My heart that is stained with a belated self-hatred

Gets emptied even by that wind brushing by

-Outro Tear, Bangtan Seonyeondan

An AgonUnsui fanfiction

Tear

By Lala-chan ssu

Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, The Truth Untold and Tear belongs to BTS dan BigHit

Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, trigger warning, timeline after Enma, dll

Read at your own risk

~~oo00oo~~

Chapter 3: The Truth Untold

~~oo00oo~~

Ini takdirku

Jangan tersenyum padaku, menerangiku

Unsui mulai menyesali keputusannya

Disinilah ia, di depan pintu apartemen Ikkyu dan Monta. Dengan Agon di sampingnya, menunggunya menekan bel.

"Agon, kau saja yang tekan belnya."

"Haah? Gak mau. Kau yang setuju memberitahu mereka hari ini!"

"Tekan bel saja apa susahnya sih?"

"Itu kalimatku!"

Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan sosok Ikkyu yang menenteng kantung sampah, masih dengan kaus hitam dan celana jogger.

"Ah, Unsui-san, Agon-san. Selamat pagi." sapa Ikkyu yang dibalas sapa juga oleh Unsui dan Agon hanya menatap Unsui

"A-anu, soal kemarin…" ujar Ikkyu sambil menelan ludah. Agon memicing dan menyeret Unsui masuk ke dalam. Unsui membisikkan maaf dan hanya disambut tawa canggung dari Ikkyu.

Dan disinilah mereka, duduk berhadapan dengan tuan rumah. Unsui memainkan celananya gugup, Agon duduk dengan tangan direntangkan ke kepala sofa, sementara Ikkyu dan Monta duduk menunggu penjelasan. Kazuo duduk di dekat meja, memperhatikan keempat orang dewasa itu sambil menggumamkan bahasa bayinya.

"Anu… Unsui-san, soal yang kemarin…" Monta akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan.

"Ya, kalian sepertinya sudah tahu dari seseorang," Unsui menatap Agon tajam yang disapa oleh decihan kasar. "Dan ya, itu hasil tesku."

"J-jadi Unsui-san benar-benar hamil?" tanya Ikkyu. Unsui menggaruk tengkuknya dan mengangguk.

"Maaf, bukannya aku kepo atau tidak senang, sih… tapi kok bisa?" tanya Monta yang dihadiahi geplakkan di bahu.

"Kalau nanya yang peka sedikit bisa gak sih?!" bisik Ikkyu

"Aku kan nanya!"

"Ya kau pikirkan perasaan Unsui-san juga, dong!"

"Ah, benar juga! M-maaf, Unsui-san!" Monta buru-buru menundukkan kepalanya.

"A-ah, tidak apa kok. Tapi aku memang tidak ingin membahasnya sekarang. Hanya ingin memberitahu saja." Ujar Unsui. Agon meliriknya dari ujung matanya sebelum menggumam sendiri.

"Ng… ya, apapun yang terjadi atau apapun keputusan Unsui-san, kita semua akan mendukungmu kok!" Ujar Monta lengkap dengan cengirannya. Ikkyu juga tersenyum dan menatap Unsui.

Unsui menunduk. Senyuman tipis terukir di bibirnya. Ia bingung kenapa ia harus khawatir sebelumnya. Tak peduli apapun yang terjadi, temannya tak mungkin mengkhianatinya.

"Ya…terimakasih."

"Unsui-san," suara Ikkyu membuat Unsui kembali mendongak. "Apa Unsui-san ingin memberitahu yang lain, atau aku bisa memberitahu mereka?"

"Ah, sebisa mungkin aku ingin memberitahu mereka sendiri. Terima kasih sebelumnya."

Tanpa sadar Agon selalu memperhatikannya.

Setelah berbicara ini-itu, Unsui mengajak Agon pulang. Mereka pun pamit pada Ikkyu dan Monta sebelum berjalan beriringan. Waktu sudah menunjukan pukul dua siang. Agon teringat mereka belum makan siang. Baru ia ingin membuka suara, Unsui sudah bicara lebih dulu.

"Aku ingin memberitahu ayah."

~~oo00oo~~

Kau tahu aku tak bisa

Menunjukan diriku, memberikan diriku

~~oo00oo~~

Agon mulai merasa Unsui betul-betul sudah gila. Ah tidak, lebih tepatnya kehilangan urat takutnya. Entah ia dihampiri setan macam apa saat Agon tak melihat atau kepalanya terbentur apa karena memberitahukan hal ini pada ayah mereka tidak terdengar sebagai ide yang bagus.

Tapi, bukan Unsui kalau level keras kepalanya bisa disejajarkan dengannya. Karena itu, kini mereka sudah berada di ruang tamu rumah lama mereka. Di rumah tempat mereka tumbuh besar bersama.

Rumah itu tak banyak berubah. Posisi furnitur yang masih sama, benda-benda yang masih sama seperti terakhir kali mereka meninggalkannya, sebuah altar kecil di sudut ruangan juga masih sama.

"Jarang sekali kalian datang berdua." Sosok pria berumur dengan rambut yang sudah hampir seluruhnya memutih menaruh dua cangkir teh di hadapan mereka. Pria itu pun duduk dan tersenyum. Senyumannya masih sama, ditambah kerutan di wajahnya.

"Ah, iya. Aku yang mengajaknya kemari." Ujar Unsui. Tangannya lagi-lagi mengepal di lututnya.

"Yah, sudah kuduga. Agon tidak akan mau inisiatif datang." pria itu tertawa sementara Agon hanya mendecih.

Kalau boleh jujur, pria itu-ayah mereka jarang memperhatikan Unsui. Ia berdalih bahwa ia mempercayai anak tertuanya itu karena sikapnya yang tenang dan dewasa. Tapi satu sisi dalam diri Agon berfirasat bahwa ia mengabaikan Unsui karena dia omega. Unsui menyangkal bahwa tidak mungkin ayah mereka seperti itu, tapi Agon masih merasa kakaknya itu terlalu naif.

"Jadi, apa kalian ada perlu sesuatu?"

Unsui menengguk ludah. Tangannya meremas celananya dan sedikit gemetaran. Tanpa sadar, Agon menepuk bahunya. Unsui menoleh dan hanya menyunggingkan senyuman tipis.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya ayah mereka. Unsui menatap balik pria yang sudah mengurusnya bertahun-tahun itu dan menghela napas.

Tangannya meremas bajunya di bagian perut, seolah melindungi apa yang tumbuh di dalamnya. Ia sekali lagi menghela napasnya yang bergetar.

"Aku hamil."

Kata-kata itu keluar dengan lancar. Tapi Agon tau diam-diam Unsui ketakutan setengah mati. Sejak dulu ia sudah dikenal sebagai tipe anak yang penurut dan bijak. Mendengar kabar tak terduga seperti ini, siapa saja pasti akan kaget. Terbukti dari ekspresi ayahnya yang dari khawatir berubah menjadi lurus.

"Sungguhan?" nada bicara ayahnya mendingin, membuat tubuh Unsui berjengit seketika.

"I-iya…"

Ayahnya menghela napas kasar. Tangannya mengacak rambutnya seolah frustrasi.

"Ayah, maaf-"

"Kenapa kau minta maaf padaku?" tanya ayahnya tajam. "Kau tidak menghancurkan hidupku."

Unsui menunduk. Cengkraman tangannya menguat. Sekilas, Agon dapat melihat Unsui menahan tangisnya.

Ia tahu ayahnya tak pernah terlalu peduli padanya, tapi Unsui menghormatinya. Karena itu mendapat perkataan tadi pasti sama saja merenggut hati Unsui sejadi-jadinya.

"Kupikir kau sudah cukup pintar untuk mengendalikan dirimu sendiri. Pada akhirnya kau hanya omega yang membiarkan siapapun mendekatimu kan? Membiarkan mereka mengawinimu, menyerahkan dirimu seperti kau tak punya harga diri." Lanjut ayahnya. Unsui hanya menundukan kepalanya, tak berani menjawab.

Agon bangkit. Tanpa kata-kata, ia menarik tangan Unsui dan mengajaknya pergi dari ruang tamu, meninggalkan ayahnya yang kebingungan akan sikap putranya tersebut. Unsui sendiri keheranan namun tubuhnya entah kenapa mematuhi Agon begitu saja.

Agon melepas tangan Unsui begitu sampai di genkan. Dia langsung memakai sepatunya sementara Unsui menatapnya penuh tanya.

"Agon, apa-"

"Ayo. Kita pulang."

"Ap-kenapa-"

"Tidak ada artinya juga kau memberitahu pak tua itu. Ayo cepat." Agon langsung membuka pintu dan keluar rumah. Unsui juga terburu-buru memakai sepatunya dan meminta maaf pada ayahnya sebelum mengikuti Agon.

Mereka berjalan dalam diam. Agon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sementara Unsui menggenggam pegangan ranselnya.

Sosok Agon sekarang menjadi misteri baginya. Sikapnya tidak mungkin berubah dalam semalam, lagipula tabiatnya masih sama. Dan lagi Unsui tahu, lebih tahu dari siapapun, Agon bukan tipe yang akan berbuat sesuatu atas dasar kasihan. Lantas kenapa Agon berbuat sejauh ini untuknya?

Hati keci dan instinglnya berkata untuk mempercayai Agon, tapi kecemasannya membuatnya merasa harus waspada.

Getaran ponsel di sakunya menghentikan langkah Unsui. Ia membuka pesan masuk yang rupanya dari Sena

Unsui-san. Lama tidak jumpa. Aku sedang berkumpul dengan anak-anak Enma yang lain. Ah, ada Akaba-san, Hiruma-san dan Mamori nee-san juga karena diajak Suzuna. Apa Unsui-san mau ikut? Kita ada di kafe dekat pertokoan Deimon.

Kafe dekat pertokoan Deimon. Tempat yang dahulu hampir dihancurkan Kotaro dan Mizumachi saat mereka pulang latihan. Tempatnya tak jauh dari lokasi mereka sekarang. Ia melirik Agon yang juga sedang memeriksa ponselnya, namun buru-buru memasukannya lagi ke kantung celananya. Agon berbalik dan menatap Unsui.

"Kenapa?" tanyanya, terdengar kasar. Namun Unsui merasakan ada sedikit kekhawatiran disana. Atau mungkin hanya perasaannya saja?

"Mau ikut ke kafe dekat Deimon? Kobayakawa-kun mengajakku ke sana."

Agon terdiam, namun ia berjalan lebih dulu dari Unsui.

~~oo00oo~~

Dan aku tahu

Bahwa semua kehangatanmu itu nyata

~~oo00oo~~

Memberitahu teman-teman mereka sama mudahnya dengan memberitahu Ikkyu dan Monta. Meski reaksi yang didapat lebih bervariasi. Misalnya Kurita yang menangis senang, Suzuna yang melompat kegirangan dan tak henti mengucapkan selamat, Sena yang nyaris pingsan, Mizumachi yang ikut kegirangan, Kotaro yang menganga sambil menjatuhkan sisirnya, Akaba yang ber-fuuh ria, Hiruma yang entah mengapa tertawa setan, dan Mamori yang tersenyum lembut dan memberi berbagai macam saran, mengingat ia sendiri juga punya seorang putri dengan Hiruma.

Setidaknya Unsui bersyukur memiliki teman seperti mereka.

Unsui kembali ke apartemennya saat hari mulai sore. Unsui merogoh kantung jaketnya untuk mencari kunci dan membuka pintu apartemennya.

"Terimakasih sudah repot-repot mengantarku kesana-sini." Ujar Unsui. Agon hanya menguap santai.

"Aku menginap disini." Ujar Agon seakan sudah tahu Unsui sebentar lagi akan mengomelinya dan menyuruhnya pulang. Sebelum Unsui sempat membuka mulut, Agon sudah mengeloyor masuk.

Apartemen Unsui tak bisa dibilang luas. Lebih tepatnya, hanya sebuah ruangan kecil dengan dapur serta ruangan lain yang merupakan kamar mandi. Benar-benar hanya cukup untuk dihuni Unsui sendiri.

Unsui menghela napas. Protes pun Agon gak akan mendengarnya.

"Ada futon cadangan di dekat futonku. Aku ingin ganti baju dulu." Unsui pun mengambil beberapa potong pakaian dan hendak memasuki kamar mandi namun sebuah tangan memegang bahunya

"Buka bajumu." Perintah Agon.

"...hah?"

"Buka bajumu."

"KAU INI MIKIR APA?!" Unsui melempar pakaiannya yang dengan mudah ditangkap oleh Agon.

"Kau itu yang mikir apa. Aku hanya menyuruhmu buka baju." Balas Agon santai.

"Maaf setelah apa yang terjadi aku tak bisa mempercayai kata-kata itu."

"Aku sudah melihatmu telanjang berkali-kali! Sudah cepat!"

"Ta-"

"Unsui."

Bulu kuduk Unsui berdiri seketika. Jujur ia sudah tak pernah mendengar Agon memanggil namanya, ditambah dengan suara memerintahnya itu. Tangan Unsui bergerak perlahan, membuka kancing kemejanya satu per satu sebelum melucutinya ke lantai.

Agon menatapnya dari atas ke bawah, lalu melangkah mendekatinya. Saat merasakan tangan Agon di lengannya, mata Unsui otomatis memejam. Namun, Agon hanya membalikkan badannya.

Bekas gigitan kecil bertaburan di sekujur tubuh Unsui, terutama di leher. Kebanyakan sudah hampir memudar, beberapa membekas menjadi keunguan.

"Agon, apa-"

"Kau tidak membiarkannya."

Unsui kebingungan. Agon melepaskan lengannya dan menatap langsung ke iris keabuan Unsui.

"Kalau kau pasrah kau sudah ditandai sekarang. Tapi hanya ada bekas gigitan kecil yang bahkan tidak berhasil diselesaikan."

Unsui mengambil kemejanya di lantai dan menyampirkannya asal di bahu, yang penting bisa menutupi semua tanda yang Agon katakan tadi.

"Maksudmu apa-"

"Kau tidak menyerahkan dirimu." Agon memotong perkataannya. "Kau diperkosa."

Unsui menatap lantai, tak berani menatap langsung mata kembarannya. Agon mendecak dan mengacak rambutnya.

"Kau tahu tapi diam saja dan menerima perkataan pak tua itu-"

"Ucapannya tidak salah, Agon."

"Kau sudah melawan!" Agon meninggikan suaranya. "Setidaknya kau tidak terjebak dengan orang bodoh itu selamanya. Kalau memang kau memilih ingin melahirkan anak-anak itu, lantas itu salahmu?!"

Unsui menghela napas. Genggaman tangannya pada kemeja semakin erat.

"Hal itu…sudah tidak penting lagi."

Unsui berbalik dan memasuki kamar mandi. Suara pintu terkunci menggema. Agon menghela napas kasar dan duduk di atas futon. Ia benci ketika kakaknya menerima segala hal buruk yang menimpanya. Ia benci ketika kakaknya tak menyangkal perkataan buruk yang dilayangkan padanya.

Ia benci itu karena semua itu membuat Unsui lemah perlahan.

~~oo00oo~~

Aku takut, aku lelah, aku sangat takut

Bahwa kau akan meninggalkanku lagi

~~oo00oo~~

Setelah makan malam, Unsui dan Agon sudah tidur di futon masing-masing. Atau lebih tepatnya Unsui sudah tertidur. Agon masih membuka matanya lebar-lebar.

Agon memutar kepalanya ke samping. Wajah tidur Unsui sebegitu dekat dengannya. Tenang, tanpa pertahanan.

Hanya sedekat ini saja ia bisa lihat raut kelelahannya. Ia menanggung begitu banyak beban di pundaknya, namun yang ia tahu Unsui selalu berusaha berdiri tegak. Ia selalu berkata ia baik-baik saja dan tersenyum. Senyuman ramah yang selalu ia ingat.

Entah kapan terakhir kali ia mendapatkan senyuman itu setiap pagi.

Tangan Agon terangkat, sedikit menyentuh pipi kakak kembarnya. Ia terdiam sebentar sebelum menarik tangannya kembali. Ia menggerutu pelan dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh bahunya.

"Kakak kembar bodoh…"

Seandainya dulu

Sedikit saja

Aku memiliki keberanian untuk berdiri di hadapanmu

Apakah segalanya akan berbeda?

~~~TO BE CONTINUED~~~

*jedukin pala ke laptop* /La

HALOOO LALA BALIK LAGII iya bosen bat kan sekalinya balik malah muncul mulu. Kelakuan emang

Dan aduh ini apaan sih ini JELASIN KE SAYA INI APAAN MASYAALLAH OOCNYA UDAH PARAH INI *tenggak kunyit asem*

Dan sekali lagi, ini saya harusnya update dari pagi, tapi bagian awalnya susah ngebangunnya :' maapkeun lama ga nulis fanfic Eyeshield jadi gini.

Also, aku nyempilin HiruMamo sedikit disini AWKWKWKWKWKWK dan AkaKota kalo kalian menyipit sedikit.

Dan sekadar info lagi mungkin saya bakal lama lagi updatenya. Mungkin ntar sabtu atau minggu kalo kesambet saya bisa update sebelum resmi bakal hiatus update lagi karena udah masuk sekolah, PM, UPRAK, USBN, UN, SBMPTN dan kawan-kawannya. Derita kelas 12 begini amat ya :") #heh #gakusahcurhat

Makasih lagi buat yang udah sempetin diri baca sampahan hasil mimpi aneh saya suatu malam~ dimohon untuk para sider mulai memunculkan diri ya. Saia gak gigit kok (emang ada yang baca, La?)

Dan untuk shunshines, OHOHO IYA DONG~~ BOSEN TAU GANTUNG MULU. Kali ini ada brother fight lagi doongg hshshs aku suqa /yha Ini mungkin chapter depan nyeritain Unsui yang bakalan cuti ini sih. Apakah angst? Lihat saja ntar /ditampol

Akhir kata, RnR?