My heart that is stained with a belated self-hatred
Gets emptied even by that wind brushing by
—Outro Tear, Bangtan Seonyeondan
An AgonUnsui fanfiction
Tear
By Lala-chan ssu
Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Found and Lost belongs to Survive said the Prophet, Tear belongs to BTS dan BigHit
Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, TYPO, trigger warning, timeline after Enma, dll
Read at your own risk
~~oo00oo~~
Chapter 11: Found & Lost
~~oo00oo~~
Pasti ada saat aku berteriak 'majulah!'
Meski aku tak benar-benar bermaksud
Agon mendobrak pintu kaca seolah benda itu menghalangi jalannya. Matanya menyalang ke kiri dan kanan, memperhatikan lobi kantor cabang mereka yang sangat sepi
Terlalu sepi
Agon mendecak kesal. Ia menekan tombol lift namun percuma. Lift itu tidak menyala, begitu pula dua lift di sebelahnya. Agon merutuk di bawah nafasnya, lalu berlari ke lantai dua dengan tangga darurat.
Di lantai dua, lagi-lagi suasana sepi. Agon memutar kepalanya, tak mungkin di pukul segitu orang-orang tak ada yang berkeliaran. Kalaupun sudah malam biasanya masih banyak orang-orang yang bekerja. Dimana kemungkinan orang-orang suruhan Fritz melakukan aksinya.
Suasana kantor sepi
Lift yang tidak berfungsi
Alarm sama sekali tak menyala meski Agon mendobrak paksa pintu depan
Langsung saja kakinya membawanya lari menaiki tangga ke lantai 5. Tempat kontrol pusat di kantor ini. Begitu kakinya menginjak lantai lima, tanpa basa-basi ia langsung menuju ke sebuah ruangan dengan dua pintu di ujung lorong.
Tak mempedulikan kemungkinan ada seseorang berdiri di balik pintu, langsung saja ia tendang pintu di hadapannya. Yang ia lihat adalah sekumpulan layar dan Hiruma berdiri di hadapannya.
"Oy, sampah pirang! Mana pengganggu-pengganggu sampah itu?!" tanya Agon kesal. Hiruma hanya menoleh dan menunjuk ke depan layar.
Yang berada di depan layar itu bukanlah Fritz Clarkson. Sosok mungil namun memiliki tatapan tajam itu duduk di salah satu kursi dengan kaki disilang. Pakaiannya yang rapi menunjukkan postur tubuhnya yang kecil dan ramping dengan sangat jelas. Rambut pendeknya yang berwarna kecoklatan terlihat halus dan berkilau di depan layar komputer yang menyala. Mata hijaunya menatap mereka tajam.
"Hah? Siapa bocah SD ini?" tanya Agon. Namun sosok di hadapannya tak bergeming.
"Maaf. Jika kalian berharap boss ada disini, maka kalian terlalu meremehkan kami." Ujar sosok itu. "Aku kemari hanya ingin bernegosiasi sekali lagi. Serahkan bukti-bukti yang kalian miliki. Maka tak ada yang terluka."
"Kekeke. Bocah SD ini pintar bicara." Hiruma terkekeh. "Kalau kami serahkan apa yang bisa kami dapatkan? Kalau kami serahkan bukti itu kalian hanya akan menghancurkan separuh dunia ini."
"Aku bukan bocah SD. Aku lebih tua dari kalian. Kalian orang Jepang harusnya menghormati orang yang lebih tua." Orang itu mendelik. "Aku kemari hanya meminta bukti-bukti itu. Aku sendiri tidak tahu menahu akan apa yang dilakukan boss."
"Tidak tahu menahu? Kalau begitu untuk apa kau kemari mengambil barang yang tidak kau ketahui isinya, sampah?!" bentak Agon. Orang itu menatap Agon sejenak lalu perlahan menyeringai tipis.
"Baiklah. Karena ini negosiasi, aku berikan kalian permintaan dan penawaran. Berikan bukti-bukti itu, dan akan kami pertimbangkan untuk membawa pemerintahan Jepang masuk dalam proyek ini." Ujar orang itu. Hiruma mengangkat alis.
"Proyek?"
"Bukti penipuan saham yang kalian ambil itu merupakan bagian dari sebuah proyek." Jelas orang itu. Tangan lentiknya menyapu rambutnya dan merapikannya ke belakang telinganya. "Proyek itu merupakan hasil kerja sama perusahaan Clarkson dan beberapa sindikat pemerintahan Amerika. Proyek itu berfokus pada pembangunan negara-negara yang masih terbelakang atau berkembang. Dengan itu kami sudah meminta persetujuan kerja sama juga pada beberapa negara di Eropa, Rusia, dan China. Bila Jepang bergabung, hal ini akan lebih efektif bukan?"
"Tapi kalian tidak menggunakannya untuk itu." Hiruma menyeringai meski tatapan matanya sulit ditebak. "Necis sialan itu tak sebaik itu. Kalian menyembunyikan sesuatu. Terutama kerja sama kalian dengan Rusia dan China."
Orang itu makin menarik senyumannya. "Anda memang tajam ya. Anda hebat sekali, Youichi Hiruma." Komentarnya. "Memang benar. Tak mungkin sebuah proyek bantuan menghasilkan dana sebesar itu dan memalsukan saham di berbagai negara. Lalu, apa pendapat kalian mengenai ini, tuan-tuan sekalian?"
"Pembuatan senjata pemusnah massal." Jawab Hiruma tenang. Tangannya ditaruh di saku. "Selain data-data kecurangan kalian, tim kami berhasil menemukan sebuah bagan dan peta berbagai penjuru dunia yang ditandai tanda merah bulat dan segitiga warna hijau dan biru. Itu tempat kalian akan membuat dan menyalurkan senjata itu kan?"
Orang itu terkekeh kemudian lama-lama meledak menjadi tawa.
"Haaahh...tak kusangka kalian mencari tahu sampai sejauh itu. Kalian sangat nasionalis juga ya. That's why people said don't judge a book by its cover." Orang itu duduk tegap dan menatap Hiruma dan Agon. "Jadi, bagaimana? Tertarik?"
"Untuk apa aku ikut hal ini?" Hiruma masih menyeringai. "Kalau kau ingin bernegosiasi, akan kukatakan juga permintaan dan penawaranku."
"Katakanlah."
"Jika aku kembalikan bukti ini, hentikan semua proyeknya. Sebagai gantinya, perusahaan Clarkson bisa masuk ke dalam perusahaanku." Tawar Hiruma. Ekspresi terhibur orang itu luntur seketika.
"Kau ingin kami semua menjadi bawahanmu?"
"Kekeke. Bahasa sopannya seperti itu."
Orang itu bangkit. Dilangkahkan kakinya melewati Agon dan Hiruma.
"Ah, kita belum berkenalan. Maafkan aku." Ujar orang itu dan berbalik menghadap Hiruma dan Agon. "Namaku Dyllan. Dyllan N. Orion." Ujar orang itu sambil tersenyum. Agon hanya mendelik dan Hiruma tetap bertampang datar.
"Kuanggap negosiasi ini gagal. Untuk pegawai kalian, tenang saja. Aku tak menyekap mereka. Aku membiarkan mereka semua pergi. Bukankah negosiasi lebih baik dilakukan bila tenang?" Dyllan hanya tersenyum tipis.
"Sebelum kau pergi," suara Hiruma menahan Dyllan di depan pintu. "Apa mau Fritz sialan itu?"
Dyllan menatap Hiruma garang. "Berhenti mengatainya sialan."
"Jawab aku."
Dyllan tersenyum, "Pada negara ini? Belum ada." Ujarnya sambil membuka pintu.
"Pada kalian? Tunggu saja." Lanjutnya "Bila kalian tak menerima tawaran kami, setidaknya tak akan kami biarkan kalian menghalangi."
~~oo00oo~~
Mungkin daripada menemukan jawaban
Aku hanya ingin berjalan bersamamu
~~oo00oo~~
Agon berkutat pada pekerjaannya. Kumpulan hitungan dana yang menunggu untuk diselesaikan membuatnya kesal. Ia bisa menyelesaikan itu semua dengan cepat dan sempurna, tanpa kesalahan sama sekali. Namun pikirannya penuh pada apa yang dikatakan bocah itu.
Apa yang mereka rencanakan
Agon tak peduli bila mereka ingin menyakitinya. Silahkan, coba sakiti dia. Ia akan balik menghajar dan mengancurkan mereka menjadi debu. Tak peduli sekuat apa mereka, mereka bukan tandingan Agon.
Wajah Unsui tetap muncul di pikirannya. Ia akan meninggalkan Unsui semalaman. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?
Semua ini malah membuatnya paranoid
Nyaris tak ada siapapun di sana. Hanya ada Agon di ruangan itu. Tangannya hanya memutar-mutar pulpen sedari tadi. Jam dinding menunjukan pukul setengah dua dini hari.
Sebuah tangan menaruh kopi di mejanya. Diliriknya sosok Hiruma dari ekor matanya sedang meniup permen karet.
"Apa gigimu setajam itu karena permen karet sialan yang kau kunyah?" cibir Agon. Hiruma hanya meletupkan gelembung permen karetnya dengan santai.
"Necis sialan itu tak akan berhenti sampai disini." Ucapan Hiruma memecah keheningan ruangan. "Dari caranya bermain, dia hanya ingin orang-orang masuk kendalinya. Tipe yang paling merepotkan."
Agon hanya mendecih. Sesekali tangannya bergerak menulis di atas kertas.
"Terlebih lagi kau itu, dread sialan!" Hiruma menaikkan senjatanya. "Kenapa pula kau jadi terlibat dengan masalah biksu sialan itu, hah?! Kalau tidak kau tidak perlu memikirkan masalah ini terlalu berat, bodoh!"
"Kau sebut aku bodoh?!"
Hiruma kembali terdiam. Ia menurunkan senjatanya.
"Ada yang kau sembunyikan."
"Hah? Tidak ada tuh."
"Itu bukan pertanyaan." Sela Hiruma. "Memang ada yang kau sembunyikan."
~~oo00oo~~
Berbagai pikiran mengalir seiringan kegelapan terjatuh
Teralu dalam di jalan sejajar ini
~~oo00oo~~
Ini bukan kali pertama suaminya pulang larut, namun Mamori entah kenapa sangat khawatir.
Berkali-kali ia membuka pintu kamar putrinya meski tak ada yang berubah. Tataan kamar yang tidak teralu rapi atau berantakan, serta putrinya yang baru berusia dua tahun masih terlelap.
Mamori menghela napas dan kembali menutup pintunya. Dilangkahkannya kaki jenjangnya menuju dapur untuk mengambil segelas air. Setelah menenggaknya, ia memutuskan untuk kembali ke kamar.
Dilihatnya ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dilihatnya kembali hanya untuk menemukan tak ada pesan apapun dari Youichi. Ia menghela napas lagi dan kembali merebahkan dirinya. Kasur itu terlalu besar untuknya sendirian. Ia sudah terbiasa, namun kenapa ia masih gelisah.
Iris birunya perlahan memberat. Ia membiarkan rasa kantuk membawanya. Membawa kekhawatirannya menjauh. Youichi baik-baik saja. Ia yakin itu.
Suara pintu depan yang terbuka membawa kembali kesadaran Mamori.
~~oo00oo~~
"Kau sadar apa yang kau lakukan itu berbahaya?"
Agon menyesap kopinya. Lembaran laporan neraca di hadapannya sudah terisi sempurna.
"Yah, kalau ibuku masih hidup mungkin dia akan mengutukku—"
"Bukan itu maksudku." Potong Hiruma
"Apa? Dia akan membenciku lagi?"
"Itu salah satunya."
"Kalau maksudmu soal kejadian ini, jelas aku paham." Agon menaruh gelas kopi ke mejanya.
"Kalau kau memang masih mau melanjutkan ini, dia berhak tahu."
Agon mematung. Hiruma sampai berkata begitu, berarti apa memang dia yang terlalu khawatir? Namun satu sisi dalam dirinya menolak keras ide itu.
"Kakakmu itu cukup pintar dalam menghadapi situasi. Bukannya itu akan lebih menguntungkan?"
Baru Agon membuka mulut, suara dari ponsel Hiruma menyadarkannya. Hiruma mengecek ponselnya dengan malas dan iris emeraldnya melebar. Ia cepat-cepat bangkit dan mengambil senjatanya yang ia taruh di dekat meja.
"Ikut aku." Perintahnya.
"Hah? Kenapa?"
"Ada yang menyusup ke rumahku."
~~oo00oo~~
Entah sudah seberapa lecet lengannya, berkali-kali memberontak dari orang yang menahan tubuhnya. Seorang lagi berjongkok di hadapannya dan mengangkat dagunya.
"Dimana Youichi Hiruma, hm?" tanya orang itu. Suara baritonnya yang berat membuat hati Mamori berdesir ketakutan.
"Dia tidak disini."
"Omong kosong." Orang itu masih menatap Mamori tepat di mata. "Kalau kau tidak memberitahu kami, kami bisa melakukan apapun lho."
Iris biru Mamori melihat salah seorang dari mereka mendekati pintu kamar putrinya. Perlahan air mata menumpuk di matanya.
"Jangan dekati dia! Lakukan apa maumu padaku, jangan dekati anakku!" teriak Mamori. Pria di hadapannya menyeringai puas.
Beban di atas tubuh Mamori menghilang, digantikan oleh teriakan kesakitan dan suara tubuh terbanting di tembok. Mamori melihat sekelebat seseorang maju dan meninju wajah orang yang berada di dekat kamar putrinya. Mamori merasa tubuhnya ditarik ke pelukan seseorang dan pria yang sejak tadi berada di depannya dipaksa bertekuk lutut.
"Y-Youichi-kun?" Mamori menoleh mendapati suaminya merengkuh tubuhnya. Namun mata hijaunya menatap tajam sosok pria yang tubuhnya dikunci.
Pria itu mengerang sementara Agon menahan tubuhnya. Hiruma melepaskan tubuh Mamori, namun memastikan ia tetap berada dalam jangkauannya.
"Siapa yang membayarmu melakukan hal ini?"
Suara Hiruma terdengar tenang. Mendengarnya, pria itu menyeringai.
"Datang juga, Youichi Hiruma." Pria itu menjilat bibirnya. "Boss ingin barangnya kembali."
"Aku menolak." Mata Hiruma memicing. "Oy, dread sialan. Kau yang menghajar mereka, bawa mereka keluar."
"Haaah?! Jadi kau membawaku kemari hanya untuk ini, sampah?!"
"Kekeke! Kau bilang pekerjaan akuntan membosankan, kuberi pekerjaan seperti ini harusnya kau senang dong?"
Mamori menghela napas. Entah kapan kedua manusia di hadapannya ini dewasa. Masih sama seperti saat SMA atau universitas.
"Youichi-kun, hentikan! Agon-kun, terima kasih. Maaf sudah merepotkan." Ujar Mamori dan dihadiahi senyum dari Agon.
"Yah, toh aku melakukannya untukmu. Bukan untuknya." Jawab Agon santai dan dihadiahi lemparan pulpen yang dihindari dengan mudah.
"Jaga sikapmu di depan istri orang lain!" bentak Hiruma yang dihadiahi cibiran.
"Youichi-kun! Hentikan itu!" tegur Mamori yang dihadiahi kekehan dari Hiruma.
"Aaahh...jadi kau Agon Kongo ya." Tiba-tiba pria yang ditindih oleh Agon bersuara.
"Haah?! Kau masih bisa bicara, sampah tengik?!" Agon meraih rambut pria itu dan berniat membenturkan kepalanya ke lantai.
"Keh. Kalau aku jadi kau aku tak akan mengikutinya."
Agon mengangkat alis. Namun seketika iris abunya melebar. Cengkramannya pada rambut pria itu mengerat, tak peduli akan teriakan kesakitannya.
"Kalian apakan kakakku?"
~~oo00oo~~
Aku bahkan terpikir bagaimana aku bisa sampai sini
Aku sudah lupa
~~oo00oo~~
Pandangannya kabur dari air mata yang terus mengalir. Ia melihat rambut pirang dan iris kebiruan yang amat tak asing baginya, namun disaat bersamaan sama sekali tak ia kenali.
"Hei, kenapa kau menolakku?"
Seiring perkataan itu mengalun, rasa sakit memuncak di bagian selatan tubuhnya. Ia merasakan benda asing memasukinya paksa, menggempur pertahanannya sedikit demi sedikit.
"Hei...aku menginginkanmu, kau tahu?"
Isak tangis kembali menyeruak dari dadanya. Seluruh tubuhnya sakit. Tubuh yang menindihnya menambah bebannya dan terasa menghancurkan seluruh sendi tubuhnya. Tangannya memberontak dari sesuatu yang mengikatnya dengan erat hingga terasa perih.
"Kau juga menginginkanku, kan?"
Satu hentakkan keras membuatnya menjerit tertahan. Ia rasakan bagian privasinya mengeluarkan cairan panas. Ia tahu itu bukan cairan yang biasa keluar dari tubuhnya karena rasanya perih. Entah karena pengaruh heatnya atau apa, ia bisa mencium baunya. Bau anyir
Ia rasakan kepalanya menggeleng pelan. Rasa sakit di tubuhnya sudah tak bisa ditahan. Entah sudah berapa hari ia berada dalam posisi seperti ini. Ia sudah tak menghitungnya lagi, ia ingin ini berakhir.
Sosok itu bukan sosok yang ia cintai.
"Hentikan...hentikan, Aishi..."
"Kenapa?"
Hentakkannya kian cepat membuatnya makin menjerit kesakitan. Tetangganya akan protes mendengar teriakannya tengah malam begini tapi mungkin saja ada yang bisa menolongnya. Seiring gerakan pria di atasnya, rasanya kesadarannya menipis.
"Kenapa kau menolakku?" ia terus meracaukan kata-kata itu sambil teus menghentakkan tubuhnya, terus menerobos seluruh pertahanan omega malang di bawahnya. Tak memperdulikan teriakan kesakitannya.
"Jawab aku, omega sialan!" bentaknya seiring cairan hangat keluar begitu saja. Nafas mereka tak beraturan. Perlahan sosok di atasnya mengabur, entah karena air matanya atau karena kesadarannya menghilang
Iris abunya sontak terbuka. Dilihatnya jam kecil menunjukkan pukul dua dini hari. Ia mengerang. Belakangan ini ia selalu terbangun tengah malam. Dan lagi-lagi terbangun karena mimpi yang sama.
Lama-lama itu bukan lagi mimpi berupa potongan-potongan kecil. Perlahan semakin jelas, menunjukkan betapa dalam luka itu tertoreh. Betapa hancur rasa percaya yang sudah ia berikan padanya.
Tangannya gemetaran, perlahan mengelus perutnya. Jujur saja, Unsui muak. Ia muak dikunjungi mimpi itu setiap malam. Namun yang ia lakukan malah membuat seluruh mimpi itu semakin jelas. Bayinya tumbuh sehat, mengingatkannya akan seluruh dunianya yang tiba-tiba hancur berantakan.
"Apa yang kupikirkan..." Unsui menghela napas. Perlahan ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Ia biarkan air mengalir di wastafel. Ditatapnya pantulan wajahnya di kaca.
Tangannya kembali mengelus perutnya. Ia merasa bersalah sudah berpikiran seperti tadi. Ia yang memutuskan akan melahirkan mereka, namun bisa-bisanya ia masih menyalahkan mereka. Dibasuhnya wajahnya dengan air dingin, berharap bisa menjernihkan pikirannya.
Suara pintu terbuka membuat Unsui mematikan keran air. Seingatnya ia sudah mengunci pintu. Apa Agon sudah pulang? Namun perasaan panik perlahan menyusuri dadanya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia lihat sebuah botol sabun kaca dan meraihnya. Perlahan ia mendekati pintu dan meraih gagangnya. Tenggorokannya terasa sesak, namun ia putar gagang pintunya perlahan.
"Agon...?"
Iris abunya membuka lebar melihat ada seseorang berdiri di depan pintunya. Baru ia berusaha menutup pintunya lagi secepat mungkin, orang itu bereaksi lebih cepat dengan menahan pintunya. Refleks, Unsui membiarkan pintunya terbuka dan menghantam kepala orang tersebut dengan botol kaca. Erangan kesakitan memecah kesunyian malam. Unsui mendorong orang itu menjauh dan berusaha keluar.
Tubuhnya tertahan dan mulutnya terbungkam kain. Ia terus memberontak sampai sebuah suara berbisik di telinganya.
"Jadilah anak baik dan jangan membuat masalah, ya."
Dengan itu perlahan sekelilingnya menggelap
Kemarahan, kebahagiaan, kesedihan
Semuanya tak akan berarti
~~~TO BE CONTINUED~~~
Nggak. Nurrafa nggak make OST BF karena baper kok. Nggak /ditampol
Oh iya btw
*tebar konpetti* HBD AKU~~~ *plak*
Waahh saya udah 18. Haduh cepet yah. Berasa tua~~
Dengan ini berarti saya sudah resmi 6 tahun ada di FESI ini ya. Apa mungkin lebih? Ehehe
Kalo gini berarti ini fandom saya yang paling komplit yah. Masa-masa polos, masa-masa nangis baca angst, masa-masa jiper sendiri baca horor, serunya baca fantasy, pertama kesel sama satu chara gegara baper fanfic, meski bukan fandom ini saya bikin R-18 pertama sih OHOK tapi fandom ini tempat saya tumbuh dewasa. Yang mengajari esensi bhineka tunggal ika yang sesungguhnya EAA
HAHAHA IYA JADI SAYA BIKIN ADA ADEGAN NYEREMPET SEMENTANG SAYA RESMI LEGAL *woey*
Waduh waduh waduh padahal saya tak berniat melakukan adegan penculikan secepat ini. Tapi dengan pertimbangan saya bisa make plot yang lebih gede jadi ya...ahaha *AUTHOR CULAS*
Jadi, terima kasih buat yang udah setia ngikutin cerita ini~~ kalau ada senior saya yang baca ini juga, saya beri banyak terima kasih karena sudah tabah ngadepin saya yang lagi alay. Kalau diinget lagi saya malu sendiri dan pengen ketemu kalian terus dogeza dan sumimasen 10 jam ala Doppo... /LA dan untuk yang baru di FESI...gak nyangka aja kalo bakal dapet adek sehubungan dulu saya paling piyik AHAHAHAHAHA semoga betah ya~~
Dan untuk yang SBMPTN SEMANGAAATT KITA BERJUANG BERSAMA-SAMA (padahal nangis ama temen gegara soalnya) /plak
Akhir kata, RnR?
