0% - 10% - 20% - 25% - 50% - 80% - 100%

[Power on!]

[Loading…]

[Welcome Back, Master!]

[Story starts!]

.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kisimoto

High school DxD © Ichiei Ishibumi

Summary : Uzumaki Naruto, seorang pemuda yang dari lahir telah di takdirkan untuk menjaga masa depan dunia, namun awal kehidupannya harus merasakan sedikit kepahitan, namun seiringnya waktu berjalan kepahitan itu berubah menjadi manis.

Naruto : The Dragon Future

Pair : Naruto x Harem ( Asia, Arthuria, Servants, Kurumi, Aiz, Tohka, Koneko, Tearju, Rosswaisse, Hinata, Rias... )

Note Pair : Pair saya Reka Ulang. Saya akan memasukkan Pair berdasarkan Chapter. Bisa saja salah satu Pair akan mati.

Genre : Adventure, Fantasy, Sfi-ci, Friendship, Romance, Humor, AU, Family, Action, DLL.

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, Multichap, jutsu buatan sendiri, alur berantakan, NotDxDTheme!, Alltheme is Future!, AU, Smart!Naru, Incest!, Dark Supranatural!, OOC!Vali, Friendship!Vali

Note : Daerah-Daerah yang saya ambil adalah Real bagian dari jepang, namun ada beberapa yang merupakan Fiksi buatan saya.

" Halo " berbicara

' Halo ' batin

[" Halo "] Dragon Bijuu

[' Halo '] batin Dragon Bijuu.

TrySail – High Free Spirits

( Fix music first )

( Layar memperlihatkan gambar matahari terbit lalu di ganti dengan gambar Team Naruto yang melihat ke arah matahari terbit di ganti gambar para Servant yang juga melihat matahari terbit juga lalu di ganti oleh Murid Naruto dan terakhir Naruto )

Shizuka ni moeru sekai hajimari wa kokokara

( Layar di ganti dengan gambar Asia yang berada di atas Gedung DSA sambil melihat matahari )

Yozora ga owari wo tsugeru toki

( Lalu Asia tersenyum begitu merasakan sebuah angin berhembus )

Hitosuji no hikari ga mune ni himeta koe ga

( layar di ganti dengan gambar langit yang cerah terlihat Seseorang dengan naga berwarna hijau melintas di langit )

Tokihanatsu yami wo saite

( penunggang naga tersebut melompat dari matanya dan turun dengan cepat ke bawah )

Kareru yori isso chiriisogu sugata

( Layar di ganti dengan Kelompok Kuroyukihime dan Miyuki yang menatap ke arah Kamera dengan ekspresi serius mereka )

Mayoi aruku sube wo

( Layar kembali di ganti dengan kelompok Sasuke yang menatap kamera dengan ekspresi serius mereka )

Sen no nami ni nomareta kokoro ja

( Layar diganti dengan gambar Whizly yang berlari di pesisir pantai bersama Texas dan Lappland hingga sampai di air pantai lalu Whizly berteriak sambil mengangkat tangan kanannya ke atas )

Kimi sae mamorenai

( Layar di ganti gambar Naruto yang mendarat di atas air lalu melesat dengan cepat menyulus kelompoknya yang lebih dahulu melesat dengan api di kakinya )

Hibike tashika na shoudou nariyamanu you ni

( Layar kembali di ganti dengan gambar peserta Kirigakure yang bersaha mengendalikan naga di dalam air dengan tombak di tangan mereka di selingi ledakan-ledakan air karena perlawanan naga yang mereka usaha kendalikan )

Wasurerarenu kizu wo nokoshite

( layar kembali di ganti dengan peserta lain yang tampak kesusahan lalu berganti dengan Kelompok Naruto di mana Kiba merentangkan tangannya ke depan )

Ima mo kasuka na zanzou kienai mama de

( layar kembali di ganti dengan Naruto yang mendarat di air sambil menyeringai kecil ke arah seekor naga berukuran besar )

Sekai ga matteru asu no ubugoe wo

( Layar di ganti dengan gambar Naruto dari belakang yang memutar tombak di tangannya dan seketika Naga di depannya membuka mulutnya dan menyerang Naruto )

Hibike tashika na shoudou kienai mama de

( layar di ganti dengan ledakan air yang sangat dahsyat lalu kembali di ganti dengan kelompok Naruto yang terbang rendah di atas air sambil menatap matahari terbenam )

Sou mirai to kako ga kousa suru hyakunenme no uta

( Layar kembali di ganti dengan gambar Para Wajah Kelompok White Fox dan yang terakhir di ganti dengan Naruto yang menepuk pundaknya sambil menyeringai kecil )

Fix End Music

( Layar di ganti akan judul Naruto : The Dragon Future )

Chapter 55 : Dragons Champions Arc V : Slice of Life : Berbagi part 2

.

Kreet~

"Mari silahkan masuk, Naru-kun. Maaf aku tadi keluar untuk membeli keperluan sehari-hariku," ajak Scathach sambil membukakan pintu dan menyalakan lampu kediamannya.

"Tidak apa, aku juga baru sampai dari rumah Jeanne-chan," jawab Naruto sambil memasuki kediaman Scathach dan membuka jaketnya.

"Rumah Jeanne? Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Scathach sambil meletakkan barang belanjaannya di dapur dan menyiapkan minuman untuk mereka. "Membagi waktu... Aku sudah membagi waktu kepada Ana-chan, Tama-chan, Tomoe-chan dan Jeanne-chan masing-masing dua jam... Dan sekarang giliranmu," jawab Naruto sambil mendudukkan dirinya di kursi.

"Maaf jika seenaknya aku duduk tanpa seizinmu, Scathach-chan," lanjut Naruto lalu mengarahkan jarinya ke tempat perapian dan menembakkan api kecil yang langsung menyalakan perapian tersebut.

"Tidak apa, anggap saja rumah sendiri, selain itu aku juga tidak mempermasalahkan Calon Suamiku melakukan apa pun di rumahku," jawab Scathach membuat tubuh Naruto merinding.

"Perkataanmu sungguh ambigu, Scathach-chan... Aku sampai merinding."

"Ara~ mungkin saja itu faktor karena kau kedinginan," jawab Scathach mendatangi Naruto dengan dua cangkir teh hangat.

Setelah meletakkan minuman mereka di meja, Scathach langsung mendudukkan dirinya di samping Naruto dan menyandarkan kepalanya di pundak Naruto.

"Kau sepertinya banyak berubah hari ini ya?" Naruto yang mendengar itu hanya diam dengan wajah merona, "Biasanya kau akan menghindar ketika seperti ini, apakah terjadi sesuatu?"

"Ti-Tidak... Tidak ada... Aku hanya berpikir... Jika aku selalu menghindari kalian, itu akan menyakiti hati kalian, aku juga mendapat mimpi buruk yang menyakitkan untuk kalian... Jadi, karena ini sudah tanggung jawabku membuat kalian mencintaiku bahkan telah menodai kalian walau bukan artian menodai seperti mengambil kesucian kalian secara paksa, aku harus bertanggung jawab untuk itu."

Scathach yang mendengar itu mengangkat wajahnya hingga wajah mereka saling bertatapan. Detik berikutnya ia tersenyum dan berpindah tempat ke pangkuan Naruto sambil mengelus bawah bibirnya.

"Ara~ ara~ tidak aku sangka calon suamiku sudah banyak berubah," ucap Scathach sambil mendekatkan wajahnya, "Kalau tidak salah ini adalah waktuku bukan? Apa kau siap menerimanya?"

"Menerima aphmmpn~"

Perkataan Naruto terpotong karena Scathach langsung menciumnya, Naruto yang awalnya terkejut memejamkan matanya mengikuti alur yang di buat oleh Scathach.

Kedua lengan Naruto memeluk pinggang Scathach sementara Scathach memeluk leher Naruto sambil sesekali meremas rambut putih tersebut untuk menyalurkan hasratnya.

Melepaskan ciuman mereka sesaat karena pasokan udara yang menipis, setelah terisi kembali mereka pun melanjutkan ciuman panas mereka hingga mereka melupakan minuman mereka yang ada di meja.

Setelah puas berciuman hingga saliva menjembatani kedua bibir tersebut, lengan mematikan Scathach bergerak ke bawah dan mengelus tonjolan yang ada di balik celana Naruto.

"Apakah kau semesum itu, Scathach?" Scathach yang mendengar itu mengembungkan pipinya dan menarik sebelah pipi Naruto dengan satu tangannya lagi.

"Aku ini tidak mesum tahu!"

"Begitukah?" tanya Naruto sambil membenamkan wajahnya di dada Scathach, "Jika tidak kenapa kau tidak mengenakan dalaman?"

Scathach yang mendengar itu tersenyum menggoda sambil memeluk kepala Naruto, "Untuk membuktikan siapa yang lebih mesum."

Naruto yang mendengar itu merona dan menatap Scathach yang tersenyum menggoda, "Ara~ bukankah sudah jelas? Bahkan kau tahu aku tidak menggunakan dalaman di balik pakaianku ini, sudah jelas bahwa kaulah yang mesum Naru-kun," ujar Scathach dengan senyum kemenangan.

"Kau pikir aku tidak tahu, semenjak di Hyotogaku ini merupakan kebiasaanmu bukan?" perkataan Naruto membuat Scathach tersentak, "Kau mencoba memancingku untuk memakanmu, tapi sayang sekali aku tidak akan memakanmu Scathach-chan... Aku hanya akan mencicipimu hari ini," lanjut Naruto sambil mendorong Scathach dengan lembut hingga akhirnya Scathach berbaring di sofa dengan Naruto di atasnya.

"Ara~ kau sudah berani rupanya?"

"Biasanya kau lah yang mendominasi bukan? Tidak ada salahnya jika sesekali aku mendominasi."

"Fufu~ kau pikir aku akan membiarkannya?" tanya Scathach membuat Naruto mengerjapkan matanya.

Dengan gerakan tak terduga, Scathach mendorong Naruto dengan tenaga yang lebih besar membuat Naruto lah yang sekarang berbaring dan Scathach di atasnya.

"Jangan kira aku seperti yang lainnya, Naru-kun. Tidak akan aku biarkan kau yang mendominasi permainan," ucap Scathach sambil menyeringai kecil membuat Naruto meneguk ludahnya.

Lengan mematikan Scathach mengelus dada Naruto dengan lembut lalu mulai turun secara perlahan membuat Naruto tersentak karena tahu apa yang akan di lakukan oleh Scathach, namun sebelum bertindak Scathach telah mencium bibirnya dan menekan kepalanya untuk berbaring di sofa.

"Fuaah~ mari nikmati malam ini, Anata~" ucap Scathach melepaskan ciumannya sesaat lalu mencium Naruto kembali namun lebih liar dari sebelumnya.

Lengan Scathach yang tidak melakukan tugas menaikkan Sweternya hingga membebaskan dadanya yang menantang, Scathach pun melepaskan ciumannya dan mengarahkan dadanya kepada Naruto.

"Tolong, manjakan aku, Naru-kun~."

Naruto yang mendengar itu pun menjilati dada Scathach membuat Scathach melenguh pelan dan meremas rambut Naruto untuk menyalurkan rasa nikmatnya.

Naruto pun membalikkan keadaan kembali dengan dirinya lah yang di atas sekarang, Naruto meremas-remas dada Scathach lagi satu sambil sesekali memainkan putingnya membuat Scathach mendesah nikmat.

Setelah cukup, Naruto pun beralih ke dada yang lain membuat libido Scathach meningkat, beberapa menit setelah bermain dengan dada Scathach Naruto kembali mencium bibir Scathach dan membiarkannya mendominasi.

Posisi mereka pun kembali berubah dan kali ini, lengan lentik Scathach meremas bagian bawah Naruto sambil menyeringai kecil, "Kali ini biarkan aku memuaskanmu, Anata."

.

.

DSA Place

.

Sementara itu di tempat DSA tepatnya di teras kamar Naruto, terdapat Lappland yang tengah duduk sambil melilitkan perban di lengannya yang terluka karena latihan, Texas yang duduk di kasur Naruto sambil membaca buku-buku Naruto serta Whizly yang tiduran di sampingnya.

Setelah selesai melilitkan perban di lengannya, Lappland memandang bulan dengan ekspresi yang sudah di jelaskan, "Baka-sensei belum kembali juga ya?"

"Dari yang aku dengar Sensei akan menginap di rumah salah satu calon istrinya dan akan kembali besok," jawab Texas tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya.

Lappland yang mendengar itu menggigit bawah bibirnya dan berdecak kesal. Ekor Lappland dan Texas seketika menegang ketika merasakan sesuatu yang berbahaya datang ke arah mereka.

Dengan cepat Lappland menghentakkan tangannya ke lantai dan seketika tercipta kubah besi yang menutupi teras Naruto.

Blam!

Getaran kuat pun terjadi membuat Whizly langsung terbangun dari tidurnya. "Cih ada apa ini?" geram Lappland.

Whizly yang baru saja bangun langsung bangkit dengan cepat dan melompat dari jendela untuk melihat apa yang terjadi di luar dan setelah melompat dia bisa melihat di salah satu gedung terdapat sosok perempuan dengan panah api membidik ke arahnya.

Twush! Crash! Blam!

Anak panah api pun melesat ke arahnya membuat Whizly langsung menarik pedangnya membelah panah api tersebut dan meledak di belakangnya.

Swush! Crash!

Saat akan menarik busurnya kembali, dia harus terkejut ketika dari bawah muncul Texas secara tiba-tiba dan menebaskan pedangnya hingga melukai lengannya.

Perempuan itu pun melompat mundur menjaga jarak dari Texas yang melompat ke belakang dan terbang dengan cepat menyelamatkan Whizly lalu melemparnya dengan kuat ke atas kembali sang perempuan yang berpikir telah berakhir harus terkejut ketika dari langit datang naga besi yang akan menggigitnya namun untungnya dia berhasil menghindari gigitan tersebut .

Wush! Tap! Tap!

Di depan sang perempuan pun telah datang, Lappland, Whizly dan Texas yang mengacungkan senjata mereka ke arah sang perempuan yang tampak tenang.

Ketiga murid Naruto saling melirik satu sama lain lalu menatap tajam perempuan di depan mereka yang merupakan orang yang melakukan penyerangan, "Kenapa kau menyerang kami secara tiba-tiba?" tanya Lappland dengan ekspresi marah karena mereka tidak tahu apa-apa, dan mereka di serang secara tiba-tiba.

"Souka... Jadi dia tidak ada di sini? " gumam sang perempuan dapat di dengar oleh mereka.

"Dia... Apa maksudnya Naruto-sensei?" gumam Whizly membuat Lappland mengibaskan pedangnya hingga Naga besi yang tadinya menggigit gedung bergerak ke belakangnya.

"Apa hubunganmu dengan Naruto-sensei?"

"... Souka... Jadi kalian muridnya? Sepertinya Riga-kun akan senang mendengar ini."

"Jangan mengacuhkan ku sialan!" teriak Lappland mengayunkan senjatanya membuat Naga besi di belakangnya bergerak ke sosok sang perempuan.

Blaar!

Namun baru beberapa meter, Naga besi Lappland hancur berkeping-keping membuat Lappland terkejut karena sang perempuan sama sekali tidak melakukan gerakan menyerang.

"Apa itu tadi?" gumam Lappland sambil menggeram, Texas yang merasakan hawa bahaya menciptakan dua Cloning dan memeluk Lappland dan Whizly lalu terbang menjauh dari sana.

"Whizly-chan! Tolong serang dia dengan Tombak Angin!" teriak Texas menciptakan tombak api di kakinya.

Whizly yang mendengar itu mengikuti perkataan Texas dengan membuat Tombak Angin dan melemparnya ke arah sang perempuan.

["Kato : Shinguyari!"] ucap Texas menghentakkan kakinya yang menciptakan tombak api membuat tombak tersebut melesat ke arah sang perempuan.

Twush! Boom!

Begitu dua tombak tersebut menyatu, terjadi hempasan api besar yang langsung membakar gedung yang tempati oleh sang perempuan.

Wush! Tap!

"Berhasilkah?" tanya Whizly begitu mereka sudah kembali ke teras kamar Naruto sambil melihat atap gedung yang terbakar, Texas yang melihat itu langsung turun kembali sendirian dan menghantamkan kakinya dengan cukup keras dan seketika api yang membakar atap gedung berubah menjadi Es.

Texas pun menatap sekitarnya dan tidak menemukan sang perempuan atau pun mayat sang perempuan, "Dia melarikan diri ya...," gumam Texas sambil menyentuh Es di sampingnya dan menghancurkan seluruh Es yang membekukan api yang membakar gedung tadi.

"Riga... Apa dia Bossnya? Apa maunya dengan Naruto-sensei," gumam Texas sambil mengepalkan tangannya, "Aku harus mencari tahu."

.

Naruto Side

.

Sementara itu di sisi Naruto, saat ini dia tengah berada di kamar Scathach sambil meminum segelas air, sementara Scathach berbaring di sampingnya sambil bertopang dagu dengan selimut menutupi tubuhnya.

"Bagaimana Naru-kun?"

"Hghh! ... Apanya?" tanya Naruto sambil menutup mulutnya karena Scathach hampir membuatnya tersedak.

"Mengenai permainan tadi?" mendengar itu wajah Naruto memerah kembali dan langsung mengalihkan pandangannya. "A-Aku tidak ingin membicarakannya," jawab Naruto sambil mengalihkan pandangannya membuat Scathach terkekeh.

Scathach pun bangun dan memeluk Naruto dari belakang membuat orang yang di peluk merinding hebat, "Ara~ Ara~ kau kembali seperti dulu lagi, padahal kau tadi itu agresif loh?"

"U-Ugh, aku mohon jangan di bahas... Aku rasa kata agresif lebih tepat untukmu."

Scathach yang mendengar itu terkekeh lalu mengelus dagu Naruto dan menghadapkan wajah Naruto ke arahnya, "Fufufu~ sudah aku bilang bukan, aku tidak akan membiarkanmu mendominasi."

Setelah mengatakan itu, Scathach kembali menarik Naruto berbaring dan mencium Naruto dengan liar.

Ini akan menjadi malam yang panjang.

.

Kamis, 28 Desember 2090

07.00 AM

.

Pagi pun tiba dan menyinari kediaman Scathach, sementara sang pemilik kamar saat ini tertidur pulas sambil memeluk sebuah bantal di sampingnya. Sementara itu di bagian dapur tampak Naruto telah memakai pakaiannya dengan rapi sambil menyiapkan sarapan untuk Scathach.

Setelah selesai Naruto kembali menuju kamar Scathach dan meletakkan kertas di meja lampu di samping tempat tidur dan mengecup kening Scathach dengan pelan agar tidak membangunkannya.

"Aku berangkat," ucapnya lalu melangkah keluar kediaman Scathach. Setelah berada di teras rumah, Naruto melakukan gerakan peregangan lalu menghembuskan nafasnya.

"Baiklah... Sekarang berkunjung ke tempatnya," gumam Naruto lalu terbang dengan cepat menggunakan api di kakinya menuju timur.

.

Fuchucho

08.00 AM

.

Swush! Tap!

Setelah satu jam perjalanan, Naruto pun mendarat di sebuah Apartement berukuran cukup besar di Fuchucho, Hachioji. Merapikan penampilannya, Naruto pun melangkah ke dalam Apartement besar di depannya dengan santai walau banyak yang memperhatikannya karena cara kedatangannya atau mungkin banyak yang mengenalinya.

Setelah masuk, Naruto langsung menuju Resepsionis dan bertanya di kamar mana orang yang dia cari tinggal, setelah mendapatkan nomor kamar, Naruto berjalan menuju kamar tersebut sambil menghembuskan nafasnya ke tangannya untuk menghangatkan dirinya.

Setelah sampai, Naruto menekan bel kamar tersebut lalu melihat ke belakang untuk melihat suasana gedung-gedung di Fuchucho. Namun baru beberapa menit, Naruto harus terkejut ketika ada yang menariknya hingga terjatuh dan seseorang langsung menindihnya.

"Ohayo, Naruto-kun."

"Ghh... Apakah ini caramu menyambutku, BB?"

Orang yang menindih Naruto tak lain adalah BB hanya tertawa halus sambil mengelus dada Naruto, "Tentu saja, ini karena kau tidak mendatangiku lebih dulu."

"Padahal aku berharap kau menghabiskan waktu bersamaku lebih dahulu, tapi ternyata kau menghabiskan waktu dengan yang lain lebih dulu."

Naruto yang mendengar itu mengerjap pelan menatap BB yang cemberut, "Kau cemburu?" tanya Naruto.

"Ya! Aku cemburu, aku sangat cemburu karena kau jarang memanjakanku!"

Naruto yang mendengar jawaban jujur BB tersenyum kecil membuat BB semakin cemberut, dengan sedikit kasar BB menarik kerah Naruto dan mencium bibir Naruto.

Sementara Naruto yang di cium oleh BB sedikit tersentak sebelum akhirnya dia menggendong BB tanpa melepaskan ciuman mereka dan mengajaknya untuk duduk di sofa.

Namun baru saja mendudukkan diri, BB mendorongnya untuk berbaring tanpa melepaskan ciuman panas mereka, setelah membaringkan Naruto lengan BB bergerak ke pakaian Naruto dan membukanya satu persatu.

Melepaskan ciuman panas mereka, BB langsung bergerak ke leher Naruto dan menjilatinya sesekali menggigit leher Naruto membuat Naruto mengaduh sakitan.

"BB, itu sakit."

"Hmph, aku tidak peduli," jawab BB membuat alis Naruto sedikit berkedut, dengan sekali gerakan Naruto membalik keadaan dengan BB lah yang sekarang di bawah.

"Baiklah, jika kau minta di manjakan dengan senang hati aku akan memberikannya padamu," ucap Naruto sambil mendekatkan wajahnya dan meremas dada besar BB.

"Ahhh~!"

Naruto pun membalas menjilati leher BB dan menggigitnya dengan pelan hingga memberikan tanda kepemilikan di leher BB.

Kepala Naruto seketika di paksa bergerak turun menuju dada BB membuat Naruto melirik ke arah BB yang juga menatapnya dengan nafas tersengal-sengal.

Lengan Naruto pun kembali meremas dada BB yang tertutup kaos putih yang tipis membuat BB mendesah pelan merasakan rangsangan Naruto.

Merasakan tonjolan di balik Kain, Naruto menjilati tonjolan tersebut membuat tubuh BB menegang dan meremas rambut Naruto, Naruto pun melanjutkannya dengan menghisap tonjolan tersebut membuat BB bergerak seperti cacing kepanasan dengan meremas-remas rambut Naruto.

Setelah cukup menghisap tonjolan tersebut, Naruto berpindah ke tonjolan yang lainnya membuat remasan BB semakin kuat.

Merasa tak tahan, BB memutar tubuh Naruto hingga Naruto lah yang berbaring sekarang, "Sepertinya... Kau sudah sangat bernafsu pagi-pagi seperti ini, Naruto-kun."

"Kau yang memulainya, dan kau minta di manjakan bukan?"

"Hmm, sepertinya salah satu di antara mereka telah mengajarimu hal tadi ya?"

Naruto yang mendengar itu mengalihkan pandangannya membuat BB menyeringai kecil, ia pun melepaskan kaos putihnya membuat dadanya terlihat dengan jelas di mata Naruto.

Ia pun menyusui Naruto kembali sambil mengelus pipi Naruto, "Ayo anakku, saatnya minum susu."

Naruto yang tidak bisa bernafas hanya bisa mengikuti perkataan BB dengan menghisap dada yang menyumpal mulutnya membuat BB mendesah kenikmatan.

Selagi memanjakan Naruto, BB menggerakkan lengannya ke bagian bawah Naruto dan mengelusnya dengan lembut untuk memberikan rangsangan.

"Mari kita nikmati waktu kita, Naruto-kun.".

.

.

DSA Place

.

Kembali ke DSA, saat ini Texas tengah merapikan pakaian tebalnya sambil berkaca pada cermin, setelah merasa cukup Texas keluar dengan cara melompat dari jendela dan terjun ke bawah dengan cepat.

Namun karena dia sudah bisa mengendalikan api di kakinya seperti Naruto, ia bisa mendarat dengan sempurna lalu berlari kencang ke arah timur.

'Dari yang aku dapat dari catatan Naruto-sensei, ada sebuah bangunan yang menampung nama-nama orang dari Buronan, hingga nama-nama orang yang ada di sini... Jika aku berhasil menemukan nama 'Riga', aku bisa meminta polisi untuk mencarinya karena mengincar nyawa Naruto-sensei.'

Sampai di persimpangan, Texas menghentikan larinya karena banyak kendaraan yang lewat, sambil mengatur nafasnya ia menatap sekitarnya lalu mengeluarkan hologram kecil yang merupakan map nya untuk mencapai tujuan.

Ekor Texas seketika menegang membuatnya langsung memasukkan hologramnya dan menarik gagang pedang Sabet Sword miliknya.

Trank!

Suara benturan senjata pun terjadi membuat masyarakat langsung menjauh dari Texas yang menahan 3 rantai runcing.

"Ini...," gumam Texas mementalkan 3 rantai tersebut lalu melompat menjaga jarak sambil melihat ke arah sang pelaku yang tak lain adalah Diodora.

"Kau...," gumam Texas dengan mata menyipit, "Apa maksudmu menyerangku?"

"Ini untuk pembalasanku waktu itu!" balas Diodora mengendalikan 10 rantai untuk menyerang Texas.

Trank!

Texas yang akan menahan serangan tersebut terhenti ketika Lappland secara tiba-tiba muncul dan menahan seluruh rantai tersebut dengan satu pedangnya lalu menggenggam seluruh rantai tersebut dengan erat.

"Teme... Berani sekali kau menyerang adikku Hah?!" geram Lappland sambil menatap tajam Diodora.

Hal tersebut tentu menjadi perhatian masyarakat, Diodora melihat serangannya di tahan ingin menarik rantainya kembali, namun rantainya sama sekali tidak bisa ia kembalikan.

"Cih! Lepaskan dasar pengganggu!" teriak Diodora mengendalikan rantainya yang lain untuk menyerang Lappland, namun Texas langsung menangkis rantai tersebut dan hampir saja mengenai masyarakat di sekitar mereka.

Texas yang merasa jika mereka bertarung di tempat seperti ini akan memakan korban yang tak bersalah mendekati kakaknya.

"Nee-san, kita harus menjauh dari masyarakat agar mereka tidak menjadi korban."

"Urusai! Aku tidak akan memaafkannya begitu saja!" teriak Lappland langsung menarik seluruh rantai Diodora membuat ia tertarik ke arah Lappland

'Kuat sekali!' batin Diodora terkejut karena Lappland berhasil menariknya hanya dengan satu tangan, 'Cengkeramannya, kuat sekali!'

"Jangan pikir aku akan menghabisimu dengan cepat," ujar Lappland melempar Diodora hingga berguling-guling beberapa meter, Lappland pun kembali menangkap rantai Diodora lalu melilitkan tubuh Diodora dan membantingnya dan menariknya kembali ke arahnya

Grep!

"Rasakan ini?!" teriak Lappland setelah mencengkeram kepala Diodora dan menghantamkannya ke tanah dengan keras hingga membuat retakan berukuran besar.

Masyarakat yang melihat itu terdiam bagaikan patung, Texas yang melihat perbuatan kakaknya langsung mendorong Lappland menjauh dari tubuh Diodora yang tergeletak dengan kepala mengeluarkan darah.

"Nee-san! Hentikan! Kau membuat keadaan semakin buruk!"

"Lepaskan aku! Biar aku hajar orang itu hingga sekarat!"

"Kalian berdua?!" Texas dan Lappland yang bertengkar seketika terhenti ketika puluhan Divisi Intel telah di sekeliling mereka dengan senjata serbu telah mengarah pada mereka.

"Sebaiknya jatuhkan senjata kalian sebelum kalian terluka!" Texas yang mendengar itu menjatuhkan senjatanya dan mengangkat tangannya, sementara Lappland menyimpan senjatanya dan mengangkat kedua tangannya.

Pihak Divisi Intel pun langsung mengamankan mereka berdua, sementara Diodora di bawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

.

Back to Naruto side

10.00 AM

.

Kembali ke sisi Naruto, saat ini Naruto tengah berciuman dengan liar bersama BB di dekat pintu di mana Naruto bersandar di pintu dengan BB yang menahannya, setelah merasa puas mereka melepaskan ciuman mereka dengan wajah memerah.

"Kau sudah puas? Di manjakan selama dua jam non-stop?" tanya Naruto membuat BB tertawa halus dan mengelus bawah bibir Naruto yang lembab.

"Ya... Aku sudah puas, apa lagi kau sangat angresif tadi," jawab BB membuat Naruto menyentil dahi BB hingga mengaduh kesakitan. "Kau sangat mirip dengan Scathach-chan, sama-sama agresif," ujar Naruto membuat BB cemberut.

"Kalau begitu aku pamit, aku harus menemui setidaknya empat orang lagi," ucap Naruto keluar dari kediaman BB. "Memangnya siapa saja yang belum kau kunjungi?" tanya BB.

"Miya-chan, Mash-chan, Okita-chan, dan Arthuria-chan," jawab Naruto, membuat BB tersenyum kecil.

"Kalau begitu kau bisa datang langsung ke rumah Miyamoto-san. Mash-san dan Okita-san menginap di kediaman Miyamoto-san, jadi kau bisa menghabiskan waktu yang terakhir dengan Arthuria-chan," saran BB membuat Naruto menyipitkan matanya.

"Dari mana kau tahu hal itu?"

"Fufufu~ rahasia, sudahlah sebaiknya kau cepat sebelum waktunya habis, dan oh ya, Naruto-kun...," jeda BB membuat Naruto menaikkan sebelah alisnya.

"Aku akan menunggu permainan kita setelah menikah." Setelah mengatakan itu, BB menutup pintunya meninggalkan Naruto yang merona.

"Tsk... Dasar," gumam Naruto merapikan pakaiannya lalu menghembuskan nafasnya, "Sudah lima, berikutnya pasti akan sangat berat."

Setelah mengatakan itu, Naruto meninggalkan Apartement BB menuju ke arah timur dengan cepat.

.

Back to Texas and Lappland

.

Kembali ke Texas dan Lappland, saat ini mereka berdua duduk tenang di sebuah ruangan kosong dengan meja kosong di depan mereka, Lappland mengeram pelan sambil mengangkat kakinya ke atas meja.

Texas yang melihat tingkah kakaknya menghembuskan nafasnya, "Bisakah yang sopan sedikit Nee-san?"

"Berisik, lagi pula kenapa kau pergi secara diam-diam? Apa yang ingin kau cari?" tanya Lappland menatap tajam adiknya, "Semenjak kejadian kemarin, kau hampir tidak tidur dan membuka setiap data yang di miliki oleh Baka-sensei, kau ingin mencari apa?"

"Aku hanya ingin melacak orang bernama Riga yang merupakan orang yang mengirim perempuan yang menyerang kita kemarin malam, jika aku bisa menemukannya... Aku ingin membunuhnya karena dia mengincar nyawa Naruto-sensei."

Kreet~

Texas dan Lappland yang saling bicara terhenti, bahkan Lappland menurunkan kakinya kembali ketika melihat empat pria memasuki ruangan mereka.

"Baiklah, sebelum kita mulai interogasinya, izinkan aku memperkenalkan diri, Namaku Jatake Kakashi, dia adalah Maito Guy, Sarutobi Asuna dan Morino Ibiki, lalu kalian ini siapa? Kami tidak menemukan identitas kalian sama sekali di warga Konoha begitupun kota lainnya?"

"Nama saya Texas, dan dia adalah kakakku Lappland, kami datang dari Hyotogaku bersama Naruto-sensei," jawab Texas membuat mereka saling melirik.

"Naruto? Maksudmu Uzumaki Naruto?" tanya Ibiki dan di jawab anggukan oleh Texas. "Naruto sudah mempunyai murid? Yang benar saja? Umurnya 18 tahun dan mempunyai murid hampir seumurannya? Bukankah itu gila?" gumam Asuna tidak percaya.

"Oi, Oyajii... Apa kau merasa tidak terima jika kami adalah murid Baka-sensei?" tanya Lappland merasa tersinggung.

"Sudah cukup, maaf karena menyingung hal tersebut, jika kami boleh tahu kenapa kalian melakukan penyerangan terhadap Diodora?"

"Menyerang? Apa kau buta? Jelas sekali dia yang menyerang adikku, dan asal kau tahu saja aku tidak akan diam saja ketika ada yang menyakiti keluargaku!" balas Lappland dengan tatapan tajam, ia tidak takut siapapun lawannya kecuali gurunya.

"Setelah menjadi murid Naruto, ternyata kau menjadi angkuh ya?" tanya Guy membuat Lappland mendelik ke arahnya. "Maaf tapi yang di katakan oleh kakakku adalah faktanya, jika kalian tidak percaya kami tidak mempermasalahkannya, lagi pula bisakah kami keluar dari sini? Kami sangat buru-buru untuk mencari seseorang yang menyerang kami kemarin malam," balas Texas dan bangkit dari duduknya namun baru saja berdiri tiga rantai muncul dan mengikatnya di kursi kembali.

"Sebaiknya kau duduk diam di sini dan menjawab semua pertanyaan kami."

Trank!

Tiga rantai tersebut seketika terputus sendirinya membuat Ibiki terkejut, "Jangan pernah menyakiti Adikku!" teriak Lappland menatap tajam empat pria di depannya dengan aura pekat keluar dari tubuhnya.

Dengan keras, Lappland menendang meja di depannya membuat empat pria tersebut menjaga jarak dari Lappland dan Texas.

Lappland pun mengeluarkan senjatanya dari balik jubahnya dan menyiapkan posisi bertarung.

"Wow! Wow! Tolong tenanglah! Kita bicarakan ini baik-baik!" pinta Kakashi, namun Lappland tak mendengarkan perkataan Kakashi dan bersiap menyerang Kakashi.

Brak! Blam!

Namun gerakan Lappland terhenti ketika atap ruangan mereka hancur memperlihatkan seorang gadis berambut putih berlutut di depan Texas dan Lappland.

"Ikuzo! Nee-san, Nee-sama!"

Texas dan Lappland yang mendengar itu langsung melompat keluar di ikuti sang perempuan yang secara tiba-tiba muncul meninggalkan empat pria yang terdiam di tempat.

"Siapa itu tadi? Bagaimana bisa dia menghancurkan tempat ini?" tanya Asuna sambil menatap langit-langit yang di hancurkan karena ruangan mereka ada di lantai bawah dan lantai yang harus di hancurkan untuk menuju ruangan bawah adalah 12 lantai.

"Dia tadi memanggil mereka Nee-san dan Nee-sama bukan? Bisa di asumsikan itu adalah Adiknya," jawab Ibiki, "Berarti perkataan mereka benar, mereka adalah Murid Naruto."

"Tidak ada seorang pun yang bisa menghancurkan bangunan ini dan menerobos 12 lantai dengan mudah selain orang berkekuatan besar, mereka itu kuat dan sebanding dengan Naruto... Mereka benar-benar muridnya."

Brak!

"Maafkan Kami Taichou! Kami berniat memberikan laporan ada yang menerobos masuk, tapi sistem komunikasi terblokir dengan sinyal aneh!"

"Bahkan adiknya memiliki kelicikan seperti gurunya," gumam Kakashi lalu menghembuskan nafasnya, "Interogasi selesai, dan rapikan tempat ini, minta juga pihak konstruksi untuk memperbaiki ini."

"Kita tidak akan mengejarnya?"

"Tidak... Kita sudah tidak memiliki urusan dengan mereka, kita sendiri tahu... Apa pun yang berhubungan dengan Naruto, pasti akan selalu di incar untuk di bunuh."

"Kalau begitu kita harus mengejar mereka dan memberi mereka perlindungan."

"Itu tidak perlu, jika terjadi sesuatu pada mereka, sudah pasti guru mereka tidak akan tinggal diam."

.

Di tempat Texas, Lappland dan perempuan berambut putih yang menyelamatkan mereka, saat ini mereka mengatur nafas mereka yang terengah-engah dan menatap satu sama lain.

Dengan keras, Texas menarik kedua pipi perempuan tersebut hingga mengaduh kesakitan, "Apa yang kau lakukan baka-imouto!"

Perempuan yang tak lain adalah Whizly mengaduh kesakitan karena perbuatan kakaknya dan melepas paksa tarikan Texas pada pipinya.

"Mou~! Itu sakit Nee-san!"

"Apa yang kau lakukan? Kau menghancurkan gedung Divisi Intel hanya demi menyelamatkan kami?"

"Tentu saja, aku melihat kalian di tangkap tentu saja aku datang menyelamatkan kalian, dari pada kalian melukai mereka... Kalian ingin melukai mereka tadi bukan?" jawab Whizly menatap tajam kedua kakaknya.

"Hmph! Tentu saja... Tidak," jawab Lappland berisikan jeda sambil mengalihkan pandangannya.

"Hahh~ sudahlah, sebaiknya kalian ikut aku saja, kita harus mencari informasi orang yang menyerang kita kemarin malam."

.

Mushashino

11.30 AM

.

"Huft~ jadi ini kediaman Miyamoto-chan?" gumam Naruto sambil melihat kediaman Miyamoto yang cukup berukuran besar untuk tinggal seorang diri.

Setelah cukup melihat kediaman Miyamoto, Naruto memasuki halaman Miyamoto menuju pintu kediaman Miyamoto. Setelah sampai, ia menekan bel kediaman Miyamoto dan bersiul-siul sambil menunggu sang pemilik rumah.

Kreet~

Begitu pintu kediaman terbuka, terlihatlah sosok Mash yang membukakan pintu dengan pakaian sweter putih serta gaun warna-warni sampai mata kaki, "Na-Naruto-kun?" kejut Mash ketika melihat Naruto datang berkunjung.

'Ternyata perkataan BB benar,' batin Naruto ketika melihat Mash menginap di kediaman Miyamoto, "Yo Mash-chan, apakah kau menginap di sini bersama Okita-chan?"

"A-Ah! Ha'i, bagaimana Naruto-kun bisa tahu?"

'Karena temanmu memberitahuku,' jawab Naruto dari batin, "Banyak hal yang telah terjadi."

Mash yang mendengar itu menatap bingung Naruto, lalu tersentak karena tidak membiarkan Naruto masuk, "Ah! Gomen, mari masuk Naruto-kun," ajak Mash dan di ikuti Naruto di belakangnya.

"Bagaimana dengan misi kalian?" tanya Naruto sekedar basa-basi untuk membuat suasana tidak canggung.

"Ya... Rasanya... Ano, Naruto-kun, bolehkah aku bertanya padamu?" Naruto yang mendengar itu mengangguk, "Sebenarnya kami menjalankan misi dari Hokage untuk mengecek laut timur Afrika, kami mendapat kabar bahwa terjadi getaran keras di udara dan robekan dimensi, kami sempat melihatnya namun saat sampai di sana, Robekan tersebut tertutup kembali, bagaimana menurutmu?"

"Celah Universe... Apakah benar kau melihat itu?" tanya Naruto dengan wajah serius sambil memegang kedua pundak Mash. "H-Ha'i, aku sempat merekamnya, jika kau mau aku akan mengambilkannya untukmu," jawab Mash dan di jawab anggukan oleh Naruto.

'Celah Universe? Bagaimana bisa terjadi? Itu harusnya terjadi ketika dua dimensi dengan waktu yang berbeda berbenturan, apa yang terjadi?'

Naruto pun memasuki kediaman Miyamoto lebih dalam lagi dan saat sampai di ruang tamu, ia bisa melihat Miyamoto yang tengah bermain game konsol dengan Okita, bahkan mereka tidak menyadari kedatangannya karena terlalu asik.

Naruto yang melihat Mash mendekatinya dan akan membuka suara menutup bibir Mash dan mendekatkan bibirnya ke telinga Mash, tentu saja wajah Mash langsung merona dengan cepat.

Naruto pun membisikkan sesuatu ke telinga Mash membuatnya melirik ke arah Miyamoto dan Okita yang sedang asik bermain.

"Siapa yang datang Mash?" tanya Okita tanpa mengalihkan pandangannya. Namun Mash tidak menjawab, Naruto pun berbisik kembali kepada Mash.

"Ne, Miyamoto-san, Okita-san, menurut kalian bagaimana perasaan kalian terhadap Naruto-kun?"

"Huh? Kau serius menanyakan itu? Tentu saja kami menyukainya, tidak... Lebih tepatnya sangat mencintainya," jawab Okita

"Lalu bagaimana jika Naruto-kun itu datang ke tempat ini?"

"Huh? Aku rasa itu mustahil," jawab Miyamoto tanpa mengalihkan pandangannya, Naruto yang mendengar itu berbisik ke telinga Mash namun kali ini lebih dekat membuat wajah Mash semakin merona.

"Ja-Jaa~ kalau begitu aku permisi, a-aku akan menghabiskan waktu berduaan dengan Naruto-kun di kamar," ucap Mash dan setelah itu Naruto menggendong Mash ala Bridal Style dan pergi ke kamar secara mengendap-endap.

"Ya, selamat menikmati waktu kalia..." Miyamoto dan Okita sama-sama terdiam ketika mencerna perkataan Mash.

Dengan patah-patah mereka menoleh ke sebuah kamar dengan mata melebar.

Brak!

Detik berikutnya terdengar suara benturan pintu yang sangat keras, Miyamoto mendobrak pintunya dan terlihatlah Naruto yang duduk di kasur dengan Mash yang menciumnya dengan serasi.

"Oh, Ohayo Miya-chan, Okita-chan," ucap Naruto menyapa mereka lalu melanjutkan ciuman mereka kembali.

"Ohayo Janeyo! A-A-Apa yang kalian lakukan hah?!" balas Miyamoto sambil tergagap. Mash pun turun dari pangkuan Naruto dan duduk di samping Naruto, "Hahaha, Gomen-gomen aku hanya ingin menggoda kalian, soalnya kalian tampak asik sekali bermain game padahal kami sempat berbincang di teras tadi," jawab Naruto sambil merangkul Mash dan mencium pipinya dengan serasi membuat wajahnya semakin memerah.

"E-Entah kenapa, Naruto-kun menjadi agresif."

"Kau tidak menyukainya?"

"B-Bukannya begithmmnnh~" perkataan Mash terpotong begitu Naruto menciumnya, tentu saja wajah Mash sangat memerah sepenuhnya begitu juga dengan Miyamoto dan Okita.

Karena tidak tahan, Miyamoto mendorong Naruto membuat ciuman tersebut terlepas, Naruto yang di tindih Miyamoto hanya diam sambil menatap Miyamoto yang bergetar seperti tidak bisa menahan gejolaknya.

"Jika mau silahkan saja, kalian mempunyai waktu 2 jam, karena hari ini kita akan menghabiskan waktu bersama, setelah 2 jam tersebut aku akan pergi ke tempat berikutnya."

Miyamoto, Mash dan Okita yang mendengar itu tentu terkejut karena rupanya Naruto datang untuk Date, tak mau kehabisan waktu Mash menarik kerah Naruto dan mencium bibir Naruto.

Okita dan Mash yang melihat itu langsung mendekat dan mencium Naruto secara bergantian, ketika Okita mendapat giliran berciuman dengan Naruto, Miyamoto membuka baju Naruto satu persatu sementara Mash menggoda Naruto dengan menggigit kuping Naruto sambil mengelus dada Naruto yang tampak berotot.

Miyamoto bahkan sampai membatu ketika melihat dada bidang Naruto yang tampak luar biasa walau pun dia pernah melihatnya beberapa kali.

Miyamoto pun mendekati dada Naruto dan menjilati dada bidang tersebut membuat tubuh Naruto sedikit menegang karena rangsangan Miyamoto.

Tidak mau hanya diam, Naruto meremas masing-masing dada Okita dan Mash membuat mereka mendesah pelan.

Okita yang mengenakan kaos lengan pendek membuka bajunya dan dalamnya membuatnya setengah telanjang begitu juga dengan Mash.

Mash yang mendapat giliran membenamkan kepala Naruto di dadanya sambil memeluk kepala Naruto, lengan Naruto pun memanjakan dada Okita dan Miyamoto untuk membagi rata tugasnya.

.

.

Texas, Lappland dan Whizly Side

.

Tap! Tap!

Di sisi para murid Naruto, mereka saat ini berdiri di sebuah gedung berukuran besar dengan Bola Globe dari Hologram di atas gedung dengan di kelilingi kaca pembesar di beberapa tempat.

"Wah! Tempat apa ini?" kagum Whizly dengan mata membinar. "Di sini tertulis, Seaglo Tower, tempat pencari identitas seseorang di seluruh dunia," jawab Texas sambil membaca catatan kecil Naruto.

"Ayo, kita harus cepat."

Mereka pun memasuki gedung tersebut dan setelah masuk mereka harus melebarkan mata mereka ketika di dalam terdapat sebuah Globe hologram berukuran besar dengan beberapa data orang-orang yang tidak mereka kenal.

"Sugoii," gumam Lappland.

"Ayo, kita harus mencari identitasnya," ajak Texas bergerak ke sisi lain di mana terdapat sekumpulan rak-rak yang sangat banyak. "Tapi, Nee-san... Mencari nama Riga dengan data sebanyak itu sungguh mustahil!" ujar Whizly membuat langkah Texas terhenti.

"Memang, tapi kita pasti bisa menemukannya, dari yang aku baca di catatan Naruto-sensei, kita bisa mengetahui indetitas orang yang memiliki hubungan dengan orang yang kita cari, dengan begitu kita bisa mendapatkannya."

Mereka pun bergerak ke arah Rak dengan data huruf R, namun langkah mereka terhenti ketika seorang perempuan yang mereka kenal berdiri di depan mereka.

"Anda...," gumam Texas.

"Apa yang kalian lakukan di sini?"

"Begitu juga dengan anda... Apa yang Anda lakukan di sini?" jawab Texas sambil merentangkan tangannya melindungi Whizly. "Sama seperti kalian," jawab perempuan tersebut membuat Texas menyipitkan matanya.

"Sama?"

"Kalian mencari orang bernama Riga bukan?" mereka yang mendengar itu tersentak, "Aku akan memberitahukannya pada kalian, jujur saja aku tidak bisa melakukannya dengannya, aku butuh bantuan kalian."

.

.

~ Naruto : The Dragon Future ~

.

.

Back to Naruto

12.00 PM

.

Kembali ke tempat Naruto, setelah satu jam berlalu, Naruto telah memuaskan Miyamoto dan Okita hingga membuat mereka terbaring dengan nafas terengah-engah dan saat ini Naruto memanjakan Mash yang sempat ke dapur dengan menciumnya dengan mesra.

Setelah cukup, Naruto dan Mash melepaskan ciuman mereka dan mengatur nafas mereka yang terengah-engah, "Kau sudah puas?"

Mash yang mendengar itu mengangguk kaku, Naruto pun merapikan pakaian Mash kembali dan mengecup kening Mash dengan lembut, "Jadi... Bisakah aku melihat hasil rekaman itu sekarang?"

Mash yang mendengar itu pun memberikan hologram kecil yang dia selipkan di pakaiannya dan memperlihatkan gambar sebuah retakan universe terjadi di langit namun itu terjadi hanya beberapa detik saja hingga retakan tersebut menutup kembali.

Naruto yang melihat itu terdiam seribu bahasa, kejadian tersebut memang terjadi dan itu berhasil di rekam oleh Mash.

"Kami yang melihat itu mendekati tempat kejadian dan tidak ada retakan itu sama sekali... Bagaikan hanya sebuah ilusi," jelas Mash.

"Kami melaporkannya kepada Hokage, namun Hokage meminta kami untuk merahasiakan hal ini hingga waktu yang tepat." Naruto yang mendengar suara Miyamoto menoleh dan dia melihatnya berdiri di samping pintu dapur bersama Okita.

"Apakah ada jejak orang di sekitar sana?"

"Tidak ada sama sekali, retakan itu seperti terjadi begitu saja."

Naruto yang mendengar itu berjalan ke sofa dan mendudukkan dirinya, ia terdiam beberapa menit lalu menutup mata kanannya.

'Aku harus memastikannya,' batin Naruto lalu melebarkan mata kirinya hingga berubah menjadi putih.

Mereka yang melihat Naruto melakukan sesuatu yang aneh saling menatap satu sama lain. Beberapa menit berlalu, Naruto menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan ya secara kasar lalu menarik nafas terengah-engah, tentu Okita, Mash, dan Miyamoto terkejut dan mendekati Naruto.

"Apa yang kau lakukan Naruto-kun?" tanya Mash menatap khawatir Naruto. "Aku... Mengecek tempat kejadian... dengan kekuatan yang aku pelajari saat di Hyotogaku...," jawab Naruto sambil mengatur nafasnya.

"Aku bisa memundurkan waktu, lalu menyatu dengan para naga yang ada di tempat kejadian untuk melihat siapa di sana, Sennin Mode Dragon dan Yin... Walau belum terbiasa tapi aku juga tidak bisa menemukan apa pun di sana "

'sebenarnya aku juga menggunakan Jikkan, tapi aku tidak bisa memberitahu kalian, Gomen,' lanjut Naruto dalam batin lalu menghembuskan nafasnya.

"Huft~ untuk kali ini kita anggap tidak terjadi apa-apa, jika ada waktu aku akan melakukan pengecekkan ke sana bersama kalian," ujar Naruto sambil bangkit dari duduknya.

"Sekarang aku harus pamit, aku harus ke tempat Arthuria, hanya dia yang belum aku berikan jatah."

Miyamoto, Okita dan Mash yang mendengar itu mendekati Naruto dan menciumnya sekali lagi namun tidak ada nafsu dalam ciuman tersebut.

"Kami sedikit kecewa karena waktu berjalan cepat, padahal kami masih ingin lebih lama bersamamu," ujar Miyamoto dengan nada kecewa membuat Naruto tersenyum tipis.

"Maa~ jangan sedih, masih ada waktu di tahun baru, kita akan bersama hingga Festival kembang api dan melihat matahari terbit di tahun yang baru."

Mendengar itu tentu membuat mereka tampak senang kembali karena mereka memiliki kesempatan kembali, Naruto pun mendekati mereka dan mengecup sekali lagi bibir mereka lalu berpamitan untuk menuju tempat Arthuria.

"Yosh, saatnya bertemu tukang makan," gumam Naruto lalu terbang menuju Utara ke tempat Arthuria berada.

.

Omachi

13.30 PM

.

Naruto yang telah sampai di Omachi langsung terbang ke kediaman Pen Dragon dan sampai di sana ia bisa melihat naga Arthuria yang tengah tiduran di halaman membuktikan bahwa orang yang dia cari ada di rumah.

Wush! Tap!

Naruto pun mendarat di depan pintu kediaman Pen Dragon dan merapikan penampilannya, setelah rapi Naruto pun menekan bel kediaman tersebut dan tak berselang lama pintu kediaman tersebut terbuka dan memperlihatkan sosok pemuda berkaca mata yang menatapnya seperti orang terkejut.

"Yo, Arthur, apakah Arthuria-chan ada?"

"Na-Naruto... E-Ehem, ada apa kau kemari?" tanya Arthur sambil keluar lalu menutup pintu kediaman kembali membuat Naruto kebingungan dengan tingkah Arthur.

"Bukannya kemarin aku sudah bilang bahwa aku ingin mengajak kakakmu kencan?"

"A-Ah! Ya... Benar sekali... A-Aku melupakannya... Bisakah... Lain waktu karena saat ini Nee-sama tidak ada," jawab Arthur seperti orang gugup membuat Naruto menyipitkan matanya.

"Ada apa denganmu?"

"Ti-Tidak, tidak apa-apa... Aku... Baik-baik saja," jawab Arthur terbata-bata membuat Naruto semakin curiga. "Apa terjadi sesuatu dengan Arthuria-chan?" tanya Naruto sambil memegang kerah Arthur.

"Matte! Naruto-kun!" Naruto yang mendengar suara Arthuria menoleh ke arah Pintu kediaman Pen Dragon yang sedikit terbuka, "To-Tolong jangan sakiti Arthur... Aku yang memintanya melakukan itu," ucap Arthuria sambil mengintip dari pintu.

"Kenapa Arthuria-chan? Kenapa kau bersembunyi?"

"Su-Sulit mengatakannya... Se-Semenjak aku pergi ke London... A-Aku benar-benar mengalami perubahan besar dalam sehari... A-Aku... Aku takut kau membenciku," jawab Arthuria.

"Mana mungkin aku membencimu? Selain itu apa yang membuatku membencimu, ayo... Keluarlah... Tidak perlu takut, aku tidak akan membencimu."

Pintu kediaman Pen Dragon pun terbuka memperlihatkan sosok perempuan berambut kuning dengan sweter putih dan rok biru sampai mata kaki berjalan mendekat perlahan ke arah Naruto yang terdiam seperti batu dengan mata melebar.

Bagaimana tidak, penampilan Arthuria sangat berubah di mana wajahnya lebih menawan bahkan rambutnya lebih panjang, dan terlebih lagi bagian dadanya yang tiba-tiba menjadi besar.

"A-A-Arthuria-chan?" gagap Naruto dengan wajah memerah. "U-Um," jawab Arthuria dengan wajah ikut memerah.

"Ba-Ba-Ba...," gumam Naruto bingung harus mengatakannya, karena jika dia mengatakannya bisa saja itu menyinggung Arthuria.

"Hahh~, awalnya aku juga terkejut melihat perubahan Nee-sama, tapi setelah di telusuri, saat Nee-sama makan banyak di London, dia berlatih teknik Blood Arthur dan kekuatannya sedikit tidak stabil yang membuat penampilannya berubah, dan sekarang inilah penampilan Nee-sama, dia memintaku merahasiakannya darimu padahal kau itu maniak dada besar bukan?" jelas Arthur membuat Naruto mendelik Arthur ketika mendengar perkataan terakhir yang mengatakan dirinya maniak dada besar.

"Ba-Baka! Aku bukan maniak dada besar! Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku maniak dada besar!"

"Dari wajahmu yang memerah itu," jawab Arthur dengan ekspresi Smug Face membuat Naruto melenguh pelan, "kau harusnya bersyukur Nee-sama, Naruto itu menyukai penampilanmu itu, kenapa kau berpikir Naruto akan membencimu?"

"Ha-Habisnya, Le-Le Fay-chan bilang j-jika aku memanjakan Naruto-kun dengan penampilanku sekarang ini, A-Aku bisa saja membunuh Naruto-kun?"

Arthur dan Naruto yang mendengar itu terdiam dengan sweatdrop di kepala mereka, 'Bagaimana caranya?'

"Kau tidak akan bisa membunuhku dengan penampilan ini, Arthuria-chan, sekarang tenanglah ok?" ujar Naruto menenangkan Arthuria sambil mengecup kening Arthuria dengan lembut lalu menempelkan keningnya serta hidungnya sambil tersenyum.

"Kau pikir sudah berapa kali aku menerima luka dan sekarang aku masih bisa berdiri di depanmu hm? Tidak ada seorang pun yang bisa melukaiku," lanjut Naruto membuat Arthuria termenung dengan perkataan Naruto

"Sekarang bersiap-siaplah, kita akan kencan hari ini sampai 2 Jam, aku ingin kau berpenampilan secantik mungkin, kita akan makan bersama karena sekarang ini aku sangat lapar."

"Ta-Tapi..."

Naruto memotong perkataan Arthuria dengan menempelkan jarinya di bibirnya sambil tersenyum kecil, "Kau tidak perlu khawatir, kau tidak akan berubah lagi jika kau tidak menggunakan jurus Blood Arthur."

"Ayo, aku akan menunggumu, kau tidak ingin melewatkan kesempatan kencan denganku bukan? Yang lainnya sudah mendapatkan jatah mereka kecuali dirimu."

Arthuria yang mendengar tersentak dan menatap tajam Naruto dengan pipi di kembungkan membuat Naruto tertawa kecil, Arturia pun melangkah mundur dan masuk ke dalam untuk bersiap-siap kencan dengan Naruto.

Melihat Arthuria sudah tenang, Naruto menghembuskan nafasnya, "Arthur bolehkah aku meminta tolong padamu?"

"tolong tanyakan apa maksud dari Le Fay-chan bahwa penampilan kakaknya saat ini bisa membunuhku?" pinta Naruto dengan sweatdrop di kepalanya.

"Ha'i, aku juga penasaran dengan itu."

"Selain itu...," gantung Naruto lalu memegang kerah Arthur dan menatap kesal Arthur, "Apa maksudmu dengan maniak dada besar itu huh?!"

"Kenapa kau kesal! Bukannya itu fakta bahwa semua calon istrimu berdada besar?!"

.

Setelah selesai bersiap-siap, Naruto mengajak Arthuria jalan-jalan dengan kendaraannya karena tidak mungkin mengajak Arthuria terbang dengan kemampuannya.

Selama perjalanan, Naruto dan Arthuria berbincang kecil mengenai perjalanan di London dan tentu Arthuria juga menanyakan apa saya yang telah Naruto perbuat dengan yang lainnya.

Tentu saja saat menjawabnya Naruto malu luar biasa dan Arthuria sesekali memukul pundak Naruto karena kesal dengan perbuatan Naruto.

"He-Hei, kita sedang di jalan, jika terjadi sesuatu berbahaya."

"Hmph! Aku tidak peduli, sekarang menepi!"

"He-Heh? Tapi..."

Naruto yang ingin melanjutkan ucapannya terhenti ketika melihat tatapan tajam Arthuria, mau tak mau dia menepi agar tidak terjadi kecelakaan.

Saat berpikir Arthuria akan keluar dari mobilnya dengan perasaan kesal, ia harus mengenyahkan pikirannya tersebut karena Arthuria malah berpindah tempat dengan duduk di pangkuannya.

"A-Apakah aku sangat berat?" tanya Arthuria dengan wajah merona. "A-Ah... Um, tidak sama sekali," jawab Naruto lalu melanjutkan perjalanan mereka.

"Jadi... Apa yang akan kau lakukan huh? Jika kau menciumku di kondisi seperti ini tetap saja bahaya."

Arthuria yang mendengar itu memeluk leher Naruto sambil menyandarkan kepalanya di puncak kepala Naruto sambil menatap jalanan di depan mereka.

"Jika begitu kita bisa berdua selamanya tanpa ada yang mengganggu kita lagi," balas Arthuria membuat Naruto terkekeh pelan. "Ya, kita akan bersama tapi di alam sana, selain itu belum tentu juga aku akan masuk surga."

Arthuria yang mendengar itu menarik pipi Naruto hingga membuat Naruto mengaduh kesakitan, "Mou~ jangan berkata seperti itu!"

"Ha'i-Ha'i, Gomen," balas Naruto sambil tersenyum kecil lalu menambah kecepatannya melewati daerah persawahan di sekitar mereka.

Satu setengah jam perjalanan terlalui dan mereka pun sampai di sebuah Restaurant bernama "Hana Restaurant", berlokasi di Azusagawayamato, Matsumoto, Nagano.

Sebuah Restaurant cukup besar yang berada di perkotaan Matsumoto, selain itu Restaurant ini mendapat bintang 5 di kota Matsumoto dan merupakan Restaurant terbaik di kota tersebut, bahkan Restauran tersebut memiliki 4 tingkat di mana lantai pertama dan kedua adalah tempat bagi para pelanggan makan dan tempat kitchen, lantai 3 adalah tempat tinggal sang pemilik dan lantai atas adalah rumah kaca untuk menanam sayuran.

Naruto dan Arthuria pun turun dari mobil dan jalan sambil bergandengan tangan, sang pemilik Restaurant yang kebetulan ada di depan tersentak ketika melihat Naruto datang dengan seorang perempuan, dengan cepat dia merapikan penampilannya dan tersenyum untuk menyambut tamu nya.

"Selamat datang di Hana Restaurant, Naruto-sama," ucap sang pemilik Restaurant sambil sedikit membungkukkan badannya. "Wow-wow kau tidak perlu seperti itu, sambut saja kami seperti pelanggan biasa," ujar Naruto mengangkat tubuh sang pemilik Restaurant.

"Tapi anda adalah orang penting, dan saya sangat senang karena anda berkunjung ke tempat ini, selain itu anda datang kemari dengan seorang putri dari Clan Pen Dragon yaitu Arthuria-sama."

"Sudahlah, jangan terlalu formal ok? Jika kau terlalu formal kami bisa saja pergi dari sini loh?" ancam Naruto dengan sedikit candaan membuat sang pemilik tertawa karena tahu bahwa Naruto hanya bercanda.

"Baiklah kalau begitu, mari silahkan masuk," ajak sang pemilik Restaurant dan di ikuti oleh mereka berdua.

"Kau cukup terkenal ya? Pasti karena nafsu makanmu," bisik Naruto pada Arthuria membuatnya mendapat cubitan pelan di pinggangnya.

"Meja untung dua orang ya, apakah anda ingin VIP khusus atau apa Naruto-san?" tanya sang pemilik membuat Naruto berpikir.

"Maa~ sebenarnya kami ingin mencari meja khusus yang tidak mencolok sih dengan pemandangan yang indah, apakah ada? Jika tidak kami tidak keberatan mencari meja yang biasanya saja," jawab Naruto.

"Oho, tentu saja ada, mari ikut saya, tempatnya ada di lantai 2."

Setelah sampai di lantai dua, Naruto dan Arthuria di ajak ke meja yang ada di dekat teras lalu melakukan pelayanan khusus pada Naruto, tentu Naruto sedikit canggung karena dirinya sendiri dia harus menerima semua itu.

"Rasanya sungguh aneh jika kau terkenal dan mendatangi satu tempat maka kau akan di layani dengan sangat formal."

Arthuria yang mendengar itu tertawa kecil, "Dan sekarang kau harus membiasakan dirimu."

"Hahh~ merepotkan," balas Naruto menghembuskan nafasnya lalu membaca buku menu di tangannya, "Ngomong-ngomong kau boleh makan sebanyak yang kau mau, Arthuria-chan, aku akan membayarnya."

"Tidak, aku hanya akan beberapa saja, aku tidak ingin membuat pandangan orang terhadapmu berubah karena membawa orang sepertiku yang banyak makan," jawab Arthuria lalu menyentuh bibirnya sambil tersenyum manis, "selain itu, kau masih memiliki hutang padaku nanti bukan?"

Naruto yang mendenga itu memerah wajahnya, bukan hanya oenampilan, tetapi tingkahnya juga berubah.

.

.

Other Side

.

Sementara itu di tempat lain yang sedikit minim cahaya, terdapat sosok pria tengah duduk bersama sosok perempuan yang tengah membuat sesuatu dengan alat-alat canggih di depannya.

Mereka yang sibuk dengan kegiatan masing-masing menoleh ketika mendengar suara langkah kaki hingga akhir mereka bisa melihat seorang pria berambut hitam datang bersama pria bertubuh besar di belakangnya.

"kau sudah kembali, Riga-kun?"

"Ya, aku membawa seseorang untuk membantu kita," jawab pria berambut hitam yang merupakan ayah Kurumi, Tokisaki Riga.

"Siapa dia?" tanya pria lagi satu membuat Riga menyeringai. "Dia adalah orang yang bisa memberi kekuatan dan mengambil kekuatan, perkenalkan... Dia adalah All for one," jawab Riga memperkenalkan pria yang ada di belakangnya.

"Salam kenal, sepertinya kalian sangat kesusahan sampai meminta tolong padaku, karena aku kasihan jadi aku akan menolong kalian," ucap All for One membuat Pria dan Wanita yang merupakan teman Riga hanya diam.

Deg! Blaar!

Seketika All for One tersentak dan secara tiba-tiba dia menerima sebuah serangan tak kasap mata yang membuatnya terpental dan menabrak dinding hingga hancur.

"Jaga mulutmu, Kuso-oyajii!"

"Kami tidaklah lemah seperti yang kau kira," ucap sang perempuan membuat All for One yang menempel di dinding terkekeh.

"Wah-wah, kalian sepertinya tampak kesal huh? Kalau begitu maafkan aku, Gold Hyakashi... dan Venna Miekiha, jujur saja serangan kalian itu tidak memberikan rasa sakit padaku, malah terkesan seperti di gigit semut," ujar All for One sambil berdiri tegak kembali dan menepuk pakaiannya.

"Sudah cukup, jangan membuat keributan di sini All for One, walau kau kuat aku bisa saja menghancurkanku dengan mudah dan itu tidak akan kau bisa hindari walau sedetik pun," ujar Riga sambil menatap tajam All for One, sementara yang di ancam hanya tertawa sambil mengangkat kedua tangannya.

"Baik-baik aku akan mencoba akrab dengan mereka."

Riga yang mendengar itu menghembuskan nafasnya lalu mendudukkan dirinya untuk bersantai, "Jadi sudah semuanya?" tanya Gold membuat Riga meliriknya.

"Tidak, masih belum... Ada beberapa orang lagi yang akan aku cari, kebetulan mereka adalah teman dekatku seperti Venna-san," jawab Riga membuat Venna menghentikan kegiatannya dan menatap Riga tidak percaya.

"Benarkah? Kau pasti bercanda mengundangnya bukan? Jika dia ikut rencana kita pasti gagal."

"Akan aku pastikan itu tidak terjadi."

"Ngomong-ngomong bolehkah aku bertanya?" tanya All for One membuat semua menatapnya, "Kita akan melakukan Revolusi bukan? Lalu kenapa kau mengumpulkan kami hanya demi membunuh satu orang? Padahal orang tersebut seperti kutu yang tidak berguna?"

Jrash!

"Dengar, walau dia seekor kutu dia tidak bisa di anggap remeh, kemampuannya meningkat drastis setiap saat berkat Jikkan miliknya, jika kau berpikir Jikkan miliknya seperti yang biasanya kau salah, matanya sangat istimewa, jika aku berhasil mendapatkannya dia tidak akan berguna tapi selama matanya ada dia tidak bisa di tandingi, jadi sebaiknya kau tidak terlalu meremehkannya," ujar Riga sambil menatap tajam All for One yang duduk tenang karena Riga berdiri di depannya sambil menghunuskan sebuah pedang yang menembus dinding belakangnya.

Riga pun menarik pedangnya, "Sebaiknya kita mulai bergerak sekarang untuk menjemput teman kita."

"Hehh~ kenapa harus beramai-ramai?" tanya Gold membuatnya mendapat seringai dari Riga.

"Karena yang akan kita jemput di kurung di bawah laut Samudra Atlantic."

.

.

Naruto side

.

Sementara itu di tempat Naruto, saat ini Naruto telah kembali bersama Arthuria ke kediaman Pen Dragon, dan baru saja sampai Arthuria menarik Naruto sampai ke kamarnya dan saat ini mereka berdua tengah berciuman mesra di kasur di mana Naruto tengah di tindih oleh Arthuria.

Lengan Arthuria yang menahan pundak Naruto mulai berpindah membuka baju Naruto tanpa melepaskannya lalu mengelus dada bidang Naruto.

Naruto pun juga membalas dengan meremas dada besar Arthuria membuatnya melepaskan ciumannya dan mendesah kecil, "U-Ugh! Ba-Baka! Bh-bagaimana jhikhaa~ a-ada yang mendengharnyaa~?"

"Hm? Bukannya kau yang memulainya?" goda Naruto membuat Arthuria menatap kesal Naruto. "Ka-Kau... Benar-benar maniak dada besar!" ujar Arthuria langsung menarik kepala Naruto hingga terbenam di selah dadanya.

"Bagaimana rasanya?" tanya Arthuria. "Sungguh hangat dan empuk sekali," jawab Naruto sambil meremas dada Arthuria kembali.

"Ahh~! M-Mou~! Dari mana kau mempelajari ini?"

Naruto yang mendengar itu mengangkat kepalanya untuk bertatapan dengan Arthuria, "Maa... Dari temanmu, Scathach-chan... dia mengajarkanku hal ini?"

"Dan kau mengikuti ajarannya?"

"O-Oi, aku di paksa! Se-Selain itu A-Aku juga tidak tahu cara memanjakan wanita ok, jadi...," gantung Naruto sambil mengalihkan wajahnya.

"Ne, Kau tahu?" tanya Arthuria sambil mengelus pipi Naruto dan mengangkat dagu Naruto, "Aku rasa dirimu yang sekarang tidaklah buruk," lanjut Arthuria sambil tersenyum.

"Begitu juga dirimu," balas Naruto lalu kembali berciuman dengan Arthuria, lengan Arthuria mengangkat sweter miliknya dan memperlihatkan dadanya yang tertutup oleh bra hitam, Arthuria pun menuntun tangan Naruto untuk membuka Bra-nya lalu melepaskan ciuman mereka ketika Bra-nya terlepas.

"Tolong manjakan aku seperti yang lainnya, Anata."

.

Arthur yang ada di ruang tamu duduk diam dengan wajah merona ketika sesekali telinganya mendengar suara gaduh di kamar kakaknya, ia pun mengambil tisu dan menyumbat telinganya agar suara-suara yang mengganggunya itu tidak terdengar.

'Sialan, mereka sangat berisik sekali.'

"Jika kau punya kekasih kau juga pasti akan begitu, Nii-sama," celetuk Le Fay lewat di belakang Arthur dan Arthur sangat mendengar jelas perkataan Le Fay.

"Jangan membaca pikiranku baka-imouto!"

.

.

Texas, Lappland dan Whizly Side

.

Sementara itu, di tempat para murid Naruto, saat ini mereka berkumpul diam di sebuah gang sepi tanpa ada siapa pun di sana. Mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

Blam!

Setelah itu, Lappland meninju dinding di sampingnya dengan keras hingga membuat bunyi yang sangat keras serta membuat retakan pada dinding tersebut.

Ekor Lappland berdiri dengan tegak serta bulunya yang membesar menandakan dirinya sangat marah saat ini, Texas yang melihat kakaknya melampiaskan kemarahannya pada dinding tak bersalah tersebut.

"Tenanglah, Nee-san... Kita sudah di beritahu tadi bukan? Ia juga akan mencari bantuan untuk menyelamatkan Naruto-sensei," ujar Texas.

"Tapi kenapa harus Baka-sensei yang selalu menjadi incaran?! Apa salahnya?! Aku tahu dia cukup mengesalkan tapi dia bukanlah orang yang sangat buruk, apa mau mereka?!"

"Tenanglah, aku sudah bilang padamu untuk tenang, bukan hanya kau yang marah di sini Nee-san, jadi tolong hargai kami," balas Texas, "Kita sudah dengar bahwa mereka berniat melakukan Revolusi, bisa di pastikan mereka ingin menguasai seluruh Dunia, dan kita tahu... Seluruh alat canggih yang mereka punya di bantu oleh Sensei dan kenapa mereka mengincar Sensei, mereka pasti memiliki dendam karena Sensei menciptakan alat yang menyakiti mereka, bisa di simpulkan mereka adalah buronan yang lepas."

"Jadi untuk berhasil melakukan Revolusi mereka harus membunuh satu orang yang merupakan masalah terbesar mereka."

"Jadi kita harus apa, Nee-chan?" tanya Whizly sambil menatap Texas. "Untuk saat ini kita harus melatih kemampuan kita hingga 2 bulan di mana mereka akan melakukan penyerangan, selain itu kita juga tidak boleh memberitahu kelompok Sensei mengenai ini agar tidak mengganggu konsentrasi mereka," jawab Texas dan di jawab anggukan lemah oleh Whizly dan Lappland.

"Ha'i!" setelah itu mereka pun memutuskan untuk kembali ke DSA, namun langkah mereka terhenti sesaat karena telinga mereka seperti mendengar sebuah suara orang kesakitan.

"Apa kalian mendengarnya?" tanya Texas. "Mungkin itu dari bangunan sebelah," jawab Lappland berpikir positif, Texas pun menggumam pelan dan mencoba berpikir positif.

Mereka pun melanjutkan jalan mereka dan ternyata, beberapa meter dari tempat mereka terdapat sosok perempuan tengah mencengkeram kepala seseorang dengan lengannya lagi satu menembus dada orang tersebut dan di sekitarnya terdapat banyak mayat dengan tubuh tak berbentuk yang membuat tempat tersebut di penuhi genangan darah.

Perempuan tersebut pun menarik tangannya yang menembus dada orang tersebut memperlihatkan tangannya yang menggenggam jantung orang tersebut lalu membiarkan orang tersebut jatuh karena sudah tidak bernyawa lagi.

Perempuan tersebut memakan jantung tersebut hingga habis membuat bibirnya di penuhi darah, perempuan itu pun membersihkan bibirnya lalu menatap datar sekumpulan mayat di sekitarnya.

"Aku bingung bagaimana orang-orang bodoh ini bisa masuk ke dalam Black Army," gumam perempuan tersebut lalu melangkah pergi meninggalkan tempat kejadian sambil mengenakan jubah Black Army dan mengambil salah satu topeng yang dia simpan di balik jubah.

"Walau begitu, Naruto-kun memberikanku tugas yang sangat aku sukai," lanjutnya, "Aku harus berterima kasih padanya jika sudah bertemu nanti."

.

Naruto Side

.

Sementara di tempat Naruto, saat ini ia telah siap untuk pamit karena sudah waktunya dia kembali, namun Arthuria menahannya di pintu kamarnya dengan menahannya dan mencium bibir Naruto hingga dia puas.

Beberapa menit berlalu, Arthuria pun melepaskan ciumannya dan menempelkan keningnya di kening Naruto sambil mengatur nafasnya yang memburu.

"Kau sudah puas?" Arthuria yang mendengar itu menggumam pelan lalu menyentuh dada Naruto. "Gomen... Aku tidak bisa menahannya," ucap Arthuria sedikit menundukkan kepalanya.

"Tidak apa, yang lainnya juga seperti itu," balas Naruto sambil tersenyum kecil lalu mengecup Arthuria sesaat, "Lagi pula aku menyukai sifatmu yang sekarang ini, sungguh agresif."

Arthuria yang mendengar itu memukul pelan dada Naruto membuat yang di pukul tertawa kecil, mereka pun sama-sama keluar dari kamar tersebut menuju teras.

Setelah sampai teras, Naruto membalikkan badannya lalu menyentuh tangan Arthuria dan mengecupnya sambil tersenyum, "Sampai jumpa lagi, Hime."

Setelah mengatakan itu, Naruto langsung terbang untuk kembali ke rumahnya meninggalkan Arthuria yang membatu dengan wajah memerah.

"Nee-sama!" Arthuria yang di panggil tersentak dan menoleh ke arah belakang di mana terdapat Arthur yang melihat ke arahnya sambil melipat tangannya di dada.

"Ha-Ha'i?"

"Ayo masuk, di luar sangat dingin." Arthuria yang mendengar itu mengangguk pelan lalu melangkah masuk ke rumah, "Jadi... Berapa kali kalian melakukannya? Kalian sampai tidak sadar bahwa perbuatan kalian dapat kami dengar," lanjut Arthur membuat Arthuria memerah dan langsung memukul kepala Arthur berkali-kali.

"Ne-Nee-sama! He-Hentikan! Baik! Baik! Maafkan aku!"

Sementara itu di tempat lain kediaman Arthur, tampak sang ibu Arthuria menyentuh pipinya yang merona sambil bergumam 'Ara~ Ara~' dan sang ayah yang duduk tenang sambil melakukan pekerjaannya di sertai hidung tersumbat tisu.

.

"Huft~ akhirnya selesai juga, dan juga... Aku bingung bagaimana bisa aku masih tampak sehat walau mereka telah mengambil jatah mereka," gumam Naruto sambil berpikir keras, bagaimana bisa? Padahal dia sama sekali tidak meminum obat penambah tenaga sedikitpun.

"Hahh~ aku tidak tahu lagi... Lalu, besok aku harus menepati janjiku dengan Lappland-chan, Huft~ mendokusei," gumam Naruto lalu menambah kecepatannya menuju DSA.

.

.

DSA Weapon Dragon

18.00 PM

.

Sesampainya di kamarnya, Naruto langsung berbaring di kasur dan menghela nafas kembali, "Hahh~ aku sangat merindukanmu, kamarku."

Beberapa menit berbaring, Naruto bangun kembali dan tersentak ketika bagian mejanya sedikit berantakan padahal seingatnya dia sudah merapikannya.

Dia pun bangkit dari kasurnya dan merapikan mejanya namun baru beberapa yang dia rapikan, ia menghentikan kegiatannya ketika melihat catatan-catatannya yang penting terbuka.

Pst!

Naruto mengalihkan pandangannya ketika pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan para muridnya yang menatapnya diam.

"Errr... Hai, bagaimana keadaan kalian?" tanya Naruto sambil tersenyum kaku. Mereka tak menjawab melainkan berlari ke arahnya dan memeluk dirinya dengan erat membuat Naruto kebingungan dengan tingkah mereka.

"Ok... Ada apa dengan kalian?"

"Gomen, kami hanya senang kau baik-baik saja karena pergi selama dua hari tanpa memberi kabar," jawab Texas lalu melepaskan pelukannya.

"Ah, Souka? Gomen kalau begitu," ucap Naruto meminta maaf, "Jadi... Kalian yang membuka catatanku kemarin?"

Whizly dan Lappland menunjuk Texas, "Sebenarnya hanya aku, Sensei... Gomen catatan anda sangat menarik membuat saya ingin membaca semuanya."

"Souka, ya aku tidak akan mempermasalahkannya, salahku juga membuat kalian kesepian di sini," balas Naruto lalu menatap Lappland yang sejak tadi terdiam, "Ada apa Lappland-chan? Apakah kau sakit? Kau tidak bersuara sedikit pun tadi?"

Lappland menggeleng kepalanya lalu tersenyum tipis untuk menutupi ekspresi aslinya, "Aku tidak apa, aku hanya terlalu banyak pikiran saja."

"Souka, kalau begitu besok aku akan menepati janjiku padamu untuk menghilangkan pikiranmu itu, jadi bersiap-siaplah besok," ajak Naruto sambil mengelus kepala Lappland.

"Ha'i."

Melihat tingkah Lappland tidak seperti biasanya membuat Naruto semakin curiga, namun Naruto menahannya agar bisa mencari tahu besok.

Setelah itu Naruto pun keluar dari kamarnya untuk memberitahukan Asia bahwa dirinya sudah kembali.

"Nee-chan," panggil Texas membuat Lappland mengangguk pelan. "Ya aku tahu, aku akan membuatnya tidak mencurigaiku," ucap Lappland sambil menepuk-nepuk pipinya.

'Aku... Harus semakin kuat agar bisa melindungi, Baka-sensei... Dia sudah menolong kami dan sekarang... Saatnya aku yang menolong Baka-sensei.'

Sementara di sisi Naruto, saat ini dia di dapur dengan Asia yang menciumnya dengan liar, awalnya dia memeluk pinggang Asia untuk mengejutkannya... Memang berhasil, dan tak berselang lama Asia langsung menciumnya dengan liar.

'Apa yang terjadi dengan Lappland... Besok aku harus mencari tahu apa yang terjadi dengannya,' batin Naruto sambil mengikuti alur yang di buat oleh Asia.

.

.

Samudra Atlantic

.

Sementara itu di kedalaman 5 Km di Samudra Atlantic terdapat sebuah kurungan besi yang di jaga oleh banyak kapal selam, dan di dalam kurungan tersebut terdapat perempuan berambut putih tengah di borgol tangannya.

Perempuan itu membuka matanya yang terpejam memperlihatkan matanya yan merah lalu tersenyum mengerikan.

"Akhirnya aku akan bebas dari kurungan ini."

"Aku tidak sabar merasakan udara segar kembali."

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Selanjutnya di Naruto : The Dragon Future

"Sebenarnya ada apa denganmu?"

"Urusai na Baka-sensei!"

"Hahahaha! Wajahmu sungguh lucu sekali!"

"Kau sudah tenang sekarang?"

Selanjutnya di Chapter 56 : Dragons Champions Arc V : Slice of Life : Teacher and Student Part 3.

Note : Yo minna-san! Saya kembali.

Huft, ternyata cukup susah banget ya, mengetik cerita jika kita memiliki waktu untuk pekerjaan kita.

Well, seperti yang kalian lihat di atas saya hanya memberikan FanService untuk imajinasi kalian :v, jangan harap ada lemonnya sekarang.

Para Servant telah mendapat jatahnya, dan Chapter berikut adalah untuk memperkenalkan lebih dalam mengenai karakter Lappland.

Lalu, saya juga memasukkan karakter OC kembali di team Ayah Kurumi yaitu Venna penampilannya mirip seperti Bishamon yang ada di Noragami.

Dan karakter terkuat di Boku no Hero, yaitu All for One, untuk menambah peran Antagonis saya memasukkan dia karena memang dia kuat dan jahatnya luar biasa.

Lalu siapa perempuan hang di kurung di Samudra Atlantic? Akan terjawab di Chapter depan, dan saya pamit undur diri sampai bertemu lain waktu Jaa~ na~

4kagiSetsu Out