My heart that is stained with a belated self-hatred

Gets emptied even by that wind brushing by

-Outro Tear, Bangtan Seonyeondan

An AgonUnsui fanfiction

Tear

By Lala-chan ssu

Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Forever Rain and Tear belongs to BTS dan BigHit

Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, trigger warning, timeline after Enma, dll

Read at your own risk

~~oo00oo~~

Chapter 4: Forever Rain

~~oo00oo~~

Aku harap setiap hari hujan

Karena aku ingin seseorang menangis untukku

Akhirnya setelah beradu argumen panjang dengan Agon, Unsui memutuskan untuk meminta cuti. Menurut hasil pemeriksaannya juga, ia harus mengambil cuti karena daya tahan tubuhnya yang tiba-tiba menurun.

Pikirannya melayang ke kejadian sehari sebelumnya

~~oo00oo~~

Mentari sudah mulai muncul di ufuk timur. Udara yang cukup dingin membuat kondisi semakin nyaman untuk terus berbaring dan bersembunyi di dalam selimut yang hangat. Ditambah, ini hari minggu. Waktu yang sangat cocok untuk bersantai sebelum kembali ke kenyataan.

Namun sepertinya Tuhan ingin Agon kembali ke kenyataan lebih cepat.

Ponselnya yang ia taruh tepat di sampingnya berdering. Saat dibuka, rupanya pesan dari setan sialan bernama Hiruma Youichi yang menyuruhnya untuk datang ke apartemennya. Agon mulai berpikir kenapa ia menerima tawaran iblis Deimon itu untuk bekerja dengannya.

Ia bangkit dan mengucek mata. Setelah itu barulah ia sadar bahwa kakaknya tidak ada di sampingnya. Namun ia sadar pintu kamar mandi sedikit terbuka. Ia bangkit dan melangkah menuju ke depan pintu tersebut, membukanya sedikit untuk mengintip.

Yang ia lihat adalah Unsui, duduk di hadapan toilet dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat dan keringat jelas tercetak di kaus putihnya.

"Unko-chan."

Unsui mendongak. Agon menatapnya balik dengan tatapan datar. Unsui mendesah dan menyiram toilet.

"Kau kenapa?" tanya Agon.

"Tidak. Hanya mual sedikit." Jawabnya. "Maaf membangunkanmu."

"Ah, tidak. Si setan sialan itu yang membangunkanku. Dia menyuruhku ke tempatnya." Ujar Agon sambil mendecih. Unsui tertawa lemah.

"Ya sudah, jangan buat dia marah. Kau mau sarapan?"

"Cih, siapa dia mengaturku."

"Bukannya dia bosmu?"

"Tak perlu diingatkan."

Agon keluar dari kamar mandi lebih dulu dan mengacak rambutnya. Tangannya seketika berhenti ketika mendengar suara jatuh di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati Unsui jatuh dengan posisi terduduk.

"Unko-chan. Oy." Agon mendekati Unsui perlahan. Menyentuh lehernya dan merasakan suhu tubuh kakaknya yang dingin.

Sial.

Setelah buru-buru mengetik pesan pada Hiruma, Agon membawa Unsui ke rumah sakit.

~~oo00oo~~

Agon jujur saja sudah tak mendengarkan apa yang diucapkan dokter Umemura di hadapannya. Matanya tak lepas dari Unsui yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dadanya naik turun secara stabil, namun wajahnya masih pucat. Terlalu pucat.

"Aku akan menyiapkan hasil tes agar diberikan sebelum dia cuti. Setelah dia sadar dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dia sudah boleh pulang."

Agon menggumam dan membiarkan dokter Umemura pergi. Membiarkan ruangan tersebut hening.

Agon menghela napas dan mengecek ponselnya. Tak ada pesan balasan dari Hiruma. Ia mematikan ponselnya lagi dan menaruhnya di kantung. Ia terus memperhatikan wajah tidur Unsui.

Lama ia memperhatikan sampai ia mendengar erangan kecil. Mata abu-abu Unsui terbuka dan mengerjap, menyesuaikan cahaya yang diterima matanya. Lama ia terdiam sebelum menoleh dan menatap Agon.

"...Agon…?"

"Bangun juga kau."

Unsui mencoba bangun namun bahunya ditahan oleh Agon. Posisinya yang sudah setengah terbangun kembali menjadi berbaring.

"Kenapa aku disini?"

"Kau pingsan." Jawab Agon sekenanya.

Unsui terdiam. Ia mengusap wajahnya dan menghela napas.

"Maaf-"

"Bisa kau berhenti bilang maaf?"

Unsui terdiam. Ia menatap Agon yang memicingkan matanya.

"Kau minta maaf juga untuk apa. Tak ada yang perlu dimaafkan."

Unsui terdiam. Tangannya ia biarkan terkulai di sampingnya.

"Aku merepotkanmu."

"Kau lebih memilih kubiarkan pingsan di rumahmu?"

Nada bicara Agon meninggi. Unsui terdiam, tidak mau menjawab. Hanya mendapat hening, Agon mendecak dan bangkit.

Unsui hanya terdiam melihat tingkah adiknya. Seingat Unsui, Agon tak pernah punya masalah ketika ia terus menerus meminta maaf. Malah ia bersikap seperti sudah seharusnya ia meminta maaf.

Hati kecilnya merasa sedikit senang, tapi sesuatu di otaknya terus menjatuhkan mentalnya.

Ia disadarkan oleh suara ketukan pintu. Dokter Umemura masuk dan tersenyum padanya. Menjelaskan kondisinya secara singkat dan memberi beberapa hasil tes.

Saat pulang baik Agon dan Unsui tak ada yang bicara. Tak satupun.

~~oo00oo~~

Dan disinilah ia, bersiap meminta cuti. Agak keterlaluan memang, tapi ia cukup sadar diri. Tangga Shinryuuji terlalu jauh untuk ditempuh dengan keadaannya sekarang. Tadi pagi pun ia berangkat dengan susah payah, dan sampai dengan keadaan hampir pingsan lagi.

Tangannya terangkat, perlahan mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Sebuah suara memerintahkannya untuk masuk. Perlahan ia buka pintu di hadapannya.

Ruang kepala sekolahnya terbilang luas. Hanya terdapat sebuah meja kecil dan beberapa patung buddha. Dilihatnya ada kepala sekolah Shinryuuji yang dahulu merupakan wali kelasnya saat kelas dua. Ditambah ada sang wakil kepala sekolah.

"Ah, Kongo-kun. Jarang sekali melihatmu kemari. Apa kau perlu sesuatu?" tanya kepala sekolah. Hinamoto Shouyo merupakan sosok yang dikenal tegas sejak dulu namun dibaliknya memiliki hati pemurah dan tutur kata yang tenang. Dan bisa dibilang ia adalah salah satu guru yang menganggap Unsui setara dengan murid lainnya, terlepas dari status omeganya. Satunya lagi adalah pelatih Sendoda.

"Ah, ng… sebelumnya saya ingin anda membaca ini."

Unsui menyerahkan amplop cokelat yang sedari tadi dipegangnya. Hinamoto membuka amplop cokelat tersebut dan menjejerkan isinya, sesekali membetulkan posisi kacamatanya. Melihat kepala sekolah membaca dokumen itu satu per satu cukup membuat jantung Unsui serasa ingin copot dari tempatnya. Tanpa sadar ia menggenggam tangannya terlalu erat, meninggalkan sensasi panas dan perih.

Sejenak, Hinamoto terdiam. Ia berkali-kali melihat isi dokumen tersebut dan mengucek matanya. Sialnya, wakil kepala sekolah yang kebetulan berada di sana juga turut melihat. Rasanya ia ingin menghilang begitu saja dari dunia ini.

"Jadi," Hinamoto berdeham. "Menurut yang tertulis disini kau ingin meminta cuti yang cukup lama?"

"Iya, benar." Jawab Unsui. Suasana hening yang berat menelisik seluruh ruangan. Unsui menggigit bibir bawahnya.

"Pak, saya-"

"Bukankah itu aneh?" Unsui menoleh wakil, Higuchi Takano. Ia tak terlalu menyolok, tapi ia cukup terkenal sebagai seorang alpha yang memandang rendah omega. Higuchi bangkit dan berjalan ke sisi Unsui.

"Kau bahkan belum lama disini tapi sudah menuntut sejauh itu. Bagaimana pula caranya kau diterima disini?" tanya Higuchi tajam. Unsui tetap menatap lantai di bawahnya, bersikap seolah kata-kata Higuchi hanya angin lalu.

"Omega sejak awal memang harusnya diam saja." Lanjut Higuchi. "Kau cukup duduk diam dan dengarkan apa yang alpha katakan."

"Higuchi, hentikan-"

"Jika sudah seperti ini, seorang omega sudah tidak bernilai lagi." Suara Higuchi lagi-lagi memenuhi ruangan. "Bukan begitu, Kongo-kun?"

"Pak." Unsui menarik napas dan menghembuskannya. "Saya mengerti bila permintaan ini tidak mungkin, jadi-"

"Tidak mungkin? Ini sudah bukan tidak mungkin lagi."

"Higuchi." Suara Hinamoto memotong perkataan Higuchi. Higuchi menunduk dan menjauh dari Unsui.

"Aku yang berhak memutuskan disini." Kata Hinamoto final. Hinamoto menatap Unsui yang masih menunduk.

"Kongo-kun, tegakkan kepalamu." Unsui mendongak dan disapa oleh wajah kepala sekolahnya yang menatapnya lembut.

"Aku mengerti keadaanmu, tapi maaf. Aku tak bisa memberikan cuti penuh padamu."

"Pak, saya-"

"Karena itu saya akan menjelaskannya nanti. Kau bisa mulai cuti besok bila keadaanmu semakin parah." Ujar Hinamoto sembari membereskan berkas-berkas tadi kembali ke amplop. Ia menyerahkannya lagi pada Unsui sambil tersenyum. Unsui membungkuk berterimakasih dan segera pergi menuju kelasnya.

Sungguh ia benar-benar berterimakasih pada kepala sekolahnya itu.

~~oo00oo~~

Aku berdiri di kegelapan

Menunduk, menatap kakiku

~~oo00oo~~

Unsui kini kembali ke ruang kepala sekolah, saling duduk berhadapan. Suasana sekolah sudah sepi. Saat ia beranjak pulang, Hinamoto menghampirinya dan mengajaknya ke kantornya.

Hinamoto menaruh dua cangkir teh di mejanya. Ia langsung menyesap tehnya, sementara Unsui masih duduk diam di tempatnya. Antara kebingungan dan takut.

"Ada apa?" tanya Hinamoto. Unsui hanya menggeleng pelan. Hinamoto tersenyum dan menaruh cangkir tehnya.

"Melihatmu tadi aku jadi teringat istriku di rumah." Hinamoto membuka pembicaraan. "Istriku memang pendiam, tapi dia bisa keras kepala. Dia akan melakukan apa saja kalau sudah menetapkan hatinya."

Unsui mengangguk pelan, masih tidak mengerti kenapa Hinamoto mengajaknya kemari.

"Lalu, aku juga teringat anakku. Dia sudah masuk universitas sekarang. Aaahh, rasanya baru kemarin ia berlarian ke pangkuanku. Dia sudah jadi gadis dewasa, persis ibunya." Hinamoto mendesah dan kembali menyesap tehnya. "Suatu saat nanti juga kau akan merasakannya."

Unsui hanya mengeluarkan respon seadanya, masih kebingungan. Hinamoto menatap Unsui sebelum terkekeh pelan.

"Kau tidak perlu memikirkan ucapan Higuchi. Dia memang seperti itu." Hinamoto menaruh cangkirnya.

"Kongo-kun, kau anak baik. Sejak dulu." Lanjutnya lagi. "Aku tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi padamu, tapi kau berani menanggung semuanya. Kebaikan hatimu dan keyakinanmu masih sama seperti dulu." Unsui terdiam. Matanya beralih menuju cangkir teh di hadapannya.

"Selama kau di rumah, aku ingin kau tetap membuat materi pembelajaran. Kau bisa mengirimnya lewat surel atau dikirimkan kemari, juga tetap membuat soal ujian semampumu." Ujar Hinamoto. Ia kembali menengguk tehnya dan tersenyum.

"Kau tidak perlu takut bicara padaku. Omega atau bukan, manusia tetaplah manusia." Hinamoto menepuk bahu Unsui. Unsui tersenyum, mencoba menahan air mata yang akan mengalir begitu saja.

"Terimakasih, Hinamoto-sensei." ujarnya. Mendengar itu, Hinamoto mengerjap dan tertawa.

"Ayo diminum tehnya, ini kesukaanku."

"Ah, terimakasih."

~~oo00oo~~

"Pulang juga kau."

Yang tidak Unsui duga adalah Agon berdiri di depan pintu apartemennya. Ia pikir Agon masih marah padanya. Unsui membuka pintu apartemennya tanpa berkata apa-apa. Agon juga langsung menaruh tasnya dan membuka asal pakaiannya, seolah berada di rumah sendiri.

Unsui langsung berkutat di dapur. Mengambil beberapa bahan dari kulkas dan mulai mencuci dan memotongnya.

"Sudah minta cuti?"

Suara Agon memecah keheningan. Unsui melirik dari ujung matanya sebelum lanjut memotong wortel.

"Sudah."

"Tidak ada komentar apa-apa?"

"Terlalu banyak komentar."

"Huh."

Suasana kembali hening. Hanya ada suara pisau bertemu dengan talenan dan air yang mendidih.

"Kau mandi dulu sa-"

"Unsui."

Unsui menghentikan gerakannya. Lagi-lagi Agon memanggil namanya. Entah kenapa hatinya terasa geli mendengarnya.

"...kenapa?"

Agon bangkit dan berjalan mendekati Unsui. Terus mendekat hingga jarak mereka tidak lebih dari dua centimeter. Unsui menumpu tubuhnya ke pinggiran meja dapur, menatap adiknya.

"Agon, apa-"

Kata-katanya terhenti saat ia merasakan ibu jari Agon di bibirnya. Agon melepas google yang biasa ia kenakan sehingga Unsui bisa melihat langsung mata abu-abunya yang begitu mirip dengan miliknya.

Mata yang selalu terlihat meremehkan dan penuh hasrat membunuh.

Hening berlangsung lama. Tak ada pergerakan apapun. Sesekali Agon menyapukan ibu jarinya di belahan bibir Unsui.

"...untuk apa kau melakukan ini?"

Unsui mengerjap. Agon terus menatapnya, menuntut jawaban.

"Aku tak mengerti maksudmu."

"Kenapa kau menerimaku?"

Pertanyaan yang aneh. Unsui mulai curiga adiknya kerasukan sesuatu.

"Kau yang menawarkan diri."

"Apa kau membenciku?"

Pertanyaan aneh lainnya.

"Sejak kapan aku membencimu?"

"Kau menjauhiku."

"Bukannya kau yang menjauhiku?"

Agon terdiam. Ia mendekatkan jarak wajahnya dengan Unsui. Tanpa sadar Unsui memejamkan mata. Mereka bisa saling merasakan nafas masing-masing.

Unsui merasa nafasnya sedikit lega. Ia buka matanya perlahan dan dilihatnya Agon yang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.

"Ah, sudahlah. Percuma nanya. Aku mau mandi."

Dengan itu, Agon langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Unsui terdiam, mencoba mengatur nafasnya.

Sejak kapan Unsui menjauhi Agon?

Kenapa ia merasa bersalah?

Aku tidak hidup karena tidak bisa mati

Tapi aku terikat oleh sesuatu

~~~TO BE CONTINUED~~~

Yak segitu saja chapter kali ini, monggo dilanjut ke chapter berikutnya~ adios~~