My heart that is stained with a belated self-hatred

Gets emptied even by that wind brushing by

-Outro Tear, Bangtan Seonyeondan

An AgonUnsui fanfiction

Tear

By Lala-chan ssu

Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Waste It on Me and Tear belongs to BTS dan BigHit

Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, trigger warning, timeline after Enma, dll

Read at your own risk

~~oo00oo~~

Chapter 2: Waste It on Me

~~oo00oo~~

Aku tahu tidak bisa memperbaiki ini

Dan aku tahu tidak bisa mengubah pemikiranmu

Setelah beberapa menit duduk sendirian di taman, Unsui memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Angin berhembus semakin kencang, seolah mengejeknya. Untunglah besok hari sabtu jadi ia bisa beristirahat sedikit.

Begitu ia membuka pintu apartemennya, ia langsung meletakkan tasnya di sudut ruangan dan menggelar futon di dekatnya. Ia bahkan tak mau repot-repot menyalakan lampu. Tatapannya terfokus ke atap di atasnya.

Setelah Aishi meninggalkannya, pikirannya sudah kosong. Tanpa sadar ia menggerakkan tangannya ke perutnya. Setidaknya sekarang ia tinggal memutuskan ingin berbuat apa untuk dirinya sendiri.

Matanya memejam. Ia ingin membicarakan hal ini. Tapi dengan siapa?

~~oo00oo~~

Suara grasak-grusuk membangunkan Unsui dari tidurnya. Ia buka matanya perlahan dan mengerjap, memproses cahaya yang masuk. Ia bangun dan menahan tubuhnya dengan tangan kanan. Hal pertama yang ia lihat adalah sosok orang sedang menggeledah lemarinya.

Matanya memicing. Sial, pandangannya kabur. Yang ia tangkap adalah sekelebat ungu. Setelah ia bisa memfokuskan pandangannya, barulah ia bisa melihat siapa sosok itu dengan jelas.

"Agon? Apa yang kau lakukan?"

Agon menoleh. Di tangan kanannya terdapat sebuah sarden kalengan.

"Bangun juga kau, Unko-chan."

"Kau tidak menjawab pertanyaanku. Lagipula bagaimana kau bisa masuk?"

"Kau tidur seperti orang mati padahal aku mendobrak pintumu. Kau sendiri bisa-bisanya meninggalkan pintu tak terkunci semalaman."

Mata Unsui membelalak kaget. Begitu sampai ia langsung tertidur saking lelahnya. Ia juga ingat tak menyalakan lampu atau mengganti pakaiannya. Seragamnya masih menempel utuh di tubuhnya.

"Kalau kau tidak mengunci pintumu dengan benar akan ada alpha mesum yang masuk seenaknya lho." Ujar Agon. Ucapannya memang benar, tapi…

"Alpha mesum. Terdengar sepertimu."

CTASS urat kesabaran Agon putus dan tanpa sadar meremukkan kaleng sarden di genggamannya.

"Ah, itu kaleng sarden terakhirku-"

"Berisik! Nanti kubelikan lagi!"

"Kok marah sih?"

"Kau berharap aku tidak marah, hah?!" Agon berbalik dan langsung menghempaskan dirinya di hadapan Unsui. Unsui berjengit sedikit, tapi masih memasang tampang datarnya.

"Agon, kau ini kenapa sih?" Unsui menelengkan kepalanya sedikit dengan bingung. Adiknya memang tempramental, tapi ia jarang marah-marah besar tanpa alasan.

Agon merogoh kantungnya dan menunjukan sebuah foto pada Unsui. Melihat itu, Unsui membelalak.

Hasil USGnya

"Jelaskan apa ini, sampah."

Tangan Unsui mengepal. Matanya melirik ke arah lain, mencoba mencari alasan yang tepat.

Sial, kenapa hal seperti ini terjadi padanya. Kemarin Aishi, sekarang Agon. Apa memang ia tak ditakdirkan untuk menyembunyikan hal ini dari siapapun?

"Dengan siapa?"

Belum sempat Unsui membuka mulut, Agon sudah lebih dulu menginterogasinya. Unsui menatap Agon yang hanya dibalas tatapan yang tak kalah tajam. Unsui menunduk kembali dan menghela napas.

"Aishi."

"Kau sudah memberitahunya?"

"Sudah kemarin."

"Biar kutebak, dia tak mau tanggung jawab."

Sial. Unsui makin mengeratkan kepalan tangannya.

"Kau sudah tahu, tidak perlu bertanya lagi kan?"

"Lalu kau mau apa sekarang?"

Mau apa dia sekarang. Pertanyaan ini lagi. Ia sudah muak mendengarnya. Baik dari dokter Umemura, maupun dari dirinya sendiri.

"Agon. Kuberitahu satu hal, ini tak ada urusannya denganmu."

"Kau mau aku tidak peduli?"

Mendengar nada bicara Agon, tubuh Unsui berjengit seketika. Ini bukan kali pertama Agon bicara dengan anda seperti itu. Harusnya ia sudah terbiasa. Tapi instingnya seolah meneriakkan tanda bahaya. Ditambah lagi entah ini perasaannya saja atau apa, tapi feromon Agon seperti menguar begitu saja dengan liarnya. Refleks tangannya langsung menutup mulutnya. Seolah menahan apa yang ingin keluar.

"Oy Unko-chan. Kau kenapa?" tanya Agon. Hasil USGnya sudah ia taruh di tengah-tengah mereka.

Unsui bangkit perlahan. Tangan masih menutupi mulutnya. Ia melirihkan maaf dan berjalan perlahan ke kamar mandinya. Setelah ia masuk, ia langsung mengunci pintu di belakangnya. Tubuhnya langsung merosot turun dan terduduk di lantai.

Susah payah ia atur napasnya. Tangan kirinya menopang kepalanya sementara tangan kanannya terkulai lemas. Ia melirik ke sebelah kirinya, benda sialan itu masih ada di sana.

Test pack yang menunjukan hasil positif

Andai hasilnya tidak positif hidupnya tidak akan jungkir balik sekarang

Rasa mual kembali menyapanya. Ia mencoba bangkit untuk setidaknya menuju toilet dan memuntahkan apapun yang abru saja masuk ke tubuhnya. Meski akhirnya ia hanya memuntahkan air. Kalau diingat lagi, kemarin ia juga langsung tertidur tanpa makan apapun.

Tak pernah seumur hidupnya Unsui akan berpikir dia akan jadi orang tua yang buruk

Setelah menyiram toilet, Unsui segera keluar. Dilihatnya Agon masih di posisi yang sama seperti tadi. Unsui segera duduk kembali di hadapan Agon.

"Jadi kau mau apa?"

Unsui masih terdiam. Tatapannya lurus pada hasil USG di hadapannya. Ia membuka mulut sebelum akhirnya menutupnya lagi. Agon memperhatikannya dengan seksama. Gestur Unsui sangat mudah dibaca untuknya. Gestur ragu-ragu yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain.

"Aku tidak tahu."

Agon mengangkat alis. Ya, ia tak berharap mendapat jawaban langsung. Unko-channya memang selalu berhati-hati dalam bertindak. Tapi mengingat kejadian ini, ia tak bisa melihat kakaknya itu sebagai sosok yang berhati-hati.

"Lalu? Kau mau diam saja?"

"Aku tak bilang aku akan diam saja."

"Kau ragu."

Unsui meremas celana yang dikenakannya. Tatapannya beralih menuju mata Agon

"Kau tahu apa? Kau tidak akan pernah merasakan ini."

"Hoi, aku datang baik-baik untuk membicarakan ini denganmu-"

"Kau datang kemari seenaknya membawa kembali hasil tesku, kau kemari hanya untuk menertawaiku saja, kan?!"

"KENAPA KAU SELALU BERPIKIR AKU AKAN MENERTAWAIMU?!"

Raungan Agon seolah membisukan Unsui. Tubuhnya mundur sedikit dari kemarahan adiknya. Dari balik google yang dikenakannya, Unsui tahu Agon sedang menatapnya dengan tatapan paling membunuh.

"Kau selalu berpikir aku datang untuk menertawaimu, untuk meremehkanmu. Lalu kau menjauh begitu saja, kau sendiri tidak tahu apa-apa!"

Unsui mengatupkan bibirnya. Keheningan diisi oleh suara napas Agon yang memburu. Tangan Unsui terulur dan menyentuh wajah Agon. Ia dapat merasakan Agon berjengit, namun Agon malah menatapnya balik.

"Oy, apa yang kau lakukan?"

"Maaf."

"Hah?"

Unsui tak menjawab. Tangannya masih tetap di wajah Agon, bahkan ibu jarinya mengelus wajah adiknya pelan.

Agon tidak ingat kapan terakhir kali mereka sedekat ini. Kapan terakhir kali tangan mereka saling bergandengan. Kapan terakhir kali mereka masih sering memakai baju yang sama

Kapan terakhir kali Unsui berjalan di sisinya

Unsui menarik tangannya kembali dan menaruhnya di pangkuannya, cukup untuk membuat Agon sedikit kecewa. Ingat, hanya sedikit

"Lalu kau kemari untuk apa? Hanya ingin mengembalikan ini?"

Agon berdecak. Ia mengubah posisi duduknya sembari tangan kanannya mengacak gaya rambut dreadnya itu. Unsui masih memperhatikannya, cukup untuk membuat Agon masuk posisi awkward.

"Kau sendiri? Apa yang ingin kau lakukan?"

Unsui mengangkat bahu. "Entahlah. Aku tak tega menggugurkan mereka."

"Lalu? Kau ingin membesarkan mereka sendirian, begitu maksudmu?" seldiik Agon. Unsui mendengus.

"Memang aku harus apa lagi?"

Agon memicingkan matanya. Unsui sontak menelan ludah. Ia tidak merasa mengatakan sesuatu yang salah. Lantas…

"Unko-chan, kau gila?"

Unsui mengerjap.

"Syukurlah aku masih waras. Kenapa?"

"Aku tidak buta." Agon menegakkan posisi duduknya. "Dari foto itu, berapa anakmu? Dua, tiga. Kau yakin bisa melakukannya sendirian?"

Unsui semakin menelengkan kepalanya bingung. "Memang aku harus minta tolong pada siapa lagi?"

Agon ingin terjun saja dari lantai dua apartemen ini. Sifat Unsui yang tidak mau merepotkan orang lain bisa membuatnya gila cepat atau lambat. Melihat Agon yang sepertinya malah tersulut emosi membuat Unsui makin bingung.

"Oke. Begini saja." Agon menarik napas. "Anggaplah aku membantu bebanmu sedikit. Aku yakin dalam beberapa bulan kau tidak bisa pergi kerja. Kau tahu sendiri seberapa jauh tangga Shinryuuji kan."

Unsui mengerjap. Matanya mengatakan seolah ia sudah paham.

"Dengan kata lain, kau ingin bertanggung jawab?"

"Kau mau atau nggak?"

Unsui terdiam. Tak disangka Agon berbuat sejauh ini untuknya. Satu sisi di kepalanya berpikir bahwa ia sedang bermimpi atau berhalusinasi dan manusia di hadapannya ini bukan Agon.

"Kau diam, aku anggap itu iya." pernyataan Agon menyadarkan Unsui dari pikirannya.

"Jangan putuskan seenaknya!"

"Berisik. Kau tidak menolak juga."

Unsui menghela napas. Ia agak tidak enak kalau adiknya harus terlibat, tapi di satu sisi entah kenapa ia ingin melihat apa yang akan Agon lakukan. Unsui terkekeh pelan, asyik dalam pikirannya sendiri. Yah, tak peduli seberapa kurang ajar sikapnya, Agon tetap adiknya. Dan Unsui akan terus menyayanginya.

"Oh iya, Ikkyu dan si monyet itu sudah kuberitahu duluan."

Tarik kembali, Unsui ingin sekali menghajar adiknya itu sekarang.

"Kenapa kau memberitahu mereka?!" Unsui berteriak kesal.

"Mana kutahu, kupikir Ikkyu sudah tahu!"

"Tak kusangka kau bisa sebodoh ini."

"Aku bukan orang yang dengan naifnya percaya pada alpha yang tidak menandai omeganya!"

"Oh, diamlah!"

Unsui bangkit dari duduknya. Ia membuka kulkas kecil dan mencari apa ada sesuatu yang bisa dimasak untuk sarapan. Agon sendiri kembali duduk dan menatap ponselnya.

"Mereka khawatir. Lebih baik kau cepat beritahu mereka."

Gerakan Unsui terhenti. Ia melirik sedikit pada adiknya sebelum tersenyum tipis.

"Ya, aku akan memberitahu mereka nanti. Kau mau sarapan disini?" tawar Unsui.

"Hm, boleh."

Unsui mengeluarkan dua butir telur dan membuat omelet sederhana. Hal yang biasa dilakukannya saat SMA dulu.

Entah kenapa sebagian kekhawatirannya lenyap seketika

Jika bagimu cinta hanyalah membuang waktumu

Maka buanglah padaku

~~~TO BE CONTINUED~~~

*bangkit dari kubur* #La

YAHOOOO LALAAA TUMBEN UPDATENYA CEPAAATTT #heh Iya ini karena saya ditagih. Dan kebetulan dapet ide pas tadi pagi kejedot tembok. Jangan tanya hubungannya apa

Harusnya saya bisa update jam 5 tadi sore, tapi pas ngerjain saya malah joget-joget lagu Waste It on Me HAHAHA MAAFKAN

Oh iya soal Agon disini, aku make teori yang sempat kubuat di FB beberapa waktu lalu. Yang mau monggo bisa cek disini . /media_set?set=a.1324545637678657&type=3

Makasih untuk yang udah fav dan follow~~ aduh kaget ada yang mau aja baca fanfic incest nista begini #La

Dan untuk shunshines OHOHO MAAFKAN SAYA BUKAN SAYA DONG KALO MOTONGNYA GAK PAS RAME. INI UDAH UPDATE. GIMANA?

Tapi jadi pendekan ini sih. Duh maafkan

Akhir kata, review?