My heart that is stained with a belated self-hatred
Gets emptied even by that wind brushing by
-Outro Tear, Bangtan Seonyeondan
An AgonUnsui fanfiction
Tear
By Lala-chan ssu
Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Trivia: Love and Tear belongs to BTS dan BigHit
Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, trigger warning, timeline after Enma, dll
Read at your own risk
~~oo00oo~~
Chapter 6: Love
~~oo00oo~~
Apa ini Cinta
Terkadang aku tahu, terkadang tidak
Seperti yang sudah diduga Agon, Hiruma memanggilnya ke ruangannya. Ia disapa seringaian khas Hiruma sambil membersihkan senjatanya.
"Kau berani juga ya, dread sialan."
"Ngapain aku takut pada sampah kecil macam mereka, hah?"
"Kekeke maksudku bukan itu!" Agon mengangkat alis. "Berani sekali kau mengirimkan pesan berisi kelemahan seperti itu padaku. Akan kuapakan ya, kekekekeke!" Hiruma tertawa semakin keras.
"Tck, terserah mau kau apakan! Tapi ingat, jangan kira aku tidak tahu kau punya pikiran seperti itu pada manajer dan anakmu itu!" Yang dimaksud Agon adalah Mamori.
"Kekeke, dia istri sialan dan anak sialanku. Apa alasanmu, hm?"
"Dia kakakku, salah?!"
Hiruma berhenti mengelap senjatanya dan menaruhnya di sisi tubuhnya. Ia mengetikkan sesuatu di laptopnya lalu memperlihatkannya pada Agon. Yang dilihat Agon adalah sebuah email berbahasa Inggris.
"Pihak mereka akan datang besok. Mereka bilang akan mencoba bernegosiasi dengan kita." Ujar Hiruma. Agon dapat mendengarnya menarik napas. "Tapi kau tahu apa maksud mereka bernegosiasi."
"Sampah merepotkan." Agon bersungut dan mengacak rambut dreadnya. "Biarkan saja, akan kuhancurkan mereka sampai jadi debu."
"Aku tidak meragukan itu, dread sialan." Perkataan Hiruma terdengar tajam. "Tapi baik istri dan anak sialanku, maupun si botak sialan itu, meski tak ada hubungannya mereka ada di posisi berbahaya."
Agon mendecih. Ia tidak menyangkal mulai besok ia akan merasa orang-orang mengikutinya. Ia terpikir ingin kembali ke apartemennya saja sampai masalah ini selesai, tapi ini masalah serius.
Orang yang berurusan dengan mereka menjalankan penipuan saham besar dari seluruh dunia. Tak banyak orang yang mampu mengungkap kejahatan yang mereka lakukan, tetapi sepertinya mereka sudah siap dengan segala resiko. Buku ancaman Hiruma sudah tak berpengaruh apa-apa. Pilihan mereka sekarang adalah konfrontasi langsung.
Agon keluar dari ruangan Hiruma. Alih-alih kembali ke mejanya, ia malah berjalan keluar. Ditatapnya langit musim dingin keabu-abuan. Asap dingin terhembus disaat ia menghela napas.
Pikirannya kembali ke kejadian bulan lalu. Yang ia pikirkan saat itu hanyalah keadaan kakaknya. Dia tahu bahwa pacar kakaknya itu tidak akan mau diminta pertanggung jawaban, tak peduli apapun yang Unsui katakan mengenainya selama ini, karena itu Agon mengambil keputusan secara impulsif. Ia tak memikirkan apa-apa lagi, pikirannya hanyalah saat itu kakaknya tak punya siapa-siapa. Hanya ada Agon saat itu.
Tapi apabila Agon tidak membuat keputusan itu, apa Unsui tidak akan dihantui bahaya seperti ini?
~~oo00oo~~
Hatiku tidak nyata
Aku hanya merasakannya
~~oo00oo~~
Agon membuka pintu apartemen Unsui dengan kunci cadangan. Hampir sebulan sejak Agon seenaknya tinggal bersama kakaknya, Unsui langsung memberinya kunci cadangan seandainya saat Agon pulang Unsui sedang keluar atau tidak bisa membukakan pintu.
Begitu ia membuka pintu, ia disajikan pemandangan kakaknya tertungkup di meja. Agon mendekatinya perlahan dan menyentuh lehernya perlahan, memastikan kakaknya tidak pingsan, lagi.
Inilah alasan ia bimbang ia harus kembali ke apartemennya atau tetap disini. Bila ia kembali mungkin Unsui tidak akan terlibat terlalu jauh dari masalah yang dibuatnya. Tapi bila ia tinggalkan bagaimana jika sesuatu terjadi padanya. Memang ia tak sering pingsan lagi seperti bulan kemarin tapi entah setan apa yang membisikinya dan terus membuatnya khawatir.
Mata Unsui mengerjap. Ia segera menegakkan tubuhnya dan mengucek mata. Agon langsung saja bangkit dan mengambil dua gelas air. Ia isi keduanya dan menegguk salah satu isinya. Ia kembali ke sisi Unsui dan memberikan gelas lainnya. Unsui mengucapkan terimakasih dengan lirih sebelum meminumnya.
"Kalau pulang harusnya kau bilang." Ujar Unsui. Agon mendecak.
"Kau baru bangun dan kau langsung mengomeliku? Memang kau ibuku?" Agon mencibir. Unsui menaruh gelasnya di meja.
"Aku kakakmu. Memang apa bedanya?" tanya Unsui.
"Tck. Terserah lah."
Unsui bangkit perlahan. Tangan kanannya menumpu tubuhnya dengan meja. Agon memperhatikannya diam-diam, namun seolah tubuhnya tak mau bergerak untuk membantunya sedikit. Belum sempat ia berkata apa-apa, Unsui sudah membuka kulkas dan mengeluarkan sisa makan malam kemarin untuk dihangatkan. Agon mengacak rambutnya dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa bicara lebih jauh.
Di kamar mandi, ditatapnya kaca yang terpasang di depan wastafel. Menatap wajah yang terlalu mirip dengan kakaknya, namun disaat bersamaan tidak mirip sama sekali. Banyak orang yang mengelu-elukannya dan tidak melihat Unsui sama sekali. Namun Unsui memiliki lebih banyak teman darinya.
Tak peduli apa yang terjadi pada mereka selama masa remaja mereka, pemikiran kekanakan Agon yang menyatakan ia tak butuh teman selama masih memiliki kakaknya masih melekat.
Diputarnya keran air panas dari shower. Ia hela napasnya. Tangan kanannya ia tumpukan di tembok dan ia kepalkan. Entah Agon sudah terlalu lama bergabung dengan orang brengsek atau apa karena sejak detik pertama ia melihat Aishi, ia sudah merasa orang itu hanya akan menghancurkan kakaknya. Meski ia tak memungkiri ada rasa cinta juga dari Aishi, itu malah membuatnya semakin muak.
Ia biarkan air mengaliri seluruh tubuhnya. Bersamaan dengan air itu, pikirannya semakin mengalir. Mengalir pada semua kenangan masa lalunya, pada setiap saat ia dan Unsui masih terus bersama. Pada setiap saat Unsui menggandeng tangannya sepulang sekolah. Pada saat Unsui memarahinya karena tidak pernah datang latihan. Pada saat ia melihat Unsui menonton pertandingan american football pertama kali.
Semakin dipikirkan ia makin tak bisa menyingkirkannya
Semakin ia tumbuh dewasa ia semakin tak bisa, ah bukan, ia tidak mau lagi menyangkalnya
Ia tidak mau lagi menolak kenyataan ia mencintai kakaknya melebihi dari cinta antara saudara
~~oo00oo~~
Kenapa seseorang terdengar seperti cinta? (*)
Kau membuat hidup menjadi cinta (**)
~~oo00oo~~
Setelah ia selesai mandi, yang ia lihat adalah Unsui yang sudah menata meja. Tatapan mata mereka bertemu.
"Kenapa bengong begitu? Kau tidak mau makan?" tanya Unsui.
Agon langsung mendekatinya dan duduk di hadapan Unsui. Setelah masing-masing mengucap selamat makan, mereka memakan makanan mereka dengan hening. Tidak pernah ada percapakan diantara mereka saat sedang makan. Mereka asyik dengan pemikiran sendiri-sendiri. Entah apa yang mereka pikirkan.
Tanpa sadar Agon kembali memperhatikan Unsui. Mulai dari cara makannya yang terlalu tenang, sampai sorot matanya yang seolah mengindikasikan bahwa jiwanya tak berada di tempat.
Lirikan matanya turun ke perut Unsui. Ia jujur masih tidak suka akan keputusannya untuk tidak menggugurkan bayinya. Tapi yah ia sejak awal tak pernah mengerti satu sisi dari kakaknya itu. Kadang ia bisa terlalu berhati-hati, kadang ia bisa terlalu lembut, kadang bisa terlalu nekad, kadang bisa terlalu keras kepala. Jika menurutnya semua ini hanya akan membebani Unsui ke depannya, mungkin Unsui akan berpikiran sama. Tetapi pandangannya akan berbeda darinya.
Unsui juga tak pernah lagi membicarakan Aishi. Ia bahkan sudah tak pernah menyinggung lagi alasan mengapa Agon mau repot-repot bertanggung jawab atas hal yang bahkan tidak ia lakukan disaat selama ini Unsui lah yang bertanggung jawab akan hal buruk yang ia lakukan. Ia seolah menerima semua begitu saja. Terkadang memikirkannya membuat Agon pusing sendiri. Ia kembali terpikir seandainya saat itu ia tak bertemu Unsui apakah Unsui akan tetap pada keputusannya sekarang.
Mengingat ini kakaknya, maka jawabannya kemungkinan besar adalah iya.
"Apa ada masalah?"
Agon mengerjap. Rupanya Unsui memperhatikannya balik sejak tadi. Agon melirik ke arah lain, berusaha mencari jawaban.
"Kau hanya diam saat kau ada masalah. Apalagi yang kau lakukan?" tanya Unsui. Kenapa pula ia membawa-bawa nada seperti itu. Ia merasa seperti sedang dihukum.
"Memangnya kalau aku melakukan sesuatu kenapa, hm?" tanya Agon. Unsui menghela napas panjang.
"Kau itu, sampai sekarang masih saja membuat masalah. Apa tidak pernah sekali saja kau tidak mau cari ribut?"
"Hah? Selama aku masih kerja dengan bocah setan itu? Tidak akan pernah." Jawab Agon sekenanya. "Lagian, kenapa kau masih memikirkan itu? Pikirkan dirimu sendiri sana." Lanjutnya.
Unsui menggerakkan tangannya untuk menyentuh perutnya. Agon sendiri agak menyukai saat Unsui melakukan itu. Memberi perasaan bahwa sifat kakaknya yang penyayang tidak terlalu berubah. Di hadapan orang lain ia memang memberi perhatiannya tetapi tak pernah selembut itu. Entah sejak kapan gerakannya yang awalnya hanya menyentuh berubah menjadi mengelus perlahan. Seolah Unsui sudah tahu anak-anaknya memiliki perasaan sendiri. Ia ingat ibunya pernah berkata sesuatu mengenai hubungan perasaan ibu dan anaknya atau apalah itu, ia juga tak pernah mau tahu sebelumnya.
Agon buru-buru menyelesaikan makannya dan menaruh piringnya di bak cuci. Ia tak bicara apapun lagi.
Ia semakin tak ingin menyeret kakaknya lebih jauh.
~~oo00oo~~
Lihat, kau dan aku membuat bunyi yang sama (***)
Tapi aku bukan kau
~~oo00oo~~
Kau yakin akan pulang ke rumah kakak sialanmu besok?
Sebuah pesan dari Hiruma membuat Agon ingin melempar ponselnya. Ia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Di satu sisi jika ia meninggalkan Unsui ia malah akan khawatir. Tapi di satu sisi ia tak ingin menyeret kakaknya dalam masalahnya lagi. Unsui sudah memiliki masalahnya sendiri.
"Kenapa? Itu pesan dari Hiruma?"
Agon menoleh, Unsui duduk di sampingnya, menatapnya agak khawatir.
"Ya, setan sialan itu." Agon mendecak. Unsui mengangguk pelan sebelum memposisikan diri di futonnya. Setelah membalas pesan Hiruma-dengan sedikit emosi-Agon langsung saja berbaring. Ditolehkan kepalanya ke arah Unsui. Sialnya Unsui sedang menghadap ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Unsui. Agon hanya menatap kakaknya. Ia tak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Ia malah akan membuat kakaknya khawatir.
"Tidak. Tidak ada."
~~oo00oo~~
Aku hanya ingin seseorang
Kau tertidur di seluruh sudutku
Cintai aku
~~oo00oo~~
Unsui berjalan menuju apartemennya dari rumah sakit. Ditatapnya beberapa lembaran hasil USGnya. Kali ini ia sedikit memperhatikan langkahnya karena terakhir kali ia berjalan sendirian, ia bertemu orang yang tidak ingin ia temui. Ia menghela napasnya sembari merapatkan jaket yang ia kenakan. Perutnya sudah lebih membesar sekarang. Yah, memang sih ia mengandung tiga anak sekaligus. Tapi perubahan tiba-tiba itu membuatnya benar-benar tak nyaman. Karena sampai detik ini pun ia masih tak terpikir kenapa ia sampai ke titik ini.
Pandangannya serasa mengabur. Entah kenapa ia teringat gambaran-gambaran acak yang mendatangi ingatannya. Bayangan yang selalu menghantuinya, mimpi buruk yang selalu membayanginya.
Ditatapnya lagi lembaran hasil USGnya. Tanpa sadar senyuman tipis tertoreh. Meski tak selamanya buruk. Meski anak-anak yang ia kandung tak pernah ia inginkan, yang ia tahu ia sudah menyayangi mereka.
Angin berhembus kencang, menerbangkan satu lembaran. Lembaran itu berhenti tepat di bawah kaki seseorang, untungnya tak jauh darinya. Unsui menghela napas dan mendekati orang itu.
"Anu, maaf. Itu…"
Kata-katanya berhenti di tenggorokan. Orang yang ia panggil nampaknya menyadarinya dan menoleh. Mata orang itu juga ikut melebar. Sekian detik mereka menatap satu sama lain.
"A…Aishi…"
Aishi menatapnya tajam. Ia tatap lagi benda yang jatuh di dekat kakinya. Sadar, Unsui buru-buru mendekatinya dan hendak mengambil hasil USGnya. Namun gerakan Aishi sedikit lebih cepat darinya. Diangkatnya lembaran foto itu dan mata birunya memindai lembaran tersebut.
Belum sempat Aishi bicara, Unsui langsung menyambar foto tersebut. Nafasnya tersengal. Ia hembuskan nafasnya sebelum menunduk dan pergi menjauh.
Aku hidup jadi aku mencintai
Jika ini cinta, aku akan mencintaimu
~~~TO BE CONTINUED~~~
(*) word play bahasa Korea seseorang (saram) sama cinta (sarang)
(**) word play bahasa Inggris live to love
(***) word play Korea again, kau (nae) dan aku (ne)
*tendang pintu FESI* *ditabok warga*
HALO SEMUAAAA TEBAK SIAPA YANG UDAH SELESAI USBN OHOHOHOHO~~~~ *La* *lu belom UN*
Kenapa saya maksa update hari ini? Karena besok saya pengumuman SNMPTN dan takutnya malah sibuk buka web jadi yah gitu. OH IYA DOAIN SAYA SEMOGA GOL YAAA *apaansi* DAN JUGA INI BUAT TEMEN SAYA LAGI ULTAH WOEY HBD EAAAKK NTAR GUA KASIH NAMJIN LAEN KALI *eh*
Akhirnya beneran kujadiin Unsui ketemu Aishi lagi. Kenapa kukasih ketemu? Jawabannya ada di chapter berikutnya kyahahahaha
Di chapter berikutnya juga bakal ada adegan crimenya sedikit. Udah kukodein di awal-awal, dan ya pemirsa… TWINCESTNYA UDAH MULAI KELIATAN YUHUUUU UDAH PADA NUNGGUIN BELOM? (readers: Kagak)
Doain aja semoga saya ada waktu besok jadi saya bisa rampungin ini dan update. Saya udah ada outlinenya tinggal diketik sadja~ tadinya mau tembusin dua chapter lagi tapi yah udah jam 9 dan besok sialnya masih masuk sekolah ORZ BOK YA NGAPA NANGGUNG AMAD
Akhir kata, RnR~~
