jack sama sekali tidak menyadari keberadaan pria Uchiha itu disini.
Mungkin karena mereka sibuk dengan kehidupan masing-masing –dirinya dan juga Hinata tidak banyak menghabiskan waktu di apartemen. Biasanya mereka menghabiskan waktu di Heaven, apartemen Sakura ataupun apartemen Gaara. Tentu hanya Jack saja yang mengahabiskan waktu di tempat Gaara; dengan seizin dari Hinata.
"Naruto!"
Jack terperanjat saat mendengar teriakan Hinata; ia segera mengambil tas dan kaca mata kemudian berlari turun ke bawah untuk menghampirinya.
.
.
.
Kembali ke kediaman Hyuuga membawa beberapa kenangan yang tidak ingin Hinata ingat. Kenangan manis dan kenangan pahit yang ia terima selama tinggal disini begitu membekas dalam dirinya.
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam; sepetinya Hinata setengah jam datang lebih awal dan harus menunggu di ruang keluarga. Ayahnya belum terlihat; mungkin beliau sedang mendiskusikan menu makanan yang akan disajikan nanti dengan koki pribadi milik keluarga Hyuuga. Hinata juga melihat beberapa pengawal yang bersiaga di sepanjang lorong yang mengarah ke ruang makan.
Sepertinya ayahnya memperketat barisan untuk mengantisipasi jika kejadian tiga bulan yang lalu terulang kembali.
Kejadian itu berawal saat Hinata dan Hanabi mulai mengejek satu sama lain. Saling melemparkan kalimat sarkasme mengenai kejelekan dan keburukan keduanya. Hingga saat Hanabi yang mengungkit tentang kematian ibu mereka; Hinata mulai geram dan tersulut emosi. Suasana di meja makan yang sudah keruh semakin kacau saat Hinata tanpa pikir panjang membeberkan aktivitas seksual yang dilakukan oleh Hanabi di depan ayah mereka dan beberpa pelayan yang ada saat itu.
Hanabi yang tidak bisa menahan malu dan amarahnya langsung menyiramkan red wine tepat ke wajah Hinata kemudian menyerang dengan pisau dan garpu yang ada di tangannya.
"Lama tidak berjumpa; hicchan."
Hinata menolehkan kepalanya; kedua netranya menangkap sosok pria yang pernah menguasai dirinya beberapa tahun. Pria bersurai cokelat panjang itu terenyum kemudian melangkah dan mendudukan dirinya tepat di samping Hinata.
Hyuuga Neji; sulung dari keluarga Hyuuga –kembaran Hanabi. Usia mereka hanya terpaut empat tahun.
"Neji .." –Hinata mengerjap saat bibir Neji menyentuh dan mengecup mesra bibir miliknya, "nii-sama .. panggil aku, hicchan. Senang sekali rasanya tidak ada anjing-anjing yang mengekorimu." Neji meyapukan lidahnya kemudian mengusap sudut bibir Hinata; napas pria itu menggelitik bibir dan dagunya.
Deru napas Hinata mulai tidak beraturan; kedua netra mereka yang serupa saling mengunci satu sama lain. Kapan terakhir kali Neji menyentuhnya? Kapan terakhir kali kakak sulungnya itu menjamah inti terdalam dirinya? Hinata tidak ingat; hubungan terlarang yang mereka lakukan berakhir saat Hinata genap berusia 21 tahun. Kala itu; tanpa mereka duga sang ayah memergoki mereka saat sedang bercumbu di apartemen Hinata.
"Sepertinya kalian punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal bodoh."
Suara itu terdengar menggema; mengalihkan perhatian Neji dan Hinata yang hampir saja menyatukan kembali kedua bibir mereka. Neji menyeringai saat melihat saudari kembarnya yang kini tengah berdiri dengan kedua lengannya terlipat di bawah dada, "menyebalkan seperti biasa." Neji merapikan rambutnya kemudian duduk di seberang Hinata.
Hanabi melangkahkan kedua kaki jenjangnya; duduk di single sofa kemudian menumpukkan satu kakinya, "kemana anjing-anjing bodoh yang selalu membuntutimu?" kedua netra serupa milik mereka itu berkeliaran; mencari eksistensi Jack dan Sakura yang tidak terlihat di sekitar mereka.
"Mereka anjing-anjingku –dan itu bukan urusanmu." Hinata menatap Hanabi dengan malas;
"haha, kau tidak lupa untuk memberi mereka makan bukan? Apa mereka mati?" seringaian mengejek terpatri dengan apik di wajah Hanabi; membuat Hinata mengeraskan kedua rahangnya –berusaha untuk tidak kembali terpancing oleh kalimat kakaknya.
"Siapa yang tahu? Apa kau akan menguburkan mayat mereka untukku?" seringaian itu tidak bertahan lama setelah Hanabi mendapat kalimat serangan yang tidak terduga dari mulut Hinata. Neji yang berada disana hanya menyeringai; menikmati pertengkaran tidak berguna yang selalu terjadi di antara kedua adiknya. Pria itu bahkan tidak berniat atau berinisiatif untuk melerrai keduanya.
"oh! Ketiga anakku sudah berkumpul."
-dan pada beberapa menit berikutnya; acara rutin makan malam pun dimulai –tanpa insiden atau pertengkaran yang terjadi seperti sebelumnya.
.
.
.
Acara makan malam berakhir pada pukul dua belas malam. Hinata meninggalkan kediaman Hyuuga tanpa Jack dan Sakura. Sepertinya pekerjaan mereka berdua sangat penting dan tidak bisa ditunda. Hinata bersyukur bisa melewati makan malam dengan cukup damai karena Hanabi tidak banyak mengganggunya seperti sebelum-sebelumnya. Pertemuan tadi merupakan pertemuan paling damai yang pernah terjadi. Mereka berempat menikmati hidangan Perancis dengan satu botol Dom Perignon Rose by David Lynch; salah satu champagne kualitas dunia yang disajikan oleh juru masak kediaman Hyuuga.
Tidak buruk.
Hinata menikmati beberapa gelas champagne yang terasa pas dengan hidangan yang disajikan. Obrolan-obrolan ringan seputar pekerjaan dan kegiatan yang lainnya menjadi topik yang dibicarakan oleh ayah mereka. Hiashi yang sebelumnya mengundang Gaara untuk membicarakan mengenai pernikahan Hinata juga tidak menyinggung masalah itu. sepertinya Gaara sudah menolak ajakan Hiashi setelah Hinata bertemu dan berbicara dengan sahabatnya itu.
Hinata tahu ini akan terjadi. Hiashi tidak pernah memaksakan kehendak pada dirinya. Ayahnya itu selalu menuruti keinginan Hinata. Pria yang kini menginjak usia 58 tahun itu selalu mengawasi dan memperhatikan dirinya secara diam-diam setelah Hinata keluar dari kediaman Hyuuga saat usianya sepuluh tahun dan hidup di bawah naungan keluarga Aburame dan juga Inuzuka.
Perasaan Hinata kala itu tidaklah sesederhana perasaan anak kecil sebayanya. Hinata selalu mendapat perlakuan kasar dari Hanabi semenjak ia belajar mengingat, Hinata selalu di anak tirikan oleh mendiang kakek dan nenek dari sisi ayahnya. Kejadian itu memuncak saat ibu mereka; Hyuuga Hikari menghembuskan napas terakhirnya karena sakit yang berkelanjutan setelah melahirkan Hinata.
"sialan." kepala Hinata berdenyut saat mengingat kejadian itu.
Andai saja ia menelpon salah satu bawahannya untuk menyetirkan mobilnya tadi, Hinata tidak akan berusaha fokus untuk mengendarai mobilnya saat hendak pergi ke Heaven. Tinggal beberapa kilometer lagi dirinya harus tetap fokus –Hinata melirik kantung kertas yang tersimpan di kursi penumpang. Kantung itu berisi champagne yang diberikan oleh ayahnya tadi. Hiashi sangat tahu betul jika puteri bungsunya itu sangat menyukai minuman.
Satu rencana menarik terlintas dalam benaknya saat melihat kantung itu; Hinata melihat arloji yang melingkar mewah di pergelangan tangannya –waktu menujukkan pukul satu malam dan jarak dirinya sekarang hanya tinggal beberapa kilometer ke tempat tujuan; Heaven.
Hinata memutar stir mobilnya dan berbalik arah –mengemudikan mobil menuju gedung apartemen miliknya.
.
.
.
Kedua kelopak mata Hinata membuka perlahan. Netra putih keunguan miliknya terlihat menyala di ruangan yang cukup gelap. Seluruh tubuhnya terasa pegal dan ngilu di beberapa bangian. Hinata melepaskan lengan yang melilit di pinggangnya, melirik jam weker yang terletak di rak kecil samping ranjang kemudian menghela napas.
Benar.
Tiga jam yang lalu dirinya memencet bel apartemen milik pria yang kini tengah tertidur pulas di sampingnya. Hinata berkunjung kembali ke apartemen Sasuke saat setelah dirinya pulang dari kediaman Hyuuga alih-alih pergi ke Heaven.
Sebenarnya, Hinata hanya ingin mengajak Sasuke untuk minum bersama. Champagne yang diberikan oleh ayahnya benar-benar salah satu kualitas terbaik. Namun ternyata pria itu bahkan tidak minum sama sekali. Hinata tidak menanyakan alasan mengapa Sasuke tidak minum; karena jujur saja –semua yang telah ia lakukan terasa sia-sia. Liquor yang dibawanya tadi malam mungkin juga masih tersimpan rapi di dalam kantung kertas.
Sayang sekali.
"Hinata .."
Suara serak itu mengalihkan perhatiannya; Hinata melihat Sasuke yang kini tengah menggisik-gisik kedua kelopak matanya, "tidurlah, aku akan kembali."
Sasuke terperanjat saat mendengar kalimat dari Hinata, "ini masih pukul lima pagi. Tinggal lah sampai waktu sarapan nanti." Satu lengan pria itu meraih pinggang Hinata dan menariknya dengan pelan.
Hinata terdiam beberapa saat, "aku harus kembali," Hinata mendorong kedua pundak Sasuke, "sekarang." Hinata menatap netra jelaga milik Sasuke; mengisyaratkan jika dirinya tidak menerima lagi bantahan.
Sasuke yang menyadari hal itu hanya bergumam kemudian diam membisu saat Hinata memungut pakaian yang berserakan kemudian memakainya dengan santai di depan Sasuke.
"Terima kasih, untuk liquornya."
Hinata menatap Sasuke sambil mengancingkan dressnya, "Tidak masalah. Lagipula kau tidak bisa menikmatinya; aku minta maaf." Kalimat itu diakhiri dengan satu ulas senyum tipis, "terima kasih juga untuk tehnya. Senang bisa berkunjung, Sasuke."
Kalimat itu menjadi akhir dari pertemuan mereka hari ini. Sasuke hanya terdiam saat melihat Hinata yang sudah menghilang dari kamarnya; wanita itu bahkan menolak tawaran dirinya untuk sekedar mengantar sampai ke depan pintu. Sasuke tidak akan bisa melupakan apa yang telah terjadi padanya hari ini.
Semua ini begitu mengejutkan dirinya; sex yang mereka lakukan tiga jam yang lalu terasa menakjubkan. Sasuke merasa sangat menikmati pergumulannya dengan Hinata. Permainan mereka berakhir setelah tiga ronde; Sasuke benar-benar tidak memberikan jeda untuk Hinata. Namun, wanita itu juga tidak menolak dan menerima dirinya dengan terbuka. Sasuke tidak tahu alasan dibalik Hinata yang bersedia melakukan hal itu dengannya;
One night stand?
Sasuke menggaruk belakang kepalanya dengan kesal; mungkin saja Hinata hanya menganggap sex yang mereka lakukan sebagai bentuk kesenangan semata. Sasuke juga sadar jika Hinata tidak mengungkapkan sesuatu seperti; 'aku menyukaimu, Sasuke.' –seperti yang sudah ia katakan sebelunnya. Meski ada kata 'mungkin' yang terselip dalam kalimat Sasuke; namun dirinya yakin jika Hinata tidak merasakan hal yang sama.
.
.
.
Hinata terdiam saat keluar dari apartemen Sasuke; kedua netranya menangkap sosok Jack dan juga Sakura yang kini duduk dan tidur di depan pintu unit miliknya.
"Anjing bodoh." Bisikan pelan yang keluar dari mulut Hinata cukup membuat mereka berdua tersadar dan membuka kedua mata kembali.
"Luna/Hinata!"
Jack dan Sakura bangkit dengan segera. Keduanya tampak terdiam saat melihat penampilan Hinata yang terlihat acak-acakan.
"Aku pikir kalian belum cukup tua untuk lupa passcode rumah kalian sendiri."
.
.
.
to be continued
