0% - 10% - 20% - 25% - 50% - 80% - 100%
[Power on!]
[Loading…]
[Welcome Back, Master!]
[Story starts!]
.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kisimoto
High school DxD © Ichiei Ishibumi
Summary : Uzumaki Naruto, seorang pemuda yang dari lahir telah di takdirkan untuk menjaga masa depan dunia, namun awal kehidupannya harus merasakan sedikit kepahitan, namun seiringnya waktu berjalan kepahitan itu berubah menjadi manis.
Naruto : The Dragon Future
Pair : Naruto x Harem ( Asia, Arthuria, Servants, Kurumi, Aiz, Tohka, Koneko, Tearju, Rosswaisse, Hinata, Rias... )
Note Pair : Pair saya Reka Ulang. Saya akan memasukkan Pair berdasarkan Chapter. Bisa saja salah satu Pair akan mati.
Genre : Adventure, Fantasy, Sfi-ci, Friendship, Romance, Humor, AU, Family, Action, DLL.
Rate : M
Warning : Typo, OC, OOC, Multichap, jutsu buatan sendiri, alur berantakan, NotDxDTheme!, Alltheme is Future!, AU, Smart!Naru, Incest!, Dark Supranatural!, OOC!Vali, Friendship!Vali
Note : Daerah-Daerah yang saya ambil adalah Real bagian dari jepang, namun ada beberapa yang merupakan Fiksi buatan saya.
" Halo " berbicara
' Halo ' batin
[" Halo "] Dragon Bijuu
[' Halo '] batin Dragon Bijuu.
TrySail – High Free Spirits
( Fix music first )
( Layar memperlihatkan gambar matahari terbit lalu di ganti dengan gambar Team Naruto yang melihat ke arah matahari terbit di ganti gambar para Servant yang juga melihat matahari terbit juga lalu di ganti oleh Murid Naruto dan terakhir Naruto )
Shizuka ni moeru sekai hajimari wa kokokara
( Layar di ganti dengan gambar Asia yang berada di atas Gedung DSA sambil melihat matahari )
Yozora ga owari wo tsugeru toki
( Lalu Asia tersenyum begitu merasakan sebuah angin berhembus )
Hitosuji no hikari ga mune ni himeta koe ga
( layar di ganti dengan gambar langit yang cerah terlihat Seseorang dengan naga berwarna hijau melintas di langit )
Tokihanatsu yami wo saite
( penunggang naga tersebut melompat dari matanya dan turun dengan cepat ke bawah )
Kareru yori isso chiriisogu sugata
( Layar di ganti dengan Kelompok Kuroyukihime dan Miyuki yang menatap ke arah Kamera dengan ekspresi serius mereka )
Mayoi aruku sube wo
( Layar kembali di ganti dengan kelompok Sasuke yang menatap kamera dengan ekspresi serius mereka )
Sen no nami ni nomareta kokoro ja
( Layar diganti dengan gambar Whizly yang berlari di pesisir pantai bersama Texas dan Lappland hingga sampai di air pantai lalu Whizly berteriak sambil mengangkat tangan kanannya ke atas )
Kimi sae mamorenai
( Layar di ganti gambar Naruto yang mendarat di atas air lalu melesat dengan cepat menyulus kelompoknya yang lebih dahulu melesat dengan api di kakinya )
Hibike tashika na shoudou nariyamanu you ni
( Layar kembali di ganti dengan gambar peserta Kirigakure yang bersaha mengendalikan naga di dalam air dengan tombak di tangan mereka di selingi ledakan-ledakan air karena perlawanan naga yang mereka usaha kendalikan )
Wasurerarenu kizu wo nokoshite
( layar kembali di ganti dengan peserta lain yang tampak kesusahan lalu berganti dengan Kelompok Naruto di mana Kiba merentangkan tangannya ke depan )
Ima mo kasuka na zanzou kienai mama de
( layar kembali di ganti dengan Naruto yang mendarat di air sambil menyeringai kecil ke arah seekor naga berukuran besar )
Sekai ga matteru asu no ubugoe wo
( Layar di ganti dengan gambar Naruto dari belakang yang memutar tombak di tangannya dan seketika Naga di depannya membuka mulutnya dan menyerang Naruto )
Hibike tashika na shoudou kienai mama de
( layar di ganti dengan ledakan air yang sangat dahsyat lalu kembali di ganti dengan kelompok Naruto yang terbang rendah di atas air sambil menatap matahari terbenam )
Sou mirai to kako ga kousa suru hyakunenme no uta
( Layar kembali di ganti dengan gambar Para Wajah Kelompok White Fox dan yang terakhir di ganti dengan Naruto yang menepuk pundaknya sambil menyeringai kecil )
Fix End Music
( Layar di ganti akan judul Naruto : The Dragon Future )
Chapter 51 : Dragons Champions Arc V : Christmast Day!
.
DSA Weapon
Texas Room Side
08.00 AM
.
Pagi yang cerah dengan turunnya salju di kota Konoha, terlihat di sebuah kamar bernuansa hitam terdapat perempuan berambut hitam tengah tertidur lelap di dalam selimut putih.
Perempuan tersebut melenguh ketika angin dingin masuk melalui jendela kamarnya serta cahaya matahari yang menyinarinya dari celah korden.
Perempuan tersebut pun membuka matanya memperlihatkan matanya yang berwarna orange indah, perempuan tersebut pun mendudukkan dirinya lalu menguap pelan di sertai telinga berwarna hitam yang ada di atas kepalanya bergerak-gerak pelan.
Perempuan tersebut menatap sekitarnya dan terfokus pada pakaian yang tergantung di dindingnya dengan sebuah kertas menempel di baju tersebut.
Perempuan tersebut pun bangun dan mendekati pakaian tersebut lalu membacanya, "Hohoho! Marry Chrismast! Ini hadiahku untukmu, semoga ukurannya sesuai denganmu dan kau menyukai warnanya."
Tersenyum tipis, perempuan tersebut menatap pakaian berupa Jaket berwarna hitam di sertai warna putih di bagian badannya, serta celana pendek hampir selututnya serta Jaket putihnya yang sedikit berubah dengan beberapa corak hitam di beberapa tempatnya.
Menyentuh pakaian tersebut, dirinya mencium pakaian tersebut yang berbau harum namun ada sebuah bau yang membuatnya merasa tenang dan ingin mencium bau tersebut setiap saat.
"Arigato... Sensei."
.
.
Sementara itu di bagian kamar lain, seorang pemuda berambut putih tengah tertidur di kursi miliknya dengan berbagai kertas berserakan di mejanya serta hologram yang masih menyala dengan gambar peta dunia serta beberapa tempat yang di tandai tulisan [Not Found].
Tsh!
Pintu kamar tersebut pun terbuka dan memperlihatkan perempuan berambut hitam dengan pakaian berupa Jaket hitamnya memasuki ruangan tersebut hingga matanya menangkap subjek yang dia cari.
Perempuan tersebut mendekati Pemuda tersebut hingga sudah berdiri di sampingnya dan menatap lekat pemuda yang masih terlelap tersebut.
Mata perempuan tersebut teralih ke arah hologram yang ada di depan pemuda tersebut lalu beralih ke arah meja pemuda yang berantakkan.
Dengan inisiatif, dia merapikan meja tersebut sambil sesekali membaca apa saja isi kertas tersebut, namun semuanya hanyalah kode-kode yang tidak dia mengerti.
"Ah!" pekik pelan perempuan tersebut ketika selembar kertas terbang dan terselip di leher Naruto, perempuan tersebut tampak gugup sampai menutup mulutnya karena hampir membangunkan sang pemuda.
Dengan perlahan perempuan tersebut mencoba mengambil kertas tersebut, namun jaraknya membuatnya harus lebih dekat dengan sang pemuda.
"Ah!" pekiknya kembali ketika melihat kertas tersebut terbang ke belakang pemuda membuatnya refleks mencoba menangkapnya namun yang terjadi dia malah semakin dekat dengan sang pemuda.
Untungnya dia menahan dirinya dengan pegangan Kursi yang tempati pemuda agar tidak menindihnya. Meneguk ludahnya perlahan, perempuan tersebut dapat menghirup aroma tubuh yang sangat merangsang penciumannya.
Menggeleng pelan, dirinya harus menyingkir sebelum pemuda ini terbangun, namun aromanya membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
'A-Ayolah... Dia Senseimu... Ja-jangan sampai kau memiliki perasaan terhadapnya! Ta-Tapi... Tapi...'
Dengan pikiran kacau, tanpa sadar dia mendekatkan dirinya ke leher sang pemuda mencoba mencium bau sang pemuda sebanyak yang dia inginkan.
Tsh!
"Nii-chan?" Sapa perempuan berambut kuning yang berdiri di depan kamar tersebut.
"Oh, Asia-chan... Ada apa?"
"Kau sudah bangun rupanya, ayo... Semua sudah berkumpul," ujarnya namun sang pemuda hanya mengangkat tangannya.
"Ya, kau duluanlah. Aku akan siap-siap," ucapnya dan di balas anggukan oleh Asia yang langsung meninggalkan pemuda tersebut.
Menghela nafasnya, dirinya menatap perempuan yang tampak terkejut yang saat ini bersandar di dadanya, "Apa yang kau lakukan di sini, Texas-chan?"
Dengan cepat Perempuan bernama Texas tersebut bangun di sertai wajah memerah lalu mencoba menjelaskannya kepada orang yang dia anggap Sensei, atau sebut saja, Uzumaki Naruto.
"Be-Begini Naruto-sensei, A-Aku hanya ingin merapikan te-tempatmu ini, ha-hanya saja ta-tadi ada kertas di-di lehermu ja-jadi... A-Aku mencoba mengambilnya T-Tapi...," ucap Texas sampai tergagap berkali-kali karena panik.
"Tetapi?"
"Ba-Bau anda... Bukan itu! Ta-Ta..."
"Bau? Ada apa dengan bauku?" tanya Naruto sambil menatap dirinya sendiri, Texas yang mendengar itu bingung menjawab apa bahkan ekor hitamnya bergoyang-goyang gelisah karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa kau menyukai bauku ini? Padahal aku belum membersihkan diri loh? Bau tubuhku ini sangat bau dan tidak enak di cium?"
"I-Itu tidak benar!" jawab Texas spontan dan langsung menutup mulutnya dengan wajah memerah, "Go-Gomen... A-Aku... Aku..."
Melihat tingkah gelisah Texas, Naruto menggaruk pipinya kebingungan apa sebegitunya baunya untuknya, sebenarnya dirinya sudah terbangun dan dirinya juga sadar bahwa Texas ada di dekatnya bahkan dia bisa merasakan endusan Texas pada tubuhnya.
'Sebegitu sukanya kah dia dengan bauku ini?' batin Naruto menatap Texas yang tampak gelisah lalu menghela nafasnya.
Dengan spontan, Naruto mendekatkan Texas lalu mengelus rambut hitam tersebut dengan lembut membuatnya terkejut dengan perlakuan spontan Naruto.
"Jangan merasa bersalah begitu... Jika kau memang menyukainya... Katakan saja padaku... Kau boleh menciumnya sepuas yang kau mau," ujar Naruto membuat keterkejutan Texas bertambah.
"Bukan bermaksud apa, hanya saja... Akan aneh rasanya jika kau selalu mengendap-endap untuk mencium bauku, jika memang kau ingin kapan pun itu, katakan saja padaku, kau akan mendapatkan waktu untuk menciumnya sepuas..."
Grep!
"Mu...," lanjut Naruto ketika Texas membalas pelukannya dan mencium aroma tubuhnya sebanyak yang dia bisa. "Arigato... Sensei..." Mendengar itu Naruto hanya mengangguk kaku, di liriknya ekor Texas yang terkibas-kibas ke atas menandakan dia senang, Naruto menghela nafasnya kembali.
'Ini... Tidak masalah kan?'
.
.
.
Tap! Tap!
Di lorong DSA, tampak Naruto yang sudah membersihkan dirinya dan memakai pakaian lengkapnya saat ini berjalan di samping Texas yang menundukkan kepalanya dengan wajah merona karena memperlihatkan sisi jujurnya di depan gurunya sendiri.
Menghela nafasnya kembali, Naruto mengelus kepala hitam tersebut dengan lembut, "Jangan di pikirkan... Setiap orang pasti memiliki sisinya masing-masing, aku tidak mempermasalahkan sifatmu itu."
Mendengar itu Texas hanya mengangguk tapi tetap saja itu memalukan untuknya karena memperlihatkan sisinya yang menyukai aroma tubuh Senseinya sendiri.
Tsh!
"Marry Christmast!"
Tak! Tak!
Naruto dan Texas hanya terdiam ketika semuanya sudah berkumpul lalu menarik Confetti dan berteriak Marry Chirstmast dengan pakaian Santa.
Greb!
"Selamat hari Natal! Nii-chan!" ucap Asia sambil memeluk erat Naruto. "A-Ah, Selamat hari natal juga, Asia-chan," balas Naruto sambil mengelus rambut Asia.
Texas yang tidak ingin menjadi sarang pertanyaan mengendap-endap menjauh hingga berdiri di samping Kakaknya yaitu Lappland.
"Kau dari mana saja? Kami ke kamarmu kau tidak ada?" tanya Lappland penasaran karena saat dirinya ke kamar Texas, dia sudah tidak ada.
"E-Eh? A-Ah... Aku hanya mencari udara segar... Ya, udara segar," jawab Texas dengan rona di pipinya. Melihat tingkah aneh Texas, di sentuhnya kening Texas mencoba mengecek keadaan Texas, "Kau sedang tidak sakit kan hanya karena cuaca sedingin ini?".
"A-Aku baik-baik saja!"
Naruto yang melihat Texas tengah gugup menutupi bahwa dia tengah mencium bau tubuhnya secara mengendap-endah hanya terkekeh pelan lalu menatap sekitarnya di mana terlihat seluruh anggota telah berkumpul begitu juga Shiina Mashiro yang tengah duduk tenang bersama Kurumi.
"Shiina-chan datang juga ya? Dia dari mana saja, sudah lama sekali aku tidak melihatnya?"
"Ya, dia bilang sangat sibuk, namun kali ini dia menyempatkan waktu untuk mampir ke sini," jawab Asia melepaskan pelukannya. "Souka...," gumam Naruto sambil mendekati Shiina yang duduk tenang sambil berbincang ringan dengan Kurumi.
"Yo, Shiina-chan, lama tidak berjumpa," sapa Naruto dengan senyumnya, Shiina yang mendengar pemuda di dekatnya menyapanya menatap lekat pemuda tersebut hingga tersadar bahwa pemuda tersebut adalah Naruto.
"Naruto-nii-san?"
"Ya, ini aku. Gomen membuatmu binggung dengan penampilanku saat ini," balas Naruto sambil menggaruk kepalanya di sertai senyum kaku.
"A-Ah kau tidak perlu meminta maaf Naruto-nii-san."
Sementara itu di kelompok Naruto, mereka saat ini tengah berbincang dengan kado di bawah mereka, Tohka yang membawa Kado berukuran sedang memeluk kado tersebut sambil sesekali melirik Naruto yang masih berbincang dengan Shiina.
Koneko yang ada di samping Tohka melirik Tohka lalu melirik apa yang di lirik oleh Tohka lalu melirik Kado yang di peluk Tohka, "Ne, Tohka-san... Kado apa yang akan kau berikan untuk Danchou?"
"Hu-Huh! Ma-mana ada! I-Ini bukan untuknya!"
"Hehh~ lalu untuk siapa? Dan kenapa kau selalu melirik Danchou?"
"U-Urusai, I-Ini bukan urusanmu kan!"
Naruto yang sedang asik berbincang dengan Shiina terhenti ketika dia merasakan tepukan di pundaknya, otomatis dia pun menoleh dan dia melihat Kiba yang menyerahkannya sebuah kado berukuran kecil.
"Apa ini?" tanya Naruto. "Hadiah dariku Danchou, selamat hari Natal," jawab Kiba sambil tersenyum.
"O-Oi, kau tidak perlu sampai memberiku kado Kiba, aku tidak membutuhkannya!" tolak Naruto secara halus. "Tidak, kau harus menerimanya Danchou, selama ini kau telah memberi kado pada kami dan membuat kami yang dulunya di rendahkan bisa berdiri tegak sampai sekarang, aku mohon terimalah," balas Kiba sambil memberikan Kado tersebut kembali.
Naruto yang mendengar itu menatap kado Kiba yang ada di tangannya dengan perasaan tidak enak, "Kau tahu aku jadi merasa tidak enak menerimanya, Kiba."
"Tidak... Kau harus terbiasa Danchou, lagi pula ini hari Special bukan? Kapan lagi kau bisa menerima Kado?" bujuk Kiba membuat Naruto termenung, memang benar... Dirinya sama sekali belum pernah menerima Kado dari siapapun selain bagian dari keluarganya saja dulu.
Tersenyum tipis, Naruto memeluk Kiba dengan erat membuat Kiba sedikit tersentak dengan perlakuan Naruto, "Arigato Kiba, kau benae-benar anggotaku yang paling mengerti."
Mendengar itu, Kiba tersenyum tipis lalu membalas pelukan Naruto, "Sama-sama, Danchou."
"Ne ne Danchou!" panggil Irina sambil mendekati Naruto, "Ini kado dariku juga, Selamat Hari Natal, Danchou!"
"O-Oi Kau juga?"
"Hmmnn~ memangnya tidak boleh?" cemberut Irina membuat Naruto menghela nafasnya kembali lalu menerima kado Irina. "Arigato, Irina-chan." Irina hanya mengangguk dengan senyum manisnya karena Naruto menerima kadonya.
"Da-Danchou..." Naruto yang kembali di panggil menoleh dan dia terkejut ketika seluruh anggotanya telah berkumpul dan menyodorkannya sebuah kado dengan ukuran yang berbeda-beda.
"Selamat hari Natal, Danchou!"
"Oi! Oi! Kalian semua!"
"tampaknya Naruto-nii menerima banyak kado hari ini ya?" gumam Shiina ketika melihat Naruto menerima banyak kado dari teamnya. "Maa~ itu belum seberapa, Sebentar lagi akan ada lagi," jawab Asia sambil melihat ke arah jam yang menandakan sudah pukul 09.15
Tsh!
"Naru-kun!/Naruto-kun!"
Naruto yang masih sibuk dengan teamnya harus terkejut ketika beberapa orang berlari ke arahnya dan menabrakkan diri mereka ke arahnya hingga membuatnya terjatuh.
"Itte...," lenguh Naruto pelan lalu menatap orang-orang yang saat ini menindihnya. "Marry Christmast, Anata!" ucap mereka secara bersamaan lalu bergelayut manja padanya.
"Hoy-Hoy! A-Aku tidak bisa bergerak!"
"Anata?" tanya Shiina dengan polos. "A-Ah, mereka adalah Calon istri Naruto-nii, maa~ ceritanya cukup panjang sih," jawab Asia sambil tersenyum kaku.
Texas yang melihat gurunya tengah menjadi objek rebutan para perempuan terdiam dengan ekspresi yang sudah di jelaskan, memang benar dirinya sudah mengetahui cerita bagaimana bisa Naruto memiliki calon istri sebanyak itu, tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengganggunya.
Lappland yang melihat Texas bertingkah aneh lagi, menyiku pelan Texas, "Oi, ada apa?"
"A-Ah, tidak... Tidak ada apa," jawab Texas lalu mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali, "Ngomong-ngomong di mana Whizly-chan? Aku tidak melihatnya?"
"Um? Ah, dia saat ini bersama Tou-san, dia bilang ingin melihat-lihat isi gedung ini," jawab Lappland dan hanya di balas gumaman pelan Texas yang kembali menatap Naruto yang tengah berusaha keluar dari kerumunan calon istrinya.
"Tolong tenang dulu!" ucap Naruto berhasil keluar lalu menjaga jaraknya dari mereka dan menghela nafasnya, "Kalian... Apa kalian tidak memiliki malu ketika dilihat orang-orang ketika seperti itu?"
"Buat apa? Lagi pula kau calon suami kami, jadi kami tidak perlu malu," jawab BB dengan santainya.
"Hahh~... Jadi... Ada apa kalian kemari?"
"Tentu saja merayakan Hari Natal bersama mu, lihat kami sudah membawa Hadiah untukmu dan mari kita berpesta, lagi pula ini hari Special bukan?" jawab Tamamo sambil menunjukkan Kado serta Sake tangannya.
Sementara Scathach mengeluarkan daging sapi dan sate ayam, begitu juga Jeanne yang membawa daging Hamburger.
"O-Oi... Di sini masih ada yang belum boleh minum Sake?!" omel Naruto.
"A-Ah! Aku lupa, jadi bagaimana ini?"
"Hahhh~ dasar," Hela Naruto sambil menggaruk kepalanya lalu membalikkan tubuhnya, "Baiklah biar aku saja yang membelinya, kalian sebaiknya menyiapkan pestanya."
"E-Eh! Bolehkah..."
"Sensei!" Naruto yang di panggil menoleh dan dia melihat Texas yang menatapnya serius, "Bolehkah aku menemanimu?"
"E-Eh?"
"Ch-Chotto!"
"Jika kau ingin ikut, aku tidak mempermasalahkannya Texas-chan," jawab Naruto sambil tersenyum tipis, Texas yang mendengar itu mengangguk lalu mengikuti Naruto di belakangnya.
"O-Oi! Ch-Chotto matte!" teriak Lappland mengejar mereka berdua.
"Kesempatan berdua... Kesempatan berdua...," gumam Asia pundung, semua yang melihat tingkah Asia hanya tersenyum kaku, semenjak adanya murid, Asia tidak bisa bergelayut manja seperti dulu dan itu membuat Asia sedikit kesal karena tidak memiliki waktu untuk bermanja dengan Naruto.
'Jika tahu begini... Sebaiknya aku menyerang Nii-chan tadi, bodohnya diriku.'
.
.
.
"Kenapa kau ikut, Nee-chan?" tanya Texas tanpa mengalihkan pandangannya, tetap menatap fokus ke depan. "Bukan masalahkan! Yang lebih aneh lagi kau dengan santainya meminta menemani Naruto-sensei, padahal mereka ada di sana?" balas Texas sambil melipat tangannya di dada.
"A-Aku hanya ingin, da-dan juga aku ingin melihat-lihat kota Konoha, itu tidak masalahkan," jawab Texas tergagap.
Naruto yang mendengar mereka tengah berbincang mengenai mengikuti dirinya hanya diam sambil sesekali menatap langit yang menurunkan butiran putih yang lembut di atas mereka.
Dengan berbalut Jaket putih serta sarung tangan hitam Naruto menutup mulutnya lalu menghembuskan nafasnya mencari kehangatan di hari yang dingin ini.
Masyarakat Konoha yang berlalu lalang di hari yang Special ini pun juga menghabiskan waktu mereka dengan melempar bola salju, membuat orang salju, membantu merayakan hari Natal, membagi-bagi hadiah, benar-benar kegiatan yang hanya bisa di lakukan selama sekali dalam setahun.
Bruk!
Naruto yang melamun tersentak ketika menabrak seseorang, "M-Maaf, aku sedang melamun tadi," ucap Naruto meminta maaf lalu melihat siapa yang dia tabrak, dan terkejutnya dirinya ketika melihat perempuan berambut indigo dengan jaket lavender serta syal biru di lehernya tengah terduduk di depannya.
"Hinata-chan?"
Perempuan bernama Hinata itu menoleh dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat seseorang yang sangat tidak ingin dia temui di hari ini.
"Na-Naruto-kun."
"Um? Ada apa Sensei?" tanya Lappland ketika melihat gurunya berhenti tiba-tiba, dirinya pun menggeserkan tubuhnya ke samping dan betapa terkejutnya dia ketika melihat siapa yang di depan gurunya, "Kau kan..."
"Bukankah kau musuh Naruto-sensei, aku melihatmu kemarin?" tanya Lappland menatap tajam Hinata. "Naruto-sensei?" tanya balik Hinata sambil melirik Texas dan Lappland bergantian.
"A-Ah, begitulah. Dia adalah Texas sementara ini adalah Lappland, maa~ walau umur mereka beda dua tahun sih," jawab Naruto memperkenalkan Texas dan Lappland.
"Hey, apa urusanmu dengan Naruto-sensei? Kau tidak ingin mencari masalah seperti ketua brengsekmu itu kan?"
Bletak!
"Jaga ucapanmu, Lappland-chan. Dia berbeda darinya," ujar Naruto setelah memberikan pukulan pada kepala Lappland. "Ta-Tapi...," gagap Lappland sambil memegang kepalanya
"Mau bagaimana pun dia adalah Tunanganku sejak kecil, jadi jangan menganggapnya terlalu buruk." Texas dan Lappland yang mendengar itu tentu terkejut, karena perempuan yang merupakan musuhnya adalah tunangannya?
"Sudah sejak awal aku bilang bahwa aku tidak menerima pertunangan ini bukan?"
"Haha, itu memang benar, tapi aku tidak biarkan Tou-sama menangis karena putrinya menentang permintaan ayahnya sendiri."
"U-Ugh!"
Suasana hening terjadi ketika mereka sudah tidak memiliki topik untuk di bicarakan, Naruto mengalihkan pandangannya ke arah kado yang di peluk Hinata dan di sana tercantum halaman DSA tempatnya tinggal.
"Hadiah untuk siapa itu?" tanya Naruto membuat Hinata tersentak lalu mengalihkan pandangannya. "Bu-Bukan untuk siapa-siapa!" balas Hinata.
"Heh~ benarkah? Bukannya ada kado pasti ada yang akan di berikan bukan? Selain itu kenapa tercantum tempatku tinggal?"
"G-Gh! Kau salah lihat! Bisakah kau jangan menggangguku!" teriak Hinata, "O-Oi! Kau...," geram pelan Lappland namun di tahan oleh Naruto.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu, maaf telah mengganggumu ya," ucap Naruto lalu melangkah pergi melewati Hinata, namun baru beberapa senti di belakangnya, Hinata menahan bajunya agar tidak pergi.
"Huft~" menghela nafasnya, Naruto menghadapkan tubuhnya ke arah Hinata kembali lalu tersenyum tipis, "Kau ini... Bukankah kau sebaiknya lebih jujur?"
"U-Urusai!" balas Hinata lalu menyerahkan kado tersebut sambil mengalihkan pandangannya, "Ma-Marry Christmast, Naruto-kun."
Menerima kado tersebut, Naruto menatap Kado di tangannya dengan intens di sertai senyum yang tipis, "Bolehkah aku membukanya?" melihat Hinata yang mengangguk kaku, Naruto pun membuka Kado tersebut dan terlihatlah sebuah Syal merah berukuran panjang.
"A-Aku membuatkanmu ini bu-bukan karena aku peduli padamu ya!"
Naruto yang mendengar itu terkekeh pelan lalu mengenakannya membuat penampilannya sedikit berbeda, ketiga perempuan di sana sedikit merona ketika melihat penampilan Naruto yang menurut mereka cukup tampan.
"Huft~ cukup hangat, Arigato Hinata-chan," ucap Naruto sambil tersenyum, Hinata yang melihat senyum tersebut mengalihkan pandangannya.
"A-Aku tidak butuh rasa terima kasihmu!"
Puk!
"Jangan berkata begitu, aku jadi seperti calon tunangan yang jahat," balas Naruto sambil menepuk kepala Hinata dengan kado di tangannya, "Marry Christmast~," lanjut Naruto sambil tersenyum.
"A-Aku tidak butuh hadiahmu!"
"Terima atau ku cium?" goda Naruto membuat Hinata bungkam, Naruto sudah tahu cara untuk membungkam kan keras kepala Hinata, walau masih terpengaruh Sharingan, dirinya sangat yakin Hinata masih memiliki perasaan layaknya perempuan polos.
Siapa pun yang akan di cium secara paksa pasti tidak mau hal itu.
Terkekeh pelan, Naruto menepuk kepala Hinata kembali, "Jaa~ kami pamit dulu, Kami memiliki urusan, Sampai bertemu lagi, Hinata-chan," ucapnya lalu melangkah pergi, Lappland dan Texas melewati Hinata sambil memberikan tatapan tajam.
Texas yang melihat betapa akurnya mereka walau bermusuhan tapi nyatanya telah bertunangan entah kenapa merasakan seperti ada yang menusuknya.
"Kau akrab sekali dengannya ya, Sensei?" tanya Texas membuat Naruto tertawa pelan. "Kalau di bilang akrab... Aku rasa itu tidak tepat karena kami jarang berbicara, apa lagi dia memiliki sifat Tsundere," jawab Naruto.
"Tapi, bagaimana bisa Tunangan Sensei menjadi musuh Sensei? Dan juga kenapa sangat banyak sekali?"
"A-ahahaha, kalau masalah kenapa dia jadi musuhku itu sangat panjang dan aku tidak ingin kalian terlibat, lalu mengenai yang ke dua... Sangat rumit di jelaskan, bahkan aku tidak tahu kenapa mereka sangat ingin sekali bersamaku," jawab Naruto di sertai senyum kaku.
"Dari pada membuat mereka sedih dan menderita... Aku menerima mereka saja, karena masih ada yang mencintaiku dengan tulus."
"Masih?" beo Texas dan Lappland.
"Tidak, bukan apa-apa. Ah benar juga... Selagi kita berbelanja, aku akan memberikan kalian hadiah."
Texas dan Lappland yang melihat Naruto seperti tidak ingin membahas hal tersebut hanya diam, mereka saling melempar lirikkan satu sama lain dan mereka berpikir bahwa Naruto seperti menyembunyikan sesuatu yang tak ingin mereka ketahui.
.
Konoha Mall
.
Texas dan Lappland yang baru saja memasuki Konoha Mall mengerjapkan mata mereka ketika melihat betapa besarnya Konoha Mall dan begitu mereka masuk, mereka di suguhkan banyak pakaian untuk perempuan di lantai pertama.
Naruto yang sudah tahu betul bahwa di lantai pertama untuk perempuan menggunakan kaca mata hitamnya, walau sudah sering melihat secara langsung tapi tetap saja dia ingin menjaga Image agar tidak di cap mesum oleh muridnya sendiri.
"Sugoiii! Besar sekali!" kagum Texas dengan mata membinar. "I-Ini lebih besar dari pada di tempat kami," timpal Lappland sampai meneguk ludahnya.
"Ayo, kalian boleh memilih pakaian yang kalian sukai, aku tahu kalian menyukai pakaian yang kalian kenakan, tapi ada baiknya kalian memiliki pakaian biasa juga, dan jangan khawatir, aku yang akan membayarnya."
"Ti-Tidak mungkin, Sensei! Kami tidak enak jika Sensei yang harus membayar kami," tolak Texas. "Sudah, pilih saja pakaian yang kalian inginkan, tidak perlu malu dan ragu," ujar Naruto sambil tersenyum.
Dengan ragu Texas dan Lappland mengangguk lalu mencoba berkeliling melihat-lihat pakaian yang membuat mereka tertarik, melihat mereka mulai memilih Naruto menciptakan Satu Hologram dirinya lalu menyuruhnya untuk berkeliling mencari minuman.
"Ah benar juga, Texas-chan, apa ukuran baju yang sering di gunakan oleh Whizly-chan?" tanya Naruto."E-Eh? Mu-Mungkin 'M'!" jawab Texas.
'Size M ya... Tapi aku tidak tahu apakah baju yang aku belikan nanti apakah dia sukai atau tidak...,' batin Naruto.
"Are? Naruto-san?" Naruto yang berpikir menoleh dan terkejutnya dia ketika melihat Ajuka serta Falbium tengah berbelanja bersama ayah Murid-muridnya bahkan di samping itu ada Whizly.
"Kalian, apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
"Ahaha, Kami mengajak Fing-san berkeliling, lagi pula ini pertama kalinya dia di sini kan," jawab Falbium santai. "Ho~ begitukah? Tapi tahukah kau mengajak seorang perempuan berumur 14 Tahun?" tanya Naruto kembali.
"Um, tentu saja."
"Kau tidak mengajaknya ke tempat yang cocok orang dewasa bukan?" tanya Naruto penuh penekanan membuat Ajuka dan Falbium menelan ludah mereka.
"Naruto-sama, tolong tenanglah, mereka tidak seperti itu kok," ucap Ayah muridnya yaitu Fing dengan lembut. "Apakah benar Fing-san?" tanya Naruto kembali memastikan.
"Ha'i, terlebih lagi...," gantung Fing lalu menepuk punggung Whizly membuatnya sedikit melangkah maju ke depan hingga berhadapan dengan Naruto.
"Se-Sensei!" panggil Whizly sedikit keras lalu menyerahkan sebuah kado kepada Naruto, "Marry Christmast! Naruto-sensei!"
"Whizly memintaku untuk menemaninya mencari kado untuk Anda, tapi saya tidak begitu mengenal tempat ini... Maka dari itu saya meminta bantuan Falbium-san dan Ajuka-san untuk menemani kami," lanjut Fing menjelaskan kejadian kenapa mereka di sini.
"Whizly-chan...," gumam Naruto lalu merendahkan tubuhnya sedikit agar sejajar dengan Whizly yang setinggi dadanya, "Kau selalu memberiku Hadiah, bahkan kemarin kau juga memberiku kalung ini, bukankah kau terlalu berlebihan?"
"Tidak, kemarin ya kemarin, sekarang ya sekarang, Apa pun yang telah Sensei ajarkan padaku dan berikan padaku, aku merasa satu atau dua hadiah tidak cukup, aku... Aku selalu ingin membalas budi apa yang Sensei berikan padaku."
Puk!
"Aku tidak membutuhkan banyak hadiah kok, Whizly-chan. Dengan kau menjadi muridku selamanya sudah cukup untukku," ujar Naruto sambil menepuk pelan kepala Whizly. "Ta-Tapi... Apa untungnya?" tanya Whizly.
"Hmmm~ bagaimana mengatakannya ya...," gumam Naruto sambil mengelus dagunya, "Dengan memiliki murid sepertimu-, tidak tepatnya kalian, bagiku itu sudah seperti harta terbesar untukku karena jika terjadi sesuatu denganku, aku sudah mewariskan apa yang aku miliki kepada Muridku dan dengan begitu jika aku sudah tidak ada, maka kalianlah yang akan menggantikan..."
Perkataan Naruto terhenti karena Whizly menutup mulutnya untuk tidak meneruskan ucapannya, "Aku tidak ingin mendengar itu, yang aku tanya kenapa Sensei sangat senang hanya dengan hadiah kami menjadi murid Sensei?"
Di turunkan ya dengan lembut tangan putih tersebut, Naruto tersenyum tipis ketika melihat wajah Whizly yang tampak tak senang dengan ucapannya tadi, "Bagi seorang Guru, Mendapatkan seorang murid itu sudah cukup."
"Tidak ada seorang Guru yang tidak ingin memiliki murid bukan? Seorang Guru pasti ingin menurunkan ajarannya pada muridnya dan aku sangat ingin mengajarkan apa yang aku miliki pada kalian karena kalian memiliki Talenta, mendapatkan murid saja sudah cukup untuk membuatku senang karena dengan begitu aku tidak terlalu mementingkan kekuatanku untuk diriku sendiri, tapi untuk orang-orang yang aku percaya."
Whizly yang mendengar itu terdiam, di pejamkan matanya ketika Naruto mengelus rambutnya dengan lembut dan itu membuatnya terasa nyaman dengan perlakuan lembut Naruto, "Tapi, Arigato Whizly-chan, atas hadiahnya," ucap Naruto lalu mengecup kepala Whizly membuat Whizly tersentak dengan rona di pipinya.
"S-Sensei!" pekik Whizly sambil menyentuh kepalanya. "Hehe, Selagi kau di sini, kau boleh memilih baju apa yang kau sukai di sini sebanyak yang kau mau Whizly-chan," ucap Naruto.
"E-Eh? Ma-Mana mungkin aku bisa menerimanya Sensei, a-aku tidak pantas menerimanya...," ujarnya dengan ragu. "Itulah yang di katakan persis oleh Kakak-kakakmu, tapi aku memaksa mereka karena aku tidak ingin mereka memakai pakaian yang persis setiap hari, begitu juga dirimu, ayo pilihlah pakaian yang kau inginkan," bujuk Naruto.
Mendengar itu, Whizly menoleh sekitar dan benar saja dia melihat kakak-kakaknya tengah memilih baju, dengan ragu Whizly mengangguk lalu menyusul kakak-kakaknya untuk memilih baju yang cocok untuknya.
"Sebaiknya kau juga, Fing-san. Pilihlah baju yang menurutmu pas untukmu," ucap Naruto sambil melirik Fing. "Eh? Mana mungkin Naruto-sama, aku jadi tidak enak," tolak Fing dengan lembut.
"Sudah pilih saja, Ajuka, Falbium ajak dia memilih baju dan pastikan kalian membayarnya!"
"Heh?! Naruto-san kau memeras kami?!"
"Akan aku kembalikan uang kalian nanti sebanyak 2x lipat."
"Siap laksanakan!"
Setelah mengatakan itu, Ajuka dan Falbium mengajak Fing ke tempat pakaian pria untuk mencarikannya pakaian yang cocok, sementara Naruto menunggu di kasir selagi membiarkan Murid-muridnya memilih pakaian yang mereka inginkan.
Selagi menunggu, Naruto membuka Kado yang di berikan oleh Whizly dan terlihatlah sebuah bingkai Foto berwarna hitam, dengan lambang serigala di atas bingkai.
"Bingkai... Hadiah yang menarik di hari Natal ya...," gumam Naruto lalu terpikir sesuatu, "Ah benar juga..., Mungkin nanti aku akan memintanya."
.
Tap! Tap!
Setelah selesai berbelanja, Naruto beserta yang lain kembali dengan tas belanjaan di tangan mereka masing-masing, Naruto yang ada paling depan menghangatkan bibirnya dengan cerutu buatannya.
Texas, Lappland, dan Whizly yang sebenarnya memilih sedikit baju merasa tidak enak karena Naruto memaksa mereka untuk mengambil baju sebanyak yang mereka inginkan.
"Huft~," hela Naruto hingga mengeluarkan asap lalu melirik Texas, Lappland dan Whizly yang menundukkan kepala mereka, "Jangan seperti itu, aku sudah bilang tidak mempermasalahkannya bukan."
"Tapi..."
"Aku tidak ingin mendengar keluhan kalian, karena ini hari Special aku juga ingin memberi hadiah kepada kalian, jika hanya aku yang menerima hadiah, aku seperti manusia yang serakah jadinya," ujar Naruto membuat Mereka hanya bisa pasrah.
"Lalu, Texas-chan!" ujar Naruto merogoh tas belanjaannya lalu melemparnya ke arah Texas, dengan refleks dia menangkapnya dan menatap apa yang di berikan oleh Naruto, "Se-Sensei, I-Ini...," gagap Texas.
"Ya, itu Coklat Stik, semenjak kemarin kau menginginkan itu bukan?"
"A-Aku tidak..."
"Tidak perlu berbohong, aku bisa melihatnya kemarin dari Ekspresiku," potong Naruto sambil tersenyum, "Terimalah, dari pada kau penasaran dengan Cokelat tersebut karena tidak bisa membelinya."
"A-Arigato, Naruto-sensei."
"Sensei, kau seorang perokok?"
"Bisa di bilang ya, bisa di bilang tidak... Tapi untuk kali ini aku menggunakan bahan-bahan dari permen yang aku ubah jadi bahan mudah terbakar, dan kali ini rasa kopi," jawab Naruto sambil menghembuskan nafasnya hingga mengeluarkan asap.
"memang benar baunya tidak seperti rokok biasanya, bukankah begitu Texas-chan?" timpal Lappland lalu bertanya pada Texas. "Ke-Kenapa kau bertanya padaku?" tanya Texas tergagap.
"Hm? Bukannya kau perokok?"
Naruto yang mendengar itu menghentikan langkahnya lalu melirik ke arah Lappland, "Texas-chan? Perokok?"
"I-Itu tidak benar Sensei! A-Aku..."
Puk!
"Kau berani juga ya, padahal kau masih berumur 16 Tahun." Texas yang mendapat perlakuan lembut dari Naruto terkejut karena dia berpikir Naruto pasti akan memarahinya, "Se-Sensei... Kau tidak marah?"
"Marah? Untuk apa? Karena kau merokok? Tidak... Aku tidak marah, jika memang itu adalah kebiasaanmu aku tidak mempermasalahkannya, hanya saja nasehatku jangan terlalu sering saja, ya?" nasehat Naruto dan di jawab anggukan oleh Texas.
"Aku tidak percaya bahwa anak Anda sudah melakukan hal dewasa di umur seperti ini, Fing-san."
Fing yang mendengar itu hanya tertawa kaku, "Maa~ itu karena Ibunya juga sih..." Naruto yang mendengar itu mengerjapkan matanya.
"Benar juga, aku belum sempat bertemu ibu kalian, bagaimana kabarnya?" tanya Naruto, namun yang dia dapat hanyalah ekspresi lirih. Melihat itu sudah cukup membuatnya mendapatkan jawaban, "Souka... Gomen..."
"Tidak... Kau tidak perlu meminta maaf, Naruto-sensei, kami juga minta maaf karena tidak sempat memberitahumu," jawab Whizly.
"Jika ada waktu, bolehkah aku ke tempat beliau?"
"Tentu saja, dan juga jangan memasang wajah bersalah begitu, Baka-sensei," jawab Lappland sedikit kesal karena rasanya sejak tadi Gurunya melempar banyak pertanyaan.
"Hahaha, Gomen. Jaa~ mari kita kembali, yang lainnya pasti sudah menunggu."
"Ha'i!"
.
Hinata Side
.
Di sisi lain, tepatnya Hyuuga Hinata. Saat ini dia duduk di dalam Restaurant dengan secangkir teh hangat di tangannya, Hinata menatap keluar jendela melihat masyarakat berlalu lalang menghabiskan waktu bersama.
Menghela nafasnya, Hinata melirik ke arah Meja di mana terdapat sebuah Topi musim dingin serta sebuah kalung dengan Kristal berbentuk bunga teratai.
Perlahan wajah Hinata mulai memerah dan langsung menutup wajahnya dengan ke dua tangannya, bayangan saat melihat senyum serta godaan Naruto yang berhasil membungkamnya selalu terbayang di kepalanya.
'G-Ghh... suatu saat aku pasti akan membalasmu, dasar bodoh!'
.
.
~ Naruto : The Dragon Future ~
.
.
DSA Weapon Dragon
14.00 PM
.
Tsh!
"Tadaima!" ucap Naruto mewakili semuanya. "Oh, Okaeri Danchou, semuanya sudah siap loh!" balas Kiba sambil menunjuk semuanya yang sudah menyiapkan makanan di meja makan berukuran besar.
"Oh, Arigato. Aku juga sudah membawakan pelengkap untuk kita semua," ujar Naruto sambil menunjukkan tas belanjaannya yang cukup banyak.
Julis dan Claudia yang melihat itu pun mengambil tas belanjaan Naruto dan menyiapkannya untuk pesta natal mereka.
Naruto yang baru saja akan menduduki kursi terkejut ketika Asia tiba-tiba datang dan memeluknya, "O-Oi, itu bahaya Asia-chan."
"Lakukan..."
"Hah?" beo Naruto. "Kau tidak melakukan apa pun pada mereka bukan?" tanya Asia dengan nada menuntut.
"Hah? Mana mungkin, mereka muridmu, apa yang kau pikirkan?" tanya Naruto menatap aneh Asia. " Habisnya, umur mereka sedikit berbeda denganmu, jika mereka memiliki perasaan terhadapmu," jawab Asia sambil meremas baju Naruto.
"Oi-oi, lihatlah sekelilingmu, jika kau memang melarangku untuk memiliki perasaan terhadap perempuan lain, mereka mungkin tidak akan ada di sini loh," balas Naruto.
Asia yang mendengar itu mengembungkan pipinya, Naruto yang melihat tingkah Asia menghela nafasnya lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Asia membuat wajah Asia memerah.
"Ni-Nii-chan!"
"Jangan mempermasalahkan dengan siapa atau aku sedang melakukan apa dengan perempuan lain, aku ini juga tahu batas. Tapi jika itu memang tak bisa di hindarkan dan sudah takdirku untuk menerimanya, maka aku akan menerimanya, aku tidak ingin mereka menderita karena menahan perasaan mereka."
Asia yang mendengar itu terdiam, Naruto benar-benar sudah berubah, dia bahkan sudah membuka hatinya dan lebih peduli dengan perempuan.
"Danchou! Bisakah kau bantu kami sebentar!"
Naruto yang di panggil mengangguk lalu mengelus kepala Asia dengan lembut, "Jaa~ kita lewatkan hal itu untuk hari ini, karena hari ini adalah Hari Special maka kita rayakan bersama."
Asia mengangguk dan dengan gerakan cepat Asia menarik kerah Naruto dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Naruto lalu pergi membantu yang lain.
Naruto yang di cium di hari Natal dan itu pun ciuman pertama di hari Special terdiam sebelum menghela nafas pelan dan melangkah ke arah Kirin yang tampak kesusahan bersama Saya karena Tohkan yang asik makan lebih dahulu.
'Dasar... Sifatnya itu memang tidak bisa berubah ya,' batin Naruto sambil tersenyum tipis, 'Ah benar juga, aku lupa mengundang mereka ya.'
.
Dead Forest
.
"Hachiii!" bersin wanita berambut merah lalu mengarahkan tangannya ke sebuah perapian berukuran besar untuk menghangatkan tubuhnya, "Kuso, walau sudah ada api sebesar ini, tetap saja terasa dingin."
["Mau bagaimana lagi, suhu di sini sekitar 10 derajat Celsius, apa lagi ini tempat tertutup, jadi jika ada angin dingin masuk maka akan susah untuk mengeluarkannya,"] balas seekor naga berwarna Coklat.
"Hari ini Natal ya... Kira-kira Naru-kun sedang apa ya...," gumam Wanita berambut emas, di sampingnya terdapat perempuan berambut hijau yang menghangatkan tubuhnya di perapian.
Swush! Tap!
"Yo! Kaa-san, Ki-chan, Yasaka-san." Bagaikan panjang umur, sosok yang di bicarakan datang ke tempat mereka dengan datang dari langit menggunakan kaki apinya.
"Master!" teriak Kiyohime lalu berlari ke arah Naruto dan memeluknya dengan erat, Kaa-san yaitu Charlotte serta Yasaka pun berdiri dari perapian dan mendekati Naruto.
Setelah dekat dengan Naruto, Charlotte pun memeluk Naruto lalu mengecup kening Naruto dengan penuh kasih sayang, "Selamat hari natal, Naru-kun."
"Selamat hari natal juga, Kaa-san, Yasaka-san, Ki-chan, maaf terlambat menjemput kalian," balas Naruto sambil mengelus rambut hijau Kiyohime yang masih asik memeluknya.
"Menjemput? Kau tidak berniat mengajak kami ke tempatmu bukan?" tanya Yasaka memastikan. "Sayangnya aku ingin kalian datang ke sana, lagi pula ini hari Special bukan? Dari pada kalian berdiam di tempat sedingin ini," jawab Naruto melihat para Naga Kitrugon yang berkumpul di perapian.
Melihat suasana para Kitrugon yang tidak ada pesta di hari Natal Naruto menjentikkan jarinya hingga memunculkan puluhan Hologram dirinya yang langsung bergerak dengan perhiasan Natal, dengan gerakan cepat mereka menghiasi tempat para Kitrugon dengan hiasan-hiasan natal dan beberapa dari mereka juga langsung menyiapkan tempat pemanggang dengan berbatuan serta api lalu memanggang ikan dalam jumlah banyak.
"Kalian semua, nikmatilah makanan yang telah aku siapkan untuk kalian, dan juga ikutlah berpatisipasi Hari Natal, aku merasa tidak enak pada kalian yang terdiam seperti tadi."
["Hoho, Arigato Gaki, kau memang yang terbaik!"] ucap Naga Kitrugon berwarna hijau. [""Marry Christmast! Naruto-san!""] ujar para Naga Kitrugon serentak.
"Dengar Gaki, aku tidak akan pergi ke tempatmu apa pun yang terjadi! Bagaimana jika mereka curiga bahwa aku adalah Kyuubi?!" ujar Yasaka bersih keras untuk tidak pergi.
"Astaga... Saat ini kau dalam wujud manusiamu, dan itu tidak mungkin terjadi jika kita langsung menggunakan Teleportasi bola kuningku, lagi pula semua sudah tahu tentangmu."
"Dan aku tetap tidak mau!" balas Yasaka sengit lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Naruto.
"Walau pun ada minuman kesukaanmu?"
Langkah kaki Yasaka terhenti seketika, Seringai tipis muncul di bibir Naruto lalu mengeluarkan sebuah botol minuman berukuran besar di tangannya, "kau memiliki satu kesempatan loh, tidak ada kesempatan lain untuk menikmati minuman ini di cuaca yang dingin ini."
Dengan patah-patah dia menoleh ke arah Naruto yang menyeringai, "Jika tidak mau ya sudah, aku akan meminumnya bersama Kaa-san dan Ki-chan, kalau begitu kami pergi dulu, sampai bertemu lain...," perkataan Naruto terhenti ketika Yasaka mulai mendekatinya.
Charlotte yang melihat tingkah, Yasaka hanya terkekeh, ternyata Naruto telah mempersiapkan benda yang tidak bisa di tolak oleh Yasaka.
"Huft~ kau harusnya jujur pada dirimu sendiri, Yasaka-san."
"G-Gh... Aku tidak mau mendengar itu darimu!"
Setelah mengatakan itu Naruto pun kembali ke DSA bersama Charlotte, Yasaka dan Kiyohime, meninggalkan para Naga Kitrugon yang berpesta ikan bakar buatan Hologram Naruto.
.
.
.
Hyotogaku
Minato Side
.
Sementara itu di sisi, Minato. Saat ini dirinya sedang terduduk di ruang tamu seorang diri dengan suasana hening di sekitarnya. Dirinya sangat ingat suasana hening ini, dimana suasana hening yang terjadi saat 17 tahun yang lalu bersama Kushina tanpa adanya tamu atau teman untuk di ajak bicara.
Hingga mereka bertemu Whellgon dan yang lainnya yang memberi mereka tempat tinggal dan hidup dekat dengan banyak naga. Suasana sepi mulai memudar setiap tahunnya karena lahirnya Menma, Leafa, Sara dan Ruko, namun tetap saja Suasana hening yang membuatnya mati kebosanan saat sendirian tak pernah memudar.
Seperti saat ini, Kushina dan yang lainnya tengah keluar ke kota Hyotogaku untuk membeli keperluan hari Natal, sementara dirinya berdiam diri di rumah menunggu kepulangan mereka.
Bayangan dimana rumah ini ramai saat kedatangan Naruto dan anggotanya terlintas di kepalanya, suasana ramai dan canggung yang menjadi satu.
Ingatan di mana Naruto memutuskan ikatannya dengan dirinya serta Kushina kembali terlintas, dirinya mengusap wajahnya dengan kasar karena jika saja mereka kembali di awal mungkin hal ini tidak terjadi.
Namun ada beberapa faktor juga yang tidak bisa membuatnya kembali ke Konoha setelah itu, dan itu menyinggung keselamatan putranya.
"Apa ada yang mengganggumu, Minato?"
Minato yang mendengar itu menoleh dan dia melihat Jiraiya yang telah duduk di dekatnya dengan sebotol sake di tangannya.
"Tou-san," gumam Minato lalu menundukkan kepalanya kembali, "Apakah... Ini memang takdir yang harus kami terima?"
"Apakah ini mengenai keputusan Naruto yang memutuskan hubungan keluarga?" tanya Jiraiya, Minato yang mendengar itu mengangguk pelan, "Dari pandanganku, keputusan Naruto sudah termasuk benar... Jika kalian kembali waktu itu mungkin nyawa Naruto akan selalu di incar oleh Musuh-musuh mu, berkat berita kematian palsumu, para musuhmu menganggap keturunan Namikaze sudah hilang sepenuhnya, namun untungnya Naruto selamat dari peristiwa itu dan aku mengganti nama Clannya."
"Jika sekarang dia menggunakan nama Namikaze Naruto, aku yakin Para musuhmu akan kembali bergerak dan melakukan Kudeta Konoha dengan cepat dari perkiraan sebelumnya."
"Tu-Tunggu?! Perkiraan sebelumnya?! Apakah ada rencana Kudeta Konoha?!" tanya Minato terkejut karena baru tahu berita tersebut. "Ada beberapa kelompok yang berencana menghancurkan Konoha, tapi itu setelah Dragon Champions dengan kata lain masih ada waktu sekitar 2-3 bulan lagi," jawab Jiraiya lalu menuangkan sake ke gelasnya dan meminumnya.
"Kenapa kau sesantai ini, Tou-san?!"
"Karena kami sudah menyiapkan segalanya."
"Ha-Hah?!" tanya Minato kebingungan. "Dengarkan aku Minato...," gantung Jiraiya sambil merangkul Minato lalu menceritakan apa saja yang telah dia rencanakan untuk melindungi Konoha dari Kudeta.
.
.
16.00 PM
DSA Weapon Dragon
.
Blam!
"TAMBAH LAGI!" Teriak Yasaka, Scathach dan Jeanne sambil mengangkat gelas mereka. "Ha'i-Ha'i, dan juga jangan teriak sekeras itu kalian ini," ujar Tamamo sambil menuangkan minuman ke gelas mereka.
"Dasar berisik."
"Jangan berteriak gitu, Tama-chan!"
"Dasar mabuk!"
"Kalian... Sebaiknya kalian sadar diri sekarang," ucap Tamamo dengan perempatan di keningnya.
"Mereka mabuk berat ne, Danchou," ujar Kiba tidak penting. "Aku bisa melihatnya baka, dan juga jika ingin mengatakan sesuatu katakan yang penting saja," balas Naruto sambil bertopang dagu di Kotatsu berukuran besar di ruang tamu.
Ya setelah pesta makan, saat ini mereka berkumpul di dalam Kotatsu berukuran besar yang cukup menampung puluhan orang, dengan Televisi yang menyiarkan tentang Natal.
Texas yang tak jauh dari Naruto mengemut Coklat Stik pemberian Naruto sambil sesekali melirik gurunya yang menonton Televisi dan mengetik-ngetik hologram di jamnya.
"Sensei, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Texas dengan suara sedikit di kecilkan. "Um? Ah, aku hanya mengecek-ngecek saja, karena perkembanganku, aku berpikir mungkin kekuatan pinjaman yang simpan di jam tidak akan aku gunakan lagi, tapi... Terkadang aku juga membutuhkannya di saat-saat darurat, jadi aku bingung sekarang," jawab Naruto.
"Bukankah kau tidak terlalu suka mencolok? Menurutku lebih baik di kurangi saja bagaimana?" usul Kiba.
"Di Kurangi kah?" gumam Naruto memikirkan usul Kiba. "Memangnya kemampuan apa saja itu Sensei?" tanya Texas penasaran dan mendekatkan dirinya di samping Naruto sambil menatap hologram Naruto yang menunjukkan data-data kemampuan yang ada di Jamnya.
"Um, yang pertama ada Blood Conecting, Hunderd Swords Shield, Iron Maiden, Change, dan Shockwave," jawab Naruto memperlihatkan data-data kemampuan jamnya lalu menjelaskannya satu persatu detail kemampuan yang dia sebutkan.
Asia yang melihat betapa dekatnya mereka terdiam, namun dia mengenyahkan bahwa mereka memiliki hubungan Special, hubungan mereka adalah Guru dan Murid, jadi wajar untuk seorang murid untuk mengetahui tentang gurunya.
"Um? Apa yang kalian bahas?" tanya Lappland menundukkan dirinya di belakang Naruto dan menopang dagunya di pundak Naruto melihat apa yang di bicarakan oleh Texas dan gurunya.
"Ah, Lappland-chan, kami hanya membicarakan tentang kemampuan jamku saja."
"Heh~ tampaknya seru, aku juga ingin tahu!"
Melihat ketiga half-wolf mulai mendekati Naruto membuat jari-jari Asia semakin gatal, dirinya benar-benar ingin melepas hasratnya untuk menyerang Naruto tanpa ada gangguan dari siapa pun, tapi dirinya tidak bisa melakukannya karena ada mereka.
Dirinya yakin yang lain juga pasti ingin melepas hasrat mereka.
"Ne, Master. Kemarin aku tidak bisa melihat perlombaanmu, apakah ada rekaman Lomba-lomba yang telah kau jalani?" tanya Kiyohime mengalungkan lengannya di leher Naruto.
"Ah, Aku juga ingin lihat!" timpal Lappland.
"Kalau itu aku tidak memilikinya, tapi aku berterima kasih pada kalian yang mengingatkanku akan hal itu, aku melupakan satu orang yang aku kenal dan lupa mengajaknya kemari, bahkan sudah lama sekali aku tidak melihatnya," ujar Naruto sambil berdiri.
"Kau mau pergi lagi, Naru-kun?" tanya Aiz dan di jawab anggukan oleh Naruto. "Ya begitulah, hanya sebentar saja," jawab Naruto mengenakan Jaket serta Syal merah pemberian Hinata.
"Um, Nii-chan! Dari mana syal itu? Apa kau membelinya?" Naruto yang sudah berada di teras melirik ke arah Asia dengan senyum tipisnya. "Pemberian dari seseorang," jawab Naruto lalu menghentakkan kakinya hingga mengeluarkan api yang langsung mendorongnya terbang ke langit.
"Pemberian seseorang?" tanya Asia sambil menatap Texas, Lappland meminta jawaban, siapa orang yang memberi Naruto Syal tersebut.
"Etto... Sebenarnya..."
.
.
Sitri Place
.
Sementara itu di kediaman berukuran besar yaitu tempat Clan Sitri, tampak saat ini keluarga Sitri berkumpul bersama Keluarga Gremory untuk merayakan hari Special kali ini.
Di ruang tamu, tampak mereka berbincang ringan di selingi canda tawa kecuali Sona yang duduk tenang bersama Rias yang tampak tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Sona yang melihat teman masa kecilnya seperti ini menghela nafasnya, semenjak terkena pengaruh Sharingan Uchiha Sasuke, sifat Rias benar-benar berubah dan itu membuatnya risih dan tidak senang.
Biasanya dia akan bermanja-manja seperti anak kecil ketika bertemu dirinya, namun saat ini dia seperti patung yang tidak memiliki ekspresi sedikit pun.
"Maaf mengganggu kegiatan Kalian, saya datang kemari ingin menyampaikan bahwa ada seorang tamu tengah berdiri di depan kediaman Anda, Sitri-sama!"
Kepala Keluarga Sitri yang mendengar itu menaikkan sebelah alisnya, "Tamu? Siapa?"
"Dia Uzumaki Naruto, dia bilang memiliki urusan dengan Serafall-sama."
"U-Uzumaki Naruto? Bi-Biarkan dia masuk!" perintah Kepala Keluarga Sitri dan langsung di laksanakan dengan cepat oleh maid tersebut. "Naruto-kun? Denganku?" gumam Serafall kebingungan.
Tak berselang lama, datanglah Sosok Naruto dengan senyum ramahnya, Keluarga Sitri dan Keluarga Gremory pun berdiri dan mendekati Naruto terutama Zeoticus yang langsung memeluk Naruto dengan erat.
"Selamat Natal, Naruto!"
"Selamat Natal juga, Zeoticus-san, aku tidak menyangka bahwa Anda di sini."
"Ahahaha, di hari Special ini aku ingin menghabiskan waktu dengan teman masa kecilku, jadi aku memutuskan untuk kemari," jawab Zeoticus sambil tertawa.
Naruto yang mendengar itu tersenyum lalu menatap kepala Keluarga Sitri dan membungkukkan badannya dengan sopan.
"Maaf karena kedatangan saya tiba-tiba, Sitri-sama."
"Tidak masalah, Uzumaki-kun. Aku senang karena kau datang kemari, mari kita rayakan hari Special ini bersama?" ajak Kepala keluarga Sitri.
"Ah, Gomen, tapi saya sudah memiliki pesta dengan teman-teman saya. Kedatangan saya kemari karena ingin berbincang sebentar dengan Serafall-senpai dan jika berkenan aku juga ingin berbincang dengan Sona-Kaichou," tolak Naruto dengan lembut lalu menatap Serafall dan Sona bergantian.
Mata biru Naruto teralih ke arah Rias yang menatapnya dalam diam, tersenyum tipis Naruto melambaikan tangannya pelan ke arah Rias, "Yo, Rias-chan. Marry Christmast!"
"Apa maumu?"
"Ah, kejamnya. Jangan seperti itu, aku hanya ingin berbincang dengan mereka, Apa kalian tidak keberatan?"
"Aku sih tidak keberatan," jawab Serafall sambil tersenyum menggoda, Sona yang melihat itu memperbaiki kaca matanya yang sedikit melorot.
"Aku juga tidak keberatan."
"Kalau begitu, apakah ada tempat yang cocok untuk berbicara, hahaha Gomen merepotkan," ujar Naruto canggung.
"Kemari Naruto-kun," ajak Serafall sambil menarik Naruto di ikuti Sona di belakangnya. Zeoticus yang melihat itu mengguman pelan lalu membisikkan sesuatu ke telinga Kepala Keluarga Sitri, "Mereka tampaknya cocok, apa kau berniat menikahkan putrimu dengannya?"
"Ba-Baka! Apa yang kau katakan?!"
"Ya siapa tahu aja kan? Jika kedua putrimu memiliki perasaan terhadapnya bagaimana?"
"K-Kita bisa membahas itu nanti, terlebih lagi bukannya kau yang berniat membuat purtimu bertunangan dengannya?"
"Memang, dan dia bilang kalau sudah siap mungkin dia akan menerima Rias-chan, dan tampaknya dia ingin membuat Harem."
"Ha-Hah?! Kau ingin membuat Putriku di duakan?!"
"Ya jika mereka tidak keberatan dan Naruto siap membagi waktunya dengan putrimu kenapa tidak?"
Kedua kepala Keluarga itu pun masih berdebat mengenai perjodohan dengan Naruto yang membuat istri mereka menghela nafas mereka lalu menjewer mereka untuk menghentikan topik tersebut.
Sirzech yang duduk tenang hanya menyesap minumannya sambil sesekali menggerutu tidak jelas, sementara Rias menundukkan kepalanya lalu berdiri dari duduknya, "Aku izin ke kamar mandi sebentar," ujar Rias lalu melangkah pergi.
.
.
"Jadi, ada keperluan apa Naruto-kun?" tanya Serafall memulai pembicaraan. "Gomen tiba-tina datang begini. Saya ingin meminta hasil rekaman dari seluruh pertandingan Dragons Champions yang telah berlalu, apakah ada?" tanya Naruto.
"Um, kebetulan kami para panita memegang setiap Copy Videonya agar suatu saat jika kami kehilangan data, masing-masing dari kami bisa memberikannya kembali," jawab Serafall, "Jadi hanya itu kedatanganmu?"
"Maa~ sebenarnya begitu, tapi karena Hari ini adalah Hari Natal, jadi aku menyempatkan diri untuk membelikan kalian ini," ucap Naruto sambil menyerahkan masing-masing satu kado kepada Serafall dan Sona.
"Uzumaki-kun, kau tidak perlu sampai seperti itu," tolak Sona dengan halus. "Tidak, aku ingin kalian menerimanya, karena bantuan kalian aku bisa berdiri sampai sekarang, dan aku senang karena ada orang yang tidak memandangku seperti orang lemah karena tidak memiliki partner naga," balas Naruto sambil tersenyum.
Dengan ragu, Serafall dan Sona menerima kado pemberian Naruto, "Tapi... Kami tidak memiliki Kado untuk mu," ujar Sona, namun Naruto mengibas tangannya pelan menandakan tidak mempermasalahkannya.
"Tidak usah di pikirkan, kalian menerimanya saja sudah cukup untukku."
"Ne, Naruto-kun."
Naruto yang di panggil menoleh ke arah Serafall dan betapa terkejutnya dia ketika Serafall menarik syalnya dan keterkejutan Naruto semakin bertambah karena saat ini Serafall mencium bibirnya dengan lembut, bahkan Sona membatu hingga menjatuhkan kado di tangannya.
"C-Cho-Chotto Matte, Senpai! A-Apa yang kauhmmmph!"
Perkataan Naruto terhenti ketika Serafall kembali mencium bibirnya namun kali ini lebih Agresif, lengan Serafall memeluk leher Naruto dengan erat untuk memperdalam ciuman yang dia buat.
Sona yang melihat perbuatan kakaknya bergetar, bahkan tangannya bergerak tidak teratur seperti gatal ingin melakukan sesuatu. Ciuman itu pun terlepas memperlihatkan benang Saliva menjembatani kedua bibir tersebut.
Naruto yang terbebas langsung menjaga jarak dan menyentuh bibirnya, sementara Serafall menjilati bibirnya lalu tersenyum menggoda ke arah Naruto.
"Itu adalah hadiah natalku untukmu, apa kau menyukainya?" tanya Serafall dengan polosnya. "Ba-Baka! Ke-Kenapa kau menciumku, Bu-Bukankah Senpai harusnya mencium orang yang kau cintai!" balas Naruto hingga tergagap.
"Ara~ itu memang benar," jawab Serafall lalu menyentuh bibirnya, "Dan orang itu adalah Kau."
"Ha-Hah?!" kejut Naruto tidak percaya apa yang dia dengar.
"Matte, Nee-sama! Apa maksudmu?!" tanya Sona dengan nada menuntut. "Ara~ Ara~ apa aku belum pernah memberitahumu, So-chan?" tanya balik Serafall sambil mendekati Naruto sementara Naruto menjaga jarak dari Serafall namun dirinya harus terjebak karena ada dinding di belakangnya.
"Uzumaki Naruto-kun, ini sudah menarik hatiku sejak Lima Tahun yang lalu," ucap Serafall sambil mengelus dada Naruto dengan jari lentiknya. "Lima tahun yang lalu...," gumam Naruto.
"Tapi aku menahan hatiku ketika mendengar kau sudah tidak mempercayai perempuan lagi. Namun sekarang, kau sudah membuka hatimu dan begitu juga aku, sekarang aku akan mengatakannya padamu...," gantung Serafall sambil mengalungkan lengannya ke leher Naruto, "Aku mencintaimu, walau umur kita berbeda aku tidak peduli, kau sudah merebut hatiku, dan aku tidak ingin pria lain selain dirimu."
"Ta-Tapi, Se-Senpai..."
Tap!
Naruto, Serafall dan Sona mengalihkan pandangan mereka ketika mendengar suara langkah kaki dan mereka melihat Rias yang menatap mereka dengan ekspresi terkejut.
"R-Rias-chan...," gagap Sona. "Ara~, Rias-chan ada apa kau kemari?" tanya Serafall sedikit menjaga jaraknya dari Naruto, sementara Naruto menghadapkan tubuhnya ke arah Rias dan menatap Rias dengan intens.
"Apa yang baru saja kau katakan, Sera-nee? Kau... Mencintainya?" tanya Rias sambil menunjuk Naruto. "Ara? Apakah salah?" tanya Serafall dengan wajah polos.
Nyit!
"Tentu saja! Baka-Nee!" teriak Sona sambil menjewer ke dua pipi Serafall. "E-Eh! Sho-Sho-chwan! Aphwa yhanwa khwau lhwakhwukwan?!"
"Tentu saja menghukummu Baka-Nee! Bisa-bisanya kau mengatakan itu pada Uzumaki-kun! Apa lagi secara tiba-tiba kau menciumnya!"
"hw-hwee~ So-chan cemburu?"
Sona yang mendengar itu semakin kesal dan semakin keras menarik ke dua pipi Serafall, Naruto yang melihat situasi semakin canggung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jadi... Sudah berapa lama kau mendengarnya?"
"Itu bukan urusanmu bukan!" balas Rias membalikkan badannya lalu melangkah pergi namun Naruto menahannya untuk tidak pergi. "Tentu saja, dan juga kenapa kau kesal?" balas Naruto.
Rias yang mendengar itu menghempaskan tangan Naruto, namun Naruto kembali mengunci Kedua tangan Rias hingga membuatnya tidak bisa pergi ke mana-mana.
"Lepaskan aku dasar menjijikkan!"
"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku, dan juga kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Karena kau adalah Buaya Darat! Berapa banyak wanita lagi yang akan kau permainkan!"
Naruto yang mendengar itu terdiam, Serafall dan Sona yang mendengar itu teriakan Rias juga terdiam. "Kau sudah memiliki banyak perempuan bukan?! Bahkan Anggotaku yaitu Tohka-san juga termasuk?! Apa kau ingin menduakan perasaan mereka?! Dasar Buaya Darat?!"
Suasana seketika hening ketika Rias selesai berteriak melampiaskan kekesalannya, Naruto yang mendengar itu menyeringai kecil.
"Buaya Darat ya?" gumam Naruto lalu melirik Sona, "Sona-Kaichou, apa kau ingat hubunganku dengan perempuan dulu? Dan Kau pasti tahu penyebabnya bukan?"
Sona yang mendengar itu terdiam sejenak lalu menjawabnya dengan ragu, "Karena... Penghianatan Hayama-san."
"Benar sekali, Aku di khianati karena pertunangan paksa, bahkan tepat di depan mataku mereka hampir melakukan hubungan intim," jelas Naruto, "Dari sana aku sudah tidak mempercayai semua perempuan, tetapi..."
"Mereka, menghancurkan dinding yang telah aku buat untuk menutup hatiku untuk perempuan, dengan cinta mereka aku mulai paham bahwa ada perempuan yang masih mencintaiku seperti mereka."
"Mencintaimu kau bilang?" Naruto yang mendengar itu melepaskan kunciannya pada lengan Rias. "Ya, merekalah yang mencintaiku, bahkan mereka jugalah yang memaksaku untuk mencintai mereka."
"Aku bukanlah Buaya Darat, aku hanya sebuah Batu yang tidak bisa lepas dari puluhan Tentakel yang melekat di batu tersebut."
"Dan jika kau berpikir, bahwa aku menduakan perasaan mereka? Kau salah, jika aku tidak memiliki waktu untuk mereka, sudah pasti mereka menjauhiku, tapi sampai saat ini mereka tetap di sampingku."
Setelah mengatakan itu, Naruto menghela nafasnya perlahan lalu melirik ke arah Serafall, "Karena itu, Senpai. Aku... Masih belum bisa menerima perasaanmu untuk saat ini, karena saat ini bukan akulah yang menentukan bisa menerima perasaanmu, melainkan mereka."
"Hehh~," gumam Serafall merasa kecewa.
"Jika kau memang mencintaiku, berbicaralah pada mereka. Aku tahu aku ini seperti pria yang tidak bisa di andalkan karena aku tidak begitu pandai masalah percintaan, tapi sebisa mungkin aku akan membagi waktuku untuk mereka yang mencintaiku agar cinta mereka tidak sia-sia," lanjut Naruto dengan ekspresi seriusnya.
Serafall yang mendengar itu terdiam sesaat lalu tersenyum meyakinkan kepada Naruto, "Baiklah, aku akan menunggu sampai Dragons Champions selesai, setelah selesai aku akan mengatakannya pada mereka."
"Ch-Chotto! Nee-sama! Bukankah sebaiknya kita bicarakan ini lebih dahulu kepada Tou-sama?!" ujar Sona mencoba menghentikan Serafall yang seenaknya membuat keputusan.
"Fufu~ masalah Tou-sama, itu mudah untukku." Mendengar itu Sona mengepalkan tangannya, kakaknya ini memang banyak mendapatkan hak sebagai putri pertama, mengingatnya membuatnya sedikit kesal karena dia memiliki apa yang membuatnya mudah mendapatkannya.
"Jadi... Kenapa kau tampak kesal ketika Serafall-senpai mengatakan bahwa dia mencintaiku, Rias-chan?" tanya Naruto membuat Rias tersentak lalu membalikkan tubuhnya tak ingin bertatapan langsung dengan Naruto.
"I-Itu bukan urusanmu?!"
Naruto yang mendengar nada ketus Rias terdiam, dirinya mengingat di mana Zeoticus berusaha menjodohkan dirinya serta Rias begitu Dragons Champions Selesai, namun sebelum pembahasan tersebut Rias sudah pingsan terlebih dahulu karena kepingan memori lamanya.
Dan tampaknya, Zeoticus juga tidak melanjutkan pembahasan tersebut kepada Rias mengingat situasi yang mengekang Rias. Menghela nafasnya, dirinya sedikit bersyukur karena pembahasan itu tidak di lanjutkan karena jika di lanjutkan, dirinya bingung harus bereaksi seperti apa karena secara tiba-tiba mereka akan berjodoh, menurutnya lebih baik saling mengenal terlebih dahulu lalu menjalin hubungan.
"Hahh~ sudahlah," hela Naruto lalu melempar sebuah chip ke arah Sona yang refleks langsung di tangkap Sona, "Masukan rekamannya ke Chip tersebut, setelah selesai kau tinggal melemparnya dan Chip tersebut akan kembali kepadaku."
"Lalu, untuk Rias-chan..." gantung Naruto sambil mengotak-atik hologramnya hingga mengeluarkan sebuah kado berukuran sedang dan meletakkannya di kepala Rias.
"Marry Christmast," ucap Naruto lalu melangkah mundur menjaga jarak dari Rias. "He-Hey! Aku tidak butuh hadiahmu ini!" teriak Rias ingin melempar Kado Naruto.
"Terima atau...," gantung Naruto membuat Rias bungkam, melihatnya bungkam Naruto tersenyum lalu mengeluarkan api dari kakinya, "Jaa~ kalau begitu aku pamit sekarang, aku harus menemui seseorang lebih dahulu, sampaikan salamku kepada keluarga kalian."
Setelah mengatakan itu, Naruto langsung terbang ke langit dan melesat dengan cepat menuju tempat berikutnya. Serafall yang melihat kepergian Naruto melambaikan tangannya, sementara Rias dan Sona terdiam dengan pemikiran masing-masing.
Menatap kado di tangannya, Rias membukanya hingga terlihat sebuah Syal berwarna Biru dengan lambang Lonceng yang di bawa oleh seekor anjing, meremas lembut Syal tersebut Rias menatap ke langit di mana Naruto pergi tadi.
"Huft~ cuacanya semakin dingin ketika malam, sebaiknya aku cepat menemuinya," gumam Naruto lalu menambah kecepatan terbangnya menuju suatu tempat.
Swush! Tap!
Naruto yang sudah mencapai tujuannya mendarat di teras jendela sebuah kediaman yang sederhana lalu mengintip dari jendela untuk melihat isi ruangan, namun yang ada ruangan tersebut sepi, gelap dan minim cahaya.
"Apakah dia sedang pergi?" gumam Naruto lalu mengeluarkan jaringan darahnya dan membobol jendela kediaman tersebut hingga terbuka.
Naruto pun memasuki kamar tersebut dan menatap keadaan kamar tersebut yang tampak rapi, "Klasik dan rapi huh...," gumamnya kembali lalu menatap ke sebuah meja di mana terdapat sebuah miniatur Negara Jepang dan dia melihat di miniatur tersebut terdapat tanda bahwa dirinya berada di sebuah kediaman dan beberapa tanda yang berada di DSA.
Matanya teralih ke satu tempat di mana terdapat tanda dari seseorang yang dia cari dan dia berada di...
"O-Oi-Oi, kau pasti bercanda kan?"
.
.
.
Swush! Tap!
"Huft~," hela Naruto sambil menatap sebuah Cafe berukuran besar, "Di sini ya...," gumam Naruto lalu menatap Jamnya yang terdapat pemberitahuan bahwa Chipnya telah kembali.
Menghembuskan nafasnya kembali, Naruto melangkahkan kakinya memasuki Cafe tersebut hingga...
"Marry Christmast! Goushujin-sama!" sapa perempuan berambut hitam dengan pakaian natal yang sedikit minim.
"..."
"..."
Naruto serta perempuan tersebut sama-sama terdiam, terutama Sang perempuan yang menatap Syok pemuda di depannya.
"A-A-A..."
"Apa yang kau lakukan di sini, Akame-chan?" tanya Naruto dengan ekspresi datar.
"NARUTO-KUN!"
.
Naruto yang duduk di dalam Cafe menatap intens Akame yang duduk di depannya dengan kepala tertunduk serta bergerak gelisah, di liriknya sekitar Cafe yang terdapat mayoritas banyak laki-laki dengan pelayannya perempuan berpakai Natal sedikit minim.
"Jadi... Kenapa kau bekerja di sini, Akame-chan?" tanya Naruto dengan ekspresi serius. "S-Selama ini aku tidak memiliki pekerjaan dan bingung harus melakukan apa. Ka-Karena itu, Kataera-chan menyarankanku bekerja di sini bersamanya karena gajinya besar, a-awalnya tempat ini normal saja, ta-tapi...," jawab Akame tergagap.
"Tapi?" tanya Naruto tanpa menghilangkan ekspresi seriusnya. "Begitu kami bekerja 3 Hari, Manajer merubah desain pakaian untuk menarik banyak pelanggan... Se-Sebenarnya kami merasa risih dengan pakaian ini, tapi... Manager mengancam kami karena dia memiliki teman-teman polisi dia akan melaporkan bahwa kami melakukan sesuatu yang buruk di Cafe ini."
Mendengar itu Naruto mengepalkan tangannya dan mengatur emosinya agar tidak keluar, dirinya tahu bahwa Akame adalah mantan dari Black Army, tapi jika pihak Manager memiliki teman Polisi dan dia membunuhnya sama saja kasusnya akan berhubungan dengan polisi tapi dengan orang yang berbeda.
"Apakah Kataera-san ada di sini juga sekarang?"
"U-Um, dia ada di sana," jawab Akame sambil menunjuk Kataera yang tengah melayani tujuh pria. Naruto yang melihat itu menaikkan tudungnya agar identitasnya tidak di ketahui lalu mengangkat tangannya, "Ano, permisi, Nona yang ada di sana!" panggil Naruto sambil menunjuk Kataera.
Kataera yang di panggil menoleh dan dia melihat pemuda tersebut mengarahkan tangannya untuk mendekatinya. Sebagai pelayan, Kataera pun mendekati pemuda tersebut meninggalkan tujuh pria yang mendecih kesal.
Naruto yang melihat Kataera datang berpindah ke samping Akame membuat Akame kebingungan, "Na-Naruto-kun, A-Apa yang kau lakukan?"
"Diam dan jangan protes," jawab Naruto tegas lalu merangkul Akame, "Yo! Nona bisakah kau menemaiku? Aku merasa kesepian," ujar Naruto begitu Kataera di dekatnya.
Kataera yang mendengar itu melirik ke arah Akame yang memberinya tanda untuk melakukan apa yang di mintanya, namun Kataera yang tidak menyadari bahwa itu adalah Naruto menatap tajam Naruto.
"Maaf, tapi ini adalah Cafe tuan, bukan tempat pelayanan Sex."
"Ah, Maafkan aku. Kenapa aku memanggilmu kemari bukanlah untuk itu, Kataera-san," balas Naruto sambil sedikit mengangkat wajahnya membuat Kataera terkejut ketika melihat wajah Naruto.
"Na-Naruto-san!" kejut Kataera dengan suara yang sedikit di kecilkan lalu mendudukkan dirinya di dekat Naruto, "A-A-Apa yang Anda lakukan di sini?"
"Kedatanganku kemari ingin mengundang kalian pesta natal, tapi kalian tidak ada, dan aku melihat Miniatur yang aku berikan pada Akame-chan dan di sana terlihat bahwa kalian berada di sini, jadi aku langsung kemari."
"Ta-Tapi..."
"Sekarang kalian akan berhenti bekerja di sini, aku akan sudah memiliki satu tempat yang cocok untuk kalian, apa lagi salah satu teamku bekerja di sana, tidak ada gunanya kalian bekerja untuk melayani pria-pria mesum di sini," potong Naruto.
"Oi! Sampai kapan kau menahannya! Dia sedang melayani kami!" Naruto yang mendengar itu dari salah satu pria dari tujuh pria yang di layani Kataera sebelumnya menatap intens pemuda tersebut, lalu merangkul Kataera dan menariknya membuat jarak mereka sangat dekat.
"Gomen, tapi aku memiliki waktu dengannya, begitu juga dengan nona ini, bisakah kau tidak mengganggu kami?" ujar Naruto santai, Akame dan Kataera yang mendengar itu memerah wajahnya.
"Ba-Baka! Apa yang kau katakan!"
"A-Aku tidak ingin melakukan itu, Naruto-san!"
"Apa-apaan maksudmu itu bocah?!" tanya Pria berbadan besar merasa tidak terima. "Apa kau tidak mendengar apa yang aku bicarakan tadi? J-a-n-g-a-n g-a-n-g-g-u K-a-m-i," jawab Naruto penuh penekanan.
"Selain itu, bagi kalian para pelayan Cafe ini, bagi siapapun yang bisa melayaniku hingga puas, aku akan membayar kalian hingga 11 kali lipat di banding Cafe ini."
Brak!
"Kau mengajak baku hantam Gaki!" teriak salah satu pria kesal sambil menggebrak mejanya, beberapa Pria juga ikut berdiri karena merasa pemuda baru-, yaitu Naruto merasa berkuasa.
"Ho~ kenapa kau marah? Apakah aku tidak boleh memiliki waktu dengan perempuan-perempuan di sini? Atau kau hanyalah orang-orang yang mencuri kesempatan untuk berbuat mesum? Atau...," gantung Naruto lalu menyeringai lebar, "Kalian hanyalah pria rendahan yang sangat menginginkan sentuhan wanita tapi kalian tidak bisa membayarnya karena uang kalian yang sedikit?"
Grek!
"Cukup bicaramu Gaki!" teriak Pria berbadan besar langsung mencengkeram kerah Naruto dan mengangkat Naruto bersiap untuk menghajar Naruto
Jrash!
Semua yang ada di Cafe tersebut terkejut ketika Cairan merah keluar menghiasi dinding Cafe, sementara Naruto yang telah di angkat berdiri tenang menatap sebuah tangan yang tergeletak di meja.
"GHYAAAAAA!"
"KYAAAA!"
"Jauhi tanganmu darinya," ujar Akame dengan nada dingin sambil mengacungkan sebuah pedang ke arah Pria berbadan besar yang tergeletak di lantai sambil menyentuh tangannya yang mengeluarkan darah, "Jika kau menyakitinya sedikit saja, jangan harap bahwa esok kau bisa melihat cahaya matahari kembali," lanjut Akame dengan ekspresi dingin di sertai mata merahnya yang menyala.
"Kuso! Dasar wanita brengsek!"
Grek!
"Aku harap kau menjaga ucapanmu itu loh," ujar Naruto yang secara tiba-tiba sudah mencekik pria yang berkata kasar pada Akame, "Satte...," gantung Naruto sambil menghadap ke seluruh pengunjung Cafe.
"Bagi siapa pun yang ingin melawanku."
.
"Majulah."
.
Manager Room
.
Sementara itu di ruang Manager, tampak saat ini Manager Cafe di mana Akame dan Kataera bekerja saat ini tengah duduk santai sambil menghitung uang di tangannya di sertai senyum koruptor.
BLAAAR!
Sang Manage yang asik dengan uangnya seketika harus terkejut ketika pintu Ruangannya hancur berantakkan dan terlihat Tiga Pria berukuran besar dalam keadaan babak belur tergeletak di lantai ruangannya.
"Jadi kau Manager Cafe ini."
Sang Manager langsung menoleh ke sumber suara dan terlihat sosok Naruto yang masih tertutup tudung tengah memopong seorang pria dalam keadaan pingsan dengan mencengkeram kerahnya di pundaknya seperti membawa barang.
Sementara di seisi Cafe, tampak saat ini tergeletak seluruh pengunjung Cafe dalam keadaan babak belur, bahkan menerima luka serius, beberapa Orang lagi harus tergelantung di langit-langit Cafe karena kepala mereka yang menembus langit-langit Cafe.
Para pelayan Wanita Cafe yang melihat itu saling berpelukan dengan tubuh bergetar ketakutan, Akame dan Kataera berusaha menenangkan mereka dengan mencoba menjelaskan kenapa pemuda yang tak lain Naruto melakukan ini.
"Ternyata pemilik Cafe ini hanyalah orang gendut mesum yang menggunakan segala cara untuk uang ya," gumam Naruto lalu menjatuhkan pria yang dia bawa.
"Menjauhlah dariku!" teriak pemilik Cafe sambil menodongkan sebuah senjata pistol ke arah Naruto.
Dor! Tip!
Mata sang Manager melebar ketika pemuda di depannya berhasil menangkap pelurunya dengan santai, lalu membuangnya ke sembarang arah.
Swush! Duak!
Naruto yang menyadari ada dua orang di belakangnya langsung melayangkan kedua tangannya ke belakang hingga mengenai wajah mereka lalu mencengkeram kerah mereka dan melemparnya ke arah sang manager membuat Sang Manager terkejut dan tak bisa menghindar.
Blar!
"U-Ugh!" lenguh Sang Manager lalu menatap takut pemuda yang sudah di dekatnya dengan ekspresi yang membuatnya ingin mati.
Naruto pun merendahkan tubuhnya hingga bertatapan langsung dengan Sang Manager, "Ne... Bisakah kau beritahu aku kenapa kau membuat pakaian minim ketika Akame-chan dan Kataera-san bergabung di tempatmu ini?"
"Ka-Kau... Siapa kau?!"
Grek!
"Aku adalah teman mereka, jadi bisakah kau memberitahuku kenapa kau memberi mereka pakaian seminim itu? Apa kau juga memiliki pikiran mesum karena tubuh mereka seperti itu?" jawab Naruto sambil mencengkeram kedua pipi Sang Manager dengan keras.
"A-Aku... Aku..."
"Baiklah, kau tidak perlu menjawabnya," potong Naruto melepaskan cengkeramannya lalu mulai berdiri kembali, "Tetapi...," gantung Naruto sambil menghentakkan kakinya yang terbalut sepatu hingga mengeluarkan Api.
"Kau akan mati di sini," lanjut Naruto sambil menyeringai. "Ma-Matte! A-Aku akan menjawabnya, ta-tapi aku mohon jangan merenggut nyawaku," ujar Sang Manager dengan tatapan memohon.
"Y-Ya, aku melakukannya karena tubuh mereka yang sexy, Ka-Kau pasti berpikir demikian juga bukan? Me-Mereka sangat cocok dengan pakaian itu?!" Naruto yang mendengar itu tak menghilangkan ekspresi datarnya membuat sang manager meneguk ludahnya.
"Dengar, Pria gendut, aku tidaklah sama seperti yang kau pikirkan, aku ini berbeda."
Bwush!
Api di kaki Naruto semakin membesar membuat Sang Manager semakin ketakutan, bahkan Hawa panas semakin terasa karena Api di kaki Naruto.
"Sekarang, aku ingin kau melepaskan Kontrak kerja mereka-, tidak... Lebih tepatnya semua pelayan yang kau pekerjakan dan kau memberi mereka Gaji akhir sebesar 3 Kali lipat," perintah Naruto.
"Ka-Kau... Kau ingin..."
"Lakukan," potong Naruto semakin memperbesar api di kakinya membuat Sang Manager semakin panik dan langsung mengerjakan apa yang di minta Naruto.
Butuh waktu lama hingga semua tanda tangan Kontrak Kerja pekerja di Cafe tersebut di setujui di berhentikan di sertai uang mereka, namun bagi Naruto tidak masalah seberapa lama waktu yang habis karena masih ada waktu sebelum pergantian hari hingga Natal selesai.
"I-Ini!" ujar sang Manager menyerahkan semua apa yang di minta pemuda di depannya, Naruto pun menerima semua tersebut lalu menghilangkan api di kakinya dan melangkah menjauh.
Sret! BLAAAR!
Sang Manager yang melihat Naruto pergi tak mengatakan sepatah kata pun menggunakan kesempatan tersebut untuk menyerang Naruto, namun naas Naruto telah lebih dahulu menghajar dagunya hingga membuatnya menggantung di langit.
"Diamlah hingga pihak berwenang datang," ujar Naruto lalu melanjutkan langkahnya hingga bertemu Akame dan Kataera yang bersama teman-teman kerjanya.
"Naruto-kun, bagaimana?" tanya Akame dan di jawab oleh Naruto yang menyerahkan Dokumen pekerjaan serta Gaji mereka. "Aku serahkan pada kalian berdua, aku akan menunggu di luar," ujar Naruto melangkah keluar, Akame dan Kataera yang mendengar itu langsung dengan cepat membagikan dokument kerja teman-temannya serta gaji terakhir mereka.
Dengan begitu, pekerjaan mereka di Cafe ini sudah selesai.
Akame dan Kataera yang baru keluar dari Cafe di kejutkan oleh Naruto yang muncul di belakang mereka sambil menutupi tubuh mereka dengan Jaket yang entah dari mana dia dapatkan.
"Cuaca kali ini dingin, jangan sampai kalian kedinginan," ujar Naruto lalu sedikit menjaga jaraknya dari Akame dan Kataera yang terdiam, "Ikuzo, yang lain pasti sudah menunggu."
"Kenapa..."
Naruto yang mendengar itu menoleh ke arah Akame yang menundukkan kepalanya, "Kenapa... Kau sampai seperti itu kepada kami... Padahal kami dulu pernah menyerangmu dan berniat membunuhmu, tapi... Kenapa sekarang... Kau memperlakukan kami dengan baik?" tanya Akame tidak habis pikir dengan perbuatan Naruto.
"Setiap orang bisa berubah, aku percaya itu. Mereka yang mau berubah tentu saja aku akan menolong mereka, tapi mereka yang ada di jalan yang salah harus di perbaiki, namun jika mereka tetap tidak mau berubah... Sudah jelas aku akan menghabisinya secara langsung," jawab Naruto, "Dan kau, sudah berubah Akame-chan... Dan dulu aku sudah pernah berjanji padamu bukan? Bahwa aku akan menerimamu apa adanya."
Akame yang mendengar itu meremas jaket Naruto, Kataera yang mendengar perkataan Naruto tersenyum lalu mengelus kepala Akame dengan lembut.
"Aku berterima kasih karena kau juga membantuku, Naruto-san."
Naruto yang mendengar itu mengangguk lalu menghentakkan kakinya hingga mengeluarkan api berukuran sedang, masyarakat yang berlalu lalang di sekitar Naruto langsung menjaga jarak agar tidak terbakar oleh api Naruto dan ada juga yang menatap kagum Naruto karena bisa mengeluarkan api dari kakinya padahal terbalut sepatu "Ikuzo," ujar Naruto lalu terbang ke langit.
Akame dan Kataera yang mendengar itu pun bersuil dengan keras hingga Naga mereka datang dan langsung menunggangi mereka lalu mengikuti Naruto menuju DSA.
Sementara Cafe yang menjadi tempat kerja Akame dan Kataera sebelumnya saat ini telah berantakkan dan menjadi pusat perhatian warga masyarakat.
.
19.00 PM
DSA Weapon Dragon
.
Swush! Tap!
"Tadaima!" ujar Naruto yang masuk melalui teras di ikuti oleh Akame dan Kataera di belakangnya. "Okaeri, Nii-chan," balas Asia yang sudah menunggu di sertai Aura hitam.
Naruto yang melihat bahwa Asia tampak kesal melirik ke arah Kirin, "Kirin-chan, bisakah kau antarkan mereka ke kamar mandimu? Biarkan mereka membersihkan diri mereka."
"E-Eh! Na-Naruto-kun! A-Aku tidak..."
"Sudah pergilah ke sana, aku tidak menerima penolakan." Mendengar itu, Akame dengan ragu mengikuti Kirin dan Kataera mengikutinya dari belakang.
Melihat mereka pergi, Naruto menatap Asia kembali lalu berdehem sesaat, "Jadi... Ada apa, Imouto?"
Grek!
"Nii-chan menghilang selama 3 jam dan bertanya ada apa? Aku ini khawatir tahu?!" balas Asia sambil menarik kerah Naruto, "Bahkan kau tiba-tiba kembali bersama Akame-san dan temannya, apa maksudnya Nii-chan?!"
"Ya... Aku berpikir untuk meramaikan Hari Special ini, dengan banyak orang akan sangat bagus, lagi pula aku sudah lama tidak berbincang dengan Akame-san, apakah tidak boleh?"
"Tentu saja tidak boleh! Di sini ada para Servant dan Akame-san adalah Mantan Black Army, jika mereka berkelahi bagaimana keadaan Akame-san?!"
Naruto yang mendengar bahwa Asia ternyata juga mengkhawatirkan Akame tersenyum lalu memukul kepala Asia dengan pelan, "Kalau masalah itu, biar aku tangani, aku akan membicarakannya dengan mereka secara baik-baik tanpa ada baku hantam."
Asia yang mendengar itu mengembungkan pipinya, Naruto yang melihat Asia masih kesal menatap bingung Asia. "Kau menghabiskan banyak waktu dengan perempuan lain, sementara aku tidak, bahkan kau menerima hadiah dari Hinata-san!"
Naruto yang mendengar itu melirik ke arah Lappland dan Texas yang tiduran di Kotatsu, sementara kedua orang yang di lirik tersentak lalu menoleh patah-patah ke arah guru mereka yang masih melirik mereka.
"Go-Gomen, Naruto-sensei."
"D-Dia memaksa kami untuk mengatakannya."
Naruto yang mendengar itu menghela nafasnya, lalu menggendong Asia dengan lembut dan membawanya bersama untuk duduk di dalam Kotatsu.
"Jadi... Kau cemburu?" tanya Naruto dan mendapat cubitan pelan dari Asia. "Te-Tentu saja! Dari tadi aku tidak memiliki waktu bersamamu!" balas Asia membuat Naruto terkekeh.
"Bukan hanya kau, Tapi begitu juga kami," balas BB, namun Asia memeluk Naruto dengan erat seolah bahwa hari ini Naruto adalah miliknya sepenuhnya.
"Kalian sudah mendapatkan waktu kalian, sekarang giliranku!"
"Huft~ ribetnya punya banyak pasangan," gumam Kiba dapat di dengar oleh Naruto. "Itu bukan salahku," balas Naruto lalu mengotak-atik hologramnya hingga memunculkan Hologram besar di depan mereka semua di sertai data-data video rekaman dari Dragons Champions pertama hingga sekarang.
"Selagi menunggu mereka, aku sudah mendapatkan apa yang kalian ingin lihat, apakah kalian ingin menonton juga?"
"Tentu saja, dari awal kami belum sempat melihat aksimu jadi kami ingin melihatnya!" jawab Okita. "Um, Aku setuju," timpal Miyamoto membuat Naruto hanya tersenyum kecil
Naruto yang merasakan tarikan pelan pada Bajunya menoleh ke arah Texas yang menundukkan kepalanya, dengan perlahan Naruto mendekatkan kepalanya ke arah Texas sementara Asia masih asik berdebat dengan BB karena tidak mendapatkan waktu bersama Naruto.
"Ada apa, Texas-chan?"
"Se-Sensei! A-Apakah kau memiliki waktu besok?"
Naruto yang mendengar itu mengejarkan matanya pelan, "Aku bebas besok dari siang karena paginya aku memiliki urusan, kenapa?"
"Ma-Mau kah kau menemaniku berkeliling Kota Konoha, ha-hanya kita berdua?"
Naruto yang mendengar permintaan Texas terdiam sesaat lalu mengangguk tidak masalah, Texas yang melihat Gurunya menerimanya tersenyum senang.
Mengantar muridnya berkeliling di kota yang baru dia tinggali tidak masalah bukan?
Sementara itu Shiina yang masih duduk bersama Kurumi melihat betapa banyaknya perempuan yang mengelilingi Naruto menghela nafasnya perlahan dan menatap Teh hangat yang ada di tangannya.
"Jangan terlalu di pikirkan, itu akan membebaniku nanti." Shiina yang mendengar itu melirik ke arah Kurumi yang menatapnya khawatir. "Aku tidak mempermasalahkannya karena hampir setiap hari aku memikirkan hal yang sama," jawab Shiina.
"Tapi setidaknya... Aku ingin sedikit menghabiskan waktu bersamanya hingga hari oterakhirku."
Kurumi yang mendengar itu tersentak, "Ja-Jangan bilang..."
"Um, Aku sudah menemukan caranya dan aku tidak masalah melakukannya, karena aku...," gantung Shiina lalu tersenyum tipis ke arah Kurumi yang menatapnya terkejut.
"Mencintai Naruto-nii, dan aku... Rela mengorbankan nyawaku untuknya."
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Selanjutnya di Naruto : The Dragon Future
"Uwooh! Tempat ini bagus sekali, Sensei!"
"Uzumaki Naruto! Aku menantangmu bertarung!"
"Jauhi Naruto-sensei!
"Ikuzo! Texas-chan!"
Selanjutnya, Chapter 52 : Dragons Champions Arc V : Teacher and Student Part 1
.
Note : Yo! Saya 4kagiSetsu kembali Update.
Hmmm~ kira~ sudah berapa hari ya semenjak aku Update Ficku yang lain lalu lanjut kemari, hmm~ entahlah.
Btw bagi anda yaitu Ereaser Kw atau Unknowman, kau orangnya sama bukan? Apa yang kau lakukan? Mencari sensasi? Atau mencari ketenaran?
Kalau mencari ketenaran itu buat Fanfic lah, ngapain kau berisik gak jelas? Merasa paling hebat? Lah kau buat Fanfic aja gak bisa kok merasa hebat, pfft~ lucu sekali.
Lalu kau mengatakan aku otak dangkal? Egois? Wow, sorry bung saya pembuat cerita ini, dan saya tidak di bayar untuk mengikuti keinginan kalian yang sesuka hati, lalu otak dangkal? Hmmm~ apa tidak memiliki cermin atau tidak bisa melihat ya.
Walau pun saya memiliki banyak cerita dan hampir semua susah saya Update, tapi saya masih bisa aktif hingga sekarang, tidak seperti kebanyakan Author yang Hiatus di pertengahan.
Ya, aku lebih suka kalau orang sadar dirilah, kalau orang idiot gak sadar akan dirinya idiot, ya aku kasihan saja... Idiot kok di pelihara.
Aku? Idiot? Sorry bung, aku sadar diri. Jika aku idiot aku gak mungkin bisa membuat semua cerita ini.
Ok, kita lewatkan pembahasan tentang orang-orang Guest idiot dan kembali ke cerita.
Di Chapter kali ini, Adalah Chapter Special Natal, aku tidak begitu mengetahui apa saja yang di lakukan saat Natal karena aku bukan Kristen dan juga biasanya di Jepang kalau Hari Natal setahuku mereka berkumpul dan merayakannya bersama, kan begitu biasanya, ya sudah aku membuatnya sebisa yang aku tahu.
Lalu hubungan Texas dan Naruto? Hmmm~ buram (θ‿θ). Aku tidak tidak bisa memberitahu kalian. Tapi yang pasti hubungan mereka akan sangat dekat sekali.
Lalu Shiina, Akame dan Kataera, tiga Karakter lama yang jarang muncul akan muncul kembali di Arc V ini, dan juga mengenai perkataan Shiina, apa yang akan terjadi sebenarnya di masa depan nanti?
Lalu Cinta Serafall kepada Naruto? Kalian bebas mengatakan aku ini otak Harem tapi memang kenyataannya begitu, tapi apa hanya aku? Bahkan kalian memaksaku untuk menjadikan semua wanita pair Naruto.
Pfft~ aku sudah memilih orang-orangnya bahkan telah menyusunnya. Bagaimana bisa Serafall jatuh cinta sama Naruto, akan terjawab nanti.
Jaa~ itu saja yang bisa aku jelaskan di Chapter kali ini, aku tidak akan menjelaskan lebih banyak lagi seperti dulu, aku hanya akan menjelaskan yang penting saja menurutku.
Kalau begitu, Saya 4kagiSetsu Undur diri, Jaa~
4kagiSetsu Out
