My heart that is stained with a belated self-hatred
Gets emptied even by that wind brushing by
-Outro Tear, Bangtan Seonyeondan
An AgonUnsui fanfiction
Tear
By Lala-chan ssu
Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Shoot Me belongs to Day6 and JYP Ent., Tear belongs to BTS dan BigHit
Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, trigger warning, timeline after Enma, dll
Read at your own risk
~~oo00oo~~
Chapter 8: Shoot Me
~~oo00oo~~
Pandanganmu mendingin
Suasana menjadi semakin berat
"...gugurkan anak itu."
Suara Agon tertahan. Seluruh dunia serasa terhenti untuk sesaat. Sementara itu di dalam rumah, Unsui hanya menatap Aishi, sebelah alisnya terangkat. Mata biru Aishi menatapnya balik.
"Kau menyuruhku menggugurkan anak ini?" ulang Unsui. Aishi mengangguk.
"Aku…betul-betul minta maaf atas sikapku waktu itu. Aku…aku takut, aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi…aku ingin minta maaf padamu. J-jadi…kalau bisa, aku ingin kembali seperti dulu. Jika ini sudah berakhir, aku ingin kembali padamu." Jelas Aishi
"Itu saja yang ingin kau katakan?" tanya Unsui
"Eh? I-iya…"
"Kalau begitu habiskan tehmu, lalu pergi. Sebentar lagi adikku pulang, tahu sendiri dia tidak menyukaimu." Ujar Unsui. Alih-alih melakukan apa yang disuruh, alis Aishi mengerut.
"Kau…tidak menganggapku serius, ya?" tanya Aishi. Unsui menatapnya.
"Aku tahu kau serius." Ujar Unsui. "Tapi apa berarti aku harus memikirkannya?"
"Ap-" Aishi bangkit dan menatap Unsui. "Aku melakukan ini demi hubungan kita!"
"Apa maksudmu 'demi hubungan kita'? Kau langsung saja menyuruhku aborsi tapi tak menanyakan pendapatku dulu. Apa kau memang selalu seperti ini?" tanya Unsui tenang. Aishi tercekat. Kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.
"Aku itu memikirkanmu, tahu…" suara Aishi bergetar. "Ini semua…hanya akan menyakitimu saja, kan-"
"Kau meminta maaf padaku tanpa ingin bertanggung jawab?"
Aishi terdiam. Unsui menatapnya sebelum menghela napas.
"Kalau hanya begitu saja keperluanmu, silahkan keluar. Satu hal yang kau tahu, aku tak akan menggugurkannya."
Kerah baju Unsui ditarik seketika. Iris biru milik Aishi menatapnya penuh amarah. Disaat omega biasa akan langsung tunduk bila ditatap seperti itu, Unsui malah menatap matanya langsung. Abu-abu dan biru bertemu pandang.
"Kau benar-benar tak tahu diuntung." Geram Aishi. "Aku memberimu kesempatan untuk kembali bersamaku. Kau cukup membunuh bayi sialan itu. Apalagi yang kau minta, hah?!" bentak Aishi. Cengkramannya pada kerah Unsui mengerat.
"Aku minta kau pergi dari sini." Tangan Unsui meraih tangan Aishi, menggenggamnya seolah ingin menghancurkannya. "Aku memaafkanmu, tapi kalau itu maumu aku tidak ingin kembali padamu."
"Brengsek!" didorongnya Unsui ke lantai membuatnya mengernyit menahan sakit. Dicengkramnya kedua bahu Unsui, tatapan matanya seolah penuh nafsu dan amarah.
Agon tanpa pikir panjang membuka pintu dan menarik Aishi menjauh. Aishi menatapnya dan memicing tak suka. Agon balas memberikan tatapan membunuhnya.
"Oy, Unko-chan. Kupikir kau bukan anak kecil yang perlu diberitahu jangan bukakan pintu untuk orang asing." Ujar Agon, namun matanya masih menatap Aishi dengan tatapan membunuh. Aishi melepas paksa cengkraman Agon padanya.
"Agon. Sejak kapan-" perkataan Unsui terhenti melihat Agon dan Aishi saling menatap.
Aishi memutuskan kontak matanya dengan Agon dan kembali menatap Unsui. Unsui balas menatapnya, meski kali ini ada sedikit perasaan tak aman.
"Kau masih ingin bersikap sok baik?" Aishi mendecih. "Memang kau bisa apa? Kau pikir ada alpha di luar sana yang ingin dengan omega menjijikkan sepertimu?! Kau sudah jadi milikku, kau tahu itu!"
Unsui masih menatapnya tajam. Agon menarik kerah Aishi.
"HAAA?! Kau kemari hanya untuk mengatakan omong kosong seperti itu, sampah?!" bentak Agon. Suara Aishi tercekat dari dominasi alpha di hadapannya.
"Agon, sudahlah. Lepaskan dia."
"Oy, Unko-chan. Kau diam saja setelah dia-"
"Tak ada gunanya meladeninya." Balas Unsui tenang. "Jika dia memang ingin bilang begitu, biarkan saja." Lanjutnya. Aishi menggigit bibir bawahnya.
"Kau masih bisa bersikap begitu…lihat dirimu sendiri, sialan!" Unsui bangkit dan menaruh cangkir di tempat cucian, menulikan telinganya dari teriakan Aishi.
"Kau pikir apa yang bisa kau lakukan?! Anak-anakmu juga tidak akan sudi dilahirkan manusia menjijikkan sepertimu!"
Iris abunya melebar. Agon langsung saja melempar Aishi keluar dan mengunci pintunya. Menghela napas, ditatapnya Unsui yang masih berdiri mematung di depan wastafel.
Suasana yang tadinya tegang kini terasa sangat menyesakkan. Unsui sama sekali tak bicara, sedangkan Agon sendiri tak tahu harus bicara apa.
"Cih, bisa-bisanya dia datang kemari. Merepotkan." Keluh Agon.
"Maaf…" gumam Unsui. Agon mengerjap dan menatap kakaknya.
"Hah, ngapain kau minta maaf?"
"Tidak ada. Lupakan saja."
Suasana malah semakin menyesakkan napas.
~~oo00oo~~
Satu hal terjadi
Dan segalanya hancur
~~oo00oo~~
Agon mulai merasa frustrasi.
Sejak tadi, Unsui tak bicara sama sekali. Bahkan ketika Agon membantunya menyiapkan makan malam, tak ada pertanyaan heran atau godaan. Unsui diam, membiarkan Agon melakukan apapun yang ia mau.
Dalam hati Agon mengutuk Aishi, entah yang keberapa kalinya. Masalahnya dengan Fritz masih belum selesai. Tapi sepertinya Dewa benar-benar ingin membuat Agon memilih. Tak biasanya ia memikirkan sesuatu sampai seperti ini. Dia hanya melakukan apa yang ingin ia lakukan. Apa yang akan menguntungnya dan memuaskannya.
Apa ini karena kakaknya?
Apa karena perasaan memiliki yang tidak seharusnya bersarang di hatinya?
Apa yang Aishi lakukan mengingatkannya akan betapa brengseknya ia semasa sekolah dulu. Tidur dengan banyak orang, mengabaikan mereka yang akhirnya jadi hancur karenanya. Tak peduli meski perempuan-perempuan yang ia hamili menangis meminta pertanggung jawaban atau menuntut uang banyak untuk membunuh anaknya.
Sekarang ia melihat sendiri kakaknya disakiti dengan cara yang sama. Tapi yang membedakan kakaknya dengan perempuan-perempuan yang ia mainkan adalah Unsui menanggung segalanya sendiri. Ia tak memohon pertanggung jawaban. Unsui tahu sendiri kemampuannya. Ia memilih melahirkan anak-anaknya karena ia tahu ia mampu membesarkan mereka, meskipun Agon tak datang dan menawarkan bantuannya. Ia tahu ia mampu menahan semuanya. Ia tahu batas dirinya sendiri.
Tapi karena Aishi, Agon jadi melihat setitik keraguan di mata kakaknya.
Selesai membereskan meja, masih tak ada percakapan diantara mereka. Agon ingin sekali memarahi kakaknya, tapi untuk apa ia marah? Unsui tak melakukan apapun. Unsui tidak ada di posisi yang salah disini.
Unsui berjalan menuju kamar mandi dan menutup pintunya. Agon menghembuskan nafasnya kasar dan mengacak rambutnya kesal. Diraihnya remot televisi kecil di sudut ruangan dan menekan tombolnya, menyalakan kotak kecil itu. Menggonta-ganti channelnya karena tak ada yang menarik.
Suara pesan masuk dari ponselnya mengalihkan Agon dari kegiatannya. Ia mendecak dan mengecek pesan tersebut. Lagi-lagi dari Hiruma. Ia menempelkan beberapa foto.
"Ini…bukannya jalanan depan?"
Terlihat beberapa orang berpakaian hitam dan seseorang yang nampaknya tinggal di sekitar apartemen tersebut sedang berbicara. Di foto lain ada seseorang lagi di antara kegelapan. Foto lainnya menunjukkan seseorang berdiri di depan tangga.
Keluar dari rumah itu sekarang. Fritz sialan itu mengincar kalian
Agon menggenggam ponselnya. Giginya bergemelatuk. Ia bangkit dan menggedor pintu kamar mandi.
"Oy, Unko-chan! Keluarlah, aku harus pulang sekarang!"
Tak ada jawaban. Firasat buruk menelisik masuk ke dadanya.
Dibukanya pintu kamar mandi di hadapannya. Matanya membelalak melihat Unsui terduduk di lantai. Kedua tangan menekan perutnya dan air mata mengalir dari iris abu-abunya. Cepat-cepat ia melangkah masuk dan menarik tangan kakaknya.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan?! Kau mau mati, hah?!"
Unsui mengerjap. Air matanya mengalir semakin deras saat melihat Agon. Isak tangis yang sepertinya ia tahan sejak tadi pecah begitu saja. Entah sadar atau tidak, tangan Unsui mencengkram erat lengan baju Agon seiring tangisannya yang pecah. Tenggorokkan Agon serasa tercekik. Suara tangisan Unsui terdengar begitu menyakitkan.
Butuh waktu lama bagi Unsui untuk menerima dirinya sendiri. Butuh waktu lama bagi Unsui untuk bisa bersahabat dengan siklus heatnya tanpa harus meminum supresan. Butuh waktu lama bagi Unsui untuk berani jujur mengatakan ia seorang omega
Dan semua itu hancur dalam kedipan mata
Jika ini membuatmu merasa lebih baik
Tembak saja aku
~~~TO BE CONTINUED~~~
Iya. Tolol banget kan si Agon gak jadi pergi *authornya digebuk*
Ehem. Halo semua~~tolong jangan tanya. Saya beneran sengaja ngebuka microsoft word setelah selesai UN Bahasa Indonesia dan ngetik ide cerita ini. Jadinya gak ku save sih, tapi masih inget plotnya. DAN MUMPUNG BESOK TANGGAL MERAH DAN MTK SUDAH LEWAT GUA LANGSUNG NGETIK AWKAWKAKWKAKWKA *disumpel bata*
So, gimana? Ehehe kayaknya makin OOC nih Agonnya. Ya gak apa-apa lah saya pengen bikin dia tobat sekali-kali *HEH* DRAMANYA BAKALAN MAKIN BANYAK LOH IYEY
…meski gua bingung sih mesti dibawa kemana chapter selanjutnya hmmm… /oy/
Ah bales review dulu~
Buat whiters402 YOOOO PEJUANG SBM JUGA WKWKWK Ah Agon disini tetep kasar sih meski gak ke Unsui. Ohoho daku juga suka sih relationship mereka yang begitu. Tapi karena FF ini hasil teori yang kuunggah di FB makanya kubikin begini '-') ETAPI IDE LU BAGUS TUH SABI SIH KALO DIJADIIN CERITA TERPISAH AWKWKWKWKWK *MIKIR APA LU* Niatnya sebenernya cerita ini cuma fokus ke Unsui aja eh otak pecinta dramaku malah nambah-nambahin masalah Agon, Hiruma, dan necis sialan itu.
Apa yang bakal terjadi selanjutnya? Bisakah Hiruma menundukkan si necis sialan? Apakah ada yang mati di fanfic ini? Makanya stay tune gaes *LOSIAPA*
RnR?
