0%-100%

Power on!

Story starts!

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kisimoto

High school dxd © Ichiei Ishibumi

Summary : Uzumaki Naruto, seorang pemuda yang dari lahir telah di takdirkan untuk menjaga masa depan dunia, namun awal kehidupannya harus merasakan sedikit kepahitan, namun seiringnya waktu berjalan kepahitan itu berubah menjadi manis.

Naruto : The Dragon Future

Pair : Naruto x Harem ( Asia, Arthuria, Servants, Kurumi, Aiz, Tohka, Koneko, Tearju, Rosswaisse, Hinata, Rias... )

Note Pair : Pair saya Reka Ulang. Saya akan memasukkan Pair berdasarkan Chapter. Bisa saja salah satu Pair akan mati.

Genre : Adventure, Fantasy, Sfi-ci, Frienship, Romance, Humor, DLL.

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, Multichap, jutsu buatan sendiri, alur berantakan, NotDxDTheme!, Alltheme is Future!, AU, Smart!Naru, Incest!, Dark Supranatural!, OOC!Vali, Friendship!Vali

Note : Daerah-Daerah yang saya ambil adalah Real bagian dari jepang, namun ada beberapa yang merupakan Fiksi buatan saya.

" Halo " berbicara

' Halo ' batin

[" Halo "] Dragon Bijuu

[' Halo '] batin Dragon Bijuu.

Linked Horizon – Shizou wo Sasageyo

Sfx Frist

( Layar memperlihatkan sebuah Piala dengan bentuk sebuah Cawan di kelilingi Dua Naga panjang di kedua sisinya )

Sfx Second

( Layarpun menjauhi piala dan memperlihatkan judul dari Cerita ini )

Kore ijou no jigoku wa

( Aku ingin percaya bahwa )

( layar berganti dengan Kamera yang mengelilingi sebuah Arena Besar )

nai darou to shinjitakatta

( tak ada yang lebih neraka daripada ini )

( Layar berganti dengan memperlihatkan kegiatan Konoha )

Saredo jinrui saiaku no hi wa itsumo toutotsu ni

( Namun hari terburuk bagi manusia selalu datang dengan tiba-tiba )

( Layarpun memperlihatkan kelompok Sasuke yang berdiri di atas gedung lalu layar menjauh memperlihatkan mereka saat ini berdiri gagah di atas gedung di sertai naga mereka )

Tobira wo tataku oto wa

( Suara yang mengetuk pintu terus menerus berbunyi)

( Layar kembali di ganti dengan Para Servant yang tengah menyiapkan senjata mereka )

taezu hidoku busahou de

( dengan keras dan kasarnya )

( Lalu layar kembali di ganti dengan Arthuria yang sudah bersiap menoleh ke arah Jendela dengan raut khawatir )

Manekarezaru saiyaku no hi wa akumu no you ni

( Api bencana mengerikan yang tak diundang itu bagaikan mimpi buruk )

( Layar kembali di ganti dengan Naruto yang berada di atas gedung DSA tengah berdiri sambil menaruh sebuah pedang di pundaknya lalu mengangkat wajahnya memperlihatkan Mata Kirinya menjadi Mangenkyou Sharingan dan Kanannya menjadi Jikkan )

Sugishi hi wo uragiru mono

( Mereka yang mengkhianati masa lalu)

( Layar memperlihatkan Kurumi dan Shiina yang saling membelakangi dengan Clocks Eyes Mereka yang aktif )

yatsura wa kuchiku subeki teki da

( adalah musuh yang harus dimusnahkan )

( Layar kembali dengan Asia, Tearju, Rosswaisse dan Aiz yang menghadap ke kamera sambil memasang raut khawatir )

Ano hi donna kao de hitomi de

( Sejak itu dengan wajah dan mata )

( Layar kembali di ganti dengan Kelompok Naruto yang tengah berdiri berjejer bersiap )

oretachi wo mitsumeteita?

( seperti apa mereka mengawasi pergerakan kita? )

( Layar kembali di ganti dengan Seluruh peserta Dragons Champions )

Nani wo sutereba akuma wo mo shinogeru

( Apa yang harus kita buang demi memusnahkan iblis itu? )

( Layar kembali di ganti dengan Arena Besar yang mulai terpecah, lalu di ganti dengan seluruh kelompok yang menyiapkan senjata mereka, lalu kembali dengan Arena yang telah terpecah mulai melayang )

Inochi sae tamashii sae kesshite oshiku nado wa nai

( Tak ada yang perlu disesalkan dalam mempertaruhkan hidup dan jiwa ini )

( Layar kembali di ganti di mana Para Panitia Lomba yang terdiri dari Serafall, Sona, Tsunade, Dan Jiraiya memberi aba-aba, dan seketika itu seluruh peserta mulai terbang )

Sasageyo! sasageyo! shinzou wo sasageyo!

( Persembahkan! Persembahkan! Persembahkan jantung ini! )

( Layarpun berganti dari langit memperlihatkan ratusan peserta lomba mulai terbang dengan latar blur di mana Punggung Naruto )

Subete no gisei wa

( Segala pengorbanan itu )

( Layar memperlihatkan gambaran di mana Naruto saat bayi tengah di peluk oleh Sosok pria berambut kuning dan Merah namun seketika semua itu lenyap terbakar )

ima kono toki no tame ni

( adalah untuk saat-saat sekarang ini )

( Layar kembali di ganti dengan Ledakan Energi besar dimana Naruto tengah berteriak dan kembali di ganti di mana Naruto melawan para Servant, Whellgon, Minato lalu memperlihatkan bayangan Naruto di mana Naruto terbungkus dengan Aura yang besar )

Sasageyo! sasageyo! shinzou wo sasageyo!

( Persembahkan! Persembahkan! Persembahkan jantung ini! )

( Layar kembali di ganti di mana Naruto yang terbang bersama Julis dan naganya tengah berusaha menghindari setiap serangan yang mengarah pada mereka, Setelahnya Naruto melompat dari naga Julis lalu di lepar oleh Kiba yang terbang memutar dan saat Naruto terlempar tampak sosok Naga Chomei siap menyerangnya )

Susumu beki mirai wo

( Mari membuka masa depan )

(setelah Naruto terlempar tampak Naruto mulai berteriak dan seketika ledakan energi terjadi dan memperlihatkan sosok Naruto terbang dengan sayap darahnya dengan tubuhnya terbungkus Aura Hijau dan Merah )

sono te de kirihirake

( yang harus dituju dengan tangan ini )

( Layarpun terhenti ketika Naruto dan Chomei akan saling beradu )

Sfx three

( Layar kembali di ganti dengan kepingan masa lalu Naruto dari dulu dan terus berganti dari zaman ke zaman Hingga kepingan memory tersebut terhenti di mana Naruto mengangkat wajah garangnya dengan kedua matanya yang menyala )

.

Chapter 38 : Special Arc : Di balik pembuatan

.

Kyushu, Beppu Hattou.

07.00 AM

.

Pov

Hahh~ ini baru namanya surga, berendam di sebuah onsen yang terkenal di Kyushu benar-benar nikmat sekali, aku membasuh wajahku lalu menatap ke langit di mana langit mulai di terangi oleh matahari terbit. Sungguh tempat ini luar biasa.

Ah, aku belum memperkenalkan diri, aku 4kagiSetsu, kalian bisa memanggilku Setsu. Aku berendam di onsen ini pagi-pagi karena sesuatu menggangguku.

"Kyaaaa!"

Hm? Oh, mereka di sini. Siapa? Para wanita.

"Author-san?! Apa yang kau lakukan di sini?!" Aku yang mendengar itu dari perempuan bernama Scathach hanya diam lalu memejamkan mataku, walau mereka memakai handuk tetap saja memalukan untuk di pandang.

"Hiraukan saja aku, aku tidak memiliki tempat lain untuk berendam dengan tenang selain di tempat ini," ucapku sambil menenggelamkan setengah wajahku.

"Tapi kenapa?!" aku mengangkat kembali wajahku lalu menunjuk ke dinding di belakangku dengan malas. "Bagaimana kau bisa berendam dengan tenang ketika Para Orang Sableng bertarung di onsen?" tanyaku.

"Shinra Tensei!"

Blaaar!

"Khahaha! Rasakan seni ledakanku ketua?!"

Blaar!

Yap, di tempat pemandian pria terjadi keributan besar-besaran. Mana bisa aku berendam dengan tenang.

"O-Oh..."

"Jadi begitu..."

Melihat mereka paham aku menenggelamkan wajahku kembali lalu menatap ke arah langit.

"Apa kau tidak malu Author-san?" aku yang di tanyai melirik perempuan di sampingku, dia bernama Tamamo no Mae, perempuan berambut soft orange dengan kuping rubah di kepalanya.

"Tentu saja malu, tapi mau bagaimana lagi bukan," jawabku lalu mengalihkan pandanganku, bisa aku rasakan pipiku memanas. Hei... Siapa yang tidak malu ketika kau berendam dengan wanita, apa lagi dengan sesuatu yang besar tengah mengambang di sampingmu.

"Author-san bolehkah aku memberi satu saran?" aku mengangkat wajahku lalu menatap perempuan berambut biru bernama Konan, dia salah satu kelompok dari orang-orang Sableng di belakang dindingku ini.

"Yay! Para Senpai bersenang-senang!"

Dan ke sablengan grub tersebut semakin bertambah.

"Sebaiknya Author-san jangan memanggil mereka Sableng, panggil saja Sampah. Aku yakin mereka senang," ucapan Konan membuat aku Sweatdrop, Eh? Yang bener ini?

.

Tap! Tap!

Huft~ akhirnya selesai juga, berendam dengan mereka benar-benar memalukan. Setelah aku keluar aku melihat para orang sableng datang ke arahku, tidak... Para sampah datang ke arahku.

Hmm... Entah kenapa saat mengatakannya ada sesuatu yang menjanggal di hatiku.

"Yo! Author-san! Bagaimana kabarmu?" aku yang di sapa oleh ketua mereka, orang yang memiliki banyak tindikan bernama Pain. Aneh bukan? Pain yang artinya kesakitan, apa orang ini sering merasakan sakit hingga namanya Pain.

"Aku sangat sehat, bagaimana dengan kalian? Para Sampah?" uwaaa~ saat mengucapkannya entah kenapa terasa sangat menusuk, apa benar mereka sangat di sukai ketika di panggil seperti itu?

"Kami baik kok!" Me-Mereka menyukainya!

Sungguh, ada apa dengan mereka. Apa mereka ini Masokhis?

"Jaa~ sudah ya, aku mau kembali. Aku ada janji dengan Uzumaki-san," ucapku lalu berjalan menjauhi mereka. Aku tidak ingin berlama-lama dengan mereka, bisa-bisa aku jadi gendeng.

.

Huft~ dingin sekali, karena ini jugalah aku memilih berendam di Onsen. Musim dingin yang bisa membuat tubuh selalu menggigil kedinginan jika tidak menggunakan pakaian hangat.

Kota Konoha benar-benar seperti kota idaman, walau aku tahu masih banyak Tempat yang lebih bagus. Namun tidak ada tempat yang lebih indah dari pada kota sendiri bukan?

Aku menghentikan langkahku di sebuah Restaurant Bakery, saat ke onsen aku belum sarapan sama sekali. Well~ mungkin beberapa roti cukup mengisi perut.

.

Tap! Tap!

Hmnhmn~ tidak terlalu buruk, memakan roti hangat di pagi hari benar-benar pilihan tepat. Aku mengunyah roti di mulutku dengan penuh perasaan, jika aku mengunyahnya dengan cara kasar sensasi rasanya akan hilang.

"Author-san?!" Aku yang merasa di panggil menoleh dan melihat seorang pemuda bernama Uzumaki Naruto tengah melambaikan tangannya kepadaku.

Aku pun membalas lambaiannya lalu berjalan ke arahnya dan berjalan bersamanya.

"Yhaaawwn~ hari ini sungguh dingin sekali ya Author-san," ucap Naruto sambil menguap. Aku yang mendengar itu hanya mengangguk singkat.

"Hari ini kita mau ke mana?"

Aku yang mendengar itu berpikir, well mungkin bertemu yang lainnya tidak terlalu buruk.

"Kita berkumpul saja, lagi pula aku tidak memiliki kegiatan saat ini," jawabku. Aku yang melihat Naruto mengangguk hanya diam sambil memakan rotiku dengan tenang.

Cwush!

Aku terdiam ketika roti yang ada di mulutku hilang setengahnya, aku yang mendengar suara seseorang tengah menikmati sesuatu melirik orang tersebut dan rupanya rotiku hilang karena orang ini.

Toujou Koneko, salah satu ras half neko yang merupakan bagian dari kelompok pirang di sampingku ini. Well~ aku tidak mempermasalahkannya karena dia selalu melakukannya

"Seperti biasa kau selalu melakukannya, Koneko-san," ucapku lalu mengelus rambut perempuan kecil di sampingku ini.

"Eheheh~ soalnya setiap roti Author-san sungguh enak," jawabnya tanpa ragu. Aku tersenyum tipis lalu menyentil pelan hidungnya.

"Horaa~ kau sudah memiliki orang yang kau cintai, jangan berselingkuh mengerti? Dan juga jangan terlalu sering mencuri rotiku yang ada di mulut, jika kau ingin aku bisa membelikannya untukmu," ucapku menasihatinya. Bisa aku lihat dia hanya tertawa kecil dengan canggung setelah menerima nasehatku, well setidaknya ambil langkah awal dari pada menyesal di akhir.

"Ohayo, Danchou, Koneko-chan, Author-san." Aku yang mendengar ada yang menyapa kami menoleh dan aku bisa melihat kelompok pemuda berambut kuning di sampingku ini telah berkumpul.

"Oh, Ohayo!" sapa kami bersamaan. "Tumben kau bersama Danchou, Author-san. Kau habis dari mana?" Aku yang mendengar pertanyaan dari, pemuda bernama Yuuto Kiba terdiam sambil berpikir. Tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku berendam di onsen bersama 'Mereka' bukan?

"Aku tadi berendam di Onsen, lagi pula di cuaca dingin seperti ini bukankah lebih bagus jika berendam di Onsen," jawabku sambil memakan rotiku kembali.

"Maa~ memang benar sih," Aku yang mendengar respons Kiba bernafas lega dalam hati. Aku paling benci jika kehidupanku terus di gali.

"Danchou, kau mau ke mana sekarang?"

"Aku baru saja mau mencari kalian dan mengajak kalian berkumpul di rumah Arthuria-chan sambil mencari kehangatan, tapi kalian sudah di sini." Aku yang melihat ekspresi aneh Kiba menyipitkan mataku. Entah kenapa ekspresinya membuatku risih.

"Hehh~ kehangatan? Kehangatan apa?"

Wush!

Aku yang melihat Kiba terpental hanya diam dengan tenang, siapa yang mementalkan Kiba? Siapa lagi kalau bukan aku.

Cara?

Melalui ketikan ini.

Aku yang merasakan banyak tatapan mata ke arahku melirik semuanya satu persatu. "Apa?" tanyaku, namun semua langsung mengalihkan wajahnya dariku. Hoy, diacuhkan lebih sakit di banding tidak di jawab.

"Maa~ kita lupakan saja barbie itu. Ikuyo Minna, Author-san juga." Aku yang mendengar ajakan Naruto mengikuti Naruto, well ucapan Naruto ada benarnya.

.

Omachi

Kediaman Pen Dragon.

11.00 AM

.

Hmm~ kediaman Pen Dragon, melihat tempat ini mengingatkanku akan pertarungan pemuda rambut kuning di sampingku ini dengan mereka. Well mengingatnya membuatku merinding, untung aku menontonnya bersama para maid di tempat ini... Well~ aku harap dia ada.

Aku yang merasakan ada yang menatapku, melirik dan aku melihat kelompok pemuda di sampingku ini menatapku. Memang ada apa dengan wajahku sih?

"Kenapa kalian selalu menatapku? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanyaku sedikit risih. Hey~ siapa yang tidak risih ketika kau selalu di tatap lekat, kalian pasti merasa risih.

"Tidak ada, hanya saja kau tampak senang saja saat kemari, Author-san." Ah, benarkah? Apa aku menunjukkan ekspresi seperti itu? Well sepertinya aku tidak bisa meremehkan penglihatanmu Claudia.

"Ah, apa aku tampak seperti itu?" tanyaku.

"Um, Bahkan sangat terlihat jelas. Ada apa? Apa kau menunggu sesuatu di sini?" Hm, memang benar jika aku ingin menemui seseorang di sini, tapi... Hey, ini urusan pribadiku, Toudou Tohka.

"Selamat datang, Minna-san, Author-san mo," huft~ syukurlah kau datang tepat waktu, Arthuria-san. Aku pun melambaikan tanganku sesaat ke arah Arthuria-san sebagai balasan sapaannya.

"Ohayo, Arthuria-san. Gomen kami datang berbanyak seperti ini," ucapku mewakili yang lainnya. "Tidak apa-apa, Author-san. Lagi pula aku senang kalian datang kemari." Aku yang melihat responsnya menghela nafasku dan berpikir. Seandainya aku memiliki istri sepertinya, hidupku pasti bahagia.

Sudah cantik, lembut, pengertian, kuat dan selalu membantu orang lain dengan senyumnya. Huft~ memikirkannya membuat otakku terasa berputar.

"Mari silahkan masuk."

Aku beserta yang lain pun masuk ke kediaman Clan Pen Dragon dan baru masuk, kami sudah bisa merasakan sensasi hangat di kediaman ini.

"Ah, Anda datang kemari Author-san." Aku terdiam ketika seorang maid menyapaku dengan senyum manis yang dia berikan kepadaku. Shit, melihat senyumnya membuat wajahku terasa panas.

"Ma-Maa~ begitulah, Belfast," jawabku sambil tergagap. Um, nama Maid yang menyapaku adalah Belfast. Sosok maid yang memiliki nama hampir mirip dengan kapal tempur HMS Belfast.

"Ha-Hari ini dingin sekali ya," ucapku dengan canggung, sial entah kenapa semenjak aku mengenalnya, aku selalu tergagap saat bersamanya.

"Ha-Ha'i, A-Anda benar. Ma-Maukah aku buatkan Coffee?" tawarnya sambil tergagap. Shit, jangan katakan kau juga Belfast? "Ma-Maa~ boleh juga." Dia pun pergi sedikit tergesa-gesa untuk membuatkanku Coffee. Aku yang melihat itu hanya bisa diam sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.

Situasinya benar-benar canggung tadi.

"Ehem!" Aku yang mendengar deheman menoleh dan aku melihat Semuanya menatapku seolah meminta penjelasan. Shit, dari pada membalas mereka sebaiknya aku pergi ke ruang tamu.

Greb!

"Bisa kita bicara sebentar Author-san?"

"Tidak, sama sekali tidak bisa," jawabku cepat ketika Kiba secara tiba-tiba sudah di sini dan mencengkeram bahuku dengan kuat.

.

"Heh~ jadi Author-san sudah dekat dengan Belfast ya." Aku yang mendengar itu mengangguk kaku dengan wajah memerah, kuso... Rasanya memalukan sekali.

"Muehehehe, Author-san. Kapan kalian akan pacaran? Kapan kami di traktir? Kapan undangan kalian datang?"

"Hentikan atau aku akan membuatmu menderita selamanya di cerita ini?" ancamku tidak main-main, ayolah kami hanya dekat layaknya teman. Pacaran? No no aku belum mau berpacaran.

"A-Ahaha, Gomen-gomen." Aku yang melihat ancamanku berhasil menghembuskan nafasku.

"Bicara soal cerita, bolehkah aku bertanya Author-san?" Aku yang mendengar itu melirik ke arah Arthuria yang menatapku dengan datar. Hm... Apa ada sesuatu yang salah dengan cerita ini hingga membuatnya seperti itu?

"Bertanya tentang apa?" tanyaku sambil meminum Coffee yang di buatkan Belfast.

"Kenapa pertemuanku dengan Naru-kun harus saat aku mandi?"

"PFFFT! K-Kenapa kau membahasnya baka?!"

"Urusai! Lagi pula ini kesempatan untuk meminta tanggung jawab padanya! Kau tahu semenjak kita lakukan itu aku tidak bisa tidur dengan tenang?!"

Aku yang mendengar mereka berdebat mengenai pertemuan mereka yang pertama hanya diam lalu merespons pertanyaan Arthuria dengan tenang.

"Hanya itu?" responsku

"Jangan bilang 'Hanya itu?' Author-san?!"

Well~ bagaimana mengatakannya ya... Membuat adegan seorang pria dan perempuan bertemu secara tak sengaja itu cukup sulit, karena ada beberapa pilihan.

Pertama, Bertemu dengan cara bersengolan? Bagiku sudah terlalu basi.

Kedua, bertemu dengan cara bertabrakan dan secara tak sengaja menyentuh aset sang perempuan? Hmmm... Sudah terlalu

Ketiga, bertemu di suatu tempat dan langsung saling jatuh cinta? Terlalu drama.

Dari berbagai cara aku menemukan yang cocok yaitu cara ke empat puluh. Bertemu secara tak sengaja di sungai dalam keadaan perempuan tengah mandi dan telanjang.

Hey, aku benar kan? Hanya itu cara satu-satunya agar cerita ini menarik?

"Ya, kenapa ya aku membuat adegan pertemuan kalian seperti itu...," gumamku sambil pura-pura berpikir. "Mungkin karena ingin membuat cerita ini menarik," lanjutku dengan santai.

"Menarik sih menarik, tapi jangan seperti itu juga?!"

"Author-san, bolehkah aku juga bertanya?" aku yang mendengar Julis ingin bertanya meliriknya, sekarang ingin bertanya apa? "Dimana Shiina-san? Selama beberapa Chapter dia tidak terlihat?"

Shiina Mashiro, ya...

"Well, aku menyuruhnya mempersiapkan dirinya untuk adegan di beberapa Chapter ke depan, karena sebentar lagi dia yang akan mengambil bagian," jawabku, memang benar. Aku telah mempersiapkan adegan untuk Shiina, karena... Ya... Begitulah.

"Lalu Author-san, Kenapa kau selalu membuatku menderita?" Ok, untuk pertanyaan itu memiliki jawaban simple. "Karena sudah takdirmu," jawabku sambil meminum Coffeeku kembali.

"Eh?! Are?! Kenapa?!"

Aku yang mendengarnya mulai protes hanya menulikan pendengaranku, well di sebuah cerita pasti harus ada beberapa orang yang sedikit menderita layaknya orang masokhis, dan semenjak aku mengetik cerita ini hanya dialah yang cocok.

"Lalu Author-san, kapan kami akan mendapat bagian? Ikut dalam cerita namun tidak dapat dialog itu membosankan tahu?"

Hmm~ memang benar beberapa karakter yang aku ikutkan beberapa dari mereka tidak mendapatkan dialog, well namun aku telah merencanakannya jadi dengan begitu semua akan mendapatkan dialog mereka.

"Untuk itu jangan khawatir, aku sudah mempersiapkan dialog untuk kalian, begitu juga para Servant, aku juga sudah mempersiapkan bagian Chapter untuk kalian, jadi jangan khawatir," jawabku lalu melihat data di tanganku.

Cerita ini aku sudah persiapkan sudah lama, jadi aku sudah mencatat apa saja yang dibutuhkan agar cerita ini menarik dan juga di mana saja kekurangannya.

Tap! Tap!

Kami yang mendengar suara langkah kaki menoleh dan kami melihat kedua adik Arthuria datang, mereka adalah Arthur dan Le Fay.

"Ah, Kalian. Kalian datang kemari?" Aku dan yang lain hanya mengangguk. Oh, untung bertemunya sebaiknya aku langsung saja menyerahkannya

"Arthur, ambil ini," ucapku sambil melempar sebuah buku ke arah Arthur dan Arthur menangkapnya dengan sempurna. "Sebaiknya kau bersiap dan berlatihlah bersama Irina-san, karena sebentar lagi kau akan mendapat bagian," ucapku membuat dia panik aku yang melihat Irina juga panik menaikkan sebelah alisku

Apa sebegitu paniknyakah mereka mendapat bagian bersama?

"Matte! Author-san! Ke-Kenapa secara tiba-tiba! D-Dan juga kenapa harus dia?"

"Apa kau tidak mau?" tanyaku, aku bisa saja mengganti jadwal chapter mereka.

"Bu-Bukannya tidak mau..."

"Kalau begitu lakukan," ucapku dan di balas anggukkan olehnya.

Srt! Srt!

Aku yang mendapat tarikan pada bajuku, menoleh dan aku melihat Le Fay tengah memainkan jarinya, ada apa dengannya? Apa dia mau meminta sesuatu?

"A-Anoo, ne Author-san... A-A-Apa aku juga akan mendapatkan bagian dengan Na-Naruto-nii?"

Hmm, aku memang belum menyiapkan bagian untuk Le Fay, tapi dengan Naruto?

Dugh!

Itte-tte

"Jangan sembarangan, Baka-Imouto. Justru akulah yang akan mendapat bagian itu!"

Sebelum mengatakannya sebaiknya kau menyingkir dari atas kepalaku Arthuria-san

"Sebenarnya apa yang di rencanakan oleh Author-san." Aku seperti mendengar gumaman Arthur meliriknya. "Kau mengatakan sesuatu Arthur?"

"Tidak, sama sekali tidak." Hm.. Apa aku salah dengar ya.

.

~ Naruto : The Dragon Future ~

.

Keesokan harinya.

10.00 AM

.

Huaam~ hari ini benar-benar merepotkan, apa lagi aku harus mengawasi Dua Orang gendeng ini agar tidak mengacaukan chapter mereka.

Siapa dua orang gendeng itu?

"Oi! Hashirama! Kau salah! Adegannya tidak seperti itu?!"

"Kau juga salah baka?! Sebaiknya mengacalah?!"

"APA-APAAN MAKSUDMU HAH?!"

"KAU YANG APA?!"

Plak!

Aku menapuk wajahku dengan keras lalu menatap datar kedua orang gendeng di depanku ini, mereka mengingatkanku pada dua perempuan yang mirip seperti mereka.

"Uwaah! Gomenasai Senpai!"

Bruk!

Gh! Dasar bocah Sableng!

Grek! Wush! Duak!

Karena emosi, aku menangkap kaki bocah sableng ini dan melempar bocah sableng ini ke arah dua orang gendeng hingga Strike.

"Huft~, Istirahat 15 menit!" teriakku lalu melangkah ke tempatku mengacuhkan dia orang yang sama-sama sedeng pingsan.

"Ahaha, sepertinya merepotkan mengatur mereka ya, Author-san." Aku yang mendengar itu dari Naruto menghela nafasku, merepotkan? Tentu saja.

"Sangat merepotkan, belum lagi aku harus mengurus para orang-orang itu," jawabku lalu melirik kelompok Uchiha yang melakukan kegiatan tidak wajar.

Sasuke yang mengupil, Inuzuka Kiba yang berbagi tulang dengan Naganya, Aburame Shino yang bermain serangga, Neji yang berkaca, Sai yang melukis, Rock Lee yang berolah raga dengan batu besar di atasnya, dan Issei yang tengah berusaha mengintip perempuan berganti pakaian.

Aku melirik Naruto yang tampak poker face melihat orang-orang tidak wajar itu, well aku tahu apa yang di pikirannya. "Aku tahu kau kecewa karena harus melawan orang-orang seperti mereka, tapi itu hal bagus karena secara tak langsung kita memberikan mereka hukuman," ucapku sambil menepuk pelan pundaknya lalu pergi meninggalkannya.

Well, sekarang aku harus mencari mereka. Karena sebentar lagi mereka juga akan mengambil bagian.

.

2 Hours later...

.

Tch! Setelah berkeliling Aku tidak menemukan mereka, dimana mereka.

"Author-san." Ah, ini mereka. Aku pun menoleh ke sumber suara dan menemukan orang-orang yang aku cari, mereka adalah Hinata Hyuuga, Himejima Akeno, Rias Gremory, Kuroka Toujou, Namikaze Tearju, Namikaze Rosswaisse dan Gabriel.

"Akhirnya aku menemukan kalian, kalian habis dari mana saja?" tanyaku menatap kesal mereka.

Hey, berjalan selama 2 jam untuk mencari mereka itu melelahkan.

"Ah, Gomenasai, Author-san. Kami tadi mencari makan siang." Aku yang mendengar itu menghela nafasku, well aku tidak bisa memarahi mereka karena hal itu.

"Hah~ sudahlah, ini!" ucapku sambil melempar masing-masing buku berisikan dialog mereka. "Kalian sebaiknya juga bersiap, sebentar lagi kalian juga akan tampil. Jadi jangan mengacaukannya," ucapku lalu berjalan menjauhi mereka yang ingin protes.

Ok, dengan begini mereka sudah, berikutnya... Para servant, aku melangkahkan kaki dengan cepat ke sebuah bangunan yang cukup besar berupa Club yang aku yakini adalah tempat mereka berada, kenapa? Karena mereka sering kumpul di sana.

Kring~

"Permisi..."

"YOSHA! AYO HABISKAN?!" aku seketika poker face ketika melihat Nero Claudius, Oda Nobunaga dan Mondred tengah lomba minum bir, aku mengalihkan pandanganku ke sekitar Club di mana Tamamo no Mae saat ini tengah meminum Orange Juice, Scathach yang meminum Cappucino, Tomoe Gozen, Mash dan Anastasia yang memakan popcorn, lalu Jeanne dan BB yang meminum secangkir Cocktail dan Okita Souji yang pingsan dengan wajah memerah.

"Ara? Kau datang Author-san." Aku yang mendengar Scathach memanggilku langsung melangkah ke sana lalu duduk di sampingnya.

Bugh!

Setelah aku duduk di sampingnya, aku langsung saja menepuk Kepala Okita dengan keras dengan buku Dialognya hingga dia meringis kesakitan, bahkan dia terbangun dari pingsannya karena hal tersebut.

"Ada apa Author-san? Apa kau meminta sesuatu seperti kemarin?" pertanyaan itu membuat wajahku terasa panas. Hey, yang kemarin itu terdesak, aku juga tidak menginginkannya.

"Ba-Baka, aku datang bukan karena itu," ucapku sambil tergagap karena malu. "Aku datang membawakan kalian buku dialog untuk Cerita Naruto nanti, kalian akan masuk jadi bersiaplah," lanjutku

"EHH?!"

"KAU BERBOHONG BUKAN AUTHOR-SAN?!"

"A-APA KAMI JUGA AKAN MASUK?!"

Aku yang mendengar teriakan seperti tidak menerima kenyataan menatap Nobunaga, Nero dam Modred bergantian.

"Kalian bersenang-senanglah, kalian akan libur hingga Chapter yang tidak bisa aku beritahu kapan."

"YOSHA?! INI BARU NAMANYA HIDUP?!"

Aku yang melihat mereka kembali semangat hanya diam, aku juga bisa merasakan Scathach tampak sweatdrop karena tingkah temannya.

"Maafkan atas tingkah temanku, Author-san." Aku yang mendengar itu hanya mengangguk pelan sambil membaca daftar Chapter yang akan datang.

Jika kau punya teman dan tingkahnya sangat memalukan di depan umum, sebaiknya kau hanya diam dan ya~ hanya bisa pasrah.

"Ah, benar juga," gumamku lalu melangkah pergi, ada dua orang yang aku lupakan. Mereka adalah Shiina-san dan Kurumi-san. Tapi aku tidak melihat mereka semenjak tadi.

Aku menatap sekitar dimana semua saat ini tengah bersiap Suting adegan untuk untuk Chapter depan, untuk adegan depan padahal mereka berdua masuk dan naskahnya ada di tanganku, hmmm...

"Author-san!" Aku yang di panggil menoleh dan melihat Irina tengah berlari ke arahku, sekarang ada apa? Batinku, cari dua orang saja belum selesai datang orang lain.

"Author-san, Kurumi-san dan Shiina-san menunggumu tuh, mereka membutuhkan Dialog mereka." Oh, ternyata dua orang yang aku cari sudah bersiap, aku menghela nafasku dan memberikan naskah mereka pada Irina.

"Ini Naskah mereka, aku akan pergi ke tempat istirahat untuk menenangkan diriku, kau tahu membuat dialog mereka dalam sehari membuatku lelah," ujarku lalu melangkah pergi ke sebuah tenda istirahat. Aku bisa melihat di sana berkumpul beberapa main figuran yang tidak perlu aku sebutkan namanya karena kalian bisa menebaknya.

Greb!

"Author-san?! Aku ingin protes?!"

"PROTES BOLEH SAJA TAPI HENTIKAN GUNCANGANMU INI?!" teriakku, bagaimana gak teriak. Tiba-tiba datang langsung mengguncang tubuhku dengan keras.

"Kenapa?! Kenapa kau membuatku menjadi karakter yang di benci Oleh Asia-chan dan Naruto-kun?!" hah~ sudah aku duga akan begini. Kalian pasti juga sama bukan?

"Walau kau tanya sekalipun, itu sudah ide dari awal." Jawabku jujur, memang benar itu sudah ideku. "Padahal aku juga ingin di sisi Naruto-kun, Apa kau tidak bisa mengubahnya?!"

"Jika aku ubah yang ada peminatnya tidak ada, kau mau pensi?" tanyaku langsung membuatnya drop, masih mending dapat pekerjaan dari pada tidak, apapun kerjaannya ambil saja yang penting halal.

"Kisama?! Apa yang..."

"Kau melanjutkan kalimatmu akan aku tunjukkan kemampuanku." Potongku langsung sambil menyiapkan kertas serta pulpenku yang langsung membuat orang yang tadi berteriak marah seperti ayam ke arahku langsung diam.

Aku kembali melangkahkan kakiku dan langsung duduk di samping Falbium dan Ajuka yang selalu berdebat, masih mending duduk di dekat orang berdebat dari pada duduk dekat dengan orang-orang sableng.

Dum!

"Hey?! Ada apa ini?!"

"Kenapa listriknya tiba-tiba mati?!"

Baru saja aku duduk sudah mati lampu, suek lah. Jika seperti ini hanya satu orang penyebabnya.

"AAAUUUTHOOOOOORR-SAAAAAAN?!"

Aku yang melihat seseorang dengan cadar berkibar lari ke arahku langsung bangun dan mengambil sebuah bambu runcing panjang.

Wush! Jrash!

Tanpa banyak bacot aku langsung saja mengayunkan bambu runcing si tanganku hingga menembus dada orang bercadar yang berhenti di depanku ini.

"AUTHOR-SAN?! LISTRIK KITA MATI DAN PIHAK PLN MEMINTA BAYARAN?! APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?!"

Aku memandang orang di depanku ini dalam diam, aku mencoba memutar bambu runcing yang menembus tubuhnya tapi langsung di tahan olehnya.

"Ja-Jangan di putar Author-san, sa-sakit tahu!"

Aku menulikan pendengaranku dan mencoba memaksa tanganku untuk memutar bambu yang menembusnya.

"Udah-udah! Sakit woy! Jangan di paksa?!"

Aku kembali menulikan pendengaranku

"I-Iya! Please he-hentikan! IYA! IYA! AKU BAYAR?!"

Aku menatap mata rentenir yang ada di depanku dalam diam lalu mencabut bambu runcing yang menancap di tubuhnya.

"Koruptor lagi, matamu yang berikutnya." Ancamku langsung membuatnya mengangguk cepat lalu berlari menjauh dariku dengan darah mengalir yang membuat tanah yang dia lewati tercecer darah.

Aku menghela nafasku lalu duduk kembali sambil menunggu listrik kembali di nyalakan "Pasti melelahkan mengatur mereka ya, Author-san?" Aku yang mendengar itu melirik perempuan Bernama Konan yang duduk di sampingku, aku menghela nafasku lalu menopang daguku sambil menatap kertas di bawahku yang berisikan data Cerita ini.

"Tentu saja, aku harus membuat Alur yang bagus dan yang bisa mereka perankan. Belum lagi permintaan para pembaca terlalu banyak dan aku harus mengatur cerita ini agar lebih bagus lagi," jawabku.

"Bicara soal pembaca, apa kau sering menerima..."

"Sering, saking seringnya aku ingin menghajar mereka jika bertemu mereka secara langsung," jawabku cepat karena aku tahu apa yang ingin dia tanyakan.

"Hahaha... Maa~ jangan pedulikan mereka. Berkat itu juga kau bisa sampai sekarang bisa membuat cerita seperti ini." Aku yang mendengar itu terdiam sesaat lalu menghela nafasku. Mungkin dia benar, banyak yang mengatakan itu padaku tapi emosiku masihlah labil.

"Author-san, aku mau bertanya?" Aku yang mendengar itu melirik Konan yang tampak penasaran. "Dari dulu kami hanya mendapatkan dialog kami saja dan kau belum pernah menceritakan daftar cerita ini, namun walau begitu bisa kami lihat cerita ini bakal sangat menarik."

"Bagaimana caranya kau menulis cerita ini?"

Aku yang mendengar itu terdiam lalu menatap kertas di tanganku sambil tersenyum.

"Well, waktu itu aku tengah bekerja di sebuah resto, aku sempat berpikir seekor naga yang di tunggangi oleh manusia di kota masa depan. Dari situ aku mendapat ide untuk membuat cerita ini, karena itu terdengar menarik. Bagaimana bisa Naga-naga yang ada di Zaman Viking ada di dunia Masa depan? Apa tujuan mereka? Dengan hal-hal itu aku mendapatkan ide untuk membuat cerita ini. Awalnya aku pikir Reaksi pertama saat aku membuat cerita ini adalah sebuah hinaan. Tapi aku semakin semangat karena mereka menyukai ceritaku ini," jawabku sambil mengingat bagaimana bisa aku membuat cerita ini.

Dan itu adalah Fakta.

.

Hari menjelang sore dan semua tengah bersiap untuk pulang begitu juga aku. Namun langkahku terhenti ketika Naruto tiba-tiba menghampiriku. Sekarang ada apa lagi? Dalam hatiku.

"Author-san, Aku mau protes. Kenapa kau membuat aku memiliki banyak pasangan seperti itu? Kau tahu karena itu aku kelelahan menghadapi mereka?"

Aku yang mendengar itu terdiam dengan alis berkedut kesal, kau beruntung mendapatkan dari pada tidak mendapatkannya sama sekali.

"Kau seharusnya bersyukur mendapatkan pasangan yang mencintaimu dengan tulus. Sementara aku?" Aku mengambil nafas dalam-dalam lalu berjongkok sambil menatap tanah di bawahku dengan pandangan kosong. "Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Bahkan aku mendekati cewek walau 10 cm langsung di jauhi."

"WAA! KEMBALILAH AUTHOR-SAN! BERTAHANLAH?!"

.

.

Huft~ setelah sampai rumah dan menyegarkan diri dengan mandi benar-benar pilihan luar biasa. Namun walau begitu aku harus mengatur ceritaku kembali dan menemukan ide-ide baru agar cerita ini semakin bagus, karena selama ini itu baru awalnya saja. Belum sampai pertengahan ataupun akhir.

Aku melangkahkan kakiku menuju kasurku lalu membaringkan diriku sambil menatap buku daftar ceritaku ini.

"Baiklah... Cerita berikutnya seperti apa ya..."

.

.

.

TBC

Selanjutnya di Naruto : The Dragon Future

"Jiji, kira-kira... Tou-chan, Kaa-chan ada di mana ya?"

"Jangan khawatir Naru-kun, karena kami akan selalu bersamamu,"

"Onii-san, bermainlah dengan Asia."

"Kau...,"

Selanjutnya Chapter 39 : Special Arc : Naruto Story Part 1 : My Story.

Note : Yo! Aku kembali up. Gimana cukup Gaje? Masa bodo. Aku mengetiknya dengan mengeluarka seluruh uneg-unegku di dalamnya bukan berarti kegiatan yang aku lakukan tersebut nyata, kecuali kerja di Resto.

Saya memang sengaja menerjunkan diri saya untuk ikut Chapter kali ini. Kenapa? Ingin saja.

Anggap saja chapter ini sifat aneh yang selama ini ada di dalam diriku dan aku langsung menumpahkannya kemari. Well~ tapi masa bodolah.

Untuk Chapter depan akan saya buatkan sebisa saya entah akan memakan waktu berapa lama karena cerita menggunakan sudut pandang pertama sangatlah merepotkan.

Jaa~ na~

4kagiSetsu out