My heart that is stained with a belated self-hatred

Gets emptied even by that wind brushing by

-Outro Tear, Bangtan Seonyeondan

An AgonUnsui fanfiction

Tear

By Lala-chan ssu

Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Promise and Tear belongs to BTS dan BigHit

Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, trigger warning, timeline after Enma, dll

Read at your own risk

~~oo00oo~~

Chapter 5: Promise

~~oo00oo~~

Aku duduk sendirian, merosot jatuh

Dan merusak diriku dengan pikiran ini

Kau menjauhiku

Kata-kata Agon terus terngiang di kepalanya. Di hadapannya adalah kumpulan kertas berisi materi pembelajaran yang dibuatnya. Tanpa sadar ia malah memikirkan Agon dan perkataannya semalam.

Unsui menghela napas. Tangan kirinya menyentuh perutnya yang sudah sedikit membuncit, menandakan kehidupan di dalamnya tumbuh dengan baik. Tangan kanannya lanjut menulis di atas kertas. Suasana benar-benar sunyi. Hanya suara angin yang menemaninya.

Akhirnya, Unsui menyingkirkan tumpukan kertas yang sudah sejak tadi digelutinya. Ia menaruhnya di lantai dan membereskan alat tulisnya lebih dulu. Ia rapikan tumpukan kertas itu dan memasukannya ke dalam amplop cokelat besar. Lain kali ia buat program pembelajaran dari komputer sajalah.

Pikirannya kembali ke saat ini. Matanya menerawang jauh, memikirkan maksud perkataan Agon. Ia sendiri tak ingat pernah menjauhi Agon. Adiknya sendiri yang melepaskan diri begitu saja.

Adiknya sendiri yang melangkah jauh, mengenakan titel jenius dengan bangga

Meninggalkannya jauh di belakang

~~oo00oo~~

Agon mengetuk-ngetuk jarinya ke meja dengan kesal. Setumpuk pekerjaan yang sudah ia selesaikan teronggok begitu saja di sudut meja. Beberapa pekerja yang kebetulan berada di sana segera menjauh karena aura membunuh Agon yang amat dahsyat.

Waktu sudah menunjukan pukul duabelas. Beberapa karyawan lain mencoba mendekati Agon namun hanya dihadiahi deathglare yang membuat mental menjadi ciut. Sudah bisa ditebak, para karyawan langsung lari terbirit.

Mending jangan gangguin macan yang sedang kesal deh!

"Kekekekeke! Kenapa mukamu itu hah, dread sialan?"

Suara setan lainnya. Agon memicing kesal pada sosok Hiruma yang tengah memasang senyuman (baca: seringaian) setannya.

"Tidak ada urusannya denganmu, sampah! Menjauh dariku!" Sungut Agon. Oh betapa Agon sangat berani mengingat jabatan Hiruma ada di atasnya. Namun karyawan lain sudah terlalu takut untuk menegurnya.

"Kekeke. Ikut denganku, dread sialan! Kau harus laporkan hasil pekerjaan secepat dewamu itu padaku!"

"Jangan memerintahku, bodoh!"

"Kekeke apa aku memberikanmu pilihan? Ayo cepat!"

Di sebuah restoran, Hiruma dan Agon nampak duduk di sebuah meja samping jendela. Percakapan mereka nampak tenang, namun aura iblis menguar ke seluruh ruangan.

"Kekekeke. Akhirnya ketahuan juga penipu sialan itu menutupi banyak kelebihan dana di proyek yang tidak seharusnya. Kau bisa diandalkan juga untuk hal ini, dread sialan."

"Heh! Aku ogah melakukan hal ini lagi kalau bayaranku tidak tinggi."

"Ya ya ya, soal itu mudah untukku. Setidaknya para penipu sialan itu bisa berlutut di bawah kakiku, kekekekeke!"

Beberapa pegawai kantoran yang datang untuk makan siang menatap meja tersebut dengan tatapan tak nyaman. Bau setannya kemana-mana, bok.

"Lalu? Bagaimana dengan si botak sialan itu?"

Agon mengangkat alis. Entah kenapa ia merasakan firasat buruk dari pertanyaan Hiruma.

Tapi memang pertanyaan Hiruma selalu mencurigakan sih

"Hah? Apa urusanmu, sampah?" Agon bersender dan mengorek telinganya. Hiruma hanya menyeringai sambil memainkan senjatanya.

"Tiba-tiba saja dia datang kalau dia hamil, dan dia kebetulan bersamamu. Bukankah itu mencurigakan, hm?"

"Kau pikir aku yang melakukannya? Bukan, bodoh!"

"Berarti itu tidak ada urusannya denganmu, kan?"

"Kau sendiri tidak punya urusan apapun soal ini."

Seringaian Hiruma menipis, namun seringaian itu masih tercetak di wajahnya. "Aah, aku paham. Mencoba membangun kembali hubungan yang sempat berakhir buruk, hm? Kau kasihan padanya?" selidik Hiruma. Dimasukannya permen karet tanpa gula kesukaannya itu ke antara giginya yang taring semua. Agon mendecih.

"Dia tidak butuh dikasihani. Dia tidak selemah itu." Agon menumpukan dagunya, menatap jalanan ramai di luar jendela.

"Lalu? Kau membencinya tapi masih membantunya. Apa itu namanya kalau bukan kasihan?"

Agon bangkit dan menarik kerah kemeja Hiruma. Matanya menatap langsung iris emerald di hadapannya. Penuh dengan nafsu membunuh.

"Aku tak pernah membencinya." Geram Agon. "Tak pernah sekalipun."

"KEKEKEKEKE! Kau gampang banget dipancing. Kekekekeke!" Hiruma tertawa terbahak-bahak. "Lumayan, lumayan. Ancaman baru…kekekeke!"

"Kauu! Setan pirang!"

Hiruma asyik tertawa terbahak-bahak sementara Agon susah payah untuk tidak menghajar setan Deimon di hadapannya ini. Bagaimanapun, dia masih dibayar oleh setan satu ini.

"Yak, seperti yang kau bilang ini bukan urusanku. Tapi bukankah kau sedikit gegabah, dread sialan?" tanya Hiruma. Ekspresinya kembali tenang.

Agon terdiam. Ia duduk kembali ke tempatnya dan menatap jalanan.

"Kau sadar kau juga menaruh hidup kakakmu dalam bahaya disini. Tak peduli akan apa yang kukatakan atau apa yang pemerintah katakan, mereka masih akan mengincar siapapun yang sudah memegang rahasia mereka. Baik kau atau aku."

Agon mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia tak bisa menyangkal atau membantah kata-kata Hiruma. Karena memang benar. Ia mempertaruhkan nyawa Unsui disini, tapi untuk apa? Pada akhirnya dia juga bertindak egois.

Tapi ia tidak mau semua yang dimilikinya dan kakaknya semakin hancur

~~oo00oo~~

Sejak kapan kau mulai menyakitiku?

Kau sendiri juga tidak tahu

~~oo00oo~~

Kalau kau pikir Agon lah yang lebih dulu memalingkan wajahnya dari Unsui, kau salah besar.

Kalau kau berpikir bahwa Agon lah yang selalu berjalan lebih dulu dengan arogannya, kau salah.

Agon memang brengsek, tapi ia tidak serta merta menjadi orang brengsek.

Hidupnya bisa dibilang terlalu mudah. Ia diberkahi bakat yang sempurna, semua orang mengelu-elukan namanya, statusnya sebagai alpha membuatnya semakin disegani.

Sangat berbanding terbalik dengan Unsui. Ia terlahir biasa saja, ditambah statusnya sebagai omega. Ia tak pernah dilihat, kerja kerasnya pun tak terbayar.

Unsui mengalami heat pertamanya dua hari sebelum kematian ibu mereka. Ibu mereka sudah lama sakit-sakitan, dan akhirnya ia menyerah. Bahkan saat ibunya dimakamkan, Agon tidak bisa meneteskan satu air mata pun. Pikirannya jauh pada Unsui yang ditinggal di rumah. Ia tak pernah tahu seperti apa omega yang sedang heat. Yang ia tahu dari kelas kesehatan yang ia ikuti dengan ogah-ogahan adalah omega mengalami puncak ovulasi yang membuatnya ingin dikawini oleh alpha. Bagi para alpha, itu terdengar sangat menggiurkan tapi ia tak pernah tahu seperti apa hal itu di mata para omega. Awalnya ia tak peduli, tapi kakaknya merasakannya. Kakak yang selama ini berbagi perasaan dengannya.

Ia terpikir apakah Unsui tahu. Apakah Unsui tahu bahwa ibunya, sosok yang selalu menyayangi mereka sudah tiada. Sosok yang selalu tersenyum diantara penyakitnya, yang selalu berkata bahwa ia akan segera sembuh kini sudah menyerah. Kini sudah pergi selamanya.

Malam itu, Agon naik menuju kamar Unsui. Biasanya ayahnya yang menaruh makanan ke kamar Unsui karena alpha yang sudah memiliki mate tak akan terpengaruh oleh heat omega lain yang bukan matenya. Tapi sekarang ayahnya sibuk dengan telepon yang mengatakan turut berduka cita. Ayahnya akhirnya menyuruh Agon menaruh makanannya di depan pintu dan ayahnya akan menaruhnya di kamar saat ia sudah selesai. Agon menurutinya dengan ogah-ogahan, namun ia juga ingin tahu keadaan kakaknya.

Sudah tiga hari Unsui dikunci di dalam. Ia menaruh mangkuk berisi sup di depan pintu kamarnya sebelum ia mendengar sesuatu.

Suara isak tangis

Agon selalu membenci suara itu

~~oo00oo~~

Menurut buku yang ia baca, seharusnya heat omega berakhir setelah tujuh hari yang berarti hari itu adalah hari terakhir heat Unsui. Akhirnya ia bisa berjalan ke sekolah lagi bersamanya. Ia lebih suka ketika ada yang bisa ia ajak bicara meski Unsui hanya menanggapi seperlunya. Lebih menarik daripada hanya mendengarkan musik metal dari earphonenya. Pagi itu Agon segera mencuci muka dan berjalan menuju dapur.

"Yo, Unsui."

Unsui mendongak. Ia hanya mengangguk pelan dan melanjutkan sarapannya. Agon mengerjap. Apa dia masih tak enak badan? Biasanya ia akan membalas selamat pagi atau memarahinya karena selalu bangun mepet. Agon menggendikkan bahu dan duduk di tempatnya. Ayah mereka selalu berangkat lebih dulu, jadi mereka sudah terbiasa makan berdua saja.

Setelah selesai makan dan menaruh cucian masing-masing di tempatnya, mereka berdua keluar dari rumah. Mereka berjalan beriringan setelah yakin seluruh rumah aman dan terkunci.

"Kau masih lemas? Memang heat itu seperti apa?" lagi-lagi Agon yang membuka percakapan. Lagipula ia memang sudah lama ingin bertanya.

Tak ada jawaban lagi. Agon semakin bingung. Ia mencoba menyesuaikan langkahnya dengan langkah Unsui yang entah kenapa terasa lebih lambat dari biasanya. Ia pernah dengar kalau heat seorang omega bisa jadi sangat berbahaya hingga ke titik mereka bisa sakit parah.

"Kau tidak perlu repot-repot berjalan bersamaku." Ujar Unsui, akhirnya membuka suara. Agon mengerjap.

"Hah? Maksudmu?"

"Kau tak perlu membuang waktumu dengan omega sepertiku." Tegasnya. "Kalau kau mau, kau bisa jalan duluan."

Agon semakin bingung. Apa memang kakaknya selalu seperti ini? Merendahkan dirinya begitu saja?

"Oy, Unsui."

Unsui kembali menunduk. Agon sempat mendengar kata maaf sebelum Unsui berjalan lebih dulu.

Sejak itu Agon berhenti memanggil namanya

~~oo00oo~~

Agon melangkah mendekati sosoknya yang duduk di pinggir tangga. Gakurannya nampak masih basah karena ia nekat lari di tengah hujan.

"Apa kau datang untuk menertawaiku?" suara kakaknya memecah keheningan.

"...Aah… mungkin."

Padahal tadinya ia datang karena ingin memberinya payung.

"Jangan buang waktumu untuk orang yang tidak berbakat sepertiku." Ujar Unsui sambil bangkit dari tempat duduknya. "Di dunia kekuatan nyata rasa kasihan tidak bisa menyelamatkan siapapun."

"Majulah dan hancurkan orang biasa yang menghalangimu. Percaya pada kekuatanmu sendiri."

Agon tidak mau mendengarnya

"Dengan begitu aku…akan merasa dihargai."

Ingin rasanya ia berbalik dan meninju wajah Unsui. Ia ingin berkata bahwa semua itu tidak penting. Ia tak peduli kalau Unsui hanya orang biasa. Ia tidak peduli akan titel jenius yang orang lain berikan padanya.

Ia tak membutuhkannya kalau itu artinya Unsui harus menjauh darinya.

Agon mengepalkan tangannya di dalam saku. Menahan emosi yang membuncah di dadanya. Sejak dulu ia selalu menganggap Unsui setara. Ia tak pernah menganggap Unsui lebih rendah darinya. Unsui itu kakaknya, ia menyayanginya.

Tapi apapun yang Agon katakan sekarang, Unsui belum tentu akan mendengarkannya.

"Tak usah kau bilang pun akan kulakukan."

Hari itu, segalanya sudah hancur baginya.

~~oo00oo~~

Kau hanya menjauh seperti ini

Aku berkata bahwa semua baik-baik saja

Sebetulnya itu bohong

~~oo00oo~~

Agon berjalan santai. Akhirnya jam pulang kantor, jam yang paling ia tunggu-tunggu. Ia teringat Unsui sudah mulai cuti, jadi seharusnya sudah ada orang di apartemennya. Ia sudah bilang ia akan menginap lagi dan hanya disambut helaan napas.

Ponselnya bergetar di saku. Ia buka kunci ponselnya dan mendapati pesan dari Unsui

Kau sudah pulang? Bisa tolong mampir ke minimarket? Kecapnya habis

Agon mengetik 'ya' singkat sebagai balasan. Padahal hari Minggu kemarin mereka juga ke minimarket. Terkadang Unsui memang sering melupakan apa saja yang harus dibeli saat tidak membawa catatan belanjaan, tak peduli seteliti apa dia.

Tak lama pesan kembali masuk. Hanya sebuah pesan singkat bertuliskan terima kasih. Agon melanjutkan perjalanannya dan berhenti sebentar di minimarket.

Ia menelusuri rak sampai berhasil menemukan kecap. Ia meraihnya dan segera berjalan ke kasir.

Sejenak ia berhenti di bagian rak produk susu. Ia tatap barisan pudding rasa vanilla. Ia ingat kemarin Unsui sempat berdiri cukup lama di sana, menatap pudding tersebut. Baru Agon ingin menegurnya, Unsui langsung berbalik dan mengambil barang yang ia butuhkan sebelum mengajak Agon membayar.

Tubuhnya bergerak sendiri dan mengambil dua cup pudding dan membayarnya.

~~oo00oo~~

Agon langsung saja membuka pintu apartemen Unsui. Ia taruh plastik belanjaannya dan melepas kemeja yang ia kenakan.

"Selamat datang." Ujar Unsui yang dibalas dengan gumaman. Di dengarnya suara Unsui merogoh kantung belanjaan. Sempat berhenti sebentar sebelum terdengar suara plastik lagi.

"Agon, kau membeli ini?" tanya Unsui sambil mengeluarkan dua cup pudding.

"Ya." Jawab Agon singkat.

"Sejak kapan kau suka makanan manis?" Unsui menaikkan alis.

"Aku tak bilang itu untukku."

"Lalu untuk siapa?"

"Ya untukmu, bodoh!"

Unsui mengerjap. Sesaat kemudian ia tersenyum.

"Tidak perlu repot-repot. Aku juga tidak memintamu."

"Ck, diamlah. Kemarin kau memperhatikannya lama sekali."

Unsui terkekeh dan memasukkan pudding itu ke kulkas. Ia kembali memasak makan malam untuk mereka berdua.

~~oo00oo~~

Aku ingin kau jadi cahayamu, baby

Kau harus jadi cahayamu

Jadi kau tidak akan terluka lagi, jadi kau akan lebih sering tersenyum

Aku akan jujur padamu malam ini

~~oo00oo~~

Makan malam berlangsung hening seperti biasa. Baik Agon maupun Unsui asyik dengan pikiran dan hidangan masing-masing. Pikiran Agon sendiri melayang jauh ke percakapannya dengan Hiruma siang ini. Sesekali matanya melirik pada Unsui.

Sialnya, Unsui juga menatapnya. Unsui berhenti menyumpitkan nasinya.

"Ada apa?" tanya Unsui. Agon mengalihkan pandangannya.

"Tidak ada."

Unsui nampak tidak yakin, tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

Setelah selesai, Unsui bangkit dan membereskan piringnya. Agon mengikutinya, mengambil piring Unsui dan menaruhnya di bak cuci.

"Aku bisa beres-beres sendiri." Kata Unsui.

"Ck. Gak usah banyak protes."

Unsui tersenyum. Ia langsung sibuk dengan cucian sedangkan Agon duduk tak jauh darinya. Ponselnya bergetar, tanda pesan masuk.

Ia membuka kunci. Nama Hiruma terpampang di layar. Ia buka pesan itu yang rupanya berisi dokumen dan beberapa foto.

Agon menelusuri foto tersebut satu per satu. Kebanyakan ber-teks bahasa Inggris. Sepertinya 'mereka' sudah mulai bergerak. Padahal Hiruma baru saja mendapat laporan tadi siang.

Di bawahnya, terdapat pesan sebenarnya dari Hiruma.

Mereka sudah bergerak. Aku tidak tahu dia akan langsung menargetkan pemerintah Jepang atau kita terlebih dahulu. Apapun itu, kuharap kau tidak menyesali keputusanmu. Kau tahu mereka. Mereka akan menghabisi orang-orang di sekitarmu lebih dahulu, lalu membunuhmu.

Agon mengeratkan genggamannya pada ponsel. Giginya beradu di dalam mulut. Ia mendongak dan membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu pada Unsui.

Seluruh suaranya terasa berhenti di tenggorokannya. Ia lihat Unsui yang mengelap tangannya setelah selesai mencuci semua piring. Tatapan matanya sayu, dan wajahnya masih pucat. Ada sesuatu yang menancap dada Agon saat ia melihat Unsui memegangi perutnya sambil menghela napas. Sadar diperhatikan, Unsui menoleh menatap balik Agon.

"Kenapa? Ada sesuatu di wajahku?"

Agon melengos. "Tidak ada."

Tangannya kembali meraih ponselnya. Ia mengetikkan serangkaian pesan pada Hiruma. Ia tak peduli akan seperti apa tawa iblis itu bila ia bertemu dengannya nanti. Ia tidak peduli jika pesan itu akan dijadikan bahan ancaman. Dia hanya akan menegaskan satu hal.

Aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti mereka

Tautkan jari kelingking kita

Dan berjanjilah padaku

~~~TO BE CONTINUED~~~

(:o)c WAH, ADA APA INIIII *apaansi*

CIEEEE LALAAAA DOUBLE UPDATE KARENA MAU HIATUUUUSS *dikemplang*

Iya, ini abal banget. Saya tahu.

Saya ingin bikin angst tapi kokoro sudah tidak tahan. Tapi gimana emang genrenya angst kok :" *heh *lu

Awalnya aku mikir mau dibawa ke mana chapter kali ini karena gak ada gambaran. Sampai aku denger ulang lagu forever rain sama promise dan be like… INI DIA. MWAHAHAHAHAHA

Terimakasih kepada youtube playlist dan BTS karena somehow lirik lagu mereka memberikan ide untuk menjalankan project nista yang tadinya kupikir tidak akan kukerjakan

Tapi aku bingung gimana caranya dengerin lagu forever rain yang bikin kokoro serasa bolong malah jadinya chapter wholesome sedangkan promise yang wholesome banyak polemiknya. Yaudahlah ya… *ditabokin*

BTW bagi kalian yang suka lagu akustik, lagu Promise-nya Jimin BTS ini recommended banget. *jangan promosi* *dikemplang*

Dan juga buat yang nanya sebenernya Hiruma sama Agon kerja apaan, kok kayaknya serem begitu, Hiruma itu jadi pemimpin perusahaan software gitu. Softwarenya bisa macem-macem, bisa buat game, edukasi, atau bahkan uhuk-nyadap informasi pemerintah bahkan sampai negara lain-uhuk. Disini Agon ditulis posisinya akuntan tapi sebenernya dia yang bantuin Hiruma nemuin bisnis-bisnis 'kotor' make softwarenya itu. Tapi tenang, softwarenya kece dan aman virus kok. Maksudnya bikin program pembelajaran pake komputer Unsui itu juga make aplikasi terobosan software Hiruma yang ini~

Dan seperti yang saya bilang, saya bakal hiatus lama. Besok saya sudah harus kembali ke kenyataan pahit :") Kalau ada waktu mungkin saya update meski tak banyak atau sering. Saya gak bakal ninggalin project ini kok (hilih)

Juga makasih banyak buat yang udah review~~

Buat putra. aduh beneran ada yang baca lho jadi maluuuu *heh* *apaan sih* Aduh beneran? Kukira ini ngaco banget alurnya huhu… ini udah lanjut~ semoga puas ya~~

Dan juga buat shunshines (yang setia daku tag di FB kalau update), ITU GAK MUNGKIN AKABA MENGUNDANG DIRINYA SENDIRI KE REUNIAN ENMA KAAANN WKWKWK. Ini aku tadinya mau bikin rusuh lagi tapi tapi…aku gak tega. Unsui sudah terlalu lelah :') (Unsui: sadar juga lu thor) IYA KAN AKU PAS BIKIN DIALOGNYA JUGA UDAH HEADBANG. Aku masih bingung nentuin pair ohohohoho liat nanti sadja *heh* IYA AKU SEMANGAT KOK UJIAN-UJIANNYA ASDFGHJKL. Ntar aku liat siapa tau Unsui bisa disiksa lebih jauh HAHAHA *apaansih*

Oh dan sekali lagi, flashback soal Agon dan Unsui didasarkan dari postinganku di facebook. Ini linknya, web. facebook nuraffa. aprilia / media _ set ?set=a. 1324545637678657 &type=3 tinggal hapus tanda spasinya. Saya sudah setting jadi publik jadi semua orang bisa liat~

Duh banyak bacot *ditabok*

Yak segitu saja dari Lala. RnRnya?