My heart that is stained with a belated self-hatred
Gets emptied even by that wind brushing by
—Outro Tear, Bangtan Seonyeondan
An AgonUnsui fanfiction
Tear
By Lala-chan ssu
Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Jamais Vu and Tear belongs to BTS and BigHit
Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, TYPO, trigger warning, timeline after Enma, dll
Read at your own risk
~~oo00oo~~
Chapter 12: Jamais Vu
~~oo00oo~~
Sepertinya aku tersesat lagi
Kau terlihat marah
"Kau terlalu nekad, Dyllan."
Lelaki itu melepas topinya, menampilkan rambut cokelatnya. Bibir kecilnya merenggut kesal. "Perintah boss. Aku harus melakukannya." Jelasnya enteng.
"Kau bisa saja mati, tau?" pria lain di hadapannya terkekeh kecil sambil menekan pelan handuk kecil ke luka lelaki kecil di hadapannya. Dyllan melengos dan menaruh tangannya di handuk. Tatapan matanya melirik ke sosok yang ia buat pingsan.
"Aku tidak mengerti apa mau boss padanya." Gumam Dyllan. "Bagaimana menurutmu, Ross?"
Pria yang dipanggil Ross menelengkan kepalanya sambil menggumam. Ia balik memperhatikan pria yang rekannya culik.
"Hmm...kurasa karena ia omega?" tanya Ross. Dyllan mendengus.
"Kalau dia ingin omega kenapa repot-repot menculik. Dia bisa mendapat omega manapun." Dyllan menyilangkan tangannya di depan dada. "Aku juga omega."
"Eh, maksudku bukan itu. Dia kerabat saingan boss kan? Maksudnya bila menargetkan omega, mungkin bisa memancing saingannya itu?" jelas Ross. Dyllan hanya menggumam.
"Boss selalu tak bisa ditebak." Dyllan menggerakkan pria yang tak sadarkan itu sedikit menggunakan kakinya, menggeser pundaknya sedikit untuk bisa melihat wajahnya.
"Lagipula apa menariknya omega yang sedang hamil?"
"Aku tidak mengerti. Tapi kata kakakku, omega yang hamil punya sesuatu seperti...aura? Auranya berbeda."
"Aneh."
Dyllan hanya merengut. Tatapan matanya sulit diartikan.
"Bisakah mobil ini bergerak lebih cepat? Aku bosan." Keluhnya.
"Kalau lebih dari ini kita semua bisa tertangkap, tahu." Ross terkekeh.
~~oo00oo~~
Akan lebih baik jika semua ini benar hanya permainan
Karena semua ini terus menyakitiku
~~oo00oo~~
Dua sosok yang terlihat mirip itu bergandeng tangan. Satu dengan wajah penuh luka, menatap ibu mereka lurus sementara satunya lagi menangis.
"Agon, kau apakan kakakmu sampai menangis?" tanya ibu mereka. Yang dipanggil Agon hanya menggeleng.
"Aku tadi bertengkar dengan seseorang di sekolah. Dia memukulku sampai jatuh. Lalu nii-chan datang dan menangis sambil melerai." Jelasnya. "Aku sudah tidak apa-apa tapi dia masih nangis."
Ibunya menghela napas sambil tersenyum. Ia mengangkat kedua putranya dan mendudukkan mereka di pangkuannya.
"Kenapa Agon bertengkar, hm?" tanya ibunya. Tangannya mengelus kepala kedua putra tersayangnya.
"Hm. Dia orang yang mengambil bekal nii-chan kemarin." Jelas Agon. Ibunya hanya tertawa.
"Aahh...jadi begitu. Agon, lain kali jangan begitu ya. Unsui, jangan menangis ya. Agon sudah tidak apa-apa."
Unsui menatap adik kembarnya. Isakan masih terdengar sesekali. Agon menatap kakaknya sebelum menelengkan kepalanya dan tertawa.
"Nii-chan aneh. Sudahlah, jangan nangis terus."
.
.
.
Yang ia lihat setelah itu adalah buram, dan sosok seseorang—bukan, tiga orang. Satu orang duduk di tengah dan dua lagi berada di sisi kiri dan kanannya. Ia mengenal seseorang di kanan yang berambut cokelat dan bermata hijau. Orang yang tadi memasuki rumahnya.
"Oh, kau sudah bangun?" orang yang di tengah tersenyum. Unsui memicingkan matanya.
"Ayolah, jangan tatap aku begitu." Ia terkekeh. "Aku tak melakukan apapun padamu."
"Siapa kalian?"
"Ah, maaf. Tidak sopan sekali aku."
Pria itu bangkit dan berdiri di depannya. Barulah saat itu Unsui sadar kedua tangannya terikat di belakang tubuhnya. Pria itu masih memasang senyuman. Senyuman yang menyilaukan namun menyeramkan.
"Aku Fritz Carlton. Senang bertemu denganmu, Kongo Unsui."
Unsui makin menaikkan pertahanan dirinya. Terutama karena orang ini mengetahui namanya.
"Lalu yang di sana, yang berambut cokelat bernama Dyllan. Ia seorang omega juga sepertimu. Kalian bisa jadi teman." Ujar Fritz, masih memasang senyum. Ia bisa melihat Dyllan nampak tak senang dan menggumamkan sesuatu.
"Di sebelahnya itu Ross. Badannya memang besar, tapi dia baik. Tenang saja, dia tak akan menyakitimu." Lanjut Fritz. "Nah, karena kita sudah berkenalan, kenapa kita tidak mulai berbincang?"
Fritz memposisikan kursinya dan duduk di hadapan Unsui. Menatapnya dari atas mengingat Unsui dibiarkan terduduk di lantai. Unsui masih menatapnya nyalang.
"Nah, jadi berapa usiamu, Unsui? Boleh kupanggil begitu?"
Tak ada jawaban.
"Apa pekerjaanmu?"
Masih tak ada jawaban.
"Apa kau punya kekasih?"
Lagi-lagi tak ada jawaban.
"Sepertinya kau bukan tipe yang suka berbicara tentang diri sendiri, ya." Fritz masih tersenyum. "Baiklah. Aku akan memulai dulu. Siapa tahu kita bisa berteman akrab, kan?"
"Hmm... usiaku 32 tahun. Mungkin tak terlalu jauh darimu. Ah, aku pemimpin sebuah perusahaan saham. Keren bukan? Ya mungkin kau pernah bertemu orang sepertimu, atau kau memiliki teman dengan profesi serupa. Juga, meski usiaku sudah segini aku masih belum punya kekasih. Banyak orang yang berusaha mengencaniku, lho."
Unsui masih menatap Fritz tajam. Membiarkan pria di hadapannya meracau soal hidupnya sejak tadi.
"Nah, jadi kau ingin menceritakan kehidupanmu atau bertanya?" Fritz menelengkan kepala.
"Apa maumu?" tanya Unsui. Suaranya lebih rendah.
"Hm? Aku mencoba akrab denganmu lho." Ujar Fritz.
"Lepaskan aku. Apa untungnya menyekapku begini?"
Fritz masih tersenyum, namun aura di sekitarnya berubah membuat seluruh tubuhnya menegang. Entah ini hanya firasat buruknya atau karena kehamilannya, ia jadi lebih peka pada feromon orang-orang di sekitarnya. Dan feromon alpha di hadapannya membuatnya pusing.
Takut
Ia takut
Feromon itu mengingatkannya akan mimpi buruk itu
"Apa untungnya menyekapmu ya..." Fritz menaruh jari telunjuknya di dagu. "Hmm...banyak hal. Salah satunya berkaitan dengan adikmu."
"Agon..." iris abunya membola. "Kalian apakan dia?! Dimana dia?!"
Fritz menyeringai. "Bodoh. Bisa saja kau menyangkal kau memiliki adik, tapi kau malah membocorkan informasi begitu."
Bibir Unsui seketika terkunci. Yang ia tahu, pria di hadapannya adalah iblis.
Apa urusan Agon dengannya
"Yah, setidaknya aku tahu harus kuapakan kau." Fritz meraih dagu Unsui dan memaksa iris abunya menatap iris keperakan miliknya.
"Bersabarlah sampai beberapa hari lagi, ya. Akan kuberikan show terbaik pada mereka."
Dengan itu Fritz bangkit dan menginstruksikan kedua anak buahnya untuk pergi bersamanya. Membiarkan Unsui di sana. Suara pintu terkunci menggema. Tubuh Unsui serasa lemas seketika. Pikirannya sudah tak jernih lagi.
Yang ia pikirkan hanyalah cara supaya ia bisa keluar hidup-hidup
~~oo00oo~~
Aku menyalahkan diriku sendiri yang tidak bisa sempurna
Melambat di kepalaku
~~oo00oo~~
Ia tak tahu perbedaan waktu di luar sana. Sekelilingnya hanya tembok dan sebuah ventilasi udara yang sepertinya terhubung dengan ruangan lain.
Hanya ada sebuah pintu tepat di hadapannya. Kalaupun tangannya tak diikat, belum tentu ia bisa keluar dari ruangan itu.
Perutnya keroncongan. Ia sudah terbangun entah berapa lama sejak orang yang menyekapnya mengunjunginya. Tatapan matanya turun dari pintu di hadapannya ke lantai batu yang ia duduki. Ia memaksa otaknya untuk berpikir. Kalau mencari kesempatan untuk kabur lewat pintu depan, ia tak tahu dimana ia disekap. Bisa saja ia berada di kandang musuh. Ventilasi di sisi kanan ruangannya menunjukkan seolah seperti ada satu ruangan lagi tapi tak menunjukan indikasi adanya jalan keluar.
Ia benar-benar terpojok.
Suara gembok terbuka menggema di ruangan itu. Fritz masuk membawa sebuah nampan berisi makanan. Masih dengan senyumannya. Ia menaruhnya di hadapan Unsui dan menarik kursi yang ia gunakan tadi dan duduk. Unsui menatapnya sambil mengerutkan alisnya.
"Itu aman, kok. Aku tidak sejahat itu untuk membiarkan orang yang sedang hamil kelaparan atau meracuninya." Fritz tersenyum santai. Unsui masih menatapnya.
"Aku tidak bisa makan kalau kau masih mengikatku." Ujarnya singkat.
"Memang kau pikir kenapa aku disini?" tanya Fritz, mengambil mangkuk dan sendok dan menaruhnya di pangkuannya. "Aku akan menyuapimu."
Unsui menatapnya makin tajam.
"Kau paranoid? Memang apa yang bisa dilakukan seorang omega yang sedang hamil dan kelaparan?"
"Aku tidak akan mengambil resiko dan melepaskanmu, Unsui-kun." Fritz tersenyum. "Sudah kubilang, kan? Aku menyimpanmu disini untuk memberikan show yang terbaik."
Di balik tubuhnya, jemari Unsui sudah memerah karena mengepalkan tangannya terlalu erat. Seluruh kata-kata yang keluar dari mulut Fritz membuatnya muak. Ia masih tak tahu tujuan pria di hadapannya selain fakta bahwa ia terhubung dengan Agon entah bagaimana. Itu membuatnya tak tahan.
"Kau lebih ingin kubiarkan kelaparan?" tanya Fritz.
Unsui terdiam. Bibirnya merasakan sendok yang dingin menyentuh mulutnya. Mulutnya membuka sedikit, menerima makanan yang disodorkan padanya. Fritz tersenyum tipis. Senyuman yang tak bisa dibaca. Tangannya bergerak lagi dan menyendokkan makanan di mangkuk, memberikannya lagi pada Unsui.
Kalau memang tak ada jalan baginya untuk keluar, setidaknya Unsui tak ingin membiarkannya dan anak-anaknya mati konyol.
~~oo00oo~~
Aku tetap terluka karena kesalahan yang berulang
Dan 50 hal lainnya
~~oo00oo~~
"Tck, sialan!"
Agon menggebrak mejanya, membiarkan kertas-kertas berserakan di bawah kakinya. Sementara Hiruma sibuk dengan laptop dan gunungan ponselnya. Sesekali ia menjawab telepon dari ponsel di genggamannya sesekali.
"Tidak ada yang melihat si botak sialan itu seharian kemarin." Jelas Hiruma malah membuat Agon semakin kesal.
"Brengsek! Apa-apaan maksud mereka itu, sampah-sampah sialan!" Agon mengacak-acak kumpulan kertas di mejanya. Alis Hiruma mengkerut.
"Tenanglah, dread sialan. Proyek mereka bukan proyek setengah matang. Karena itu mereka berani melakukan ini." Ujar Hiruma lalu mengetikkan sesuatu di laptopnya. Tatapan iris emeraldnya lurus menuju laptopnya.
"Tak kusangka kau berbuat sejauh ini demi kakakmu. Tidak biasanya, kekeke!" Hiruma terkekeh senang.
"Ngapain kau bicara begitu kalau sudah tahu alasannya, sampah!" Agon menggerutu kesal.
"Kekeke! Yah karena dari awal otakmu sudah busuk aku tak akan mempertanyakanmu yang jatuh cinta pada kakak kembarmu sendiri." Hiruma masih mengetik di laptopnya. Agon hanya mendengus mendengar komentar Hiruma.
"Tenang saja. Karena itu kau, kalaupun orang lain tahu tak akan ada yang berkomentar." Hiruma meletupkan permen karetnya.
"Keh. Terlalu yakin seperti biasa, ya. Kukuku, cocok sekali untuk sampah sepertimu."
"Ya karena sebentar lagi juga orang lain sadar." Hiruma kembali mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Aku memberitahu beberapa kawan lama kakakmu dan mantan anggota tim saikyoudai."
"HAH?! Untuk apa kau lakukan itu, sampah?!"
"Kekekeke! Makin banyak sumber informasi, makin bagus! Sudah, daripada kau ngamuk bantu aku sini, dread sialan!"
~~oo00oo~~
Aku menjadi takut pada semua kata-kataku
Jamais vu*ku
~~oo00oo~~
Lamunan Unsui buyar ketika lagi-lagi mendengar suara gembok terbuka. Kepalanya mendongak dan dilihatnya lagi sosok Fritz berjalan masuk dan menarik kursinya santai. Namun kali ini ia ditemani oleh seorang omega berambut cokelat. Seingat Unsui namanya Dilan atau sesuatu...
"Aku sengaja membawa Dyllan kesini supaya kau tak kesepian." Fritz tersenyum. "Beberapa hari aku akan jarang kemari, jadi jika dia disini kau akan punya teman." Jelasnya.
"Kau pikir aku tidak akan bisa keluar dari sini hingga saat itu? Kepercayaan dirimu boleh juga." Unsui masih menatapnya tajam. Mendengar itu, Fritz tertawa.
"Bukannya kau yang memiliki kepercayaan diri? Kau bicara seolah kau bisa keluar dari sini." Fritz mencondongkan tubuhnya dan menarik dagu Unsui. "Hidupmu sekarang ada di tanganku."
Unsui menolehkan kepalanya, melepaskan diri dari pegangan Fritz. Fritz terkekeh dan bangkit dari tempatnya.
"Nah, Dyllan. Seperti yang kukatakan, beberapa hari nanti kau akan menemaninya. Bagaimana kalau kau coba akrab dengannya terlebih dahulu?"
Dyllan menatap Unsui lalu kembali menoleh pada Fritz.
"Maaf, bos. Tapi saya rasa itu tak perlu."
"Are? Dyllan, kau baru saja membantahku?"
Unsui dapat melihat tubuh Dyllan menegang seketika. Dyllan menunduk dan mengangguk patuh. Fritz tersenyum dan segera pergi dari ruangan tersebut.
Dyllan duduk di sebelah Unsui dan memegang piring di pangkuannya. Alisnya mengerut tak suka. Unsui hanya menatapnya dan menghela napas.
"Bisa lepaskan ikatanku? Aku tak bisa makan kalau begini."
Dyllan menoleh dan menatap Unsui dengan kesal.
"Tidak bisa. Kau bisa saja mengecohku dan kabur."
"Tapi kau juga tak berniat membantuku. Lebih baik aku makan sendiri, kan?"
Dyllan terdiam lalu melengos. "Ini perintah boss."
"Aku tak akan kabur. Tenang saja."
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?"
"Dengan mencobanya."
Bibir Dyllan terkatup rapat. Ragu-ragu, ia membuka ikatan tangan Unsui. Diberikannya piring di pangkuannya pada Unsui dan Unsui langsung memakan makanannya. Dyllan memperhatikannya lekat-lekat, kalau saja ada pergerakan mencurigakan. Tanpa diduga olehnya, Unsui makan dengan tenang dan memberikan piring kosong padanya. Dyllan mengerjap dan menerima piring itu.
"K-kalau sudah akan kuikat lagi tanganmu." Ujar Dyllan. Unsui menoleh setelah menenggak air di gelasnya.
"Hm? Oh, silahkan."
Dyllan mengikat lagi tangan Unsui di belakang tubuhnya. Ikatannya lebih kuat daripada sebelumnya, membuatnya meringis sedikit.
Dyllan langsung bangkit dan keluar dari ruangan. Tanpa banyak basa-basi kembali menggembok pintunya.
~~oo00oo~~
Alisnya berkedut menatap sosok berambut pirang platina yang tengah tersenyum padanya. Begitu ia terbangun—entah sudah jam berapa ini—sosok itu langsung memasuki ruangannya dan tersenyum seperti itu.
"Tidak ada sapaan untukku? Kau dingin juga ya." Celetuk Fritz.
"Apa maumu? Mana Dyllan?"
"Oh, kau sudah akrab dengannya?"
"Tidak tapi dia tidak akan tersenyum-senyum aneh dan bicara ngawur sepertimu."
"Wah, lidahmu tajam juga ya. Tidak cocok dengan wajahmu." Fritz tertawa sementara Unsui mendecih dalam hati.
"Ah, Dyllan akan segera kemari, kok. Sebelum itu aku ingin berbincang denganmu." Ujar Fritz.
"Apa maumu?"
"Hmm...sudah kukatakan bukan, di usiaku yang segini aku belum memiliki kekasih?" tanyanya.
"Tak ada urusannya denganku."
"Tentu saja ada." Senyuman Fritz berubah. Ia bangkit dari bangkunya dan berjongkok di hadapan Unsui, mengelus wajahnya.
"Kau tahu, aku akan lebih aman mengetahui bila suatu saat nanti akan ada yang meggantikan posisiku." Fritz tersenyum miring. Tangannya masih mengelus wajah Unsui.
"Sebelum aku membawamu kemari, aku sudah mengetahui segalanya lho, Unsui-kun." Bisikan Fritz semakin merendah. "Kau ditinggalkan oleh kekasihmu, bukan?"
Bahu Unsui menegang seketika. Tubuhnya ia mundurkan sedikit. Keputusan yang salah sehingga ia bisa melihat seluruh wajah Fritz yang tengah tersenyum tipis menatapnya.
"Kau rela membesarkan anak yang bahkan tak kau inginkan. Kau orang yang baik, ya." Unsui masih menatapnya penuh rasa waspada. Ia hanya bisa berharap degupan jantungnya tak terdengar.
"Hei, bagaimana kalau kita bekerja sama. Tenang saja, kau tidak akan dirugikan sama sekali." Fritz makin mendekatkan wajahnya pada Unsui, membuatnya menelan ludah paksa.
Tak lama, suara langkah kaki terdengar oleh Unsui tengah mendekati mereka. Dari pintu muncul sosok Dyllan membawakan nampan.
"Boss, aku sudah da—"
"Mudah saja. Kau bisa keluar dari sini. Sebagai gantinya, kau hidup bersamaku dan anakmu akan jadi penerusku. Kau tidak perlu memikirkan bagaimana menghidupi anakmu kedepannya. Masa depannya terjamin denganku."
Baik iris kehijauan Dyllan maupun iris abu Unsui melebar mendengar kalimat itu. Tak ada yang bersuara sedikit pun.
Unsui mengumpulkan kewarasannya kembali. Ia menarik napas sebelum menghembuskannya dan menatap Fritz.
"Lalu, bagaimana kalau aku menolak? Bagaimana kalau adikku datang kemari?"
Fritz tersenyum miring.
"Aku tidak pernah bilang kau punya pilihan."
"Aku menolak."
Fritz mengangkat sebelah alisnya sebelum terkekeh dan menjauhkan tangannya dari Unsui.
"Sepertinya ini terlalu mendadak, ya. Kuberi kau waktu untuk bisa menerimanya." Fritz tersenyum dan beranjak keluar. Fritz benar-benar tak memberinya pilihan lain selain menerima. Dyllan dan Unsui saling menatap untuk beberapa detik.
Dyllan berjalan perlahan mendekati Unsui dan menaruh nampan makanan di hadapannya. Ia mendengus dan meyilangkan tangannya di depan dada.
"Kau menolaknya? Kau yakin kau masih waras?" Dyllan mencibir. "Dia pemilik perusahaan saham terkaya di Amerika, tahu. Bisa-bisanya kau menolak kesempatan seperti itu. Masa depan anakmu jelas bila bersamanya, apalagi yang kurang?"
Unsui hanya melirik sedikit kepada Dyllan. "Tak kusangka kau cukup banyak bicara bila tentangnya."
Wajah Dyllan seketika memerah. Entah karena marah atau malu.
"B-berhenti bicara omong kosong! Lagipula kau tak menjawab pertanyaanku!"
Unsui menatap lantai di hadapannya kosong. Ia menghela napasnya berat.
"Bagiku tak ada orang waras yang langsung menerimanya begitu saja."
Dyllan mengangkat alis, jelas bingung pada kalimat pria di hadapannya.
"Sudahlah, lepaskan ikatanku." Pinta Unsui. Dyllan masih terdiam namun tetap melepaskan ikatan tangannya.
Sekali lagi, Dyllan memperhatikan Unsui. Cara makannya masih tenang, namun jadi lebih lambat.
"Hei..." Unsui membuka suara sementara Dyllan merapikan nampannya. "Jika aku menolaknya, apa yang akan terjadi?"
Dyllan menatap Unsui sembari mengikat tangannya. Ia menggumam dan mengangkat nampannya setelah selesai. Langkahnya terhenti di depan pintu dan berbalik pada Unsui.
"Menjadi mainannya...mungkin?"
Apa yang harus kulakukan sekarang
Tolong selamatkan aku, beri aku kesempatan lagi
~~~TO BE CONTINUED~~~
*Jamais vu: Kebalikan de javu. De javu adalah kondisi dimana kita merasa pernah melakukan atau berada di suatu tempat padahal belum pernah sama sekali, dan jamais vu adalah saat kita merasa baru pertama kali berada di suatu tempat atau melakukan sesuatu padahal sedang melakukan sesuatu yang tidak asing atau pernah dilakukan atau berada di tempat yang familiar
*TEPOK TANGAN*
BERI SELAMAT KEPADA LALA KARENA SUKSES NAMBAH PLOT YANG TIDAK ADA DI SKRIP AWAL LAGI
Sumpah tau-tau gua udah nambah OC, nambah rencana busuk Fritz, dan nambah drama di chap depan, DAN NAMBAH MAKHLUK YANG TERLIBAT DI RENCANA AGONHIRU. SUMPAH SAYA AUTHOR YANG TAK BERTANGGUNG JAWAB DENGAN MEMUTAR BALIKAN NASKAH SENDIRI *ditampol*
Gua juga heran sendiri nih ide muncul darimana sih?! Masa gegara gua nyaris jatoh kejedot lantai pas gua bangun pagi?!
Oh dan di chap ini fokus ke Unsui aja yah. Chap depan mungkin juga begitu
Uhuk yaudahlah daripada bacot bales surat cinta—eh review dulu
whiters402 Ohoho bagus deh penenang sebelom badai gede nih /APAAN/ Oiya Hiruma tahu segalanya hshshs. Tau nih si Agon. Uhuk—ini yang gue bilang tadi sih rencananya gua pengen Agon ngasih tau Unsui tapi jadinya gua puter balik NGEK—oh, kalo apartemen Unsui bayangin aja kayak ruangan satu petak. Dari pintu di kanannya itu ada 'dapur' kecil. Di depannya ada meja kecil yang gampang dipindahin itu, jadi mereka tidur ya di ruangan itu. Tinggal pindahin meja. Dari pintu, Cuma serong sekitar 30 derajat ke kanan ada pintu kamar mandi. Di pojok ruangan di kanan ada tv kecil. Begitulah
OOOHHH GUA BAKAL BIKIN AGON NGAMUK SENGAMUK-NGAMUKNYA DISINI. Tapi ntar ada...ada... ah ntar spoiler /WOEY/ Oh tentu ini bakalan lime lagi di chapter berikutnya (ada kemungkinan ganti rating) TAU NIH GON KEJAR TEROS NGAPA LU JANGAN KEBIASAAN DIKEJAR CEWEK TAPI NGEJAR CINTA LO SENDIRI GAK BISA. PAYAH LO (author ditackle) Ohoho lahirannya bakalan jadi drama juga. Tenang aja /heh/ HADUH FF ZAMAN ALAY GUE DIBACA AHS;DZLFRNGTRBIN Tapi bagus deh kalo itu bikin sampe namatin eyeshield ohoho. ZAMAN ITU GUA MASIH WIBU UNSUI DAN KZL BAT AMA AGON BAHKAN DEBAT AMA TEMEN SEBANGKU GUA KERENAN MANA AGON APA UNSUI (ini serius) EEHH SEKARANG MALAH NGE-SHIP WHAHAHA IH DULU GUA HALU YAH (ampe sekarang La) Bukan ada apaan, cuy. Tapi gua gabut. Gua tinggal nunggu wisuda sama UTBK kedua pas puasa ntar dan belom dapet magang makanya cepet update
Oh ngomong-ngomong gaes HASIL UTBKKU UDAH KELUAR~~ YEAAAHH
Uhh hasilnya gimana? Eeeehh...eheheheh malu ih*La*
Yosh, pokoknya ditunggu reviewnya semuanya~~
Oh dan saya serius mempertimbangkan kemungkinan ganti rating /WOY
