0% - 10% - 20% - 25% - 50% - 80% - 100%
[Power on!]
[Loading…]
[Welcome Back, Master!]
[Story starts!]
.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kisimoto
High school DxD © Ichiei Ishibumi
Summary : Uzumaki Naruto, seorang pemuda yang dari lahir telah di takdirkan untuk menjaga masa depan dunia, namun awal kehidupannya harus merasakan sedikit kepahitan, namun seiringnya waktu berjalan kepahitan itu berubah menjadi manis.
Naruto : The Dragon Future
Pair : Naruto x Harem ( Asia, Arthuria, Servants, Kurumi, Aiz, Tohka, Koneko, Tearju, Rosswaisse, Hinata, Rias... )
Note Pair : Pair saya Reka Ulang. Saya akan memasukkan Pair berdasarkan Chapter. Bisa saja salah satu Pair akan mati.
Genre : Adventure, Fantasy, Sfi-ci, Friendship, Romance, Humor, AU, Family, Action, DLL.
Rate : M
Warning : Typo, OC, OOC, Multichap, jutsu buatan sendiri, alur berantakan, NotDxDTheme!, Alltheme is Future!, AU, Smart!Naru, Incest!, Dark Supranatural!, OOC!Vali, Friendship!Vali
Note : Daerah-Daerah yang saya ambil adalah Real bagian dari jepang, namun ada beberapa yang merupakan Fiksi buatan saya.
" Halo " berbicara
' Halo ' batin
[" Halo "] Dragon Bijuu
[' Halo '] batin Dragon Bijuu.
TrySail – High Free Spirits
( Fix music first )
( Layar memperlihatkan gambar matahari terbit lalu di ganti dengan gambar Team Naruto yang melihat ke arah matahari terbit di ganti gambar para Servant yang juga melihat matahari terbit juga lalu di ganti oleh Murid Naruto dan terakhir Naruto )
Shizuka ni moeru sekai hajimari wa kokokara
( Layar di ganti dengan gambar Asia yang berada di atas Gedung DSA sambil melihat matahari )
Yozora ga owari wo tsugeru toki
( Lalu Asia tersenyum begitu merasakan sebuah angin berhembus )
Hitosuji no hikari ga mune ni himeta koe ga
( layar di ganti dengan gambar langit yang cerah terlihat Seseorang dengan naga berwarna hijau melintas di langit )
Tokihanatsu yami wo saite
( penunggang naga tersebut melompat dari matanya dan turun dengan cepat ke bawah )
Kareru yori isso chiriisogu sugata
( Layar di ganti dengan Kelompok Kuroyukihime dan Miyuki yang menatap ke arah Kamera dengan ekspresi serius mereka )
Mayoi aruku sube wo
( Layar kembali di ganti dengan kelompok Sasuke yang menatap kamera dengan ekspresi serius mereka )
Sen no nami ni nomareta kokoro ja
( Layar diganti dengan gambar Whizly yang berlari di pesisir pantai bersama Texas dan Lappland hingga sampai di air pantai lalu Whizly berteriak sambil mengangkat tangan kanannya ke atas )
Kimi sae mamorenai
( Layar di ganti gambar Naruto yang mendarat di atas air lalu melesat dengan cepat menyulus kelompoknya yang lebih dahulu melesat dengan api di kakinya )
Hibike tashika na shoudou nariyamanu you ni
( Layar kembali di ganti dengan gambar peserta Kirigakure yang bersaha mengendalikan naga di dalam air dengan tombak di tangan mereka di selingi ledakan-ledakan air karena perlawanan naga yang mereka usaha kendalikan )
Wasurerarenu kizu wo nokoshite
( layar kembali di ganti dengan peserta lain yang tampak kesusahan lalu berganti dengan Kelompok Naruto di mana Kiba merentangkan tangannya ke depan )
Ima mo kasuka na zanzou kienai mama de
( layar kembali di ganti dengan Naruto yang mendarat di air sambil menyeringai kecil ke arah seekor naga berukuran besar )
Sekai ga matteru asu no ubugoe wo
( Layar di ganti dengan gambar Naruto dari belakang yang memutar tombak di tangannya dan seketika Naga di depannya membuka mulutnya dan menyerang Naruto )
Hibike tashika na shoudou kienai mama de
( layar di ganti dengan ledakan air yang sangat dahsyat lalu kembali di ganti dengan kelompok Naruto yang terbang rendah di atas air sambil menatap matahari terbenam )
Sou mirai to kako ga kousa suru hyakunenme no uta
( Layar kembali di ganti dengan gambar Para Wajah Kelompok White Fox dan yang terakhir di ganti dengan Naruto yang menepuk pundaknya sambil menyeringai kecil )
Fix End Music
( Layar di ganti akan judul Naruto : The Dragon Future )
Chapter 54 : Dragons Champions Arc V : Slice of Life : Berbagi part 1
.
Rabu, 27 Desember 2090
DSA Weapon Dragons
07.00 AM
.
Pagi yang cerah mendekati hari tahun baru, burung berkicau dengan tuanya dan terbang bersama teman-temannya menikmati hari yang indah.
Para warga juga telah melakukan aktivitas pagi mereka, kecuali di satu tempat, satu kamar yang masih terdapat dua orang yaitu pemuda berambut putih dan perempuan berambut kuning yang tengah terlelap di dada sang pemuda.
Karena melihat dua orang tersebut belum terbangun, sang Kami-sama pun menyinari kedua orang tersebut hingga melenguh dan terbangun dari tidur mereka.
Sang pemuda yang terganggu dengan sinar mata hari pun membuka matanya dan mengerjapkannya untuk mengambil kesadarannya kembali.
Melihat ada yang tengah tertidur di dadanya, pemuda tersebut mengerjapkan matanya dan beberapa detik setelahnya wajahnya memucat.
Bruk!
Pemuda tersebut pun menghentakkan kepalanya ke bantal dan menghela nafasnya, 'Kemarin itu...,' batinnya, 'Dia menyerangku tanpa ampun dan pada akhirnya...'
"Enggh~"
Pemuda tersebut seketika tersentak ketika mendengar perempuan yang tertidur di dadanya melenguh menandakan perempuan tersebut terbangun dari tidurnya.
Perempuan tersebut pun terbangun dari dada sang pemuda, sementara sang pemuda merinding ketika tangan perempuan tersebut menyentuh dadanya.
"Nyaaww~ Ohayo~ Anata~," sapa sang perempuan setelah menguap dengan nada seksual. "O-Ohayo~ Asia-chan...," balas sang pemuda tergagap sambil memejamkan matanya.
"Bi-Bisakah kau bangun dari tubuhku? A-Aku ingin membersihkan tubuhku."
"Mou~ bukankah kemarin malam aku sudah mengatakan padamu untuk belajar memanggilku seperti istrimu?" balas perempuan yang tak lain adalah Asia.
"Karena kita belum menikah jadi aku tidak bisa memanggilmu, Tsuma!"
"Hehh~," goda Asia sambil mendekatkan wajahnya ke arah sang pemuda yang memejamk matanya dan berbisik pada telinga sang pemuda, "Kemarin itu sungguh nikmat lo, bolehkah aku memintanya lagi, Naruto-kun?"
Blush~
Wajah sang pemuda yang tak lain adalah Naruto memerah sempurna ketika mendengar bisikkan Asia, sementara Asia terkekeh melihat wajah Naruto yang memerah melalui ekor matanya.
"Ba-Baka! Sudah hentikan! J-Jika Baa-chan melihatnya bisa gawat!" bentak Naruto, "Se-Selain itu ma-mana mungkin aku membiarkanmu kembali melakukan itu!"
"Fufufu~ bukan aku yang akan melakukannya," balas Asia lalu menghembuskan nafasnya kepada telinga Naruto membuat Naruto merinding, "Tapi kau sendiri, Nii-chan."
Asia pun mencium Naruto dengan liar membuat Naruto terkejut dengan tindakan Asia, dirinya berpikir Asia akan melakukan sesuatu di luar batas namun dirinya bisa sedikit tenang karena Asia hanya menciumnya saja.
"Fuahh~ kumohon, Nii-chann~ biarkan aku kembali merasakannya~," pinta Asia melepaskan ciumannya sesaat lalu kembali mencium Naruto dengan liar, Naruto yang mendengar permintaan Asia hanya terdiam lalu memejamkan matanya dan menyentuh kedua bahu Asia lalu mendorongnya hingga membuat Asia yang terbaring tanpa melepaskan ciumannya.
"Fuahh~ baiklah jika kau memintanya, aku akan mengabulkannya untuk kali ini," bisik Naruto melepaskan ciuman mereka, Namun Asia kembali mengarahkan kepalanya untuk kembali berciuman.
.
Texas Side
.
"Huaaahh~" sementara itu di kamar lain, terlihat Texas baru saja bangun dari tidurnya dan menguap dengan lebarnya, di liriknya ke arah dinding di mana tergantung sebuah jubah pemberian Naruto kemarin.
Wajahnya merona ketika mengingat kejadian kemarin lalu menepuk kedua pipinya dengan sedikit keras, "Bodohnya diriku."
"Tapi... Aku sedikit lega karena memberitahu Naruto-sensei mengenai kekuatanku dan sifatku itu, lagi pula... Sudah sepantasnya bukan Aku sebagai murid menceritakan masalahku padanya," gumam Texas sambil mengelus dadanya.
"Dan juga..."
"Karena hubungan kita, Guru dan Murid."
"..." Texas terdiam ketika mengingat perkataan Naruto, "Huft~ apa yang aku pikirkan... Jangan sampai aku memiliki perasaan terhadapnya."
Namun tetap saja, dirinya membayangkan Naruto memeluknya dengan erat serta menggendongnya dengan mesra.
Blush~
Wajahnya seketika memerah dan langsung membenturkan wajahnya ke kasur, "Apa yang aku pikirkan sih?!"
"A-Akhhh~!"
Telinga Serigala Texas seketika bereaksi ketika mendengar suara aneh, di lihatnya sekitarnya dan dirinya sama sekali tidak mendengar suara tersebut, "Suara apa itu?" gumam Texas sambil memejamkan matanya dan mencoba menajamkan pendengarannya.
"Akhmmn~ Ahmmnn~ Nhi-chahnn~!"
"Akhhnn~ Onegai! Ahnn~ percepathh~ Akhnnn~!"
Tsh!
"Huaammm~ Ohayo, Texas!" sapa Lappland memasuki kamar Texas namun seketika dirinya terkejut ketika melihat Texas tumbang dengan wajah memerah serta mata berkunang-kunang, "E-E-Eh?! Texas?!"
.
Skip Time
.
Tap! Tap!
Setelah beberapa waktu berlalu, Lappland, Texas dan Whizly pun akhirmya berjalan menuju ruang makan di mana Lappland dan Whizly menatap khawatir Texas yang wajahnya masih memerah.
"Texas, kau tidak apa?" Texas yang mendengar itu tersentak dan mengibas-ngibaskan tangannya dengan wajah panik. "U-Um! A-Aku tidak apa-apa!"
"Benarkah? Wajahmu memerah lo?"
"A-Ah! Mu-Mungkin ini karena kemarin j-jadi aku demam sekarang... Mu-Mungkin."
Lappland menaikkan sebelah alisnya kebingungan dengan jawaban Texas, padahal tadi dia mengeceknya dan suhu tubuhnya normal saja.
Ketika sampai di ruang makan, mereka bisa melihat Naruto yang berdiri di samping kulkas tengah di cium oleh Asia tentu pemandangan tersebut membuat wajah mereka merona dan belum semenit, Texas telah tumbang kembali.
"Ah! Texas?!" Asia dan Naruto seketika harus menghentikan kegiatan mereka dan melihat ke arah Texas yang tumbang dengan wajah memerah serta mata berkunang-kunang.
"Ba-Baka-sensei! Jika kau mau melakukan itu lihat tempat?!"
"Aku ini korban tahu?!"
.
.
"Ja-Jadi begitu...," gumam Lappland ketika mendengar penjelasan dari Asia, dia mengatakan bahwa dialah yang mencium Naruto secara sepihak jadi Naruto tidaklah bersalah.
Sementara Texas tengah menutup wajahnya di lipatan tangan berusaha untuk tidak memperlihatkan wajahnya kepada siapapun.
"Hahh~, kalau begitu aku akan pergi sekarang, kalian bertiga tetaplah di sini, jika kalian membutuhkan sesuatu minta saja pada Asia-chan," ujar Naruto berjalan pergi meninggalkan Asia, Lappland, Texas dan Whizly.
"Naruto-sensei, pergi ke mana?" tanya Whizly penasaran.
"Dia pergi untuk melakukan tugasnya sebagai calon suami!" jawab Asia sambil tersenyum.
Blush~
Wajah Texas kembali merona dan dia pun menyatukan keduanya dan memohon, "Aku mohon... Jangan bahas sesuatu tentang cinta lagi."
Naruto yang telah keluar dari Gedung DSA pun meregangkan tubuhnya dan setelah itu Naruto terbang pergi menuju Utara.
"Kunjungan pertama... Kita ke 'dia' dulu saja," gumam Naruto sambil tersenyum kaku, "Akan gawat jika dia marah dan membekukan ku nanti."
.
.
Kita, Higashijujo
09.00 AM
.
Kita, daerah kota Konoha bagian Utara yang berada di dekat Toshima, Daerah yang di kelilingi beberapa gedung Commersial serta universitas, Kuil, Rumah sakit dan beberapa perumahan ini saat ini ramai karena dulu daerah ini merupakan pasar, walau pasar telah di ubah menjadi toko tetap saja daerah tersebut saat ini tengah ramai walau harganya cukup mahal dari pada yang dulu.
Wush! Tap!
Naruto yang telah sampai di Kita, terbang menuju satu rumah yang cukup besar dan sederhana, di lihatnya papan rumah tersebut di mana terdapat nama Romanova.
Naruto pun mendekati rumah tersebut dan menekan bel rumah tersebut, "Semoga saja dia ada," gumam Naruto.
Cklek!
"Ha'i~!" balas seseorang membukakan pintu, Naruto yang melihat siapa yang membukakan pintu sedikit terkejut karena orang tersebut baru saja bangun tidur dan keadaannya cukup berantakkan.
Brak!
Dengan cepat perempuan tersebut menutup pintunya membuat Naruto semakin terkejut, "E-Eh?! Ana-chan! Tolong buka pintunya!"
Sementara orang yang tak lain adalah Anastasia mengatur nafasnya dengan wajah memerah karena tidak menyangka yang datang berkunjung adalah Naruto.
.
"Kenapa kau tiba-tiba menutupnya?" tanya Naruto ketika sudah memasuki kediaman Anastasia. "Ha-Habisnya... Keadaanku seperti sekarang ini... Ja-Jadi aku malu...," jawab Anastasia sambil memainkan jarinya.
"Hahh~ kau pasti kelelahan karena kemarin banyak tugas kan?" tanya Naruto kembali dan di jawab anggukan kaku oleh Anastasia.
"Mau bagaimana lagi, sekarang mandilah dan bersihkan tubuhmu, biar aku yang merapikan kamarmu dan menyiapkan sarapan untukmu," perintah Naruto membuat Anastasia tidak enak.
"Y-Yang benar saja, A-Aku tidak bisa membiar..."
"Sudah jangan khawatir, lagi pula kita akan menikah bukan?" mendengar perkataan Naruto sukses membuat wajah Anastasia merona hebat.
"Me-Menikah..."
"Ya... Setelah memikirkannya aku..." Naruto menghentikan perkataannya karena Anastasia telah menghilang, "Cepat sekali."
Tanpa menunggu lama, Naruto pun membersihkan kamar Anastasia dan menyiapkan sarapan untuknya, tentunya dengan bantuan Duplikatnya agar pekerjaannya cepat selesai.
Naruto yang membersihkan kamar Anastasia menghela nafasnya lalu menghilang karena tugasnya sudah selesai, sementara Naruto yang asli tengah fokus memasak makanan dengan bahan yang ada.
Grep!
Naruto yang fokus memasak tersentak ketika merasakan ada yang memeluk lehernya dari belakang, "Oh, kau sudah selesai?" tanya Naruto yang tahu bahwa yang memeluknya adalah Anastasia.
"Um, Maaf merepotkanmu hingga membuatmu membuatkanku sarapan," ucap Anastasia meminta maaf. "Maa~ jangan di pikirkan, lagi pula ini adalah tugasku suatu saat nanti bukan?"
Setelah selesai, Naruto pun menyediakan makanan buatannya pada Anastasia yang telah duduk di kursi makan, "Kenapa kau datang kemari, Naru-kun?"
"Um? Selama dua jam ke depan aku akan menghabiskan waktuku bersamamu, maa~ aku harus melakukan kewajibanku untuk berbagi waktu dengan kalian jadi aku akan melakukannya hari ini," jawab Naruto sambil duduk di sebelah Anastasia.
"Me-Menghabiskan waktu denganku?" gagap Anastasia dengan wajah merona. "Dan juga, cukup mengejutkan ya," ucap Naruto membuat Anastasia kebingungan.
"Ternyata orang secantik dirimu suka Ramen."
"Ka-Kau..."
"Um, itu karena saat aku mencari bahan tak aku sangka banyak persediaan Ramen, ternyata kita punya selera yang sama ya," lanjut Naruto sambil menopang dagunya dan tersenyum.
"Jadi, apa yang kau inginkan?"
"..."
"..."
"Suapi aku..."
"Hm? Apa kau bilang?"
"Suapi aku!" pinta Anastasia dengan wajah serius.
"Kau yakin?" tanya Naruto memastikan. "U-Um, Tapi... Aku ingin melalui ini!" jawab Anastasia sambil mengelus bibir Naruto.
"Kau mau kan?" tanya Anastasia sambil tersenyum menggoda membuat Naruto merona wajahnya lalu menepuk dadanya.
"La-Laki-Laki tidak akan menarik kata-katanya kembali!"
Dengan gugup, Naruto menyelipkan masakannya yang berupa tempura ke mulutnya lalu mengarahkannya pada Anastasia.
Dengan senang Hati Anastasia menerima makanan Naruto namun karena teksturnya yang lembut, Anastasia langsung mencium bibir Naruto agar bisa mengambil seluruh tempura tersebut.
Setelah terlepas, Anastasia mengunyah makanannya lalu menelannya dan tertawa halus, "Lagi~."
"U-Ugh... Ini suapan sekaligus berciuman... Tidak aku sangka kau memiliki ide seperti ini," gumam Naruto dan kembali di balas tawa halus Anastasia.
"Karena waktunya dua jam, akan aku buat dua jam tersebut kenangan yang berharga di mana aku akan menciummu selama puluhan kali... Tidak, mungkin ratusan kali," balas Anastasia sambil tersenyum menggoda.
"Mungkin bibirku akan habis jika kau melakukan itu." Anastasia yang mendengar candaan Naruto terkekeh lalu bangkit dari duduknya dan duduk di pangkuan Naruto.
"Dengan begini aku akan lebih mudah melakukannya, kau tidak keberatan bukan?" tanya Anastasia sambil mengelus pipi Naruto. Sementara Naruto harus meneguk ludahnya apa lagi di sampingnya terdapat gundukkan yang selalu menjadi alat cuci mata kaum hawa.
"U-Um, aku sudah berjanji jadi lakukan lah sesukamu."
Mendengar itu Anastasia menyeringai kecil, dia pun mengambil sumpit yang di pegang oleh Naruto lalu mengambil Nasi dan bersiap menyuapi Naruto, "Buka mulutmu, Naru-kun!"
"A-Apa yang kau rencanakan?" tanya Naruto kebingungan. "Sudah lakukan saja," jawab Anastasia sambil tersenyum manis.
Naruto yang sudah berjanji pun membuka mulutnya dan memejamkan matanya, "Jangan di buka lebar seperti itu," ucap Anastasia sambil menutup sedikit mulut Naruto.
"Sekarang keluarkan lidahmu."
Naruto pun menurut dan mengeluarkan sedikit lidahnya, dirinya berpikir mungkin Anastasia ingin meletakkan nasi tersebut di lidahnya.
Namun dugaannya salah, Anastasia menghisap lidahnya membuatnya terkejut dan terjadilah ciuman panas antara Naruto dan Anastasia.
Anastasia mengajak lidah Naruto berdansa di ciuman mereka dan sesekali menghisapnya membuat Naruto harus melenguh dan menyentuh pinggangnya untuk memberi tanda jangan melakukan hal itu.
Beberapa menit berlalu, Naruto dan Anastasia pun melepaskan ciuman mereka hingga terlihat benang Saliva menjembatani ke dua bibir mereka.
"Hahh... Hahh... Tidak aku sangka... Hahh... Kau memiliki ide seperti itu," gumam Naruto sambil mengatur nafasnya, Anastasia hanya tertawa pelan lalu mengelus bibir Naruto lalu menyuapi Naruto nasi dengan sungguh-sungguh tanpa melakukan trik kembali.
"Kau harus terbiasa dengan sifat-sifat calon istrimu nanti." Naruto yang mendengar itu hanya menggumam sambil mengunyah makanan yang di suapi oleh Anastasia.
"Sebaiknya kita cepat, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Anastasia dengan wajah serius membuat Naruto menaikkan sebelah alisnya kebingungan.
'Memang apa? Kenapa tidak sekarang saja?'
.
Setelah selesai sarapan, Naruto pun di tuntun menuju kamar Anastasia, dirinya tadi juga sudah membersihkan kamar tersebut jadi dirinya sudah tahu interior kamar tersebut, Klasik, menawan, wangi dan mirip kamar seorang ratu.
Naruto yang sudah sampai di buat berbalik dan langsung di dorong hingga berbaring di kasur, dan Anastasia langsung menindih Naruto membuat Naruto kebingungan.
"Etto... Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto sambil sedikit bangun dari posisi berbaringnya. "Kau sempat melakukan itu dengan Tama-chan, kan?"
"H-Huh?" beo Naruto
"Saat di Hyotogaku, kau melakukan sesuatu dengannya bukan?" tanya Anastasia membuat wajah Naruto merona hebat. "Da-Dari mana kau tahu itu?!" tanya Naruto tergagap
"Kami menginterogasinya dan dia bilang kau memuaskan nafsunya dengan melakukan itu bukan?" tanya Anastasia dengan wajah serius. "Ji-Jika kau berpikir aku melakukan Sex k-kau salah paham! A-Aku hanya memuaskannya dengan me-menghisap dadanya dan me-menciumnya!" jawab Naruto tergagap.
"Souka?" tanya Anastasia lalu membuka gaunnya membuat wajah Naruto memerah sempurna dan menutup matanya, karena saat ini Anastasia hanya menggunakan dalaman berwarna biru yang sangat cocok untuknya.
"Kalau begitu lakukan juga padaku!"
"H-Huh?! Mana mungkin aku melakukannya?!"
"Jadi sekarang kau menarik kata-katamu?"
Naruto yang mendengar itu melenguh karena dia sudah berjanji, namun sekarang dia seperti menolak Anastasia, dirinya memang payah.
"Gomen, aku adalah pasangan yang buruk," ucap Naruto meminta maaf, "Padahal aku sudah berjanji, tapi... Hanya saja aku belum terbiasa melakukan ini... Aku masih kaku."
Anastasia yang mendengar perkataan Naruto menundukkan sedikit tubuhnya lalu menjilati bibir Naruto dengan seksual, "Jangan mengatakan kau adalah pasangan yang buruk, kau adalah pasangan terbaik yang aku dapat."
"Mungkin ini juga salahku karena permintaanku di luar nalar, tapi... Rasanya tidak adil bukan kalau Cuma Tama-chan yang di puaskan?"
Naruto yang mendengar itu terdiam beberapa detik hingga akhirnya dia membuka matanya membuat Anastasia tersenyum, "Jika kau belum terbiasa, maka biarkan aku mengajarkanmu," ucap Anastasia lalu kembali mencium Naruto sementara Naruto hanya mengikuti alur Anastasia.
Selagi berciuman, Anastasia mengarahkan lengan Naruto ke dadanya dan meremasnya membuatnya melenguh nikmat di ciuman mereka, sementara Naruto semakin merona karena merasakan betapa empuknya dadanya Anastasia.
.
.
DSA Weapon Dragons
Naruto room
.
Sementara itu di DSA tepatnya di kamar Naruto, terdapat sosok Texas yang duduk di kursi milik Naruto sambil membaca buku jenis-jenis naga yang ada.
Karena kemarin dia belum sempat membaca semuanya jadi dia ingin membacanya saat ini, dirinya juga teringat Naruto pernah menyebutkan nama naga-naga yang terlihat dengan mudahnya, bahkan di luar kepala.
Mungkin buku di tangan ini lah penyebabnya. Texas pun membacanya secara perlahan, walau memiliki satu nama, jenis-jenis mereka bisa terbagi menjadi beberapa kelompok kembali, dan Texas harus kagum kembali karena Naruto juga mencatat bagian yang kurang dari buku tersebut.
"Naruto-sensei memang hebat," gumam Texas lalu membuka halaman selanjutnya, dan saat sampai di halaman berikutnya dia mendapati sebuah card di buku tersebut membuat Texas penasaran dengan Card tersebut.
"Apa ini?" gumam Texas mengambil Card tersebut.
Twush!
Card tersebut seketika mengeluarkan cahaya dan memunculkan peta dunia serta ratusan titik yang ada di beberapa benua dan di beri nama. "I-Ini... Letak lokasi Naga-Naga itu berada?" gumam Texas sambil membaca buku di tangannya dan melihat peta dunia di depannya kembali.
"Bahkan dia sampai melakukan ini?"
.
"Ne, Asia-san, apakah ada tempat untuk berlatih?" tanya Lappland sambil berjalan di samping Asia. "Sudah aku duga kau akan bertanya itu, karena kau mengikutiku aku menuntunmu ke ruangan ini," jawab Asia sambil menunjukkan pintu yang tak terlalu besar dan tak terlalu kecil.
"Kau ingin berlatih Nee-sama?" tanya Whizly dan di jawab anggukan oleh Lappland. "Aku bosan hanya berdiam diri, jadi aku ingin melatih kemampuanku kembali."
"Apa lagi aku belum bisa mengalahkannya, jadi aku ingin melatih kemampuanku agar bisa mengalahkan Sensei," lanjut Lappland dengan serius, "Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan ke tempat Tou-san saja, aku ingin membantunya."
Tak lama setelah itu mereka pun berhenti di sebuah pintu berukuran cukup besar dengan nama Cyber Space.
"Um? Apakah ini ruang latihan?" tanya Lappland mencoba memasuki ruangan tersebut dan setelah masuk ruangan tersebut hanya terdapat ruangan kosong.
"Errr... Kau yakin ini tempatnya?"
"Tentu saja, ini adalah Cyber Space Room, kau bisa memilih tempat yang kau inginkan untuk latihan, setelah sudah kau harus mengatakan "Pindahkan aku ke Room sekian dengan nama tempatnya" setelah kau menyebutkannya, kau pun akan berpindah ke tempat tersebut."
"E-Eh?! Ka-Kalau aku ingin kembali bagaimana?!"
"Kau hanya perlu bilang "Bawa aku kembali." maka kau pun akan kembali."
"S-Souka...," gumam Lappland sambil menatap beberapa gambar tempat yang telah di sediakan.
"Kalau begitu kami akan meninggalkanmu, semoga berhasil," ucap Asia lalu meninggalkan Lappland di ikuti oleh Whizly di belakangnya.
"Semoga berhasil, Nee-sama!"
Lappland yang telah mendapat tempat yang bagus menurutnya pun mengucapkan apa yang di jelaskan oleh Asia dan detik berikutnya pun Lappland menghilang dengan cepat.
.
.
Naruto x Anastasia Side
.
.
"Akhhn~ yahh~ begihthuu~!"
Kembali ke pasangan Naruto dan Anastasia, saat ini Anastasia berbaring di kasur sambil meremas rambut putih Naruto yang tengah menghisap dadanya.
Sementara Naruto menghisap dada Anastasia sambil memainkan putingnya dengan lidahnya walau agak kaku, bukan keinginannya melakukan hal tersebut melainkan Anastasia lah yang memaksanya untuk melakukannya, jadi dia tidak bisa melawan apa lagi dia sudah berjanji.
"A-Akhhnn~!" desah Anastasia sambil meremas rambut Naruto dan tubuhnya mengalami getaran yang nikmat untuknya, Naruto yang merasakan sesuatu yang membasahi bagian bawahnya pun menghentikan kegiatannya dan menatap Anastasia yang terkulai lemas dengan tatapan sayu.
"Kau... Sudah puas?" Anastasia yang mendengar pertanyaan Naruto, hanya membalasnya dengan menarik Naruto kembali dan menciumnya dengan lembut.
"Entah kenapa... Rasanya aku belum puas," jawab Anastasia sambil mengatur nafasnya dan mengelus bibir Naruto yang selalu terlihat menggoda untuknya, "Berapa kali pun aku menciumnya... Rasanya benar-benar membuatku ketagihan."
"Jika kau ingin merasakannya kembali, kita lanjutkan sambil membersihkan tubuh kita?" Anastasia yang mendengar ajakan Naruto menyeringai kecil lalu memeluk leher Naruto dengan erat.
'Ba-Baka! Kenapa aku mengatakan itu?! Keadaannya semakin buruk untukku?!'
"Ara~ jadi Naru-kun sudah mesum?"
"He-Hei! Kita tidak akan melakukan sesuatu yang lain, kau hanya boleh menciumku, aku tidak ingin merebut kesucianmu hingga pernikahan kita!"
Anastasia yang mendengar itu cemberut, dirinya padahal sudah tidak bisa menahan hasratnya apa lagi saat Naruto menghisap dadanya dia bisa merasakan kejantanan Naruto yang ereksi.
Walau sebenarnya waktu itu secara langsung dia sudah melihatnya dan... Begitu.
Dirinya ingin merasakannya kembali, dan mungkin inilah kesempatan untuknya.
"Kalau begitu...," gantung Anastasia sambil mendorong Naruto untuk berdiri, setelah mereka berdiri Anastasia pun menuntun Naruto menuju kamar Mandi.
Setelah sampai Anastasia pun melujuti pakaian dalamnya sementara Naruto membuka pakaiannya sambil membalikkan badannya, dirinya secara spontan mengatakan itu dan melupakan gejalanya, jika begini dirinya terpaksa harus melihat tubuh indah Anastasia.
Dirinya yakin belum selesai menghabiskan waktu dengan yang lainnya dirinya sudah kehabisan darah terlebih dahulu.
Naruto yang sudah telanjang menutupi kejantanannya dengan handuk, tapi karena sejak tadi dia bermain dengan Anastasia dan mendengar suara seksualnya kejantanannya masih ereksi dan itu membuat Naruto gugup jika Anastasia melihatnya.
"Ara~ masih ereksi ya?" Naruto yang mendengar itu menegang dan berniat menutupi kejantanannya, namun Anastasia lebih cepat dan telah memegang kejantanannya.
"Ughn!"
"Fufu~ tidak baik membiarkannya loh, Naru-kun~," goda Anastasia berbisik di telinga Naruto sambil menarik turunkan lengannya pada kejantanan Naruto.
"Selagi ada waktu, biarkan aku memuaskanmu Naru-kun~"
.
.
Skip Time
( kalian pikir ada lemonnya? Tidak akan anggap aja ini Service :v )
.
Tap!
Dua jam telah berlalu dan Naruto telah bersiap untuk pergi kembali, sambil bersiap wajah Naruto masih memerah karena tadi... Terjadi sesuatu yang luar biasa.
Sementara Anastasia yang di belakang Naruto tersenyum sambil menyentuh bibirnya. "Ka-Kalau begitu... A-Aku akan pergi ke tempat Tama-chan sekarang," ucap Naruto tergagap sambil membalikkan badannya menatap Anastasia dengan wajah masih merona merah
Anastasia yang melihat tingkah Naruto terkekeh lalu mendekati Naruto dan mengecup bibirnya tanpa ada nafsu lagi.
"Jangan malu-malu begitu, kau tadi menikmatinya bukan?" Naruto yang di tanya seperti itu terdiam sambil meneguk ludahnya, "Nanti kau juga pasti akan mendapatkannya lagi."
"Hu-Huh?!" beo Naruto dengan wajah memerah.
"Fufufu~ sebaiknya kau cepat sebelum waktunya habis, dan Naru-kun~" gantung Anastasia sambil menjilati bibirnya, "Terima kasih untuk yang tadi, itu sangat nikmat."
"U-Ugh! A-Aku pergi!" ucap Naruto cepat lalu meninggalkan Anastasia yang terkekeh sambil menjilati bibirnya kembali.
"ini sudah ke dua kalinya aku merasakannya, walau pun dia mengeluarkannya sangat banyak tetap saja membuatku ketagihan," gumam Anastasia, "Naru-kun, jika kita sudah menikah kami pasti akan menikmati malam pertama kita."
.
Wush!
"U-Ugh!" lenguh Naruto dengan wajah masih memerah, kejadian tadi masih terngiang di kepalanya dan itu membuat Naruto tidak bisa tenang dan membuatnya harus menampar pipinya beberapa kali agar dirinya melupakan kejadian tadi.
"Ku-Kuso!" umpat Naruto pelan lalu menatap serius ke depan, "Selanjutnya, Tama-chan... Kalau tidak salah dia ada di Tochigi ya... Sebaiknya aku cepat."
Setelah itu Naruto menambah energi api di kakinya untuk mendorongnya lebih cepat karena dari Kita menuju Tochigi cukup jauh.
.
Tochigi, Desa Nasu
11.25 AM
.
Tochigi, Nasu Village. Sebuah Desa yang di kelilingi perkebunan dan persawahan yang berada di deretan tinggi Prefecture Tochigi, Tokyo. Di Desa ini terdapat sebuah kisah dari seorang siluman yang harus di bunuh karena di anggap berbahaya, saat terbunuh siluman tersebut menjadi batu dan rohnya menghantui batu tersebut.
Namun seorang biksu bernama Genno muncul dan membantu agar roh tersebut di selamatkan, akhirnya roh tersebut pun tenang dan saat itu juga di bangunlah sebuah kuil bernama Sessho.
Naruto yang telah sampai di Nasu, langsung terbang menuju sebuah kuil yang cukup besar dan mendarat di sana, "Huft~," hela Naruto lalu menatap sekitar yang tampak sepi, tentu saja, Kuil ini sangat jarang di datangi oleh pengunjung. Terkadang beberapa orang datang untuk berdoa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan di kuil ini, kenapa?
Karena di desa ini hanya ada sekolah dasar dan Sekolah menengah, jadi tentu saja sangat jarang ada yang datang. Naruto yang sudah sampai memutuskan untuk masuk ke dalam kuil dan setelah sampai, dia bisa melihat Tamamo yang tengah membersihkan halaman di bantu oleh seorang perempuan berambut putih yang tak lain adalah Tomoe Gozen.
"Ah! Naru-kun!" seru Tamamo langsung berlari ke arah Naruto dan memeluknya, Tomoe yang melihat kedatangan Naruto pun ikut mendekat dan tersenyum manis pada Naruto.
"U-Uwo! Tenanglah!"
"Ohayo, Naruto-kun."
"Ohayo, ternyata kau di sini, Tomoe-chan?" tanya Naruto dan di jawab anggukan oleh Tomoe. "Ha'i, aku sekarang tinggal bersama Tama-chan, aku kasihan padanya karena dia tinggal seorang diri di kuil sebesar ini," jawab Tomoe dan di balas gumaman kecil oleh Naruto.
"Naru-kun..." Naruto yang mendengar suara Tamamo yang berbeda menegang dan dia menatap Tamamo yang juga menatapnya dengan tatapan tajam. "Bagaimana bisa ada bau Ana-chan di tubuhmu?"
Naruto yang mendengar itu baru saja ingin menjawab namun kembali di potong oleh Tamamo, "Dan juga, bau ini?! Kau habis melakukan apa dengannya?!"
'Memang kau ini 'Inu' apa?'
"E-Etto...," gumam Naruto bingung harus menjawabnya, "Bi-Bisakah kita berbicara di dalam saja?"
.
"Jadi begitu," gumam Tamamo sambil melipat tangannya di dada dan menatap Naruto kesal. "Kenapa kau menatapku begitu? Bukannya ini salahmu yang memulainya?" tanya Naruto merasa sedikit kesal karena merasa dirinya yang salah.
"Seharusnya kau melatih dirimu! Latih mentalmu agar bisa menolak mereka! Kau hanya boleh melakukan itu denganku!" balas Tamamo sambil menunjuk-nunjuk Naruto dengan kesal.
"Ha-Hah?! Ma-Mana mungkin?! J-Jika begitu aku sama saja..."
Bruk!
Perkataan Naruto terhenti ketika Tamamo menubrukkan dirinya ke arahnya dan menutup mulutnya dengan dadanya yang tertutup baju Miko, wajah Naruto langsung merona merah apa lagi maju Miko milik Tamamo terbilang sedikit terbuka membuat selah dadanya terlihat.
"Ti-da-k Ma-u, kau hanya boleh melakukan itu terhadapku!" balas Tamamo sambil tersenyum menggoda, "Karena kau melakukannya dengan perempuan lain, maka kau harus melakukan itu juga denganku!" ancam Tamamo sambil membuka sedikit baju mikonya membuat dadanya hampir terekspos.
"Tama-chan!" Naruto yang panik karena perbuatan Tamamo semakin panik ketika mendengar suara Tomoe yang datang dengan membawa nampan berisikan teh panas, "Kita sudah sepakat bukan? Bahwa kita akan saling berbagi?" tanya Tomoe dengan wajah serius.
Tamamo yang mendengar itu mendesis lalu mengalihkan pandangannya ke arah Naruto, "Sejak saat itu aku berubah pikiran, sentuhan Naru-kun sangat nikmat dan itu membuatku ingin merasakannya seorang diri, ya... Aku tidak ingin yang lainnya merasakannya!" balasnya.
'Memangnya kau anak kecil apa?!'
"Tidak boleh begitu! Kau harus membiarkan kami merasakannya!" ujar Tomoe sambil mendorong Tamamo dari atas tubuhku, namun dada Tamamo masih menindih setengah wajah Naruto dan sialnya setengahnya lagi di tutup oleh dada Tomoe.
"NGHHHHNN!"
"Ittai... Apa maksudmu Tomoe!" balas Tamamo menatap tajam Tomoe mengacuhkan Naruto yang berteriak tertahan karena dua dada yang menindih wajahnya, bahkan lengannya juga tidak bisa di gerakkan karena tertindih.
'Ga-Gawat! Benar-benar gawat! Jika seperti ini aku akan mati karena dada ini!' batin Naruto dengan mata berkunang-kunang, 'G-Ghhh, Ti-Tidak ada cara lain!'
"Ahhhh~!" Tomoe dan Tamamo seketika mendesah ketika merasakan ada yang menggigit puting mereka. Mereka pun mengalihkan pandangan mereka ke arah Naruto dan mengangkat sedikit dada mereka membuat Naruto bisa menghirup nafas kembali.
"Ghaa! Akhirnya aku bisa bernafas! Kalian ingin membunuhku!" ucap Naruto lalu menatap kesal ke arah Tamamo dan Tomoe yang menundukkan kepala mereka.
"Hmmmmnn!" Naruto harus kembali berteriak tertahan karena Tomoe dan Tamamo kembali menekan wajahnya dengan dada mereka.
Mereka saling melirik lalu sama-sama tersenyum, "Sepertinya ada bayi yang minta di puaskan?" tanya Tomoe dan di jawab tawa halus oleh Tamamo.
"Kau benar, sebaiknya kita puaskan dia sekarang," jawab Tamamo sambil mengangkat sedikit dadanya lalu membuka sebagian bajunya memperlihatkan dadanya yang menggiurkan bagi kaum hawa begitu juga Tomoe.
Mereka pun menutup wajah Naruto dengan puting mereka di mulut Naruto, sementara Naruto berusaha berteriak agar mereka melepaskannya namun yang ada hal tersebut membuat mereka terangsang.
"Ahhhh~ jangan hanya di diamkan shaja, Naru-kun~"
"Hisaplah, Ahhh~!"
'Ku-Kuso! A-Apa aku harus melakukan ini lagi!' batin Naruto dengan mata berkunang-kunang, tanpa sadar dia mengaktifkan Jikkannya dan seketika di kepalanya terbayang mereka yang tampak sedih menatapnya lalu meninggalkannya, dirinya mencoba menggapai mereka namun ia seolah tak bisa menggapai mereka.
Bayangan lain muncul di mana mereka menikah dengan wajah sedih, Naruto yang melihat bayangan tersebut terdiam sambil memegang kepalanya, harga diri mereka telah dia rebut dan dia tidak bertanggung jawab, ia benar-benar orang yang buruk.
Deg!
Jikkan Naruto telah non aktif membuat Naruto tersentak sesaat karena itu hanyalah bayangan masa depan jika dia tidak memuaskan nafsu mereka.
'Ku-Kuso... Kenapa aku sepayah ini, aku memang tidak mau melampaui batas hingga kami menikah tapi... aku harus sadar bahwa sejak kecil aku sudah melewati batasku, Ta-Tapi... Itu bukan salahku karena mereka yang memaksaku.'
'... Ugh... Ana-chan bilang bahwa aku nanti akan mendapatkannya lagi dan ternyata itu memang benar, sebaiknya aku layani saja dari pada aku tersiksa!'
Setelah berkutat dengan isi hatinya, Naruto pun menghisap ke dua dada tersebut membuat mereka merintih dan mendesah nikmat merasakan hisapan Naruto yang lembut seperti bayi.
"Ahhh~ Yhaaa~ therushnn~ ahhh~!"
"Akhhh~ Sugoihhnn~ ahhh~!"
Tamamo dan Tomoe yang menikmati perlakuan Naruto terhadap dada mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah celana Naruto lalu meremas gundukkan yang ada di di balik celana tersebut membuat Naruto meringis pelan.
"Ara~ Ara~ dasar anak nakal, kau ereksi hanya karena ini?" goda Tamamo sambil menurunkan resleting Celana Naruto dan mengeluarkan kejantanan Naruto yang menegang, Tamamo dan Tomoe yang melihat itu menjilati bibir mereka.
Lengan mereka pun mengelus kejantanan Naruto dengan lembut lalu mengocok kejantanan tersebut dengan lembut membuat Naruto melepaskan dada Tamamo dan Tomoe lalu mendesis karena rangsangan di bawahnya.
"Ka-Kalian ini..."
"Fufufu~ bukankah nikmat Naru-kun?" tanya Tamamo dengan nada menggoda. "Karena sudah wajar bukan, kami para calon istri harus memuaskan nafsu suaminya?" ucap Tomoe sambil ikut tersenyum menggoda.
"tapi aku tidak pernah nafsu! Kalian yang memancingku!" balas Naruto, selama tidak bersama mereka, dia tidak pernah memikirkan melakukan ini dan itu terhadap mereka. Tapi merekalah yang memancingnya untuk melakukan ini dan itu.
"Kami hanya kesal... Kesal terhadap diri kami sendiri," gumam Tamamo menghentikan kocokannya begitu juga Tomoe, Naruto yang mendengar gumaman Tamamo menaikkan sebelah alisnya.
"Apa maksudmu?"
"Kami kesal karena kami mementingkan nafsu kami sendiri, padahal kau juga menahannya bukan?"
Naruto yang mendengar itu terdiam, memang benar dia selalu menahannya, dirinya menahannya agar dia tidak menyerang para istrinya dan merusak harga diri mereka lebih dalam lagi sebelum janji suci.
Walau dua di antara mereka sudah melakukan itu terhadapnya sejak kecil, dirinya tetap ingin menjaga nafsunya agar tidak terjadi lagi.
"Karena itulah, biarkan kami memuaskan nafsumu, kami tahu kau ingin menjaga kesucian kami hingga kita menikah, tapi setidaknya..."
Naruto yang mendengar itu terdiam, selama ini mereka juga memikirkan dirinya, menghela nafasnya Naruto menggaruk belakang kepalanya dengan wajah merona.
"A-Ah... Terserah kalian saja."
Tamamo dan Tomoe yang mendengar itu tersenyum lalu mengapit kejantanan Naruto dengan dada mereka untuk melakukan Paizuri, Naruto yang merasakan kelembutan dada Tamamo dan Tomoe mendesis pelan.
"Tidak perlu di tahan Naru-kun, kau boleh melampiaskan nafsumu, walau hanya Foreplay tidak masalah kok," ujar Tamamo sambil menaik turunkan dadanya begitu juga Tomoe.
"U-Ugh, kalian ini ya...," gumam Naruto sambil menahan desahannya sementara Tamamo dan Tomoe menambah serangan mereka membuat tubuh Naruto menegang dan berusaha menahan desahannya.
.
.
Yuuto Kiba Side
.
Trank! Trank! Trank!
Di tempat lain yaitu tempat Yuuto Kiba berada, saat ini ia tengah melatih kemampuan pedangnya bersama Xenovia di ruang club sekolah mereka.
Di sisi ruang Club terlihat Irina yang tengah duduk sambil meminum air dengan wajah berkeringat.
Kiba dan Xenovia saling beradu pedang dengan liar hingga mereka saling menjaga jarak dengan nafas tak beraturan.
"Hah... Kuso... Hah... Masih belum!" gumam Kiba sambil mengatur nafasnya. "Hah... Hah... Kenapa kau sampai segitunya? Hah... Hah...," tanya Xenovia sambil bertopang pada pedangnya.
"Tentu saja bukan? Hah... Hah... Danchou sudah semakin kuat setelah di Hyotogaku, aku yang melihat itu tentu tidak bisa diam, aku juga harus bertambah kuat agar bisa membantu Danchou!" jawab Kiba.
"Dia sudah banyak membantu kita, dia juga yang telah memperbaiki pandangan teman-teman kita, jadi... Aku ingin membalas budinya di Turnament nanti," lanjut Kiba sambil mengambil posisi kembali namun karena masih kelelahan dia harus terjatuh dan mengatur nafasnya kembali.
"Tidak perlu buru-buru Kiba, Turnamentnya masih lama, untuk pertandingan berikutnya kalau tidak salah adalah Battle Dragon bukan? Aku dengar-dengar kita akan bertarungan bersama untuk mengalahkan Naga yang telah di sediakan?"
"Ya tapi tetap saja aku tidak bisa diam! Aku tidak mau tertinggal jauh dari Danchou!" balas Kiba, "Dia sudah sangat kuat semenjak membangkitkan kekuatannya, aku merasa kita tertinggal jauh olehnya dan selalu bergantung padanya! Paling tidak aku ingin mendekatkan diriku hingga jarak kami tidak terlalu jauh!"
Xenovia yang mendengar itu terdiam begitu juga Irina, Xenovia menghela nafasnya lalu menarik pedangnya kembali dan mengacungkannya pada Kiba.
"Ayo bangkit! Aku akan menemanimu!"
Mendengar itu, Kiba kembali bangkit dan memasang kuda-kuda kembali lalu kembali beradu pedang dengan Xenovia.
Irina yang masih memilih untuk istirahat mengingat kejadian di Hyotogaku di mana dia mengatakan perasaannya terhadap Naruto, wajahnya merona seketika di mana dia kembali merasa malu karena dengan berani Naruto menciumnya.
Menggeleng kepalanya pelan, Irina menatap serius ke depan, dia tidak boleh terlalu manja terhadap Naruto yang telah banyak membantunya seperti Kiba dan yang lainnya.
Paling tidak dia harus menjadi kuat agar bias membalas Budi bantuan Naruto, 'Tunggu aku, Naruto-kun! Aku pasti akan menjadi kuat hingga bisa berdiri di sampingmu!'.
Trank!
"Ah, ngomong-ngomong Julis dan yang lainnya bagaimana?" tanya Kiba menjeda serangannya lalu melanjutkan serangannya. "Um? Aku dengar Julis-chan berlatih dengan Claudia-chan di suatu tempat, sementara Kirin-chan pergi bersama Tohka-chan, dan Saya-chan diam di rumahnya sambil merakit senjata baru, katanya," jawab Irina.
Trank!
"Hehh~."
Duak!
"Guah!" gumam Kiba merasakan sakit di perutnya ketika Xenovia secara tiba-tiba menendangnya. "Jangan melamun Barbie! Ayo latihan yang serius!"
"He-Hehh~!"
.
.
Back Nasu Village
.
"Huft~" kembali ke Nasu, saat ini Naruto tengah duduk di dalam Kotatsu bersama Tamamo dan Tomoe yang bersandar di bahunya dengan senyum senang, sementara Naruto menghembuskan nafasnya pada Tehnya yang masih panas dengan wajah memerah.
"Fufufu~ tadi itu sungguh nikmat, Arigato Naru-kun~," ucap Tamamo sambil menjilati jarinya dengan wajah menggoda. "Kalian ini ya... Berhentilah menggodaku seperti itu, mengingatnya membuatku malu!" balas Naruto.
"Fufufu~ menggodamu itu sesuatu yang menarik tahu, soalnya siapa sangka orang jenius dan suka bertarung sepertimu lemah terhadap wanita," balas Tomoe membuat Naruto melenguh lalu meminum tehnya.
Naruto sedikit tersentak ketika meminum tehnya, lalu melihat tehnya yang warnanya sedikit berbeda dari teh biasanya, "Ini... Teh Susu?" gumam Naruto.
"Fufufu~ itu benar Naru-kun~," balas Tamamo ketika mendengar gumaman Naruto, ia menyibak sedikit pakaian mikonya memperlihatkan dadanya yang mengeluarkan cairan, "Itu susu terbaikloh."
Wajah Naruto seketika memerah lalu meletakkan teh tersebut dan ingin bangkit dari duduknya, namun Tamamo dan Tomoe menahannya agar duduk kembali.
"Mou~ tidak perlu buru-buru, Naruto-kun. Masih ada waktu sejam untuk kami bukan?" ujar Tomoe membuat Naruto mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya untuk tenang.
"Lalu... Sekarang kalian ingin melakukan apa? Aku mohon jangan lakukan itu lagi?" tanya Naruto menatap Tomoe dan Tamamo bergantian.
"Jangan khawatir, tadi itu sudah cukup untuk kami, kali ini kami ingin kau menemani kami di sini selama sejam, kami ingin berbincang lebih lama denganmu," jawab Tamamo dan di jawab anggukan oleh Tomoe.
Mendengar permintaan normal mereka, Naruto menghela nafasnya dan menatap mereka secara bergantian kembali, "Permintaan kalian Normal ya? Berbeda dari yang lainnya."
"Mou~ jangan selalu berpikir kami ini sama, Naru-kun!" Naruto yang mendengar itu terkekeh pelan lalu menghembuskan nafasnya dan membaringkan tubuhnya di lantai begitu juga Tamamo dan Tomoe yang berbaring di sampingnya sambil memeluknya.
"Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Naruto. "Kenapa Naru-kun mau melakukan hal tadi?" tanya Tamamo membuat Naruto kebingungan di sertai wajah memerah
"Hu-Huh? Apa maksudmu?"
"Kami tahu kau sebenarnya tidak ingin melakukan itu hingga kita menikah bukan? Tapi kami memaksamu, dan biasanya kau akan berusaha menolak dan hanya memberi kami sebuah ciuman walau kami sudah merangsangmu, tapi sekarang kenapa kau mau melakukannya?" tanya Tomoe membuat Naruto terdiam sambil menatap langit-langit ruangan kediaman Tamamo dan Tomoe.
"Bagaimana bilangnya ya... Aku bingung harus mengatakannya, jika saja aku tidak melakukannya aku takut kalian membenciku dan menjauhiku, aku tidak ingin kesepian lagi... Aku harusnya bersyukur karena ada yang mencintaiku bahkan memikirkan diriku, aku yang dulu berusaha menjauh dari arti kata Cinta harus tertarik kembali karena kalian..."
"Kalian sudah mencintaiku semenjak 9 tahun yang lalu bukan? Aku berpikir kalian sudah lama menahan hasrat kalian padaku selama itu, sementara yang aku lakukan hanya mencegah hasrat kalian padahal kalian ingin aku memuaskan kalian, aku memang pasangan yang buruk bukan?"
"Karena pertunangan paksa ini, harga diri kalian jadi taruhannya... Aku tidak ingin kalian sedih, jika aku menolak kalian mungkin kalian akan menikah dengan orang lain, tapi... Aku tidak ingin melihat kalian sedih, kalian mencintaiku namun aku seperti membuang kalian... Dari pada aku menderita kembali, sebaiknya aku memuaskan kalian, aku juga sadar kenapa aku ke sini dan membagi waktuku dengan kalian, aku ingin menghabiskan waktu dengan calon istriku... Walau Aku ini payah dalam melakukan itu, aku tidak terlalu berani melakukannya secara sepihak lebih dahulu," jawab Naruto panjang lebar dengan wajah merona.
Tamamo dan Tomoe yang mendengar itu terdiam sesaat lalu terkikih pelan membuat Naruto kebingungan, "A-Apanya yang lucu?"
"Tidak... Hanya saja kami senang karena punya calon suami sepertimu. Memang benar kami sudah menahan hasrat kami padamu, kami ingin sekali cepat-cepat menikah denganmu, karena kami sangat mencintaimu," jawab Tamamo sambil mengelus pipi Naruto.
"Kami juga senang karena kau memikirkan perasaan kami Naruto-kun, walau cara kami berlebihan kau tetap mencintai kami dan mau melakukan permintaan kami, alasan kenapa kami melakukan itu terhadapmu adalah karena itu. Kau selalu memenuhi permintaan kami, padahal kau juga menahan hasratmu bukan? Karena itulah... kali ini biarkan kami yang memuaskan hasratmu," jawab Tomoe.
"Ba-Baka! Aku tentu saja menahannya lagi pula siapa yang ingin melakukannya di depan umum?!"
"Ara~ tapi di Jepang bukankah itu sudah wajar? Bahkan jika kau kesalah satu taman saat malam hari kau akan menemukan begituan loh?" balas Tamamo sambil tersenyum menggoda.
"Di Jepang itu di larang ada Harem tahu?! Aku sebenarnya tidak ingin punya Harem tapi aku juga tidak bisa menolak kenyataan bahwa aku menciptakan Harem tanpa kesengajaan, Kuso!"
"A-Ah! Kau tadi mengatakan sesuatu di taman?! Ka-Kau! Ja-Jangan-jangan..."
"Jangan khawatir, aku hanya numpang lewat, walaupun ada yang memaksaku begitu aku akan membunuhnya, karena hanya satu orang yang boleh merebut kesucianmu," balas Tamamo kembali sambil mengecup pipi Naruto.
"Jika kita sudah menikah dan menjalani misi bersama ke luar, kami yakin kau tidak bisa menahan hasratmu dan mengeluarkannya di luar, jadi biasakan dirimu, Naru-kun."
"Apapun yang terjadi aku tetap tidak ingin melakukannya di luar?!"
.
.
~ Naruto : The Dragon Future ~
.
.
13.12 PM
.
Wush!
Setelah satu jam berlalu, Naruto pun memutuskan pamit terhadap Tamamo dan Tomoe untuk menuju tempat Arthuria, tak lupa sebelum berpamitan, Tamamo dan Tomoe meminta Naruto untuk melakukan last kiss, dan tentu saja Naruto menerima permintaan mereka.
Setelah memberikan Last kiss, Naruto pun terbang menuju Omachi tempat tinggal Arthuria berada, menghembuskan nafasnya melewati udara dingin Naruto melirik ke bawah di mana masyarakat melakukan aktivitas mereka dengan normal walau salju telah turun.
Naruto yang melihat seseorang menghentikan terbangnya dan melayang di udara, bisa dia lihat sosok perempuan berambut putih bertubuh kecil saat ini tengah bercanda bersama anak-anak kecil di sebuah kuil di temani perempuan berambut hitam yang tertawa bersama beberapa anak lainnya.
"Itu... Koneko-chan dan Hinami-san ya...," gumam Naruto ingin turun untuk menemui mereka, namun Naruto membatalkan niatnya tersebut sambil menatap intens mereka berdua yang tampaknya sedang sibuk.
"Mungkin lain kali saja, aku juga baru ingat bahwa aku memiliki permintaan pada Hinami-san dulu, aku harap dia sudah menyelesaikannya," gumam Naruto lalu terbang kembali menuju Omachi dengan api di kakinya di tambahkan energi petir yang membuat laju terbangnya semakin cepat.
.
Omachi
Kediaman Pen Dragon
15.00 PM
.
Sementara itu di kediaman Pen Dragon, di ruang tamu, saat ini Arthur tengah duduk di ruang tamu di temani adiknya yaitu Le Fay yang menatap keluar jendela sambil bertopang dagu.
Arthur yang melihat tingkah adiknya bisa menebak adiknya saat ini tengah murung, namun dia tidak tahu penyebabnya, Ingin bertanya tapi enggan bersuara.
'Ayolah Arthur! Kau ini kakaknya! Ayo jadilah kakak yang pemberani!' batin Arthur mencoba menyemangati dirinya, 'Tapi jika itu berhubungan yang aneh-aneh aku serasa rugi membuang energi untuk bertanya.'
"..."
"..."
"..."
"..."
'ARGGH! KUSO!'
"Le-Le Fay-chan...," panggil Arthur membuatnya meliriknya " Ada apa? Kenapa kau murung begitu?"
"Hahh~ aku hanya sedih karena Naruto-nii jarang berkunjung, padahal aku sudah menyiapkan kado untuknya saat natal tapi dia hanya mengundang Nee-chan pesta," jawab Le Fay membuat Arthur Sweatdrop.
"Jadi karena itu, Naruto-san pasti sangat sibuk dan juga kau tahu bukan bahwa bukan hanya Nee-sama tunangan Naruto-san," balas Arthur membuat Le Fay mengembungkan pipinya.
"Padahal aku juga menyukainya, tapi Tou-sama dan Kaa-sama melarangku, benar-benar tidak asik."
"Tentu saja kau dilarang, karena dia akan menjadi suami Nee-sama, tentu saja mereka melarangmu."
"Um? Aku di larang bukan karena itu," ucap Le Fay membuat Arthur kebingungan. "Huh? Bukan karena itu?" tanya Arthur dan di jawab gelengan oleh Le Fay.
"Mereka bilang umurku belum cocok untuk menikah." Arthur yang mendengar itu Sweatdrop, dengan kata lain mereka mendukung agar Le Fay bisa menikah dengan Naruto tapi umurnya belum cocok.
'Tou-sama, Kaa-sama... Kenapa?'
"Kalian membicarakan apa, Arthur-dono, Le Fay-dono?" Arthur yang mendengar suara lain, menoleh dan dia melihat pelayan rumah mereka datang sambil membawakan dua teh panas.
"Ah, Belfast... Kami hanya membicarakan tentang Naruto-san," jawab Arthur membuat Belfast sedikit tersentak lalu mengalihkan pandangannya dengan rona tipis di wajahnya.
"Naruto-san... Ya...," gumam Belfast sambil menyentuh dagunya. 'Eh, apa-apaan wajah malu-malunya itu?' batin Arthur.
Ding! Dong!
"Um? Siapa yang datang?" tanya Arthur sambil melihat ke arah pintu. "Biar saya yang melihatnya," jawab Belfast lalu berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang berkunjung.
Kriet~
Belfast pun membuka pintu kediaman Pen Dragon dan dia tersentak ketika orang yang di bicarakan berkunjung.
"Ah, Belfast-san, Konichiwa!" sapa Naruto sambil tersenyum kaku. "Ko-Konichiwa, Naruto-san!" balas Belfast tergagap.
"Ah, Naruto-san," sapa Arthur yang sudah di belakang Belfast. "Naruto-nii-san!" teriak Le Fay berlari ke arah Naruto dan memeluknya dengan erat.
"Lama tidak bertemu, Arthur, Le Fay-chan," sapa Naruto sambil mengelus rambut Le Fay dengan lembut. "Naruto-nii! Kau dari mana saja? Aku merindukanmu tahu? Ayo kita masuk dan berbicara lebih banyak lagi!" tanya Le Fay lalu mengajak Naruto masuk.
"Ah, Gomen Le Fay-chan aku sangat sibuk jadinya aku tidak bisa selalu berkunjung, dan juga kali ini aku tidak punya banyak waktu, aku kemari ingin bertemu Arthuria-chan."
"Ah, jika itu maaf Naruto-san, Nee-sama pergi ke London dengan Tou-sama dan Kaa-sama," jawab Arthur membuat Naruto sedikit berwajah kecewa. "Heh? Jadi dia sedang pergi?" gumam Naruto.
"Aku dengar mereka tengah perjalanan jadi mungkin malam hari ini mereka akan tiba."
"Ah Souka, berarti besok aku akan kemari, katakan pada Arthuria-chan aku akan menemuinya besok."
"Ha'i-Ha'i!"
"E-Ehh~! Naruto-nii mau pergi lagi?" tanya Le Fay dengan nada kecewa. "Gomen, Le Fay-chan, tapi aku harus pergi, sebagai gantinya aku akan memberikanmu hadiah," ucap Naruto meminta maaf lalu mengotak-atik layar jamnya dan mengeluarkan sebuah tongkat berukuran sedada, sebuah buku tebal dan tombak berwarna kuning emas.
"Tongkat ini adalah Tongkat Magic, aku membuatnya dengan mencampurkan Sempel darahmu dan juga energimu agar kau saat menggunakan Magicmu tanpa ada kendala, jika kau menggunakan tongkat lain biasanya kau harus melakukan penyesuaian bukan? Tongkat ini sudah sesuai jadi tidak akan ada kendala," ucap Naruto menyerahkan tongkat Magic di tangannya kepada Le Fay.
"Lalu ini, Magic Book atau bisa di bilang Ninbook. Buku yang berisi daftar jutsu-jutsu yang ada selama ini, aku sudah merubah segel-segelnya menjadikannya Sihir Magic, saat membuatnya aku teringat satu orang ahli Magic selain dirimu dan aku meminta bantuannya untuk merubah-rubah segel jutsu yang aku punya menjadi sihir Magic. Gunakan ini untuk melatih kemampuanmu," lanjut Naruto menyerahkan buku tebal di tangannya.
"Lalu ini, senjata terbaik buatanku yang ke 289, namanya Lepardin. Jika kau lihat bentuknya ini adalah tombak saat jaman Sparta, tombak ini memiliki kekuatan khusus yang sangat besar bahkan aku berani menjamin, Tombak ini menyamai kekuatan Tombak Dewa Zeus."
"H-Huh?! Yang benar saja, Tombak buatan Manusia dan Tombak Dewa itu memiliki perbedaan besar, bagaimana kau bisa mengatakan itu?"
"Yang kau lihat hanya luarnya Arthur, tapi saat kau melihat kekuatannya kau akan terkejut, apa lagi...," gantung Naruto lalu menyerahkan tombak tersebut pada Le Fay, saat Le Fay memegang tombak tersebut, hembusan angin terjadi dan aura terpancar dari tombak tersebut, tombak yang awalnya emas berubah menjadi biru terang.
"Warnanya berubah!" kagum Belfast.
"Senjata ini sudah tertarik padanya," lanjut Naruto sambil tersenyum, "Gunakan tombak itu sebaik mungkin, aku percayakan senjata ini kepadamu."
"Ha-Ha'i, Arigato Naruto-nii!"
Arthur yang melihat adiknya mendapat senjata terbaik dari Naruto tersenyum apa lagi adiknya tampak senang sekali.
"Jangan cemburu, Arthur." Arthur yang mendengar itu tersentak dan menatap tajam Naruto. "Huh! Cemburu?! Buat apa?!" tanya Arthur.
"Jangan cemburu karena adikmu akan menjadi kuat melebihi kau, jika kau mau aku akan membuatkanmu senjata namun kau harus menunggu karena aku membutuhkan material untuk senjata khusus untukmu," ujar Naruto membuat Arthur tersentak.
"Bo-Boleh kah?"
"Tentu saja, anggap saja ini hadiah Natal kemarin lusa dariku," jawab Naruto sambil tersenyum, Naruto pun kembali mengotak-atik layar jamnya dan mengeluarkan sebuah kado berukuran sedang.
"Ini untukmu, Belfast-san," ujar Naruto memberikan kado pada Belfast. "E-Eh? Untuk Saya? Ti-Tidak... Saya tidak bisa menerimanya," tolak Belfast secara halus.
"Tidak apa, terimalah, suatu saat ini akan berguna untukmu." Belfast yang mendengar itu terdiam dan menatap Kado Naruto, dengan ragu dia menerima kado tersebut. "A-Arigato, Naruto-san."
"Ah! Matre! Naruto-nii! Aku juga punya kado untukmu!" ujar Le Fay sambil menjentikkan jarinya, tak lama setelah itu sebuah kado datang sendirinya dan sampai di tangan Le Fay.
"Ha'i! Ini!"
Naruto yang melihat itu menerima Kado Le Fay dan membukanya. Setelah membukanya, Naruto melihat dua bola berwarna hitam dengan aksara-aksara kecil di bola tersebut.
"Aku hampir menyempurnakannya, tapi sepertinya Naruto-nii bisa menyempurnakannya hingga tahap akhir, itu adalah Bola ciptaanku dengan magicku, Unvermon. Bola itu mampu membuat lubang cacing uang menghisap segalanya dalam waktu 10 detik, dua bola itu sama-sama memiliki perantara, jika Naruto-nii melempar yang A maka saat terkena apapun di sekitarnya akan terhisap selama 10 detik, sementara yang B adalah perantaranya, jika Naruto-nii melemparnya akan terbentuk lubang cacing dan mengeluarkan apa yang di hisap si A."
"Uwoh, Sugoii. Kau bisa membuat seperti ini, walau belum sempurna itu sudah bagus, akan aku sempurnakan," puji Naruto lalu tersenyum menerima kado Le Fay.
"Berhati-hatilah saat menggunakannya, itu hampir mengisap seluruh air di danau," ujar Arthur membuat Le Fay tertawa canggung. Naruto yang mendengar itu terkekeh pelan lalu membalikkan badannya, "Jaa~ kalau begitu aku pamit."
Tap! Wush!
Naruto pun menghentakkan kaki kanannya dengan keras membuatnya terdorong ke langit ndengan api di kakinya lalu melesat ke arah tenggara dengan cepat.
"Uwoh... Dia bisa melakukan itu...," gumam Arthur, 'Seperti Hero saja.'
"Hahh~ padahal aku berharap Arthuria-chan ada, karena aku tahu dia hanya doyan makan," gumam Naruto sedikit kecewa, "Aku harap yang ini juga normal," lanjut Naruto lalu menambah kecepatannya.
.
Hachioji, Sennincho
17.00 PM
.
Hachioji, sebuah kota yang tidak terlalu besar namun memiliki tingkat pendidikan yang cukup besar, Hachioji berada di timur Tokyo tepatnya di sekitar
Wush! Tap!
Naruto pun sampai di sebuah kediaman yang tidak terlalu besar dan di gerbang kediaman tersebut tertulis nama D'Arc.
Naruto pun masuk ke kediaman tersebut lalu menekan bel yang berada di samping pintu. "Ha'i~!" Naruto yang mendengar suara orang yang dia cari sedikit mundur dari pintu dan saat pintu terbuka, terlihatlah sosok perempuan berambut kuning dengan kemeja tanpa lengan berwarna putih serta rok hitam sepaha di depannya.
"Konichiwa, Jeanne...," gantung Naruto karena melihat penampilan Jeanne, "Kenapa kau berpakaian begitu?"
"A-Ah! Se-Sebelum itu masuklah, kita bicarakan di dalam!" ajak Jeanne dan Naruto pun menerima ajakan Jeanne untuk masuk ke kediamannya.
"Gomen, Naru-kun, aku baru saja sampai dari Saga untuk membantu gereja di sana, dan juga ini merupakan pakaian yang selalu aku pakai untuk ke sana," jawab Jeanne, sementara Naruto menatap Jeanne dengan wajah yang sudah di jelaskan.
"Dengan bagian punggung terekspos?"
"A-Ahaha... Kau tidak suka?" tanya Jeanne sambil tersenyum canggung karena Naruto tidak menyukai pakaiannya. "Tentu saja, jika ada yang berpikir aneh terhadapmu bagaimana?" jawab Naruto membuat Jeanne menatap intens Naruto lalu tersenyum tipis.
"Kalau begitu peluk aku, peluk aku untuk menutupi bagian belakangku, jika kau mau," pinta Jeanne sambil membelakangi Naruto dan berjalan menuju dapur, "Kau mau teh atau... Ah!" Jeanne yang akan bertanya tersentak ketika Naruto memeluknya dari belakang dengan erat.
"Jangan gunakan pakaian ini lagi kemanapun kau pergi, aku tidak ingin mereka berpikir aneh-aneh terhadapmu," pinta Naruto berbisik di telinga Jeanne membuat wajah Jeanne memerah karena sifat Naruto sangat berbeda dari biasanya.
"Naru-ku! A-Apa-Apa yang kau..."
"Aku dulu tidak memikirkan kalian karena aku tahu kalian kuat, namun aku melihat sesuatu yang tidak mengenakkan yang membuatku tidak tenang, jika aku membuang kalian... sama saja aku telah mencuri harga diri kalian dan aku tak pantas di sebut lelaki," gumam Naruto, "Maka dari itu, aku akan menerima cinta kalian dan aku akan bertanggung jawab untuk itu, jadi izinkan aku untuk memilikimu dan juga yang lain, jangan pernah cintai pria lain."
Mendengar itu Jeanne terdiam, keheningan terjadi di antara mereka beberapa menit hingga Jeanne mengarahkan lengan Naruto untuk meremas dadanya.
"Kalau begitu, bagaimana jika sekarang kau memberiku tanda bahwa aku hanya milikmu?" tanya Jeanne sambil tersenyum menggoda, Naruto yang mendengar itu terdiam lalu menggigit kuping Jeanne dan meremas dada kiri Jeanne.
"Ahhh~!" desah Jeanne ketika Naruto benar-benar melakukannya. Ia mengarahkan kepala Naruto ke arahnya lalu menciumnya dengan mesra.
Naruto yang masih mengingat cara memuaskan Tamamo waktu itu, melakukan kembali cara tersebut dengan meremas lembut dada besar Jeanne dan berciuman dengannya.
Setelah cukup lama berciuman, Jeanne memutar tubuhnya lalu mengarahkan Naruto ke lehernya dan berbisik, "Cium leherku, itu akan memberikan tanda bahwa aku adalah milikmu."
Naruto pun menuruti perkataan Jeanne membuatnya mendesah kecil kembali sambil meremas rambut Naruto, apa lagi Naruto memberikan rangsangan tambahan dengan memainkan dadanya.
Lengan Naruto yang tidak melakukan tugas membuka baju Jeanne hingga terbuka dan memperlihatkan dada yang sangat besar dan menantang di depan Naruto.
Naruto pun berhenti memberi tanda pada leher Jeanne dan menatap gugup dada Jeanne, walau ia sudah melihatnya sejak tadi dengan ukuran berbeda-beda tetap saja dirinya belum terbiasa.
Jeanne yang melihat Naruto meneguk ludahnya tersenyum lalu mengarahkan kepala Naruto untuk menciumnya kembali, "Jika kau belum bisa, jangan di paksa."
Setelah mengatakan itu mereka berciuman dengan liar kembali, selagi berciuman Naruto meremas-remas dada Jeanne dengan lembut dan Jeanne menurunkan resleting celana Naruto dan mengelus kejantanan Naruto membuat Naruto melenguh pelan dan melepaskan ciuman mereka.
"Ba-Bahkan kau juga?"
"Ara~ Ara~ Jadi ada yang sudah melakukannya?" tanya Jeanne sambil tersenyum, "Jaa~ kalau begitu aku akan menghukummu sekarang."
.
Back DSA Weapon Dragon Place
18.20 PM
.
Sementara itu di DSA, di sebuah lorong terlihat Lappland berjalan dengan wajah lelah dengan tubuh kotor dan pedang yang sudah tak berbentuk lagi, bahkan beberapa pekerja DSA memandang pucat Lappland karena dia seperti orang yang sudah melakukan pembunuhan atau pertarungan besar.
Texas yang baru saja keluar dari kamarnya langsung terkejut ketika melihat kakaknya datang dengan keadaan yang sangat kacau.
"La-Lappland-nee, a-apa yang terjadi?"
"Ha-Hahaha, tidak ada apa-apa... Aku baik-baik saja, aku baru saja selesai latihan sejak pagi tadi," balas Lappland sambil tertawa mengerikan. "Hingga seperti ini?" tanya Texas tidak percaya.
"Ya, aku juga sudah menciptakan jurus baru, hampir sempurna, besok pasti sudah bisa aku kuasai," balas Lappland sambil melihat pedangnya yang sudah berantakkan, "Asia-san ada di mana?"
"Ada apa, Lappland-san?" Lappland yang mendengar suara Asia menoleh dan dia melihat Asia mendatanginya dari belakang. "Kebetulan sekali, apakah aku bisa minta tolong padamu? Pedangku sudah seperti ini, apakah bisa di perbaiki?" tanya Lappland sambil menunjukkan pedangnya.
"Sepertinya kau berlatih dengan sangat keras ya, jangan khawatir, aku akan meminta Ajuka-san untuk memperbaikinya, untuk saat ini bersihkan tubuhmu dan beristirahatlah."
"Ya, jangan khawatir, aku tahu itu," balas Lappland lalu menghembuskan nafasnya, "Lalu bagaimana dengan Whizly?"
"Dia saat ini di kamarnya, dia baru saja kembali setelah membantu Ayah kalian membuat senjata, dan juga dia menciptakan sesuatu yang menarik walau masih ada yang kurang," jawab Asia membuat Texas dan Lappland penasaran.
"Lalu bagaimana denganmu, Texas-chan? Apa kau mendapat sesuatu yang menarik di buku sebanyak itu?" tanya Lappland kembali. "Um, lumayan banyak, hanya beberapa halaman lagi hingga Bab Jenis-jenis Naga selesai aku baca, dan juga aku menemukan buku jurus dan Konsep senjata Naruto-sensei, aku ingin mempelajarinya dan siapa tahu aku bisa membuat senjata sepertinya dan jika ada keadaan yang tidak di inginkan...," gantung Texas membuat Asia dan Lappland penasaran.
"Jika suatu saat Kita harus melawan Naruto-sensei, aku ingin bisa menghentikannya dan menyadarkannya."
"Kau ada-ada saja, mana mungkin Nii-chan seperti itu," balas Asia menyangkal hal tersebut. "Ya... Aku harap juga begitu," balas Texas mencoba berpikir positif.
.
Jeanne Place
.
Sementara itu di tempat Jeanne, saat ini Naruto tengah duduk di dalam Bath Up bersama Jeanne yang bersandar pada tubuhnya, mereka sama-sama menghela nafas menikmati hangatnya air Bath Up.
"Hangatnya~ bukan begitu, Naru-kun?" Naruto yang mendengar itu melenguh pelan dengan wajah memerah lalu mengangguk dengan kaku.
"Kau tampak senang ya?"
"Fufufu~ kau tidak perlu malu seperti itu," lanjut Jeanne sambil tersenyum menggoda, ia pun kembali mengarahkan lengan Naruto untuk memeluknya, "Bagaimana? Apa kau mau lagi?" Naruto yang mendengar itu semakin memerah.
"Ti-Tidak... Aku rasa cukup, aku juga yakin di tempat selanjutnya akan seperti ini," jawab Naruto sambil mengalihkan pandangannya, 'Dan anehnya aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukannya sampai sekarang... Biasanya yang aku tahu orang manusia biasa hanya bisa melakukannya sekali, apa mereka memasukkan sesuatu ke tubuhku, tapi kapan?'
"Ah, ngomong-ngomong tempat selanjutnya kau akan pergi ke mana?" Naruto yang mendengar itu melihat langit-langit kamar mandi Jeanne. "Berikutnya... Karena tempatnya sangat dekat mungkin sebaiknya dia saja," jawab Naruto membuat Jeanne berpikir siapa yang di maksud oleh Naruto.
"Ah maksudmu 'dia'?" tanya Jeanne dan di jawab anggukan oleh Naruto, "Jika sudah sampai sebaiknya kau siapkan tenaga ekstra saja ya." Naruto yang mendengar itu menatap bingung Jeanne.
"Apa maksudmu?"
"Tidak bukan apa-apa, sudahlah ayo kau bersiap, kau harus ke sana sekarang bukan?"
.
.
.
Swush!
Setelah berpamitan dengan Jeanne, Naruto langsung terbang menuju KITANODAI, sebuah tempat yang memiliki banyak Blok dan ratusan rumah, Naruto yang telah sampai langsung turun di depan salah satu rumah yang tak terlalu besar, namun rumah tersebut tampak sepi karena lampunya tidak menyala.
"Eh? Dia tidak ada? Aku rasa Jeanne mengatakan bahwa dia ada sekarang?" gumam Naruto melihat rumah sekitar yang berbeda dari rumah di depannya.
"Apa dia pergi ke suatu tempat?" lanjutnya sambil mengelus dagunya, "Jika begini..."
"Ah, Naruto-kun!" Naruto yang mengenal suara tersebut menoleh dan dia melihat Scathach dengan jaket tebal hitam serta Sweter putih di depannya dengan kantong belanjaannya di tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Selanjutnya di Naruto : The Dragon Future
"Kau tidak bisa tidur?"
"Berhentilah menggodaku."
"Jadi seperti ini jika kau latihan?"
"U-Ugh, berhentilah menggodaku."
Selanjutnya di Chapter 55 : Dragons Champions Arc V : Slice of Life : Berbagi Part 2
.
Note : Kembali dengan saya beserta Dragon Future.
Chapter kali ini saya membuat cerita seperti ini di sertai servicenya, jika kalian berharap ada lemon jangan dulu. Saya sudah mensurvei bagian part awal ini dan suara terbanyak adalah Anastasia, Tamamo, Tomoe, dan Jeanne yang mendapatkan adegan, sebenarnya saya ingin memasukkan Scathach tapi saya batalkan dan memberinya di part dua.
Tidak banyak yang bisa saya katakan di sini, otak dangkal? Bodo amat. Yang penting bisa buat, sampai jumpa.
4kagiSetsu Out
