My heart that is stained with a belated self-hatred
Gets emptied even by that wind brushing by
—Outro Tear, Bangtan Seonyeondan
An AgonUnsui fanfiction
Tear
By Lala-chan ssu
Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Save Me and Tear belongs to BTS dan BigHit
Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, trigger warning, timeline after Enma, dll
Read at your own risk
~~oo00oo~~
Chapter 9: Save Me
~~oo00oo~~
Aku ingin bernafas
Aku benci malam ini
Lama mereka duduk di lantai kamar mandi yang dingin. Isak tangis lemah masih mengisi ruangan. Sesekali Agon melihat layar ponselnya menyala, menandakan ada panggilan masuk. Ia tahu waktunya tak banyak lagi, tapi ia mencoba untuk mengabaikannya saat ini. Ia juga mencoba mengontrol detak jantungnya—yang entah terasa bertambah cepat karena kakaknya memeluknya tanpa sadar atau fakta bahwa mereka bisa saja diincar dan dikepung—. Lama Agon larut dalam pikirannya sendiri sampai ia merasakan pegangan tangan Unsui pada lengan bajunya mengendur. Agon menarik bahu kakaknya agar menghadapnya.
"Sudah tenang?" tanya Agon. Unsui diam, lalu mengangguk pelan. Ditariknya perlahan tangan kakaknya agar bangkit dari lantai. Dibawanya kakaknya keluar dan didudukkannya ia di futon. Agon merebahkan diri di sebelahnya, namun Unsui masih duduk, diam.
"Tidur sana. Sudah jam setengah sebelas."
Unsui masih terdiam. Kepalanya menunduk. Belum sempat Agon bangkit dan menyeretnya, Unsui sudah merebahkan dirinya lebih dulu di futon miliknya. Tubuhnya secara otomatis menghadap Agon. Agon hanya menatapnya sebelum tangannya menghapus sisa air mata di mata kakaknya.
Tak ada kata apapun yang terlontar. Unsui pun perlahan terlelap. Agon menatapnya dan memastikan kakaknya sudah tertidur. Diraihnya ponselnya dan perlahan keluar dari apartemen Unsui tanpa membuat suara apapun. Ia menekan nomor Hiruma dan disambut suara sambungan yang diangkat.
"KAU NGAPAIN AJA DREAD SIALAN?! KENAPA KAU MASIH DI APARTEMEN KAKAKMU?!"
"Ck. Diamlah, sampah pirang! Biar kutangani semua yang ada disini!" gerutu Agon. Kemudian sambungan ia putuskan sepihak, tak mempedulikan protes Hiruma. Kakinya melangkah santai menuruni tangga. Ia berhenti tepat di anak tangga terakhir.
Ia menguap sejenak sebelum tangannya bergerak cepat menarik tangan seseorang yang bersembunyi di kegelapan. Dilayangkan tinjunya ke wajah orang itu hingga tak sadarkan diri. Tak lama, muncul setidaknya empat orang dari kegelapan dan menyerbu Agon secara bersamaan.
Namun tepat seperti yang dikatakan kakaknya, serangan kejutan tak akan berhasil padanya. Tubuhnya bergerak cepat menghindar dan meraih wajah salah satu orang yang menyerbunya dan memutarkannya ke belakang hingga membentur orang yang kebetulan berdiri di belakang hingga membentur tembok. Sisa dua orang, Agon terus melayangkan tinjunya pada salah satu orang hingga wajahnya berdarah dan hilang kesadaran. Orang terakhir membawa pipa besi dan mengayunkannya pada Agon. Ayunan besi langsung ditangkis dan pukulan keras dihantamkan ke perut orang itu. Ia melangkah mendekati salah satu orang yang setengah sadar dan menjambak rambutnya.
"Dimana bos sialan kalian?"
~~oo00oo~~
Aku ingin bangun
Aku benci mimpi ini
Kenapa kau menolak?
Aku menginginkanmu
Hei, kau juga menginginkanku kan?
Jangan memberontak!
Patuhi aku!
Omega sialan!
Sontak mata Unsui terbuka. Nafasnya memburu dan seluruh tubuhnya banjir keringat. Perlahan ia bangkit dan duduk di futonnya. Tangannya ia taruh di dahinya, sembari mengatur nafasnya.
Ia menoleh dan menyadari bahwa Agon tak ada di sampingnya. Ia melirik ke arah jam kecil di meja. Pukul setengah tujuh pagi. Tidak mungkin Agon sudah berangkat. Tak ada pesan, tak ada apapun. Saat ia membuka ponsel juga tak ada pesan apapun.
Unsui menaruh ponselnya perlahan di sisi tubuhnya. Kemana adiknya itu. Apa dia membuat masalah lagi? Tapi ia ingat kemarin mereka masih tidur bersama—
Bukan. Ia ingat Agon masih terjaga.
Keringat dingin semakin mengucur, membuat baju yang ia kenakan basah dan mendingin. Pikirannya jadi kalut
Kemana adiknya sekarang? Bagaimana kalau dia terlibat masalah? Kenapa dia pergi tanpa mengatakan apa-apa?
Apa Agon sudah muak padanya?
~~oo00oo~~
Aku terperangkap dalam diriku sendiri dan mati
Aku tak ingin kesepian
~~oo00oo~~
"Kau bilang buku setanmu itu tidak berguna!"
"Aku bilang tidak berguna pada necis sialan itu, bukan pada anak buahnya!"
"Kalau begitu jangan bilang tidak berguna!"
"Berisik, dread sialan! Yang menyelamatkanmu Cuma kejeniusanmu dan kebodohanmu dalam bertarung, tahu tidak!"
"Haa?! Ulang sekali lagi!"
Pagi hari diisi oleh Agon dan Hiruma yang kembali bertengkar lagi seperti biasa. Yang didebatkan tak lain tak bukan adalah hasil perbuatan Agon kemarin pada anak buah Fritz.
"Kalau mereka masih terpengaruh buku ancamanku, maka..." Hiruma menarik napas. "Mereka memang hanya mata-mata kelas rendah."
"Maksudmu dia tetap akan melakukan ini?"
"Ya. Kemungkinannya 75 persen."
"Sampai kapan?"
Hiruma melirik dari ekor matanya. Ia lihat Agon memasukan tangannya ke dalam saku celana. Ia meletuskan permen karet tanpa gula kesukaannya.
"Sampai ia mendapatkan apa yang ia mau."
Agon tetap terdiam. Di dalam sakunya, tangannya memain-mainkan flashdisk. Flashdisk berisi bukti kecurangan besar yang dilakukan Fritz. Bukti bahwa segala ketenangan yang ada sekarang hanyalah ilusi untuk sebuah kehancuran.
"Maksudmu mereka akan tetap memburu kita seperti orang bodoh?" tanya Agon. Tubuhnya bersender pada tembok di salah satu lorong yang sepi.
"Mereka tidak akan memburu kita bila tidak punya rencana." Ketus Hiruma. "Kau beruntung mereka Cuma mata-mata kelas teri dan mereka mau disuruh tutup mulut dengan sedikit ancaman. Jika yang datang lebih dari itu, kau tahu sendiri."
"Berisik! Aku tahu!" Agon menggerutu dan berbalik meninggalkan Hiruma. Hiruma hanya menatapnya tajam dan kembali meletuskan permen karetnya.
"Apa sebetulnya tujuanmu...dread sialan."
Hiruma juga ada di posisi yang hampir sama dengan Agon. Mamori, serta putri kecil mereka. Sejauh ini Hiruma tak menemukan siapapun yang membuntutinya. Ia juga tak menemukan tanda-tanda aneh apapun dari sistem pelacak dan kamera pengintai di sekitar lingkungan rumahnya. Ia paham, tapi satu hal yang tak ia mengerti.
Seorang alpha hanya akan melindungi omega yang sudah menjadi matenya. Dan apa yang Agon lakukan persis seperti itu.
~~oo00oo~~
Kenapa disini sangat gelap saat kau tak di sisiku
Caraku menghancurkan diriku sendiri sangat berbahaya
~~oo00oo~~
Entah sudah berapa kali ia bolak-balik muntah seperti ini. Tak peduli apapun yang coba ia konsumsi selalu berakhir terbuang begitu saja sampai rasanya sudah percuma. Setelah menyiram toilet, ia tak segera keluar. Ia hanya duduk, bersandar pada tembok kamar mandi yang dingin.
Kepalanya sakit, tapi entah kenapa dadanya terasa lebih sakit.
Mungkin karena kejadian kemarin. Karena tiba-tiba Unsui menangis sebegitu kerasnya. Hanya karena satu gertakan kecil.
Tangannya mengelus perutnya. Ia sempat terpikir apakah mereka baik-baik saja, tapi mengingat ia masih mual mungkin mereka baik-baik saja. Ia menghela napas sekali lagi. Berpikir betapa bodohnya ia terpengaruh karena hal kecil seperti itu
Ucapannya tidak salah
Entah kenapa otomatis Unsui menutup telinganya, menolak mendengar apapun yang bicara padanya
Memang benar, kau omega yang menjijikkan
"Diamlah..."
Apa yang bisa kau lakukan? Kau bahkan tidak sekuat itu
"Berisik...kau tidak tahu—"
Tentu saja aku tahu. Aku yang paling tahu
"Diam!"
Aku yang paling tahu kalau kau sebetulnya tak bisa melakukan apa-apa
Kau tak bisa memberikan apa-apa
Jika nanti mereka membencimu
Kau hanya bisa menerimanya
"BERISIK!"
Tangannya meninju lantai di bawahnya hingga sedikit retak. Nafasnya makin memburu sebelum akhirnya tersendat dan berubah menjadi tangis. Rasanya ia sudah lelah menangis. Ia muak dengan air mata yang terus mengalir. Tapi ia sudah tidak tau lagi harus apa. Kehadiran Agon meski hanya dalam satu bulan terakhir malah membuat Unsui bergantung padanya. Terbukti hanya karena adiknya menghilang begitu saja membuatnya kelimpungan seperti ini
"Bodoh...berhenti menangis..."
Diusapnya air matanya dengan kasar. Namun tak peduli sekeras apapun, air mata tetap mengalir seenaknya. Membebaskan diri dari penjara pertahanan diri
"Kenapa...tidak berhenti..."
Isakan tangis semakin keras perlahan. Tarikan nafas ditarik panjang-panjang hanya untuk membendung tangisannya. Alih-alih berhenti, malah semakin deras
"A...gon..."
Dengarkan detak jantungku
Memanggilmu kapanpun ia mau
Dirasakannya ada sesuatu yang menarik tangannya menjauh dari wajahnya. Yang ia lihat setelah mendongak adalah adiknya yang tengah menatapnya datar
"A-Agon...?" cicit suaranya seolah tak percaya
"Apa?" gerutu Agon. Benar suaranya. Bahu Unsui merosot seketika. Memang adiknya. Ini bukan mimpi
Karena di kegelapan kelam ini
Kau bersinar sangat terang
Tangan Unsui terangkat perlahan. Agon menyadarinya dan langsung menarik tubuh Unsui ke pelukannya. Yang terdengar setelah itu hanya isak tangis kecil.
"Kenapa kau menangis, hah?"
"K-kau darimana?"
"Darimana? Ya kerja lah. Aku bukan pengangguran."
"Jam setengah tujuh pagi?"
Agon terdiam. Ia hanya mengeratkan pelukannya pada Unsui.
"Jawab." Ujar Unsui singkat
"Aku benar-benar kerja." Jawab Agon. Tangannya mengelus punggung Unsui perlahan. "Lagian kau tidak pernah tuh bertanya kalau aku pergi kemanapun."
Unsui terdiam, semakin membenamkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu Agon. Ia tak menyangka akan berada sedekat ini lagi pada adiknya. Ia lebih tak menyangka lagi Agon tak mendorongnya menjauh.
"Jangan pergi..." pinta Unsui lirih
Agon mengangkat alis. Satu sisi dari dirinya ingin menggoda kakaknya itu. Mungkin setelah itu kakaknya akan mendorongnya menjauh lalu marah-marah seperti biasa. Namun kini ia memilih mengeratkan pelukannya
"Memang aku mau kemana?"
Satu-satunya tangan yang memelukku dikala kesakitan
Yang terbaik dariku
Kau satu-satunya yang kumiliki
Satu tangan Unsui naik dan menghapus air matanya. Sekilas masih terdengar isakan tangis. "Agon, apa aku menyebalkan?"
"Hm? Ah, kau selalu menyebalkan." Jawab Agon santai.
"Ah, begitu ya." Ujar Unsui. Ia hendak melepas pelukannya, namun Agon kukuh memeluknya
"Sekarang aku hanya melihat kakakku yang sedang menangis karena jatuh dari pohon seperti waktu kecil dulu." Ia dapat mendengar tawa Agon. Bukan tawa mengejek. Benar-benar tawa
"Ini dan itu lain soal."
"Iyakah?"
Lama mereka berada di pelukan masing-masing, tak peduli meski lantai yang dingin atau apapun
Berikan tanganmu dan selamatkan aku
Aku butuh cintamu sebelum aku jatuh
~~~TO BE CONTINUED~~~
UN SELESAAAAIIII *heh* *SBMPTN La*
Hyahallooo semuaa~~nyehehe seneng deh bisa santai ngetik ini sampe malem~~ ohok sebenernya karena keasyikan nonton Yakusoku no Neverland sih ohok
So gimana? Kita kembali lagi ke pake lagu BTS ohoho sementang mau comeback *WOY* Gimana gimana? Feelsnya cukup? Adegan action kurang mantap? Butuh momen HiruMamo juga? Unsui kurang kesiksa? *dibuang seRT*
Mari kita balas review dulu
Whiters402 Oh iya laahh gua memang sudah ada niatan *OY* WOAH GAK DIBAWA KABUR TAPI DIHAJAR DOOONNGG PREMAN GAGAL PENSIUN EMANG BEDA *apaan* Uhuk nggak, gak bakal keguguran. Gua bakal siksa dia dengan cara yang lebih greget *APAAN* Iya ini bakal tetep stick ke plot lama kok~tunggu saja surprisenya *SOK-SOKAN SURPRISE LU* HAHAHA IYA KAMIS BAHASA INGGRIS TERUS TADI SOSIOLOGI HAHAHAHAHA TANGGAL 14 SBM HAHAHAHAHAHAHHA. Tenang aja, seperti yang sudah gua bilang gua ga akan nelantarin fict ini ;) EAAAKK
Jadi segitu dulu readers yang budiman. Apabila anda berkenan silahkan luangkan waktu untuk review karena dengan membaca review saya jadi makin bersemangat melanjutkan FF ini. Kenapa? Karena saya tidak merasa sendirian untuk membuat Unsui tersiksa *dibuang*
RnR?
Oh iya ada yang SBM di salemba tanggal 14? Wkwkwkwk
