My heart that is stained with a belated self-hatred
Gets emptied even by that wind brushing by
—Outro Tear, Bangtan Seonyeondan
An AgonUnsui fanfiction
Tear
By Lala-chan ssu
Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Spring Day and Tear belongs to BTS and BigHit
Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, TYPO, trigger warning, timeline after Enma, dll
Read at your own risk
~~oo00oo~~
Chapter 14: Spring Day
~~oo00oo~~
"Keluar kau."
Unsui mengangkat alis. Dyllan tak banyak bicara, hanya membuka gembok pintunya dan menyuruhnya keluar. Kalau dilihat, mood Dyllan tidak bagus saat itu jadi Unsui memutuskan untuk menurutinya saja.
"Ikut aku." Perintah Dyllan singkat lalu berjalan di depannya.
"Kau tidak mengikat tanganku?" Unsui bertanya, sedikit retorik.
"Apa? Kau berniat kabur, hm? Setelah kau bilang kau tidak akan kabur." Dyllan menatapnya skeptik.
"Siapapun pasti terpikir untuk kabur di saat begini, kan?" tanya Unsui tenang. Dyllan menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Unsui tajam.
"Jangan coba-coba." Desisnya. Unsui mengangkat kedua tangannya.
"Tenang, aku tak akan kabur." Dyllan mendecih lalu menurunkan kepalanya dan mengusap lehernya.
"Sial. Kau makan apa sih sampai badanmu tinggi besar begitu." Sungutnya.
"Aku makan makanan normal, kok."
"Tsk, jadi maksudmu aku tidak, begitu?!"
"Bukan begitu maksudku—"
"Ck!" Dyllan berhenti di sebuah pintu dan membukanya. Terdapat sebuah kamar yang luas—telalu luas untuk sebuah kamar yang hanya diisi lemari, sebuah rak buku, dan sebuah ranjang sederhana ber-sprei putih.
"Pintu itu menuju kamar mandi. Bersihkan dirimu dan ganti baju. Kalau sudah selesai, diam di sini sampai aku kembali." Perintah Dyllan dan menaruh satu stel baju berwarna putih. Unsui hanya menatapnya penuh tanya namun memutuskan untuk menurutinya.
Firasatnya agak buruk sebenarnya, namun ia tak mau bertanya terlalu jauh. Entah sudah berapa lama ia disekap, ia tak pernah tahu melihat cahaya bisa menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Seiring air mengaliri tubuhnya, ia semakin terpikir untuk apa ia ditahan disini.
Apa memang Agon akan kemari?
Lama Unsui membersihkan dirinya sendiri. Namun begitu ia selesai, Dyllan tak ada di ruangan tadi. Ia duduk di ranjang setelah selesai mengenakan pakaian yang diserahkan padanya. Hanya sebuah kemeja putih dan celana warna hitam. Pakaian itu cukup di tubuhnya namun masih tetap menunjukkan perutnya yang membesar. Matanya berkeliling dan menangkap sebuah jam digital yang juga menunjukkan tanggal hari itu.
15 Desember
Sudah seminggu lebih?! Unsui meraih jam digital itu dan melihatnya lebih dekat. Ia sama sekali tak salah lihat. Ia ingat terakhir melihat kalender adalah di tanggal 6 Desember. Sudah selama itu dan tak ada yang mencarinya? Atau mereka tak tahu ia ada disini?
"Apa yang kau lihat?"
Unsui menoleh ke arah pintu. Matanya sedikit membelalak melihat Dyllan masuk mengenakan sebuah gaun putih elegan sebatas lutut yang mengekspos bahunya dilengkapi sarung tangan panjang hingga ke siku. Ornamen bunga mawar menghiasi sepanjang lingkar dadanya. Terlihat mewah, namun tetap terkesan simpel. Poninya yang biasa dibiarkan hingga menutupi hampir sebagian mata kanannya ditata rapi ke kanan dengan hiasan rambut berbentuk lili putih. Bila diperhatikan dengan baik, wajahnya dipolesi make up tipis. Memang tak aneh bila omega—meskipun laki-laki— didandani feminin seperti ini. Unsui selalu melihat anak-anak tetangganya didandani feminin, namun ia sendiri tak terbiasa didandani seperti itu, begitu pula omega lain yang ia kenal seperti Kakei atau Kotaro.
"Kenapa wajahmu begitu? Apa kau tidak pernah melihat orang berpakaian begini, hah?" Dyllan bersungut. Unsui sadar dari keterkejutannya.
"Tidak. Kau cocok juga memakai pakaian seperti itu." Memang benar, Dyllan selalu memakai pakaian kerja formal berupa vest suit dan celana bahan. Bahkan tak jarang juga kacamata menghalangi sinar mata hijaunya, namun kali ini kacamata itu ia tinggalkan. Mendengar itu, alis Dyllan naik sedikit.
"Kau benar-benar tidak pernah melihat orang berpakaian begini?" Dyllan melipat tangannya di depan dada, mulai mempertanyakan apakah manusia di hadapannya ini hidup di dunia yang sama dengannya.
"Aku sering melihatnya." Jawab Unsui seadanya. "Mungkin kau terlihat lebih cocok karena badanmu kecil."
Mendengar itu, sebuah perempatan muncul di dahi Dyllan.
"Berani sekali kau bicara begitu! Memang kau siapa, hah?!" bentaknya yang tentu saja membuat Unsui kaget.
"Memang apa salahnya? Di usia 20 badanmu masih bisa berkembang kok." Ujar Unsui dengan polosnya.
"Aku itu lebih tua darimu, tahu!"
"Masa? Umurku 27."
"AKU ITU TUJUH TAHUN LEBIH TUA DARIMU, SIALAN!"
"Oh, maaf."
"Aaah, sudahlah! Ayo cepat, boss sudah menunggu!" ajaknya dan tanpa basa-basi berjalan keluar pintu. Unsui terdiam namun memutuskan untuk bangkit dan mengikutinya.
"Orang itu...dia sudah kembali?" tanya Unsui. Dyllan yang berjalan di depannya melirik sedikit ke belakang.
"Tentu saja boss sudah kembali. Malahan dia bilang ingin membicarakan sesuatu. Kau juga termasuk."
Unsui menunduk. Ia tak ingin menerima tawaran Fritz. Ia bahkan tak ingin berada di sini. Kalau dipikir, Dyllan juga penculiknya di sini yang menerobos ke rumahnya malam itu. Anehnya bersamaan dengan itu, Agon tepat tidak ada di rumah.
Sinar mata Unsui mulai berubah. Kalau dipikir lagi, Agon juga agak bertindak aneh belakangan ini. Apa semua ini berhubungan? Tapi apa hubungannya? Dan apa urusan hal itu dengan Unsui?
"Kita sudah sampai. Tegakkan kepalamu."
Unsui mengangkat wajahnya dan baru menyadari mereka kini berada di hadapan sebuah pintu besar. Terdapat dua penjaga di depannya dan begitu melihat Dyllan, kedua penjaga itu sigap membukakan pintu.
Begitu masuk, ia disapa sebuah ruangan yang terlihat seperti ruangan kantor. Terdapat sebuah jendela tinggi di hadapannya dan meja kerja di depan jendela itu. Terdapat banyak rak buku dan sebuah meja kopi yang dikelilingi sofa di salah satu sisi ruangan. Seluruh lantai ditutupi oleh karpet tebal. Di sofa, sudah terlihat sosok Fritz yang tersenyum tenang dan salah seorang pria yang nampak sudah berusia lebih dari 60 tahun. Meski begitu, tatapan mata hijaunya masih sangat tajam. Begitu Dyllan mengajaknya duduk, pria itu menatap Dyllan lebih dulu lalu menatap Unsui. Refleks, tangannya memeluk perutnya, seolah melindungi apa yang ada di dalamnya.
"Nah, karena semuanya sudah datang, kita bisa langsung mulai." Fritz tersenyum, namun pria tua di sebelahnya langsung memandangnya sedikit kesal.
"Kau bilang kau kemari karena kau sudah bisa menemukan orang yang akan mengandung penerusmu, Fritz. Kenapa kau malah membawa anak gagal itu kemari?" pria itu berbicara sambil melirik ke arah Dyllan sedikit. Dyllan nampak menunduk, namun ekspresi wajahnya tetap datar.
"Ah, itu memang benar. Aku membawa Dyllan kemari untuk menemaninya, karena sepertinya ia masih takut berada di sini." Fritz masih memasang senyumannya. "Ini Unsui-kun. Semoga ayah akrab dengannya."
Pria tua itu kini kembali menatap Unsui. Tatapan mata tajamnya kembali menusuk, seolah mencari isi hati Unsui. Lidahnya kelu, tangannya gemetaran dan terasa dingin. Tatapan itu bukan tatapan alpha biasa yang selalu menilainya. Tatapan itu terlalu berbeda.
"Heh. Jadi kau ke Jepang untuk hal ini? Lagipula seleramu cukup aneh juga. Apa menariknya omega ini." Pria itu masih menatapnya. Fritz hanya tertawa renyah.
"Jangan begitu. Aku sudah melihat catatan kemampuan akademis dan kemampuan fisiknya. Dia tak akan mengecewakan." Fritz tersenyum cerah. Iris peraknya kembali menatap Unsui.
"Lagipula, baik ia dan anak yang dikandungnya sekarang merupakan kunci kita bisa memulai rencana kita di sini."
"Hah? Dia sudah hamil? Kau bilang kau baru menemukannya minggu lalu. Jangan bilang dia sudah dihamili alpha lain?"
"Memang. Tapi justru itu lah yang menguntungkan kita, ayah." Fritz kembali menatap pria itu.
"Agon Kongo dan Youichi Hiruma. Kita akan mendapatkan mereka."
Pria itu mengangkat alis, lalu tawa membahana ke seluruh ruangan. Tubuh Unsui menegang sekejap, namun Dyllan masih berwajah datar.
"Kau rakus seperti biasa, Fritz." Pria itu bangkit dan menarik dagu Unsui, memaksa mata mereka bertemu. Unsui balik menatapnya tak kalah tajam, membuat seringaian hilang dari wajah pria itu.
"Berani juga dia menatap balik." Gumamnya. Fritz terkekeh.
"Mangsa buruan itu lebih menarik bila mereka meronta, kan? Hasilnya ketika mereka berhasil tertangkap oleh kita lebih memuaskan." Sedikit, Unsui dapat melihat seringaian tercipta dari bibir Fritz. Kilat kebencian makin tersirat di mata abu-abu Unsui.
"Hah! Terserah kau saja. Tapi dengan begitu, jika anak itu lahir kau sudah siap menyembunyikan seluruh identitas aslinya." Pria itu menatap Unsui kembali. "Termasuk omega menjijikkan mana yang melahirkannya."
"Itu semua sudah diatur. Ayah tenang saja."
Sebuah seringaian kembali tercipta sebelum Unsui dilepaskan. Pria itu berbalik menghadap Fritz.
"Kalau begitu saja, aku akan kembali ke hotel. Aku akan kembali ke Amerika besok."
"Kenapa tidak tinggal saja di sini?" Fritz bangkit dari duduknya.
"Tidak perlu. Kau harus bersiap setelah pengumuman nanti siang. Dan juga, jaga makhluk gagal itu." Pria itu menatap Dyllan tajam lalu keluar dari ruangan. Fritz mengikutinya dan meninggalkan Unsui dan Dyllan berdua di ruangan tersebut.
Setelah kedua alpha itu keluar, Unsui meraih dan mengatur nafasnya. Ia tak ingat kapan ia menahan nafasnya, namun jantungnya berpicu terlalu cepat. Kedua tangannya yang masih memeluk perutnya gemetar. Dyllan menatapnya datar.
"Kau paham situasimu sekarang, kan?"
Unsui bahkan tak repot-repot menatap Dyllan. Nafasnya masih memburu. Perlahan, meski dengan nafas tersengal, ia mulai mengeluarkan suara.
"Meski aku paham...bukan berarti aku ingin menjalaninya."
"Kau itu terlalu keras kepala." Dyllan bersungut dan menyilangkan kakinya. "Kau sendiri sudah tahu, kan? Omega tidak pernah memiliki pilihan. Akan lebih bagus bila seorang omega hanya duduk diam dan patuh pada alpha. Sejak awal kita tak lebih dari boneka pemuas seks atau penghasil keturunan. Kenapa kau menolak tawarannya dan terus berusaha supaya bisa kabur dari sini."
"Karena meski omega, aku tak mau hidup seperti itu."
Dyllan mengerjap sebelum menghela napas kasar. Dialihkannya pandangan menuju pemandangan di luar jendela
"Jujur saja aku benci padamu." ujarnya
"Kenapa?"
"Boss tertarik padamu. Itu membuatku kesal."
Unsui terdiam dan menatap Dyllan lekat-lekat.
"Kau menyukainya?"
"Kupikir sudah jelas." Dyllan bersungut. "Seorang alpha kaya dan tampan pemilik perusahaan, terdengar seperti sosok sempurna yang keluar dari film bukan?" tanyanya retorik. "Dan ia tertarik pada seorang omega yang baru saja dicampakkan. Terdengar seperti karya box office bagiku."
"Namun sepertinya ini sedikit berbeda." Unsui tersenyum miring. "Ia hanya ingin anakku. Dia tak peduli padaku."
"Darimana pula kau tahu itu?" Dyllan semakin merengutkan alisnya. Jemarinya mengetuk-ngetuk lengan atasnya dalam gerakan stabil, namun terburu-buru.
"Kau yang diperintahkan untuk menculikku, seharusnya kau tahu." Unsui menatap Dyllan, masih tersenyum padanya. Dyllan mengunci mulutnya dan menatap Unsui tajam.
"Yah, memang benar. Karena toh kalaupun boss tertarik padamu aku malah jadi mempertanyakan standar macam apa yang ia punya." Ejeknya santai. Unsui sudah terbiasa dikatakan tak cocok sebagai omega, namun ia tak pernah mendengar orang bicara seperti itu tepat di depannya.
"Kau menyukai bossmu, kenapa kau setuju membawaku kemari?"
Dyllan terdiam. Pandangannya kembali beralih ke langit siang.
"Supaya ia melihatku."
Unsui mengangkat alis. Baru ia ingin membuka suara, Dyllan sudah kembali berbicara.
"Pria tadi...dia ayahku. Dan boss adalah adik angkatku. Ayahku tidak mengakuiku sebagai pewaris jadi seluruh perusahaan diserahkan pada boss." Dyllan memangku kedua tangannya
"Kenapa?" tanya Unsui yang dihadiahi pandangan skeptis.
"Bukannya sudah jelas? Karena omega tak bisa menjadi pemimpin."
Unsui terdiam. Omega tak bisa menjadi pemimpin. Itu memang benar. Struktur hirarki yang tak tergoyahkan sejak dahulu. Para omega yang mencoba mengubahnya hanya akan mendapatkan kemalangan dan penderitaan. Omega tercipta untuk tunduk pada alpha, begitu kata semua orang. Mata seorang omega selalu harus tertunduk. Ia tak boleh menatap balik, tak boleh memiliki pendapat sendiri, tak boleh memiliki impian sendiri.
Meski sekarang sudah ada hukum yang mengatur bahwa semua memiliki hak yang sama, peraturan tak tertulis itu masih dipegang teguh oleh banyak orang. Mengakibatkan masih banyak omega yang tak beruntung menjadi budak seks atau terpaksa memalsukan identitas gender mereka demi menjalani kehidupan sehari-hari.
"Aku menjadi asisten pribadi boss hanya karena aku anak kandung dari pemilik perusahaan sebenarnya. Makanya aku berusaha keras agar dia mengakuiku, agar dia mau melihatku." Dyllan mengepalkan tangannya.
"Bukannya itu artinya dia memanfaatkanmu?"
"Hah, kau tahu apa sialan."
"Entahlah. Tapi aku sedikit tahu." Unsui menepuk tempat di sebelahnya, mengajak Dyllan duduk lebih dekat dengannya namun kembali disapa pandangan skeptik.
"Tidak semua kata-kata manis akan tetap manis di akhir." Gumam Unsui, namun tetap terdengar oleh Dyllan.
"Pengalaman pribadi, hm"
Unsui tersenyum getir. Tangannya menyentuh perutnya, membuat Dyllan sedikit mendecih.
"Kau sama saja dengan wanita itu."
"Eh?"
Dyllan melepas jepitan rambutnya dengan paksa. Membuat beberapa helai rambut cokelatnya rontok dan tersisa di tangannya. Dahinya mengerut, menatap hiasan dan helaian rambut itu penuh kebencian.
"Kau mencoba berontak, tapi nanti juga kau akan mati sia-sia." Suara Dyllan seketika bergetar. Tangannya tanpa sadar mencengkram jepitan miliknya.
"Dyllan—"
"Omega yang melawan takdirnya akan dihukum. Sejak awal kita tak memiliki hak apapun, jika kita melawan maka segalanya akan musnah."
"Dyllan, hei—"
"Wanita sialan itu berjanji akan membawaku pergi, nyatanya dia malah terbunuh sendiri!"
"Dyllan—"
"KALAU BEGITU UNTUK APA KAU MELAWAN JIKA AKHIRNYA KAU MENINGGALKANKU, SIALAN?!"
"DYLLAN, TANGANMU BERDARAH!"
Dyllan meregangkan pegangannya. Barulah ia merasakan perih yang menusuk tangannya. Darah segar mengalir dan mengotori sarung tangannya. Bahan yang ia gunakan tipis, jadi langsung saja robek dan melukai tangannya.
Suara robekan kain menyapa indera pendengaran Dyllan. Omega kecil itu menoleh dan melihat Unsui duduk bersimpuh di hadapannya dan mengaliri luka Dyllan dengan air yang ada di meja dan membalutnya dengan...
"Kau merobek lengan bajumu?"
Unsui melirik sedikit ke arah Dyllan lalu kembali membalut lukanya.
"Toh aku yang akan dihukum nantinya kan?"
Dyllan membuka mulutnya namun membiarkannya terkatup kembali. Entah kenapa ia diam saja selama Unsui mengobati lukanya. Tanpa sadar, tangannya sudah selesai dilapisi kain dengan telaten. Disitu ia baru sadar akan banyaknya luka-luka lama di lengan Unsui.
"Kau tidak mau merawat lukamu sendiri?"
Unsui melirik lengan kirinya yang kini terekspos karena ia merobek lengannya. Unsui hanya menggumam saat melihat berbagai macam goresan yang nampak sudah lama dan membekas.
"Tidak apa. Aku sudah mencoba, tapi sepertinya ini tak akan hilang." Unsui mengangkat bahu lalu menatap Dyllan. "Yang kau maksud itu siapa?"
"Ibuku." Dyllan mendengus. "Dia dibunuh karena mencoba kabur. Sudah kubilang kan, kau hanya cari mati. Harusnya kau tetap diam dan hidup di sini."
"Bukankah itu berarti dia ingin menyelamatkanmu?" tanya Unsui. "Dia bisa saja kabur sendirian jika memang ingin memberontak, tapi kau bilang dia membawamu bersamamu."
Dyllan terdiam. Ia tak menyanggah, namun tak menyetujui juga. Ia menghela napas kasar dan mengacak rambutnya.
"Kenapa juga harus kabur. Padahal dia tahu hasilnya akan begini."
"Aku tahu kenapa."
Tatapan mata Unsui seketika menjadi redup. Dyllan tak mengerti, kenapa tatapan mata itu begitu sama. Dyllan membencinya. Ia membenci tatapan mata itu.
"Dyllan, apa menurutmu bossmu itu orang baik?"
Tentu saja. Ia tak bisa menyebutkan orang yang jauh lebih baik darinya. Dyllan sangat ingin menjawab seperti itu. Biasanya ia menjawab dengan amat yakin
"Aku tidak tahu..."
Unsui menggumam, lalu menatap Dyllan yang menunduk.
"Apa kau ingin pergi dari sini?"
"Itu bunuh diri."
"Kalau begitu apa kau ingin bunuh diri?"
Orang ini gila. Itu yang dipikirkan Dyllan sekarang. Ia mencoba mencari tanda apakah benar ia sudah kehilangan akal, namun yang ia lihat hanyalah keyakinan
'Ayo kita keluar. Kita pulang ke rumah ibu'
'Kau bisa sekolah dan punya banyak teman'
"Memang aku bisa dapat apa bila keluar dari sini?" Dyllan mendengus. Ia sudah tak bisa diiming-imingi lagi. Sudah cukup—
"Kebebasan."
—ia tak mau kehilangan lagi
"Apa yang kalian bicarakan?"
Suara Fritz sangat dekat di telinganya. Entah sejak kapan ia berada di sana, memasang senyuman penuh arti.
"Tak ada urusannya denganmu, kan?" balas Unsui dingin. Senyuman itu tak luntur, membuat Unsui merasa ada yang tidak beres
"Lebih baik kau tidak melakukan apapun, ya." Fritz tersenyum. Unsui hendak protes sebelum ia merasakan hantaman di tengkuknya.
Yang ia ingat terakhir kali adalah teriakan Dyllan
~~oo00oo~~
Aku merindukanmu
Semakin kukatakan semakin aku merindukanmu
~~oo00oo~~
"Hiruma."
Sosok berambut perak panjang memasuki ruangan Hiruma bersamaan dengan sosok lain dengan rambut cokelat ikal. Hiruma mengalihkan pandangannya dari budak—bawahannya yang tengah membawakan hasil pekerjaannya.
"Kau sudah menemukan sesuatu, rambut panjang sialan?" tanya Hiruma setelah menyuruh bawahannya pergi.
"Aku tidak tahu apa ini bisa disebut menemukan, tapi aku ingin kau melihat ini."
Taka mengambil ponsel Yamato dari genggamannya. Diperlihatkannya sebuah tayangan live streaming di mana beberapa petinggi pemerintahan Jepang serta duta besar Amerika dan Jepang berada di sebuah konferensi pers. Hiruma menajamkan telinganya.
"Sepertinya ini dari pertemuan yang dilakukan pagi ini." Yamato menjelaskan. "Tidak ada yang tahu apa yang dibicarakan."
"Sialnya mungkin kami tahu."
"Sekarang akan diumumkan sebuah kerja sama baru antara Jepang dengan Amerika—"
"Oh, apa ini soal kerja sama yang dirumorkan itu?" Kid tiba-tiba memasuki ruangan. "Banyak yang bilang akan ada kerja sama baru di bidang ekonomi dan tenaga kerja."
"Siapa yang menyuruhmu masuk, kakek sialan?" Hiruma mendengus. Kid mengangkat bahu. "Aku sudah bilang permisi dan tak ada yang menjawabku."
"Maka dengan ini," seluruh perhatian kembali ke ponsel Yamato. Hiruma sedikit berharap perhitungannya salah. Sekali ini saja
"Kerja sama Jepang dan Amerika disetujui dengan keterlibatan Orion Foundation—"
Hiruma langsung mematikan ponsel Yamato dan menaruhnya di atas meja. Ia mendecih kesal. Disaat Hiruma berpikir mereka sangat dekat, namun mereka lebih cepat beberapa langkah.
Saat semua sedang sibuk dengan pikiran mereka sendiri, sebuah ponsel berdering menandakan pesan masuk. Sebuah ponsel bercasing hitam nampak teronggok di meja kecil di sebelah pintu. Hiruma mengangkat alisnya
"Mana si dread sialan itu? Bisa-bisanya meninggalkan ponselnya di sini."
"Kan kau yang menyuruhnya melakukan pembersihan rutin." Kata Yamato. Sesaat kemudian terdengar bunyi 'bip' dari ponsel itu.
"Hoh? Apa ini pesan suara otomatis?" tanya Kid. Semuanya langsung fokus mendengarkan audio yang rupanya berbahasa Inggris itu.
'Greetings to you, Mr. Agon Kongo. Well before everything I need you to calm down because you already know my voice and probably already know the reason I send this message. Have you seen the news? I hope so. Well that's not my intention though. I humbly invite you and Mr. Youichi Hiruma to our dinner today at 8. I've sent the formal invitation through Mr. Youichi's email. The reason I send this message to you is...hm? What is it, is he awake? Ah just give him food first okay? I'll take care of him later. Sorry about that. Where was I? Oh, right
You probably wondering where your twin brother is, right? You don't need to worry. If you come, you can meet him. Make sure you enjoy it because it's probably the last time you see him
I won't do anything to him, nor that I want to kill him so you can relax and say goodbye to him properly
It's what he wanted the most from you, you know?
I think this is enough. See you at 8 tonight and please enjoy the show' (*)
Bunyi bip kembali terdengar, namun ruangan Hiruma terisi oleh keheningan yang mencekam. Tak ada satupun yang berani membuka suara sampai suara pintu yang dijeblak menggema
"Haaahh, sampah sampah sialan! Buat apa juga mereka melawan, bajuku jadi kena darah semua!"Agon mengomel sendiri sebelum menyadari bahwa empat pasang mata kini tertuju ke arahnya. Agon mengangkat sebelah alisnya.
"Apa mau kalian, sampah?!"
~~oo00oo~~
Waktu sangat kejam, aku benci kita
Kini melihat wajah masing-masing terasa sulit
~~oo00oo~~
"Kau berani juga merobek kemejamu sendiri, hm."
Unsui kini dibiarkan terikat di pinggir ranjang, terduduk di lantai. Tatapan matanya tajam, namun tatapan pria di hadapannya tak kalah tajam.
"Padahal aku sengaja menyiapkannya untuk hari ini."
"Kau pikir aku peduli?" Unsui mendesis kesal.
"Jangan begitu. Bukankah lebih baik kau bertemu dengan adikmu ketika kau mengenakan pakaian yang pantas?"
Alis Unsui mengerut. Ini bukan kali pertama Fritz menyebut adiknya. Tapi ia tak tahu kali ini ia hanya menggertak atau sungguhan.
"Yah. Kau tak membutuhkan pakaianmu untuk itu." Fritz tersenyum sinis lalu berbalik, hendak pergi.
"Apa maksudmu?"
Fritz menghentikan langkahnya sebelum menatap Unsui dingin.
"Apa yang tidak kau ketahui tidak akan membunuhmu."
Dan dengan itu pintu tertutup.
~~oo00oo~~
Hanya ada musim dingin meskipun di bulan Agustus
Hatiku membuat waktu terasa berada di Snowpiercer sendirian (**)
Aku ingin memegang tanganmu dan mengakhiri musim dingin ini
~~oo00oo~~
Hanya ada empat orang yang mengisi meja makan panjang itu. Agon masih dengan tampang tak senangnya, Hiruma dengan poker facenya, Dyllan dengan tampang datarnya, dan Fritz dengan senyumannya yang tak bisa dijabarkan.
Makan malam berlangsung hening, namun dengan atmosfir yang berat. Fritz langsung membuka percakapan.
"Sebelumnya, aku ingin berterima kasih karena kalian berdua mau repot-repot datang kemari."
Hiruma menatap Agon, seolah mengatakan agar jangan langsung membuat kekacauan. Agon mendecih dalam hati. Ia sudah tak sabaran, akan lebih cepat jika ia menghancurkan orang ini.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Agon Kongo." Fritz masih memasang senyumannya. "Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya."
"Aku lebih ingin membunuhmu sekarang daripada bertemu dengannya." Ujar Agon, menatap Fritz tajam dari balik googlenya. Tawa Fritz menggelegar. Ia mengelap mulutya dengan serbet lalu menatap Agon santai.
"Ayolah, aku tidak melakukan apapun padanya. Apa memang itu balasan yang setimpal untuk membiarkannya hidup?" tanya Fritz. Sebuah seringaian tertarik dari sudut bibirnya. "Bisa hidup saja seharusnya dia sudah berterima kasih."
Suara pecahan kaca dan meja yang berantakan menggema. Tangan Agon sudah siap melayangkan tinjunya sampai suara pintu dijeblak terbuka menghentikan aksinya. Seorang penjaga membungkukkan badannya dan berjalan menuju Aishi, membisikkan sesuatu padanya. Raut wajah Aishi seketika berubah. Ia pun bangkit dari kursinya.
"Jadi, sepertinya kakakmu sudah tak sabar bertemu denganmu." Senyuman yang nampak dipaksakan terukir di wajah Fritz. Ia pun segera berlalu keluar ruangan, diikuti langsung oleh Agon dan Hiruma. Dyllan tak lama mengikuti di belakang.
"Tch, dimana sampah itu?!" Agon menelisik sekeliling, namun Fritz berjalan terlampau cepat. Hiruma nampak menekan sesuatu dari tombol ponselnya tanpa bicara banyak. Ia lalu menatap Dyllan yang mengikuti di belakang mereka. Sebuah sinar menelisik di mata hijau Hiruma. Ia menghentikan langkahnya, membuat Dyllan juga terhenti.
"Hei, kau bocah SD yang kemarin kan?" tanya Hiruma.
"Sudah kubilang aku bukan anak SD."
"Kau peliharaan necis sialan itu kan? Kekeke, tak kusangka kelemahannya ada di depan wajah kami selama ini. Aaahh, bukan bukan. Sepertinya kau yang terlalu kecil sampai tak terlihat. Kekekeke!" tukas Hiruma membuat Agon mengernyitkan alis. Sempat-sempatnya ia mencoba menambah budak disaat seperti ini.
"Kalau kakak dari dread sialan ini dibawa kemari untuk alasan yang kupikirkan, berarti kau tak lebih dari barang yang akan dibuang kan, hm?" tanya Hiruma. Anehnya Dyllan tetap bungkam. Ia mengangkat kepalanya dan hendak berbicara sampai terdengar suara sesuatu—atau seseorang yang dihantamkan ke tembok mengingat teriakan kesakitan mengikuti. Agon berlari menuju sumber suara dan menemukan sebuah pintu yang terbuka. Agon memasuki ruangan itu dan mendapati Fritz tengah menahan bahu Unsui ke ranjang dan menghimpitnya dari atas, sementara raut wajah Unsui seperti sedang menahan sakit, entah karena apa
Seandainya saja tak ada pisau yang terhunus ke leher kakaknya, ia pasti sudah menerjang dan menghajar Fritz saat itu juga.
"Jika kau mendekat sedikit saja, Agon Kongo." Suara Fritz memberat, seiring pisau di genggamannya mendekati leher Unsui. "Katakan selamat tinggal padanya."
Tanpa diduga, sebuah tangan balik menahan tangan Fritz. Fritz menatap ke bawahnya dan mendapati tangan Unsui mencoba menjauhkan genggaman pisau Fritz. Fritz terdiam sebelum seringaiannya semakin melebar.
"Oh, betul juga. Kau sudah tak takut mati, ya." Gumam Fritz. "Kalau begitu, begini saja."
Pisau itu diturunkan ke kemeja yang dikenakan Unsui. Dilepaskannya kancingnya satu per satu. Jemari Fritz memainkan pisau itu dan membiarkan bilahnya menyentuh perut Unsui sedikit, membuatnya berjengit. Melihat reaksinya, Fritz terkekeh.
"Jika kau bergerak sedikit saja, aku akan menarik anakmu keluar dari sana. Cukup adil, kan?"
"BRENGSEK!" Agon meraung, membuat seringai Fritz semakin melebar.
"Maaf ya, aku tak berniat membuat perpisahan kalian seperti ini." Fritz mendekatkan wajahnya pada Unsui, membuat setitik air mata jatuh dari mata abunya.
"Tapi kau tahu," pisau kembali dimainkan sesaat. "Peliharaan yang membuat onar akan dihukum."
Ia meletakkan pisaunya tak jauh dari jangkauan tangannya. Ia beralih mengikat tangan Unsui ke kepala ranjang dengan erat, mengabaikan teriakan protes dari Agon.
Sedetik setelah ia selesai mengikat tangan Unsui, ia dapat melihat Agon sudah siap melayangkan tinjunya dari ekor matanya. Namun Fritz juga tak kalah cepat untuk menghunuskan pisaunya kembali pada Unsui, membuat Agon menghentikan tangannya tepat di depan wajah Fritz.
"Kau adalah manusia barbar, Agon Kongo. Aku sudah tahu itu." Fritz menyeringai tipis. "Tapi aku tak tahu semudah ini menemukan kelemahanmu."
"Bajingan..." Agon mendesis kesal. Hampir-hampir seluruh pandangannya memerah karena itu.
"Aku akan memberimu pilihan." Ujar Fritz. "Katakan selamat tinggal pada kakakmu sekarang, atau kau bisa melihatku menyetubuhi kakakmu disini."
Agon bahkan belum sempat menjawab sampai pintu menjeblak terbuka dan para bawahan Fritz masuk dan menahan tubuh Agon, yang hampir percuma. Sedangkan Hiruma hanya ditodongi senjata dan Dyllan digiring ke luar. Tawa Fritz kembali menggema.
"Aaahh, maaf maaf. Aku bilang memberimu pilihan tapi agak tidak sopan mengusir tamu saat baru datang sebentar bukan?" Fritz menatap Unsui di bawahnya. Sinar matanya berubah, seiring lidahnya menyapu bibirnya.
Pikiran Unsui terlanjur kabur oleh ketakutan. Saat ia merasa celana yang ia kenakan dilucuti satu per satu, ia sudah tak bisa melawan lagi. Tatapan matanya sudah tak fokus. Tetesan hangat membasahi pipinya begitu saja. Mulutnya gemetar, terbuka, hendak berteriak, tapi tak satupun yang keluar. Bahkan ketika ia merasakan tiga jari memasuki lubang anusnya dengan kasar ia hanya bisa menarik napasnya.
Mulutnya seolah bisu, tubuhnya serasa lumpuh, telinganya seperti tuli. Ia sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi. Gerak bibir orang di atasnya lah yang masih menunjukan bahwa tubuhnya sedang dilecehkan. Separuh bagian waras dalam dirinya menyuruh untuk memberontak seperti terakhir kali. Namun sedikit ia bergerak, ia merasakan bilah pisau yang dingin diarahkan ke abdomennya. Ia takut, ia tak mampu bergerak atau membuka suara.
Ia takut ia malah akan mengantar dirinya sendiri ke akhirat
Benda asing kembali memasuki anusnya. Tarikan napasnya semakin tajam, merasakan benda asing itu memasuki tubuhnya dengan kasar—ia tak bisa melihatnya tapi ia yakin Fritz memasukkan penisnya dengan kasar—mengabaikan seluruh sisa moral yang ia miliki. Mengabaikan pecahan logika yang sudah hancur berantakan.
"AKH—!"
Rasa sakit yang mengembalikan Unsui ke alam sadarnya. Entah muncul dari mana rasa sakit di bagian perut bawahnya, yang jelas itu mampu membuat Unsui kembali berteriak setelah sekian lama bungkam. Fritz semakin menyeringai dan tak menghentikan perbuatannya.
"HENTIKAN! BRENGSEK, LEPASKAN!"
Fritz bahkan tak memperdulikan Agon yang sudah mengamuk dan mungkin menghajar separuh pengawalnya. Ego hatinya berada di puncak tertinggi. Entah sudah berapa lama ia ingin melihat mata itu menangis. Mata yang selalu menatapnya tajam seolah tak peduli akan status biologisnya. Mata yang selalu menantangnya, kini dipenuhi teror dan sakit.
Pintu kembali menjeblak terbuka dan para pengawalnya membuat suara ribut. Fritz menoleh dan mendapati banyak pihak media dan kepolisian memasuki kamarnya.
"Angkat tangan! Jangan bergerak!"
Fritz mendecih. Biasanya Dyllan menangani hal semacam ini, di mana dia sekarang. Belum ia bereaksi ia sudah ditarik menjauh dan kedua tangannya diborgol. Sinar flash kamera memenuhi ruangan dan suasana hiruk pikuk memenuhi rumah yang tadinya amat hening itu. Di luar kamar, dilihatnya Dyllan berdiri di ambang pintu dengan tatapan serba salah. Fritz memicingkan matanya, mengakibatkan Dyllan kembali tertunduk, namun dengan kedua tangan mengepal.
Setelah seluruh pihak kepolisian dan media pergi, Hiruma berbicara dengan salah satu komandan tertinggi—yah mereka pasti datang karena perintah Hiruma—tapi Agon sudah tak peduli. Ia mendekati ranjang dan melepas paksa ikatan di tangan Unsui, tak peduli tangannya ikut terluka karena ikatannya yang kencang. Agon menutup tubuh Unsui dengan jas yang ia kenakan dan langsung mengangkat tubuhnya. Masih sadar meski kesakitan. Tak butuh waktu lama sampai ia menyadari darah yang mengalir di kaki kakaknya. Matanya membelalak lalu berteriak pada Hiruma.
"Oy, setan pirang! Katakan padaku kalau kau juga memanggil ambulans!"
~~oo00oo~~
Berapa salju lagi yang harus jatuh
Sampai musim semi datang
~~oo00oo~~
Tak banyak orang yang tahu, tapi apabila Agon hanya sendirian di sebuah ruangan dan menunggu, ia selalu memikirkan banyak hal dan berandai-andai.
Andai saja ia dan Unsui tak terlahir sebagai saudara kembar, bagaimana seandainya Unsui lah yang jenius di antara mereka berdua, andai saja tak ada gender kedua yang perlahan menjadi status hirarki, andai saja mereka tak sampai di rumah sakit ini tepat waktu.
Ya, andai saja mereka tak sampai tepat waktu Unsui dan anak-anaknya mungkin sudah mati sekarang.
Dokter bilang mereka mampu bertahan sejauh ini saja sudah keajaiban, meski sampai sekarang tak ada tanda-tanda kakaknya akan sadar. Agon mengacak rambutnya pelan.
Andai ia memberitahu Unsui lebih awal ini tidak akan terjadi.
Tapi Agon tetaplah Agon. Sebanyak apapun ia berandai-andai di waktu kosongnya, apa yang sudah terjadi ya terjadilah. Ia hanya bisa sedikit lega setidaknya kakaknya tidak menyusul ibunya ke alam sana.
Ia kembali menatap kakaknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam namun Agon bahkan enggan beranjak meski suster jaga mengatakan ia boleh pulang jika ingin. Hanya dalam waktu seminggu, kakaknya bisa kembali sekurus ini. Ditambah raut wajahnya yang pucat. Harusnya ia kembali saja karena ia tak tahu harus menghadapi kakaknya seperti apa nanti.
Menurut kabar dari Hiruma, Fritz akan ditahan dan akan ada penggeledahan barang bukti. Meski Agon merasa sedikit janggal kenapa para polisi bisa masuk ke rumah itu tapi ia tak mau ambil pusing.
Tanpa sadar, tangannya menggenggam tangan Unsui. Tangan satunya ia gunakan sebagai sandaran kepala. Perlahan matanya memberat, dan ia memutuskan untuk tertidur.
~~oo00oo~~
"Unko-chan! Ayo main kartu!"
"Kalau kau ingin mengajakku main, setidaknya panggil dengan sedikit sopan bisa tidak sih."
"Unko-chan cerewet..."
"Yasudah main sendiri sana."
"Aaahh gak mau! Kau belajar terus daritadi! Ayo main!"
"Haahh... iya, iya. Jangan berisik, nanti ayah marah."
"Hehe!"
Meski ia tahu ia akan kalah dari adiknya, ia menikmati waktu mereka bersama
~~oo00oo~~
Apa kau berubah?
Atau aku yang berubah?
Kurasa kita berubah, kurasa segalanya memang seperti itu
~~oo00oo~~
"Mau ke mana, Unko-chan?"
"Latihan."
"Rajin sekali, ini kan hari Minggu. Kau tidak mau ngapain gitu?"
"Aku dan kau berbeda. Sudahlah."
Dan tanpa bicara apapun lagi, Unsui menutup pintu rumah
Kehangatan yang sementara itu hilang
~~oo00oo~~
Ya aku membencimu
Meskipun kau pergi, tak ada satu haripun aku tak merindukanmu
~~oo00oo~~
"Lepaskan! Kau itu mau apa, sih?!"
"Kau itu yang mau apa?! Buat apa kau mengabaikanku, hah?!"
"Kenapa?! Kau tidak suka diperlakukan sama seperti kau memperlakukan orang lain?!"
"Apa-apaan maksudmu itu?!"
"Sudahlah, mana mungkin kau mengerti!"
"Kalau kau mau aku mengerti katakan, brengsek!"
"ALPHA SEPERTIMU MANA MUNGKIN MENGERTI, BAJINGAN!"
Genggaman tangannya terlepas dan ia membiarkan sosok itu pergi. Ia hanya terdiam karena semarah apapun Unsui, ia tak mungkin mengatai orang bajingan.
~~oo00oo~~
Sejujurnya aku merindukanmu, tapi aku akan menghapusmu
Karena itu lebih baik daripada membencimu
~~oo00oo~~
"Mau sampai kapan kau sok kuat begitu, Unko-chan?"
"Aku tak butuh komentarmu..."
"Heh, kau bilang kau paham takdirmu sebagai omega tapi dengan bodohnya lupa meminum surpressant. Di hari pertandingan seperti ini pula."
"Berisik—"
"Kalau karena ini kita kalah kau akan kubunuh."
Dengan itu, Agon meninggalkan sebuah suntikan yang masih baru padanya.
~~oo00oo~~
Aku berkata aku akan menghapusmu
Tapi sebetulnya aku masih belum bisa melepaskanmu
~~oo00oo~~
"K-kau darimana?"
"Darimana? Ya kerja lah. Aku bukan pengangguran."
"Jam setengah tujuh pagi?"
Agon terdiam. Ia hanya mengeratkan pelukannya pada Unsui.
"Jawab." Ujar Unsui singkat
"Aku benar-benar kerja." Jawab Agon. Tangannya mengelus punggung Unsui perlahan. "Lagian kau tidak pernah tuh bertanya kalau aku pergi kemanapun."
Unsui terdiam, semakin membenamkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu Agon. Ia tak menyangka akan berada sedekat ini lagi pada adiknya. Ia lebih tak menyangka lagi Agon tak mendorongnya menjauh.
"Jangan pergi..." pinta Unsui lirih
Agon mengangkat alis. Satu sisi dari dirinya ingin menggoda kakaknya itu. Mungkin setelah itu kakaknya akan mendorongnya menjauh lalu marah-marah seperti biasa. Namun kini ia memilih mengeratkan pelukannya
"Memang aku mau kemana?"
~~oo00oo~~
Kau tahu itu semua, kau sahabatku
Pagi akan datang lagi
Karena tak ada kegelapan, tak ada musim, yang berlangsung selamanya
~~oo00oo~~
Iris abu itu membuka perlahan. Matanya sedikit mengerjap karena cahaya yang menimpa matanya. Yang ia lihat adalah sebuah atap putih. Seluruh tubuhnya terasa sakit, bahkan menggerakkan ujung jarinya saja sulit
Disitu ia menyadari seseorang memegang tangannya. Susah payah ia tolehkan kepalanya ke samping dan mendapati Agon tertidur lelap. Unsui kembali mengerjap. Apa ia betul-betul sudah mati atau ia berhalusinasi? Ia mencoba menggerakkan tangannya sedikit dan Agon langsung tersentak bangun. Ya setidaknya ia tahu ia masih hidup dan tidak berhalusinasi.
Tak ada kata-kata yang terlontar. Agon dengan diam menekan bel untuk memanggil dokter dan menunggu di luar. Setelah dokter pergi, ia kembali masuk dan duduk di tempatnya semula. Namun tak bicara apa-apa.
Unsui terus menatapnya, namun Agon langsung menoleh dan mendengus.
"Apa? Tak ada ucapan selamat pagi untukku?"
Unsui mengerjap. Ia mengeluarkan kekehan lemah, namun yang membuat Agon lega adalah sinar mata kakaknya kembali.
"Selamat pagi, Agon."
Sakura bermekaran
Musim dingin pun berakhir
"Kau itu benar-benar...untung kau dan anakmu sama-sama keras kepala." Agon mendengus.
"Bukankah itu bagus?"
"Kau membuatku hampir kena serangan jantung."
"Kalaupun kau serangan jantung entah kenapa aku yakin kau tak akan mati."
"Sialan kau."
Hening kembali. Agon mengetukkan jarinya ke atas ranjang, sementara Unsui memperhatikan langit mendung dari jendela.
"Orang itu akan masuk pengadilan besok."
Orang itu, tak perlu ditanya siapa yang Agon maksud. Ia sudah senang ia bisa keluar meski ada satu yang mengganjal.
"Dyllan bagaimana?"
Agon mengangkat alis. Dyllan, setahunya adalah bocah SD yang mereka temui. Baru Agon hendak menjawab, Unsui sudah menghela napas.
"Tidak ada. Lupakan saja."
Agon meraih wajah kakaknya dan menolehkannya ke arahnya, membuat tatapan mereka bertemu. Unsui yang menyadari maksud tatapan adiknya hanya mengusap tangan yang memegang wajahnya, seolah meyakinkan bahwa benar tak ada apa-apa. Agon menurunkan tangannya, namun ia membiarkan tangan mereka bersentuhan.
Jika aku menunggu lebih lama, jika aku tetap terbangun
Aku akan menemuimu, aku akan menjemputmu
"Maaf aku jadi merepotkanmu."
"Toh setan pirang itu juga ingin menangkapnya. Jadi tak ada masalah."
"Begitu ya. Jadi aku bisa dibilang umpan?"
"Kalau aku memang umpan maka kau umpan terburuk karena aku diculik sebelum dijadikan umpan."
Unsui tertawa lemah. Tanpa sadar genggaman tangan mereka mengerat, seolah saling tak mau melepas.
Melewati musim dingin ini
Hingga musim semi datang lagi
"Hoi, Unsui."
"Hm, apa—"
Sebuah ciuman mendarat di bibirnya begitu ia menoleh. Rasanya seluruh indranya kembali berhenti. Campuran rasa yang aneh antara nikotin dan kafein terasa jelas di mulutnya. Tubuhnya tak mampu bergerak—bukan, ini berbeda. Tubuhnya yang menerima begitu saja. Cukup lama hingga ciuman itu dilepaskan. Agon menatapnya dengan tatapan serba salah namun Unsui menatapnya tanpa berkedip.
Alih-alih melepaskan genggamannya, genggaman mereka malah semakin erat.
"Kau tidak pulang?" tanya Unsui.
"Malas." Jawab Agon singkat
Unsui hanya menggumam, dan mereka kembali terdiam
Sampai bunga bermerakan lagi, tetaplah disana lebih lama
Jangan pergi
~~~TO BE CONTINUED~~~
(*) sengaja gua kasih biar bisa paham semua~
Salam, tuan Agon Kongo. Ya sebelumnya aku ingin kau tetap tenang karena kau sudah tahu suaraku dan mungkin sudah tahu alasanku mengirim pesan ini. Apa kau sudah lihat beritanya? Kuharap begitu. Yah, itu bukan tujuan awalku. Aku mengundangmu dan tuan Youichi ke acara makan malam kami pukul 8. Aku sudah mengirim undangan formal melalui surel Tuan Youichi. Alasan aku mengirim pesan ini adalah...hm? apa itu, dia sudah bangun? Ah, berikan saja dia makan dulu, ya? Akan kuurus dia nanti. Maaf soal itu, sampai mana kita tadi? Oh benar
Kau mungkin berpikir di mana kakak kembarmu, kan? Kau tidak perlu khawatir. Jika kau datang, kau bisa menemuinya. Pastikan kau menikmatinya karena mungkin itu terakhir kalinya kau bertemu dengannya.
Aku tak akan melakukan appaun padanya, ataupun ingin membunuhnya jadi kau bisa tenang dan ucapkan selamat tinggal dengan benar.
Itu yang paling dia inginkan darimu, kau tahu?
Kurasa ini sudah cukup. Sampai jumpa malam ini pukul delapan dan selamat menikmati acaranya
(**) snowpiercer ini sebetulnya film korea di mana manusia terperangkap di zaman es dan yang selamat ngumpul di kereta namanya Snowpiercer. Artinya ini disini adalah terperangkap sendirian di bumi, di mana gak ada satupun yang memahami kita
Lala: Lu gak boleh tidur malem, La. Lu ada darah rendah
Also Lala: *ngetik ampe hampir ganti hari*
HALO SEMUANYA! Kembali lagi sama Lala di FF sinting ini. MINAL AIDIN WAL FAIDZIN GAES GAK SEMPET MAAF-MAAFAN TEPAT WAKTU KITA
Dan untuk kali ini mohon tabok Lala saja karena saya telat update karena keasyikan di dunia RP HUHUHU MAAF GAES. Tapi karena RP, Wbnya jadi rada sembuh sih. Kuusahain abis ini lebih cepet lagi updatenya
Also 6K+ WORDS. WOW REKOR BARU SAYA PEMIRSAAAA
Dan SEBENTAR LAGI PENGUMUMAN SBMPTN DOAKAN SAYA YA GAES ASOFYDLAJIA
Bales review dulu deh
whiters402 Gua malah fokus ke bikin nih FF jadi gak kepikiran cari asupan WHAHAHAH iya entar di chapter-chapter depan gua bikin. Tinggal angst dikiiiit lagi sampe gua bikin adegannya hahahaha dikira angstnya selesai sampai sini? Tidak semudah itu, ferguso *woy* Ohoho, angstnya ntar liat aja rencananya mau gua gimanain, baik yang ending asli ato alternate ed ;) meski ending aslinya happy end tapi tetep ada angst laahh *WOY* SEMANGAT SBMNYA YAAA BERDOA TERUS
shunshines IYA KEMAREN SPESIAL BUAT UNSUI~ Ya Agon mah selalu bisa wong rajanya modus *La* Iya dongs semua kan sayang Unsui~~aku apalagi *BULLSHIT* OH IYA TENTU SAJA AKU HAUS KEADILAN *plak*
yak segitu dulu aja readers! Maaf kalau kali ini adegan rate M-nya agak kurang karena ya gua jijik duluan ama si Fritz heu *ditampol*
RnR?
