My heart that is stained with a belated self-hatred
Gets emptied even by that wind brushing by
—Outro Tear, Bangtan Seonyeondan
An AgonUnsui fanfiction
Tear
By Lala-chan ssu
Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Prayer X belongs to King Gnu, Tear belongs to BTS and BigHit
Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, TYPO, trigger warning, timeline after Enma, dll, START FROM THIS CHAPTER, THE RATING IS RAISED TO M
Read at your own risk
~~oo00oo~~
Chapter 13: Prayer
~~oo00oo~~
"Boss, saya akan masuk."
Seorang pria dengan jas hitam memasuki kamar hotel yang mewah. Di atas ranjang, Fritz tengah menatap pemandangan kota yang ramai dari jendela besar di sisi kamar itu sembari menghisap sebatang rokok. Iris peraknya melirik sejenak.
"Besok beberapa pemimpin perusahaan cabang dan ayahanda akan datang untuk rapat kemari. Kami juga sudah memanggil beberapa petinggi pemerintahan Jepang untuk adanya kesepakatan." Lapor salah satu anak buahnya. Fritz mengangguk dan kembali menghisap batangan nikotin itu.
"Apa dia sudah bicara?" tanya Fritz.
"Menurut laporan dari Orion, dia terus menolak tawarannya."
"Begitu, ya..." Fritz menatap gundukan di kasurnya. Sejenak, ia mematikan rokoknya di asbak. "Kau boleh pergi."
Bawahan itu pun pamit pergi dan menutup pintu kamar. Fritz menaruh tangannya di mulut, menutup seringai mengerikan yang tertoreh di wajahnya.
"Padahal seorang omega cukup duduk diam dan menurut saja..." bisiknya, lalu terkekeh pelan. Ditaruhnya segepok uang di sebelah gundukan—orang yang sedang tertidur di ranjangnya. Ia bangkit dan menghadap ke jendela
"Kalau kau memang ingin mengancam, akan kutunjukan apa itu mengancam."
~~oo00oo~~
Seperti air mata yang bercucuran
Yang bersinar dalam kedipan hidupku
~~oo00oo~~
"Hei, kau Kongo Unsui kan?"
Ia menoleh. Dilihatnya sosok berambut pirang sebahu yang acak-acakan dengan mata biru terang. Birunya mengingatkannya pada langit luas, bersinar seolah penuh ambisi. Tubuhnya lebih tinggi darinya. Cukup untuk membuatnya sedikit mendongak.
"Ah, ya. Darimana—"
"Boleh aku duduk di sebelahmu?"
Unsui mengerjap sebelum mengangguk mempersilahkan. Orang itu menyeringai dan mengucapkan terima kasih lalu duduk dengan nyaman di sebelahnya. Unsui pun hanya mengabaikannya dan memperhatikan ucapan ketua perkumpulan mahasiswa.
.
"Aku Itou Aishi. Kapten klub sepak bola."
Padahal Unsui sendiri tak bicara padanya.
Senyumannya amat lebar. Seolah nampak selalu optimis dan percaya pada siapapun. Unsui hanya menggumam pelan.
"Aku melihatmu saat Rice Bowl kemarin lho. Kemampuan kepemimpinanmu sangat hebat dan tenang."
"Aku tidak sehebat itu." Unsui merapikan tasnya. "Aku hanya memilih apa yang terbaik bagi tim. Itu saja."
"Begitu saja sudah hebat, kok." Orang itu masih tetap tersenyum. "Meski aku sendiri memimpin dengan penuh semangat, aku ingin punya ketenangan sepertimu."
Unsui tak mengerti orang di hadapannya. Orang ini mungkin mengenal Unsui entah sejak kapan, tapi Unsui sendiri baru mengetahui namanya.
"Kalau tidak salah kau ikut kelas pendidikan SMA dengan Hyakki-sensei, kan? Aku melihatmu minggu kemarin, lho."
Unsui mengerjap, memutar otaknya untuk mengingat.
"Oh, kau yang datang terlambat dan jerseynya tersangkut di meja dosen, kan?"
Orang itu nampak merengut, membuat Unsui menutup mulutnya dengan punggung tangan menahan tawa. "Kenapa kau harus mengingat hal itu, sih..."
.
"Unsui benar-benar menarik, ya."
Kegiatan membacanya terhenti. Ia jadi sering bertemu dengan Aishi. Entah di kelas, entah saat ia berjalan menuju ruang klub, bahkan ia tak sungkan lagi menghampirinya saat berada di perpustakaan.
Sepertinya Aishi lumayan terkenal, karena itu mereka duduk bersebelahan seperti ini mengundang tatapan dan bisik-bisik tetangga.
Ia tak pernah seperti ini lagi sejak Agon terlibat pertengkaran di depan umum dan Unsui harus menyeretnya pulang
"Apa yang menarik dari orang yang sedang membaca?" Unsui masih mencoba mengembalikan fokusnya pada bacaan, namun tatapan orang-orang membuatnya kian risih.
"Habis kau selalu kelihatan sendirian di sini. Kau punya teman, kan? Tapi malah menghabiskan waktu di sini." Tukas Aishi.
"Aku punya tugas yang harus kuselesaikan. Dan akan lebih baik kalau sudah kukerjakan separuh di sini dan separuh di rumah supaya aku bisa istirahat." Jelas Unsui. Aishi ber-ooohh ria.
"Hei, Unsui." Suara Aishi terdengar berbisik. Unsui mengalihkan tatapannya dari buku.
"Aku dengar gosip kalau kau omega. Apa itu benar?"
.
"Aku...meyukaimu."
Ia hanya tak menyangka permintaan mendadak Aishi untuk menonton pertandingan latihan Enma dengan Saikyoudai berujung seperti ini.
Sudah hampir satu semester ia lewati bersama Aishi. Tak pernah sehari pun Aishi absen bertemu dengannya. Bahkan mungkin saat ia tengah sibuk mempersiapkan diri untuk turnamen atau ujian, Aishi selalu menemuinya. Sering kali ia menemukan Aishi menunggunya keluar kelas dan bersujud meminta bimbingan untuk ujian karena sepertinya ia bukan tipe yang bisa belajar.
Ia hanya tak menyangka akan berakhir begini.
"I-Itou—"
"Aaahh maaf mungkin aku mengagetkanmu. A-aku aneh, ya. Ahaha..."
"Tidak, bukan begitu—"
"A-aku tahu mungkin aku berisik. Dan aku juga sering merepotkanmu. Tapi...aku tetap ingin mengungkapkannya."
"Itou..."
"M-maaf. Kalau kau tidak nyaman dan mau menolaknya, aku sudah mempersiapkan diri—"
"Itou."
"I-iya?"
Unsui menghela napas. Ia menggaruk pipinya dan melirik ke arah lain.
"Aku...tidak pernah memiliki perasaan seperti itu sebelumnya. Aku juga tidak terlalu mengerti akan hal ini."
"A-ah, begitu...jadi—"
"Kalau kau memang mau..." Unsui mengangkat wajahnya dan menatap iris biru Aishi. "Kali ini, mungkin kau bisa mengajariku?"
.
"Aishi, apa kau mendengarkanku?"
Kekehan pria pirang itu membuat Unsui menghela napas. Kini hanya tinggal mereka berdua di perpustakaan kampus karena sekali lagi Aishi berlutut meminta diajari untuk ujian. Sudah berjam-jam dan nampaknya Aishi masih tak mengerti apapun.
"Bagaimana caranya kau lulus ujian masuk, sih..." gumam Unsui.
"Ng...keberuntungan?" Aishi menelengkan kepalanya. Unsui menghela napas, lagi.
"Yasudah. Pelajaran ini hanya perlu sedikit membaca catatan saja. Lagipula ujiannya pilihan ganda, pasti sedikit banyak bisa—"
"Ne, Unsui."
"Apa lagi—"
Sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya. Iris abunya melebar melihat wajah kekasihnya sebegini dekat darinya. Lama mereka berbagi ciuman sampai Aishi menjauhkan wajahnya.
"M-maaf, tiba-tiba aku melakukannya."
"Ah...tidak apa-apa."
Mereka pun membereskan buku mereka dalam diam. Perjalanan keluar menuju gerbang pun diisi keheningan. Lama mereka terdiam sampai mereka harus berpisah jalan.
"Ng...maaf kau harus menemaniku selarut ini ya, Un—"
Kata-katanya terputus merasakan sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya. Aishi tertegun saat melihat wajah Unsui yang masih datar. Suasana yang gelap menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Sampai besok, Aishi." Pamit Unsui sambil berlalu
Dalam hati, Unsui berteriak keras
.
Unsui mengutuk dalam hati. Kenapa heatnya harus dimulai sekarang. Langkah kakinya gemetar, memaksa tubuhnya untuk terus berjalan.
Ia yakin feromonnya sudah mulai menguar, karena itu orang-orang menatapnya sejak tadi. Ia yakin ia menghitung waktu heatnya dengan benar, lalu kenapa—
"Unsui?"
Baru ia hendak menoleh, tubuhnya serasa limbung seketika. Untuk sebelum tubuhnya menabrak beton, sebuah tangan menahan tubuhnya dan mengangkatnya menjauh.
Aroma mint segar terasa tak asing. Di balik tatapannya yang berkabut, ia melihat sosok yang tak asing baginya. Namun seluruh kata-kata seolah ditahan di ujung lidahnya.
.
"Aku tidak apa. Kau bisa menurunkanku."
Aishi tak banyak bicara lagi. Ia menurunkan Unsui dan membiarkannya membuka kunci pintu apartemennya meski susah payah. Tangan Unsui gemetaran dan mencengkram bingkai pintu, menahan tubuhnya untuk berdiri di atas kedua kakinya sendiri.
"Terimakasih. Maaf sudah merepotkanmu, Aishi—"
Tiba-tiba Aishi mengikuti Unsui memasuki rumahnya. Pintu tertutup di belakang tubuhnya. Unsui tak bisa melihat sorot matanya karena tertutup rambut pirangnya yang sudah melewati bahu.
"Aishi?"
Langkahnya mundur perlahan begitu mendengar suara kunci menggema. Aishi perlahan berjalan mendekat namun seiring itu Unsui tetap mundur. Pandangannya yang kabur masih mencoba mencari celah untuk kabur.
"A-Aishi...ada ap—"
Cengkraman tangan yang tiba-tiba membuat Unsui mengerang. Entah kemana seluruh tenaganya hingga Aishi bisa membantingnya ke lantai. Suara nafas Aishi yang berat menggema ke seluruh ruangan. Dari bawah ia bisa melihat sorot mata Aishi. Sorot mata yang selalu ia takuti.
Sorot mata alpha yang kelaparan
Wajah Unsui memucat. Ia berusaha memberontak dari cengkraman Aishi, namun cengkramannya malah semakin kuat. Lengannya terasa panas dari pegangannya yang erat. Ia lebih benci lagi dengan kenyataan bagian selatan tubuhnya ikut memanas, seolah memohon pada alpha di atasnya untuk mengawininya, melucutinya hingga habis.
"A-Aishi...lepaskan aku—"
"Melepaskanmu?" suaranya menjadi lebih rendah, membuat tubuh Unsui bergidik seketika. Mulutnya seketika dibungkam oleh bibir Aishi. Seenaknya menjelajahi mulutnya, menelusurinya sesuka hati. Unsui sendiri tak bisa menahan desahannya meski terbungkam oleh ciuman panas.
Kesadarannya kembali saat ia merasakan pakaiannya dibuka paksa. Ciuman Aishi berpindah menuju dadanya. Mati-matian Unsui menahan desahannya yang hampir meluncur keluar dari hisapan demi hisapan yang dilakukan Aishi. Tanda kemerahan mulai menyebar di seluruh tubuh bagian atasnya.
Unsui mengutuk seluruh takdirnya. Tubuhnya terus memberontak. Ia tak mau seperti ini, ia tak mau pasrah begitu saja. Namun Aishi lebih kuat darinya. Celananya diturunkan paksa. Unsui menjerit tertahan saat merasakan tiga jari sekaligus memasuki lubangnya. Meski cairan kental sudah mengalir sejak tadi, ia tetap tak siap. Tubuhnya bereaksi positif, namun hatinya memberontak kencang.
"A-Aishi...k-kumohon—ah, ahngh!"
Seolah mengabaikan permohonan Unsui, Aishi malah menambah jarinya. Memaju mundurkannya dengan gerakan yang tak beraturan. Ujung jari kakinya ia tekan di lantai yang dingin. Bibirnya tergigit menahan sensasi di bagian bawah tubuhnya. Tak peduli meskipun tubuhnya menyukainya, ia merasa harga dirinya dihancurkan sehancur-hancurnya. Matanya panas, seolah tak mampu lagi membendung rasa sakit.
Aishi berhenti bermain-main dengan jarinya. Tanpa banyak bicara, ia membuka resleting celananya dan menunjukan kejantanannya yang sudah berdiri tegak. Unsui bahkan tak sempat melawan di antara kesempatan tangannya yang dilepas sesaat itu. Tubuhnya dibalik paksa dan kedua tangannya kembali di tahan ke lantai. Ia sudah tak sadar bahwa ia berteriak ketika penis Aishi memasuki lubangnya paksa. Suara daging yang saling bertabrakan satu sama lain dan suara tangisan yang beriringan dengan desahan mengisi siang yang hening. Air mata terus mengalir dari iris abu-abunya.
"Aku selalu menginginkan ini, kau tahu." Suara Aishi sedikit menyadarkannya. Meski gerakannya sama sekali tak terhenti.
"Kau bukan omega biasa. Tapi justru itulah yang bagus darimu, kan." Perlahan suara Aishi semakin mendekat ke telinganya. Aishi semakin menggerakan pinggulnya cepat, membuat rasa sakit yang Unsui alami tadi perlahan berubah menjadi kenikmatan. Tak peduli meski ia mendesah, Unsui paham ia tak menginginkan ini sama sekali.
"Lagipula seharusnya kau senang bukan. Kau pikir ada yang benar-benar tertarik padamu? Lucu sekali."
Kalimat Aishi membuatnya membuka matanya. Baru ia hendak bersuara, gerakan Aishi semakin kasar membuatnya melolong penuh kenikmatan. Suaranya tercekat saat merasakan cairan keluar memasuki tubuhnya. Tangan Aishi meraih bahunya dan menyenderkannya pada dada bidang Aishi. Dari ujung matanya yang berair, ia melihat mata biru Aishi yang biasanya hangat dan ceria menjadi bengis. Seringaian tipis terukir di bibirnya.
"Kau tidak akan bisa lari dariku."
Aishi mendekatkan mulutnya ke perpotongan leher Unsui. Sontak tangan kirinya yang bebas menampar wajah Aishi, membuatnya berhenti sesaat. Kesempatan itu digunakan untuk Unsui menjauh beberapa meter dari Aishi. Tangan Aishi terangkat menyentuh pipinya. Unsui menjauh perlahan. Ia mencoba bangkit sekuat tenaga namun tangan Aishi langsung meraih pergelangan tangannya dan kembali membantingnya ke tembok.
"Kau berani melawan?" Aishi membuka kaki Unsui, membiarkan penisnya memasuki Unsui sekali lagi. Unsui sudah tak bisa lagi membedakan desahan dengan teriakan kesakitan. Yang ia tahu air mata masih mengalir deras dari matanya.
"Kenapa kau menolakku, hm?"
Seiring penisnya memasuki tubuh Unsui, kalimat tersebut diluncurkan. Yah, ia tak mengharap jawaban dari sosok yang sedang meracau meminta ampun di bawahnya. Pemandangannya yang biasanya terlihat kokoh menjadi takluk di genggamannya saja sudah cukup baginya.
.
"Bukannya kau mencintaiku?" tanya Aishi. "Ne, katakan kau mencintaiku."
Kuku jarinya menusuk pergelangan tangan Unsui. Cairan merah membasahi tangan keduanya. Desahan masih meluncur dari bibir Unsui. Aishi menyukainya, ia menikmatinya. Ia sudah tak menghitung hari lagi. Entah sudah berapa kali mereka melakukan seks siang atau malam. Beberapa kali Aishi mendengar gedoran protes dari tetangga tapi siapa peduli. Toh setelah ini ia tak akan kembali ke sini.
Lidahnya menyapu bibirnya. Kedua tangan Unsui diikat dengan dasi miliknya. Air mata seolah tak pernah kering, mengalir dari pelupuk mata abunya. Bekas kemerahan dan memar menyebar acak mulai dari leher, dada, perut, paha. Aishi menyeringai puas melihat hasil karyanya. Bekas sperma di bagian bawah tubuh Unsui membuatnya terlihat semakin indah.
"...tikan..."
"Apa?"
Unsui menatapnya. Pertama kali sejak Aishi menyerangnya tadi. Iris abu itu terlihat putus asa. Ia terus dipergunakan sebagai pemuas nafsu tanpa henti sejak hari pertama heatnya. Ditambah lagi semuanya dilakukan atas dasar paksaan. Aishi merasa sedikit lagi saja ia mempermainkan tubuh itu, maka mata itu akan memohon untuk mati.
"Aku...aku mencintaimu, Aishi..." suaranya tercekat, seolah berusaha untuk tak menangis lagi. "Karena itu, hentikan...kumohon..."
Lagi-lagi permintaan yang sama. Aishi mendekatkan wajahnya pada wajah Unsui, membiarkan bibir mereka saling bertaut. Ia bisa merasakan rasa spermanya sendiri hasil oral sex paksa yang ia lakukan kemarin. Bercampur dengan asin air mata yang terus mengalir tak karuan.
"Aku tak akan melepaskanmu."
Bersamaan dengan itu, satu malam lagi dilalui dengan suara-suara desahan dan tangis
.
Unsui terbangun dengan kondisi apartemennya yang berantakan dan bau seks menguar di seluruh sudut ruangan. Yang ia temukan hanyalah pakaiannya yang kusut. Tak ada tanda-tanda keberadaan Aishi. Iris abunya melebar dan tangannya refleks menyentuh lehernya. Ia menghela napas menyadari ia tak ditandai. Meski ada sedikit perasaan hampa, setidaknya ia tak ditandai tanpa sepengetahuannya. Ia sudah tak bisa meminta lebih banyak lagi.
Tangannya menyentuh perut bawahnya dan merasakan cairan sperma yang lengket. Tatapan matanya kosong sebelum air mata kembali mengalir. Ia menangis, kali ini dalam hening yang mencekik.
Ia sudah tak punya apa-apa lagi
~~oo00oo~~
Pertemuan dan perpisahan yang berulang-ulang, di hari-hari itu seluruh tubuhku dihujam
Apalagi yang harus kupercaya?
~~oo00oo~~
"Dia benar-benar tak datang."
Dyllan melirik dari ujung matanya. Unsui hanya memakan makanannya dengan patuh seperti biasa. Dyllan mendengus. Sudah tiga hari bossnya tak menunjukkan batang hidungnya hingga ia yang harus mengurus tawanan 'kesayangan' Fritz itu dan ini pertama kalinya Unsui membuka suara lebih dulu.
"Kenapa? Kau merindukannya?"
"Tidak. Tidak sama sekali."
Dyllan menghempaskan dirinya di kursi, menghadap Unsui yang duduk bersimpuh di lantai. Sisi omeganya merasa agak tidak pantas melihatnya diperlakukan seperti ini, apalagi ia sedang hamil. Namun sisi lain di dirinya merasa masa bodoh. Toh ia tawanan. Bagi seorang tawanan, perlakuan seperti ini masih terlalu baik.
Entah kenapa Unsui makan lebih lambat kali ini. Merasa bosan, Dyllan membuka suara. Ia tak mencoba akrab dengan tawanan, ia hanya menggali informasi. Ya benar, hanya untuk itu.
"Kau sudah hamil berapa lama?" tanyanya. Mata hijaunya terfokus pada perut Unsui yang nampak sudah sebesar usia empat bulan. Unsui menatap Dyllan yang masih menolak menatap matanya langsung.
"Dua bulan. Kenapa?" tanya Unsui. Dyllan mengerjap, menatapnya penuh tanya.
"Aku tidak salah bilang. Mereka kembar." Unsui menjawab kalem. Pipi Dyllan memerah seketika.
"J-jangan mengatakan hal yang tidak kutanyakan!" serunya kesal. Unsui hanya menggumam enteng. "Lagipula sejak kapan makanmu jadi lama begitu." Sungutnya kesal.
"Ah...hanya memikirkan sesuatu. Maaf." Unsui melanjutkan makannya dalam diam.
"Ngapain masih mikir lagi? Kau cukup menerima boss. Itu saja, apa susahnya sih." Gerutu Dyllan. Unsui menyinggungkan senyuman getir.
Setelah 10 menit, Dyllan membereskan piring ke nampan. Alisnya mengerut dengan pemikirannya sendiri. Masih teringat akan bossnya yang langsung menyatakan ingin anak Unsui menjadi penerusnya. Perlahan ia mendecakkan lidahnya kesal.
Baru ia membalikkan tubuhnya, suaranya terhenti di tenggorokkan. Ia baru sadar ia tak langsung mengikat tangan Unsui dan sekarang ia melihat Unsui tengah mengelus perutnya.
"Oy, kau ngapain?"
Unsui tersadar lalu menatap Dyllan. "Ah, maaf. Aku terbiasa melakukannya."
Dyllan mengerjap lalu mengacak rambutnya. Unsui menyadarinya dan menghentikan gerakan tangannya.
"Maaf, kau boleh mengikat tanganku sekarang."
Dyllan menatap Unsui tajam. Perlahan tatapannya menjadi sulit diartikan. Dia hanya bangkit dan beranjak pergi.
"Sekali ini saja. Toh boss tidak akan datang hari ini." Dengan itu, Dyllan meninggalkan ruangan dan hanya mengunci pintunya. Meninggalkan Unsui yang mengerkap kebingungan lalu menyunggingkan senyuman tipis
~~oo00oo~~
Jika memang ada maksud dari kehidupanku
Maka beritahu aku
~~oo00oo~~
"Senang bisa menjalin kerja sama ini dengan kalian."
Dengan senyuman profesionalnya, ia mengantarkan kepergian para petinggi pemerintahan. Setelah semuanya selesai, ia menghela napasnya dan menatap pada alpha berambut ikal diikat ke belakang.
"Jadi bagaimana, Ross?" tanya Fritz. Senyumannya kembali menjadi sulit ditebak.
"Ya. Semuanya sesuai rencanamu, boss." Ross hanya bisa menjawab sekenanya, mengukir senyuman tipis di bibirnya.
"Ini belum apa-apa." Fritz menyeringai. Ia lalu mengeluarkan ponselnya.
"Besok aku akan kembali. Keluarkan Unsui Kongo dari sel tahanannya. Lakukan apa yang Dyllan suruh." Perintah Fritz. Ross hanya membulatkan matanya bingung namun melakukan apa yang di suruh.
Fritz mengetikkan sesuatu di ponselnya sebelum menyeringai puas. Dilihatnya langit keabuan, menandakan musim dingin akan segera datang.
"Aku akan menguasainya...segalanya..."
Jadi di hari seperti ini
Aku bisa menelan kesepian dan kepedihan
Tapi kini apa yang bisa kita percayai
~~~TO BE CONTINUED~~~
...aku...tahu ini lama banget *ditampol* BISA-BISANYA SAYA UPDATE DI TENGAH PUASA BEGINI GSLJDIAFEOAIIYAO
Uhuhu maaf ya readers. Tadinya mau hiatus aja pas puasa eh tapi tau-tau seminggu sebelom puasa aku sakit dan setelahnya juga masih gak bener badanku jadi yah pending parah ini ditambah UTBK keduaku pas minggu kedua puasa.
RESMI NAEK RATING. YEAAAHH *potong tumpeng* *La*
Ohoho ini pertama kalinya saya bikin adegan lemon liat layar langsung loh jadi saya cukup pede meski kayaknya abal banget *heh lu*
Bales review dulu
whiters402 HEH KOK LU TAU PIKIRAN GUA AAAHHH GAK JADI SURPRISE KAN *apaansi* AWOKWOKWO niatnya mau nyari nama yang keren Cuma artinya yang cocok Cuma Dyllan itu yodahlah lumayan bisa plesetan *heh* Iya kaann tapi lama-lama mereka manggil nama juga sih. Gak mungkin pas SD Agon masih sesopan itu *La* HEH JANGAN BEGITU DONG WKWKWK *tapitawalu* Nggak, apartemen Agon masih gedean dikit. Seenggaknya ada kamar sama ruang cuci sendiri. Ya bedain lah, Unsui guru sedangkan si Agon kerja ama setan paling ditakuti se-Jepang. Ya kalo nggak gitu bukan Hiruma dongs lagian gitu kan cara dia nambah budak WHOHOHO IYA LAH SI PRITZ GA BAKALAN DAPET—ah maaf lu udah meramal plot selanjutnya jadi—*La* AKU JUGA SENANG INI GANTI RATING /hylyh
Yak meski sebenernya saya masih agak bingung ngebangun chap selanjutnya gimana dan saya ada ide untuk alternative ending sebenernya di mana Unsui bener-bener terpaksa menerima tawaran fritz tapi angstnya never-ending so...
Oh dan chapter besok mungkin bukan update ini, tapi chap filler. Tapi kita masih melihat sesibuk apa author atau siklus bulanannya kapan /MAKSUDLO/
Intinya RnR~~
