Yooooooooooooooooooooo, Readers~

UwU~

Kali ini Author membawakan chapter yang terinspirasi dengan seseorang~

agak hype

Dan agak nyeleneh

Plus nggak nyambung

... kapan sih Author bikin cerita jelas banget?

Ada apa dengan saya?

... Au ah

Boboiboy milik Monsta

Enjoy~


Hari ini bukanlah hari yang baik bagi Solar. Mengapa? Sebab pag ini dia mengalami yang namanya kedinginan, ditambah denga pegal, mata berkunang – kunang dan tak lupa kepala yang kerasa habis dibogem oleh Gempa. Tebaklah apakah itu?~

Solar: Haduhhhhh apesal nih?

Si cebong mengingat kembali kejadian kemaren yang bisa membuat dirinya seperti ini.

Solar: Eh iya ding... aku habis nyebur ke kolam es bareng Kak Blaze kemaren... wait...KOK SAKITNYA BARU SEKARANG SIH?!

Si doi mencak – mencak nggak jelas gegara demamnya dateng terlambat. Pasalnya si kobong (aka. Blaze) langsung demam tinggi ditempat, bahkan harus dirawat di RS T.A.P.O.P.S gegara suhunya menurun drastis. Alhasil Gempa dan Ice menemani Blaze. Sedang dia awalnya nggak papa bahkan masih sempat begadang dan adu bawel ama abangnya yang jutek eh malah keesokan harinya suhu tubuhnya turun drastis macam Blaze, meskipun masih belum kerasa capeknya.

Solar: Elah... duh gimana nih? Mana lagi ada misi bareng Kak Thorn

Karena kondisinya kemaren masih fit dia berjanji ama Thorn ikut misi Thorn bareng Gopal. Katanya sih ke Planet yang penuh dengan tumbuhan.

Solar: Nggak mungkin aku ngereject janjiku...

Kini Solar dilanda simalakama. Gimana nggak? kalau dia berangkat takut kondisinya memburuk tapi kalok dia nggak berangkat, Thorn bakal sedih. Si Surya kan paling nggak bisa-an ngelihat abangnya sedih. Lagi pun motonya kalau sudah berjanji nggak boleh dilanggar. Hilih jangan percaya~

Thorn: Sunshine~

Dan orang yang diomonginpun muncul kayak si gayung yang dikasih tangan ama dikasih kain putih. Hayoo tebak apa~

Solar: Eh, em... Kak Thorn?

Thorn: UwU~ Sunshine! Akhirnya hari yang Thorn harapkan dateng asyikkkkkk kita bakal lihat tanaman yang banyak~ w~

Dan pupus sudah harapan Solar untuk menolak ajakan Thorn.

Solar: Mana tega aku tuh... *membatin*


Hamparan tumbuhan menyambut mereka saat diteleport langsung oleh Ochobot.

Thorn: OwO~ Waaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!~~ *girang*

Gopal: Uwauw boleh bawak tumbuhan buat amma nih!

Solar: ... untung panas coba kalok dingin... *membatin*

Mereka berjalan menyusuri planet sambil mencari penduduk asli yang mendiami Planet itu. Awalnya semua baik – baik saja hingga tanah yang mereka pijaki bergetar hebat.

Gopal: Ape yang terjadi nih? *panik*

Thorn: Ada Gempa kah?!

Gopal: Mana Gempa?! Bukannya dia nggak ikut misi dengan kita?!

Solar: Bukan itu maniak makan! Planetnya bergetar!

Gopal: Oh maksud si moe tadi gempa planet toh!

Solar: Lemot banget otak lu!

Solar memegang kepalanya yang berasa muter. Lebih tragisnya lagi si tanah yang mereka pijaki berasa kayak ngerompol kebawah alias runtuh.

Gopal: He... hanya perasaan ku atau kita kayak kebawah ya?

Thorn: Ho'oh... Thorn juga sama

Solar: Adoh... ini kitanya yang kebawah ogeb!

Seketika mereka terdiam

All: WHAT NANI?!

Yak begitulah senandung mereka bertiga sebelum menghilang di telan planet.


Thorn: TwT... Aduhhhhh, kepala Thorn benjol nih

Si moe tersadar bahwa mereka bukan lagi berada di tempat yang indah melainkan ditempat yang menakutkan dan gelap. Segera dia mencari Gopal dan adeknya.

Thorn: Solar! Gopal! Dimana kalian?!

Gopal: Adoy nih pala kerasa kayak kena batu

Solar: Emang bener...

Si Solar jawab tuh pertanyaan masih dalam posisi tepar tak berdaya. Gimana nggak, kepalanya kerasa mau pecah. Untung Solar masih sempat mengeluarkan light barriernya jadinya mereka nggak terluka parah.

Thorn: Kalian dimana?

Gopal: Disini lah!

Thorn: (T^T) gelap... tak bisa melihat...

Gopal: Eh iya bener juga *baru nyadar nih bocah*

Solar yang mendengar perbincangan mereka pun memanipulasi kuasanya untuk membuat bola cahaya. Seketika itu juga tempat menjadi sedikit terang. Thorn segera menghampiri mereka. Mereka melihat sekeliling dan mendadak bulu kuduk menari.

Gopal: Ayoyoyoyo…. Kita kat mane ni?!

Ternyata mereka terdampar di dalam gua dear Readers~. Thorn menoleh kesana kemari mencari pintu keluar asek~ namun yang dia temukan adalah kegelapan, sayang~ sungguh oh sayang~ nasib mereka~ Author menyarankan kalian untuk menyanyikan kalimat ini dengan lirik lagu punyanya mbak Ting~

Thorn: OwO? Solar kenapa tiduran? Ngantukkah?

Gopal: Wey! Ini bukan saatnya buat bobok!

Solar hanya menatap sengit ke arah Gopal tapi yang ada dia melihat dunia berputar dengan cepat

Solar: Ughhhhhhhh *memegang kepala*

Thorn: Solar tak apa kah? *khawatir*

Solar: Kak... coba hubungi saudara kita yang lain

Thorn segera mengutak ngatik jam tangannya tapi yang dia temukan adalah suara statis dan layar yang dipenuhi oleh semut.

Thorn: Nggak bisa!

Solar: Sudah kuduga…. kita terjatuh terlalu dalam...

Gopal: Nggak mungkin kan kita didalam inti planet?!

Solar: ...kalau iya, harusnya panas... bukan dingin...

Seraya berkata Solar mencoba untuk berdiri dan untungnya dia nggak langsung mencium lantai gua.

Solar: kita hancurkan... dinding itu *nunjuk dinding yang tak bersalah*

Thorn: Oke! Akar berduri!

Namun sayangnya tumbuhan yang dia panggil nggak ada yang nongol

Thorn: Lah loh?! Kok leafey nggak ada yang muncul? (T^T)

Solar: Nggak ada sinar matahari... komposisi tanah terlalu berat... tumbuhan nggak bisa hidup...Gopal... gunakan kuasamu

Dengan berat hati Gopal menggunakan kuasanya untuk mengubah dinding gua menjadi makanan tapi ternyata si dinding nggak mau ngalah.

Gopal: Aku tak bisa merubah dinding ini! Terlalu tebal lah! *panik*

Thorn: Bagaimana kalau pakai kuasa Solar?

Solar: Bukan ide bagus, kak. Jika aku menggunakan Tembakan Gerhana.. Kita bakal tertimbun disini... Dan lagi pun aku nggak punya cukup tenaga untuk melakukan itu...

Gompal: Terus apa yang harus kita lakukan wey?!

Solar: ... ya nyusuri gua ini lah... makek nanyak lagi..

Solar pun harus menghindari lemparan batu dari Gopal.


Lorong gua yang gelap membuat ketiga bocah saling berdekatan. Bukan karena mereka mau merencanakan sesuatu apalagi mau disko, bukanlah! Mereka lagi ketakutan. Salah satu dari bocah itu memeluk tubuhnya erat dan tak sadar menggeretakkan gigi bak sedang dilanda meriang... atau memang iya?

Solar: Di-dinginnya…

Semakin lama Solar berjalan bukannya tubuhnya tambah panas tapi malah tambah dingin. Apalagi dia merasa tenaganya kayak udah terkuras habis hanya untuk melangkah demi selangkah.

Solar: ... Ya Tuhan... cobaan apa yang kau berikan ini?

Nafasnya tak beratur, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya dan Solar harus mengakui kalau idenya menolak Thorn mungkin yang terbaik daripada ini. Matanya mulai berkunang – kunang melihat lebih dari satu. Solar nggak mau menyangkal kalau dia mulai nggak kuat menopang tubuhnya sendiri.

Solar: K-kak...

Suara ambruk membuat kedua orang didepan si bungsu terkaget. Mereka berdua melihat Solar yang terkapar.

Gopal: Solar!

Thorn: Solar?! Solar kenapa?!

Thorn terkejut dan panik melihat adiknya tiba- tiba saja ambruk. Thorn mengguncang si pemilik tubuh tapi si pemilik tubuh hanya mengeluarkan ucapan yang tidak jelas. Thorn segera memeriksa tubuh Solar. Kalau Gopal, dia medadak memikirkan hal yang nggak – nggak. Dikarenakan dia memiliki imajinasinya yang luar binasa Gopal membayangkan kembaran tertua dari kedua orang dengannya ini bakal menyatenya jika sesuatu terjadi pada kedua orang didepannya which is yang mana salah satu dari si duo tengah tak sadarkan diri.

Gopal: OH NO OH NO OH NONONONONO! *teriak dalam hati*

Gopal: Ayoyo! Ada apa dengan Solar?!

Thorn: Entah... tapi Solar terlalu dingin!

Thorn mempunyai inisiatif untuk memeluk Solar berharap si adek bakal sadar. Solar yang merasakan ada sumber panaspun mengeratkan pelukan yang diberikan padanya.

Thorn: Solar?

Solar: Hm?

Thorn: TwT huweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee syukurlah dah sadar... Ada apa nih? Kok kamu tiba – tiba bobok dilantai! Ini nggak kayak kamu! Sunshine kan selalu sparkling, dazzling, shining and glittering~

Solar yang mendengarkan penjelasan kakaknya yang moe hanya bisa mendesah lelah.

Solar: ... nggak usah ada embel –embelnya juga kak...

Jujur saja Thorn hampir kena yang namanya serangan jantung pas ngelihat adiknya tepar. Thorn menatap lekat wajah Solar yang pucat.

Solar: ... sakit...

Thorn langsung paham.

Thorn: Gopal! Solar sakit! *berkata serius menghilang wajah moenya*

Gopal: Heh, kok bisa?!

Thorn: Penyebabnya nggak tahu tapi kita harus segera keluar dari sini!

Gopa: ... #$%&%*#$! !

Jangan tanyakan Gopal sedang apa. Dia lagi merutuki nasibnya dengan menggunakan bahasa alien yang hanya dia sendiri ketahui. Gopal segera menggendong Solar dipunggungnya.

Gopal: Wuisshhhh dinginnya! Anda bukan Ice kan?

Solar: ... huff... huff...bukanlah...

Gopal dan Thorn mulai bergerak lebih cepat. Selama perjalan itu kesadaran Solar datang dan pergi, pokoknya dia kayak karung beras yang lagi dipikul ama Gopal. Untung saja Light Ball yang dikeluarkan Solar masih bisa menerangi jalan tanpa harus bertumpu pada kuasa Solar

Mereka ingin keluar dari tempat yang mengerikan ini. Apa daya jalan keluar tak ditemukan tapi mereka mulai merasa sesak.

Thorn: Tu-tunggu ... huff... huff

Gopal: Apekah nih? ... huff ... huff dadaku sesak lah... *menurunkan Solar*

Tak berbeda Solar juga bernafas sangat berat. Thorn kembali memeriksa kondisi Solar.

Thorn: TwT kok tetep dingin sih?!

Solar: ...huff ... suhunya..huff...oksigen...huff...menipis

Solar mencoba memberitahu permasalahan pada kakaknya.

Gopal: Alamak! Kita bakal kehabisan oksigen disini gitu?!

Thorn: Ta-tapi Sol kita tersesat juga!

Permasalahan mereka bertambah saat ada lima anak gua berada di depan mereka. Thorn dan Gopal takut. Takut akan kondisi Solar, takut bertemu makhluk lain dan takut tak menemukan jalan keluar. Solar berusaha untuk tetap sadar sambil melirik ke kelima anak gua. Padangannya kabur tapi masih bisa mengidentifikasi. Dengan susah payah tangannya menunjuk ke lorong yang keempat. Thorn dan Gopal memasuki gua keempat dengan nafas yang memburu.

Gopal: Huff...Betulkah nih? *takut*

Thorn: Kita harus .. huff.. percaya dengan Solar!

Lama mereka menyusuri gua itu, akhirnya mereka menemukan secercah harapan.

Gopal: Eh?! Lihat tuh!

Thorn: Ho'oh lah! Cahaya!

Semakin mereka mendekat semakin terlihat kalau cahaya yang mereka lihat adalah sebuah sepasang mata yang mengintai mereka.

Gopal: ... tamatlah riwayat kita ...

Thorn: Gopal! Jangan putus asa lah! Tengok tuh! Memang ada cahayalah dibelakang makhluk itu!

Gopal: Tapi bagaimana caranya kita melewati itu?! *nunjuk si makhluk yang dengan santuy nungguin nih intro kelar*

Solar: huff... diusirlah...

Gopal Mudah banget ya anda ngomong begitu! *perempatan imajiner dah muncul di kepala*

Solar menggunakan kuasanya untuk melayang dari gendongan Gopal.

Gopal: Eh?!

Thorn: Solar! Apa kamu nggak papa?

Solar: ...huff... Tanyanya nanti aja kak...huff ... kita harus keluar dari sini... *mengeluarkan Pedang Solar*

Thorn melirik tajam kearah Gopal.

Gopal: ... mampus aku...

Si makhluk akhirnya menampakkan giginya saat melihat tiga manusia yang terlihat sangat lezat.

Gopal: Oyyyyyyyyyyy jangan makan kita Pak Cik Wolfy!

Dengan sekali cakaran mereka reflek menghindar. Terlihat bekas cakaran itu menembus batu lantai yang mereka tapaki.

ThoSolGo: WADUH!

Wolfy (aka. Si mahluk yang diberi nama oleh Gopal): AAAUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!

Thorn: Suara apa nih?!

Solar: Dia... memanggil temannya!

Gopal: Weh! Lu mana boleh main keroyokan kayak gini!

Thorn: ... OwO? tapi kan kita mau ngeroyok dia tadi?

Solar hanya bisa memijit keningnya yang udah sakit banget melihat situasi yang out of control.

Solar: ... KENAPA KALIAN BERDUA MASIH BISA NGELAWAK?! *teriak di dalam hati*

Bala bantuan Wolfy pun datang dan mereka tengah dikerumuni oleh mereka.

Gopal: Macem mana ni?

Bawahan si Wolfy mulai menyerang mereka. Thorn dan Solar masih bisa menghindar tapi Gopal dia menghindar dengan sangat tidak elit. Thorn mengeluarkan beberapa daun shuriken yang dia simpan di tas kecil jikalau dirinya tak dapat menggunakan kuasa dan melempar tuh shuriken ke tiga bawahan Wolfy yang langsung kejang ditempat. Mereka kejang gegara kegatalan. Solar tahu mereka tidak akan bertahan lama apalagi si bos masih santuy melihat mereka. Dia mencari ide dan menemukan yang paling bagus.

Solar: Libasan Cahaya!

Dinding atas gua yang dipenuhi dengan staglagtit menghujam mereka semua saat Solar melepaskan tebasan keatas.

Gopal: Kau ingin bunuh kita semua kah?!

Thorn: Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!

Solar: ... OTAK LU PAKAI CUY!

Akhirnya Gopal yang baru konek maksud Solar pun merubah batu yang akan mengenai mereka menjadi daging yang membuat temennya si Wolfy langsung salfok. Wolfy yang kesal anak buahnya kena trik murahan pun turun tangan melawan mereka. Kerja sama ketiganya tengah di uji pasalnya si om Wolfy bergerak sangat lincah sampai – sampai Gopal kepleset 5 kali.

Gopal: Adoyyyy sakit

Solar sendiri udah diambang batas. Matanya mulai mengabur.

Solar: ... ini buruk...

Hanya ada satu cara yang dia belum coba ke nih makhluk. Solar berhenti berlari saat Wolfy mulai mengejarnya. Matanya melirik ke Thorn yang agaknya paham dengan rencananya.

Solar: ...semoga saja ini berhasil...

Saat si Wolfy hampir melahapnya Solar telah menghilang dari sana yang digantikan dengan getaran dari dalam tanah.

Thorn: Akar Berduri Ikat!

Si Wolfy tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Lalu dia melihat sinar muncul dari depannya.

Solar: ... ucapkan... chesse...Tembakan Laser Cahaya!

Solar menembakkan laser cahaya yang kekuatannya nggak sekuat Tembakan Gerhana Solar tapi masih cukup untuk ngelempar nih makhluk. Wolfy pun terpelanting cukup jauh sampai menembus luar gua.


Taufan: Dimana mereka?!

Taufan dan Halilintar yang menerima sinyal SOS dari Solar segera menuju Planet yang adik bungsu mereka kunjungi. Taufan yang biasanya ceria langsung kehilangan senyum jahilnya karena khawatir dengan kondisi Thorn dan Solar. Halilintar sendiri udah masang wajah emo gegara ada kejadian nggak beres terjadi pada kedua adik terakhirnya. Saat mereka sibuk – sibuknya mencari terdengar suara dentuman keras dengan cahaya dan sesuatu terlempar ke langit nan tinggi.

Halilintar: Taufan! Disana!

Tanpa diberitahu pun insting protective Halilintar tahu kalau kedua adiknya habis melawan sesuatu.


Thorn: OwO... HEBAT LAH! *tepuk tangan sambil pelukan ama Gopal senang*

Gopal: HEBAT SANGAT!

Solar: huff... huff... pastilah hebat ...

Usai mengatakan itu Solar pingsan.

ThoPal: SOLAR!

Yang dia tahu adalah siluet hitam dan biru tua yang berbicara tak karuan disekitarnya. Tak lupa dengan kehangatan yang mulai merambat ke seluruh tubuhnya.

Solar: ... kalau kayak gini kan best...


Matahari bersinar terang dan seseorang terbangun dari keadaan tidurnya.

Solar: ... ini Bumi?

Blaze: Weh, lampu! Akhirnya bangun juga anda! *tersenyum riang*

Solar menatap aneh ke Blaze. Nggak seperti biasanya saudaranya yang satu ini bisa gembira kayak gini. Blaze melangkah keluar kamar dan berteriak keras.

Blaze: WEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE ABANG DAN ADEK TERSAYANG! SI CEBONG DAH BANGUN!

Dan dalam sekejap Gempa dan Thorn udah berada di depan kamarnya sedang Blaze? Nasibnya sekarang menjadi keset... alias diinjak si duo.

Solar: Eh buset?!

Dan tanpa sans Gempa langsung menjitak si bungsu sekuat tenaga.

Solar: ADAWWWWWWWWWWWWWWWWWWWW!

Gempa: kan sudah dibilang ... KALOK SAKIT NGGAK USAH DISEMBUNYIIN!

Thorn: TwT... untung tepat waktu kemaren... *meluk*

Solar: Lah memang ada apa?

Gempa: Haishhhhhh, Jadi kamu hampir divonis kena hiportemia! Terus koma selama 3 hari!

Solar: Wut?!

Thorn: (T^T) dan untungnya langsung ditangani...

Solar: Maaf membuat kalian semua khawatir...

Solar merasa bersalah membuat kembarannya panik.

Gempa: Kenapa nggak di cancel aja misinya?

Solar: ... ya habis aku nggak mau mengecewakan Kak Thorn... dan sebelum berangkat aku baik – baik saja...

Thorn yang mendengar ini sangat tersentuh hatinya.

Thorn: Tapi kalau Solar sakit mending nggak ikut biar nggak jadi kayak gini...

Thorn memeluk Solar erat dan Solar membalas pelukan Thorn. Gempa disisi mereka hanya bisa menghapus air mata haru.

Blaze: WEEEEE ADA YANG MELUK KOK NGGAK NGAJAK – NGAJAK?! *sadar dari keinjek*

Taufan: MANA?! *nongol*

Ice: Bagi dong peluknya... *nongol*

Halilintar: ... *nutup muka tapi sebenarnya pingin*

ThoSol: HEH?!

TauLaze: BERPELUKAN~ *geret saudaranya yang lain untuk berpelukan*


Avvvvvvvvvvvv

Lama – lama kadar gula Author naek nih

Dadah~

Author off~