My heart that is stained with a belated self-hatred

Gets emptied even by that wind brushing by

Outro Tear, Bangtan Seonyeondan

An AgonUnsui fanfiction

Tear

By Lala-chan ssu

Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Answer: Love Myself and Tear belongs to BTS and BigHit

Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, TYPO, trigger warning, timeline after Enma, dll

Read at your own risk

~~oo00oo~~

Chapter 13.5: Love Myself

~~oo00oo~~

Bukalah matamu di kegelapan

Ketika jantungmu berdetak

"Apa ini?"

Agon mengambil sebuah buku kecil yang dibiarkan terbuka di atas meja. Ada beberapa coretan di dalamnya, dan ada sebuah daftar barang-barang. Banyak penanda di sana-sini. Unsui yang masih berurusan dengan cucian bajunya menoleh.

"Ah, hanya daftar barang yang perlu kubeli." Jawabnya singkat sebelum kembali menggantungkan cuciannya.

Agon meneliti isi daftar itu satu per satu. Alisnya terangkat sedikit.

"Untuk apa kau beli futon lagi?"

"Memang anakku mau tidur di mana lagi?"

"Kenapa tidak beli ranjang biasa?"

"Mau ditaruh di mana? Kecuali kau kembali ke apartemenmu setelah ini akan kupertimbangkan."

Agon melihat sekeliling. Memang sudah tak ada tempat lagi jadi mau tak mau futon memang pilihan satu-satunya. Agon membolak-balikkan halaman buku kecil itu.

"Oy, siapa yang bilang kau boleh melihatnya?" Unsui menaruh keranjang cucian kembali ke tempatnya dan menghampiri Agon.

"Lalu ini apa?" Agon memperhatikan banyak coretan di sebuah halaman berisi penuh angka. Belum sempat ia melihat tulisan-tulisan di dalamnya, Unsui terlanjur mengambil buku itu dari tangan Agon.

"Harga barang yang harus kubeli dan biaya persalinan yang harus ditebus. Kenapa kau jadi penasaran begitu, sih?" Unsui menghela napas dan mengamankan bukunya. Agon jadi ikut mendengus.

"Kau membiarkannya terbuka, siapapun pasti akan membacanya." Kilah Agon.

"Tidak jika orang itu paham arti privasi." Balas Unsui. Agon menggerutu. Entah sejak kapan Unsui jadi terus menerus menjawabnya. Memang dia selalu marah-marah dan menegurnya tapi ia jarang membalas balik.

Biaya persalinan...memang kurang dari dua bulan lagi anak-anak kakaknya akan lahir. Wajar dia sudah memikirkan itu. Tapi yang jadi masalah adalah seberapa banyak coretan di buku tersebut.

"Lalu kau mau membeli barang-barang itu kapan?" tanya Agon. Unsui hanya melirik sedikit.

"Mungkin beberapa yang mendesak akan kubeli besok setelah check-up. Sisanya tunggu gajiku bulan depan." Jelas Unsui.

"Hah? Waktunya mepet, tahu."

"Ya mau bagaimana lagi."

Unsui kembali membereskan cucian. Merasa ia hanya akan diabaikan, Agon kembali melengos. Ia melirik ke arah kalender yang digantung di sebelahnya. Alisnya sedikit naik melihat tanggal esok hari.

"Kenapa wajahmu?" tanya Unsui

"Hah? Tidak ada."

~~oo00oo~~

Aku menatap dirimu di cermin

Mata yang penuh ketakutan itu menanyakan hal yang sama

~~oo00oo~~

"Agon, kau dengar tidak sih?"

Agon hanya memasang tampang datar. Kakaknya yang duduk di hadapannya sedari tadi berbicara entah apa dan yang jelas ia sudah tidak fokus lagi.

"Iya iya aku dengar." Agon menjawab seadanya.

"Lalu apa yang kubicarakan?" Unsui memicingkan matanya.

"Kenapa kau malah bertanya padaku? Memang kau bicara tanpa berpikir?" Agon menyeringai iseng.

"Bilang saja kau tidak mendengarku."

"Kukuku. Kalau dipikirkan terus nanti kau tambah botak, Unko-chan."

Unsui melempar pulpen yang digenggamnya dan tentu saja ditangkap dengan mudah oleh Agon. Ditaruhnya pulpen itu di meja, masih tertawa mengejek. Unsui menggerutu dan meraih pulpennya lagi dan kembali mencoret-coret buku catatannya.

Agon hanya diam memperhatikan kakaknya. Udara di luar masih terasa hangat. Agon melipat tangannya dan menatap ke jendela kecil di sisi lain ruangan. Pandangannya teralih ke ponselnya yang menunjukkan pukul 11 siang. Pandangannya sedikit melirik ke arah tanggal hari ini, lalu melirik lagi ke arah Unsui. Unsui sudah tak melihatnya lagi dan sibuk dengan catatannya.

Lagi-lagi ia tak ingat sepertinya.

Agon bangkit dan meraih jaketnya yang ia taruh asal-asalan di dekat tasnya, mengundang tatapan penuh tanya dari Unsui.

"Kau mau kemana?" tanyanya.

"Keluar. Mungkin pulangnya sore." Jawab Agon sekenanya. "Kau pergi jam berapa?"

"Jam lima. Kalau aku belum pulang beli saja makanan untukmu. Aku bisa panaskan makan malam kemarin." Ujar Unsui. Agon hanya menggumam dan pergi ke luar.

Unsui menatap pintu yang tertutup dan kembali pada kegiatannya sebelumnya.

~~oo00oo~~

Mencintai diri kita sendiri

Mungkin lebih sulit dari mencintai orang lain

~~oo00oo~~

Agon hanya berkeliling saja di pertokoan. Ah tidak lebih tepatnya mondar-mandir di toko keperluan bayi. Beberapa orang yang sedang datang berkunjung pun mulai menatapnya keheranan, bahkan cenderung takut.

"A-anu... maaf, tuan."

"HAH?!"

Agon dengan sukses menakuti seorang pegawai toko yang mencoba menegurnya. Tak ayal penjaga toko itu memekik dan berteriak maaf sembari masuk kembali ke toko.

Agon menggerutu. Untuk apa juga ia melakukan ini. Kemungkinan besar Unsui hanya akan memarahinya. Ia akhirnya berbalik, hendak pergi.

"Loh, Agon kan? Ooooyy!"

"H-Hiiii Mizumachi, jangan—"

Agon merasa ada suara tak asing yang memanggilnya. Ia menoleh berbalik untuk menemukan para mantan anggota Enma Fires ditambah Akaba dan Mamori. Agon menaikkan alisnya.

Firasatnya mengatakan ia akan dihadapi dengan hal yang amat bodoh.

~~oo00oo~~

Ayo akui saja

Standar yang kau gunakan pada dirimu sendiri malah lebih keras

~~oo00oo~~

"Mondar-mandir di toko begitu malah membuatmu kelihatan seperti penjahat, kan?"

"Berisik, sampah!"

"Lagian ngapain juga kau berputar-putar begitu, kan? Dasar tidak smart!"

"Haaahh?! Kau mau kubunuh?!"

"H-Hiiii kalian, tenanglah—"

"AAAHHH?!"

"HIIII MAAFKAN AKU!"

"Sena, seperti biasa kau lemah, ya."

"R-Riku, jangan begitu—"

"Sena, beranilah sedikit , MAX."

"M-memang Monta tidak takut?"

"Aku tidak bilang aku tidak takut—"

"Lagipula kalian semua juga ngapain?!"

Perhatian beralih kembali pada Agon.

"Kita ingin memberi hadiah ulang tahun untuk Unsui-kun!" jawab Kurita ceria.

Agon menaikkan alis. "Percuma. Dia tidak ingat juga."

Semuanya saling menatap, kemudian menatap balik Agon.

"Yaa, lalu Agonne sendiri ngapain? Mondar-mandir di depan toko bayi, pasti ada maksud kan?" tanya Suzuna.

"HAAHH Apa urusannya dengan sampah seperti kalian?!"

"Fuh, Agon. Seperti biasa melodimu berbelit-belit ya." Komentar Akaba.

"Bahasamu itu yang berbelit-belit!" entah kenapa malah Kotaro yang emosi.

"Nghaa, tapi kalau Agon masuk ke toko ini bukannya malah kasihan pengunjung yang lain?" tanya Mizumachi dengan polosnya—atau dengan bodohnya—menyebabkan sebuah benjolan muncul di kepalanya.

"Lagipula, daritadi kita mondar-mandir mencari seluruh pertokoan tapi bingung mau beli apa. Setidaknya kita bisa melihat-lihat disini, kan?" tanya Monta.

"Eh? Ya betul juga sih—M-Monta tunggu dulu jangan asal masuk!" Sena langsung panik seketika.

"Sudahlah, Sena. Ayo masuk saja." Riku juga ikut mengeloyor masuk dan Sena mengikuti mereka berdua dengan sungkan

"Ngha, ngapain sungkan sih ini kan tempat umum. Ayo, ayo kita masuk~" Mizumachi juga langsung memasuki toko dan memutar jaket yang ia pakai.

"Ngapain kau buka jaket, dasar gak smart!" Kotaro mengikutinya dari belakang dan menyeret Akaba ikut bersamanya, meski Akaba menggumam bahwa ia bisa masuk sendiri. Kurita mengikuti di belakang mereka setengah senang, setengah gugup.

"Yaa~ kalau gitu kita juga masuk, Mamo-nee~kita lihat barang untuk Shiori-chan dan adiknya~" Suzuna mengajaknya masuk dengan riang.

"E-Eeehh... Suzuna-chan, aku sudah punya banyak—"

"Tidak apa-apa, kan~"

Agon hanya terdiam menatap meeka yang sudah masuk lebih dulu. Akhirnya ia hanya diam mengikuti.

~~oo00oo~~

Cincin pertumbuhan dalam dirimu adalah bagian darimu

Itu dirimu, jadi ayo coba maafkan diri kita

~~oo00oo~~

"Operasi?"

"Ya, masih ada kemungkinan bahwa kau harus melewati operasi untuk mengeluarkan anak-anakmu."

Unsui terdiam mendengarkan perkataan dokter Umemura. Umemura balik menatapnya dan sadar bahwa Unsui terlampau memikirkannya.

"A-ah, hanya kemungkinan saja. Kalian nampak baik-baik saja, jadi—" Umemura tergagap, namun Unsui hanya tersenyum tipis.

"Tidak apa, aku mengerti." Ujarnya.

Jalanan pertokoan nampak sedikit lengang karena waktu sudah mulai sore. Mungkin ia harus menghitung pengeluarannya ulang, tapi setidaknya ia harus menyiapkan tempat anak-anaknya tidur.

Kepalanya sakit hanya karena memikirkannya.

Cuaca sudah mulai menghangat, namun tetap terlalu dingin untuk melepaskan jaket. Matanya terus menatap sekeliling. Sesekali ia melihat anak-anak kecil berlarian sambil tertawa riang. Beberapa anak sekolah baru pulang dari kegiatan klub, bercengkrama dengan teman-temannya.

Apa bisa mereka tumbuh seperti itu...

Dengan keadaan yang sekarang...

Unsui menghela napas, menghilangkan pemikirannya itu. Ia terus berjalan sampai ia melihat sesuatu.

Ah, bukan. Lebih tepatnya seseorang.

Entah kapan terakhir kali ia melihatnya. Tiga? Lima bulan? Entahlah ia sudah tak peduli lagi. Tubuh tingginya bersandar di pembatas besi. Rambut pirangnya tersapu angin sepoi-sepoi. Tatapan mata birunya masih sama. Masih seperti dulu.

Tapi ia tak mau mengingat tatapannya lagi

Pemandangan selanjutnya lebih membuatnya terpekur. Seorang lagi, entah siapa, keluar dari sebuah toko. Aishi nampak berbincang dengan orang itu sampai bibir mereka berdua saling bertaut. Mereka bertukar senyum dan berjalan menjauh.

Unsui mengerjapkan matanya. Ia sedikit tidak mempercayai apa yang ia lihat, namun sosok dua orang itu masih melangkah tak begitu jauh darinya.

Aah...begitu ya. Ia mengerti sekarang.

Dirinya tak lebih dari barang yang bisa diganti bila sudah rusak.

Ia sudah tahu itu, karena itu ia tak bicara apa-apa. Karena itu ia sudah tak merasakan apa-apa

Perasaannya untuk orang itu sudah mati

Bersamaan dengan itu, dirinya sendiri juga sudah tak berarti lagi.

~~oo00oo~~

Pemandangan malam yang dingin

Aku menyembunyikannya dari mencoba mengkasihani diriku

~~oo00oo~~

Langkah kakinya terasa berat, entah dari apa yang baru saja ia lihat atau dari beban tubuhnya yang bertambah. Ia sudah tak tahu lagi.

Begitu sampai di depan pintu, ia merogoh kantungnya dan membuka kunci. Begitu dibuka, yang pertama ia lihat adalah Agon yang duduk di depan meja dan dua piring makanan di hadapannya.

"Oh, pulang juga kau Unko-chan." Sapanya.

"Ah...iya. Aku pulang." Unsui menatap Agon lalu menatap tatanan meja. "Kau sebegitu laparnya sampai beli dua porsi?"

"Duduk sana." Agon tak membalas komentar Unsui. Unsui sendiri hanya diam dan menaruh tasnya, lalu duduk di hadapan adiknya. Baru disitu ia sadar di sebelah Agon ada banyak kantung belanjaan.

"Kau belanja dengan cewek lagi?" Unsui menaikkan alis. Mengingat pemandangan itu sudah biasa untuknya.

"Kenapa? Cemburu?" tanya Agon membuat wajah Unsui memerah hingga telinga.

"Buat apa aku cemburu?!" Agon menyeringai karena reaksi kakaknya sesuai dengan harapannya.

"Aaah, kau baru pulang tapi sudah berisik ya. Sudah makan sana." Agon menyeringai tipis, namun Unsui hanya menelengkan kepalanya sedikit.

"Aku sudah bilang beli makanan untukmu saja, kan?"

"Cerewet. Oh, dan juga." Agon mengangkat kantung belanjaannya dan menaruhnya di sebelah Unsui. "Itu untukmu." Melihatnya, Unsui mengerjap dan menatap adiknya tajam.

"Kenapa ini? Kau membuatku takut. Kau sekarat?" perempatan muncul di dahi Agon.

"Haah?! Otakmu sudah berkarat atau apa? Kau ingat sekarang hari apa dan tanggal berapa, hah?!"

"Hari Jum'at tanggal 31 Me—" ucapan Unsui menggantung sebelum kalimatnya selesai. Iris abunya sedikit melebar sesaat.

"O-oh..."

"Sudah selesai amnesianya?" Agon mencibir.

"A-Astaga, aku tidak ingat..."

"Kau selalu lupa sejak dulu." Agon memisahkan sumpitya. "Kau lebih sering berlatih dengan Ikkyu atau mendekam di gym sampai malam. Kau bahkan tak menyapaku." Agon mulai memakan makanannya tanpa menatap Unsui.

"Maaf."

"Kenapa kau minta maaf? Tidak seperti kau saja, Unko-chan."

Unsui menoleh menatap beberapa bungkusan di sebelahnya. "Ini semua kau beli?"

"Tidak juga. Kebanyakan dari timmu."

"Timku... Enma Fires?"

"Siapa lagi?"

Unsui membukanya satu per satu. Berbagai perlengkapan bayi yang tidak jadi ia beli hari itu. Unsui sudah tak tahu lagi harus berkata apa.

"Botol, baju...semuanya ada." Unsui lalu menatap satu kotak kecil. "Apa ini?"

"Entahlah. Si mata merah dan kicker sampah itu yang beli."

"Akaba dan Kotaro?" Unsui membuka kotaknya dan terdengar alunan musik pelan. Unsui terkekeh sedikit. "Boks musik. Khas Akaba sekali. Entah kenapa Kotaro setuju saja."

Unsui lalu membuka bungkusan lainnya. Tumpukan baju dengan warna serasi menarik perhatiannya, terutama dengan pola yang membentuk bola amefuto.

"Si cheer kecil dan istrinya setan itu yang memilihnya." Agon nampak melirik ke arah lain, tapi karena ia terus menjelaskan sepertinya diam-diam ia memperhatikan. Unsui menggumam pelan.

Unsui membuka bungkus yang lain. Mulai dari beberapa botol dan popok kain.

"Itu dari si monyet. Katanya kau pasti membutuhkannya." Unsui mengangguk pelan. Yah pasti akan digunakan sih.

Ia juga membuka lagi bungkusan yang lain. Ada satu bungkusan yang penuh dengan bebagai bantal kecil berbentuk maskot devil bats, enma fires, dan shinryuuji naga. Katanya dari Kurita. Unsui tersenyum sendiri, tak habis pikir darimana ia masih bisa menemukan ini.

Satu kotak lagi menarik perhatiannya yang isinya sepatu spike mini. Firasatnya mengatakan itu dari Mizumachi. Mungkin ia membelinya dengan kalimat seperti 'Siapa tahu mereka ingin main football nanti~!'

Ada bungkusan lain yang nampak lebih kecil. Saat dibuka, ia melihat miniatur bola american football. Sepertinya dari Riku. Apa teman-temannya benar-benar berpikir anak-anaknya akan menyukai amefuto atau apa?

Ada satu bungkusan yang terakhir. Unsui membukanya dan mendapati tiga buah futon dengan tiga rona warna ungu yang berbeda.

"Lalu, ini dari siapa?" tanya Unsui. Agon tak menggubrisnya.

"Sudah selesai membukanya? Sana makan."

"Agon, setidaknya jawab pertanyaanku."

"Haah? Mana aku tahu mereka asal memberikannya padaku bersamaan!"

Unsui menatap sikap adiknya. Agon hanya mengunyah nasinya dengan kasar sebelum menatapnya balik karena risih. "Apa lagi?!"

"Ini darimu, kan?"

Agon mengunci mulutnya. Ia taruh sumpitnya dan meraih sumpit Unsui yang masih rapi. Ia ambil nasi dari mangkuk Unsui dan memaksa menyuapkannya pada kakaknya. Unsui yang terkejut diperlakukan begitu nyaris terbatuk.

"Kau ini apaan sih?!"

"Makan sana, interogasinya nanti saja!"

Unsui menghela napas dan mengambil sumpitnya dari tangan Agon. Mereka berdua pun kembali makan dalam hening

~~oo00oo~~

Mungkin ini bukan jawabannya

Tapi entah kenapa kau butuh izin orang lain untuk mencintai dirimu sendiri

~~oo00oo~~

"Aku tak memberikan apa-apa untukmu."

Agon melirik Unsui yang duduk di hadapannya. Tangan kirinya menumpu wajahnya sedangkan tangan kanannya memegang ponselnya. Agon kembali fokus pada ponsel di genggamannya.

"Ya kau kan selalu lupa."

"Tapi kau sampai membelikan ini dan membawakan barang lainnya kemari." Unsui menghela napas. "Agak tidak adil."

Padahal kalau Unsui ingin bicara soal tidak adil, hubungan mereka sejak awal juga tak adil.

"Aaah, aku tak butuh apa-apa. Aku biasa dibeliin cewek, jadi terserah kau saja lah." Agon menyeringai tipis, namun Unsui masih menatapnya.

"Lalu kau mau apa?"

Agon mengangkat alis.

"Yah, kau sudah susah payah begini setidaknya biarkan aku membalasmu."

"Gak perlu, sudahlah."

"Agon."

"Cih, kau keras kepala ya Unko-chan."

Satu detik dan bibir mereka bertemu. Iris abu Unsui melebar sesaat sebelum matanya menutup, menerima perlakuan adiknya begitu saja. Menerima ciumannya yang menuntut sebelum akhirnya dilepas lagi.

"Nah karena kita sudah impas, jadi jangan tanya lagi." Agon kembali ke tempatnya. Unsui menunduk, tak tahu lagi harus bereaksi apa. Ia masih tak terbiasa dengan perlakuan Agon yang seperti ini.

Gerakan kecil terasa di bagian perutnya. Tangannya terangkat sedikit untuk mengelusnya, menenangkan anaknya di dalam sana. Sekejap hatinya menghangat. Sesaat, ia melupakan perasaan bahwa dirinya sudah tak berarti lagi. Hanya kali ini, untuk satu hari ini saja, ia ingin berpikir bahwa setidaknya ia memilik arti bagi seseorang. Ia ingin percaya bahwa ia memiliki arti bagi rekan setimnya, dan bagi adiknya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang.

"Ngomong-ngomong, bibirmu rasanya pahit ya. Aku tidak pernah cium cowok, tapi tak kusangka kau separah itu, Unko-chan."

Dan kali ini lemparan buku kena telak di pelipis kanan Agon

Kau menunjukan padaku

Aku memiliki alasan untuk mencintai diriku

~~~TO BE CONTINUED~~~

*tembakin confetti* HBD KEMBAR KESAYANGANKUUUUHHHH

Akhirnya setelah dari dulu bermimpi bikin fanwork ultah mereka akhirnya kesampean sekarang. Hiks, aku terhura /jyjyque/

Dan apaan sih itu endingnya awokwowko biasa banget Agon ngancurin suasana

Ohok iya mungkin ini fluff karena mereka ultah. Tapi maaf saudara-saudara, chapter depan bakalan angst lagi. Bakalan lebih ngegas lagi, dan ada adegan rate M lagi

Catatan: Tadinya chap ini juga mau ada adegan rate Mnya Kongo Bros, tapi idenya ilang gegara kebanyakan nonton gameplay outlast (ga ada hubungannya)

Sebenernya ini diketik tanggal 30. Sengaja kuselesaiin takutnya kalo mepet tanggal 31 malah procras WHUAHAHAHAHA

Bales surat cinta dulu lah ya

Whiters402 Loh? Kan itu tujuan awal gue. Nyiksa Unsui secara psikis /ditampol/ Ya makanya kan haduh kenapa juga Unsui pasrahan soal begini heh elu di lapangan termasuk quarterback paling disegani, kan?! Tunjukin ngapa sih kesel juga gua lama-lama heh! /La/ Ohoho, disitu gua antara kasian sama suka sih bikin dia tersiksa /ditampolegen/ Iya pasti ntar Agon nyelametin kok. Or...will he? /APAANLULA/ Iya pokoknya tunggu saja~~adegan p*pnya mereka? Ada dongs nyehehehehe tapi masih harus menunggu sedikit lagi karena pasti Unsui bakal lebih terluka psikologisnya di chap depan. IRONIS GAK SIH GUA PENGEN MASUK PSIKOLOGI TAPI NYIKSA CHARA ORANG SECARA PSIKIS Sukses juga buat lu. Gua ada daftar PTS sih tapi gak tau juga kedepannya

Shunshines AKHIRNYA NAMAMU NONGKRONG JUGAAA SELAMAT KELUAR DARI SIKSAAN—eh masih bakalan lanjut juga sih ya /digebuk/ Nggak, nggak. Itu belom /BELOM/ HEH MAKSUDNYA APAAN ITU SPOILER ALERT WKWKWKWK Ya gua bisa nangis juga ngetiknya tapi begitu dah pubblish gua baca lagi ya cengengesan lagi, nyiapin yang lebih sadis lagi MAAFKAN. Gua banyak nge-share soal pemerkosaan, victim blaming, di akun FB asli gua, cukup untuk masukin itu semua ke FF ini. Kenapa dia minta maaf? Ntar bakalan jadi kunci di chap-chap selanjutnya upupupu. Nggak bukan kawin paksa kok... /alihin pandangan/ *LA* Okeh lu udah tau gak mungkin gua gak nyiksa selama FF ini masih jalan

Dan seperti yang sudah saya bilang para pembaca yang budiman, saya memikirkan alternative ed dan saya punya DUA VERSI alternative ending

Dan sialnya dua-duanya sad

Kemungkinan salah satunya bakalan kujadiin oneshot dan kutaruh disini. Yang satunya lagi gak tau mau kujadiin apa nggak soalnya butuh banyak pertimbangan heuheu

Dan jujur saya beneran browsing tanggal liburan, tanggal per-musim Jepang, Cuma buat nyocokin waktu hamilnya Unsui sama storylinenya AAHAHAHAHAHA selama ini bikin FF receh tanpa research jadi rasanya gurih gurih sedap nyocokinnya

Okeh segitu saja sebelum saya kebanyakan bacot. Akhir kata, RnR?