My heart that is stained with a belated self-hatred

Gets emptied even by that wind brushing by

Outro Tear, Bangtan Seonyeondan

An AgonUnsui fanfiction

Tear

By Lala-chan ssu

Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Hold Me Tight and Tear belongs to BTS dan BigHit

Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, trigger warning, timeline after Enma, dll

Read at your own risk

~~oo00oo~~

Chapter 10: Hold Me Tight

~~oo00oo~~

Tatapan mata perak itu menyisir jalanan dari jendela besar tempatnya berdiri. Dalam genggamannya ada segelas alkohol berhaga tinggi yang sudah tinggal setengahnya. Hiruk pikuk jalanan tak mengganggunya yang berada di lantai 15 hotel mewah tersebut

"Boss." Suara salah satu bawahannya menyadarkannya dari lamunannya. Ia berbalik dan tersenyum pada bawahannya tersebut.

"Bagaimana hasilnya? Apa kalian mendapatkan informasi mengenai Youichi Hiruma?" tanya Fritz. Suara itu begitu tenang, namun mengandung racun berbahaya.

"M-maaf sebelumnya! T-tapi kami tidak berhasil meretas sistem keamanan maupun mendapat informasi dari sekitarnya. Maafkan kami!" bawahannya membungkuk. Fritz hanya terkekeh.

"Tidak apa. Aku sudah menduganya. Kalau begitu, apa mereka mendapat informasi mengenai Agon Kongo? Kalian pernah mengikutinya hingga ke kediamannya."

"M-mereka berhasil mendapatkan informasi dari warga sekitar. Namun mereka dikalahkan oleh Agon Kongo. Sampai saat ini mereka masih belum ditemukan dan pelacaknya hancur." Jawab bawahan itu terbata. Fritz menggumam pelan.

"Yah, sudah kuduga dia akan melakukan itu. Makanya aku mengirim mereka. Lalu, informasi apa yang mereka dapatkan?"

"Komplek apartemen itu memang ditinggali seseorang bernama Kongo, tetapi bukan Agon Kongo." Mendengar itu, Fritz mengangkat alis.

"Hoo...kalau aku boleh tahu, siapa yang tinggal disana?"

"Unsui Kongo."

Fritz menggumam sambil mengangguk. Ia meraih tablet yang berada di sofa dan membuka-bukanya. Tatapan matanya terpaku pada layar di hadapannya

"Unsui Kongo...begitu ya. Mereka saudara kembar." Gumam Fritz. "Tapi ia tak terlibat sama sekali. Kupikir saudara kembar itu tak bisa dipisahkan."

"Kalau begitu haruskah kita mencari lagi keberadaan Youichi Hiruma dan Agon Kongo, boss?" tanya bawahannya. Fritz menggeleng.

"Tidak. Sepertinya informasi kalian bisa digunakan." Fritz tersenyum tipis. "Lihat. Di data ini disebutkan dia seorang omega. Dia bekerja sebagai guru di SMA Shinryuuji di Kanagawa."

"L-lalu apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"

"Kumpulkan semua informasi mengenai orang ini. Semuanya." Fritz tersenyum. Senyumannya semakin mengerikan ketika berada di bawah sinar rembulan yang redup.

"D-dimengerti!" bawahan itupun pamit keluar dan segera menyampaikan pekerjaannya pada rekannya. Fritz bersandar pada kepala sofa. Matanya masih terpaku pada tablet di pangkuannya. Senyumannya terkembang menjadi seringaian

"Nah, bagaimana kau akan menghadapi ini, Youichi Hiruma dan Agon Kongo..."

~~oo00oo~~

Aku menghabiskan minumanku namun terisi lagi oleh kesunyian

Aku seharusnya menyerah kenapa aku selalu memberontak?

~~oo00oo~~

Agon terbangun dan mengucek matanya. Ia menguap sejenak sebelum ia disadarkan suara pintu kamar mandi yang terbuka. Ia menoleh dan melihat Unsui keluar dengan wajah pucat.

"Muntah lagi?" tanya Agon. Unsui hanya mengangguk seadanya. Unsui berjalan menuju counter kecil dan berusaha mengambil gelas meski berujung hampir terjatuh dari genggamannya. Agon menghela napas. Ia bangkit dan mengambil gelas dari kakaknya.

"Duduk sana! Percuma kalau kau akhirnya malah memecahkan barang!"

Baru Unsui hendak protes, Agon sudah lebih dulu mengisi gelas itu dengan air. Langsung ia taruh gelas itu di depan kakaknya dan mengambil gelas untuk dirinya sendiri.

"Kau tidak berangkat? Mau kubuatkan sarapan dulu?" tanya Unsui.

"Tidak usah. Sampah pirang itu bilang aku datang sore nanti saja." Agon menggonta-ganti chanel televisi. Unsui bergumam pelan.

"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan hari ini?" tanya Agon. Kepalanya bertumpu pada tangan kirinya

"Mengisi laporan hasil belajar. Masih ada lima laporan murid lagi." Jawab Unsui

"Hidupmu membosankan ya." Komentar Agon

"Apa-apaan itu maksudnya?"

"Pikir saja sendiri. Bukannya kau pintar, Unko-chan?" tanya Agon dengan nada meledek. Unsui hendak memukul kepala Agon dengan gulungan koran di dekatnya namun dihindari dengan mudah.

"Aaahh aku lapar." Agon bangkit dan membuka kulkas, melihat-lihat isinya.

"Ah, biar kubuatkan—"

"Duduk sana! Nanti kau malah menjatuhkan barang!" sungut Agon. Unsui terdiam.

"Aku sudah tidak gemetaran lagi, kok."

"Bulshit."

Agon mengambil tiga butir telur dan sebuah mangkuk. Ia mencoba memecahkan telur pertama namun pecahan cangkangnya malah masuk ke dalam mangkuk bersama telurnya. Melihat itu, Unsui menutup mulut menahan tawa.

"Diam! Kau pikir ini lucu?!" seruan Agon malah membuat tawa Unsui lepas. Agon menggerutu dan mengacak rambutnya. Unsui bangkit dan mengambil sepasang sumpit lalu memunguti pecahan cangkang satu per satu.

"Kau memecahkannya terlalu kasar. Pelan saja, tapi kuat." Unsui mengambil sebuah telur lalu mengetukkannya ke pinggiran meja dua kali lalu memecahkan telurnya. Setelah ia membuang cangkang telur itu, ia berbalik menatap Agon

"Coba kau lakukan seperti tadi."

Agon mengambil sebuah telur dan mencoba memecahkannya. Seperti yang sudah Unsui duga, Agon dapat melakukannya dengan sempurna. Dalam hati ia agak mengutuk kenapa adiknya itu terlalu sempurna.

"Oy, jangan bengong. Setelah ini bagaimana?"

Unsui mengerjap. Ia tak salah dengar? Adiknya memintanya mengajarinya?

"Unko-chan!"

"Ah, pakai sumpit ini untuk mengocoknya." Unsui mengambil mangkuk dan mengocok isinya.

"Lalu berikan garam dan lada. Sedikit saja, lalu dikocok lagi."

Unsui memperhatikan gerak-gerik Agon. Ia akui ia sedikit membencinya. Ia sedikit membenci bakat Agon yang bahkan berlaku untuk hal kecil.

"Setelah itu tinggal digoreng saja. Kau bisa?" tanya Unsui.

"Cih, jangan meremehkanku! Orang sakit duduk saja sana!"

Entah kenapa Unsui merasa ini akan berakhir buruk bila ia tak mengawasi adiknya tapi sisi lain dalam dirinya ingin melihat sejuah apa adiknya bisa mengacaukan ini.

Unsui pun menurut dan duduk. Untuk mengisi waktu, ia membuka laptopnya dan mengisi laporan hasil belajar siswa. Keheningan diisi oleh suara penggorengan dan suara ketikan di laptop. Baru beberapa menit, bau harum sudah tercium.

Namun sesaat kemudian, malah tercium bau terbakar dan suara panci seperti dilempar ke wastafel. Unsui menoleh dan melihat Agon menatap wastafel yang entah kenapa mengepulkan asap. Agon berbalik menatap Unsui.

"Masa bodo sama sarapan."

Unsui tertawa keras

~~oo00oo~~

Kau dan aku seperti ponsel

Ketika kita berjauhan, kau tahu kita akan hancur

~~oo00oo~~

Sekitar 30 menit kemudian, sudah ada dua piring omelet di meja. Unsui yang membuat, tentu saja. Setelah berhasil membersihkan teflonnya yang gosong.

"Kau meyalakan apinya terlalu besar."

"Ck. Ya maaf deh!"

"Tidak apa meski aku masih kesal soal teflonku."

"Berisik!"

Unsui terkekeh. Ia kembali memakan sarapannya. Entah kapan terakhir kali ia bisa tertawa dengan adiknya, seperti saudara normal yang lain. Saat universitas hubungan mereka memang tak setegang saat SMP dan SMA, namun saat itu terasa masih ada dinding pemisah di antara mereka. Namun kini mereka duduk berhadapan, saling menertawakan dan saling memarahi. Seolah pertengkaran mereka yang dahulu tak pernah terjadi. Seolah kekhawatiran Unsui mengenai dirinya yang seorang omega dan Agon yang seorang alpha tak pernah ada.

"Apa lihat-lihat?"

Unsui mengerjap. Tatapan matanya bertemu tatapan mata Agon yang masih kesal. Senyuman tipis terukir di bibirnya.

"Jadi jenius hanya julukan di lapangan ya?"

Untungnya Unsui mampu menangkis lemparan koran yang diarahkan padanya

~~oo00oo~~

Tanganmu, kehangatanmu, hatimu

Aku ingin melihat semuanya, kumohon padamu

~~oo00oo~~

Dari semua orang yang mungkin mengunjunginya di hari biasa seperti ini, ia tak pernah tahu bahwa mantan seniornya termasuk.

Kini Yamabushi duduk di hadapannya dengan seplastik buah di sebelahnya. Unsui menggaruk tengkuknya tak nyaman. Agon sendiri duduk santai di sebelahnya sambil memainkan ponselnya.

"Umm...jadi...apa kabar, Yamabushi-senpai?" Unsui mencoba memecahkan suasana canggung.

"O-ou. Aku baik. Kau sendiri?" tanya Yamabushi. Unsui hanya tertawa canggung. Dibilang baik-baik saja juga ia tak merasa baik-baik saja.

"Ng...baik, kurang-lebih." Jawabnya. "Tumben sekali senpai kemari."

"Aku baru menyelesaikan pekerjaanku dan aku diberitahu Ikkyu soal kalian." Yamabushi terkekeh. "Tadinya aku ingin mengajak Yumiko karena mungkin kalian bisa bicara, tapi aku buru-buru kemari."

Ah, ya. Iya terkadang lupa bahwa tanpa diduga kakak kelasnya itu menikah lebih dulu tiga tahun lalu. Unsui menghela napas pelan, berpikir seberapa jauh hidupnya berubah sampai ke titik ini.

"Tapi kau memberitahu Ikkyu dan teman-teman universitasmu tapi tak memberitahuku. Tidak adil." Yamabushi terkekeh membuat Unsui salah tingkah.

"Ah, bukan. Itu—eh, maaf." Unsui tak bisa mengelak. Ia jujur saja tak terpikir memberitahu siapa-siapa sebelumnya. Ia hanya terpikir memberitahu Aishi, Agon tahu sendiri karena bertabrakan dengannya waktu itu, Agon memberitahu Ikkyu dan Monta, dan kebetulan saja ia bertemu dengan kawan-kawan se-timnya dari universitas dulu.

"Tidak apa-apa. Kau pasti memikirkan banyak hal ya." Yamabushi tersenyum. Unsui memang bisa dibilang agak dingin, tapi ia bisa mempercayai Yamabushi. Terkadang ia merasa bahwa seniornya itu lebih baik daripada ayahnya. Yamabushi menghormati Unsui, begitu pula sebaliknya. Yamabushi tetap bersikap seperti biasa padanya meski telah mengetahui bahwa Unsui seorang omega. Malah terlihat sedikit protektif seolah Unsui adalah adiknya sendiri.

"Tapi aku terkejut Agon mau menjadi pihak yang bertanggung jawab seperti ini." Celetuk Yamabushi

"Percayalah bahwa aku juga terkejut." Unsui tersenyum tipis.

"Berhenti membicarakan orang seolah orangnya tidak ada disini!" protes Agon. Unsui hanya meliriknya sekilas sebelum kembali bicara pada Yamabushi membuat Agon merengut kesal. Seperti biasa, Yamabushi lebih banyak bicara dibanding Unsui. Yah memang biasanya juga Unsui tak terlalu banyak bicara selain soal strategi american football atau ketika ia memarahi Agon.

Agon memutuskan untuk pergi ke toilet saat Yamabushi mulai membicarakan ketika istrinya hamil pada Unsui

~~oo00oo~~

Yamabushi memutuskan untuk pulang sekitar dua jam kemudian. Disaat Yamabushi hendak pergi, Agon keluar dari kamar mandi. Yamabushi tersenyum pada Agon.

"Nah, Unsui. Kau jaga diri ya. Untuk Agon, kuharap kau bisa menjaganya." Ujar Yamabushi. Agon melirik dan melihat wajah kakaknya memerah dan bilang bahwa Yamabushi mengatakan hal yang tak perlu.

Setelah Yamabushi tak terlihat lagi dari pandangan mereka, Unsui menghela napas dan menatap Agon.

"Bisa-bisanya kau diam di kamar mandi selama dua jam."

"Haah? Aku ogah mendengarkan soal morning sickness atau apalah itu."

"Kau bilang begitu tapi kau mendengarkan, kan?"

"Punya bukti apa kau berani bilang begitu?!"

"Kau mengatakan morning sickness dengan benar."

Agon menggerutu dan Unsui hanya menarik senyuman tipis. Ditariknya tangan Agon masuk dan menutup pintu rumahnya.

"Makan siang dulu ya." Ujar Unsui sambil membuka kulkas. Dilihatnya Agon yang nampak ingin mengatakan sesuatu namun mengurungkan niatnya

"Kau boleh membantu tapi jangan lakukan apa-apa kalau aku tidak melihat."

"Cerewet. Memang kau ibuku?!"

~~oo00oo~~

Jika kau tak disini aku hanyalah jasad

Jadi bagaimana aku bisa bernapas?

~~oo00oo~~

Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Agon berbaring di lantai sementara Unsui berkutat dengan laptopnya. Sesekali Agon memperhatikan Unsui. Entah sejak kapan Unsui memakai kacamata, ia tak ingat kakaknya punya masalah penglihatan. Sorot matanya fokus dari balik bayangan layar yang terpantul dari kacamatanya.

Keheningan hanya diisi oleh suara ketikan keyboard. Unsui sedang serius sementara Agon enggan membuka percakapan. Satu hal yang pasti, ia bersyukur kakaknya tak bertanya lebih jauh mengenai kepergiannya kemarin.

Satu sisi ia mengerti bahwa kakaknya berhak tahu. Justru akan lebih menguntungkannya jika Unsui tahu situasi. Tapi beban itu terlalu berat untuknya sekarang.

Apa ia bawa saja Unsui ke apartemen lamanya? Tapi itu malah akan menimbulkan kecurigaan

Sial, semua ini membuat Agon sakit kepala.

Ponselnya bergetar. Tangannya terulur ke atas meja dan membuka kuncinya. Lagi-lagi Hiruma. Matanya membelalak saat melihat isinya. Ia bangkit dan langsung saja buru-buru mengganti bajunya.

"Agon? Ada apa?"

Gerakannya terhenti. Dilihatnya kakaknya yang menatapnya penuh rasa heran. Agon diam-diam menelan ludahnya.

"Ah, ada masalah sedikit. Si sampah itu menyuruku cepat-cepat datang." Jelas Agon. Unsui mengangguk.

"Pasti mendesak sekali sampai kau buru-buru." Unsui terkekeh. Diraihnya tas selempang Agon yang biasa ia bawa di belakangnya. "Kau pulang kapan?"

"Mungkin besok. Tergantung situasinya." Jawab Agon. "Kunci pintunya. Jangan sampai kejadian kemarin terulang."

"Iya, aku tahu." Unsui memberikan tas selempang itu pada Agon. Agon mengambilnya dan beranjak keluar.

"Ah, Agon."

"Apa?"

Unsui terdiam sesaat sebelum tersenyum.

"Hati-hati di jalan."

Detik itu, Agon merasa jantungnya berhenti. Perasaan aneh menelisik hatinya. Perasaan familiar yang membuatnya membenci dirinya sendiri. Agon membalasnya dengan seringaian kecil.

"Memangnya aku bocah." Ujar Agon. Ia membuka pintunya cepat dan hampir menabrak eseorang laki-laki yang kebetulan lewat. Agon mendecih dan buru-buru menuruni tangga. Dibacanya lagi pesan dari Hiruma lalu mendecih

Kelompok Fritz menyerang kantor cabang kita

Unsui menghela napas melihat tingkah adiknya yang sembrono. Ia menatap laki-laki yang nyaris ditabrak oleh Agon.

"Maaf, dia sedang buru-buru." Ujar Unsui. Laki-laki itu menoleh dan menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Ah, tak apa. Aku juga melamun tadi." Jawabnya. Unsui hanya tersenyum sebelum menutup dan mengunci pintu rumahnya.

Laki-laki tadi terdiam. Ia melangkahkan kaki menuju lantai bawah sebelum mengutak-atik ponselnya. Ditaruhnya ponsel itu ke telinganya, menunggu seseorang menjawab panggilannya.

"Informasi dari mereka benar, bos." Ujar anak itu.

"Ya. Sepertinya karena beberapa alasan, Agon kongo tinggal di apartemen itu. Dan untuk alasannya, mungkin sedikit banyak aku tahu." Laki-laki itu bersender di dinding.

"Kakaknya seorang omega. Dan dia sedang hamil."

Peluk aku erat, peluk aku

Kumohon, kumohon, kumohon tarik dan peluklah aku

~~~TO BE CONTINUED~~~

AKHIRNYA NURRAFA BIKIN FLUFF PEMIRSAAAAA HIKS. AKU TERHURAAAA *La*

Uhuk. Apa kabar penghuni FESI sekalian? Kembali lagi bersama author sinting di FF sinting pula

Meski ini fluff chapter depan bakalan ada action lagi loh~~ kyyaaaaa gak sabar deeehhh *kan elu authornya La*

Duh gak biasa banget bikin Agon menye-menye begini TAPI GUE SUKAAA *apasi*

Gua ngetik ini di sekolah btw *PLAK* Jadi maaf kalau ada typo bertebaran yah. Laptopnya gue taro di dengkul soalnya /eh

Oh iya DAKU NGETIK INI SEBAGAI PERAYAAN BEBASNYA SAYA DARI SBMPTN PERTAMA YUUHUUUU DOAIN SEMOGA NILAINYA BAGUS YA GAEEESS

Bales bales review dulu~

Whiters402 Ohoho iya doongg udah sedih-sedih kudu ditutup pake yang manis-manis ohohoho (padahal biasanya juga manis dulu baru sedih nih bocah) Aih makasih lho baru pertama bikin action. Yah maraton Yakusoku no Neverland kemaren cukup membantu juga wkwkwkwk. Ini nanti sampe lahiran. JUSTRU DRAMANYA DISITU AHAHAHAHAHAHA *ditabok*

Uhuk Unsui gitu karena hormon bumil kali yah wkwk tapi gak ngapa lah ya biar Agon ngaku, gak tsundere mulu :'( *apa* Aku udah mulai munculin Yamabushi~ masih bingung nih mau munculin pair apalagi hmmmm... makasih loh udah setia nungguin FF abal nan penuh dosah ini wkwkwk *La*

Oke saya udah disangka gila sama adek kelas dan staff sekolah. RnRnya readers~~ bhubyeee~~~ *kabur sambil nge-dab*

p.s: Yang besok milih JANGAN GOLPUT *pake nada Epic Rap Battle awokwokwo*