My heart that is stained with a belated self-hatred
Gets emptied even by that wind brushing by
—Outro Tear, Bangtan Seonyeondan
An AgonUnsui fanfiction
Tear
By Lala-chan ssu
Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Love Maze and Tear belongs to BTS and BigHit
Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, TYPO, trigger warning, timeline after Enma, dll
Read at your own risk
~~oo00oo~~
Chapter 15: Love Maze
~~oo00oo~~
Kita berlalu-lalang mencari jawaban
Tetapi tersesat dalam labirin
"Dyllan! Kau di mana?!"
Pria bertubuh besar dengan rambut ikal dikuncir berlari menembus rumah besar yang dipasangi garis polisi. Beberapa petugas yang mencoba menghadangnya pun dihempaskannya seolah tak berarti. Ia menerobos dan mencari ke seluruh penjuru rumah.
"Ke mana dia... Dyllan!"
"Ross?"
Dari arah pintu, muncul sosok bertubuh mungil. Masih mengenakan gaun yang ia kenakan kemarin namun dengan tambahan jaket cokelat menutupi tubuhnya. Yang dipanggil Ross segera menoleh dan mengatur napasnya. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri tubuh kecil itu dan merengkuhnya erat.
"Astaga...kau ke mana...aku khawatir melihat beritanya."
"Tenanglah, memang aku bakal kenapa?" Dyllan mendorong Ross sedikit menjauh. Diukirnya senyuman tipis untuk meyakinkan rekannya.
"Habisnya...bos..." Ross bahkan tak berani melanjutkan kalimatnya. Ia takut membuat pria mungil itu tersakiti lebih dari ini. Namun dilihatnya Dyllan hanya tersenyum.
"Aku baru selesai memberi keterangan. Tadinya aku mau pergi ke hotel untuk sementara tapi bajuku tertinggal di sini." Jelas Dyllan. Ross mengangguk paham.
"Biarkan aku menemanimu." Tawar Ross.
"Terima kasih."
Dyllan tersenyum lemah sebelum berjalan melewati Ross. Ross mengikutinya ke lantai atas. Mereka berhenti tepat di kamar yang terbuka dan dipenuhi petugas. Di depan pintu terpasang garis polisi. Dyllan menatap kamar itu lekat-lekat.
"Dyllan?"
Tangannya meremas jaket cokelat yang ia kenakan. Kepalanya menunduk, menatap kakinya yang hanya berbalut sepatu putih.
"Orang itu...bagaimana keadaannya?"
"Orang itu?"
Ross menelengkan kepala, lalu menoleh ke arah ruangan yang tadi ditatap oleh Dyllan. Ross akhirnya mengerti siapa yang Dyllan maksud.
"Aku sempat dengar kalau semalam kondisinya kritis. Setelah itu aku tak tahu lagi."
Dyllan menghela napas, lalu berbalik menatap Ross.
"Boleh aku minta tolong satu hal lagi?"
~~oo00oo~~
"Terjadi penggerebekan di salah satu villa besar yang diduga adalah milik pemimpin Orion corp. Yang baru-baru ini menjalani hubungan ekonomi dengan pemerintahan Jepang. Dilaporkan bahwa sang pemimpin, Fritz Carlton menculik seorang omega berinisial K.U dan melakukan ancaman dan percobaan pembunuhan. Beberapa pekerja dan asistennya berinisial D.O telah dimintai keterangan untuk pengadilan hari ini—"
Ruangan seketika hening karena TV yang dimatikan. Unsui menatap remot TV di tangannya dan menghela napas. Disandarkannya kepalanya ke kepala ranjang dan menatap langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna putih.
Pintu terbuka. Unsui menoleh dan mendapati adiknya menenteng sebuah plastik dan menaruhnya di nakas.
"Kau tidak bekerja hari ini?" tanya Unsui. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 9 lewat 25 menit. Agon hanya meliriknya dan membuka minuman kaleng yang ia beli lalu langsung menenggaknya.
"Malas." Jawab Agon singkat membuat Unsui menghela napas. Mendengar itu, Agon mengangkat alis dan menaruh kaleng minumannya di meja.
"Jangan menghela napas terus, kau terdengar tua."
"Berisik."
Unsui kembali terdiam dan menatap ke arah jendela, arah yang berlawanan dengan posisi Agon sekarang. Tangannya terangkat dan menyentuh bibirnya, masih tak percaya dengan apa yang adiknya lakukan kemarin.
Ia lebih tidak percaya lagi kenapa ia tak melawan
Unsui mendengar TV dinyalakan dan channel dipindah-pindahkan beberapa kali. Tak lama,suara channel dipindah berhenti. Unsui melirik dan melihat tayangan ulang NFL di Amerika. Unsui menatap Agon yang tak menatapnya balik, mata fokus kepada tayangan TV. Google yang biasa ia kenakan ia biarkan di atas kepalanya.
Unsui kembali melengos. Namun semakin ia menolak menatap adiknya, ia semakin terpikir. Kenapa Agon melakukan itu? Apa dia sudah gila? Kenapa juga Unsui tak protes dan baru terpikir sekarang? Apa otaknya juga sudah tak beres?
Rasanya ingin sekali ia menjedukkan kepalanya ke tembok, tapi sialnya infus masih terpasang di tangannya. Dipikir lagi, ia tidak tahu kapan ia bisa keluar dari sini.
"Hei, Agon—"
"Kau baru boleh pulang minggu depan sampai keadaanmu stabil."
"Oh...oke."
Unsui kembali bungkam dan Agon masih fokus menonton pertandingan. Unsui memainkan tangannya dan menelan ludah.
"Soal orang itu—"
"Pengadilannya jam 11. Tapi baru pengadilan tahap awal, aku tidak tahu kau akan dimintai keterangan atau tidak."
"Baiklah."
Kenapa Agon selalu tahu apa yang ada di pikirannya?!
"Agon—"
"Mau bertanya apa lagi, hm?"
Unsui bungkam.
Akhirnya Unsui memutuskan untuk berhenti bertanya. Tatapannya kembali ke arah jendela. Warna langit sedikit abu-abu dari awan yang menutupi. Sudah musim dingin.
Unsui bahkan tidak menyadari suara ponsel dan Agon yang mengangkat telepon. Unsui melirik sedikit dan melihat Agon beranjak dari tempatnya.
"Mau ke mana?" tanya Unsui.
"Pengadilan." Jawab Agon santai. "Kau tidak apa aku memberi kesaksian untukmu juga?"
"Tumben bertanya dulu sebelum bertindak semaumu." Goda Unsui.
"Si bekas luka sampah itu cerewet soal beginian jadi jangan buat pekerjaanku tambah sulit." Tanpa diberitahu juga Unsui tahu siapa si bekas luka yang dimaksud Agon.
"Lagipula kau tidak boleh keluar dari rumah sakit jadi tak bisa memberi kesaksian kan?" tanya Agon. Unsui menggumam.
"Baiklah, asal jangan hancurkan ruang pengadilannya."
"Diamlah."
~~oo00oo~~
Walau kita terus menerus berlari
Suara palsu itu dapat menghentikan kita
~~oo00oo~~
Entah sejak kapan Unsui tertidur, namun ia segera membuka mata begitu merasakan sentuhan di tangannya. Ia menoleh dan dilihatnya sosok suster berambut cokelat sebahu. Unsui mengerjap perlahan, merasa wajah suster itu tak asing.
Suster itu nampak fokus dengan pekerjaannya dan tak menyadari Unsui yang terbangun. Ia menghela napas saat selesai mengganti infus kemudian menoleh pada Unsui. Ia langsung memekik pelan dan menjauh membuat Unsui membulatkan matanya kaget.
"Ah, kenapa tidak bilang sudah bangun..." suster itu menghela napas.
"Ah...maaf?" Unsui menggaruk pipinya. Suster itu menegakkan tubuhnya.
"Maaf jika aku membangunkanmu. Aku kebetulan sedang berjaga dan kulihat infusnya sudah kosong, jadi—"
"Ah, tidak apa. Aku juga tak tahu sejak kapan aku tertidur." Unsui melirik ke arah jam. Pukul 12.45 siang.
"Tidak apa. Lebih baik beristirahat saja."
"Aku bahkan tak melakukan apapun."
"Itu wajar dalam kehamilan, kok."
Unsui mengedarkan pandangan ke sekeliling. Agon belum kembali.
"Apa anda butuh sesuatu?" suster itu lanjut bertanya. Unsui menoleh kembali ke wanita beta itu.
"Ah, tidak. Terima kasih."
Suster itu tersenyum lalu keluar dari ruangan. Unsui kembali sendirian.
Tangan kanannya ia gunakan untuk menutup matanya. Ia tarik nafasnya dalam lalu ia hembuskan perlahan. Mencoba mengumpulkan kewarasannya kembali.
Tenanglah, Agon sudah sering mencium orang. Ciuman kemarin tak ada artinya.
...sial dia malah membuat dirinya sendiri sakit hati
Suara ketukan di pintu menyadarkan Unsui dari lamunannya. Sesaat kemudian terdengar suara grasa-grusu. Unsui bangkit perlahan dari posisi duduk, tangan kirinya memegang gagang infus di sebelahnya, seolah siap dengan kemungkinan terburuk.
BRAK!
"UNSUI-SAAANN! MAAF HANYA SEGINI YANG BISA BERKUNJUNG YA!"
Unsui mengerjap melihat sosok trio mantan anggota Deimon—Sena, Monta, dan Kurita—menjeblak pintunya dengan amat berisik. Tangannya yang tadi menggenggam infus mengendur, dan disadari oleh Sena. Sena menelan ludah.
"A-anoo, Unsui-san tak akan melemparkan itu pada kami...kan?" tanya Sena sambil tertawa garing.
"Kupikir siapa." Unsui menghela napas dan kembali ke posisinya semula.
"Yang lain sibuk, jadi hanya kami yang bisa datang." Ujar Kurita. "Kami bawa banyak makanan lho~"
"Ah, tidak usah repot-repot. Aku tidak boleh makan makanan di luar menu rumah sakit—"
"Sedikit saja tidak akan ketahuan kok, Unsui-san." Sela Monta
"Unsui-san baik-baik saja?" tanya Sena. Unsui hanya menggaruk tengkuknya.
"Yah, seperti yang kau lihat." Ujarnya. "Agon bilang semalam kondisiku kritis, tapi aku sudah baikan."
"Unsui-kun harus lebih berhati-hati." Ujar Kurita sambil mengupaskan apel. "Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kalian?"
"Itu benar. Apalagi Unsui-san selalu menyembunyikan semua sendiri." Ujar Monta.
"Kalian terlalu khawatir. Aku baik-baik saja."
"Mengkhawatirkan sesama teman kan wajar." Sena mengedarkan pandangan. "Unsui-san, di sini ditemani siapa?" tanya Sena.
"Dengan Agon."
Hening
"D-dengan Agon-san saja?"
"Iya. Memang siapa lagi?"
Kurita, Sena, dan Monta saling berpandangan.
"Apa Agon-san memang tipe seperti itu?"
"Aku dengar dari Hiruma-san sih..."
"Eh? Jadi benar ya?"
"Tapi kok mencurigakan sih... waktu ke rumahku juga—"
"Apapun yang sedang kalian gosipkan, kumohon hentikan."
Monta nyengir, sedangkan Sena dan Kurita tertawa gugup. Unsui menghela napas, entah keberapa kalinya hari itu.
"Kami hanya kaget saja Agon-senpai mau berbuat begitu." Ujar Monta yang dihadiahi sikutan dari Sena.
"Ya aku sendiri juga kaget kok." Unsui menatap ke arah tembok di hadapannya nanar.
"Aku sendiri bahkan tidak tahu maksud perbuatannya. Apakah dia kasihan padaku, atau..."
Unsui tak mampu melanjutkan kalimatnya. Suasana benar-benar hening di dalam ruangan itu.
"Ah! Aku kemari di tengah jam makan siang. Aku kembali dulu ya Unsui-san! Semoga cepat sembuh!" ujar Monta.
"Ah, aku juga. Ada latihan sore ini." Ujar Sena dan ia segera bangkit menyusul sahabatnya.
Kini tinggal Unsui dan Kurita yang masih asyik mengupas apel di sebelahnya. Unsui menunduk dan meremas selimut yang ia kenakan.
"Nah sudah selesai! Ayo dimakan, Unsui-kun."
"Ah, tidak perlu repot-repot—"
"Tidak apa-apa. Sengaja kupilihkan yang paling enak lho."
Unsui mengangguk. Ia mengambil sepotong apel dan memasukannya ke mulutnya. Rasanya segar.
"Semuanya khawatir, lho. Untung kau baik-baik saja." Ujar Kurita. Unsui hanya mengeluarkan kekehan canggung.
"Aku...sudah merepotkan semua orang. Maaf." Ujar Unsui. Kurita menggeleng.
"Seperti yang Monta-kun katakan tadi, Unsui-kun sering memendam masalahnya sendiri. Kami tidak keberatan jika kau meminta tolong, kok." Jelas Kurita. "Kau harus lebih percaya pada kami."
"Bukannya dulu sudah kubilang aku mempercayai kalian—"
"Di lapangan dan di luar lapangan Unsui-kun sangat berbeda." Potong Kurita. "Di lapangan Unsui-kun sangat percaya pada kita, tapi di luar itu kau bahkan tak bisa memberitahu kalau kau cedera."
Unsui meringis. Entah sejak kapan Kurita bicara seperti ini. Apakah ia memang ketularan Hiruma?
"Unsui-kun orang yang kuat. Karena itu kami percaya padamu. Unsui-kun juga harus percaya pada kami. Kalau tidak yakin, Unsui-kun harus bicara pada kami. Oke?"
Unsui mengerjap. Para anggota Enma memang selalu mengatakan hal itu padanya. Namun entah kenapa ucapan Kurita membuat hatinya sedikit hangat.
"Terima kasih." Gumam Unsui. Kurita tersenyum senang.
"Ayo di makan lagi supaya kau dan anak-anakmu sehat!"
"Iya. Terima kasih."
~~oo00oo~~
Kita harus percaya diri kita
Jangan lepaskan kedua tanganku
~~oo00oo~~
Sudah hampir pukul 7 malam, namun Agon belum juga kembali.
Udara di luar sudah semakin dingin, terlihat dari kaca yang nampak berembun. Dari luar terdengar suara anak-anak yang tertawa. Memang ruangannya dekat dengan poli anak sehingga ia bisa mendengar suara mereka.
Suara ketukan pintu menyadarkan Unsui dari lamunannya. Unsui melirihkan izin masuk dan pintu pun terbuka, menampakkan sosok suster yang tadi siang. Ia tersenyum sambil membawa nampan berisi makan malam. Rambut cokelatnya dijepit ke belakang telinga.
"Selamat malam. Bagaimana keadaanmu?" tanya suster itu.
"Aku sudah agak baikan. Terima kasih." jawab Unsui. Mendengar itu, suster itu kembali tersenyum dan menaruh nampan di atas meja nakas.
"Besok dokter Umemura akan memeriksakan keadaanmu. Baru setelah itu kau boleh pulang."
"Terima kasih, eng…"
Suster itu menelengkan kepalanya mendengar Unsui menggantungkan kalimatnya, ditambah lagi ia seperti mencari sesuatu. Suster itupun kemudian menyadari maksudnya.
"Aku Kojima Rie."
"Ah, terima kasih Kojima-san."
Suster itu terkekeh. "Tidak usah seformal itu."
"Aku hanya ingin berterima kasih."
Kojima hanya menelengkan kepala sebelum menyadari sesuatu.
"Sudah semalam ini, apa tidak ada yang menemanimu?" tanya Kojima. Unsui menoleh ke arahnya.
"Tadi ada adikku, tapi ia belum kembali."
"Bagaimana dengan alphamu?"
Unsui terdiam seketika. Kojima kemudian menyadari perubahan ekspresi Unsui.
"M-maaf apa aku menyinggungmu?" tanya Kojima dengan nada bersalah.
"Ah, tidak apa kok." ujar Unsui tenang. "Aku tak punya alpha."
"Begitu ya…." gumam Kojima. "Pasti berat ya."
"Ya, mungkin." ujar Unsui. Kojima kembali tersenyum.
"Kongo-san sepertinya tipe ibu yang kuat ya."
Mendengar perkataan Kojima, Unsui mengerjap bingung.
"Ah, aku tidak tahu permasalahan yang dialami Kongo-san, tapi waktu pertama kali kau datang ke sini dan seterusnya, aku merasa seperti itu." Kojima gelagapan menjelaskan. Unsui menorehkan senyum tipis.
"Terima kasih. Meski aku tak sekuat itu."
Ya ia ingat ia hampir membunuh anaknya sendiri hanya karena perkataan Aishi saat itu. Seandainya tak ada Agon ia tak akan berada di sini sekarang. Mungkin saja ia akan tenggelam dalam penyesalan.
Suara ketukan pintu menyadarkan mereka. Kojima bangkit dan membuka pintu, nampak berbicara dengan seseorang.
"Kongo-san, ada pengunjung."
Unsui mengangkat alis. Padahal sudah semalam ini, siapa yang berkunjung.
Dua orang memasuki ruangan. Satu orang di depan menatap Unsui. Iris abu Unsui melebar melihat siapa yang datang.
"Dyllan…?"
~~oo00oo~~
Agon memasuki rumah sakit dengan tampang gahar setelah seharian berurusan dengan catatan kriminal pemimpin saingannya itu. Waktu baru menunjukan pukul setengah 8 malam, Unsui pasti masih bangun. Agon langsung menuju kamar Unsui dan membuka pintunya.
Matanya berkedut melihat sosok Dyllan duduk di sebelah ranjang Unsui dan Ross berdiri tak jauh dari mereka.
Pimpinannya selesai, bawahannya muncul.
"Mau apa kalian, sampah?!" Agon hampir saja melepaskan amukannya.
"Agon, tenanglah. Mereka datang baik-baik."
Agon mendecih mendengar kalimat kakaknya. Ia menatap Dyllan garang membuat Dyllan mengusap lengannya sedikit. Kemudian matanya beralih pada Ross yang berdiri di sudut ruangan.
"Siapa lagi sampah ini?" tanya Agon ketus.
"Bodyguard kami. Roswell Abreo." ujar Dyllan. Yang disebut hanya menggaruk tengkuknya sambil terkekeh awkward. Agon mendecih kesal dan menarik kursi menuju tembok. Jauh dari Dyllan, tapi ia masih bisa melihat kegiatan mereka.
"Ayolah, Agon. Mereka tak salah apa-apa." ujar Unsui menenangkan.
"Begitu pikirmu." Agon mencibir. Unsui menaikkan alis dan menghela napas.
"Maafkan sikapnya."
"Tidak apa. Alpha memang seperti itu apabila omeganya sedang hamil." Ross menjawab sambil terkekeh.
"Aku bukan omeganya." kata Unsui dengan nada datar.
"Eh? Ah, oh. Benar. Kau kakaknya."
Unsui terdiam menatap Ross, lalu berbalik dan kembali berbicara dengan Dyllan. Meski dapat dilihat bahwa Dyllan nampak ingin mengatakan sesuatu dan terus meremas ujung bajunya dengan gugup.
Agon gerah seketika. Ia bangkit dan melangkah keluar, membuat Unsui heran.
"Agon, kau mau ke mana?"
"Ke manapun asal jangan di sini!"
Dengan itu pintu ditutup.
Unsui mengernyitkan alisnya bingung, Ross terkekeh garing, sedangkan Dyllan hanya menatap pintu datar. Dyllan berdehem dan menoleh ke arah Ross.
"Ross. Kau juga keluar." suruhnya.
"Eh? Kenapa?"
"Aku sudah bilang ingin bicara padanya kan? Kau yang memaksa untuk ikut sampai sini."
Ross meringis kemudian meminta maaf sebelum keluar dari ruangan. Unsui menoleh menatap Dyllan dengan tatapan penuh tanya, sementara Dyllan berdehem dan menyamankan posisi duduknya.
"Jadi, aku yakin adikmu memegang tanggung jawab padamu mengingat kau terlibat sejauh ini." ujar Dyllan memulai, tanpa basa-basi.
"Kau bukan orang pertama yang mengatakan itu." Unsui menghela napas. "Dia…tahu karena aku menjatuhkan hasil tesku. Besok paginya dia datang dan mengamuk ke rumahku."
"Harusnya aku terkejut, tapi nyatanya tidak." Dyllan terkekeh, disambut kekehan juga dari Unsui. Hening menyergap sesaat.
"Apa adikmu menyukaimu?"
"Hubungan kami buruk sejak kami lulus SMP, tapi kami sudah mulai bicara lagi. Lagipula bagaimanapun dia adikku—"
"Bukan sebagai kakak." potong Dyllan. "Dia melihatmu sebagai seorang omega—sebagai dirimu."
Unsui mengunci mulutnya.
"Terlihat sekali kau tidak siap diberitahu begitu." Dyllan memasang seringai tipis membuat Unsui gelagapan.
"M-maksudku—dia sejak dulu selalu main-main wanita, wajar kalau kupikir dia tidak bisa merasakan perasaan macam itu kan?" protes Unsui.
"Wow, dia mengorbankan hidupnya untuk menyelamatkanmu dan kau menuduhnya tidak mampu merasakan cinta. Kau ternyata jauh lebih kejam dari yang kupikir."
"Apa maksudnya itu…."
Dyllan menggumam, sesekali memainkan ujung baju hitam yang ia kenakan.
"Entah ia menyukaimu sebagai omega, atau hanya sebagai kakak kembarnya, kurasa itu tak masalah." ujar Dyllan. "Kau hanya bingung."
Unsui menaikkan alis. Dyllan tersenyum penuh misteri.
"Kau bingung karena kau tak terbiasa menerimanya."
"Menerimanya?"
"Menerima cinta orang lain. Maksudku, kau dibuang pacarmu karena kau hamil. Dan tiba-tiba adikmu datang menawarkan cinta padamu, wajar kau bingung." jelas Dyllan. Unsui menatap ke arah pangkuannya.
"Dia hanya membantuku saja. Itu bukan cinta. Jelas sekali bukan? Justru karena aku kakaknya aku tahu sifatnya." gumam Unsui.
"Kau tidak langsung menyangkalnya, berarti terjadi sesuatu yang membuatmu berpikir dia benar mencintaimu kan?"
Pikiran Unsui langsung memutar kembali saat Agon menciumnya kemarin. Matanya membulat dan wajahnya sedikit memerah. Dyllan memasang seringaian tipis.
"Jackpot~ benar terjadi sesuatu." ujar Dyllan membuat Unsui makin gelagapan.
"I-itu bukan sesuatu hal yang harusnya kau ketahui!" Unsui menyangkal masih dengan wajah memerah.
"Kau tipe yang yakin dengan apapun yang kau katakan, tapi kau payah soal ini ya." goda Dyllan masih memasang seringaiannya.
"S-sudah malam bukannya harusnya kau pulang?!" Unsui mengalihkan pembicaraan.
"Setelah kau menawarkan diri untuk melarikan diri bersamamu sekarang kau mengusirku? Astaga, teganya…" ujar Dyllan sambil menutup mulutnya dan menitikkan air mata palsu.
"Tak kusangka kau orang seperti ini…" gerutu Unsui membuat Dyllan tersenyum iseng. Ia lalu bangkit dari duduknya dan mengambil coat cokelat yang tersampir di sofa.
"Aku hanya mengatakan faktanya. Apa yang ingin kau lakukan dengan fakta itu semua tergantung padamu."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku…kau ingin menerimanya atau tidak?"
~~oo00oo~~
Orang bilang aku akan jadi bodoh
Tapi aku tak ingin menggunakan kepalaku, aku tak ingin berhitung
~~oo00oo~~
"Mereka sudah pulang?"
"Siapa?" Unsui berlagak pilon membuat perempatan imajiner muncul di kepala Agon.
"Bocah SD sialan dan penjaganya itu!" sungut Agon. Unsui menelengkan kepala.
"Aku tak ingat ada anak SD mengunjungiku." kalimat Unsui membuat Agon mengerang. Melihat itu, Unsui menahan tawanya. Ah, mengganggu adiknya ternyata cukup menyenangkan. Pantas Agon ketagihan menggodanya.
"Dyllan sudah pulang, kok. Kenapa sih kau dendam sekali padanya." tanya Unsui sambil bersandar ke kepala ranjang. Sudah pukul 10.27 malam. Seharusnya ia sudah tidur.
"Aku malah heran kau bicara akrab dengannya." dengus Agon sambil berbaring di sofa dan melipat kakinya. Tangannya memegang ponsel dan terlihat seperti sedang menonton sesuatu.
"Dia bukan orang jahat kok." pernyataan Unsui malah mengundang decihan skeptis dari adiknya. Merasa adiknya tak akan mengajaknya adu argumen lebih jauh lagi, Unsui memutsukan untuk menatap langit-langit. Kedua tangannya tertungkup di atas perutnya. Membiarkan pikirannya mengawang jauh.
"Unsui-kun juga harus percaya pada kami"
"Kongo-san sepertinya tipe ibu yang kuat ya."
"Dia melihatmu sebagai seorang omega—sebagai dirimu."
"Maksudku…kau ingin menerimanya atau tidak?"
Kalimat-kalimat yang dilontarkan orang lain padanya kini bergema di kepalanya. Ia sendiri tak yakin. Ia selalu merasa Agon bukan sosok yang mau berdiri di sisinya. Tak peduli meski mereka saudara kembar sekalipun.
Anehnya Agon yang terus berada di sisinya hingga sekarang.
Tangan kanannya mengelus perutnya perlahan, membentuk lingkaran kecil. Ia menarik napas dan mengumpulkan sisa keberaniannya.
"Agon. Soal ciuman kemarin…maksudmu apa?"
Namun ia malah disambut suara mendengkur. Unsui refleks menoleh dan dilihatnya Agon tertidur dengan posisi tangan yang memegang ponsel hampir terjatuh ke lantai. Unsui mengerjap dan dalam hati ingin melempar apapun yang ada dalam jangkauannya pada adiknya itu—ah ide melempar tiang infus tadi siang boleh juga.
Tapi alih-alih Unsui tersenyum sambil mendengus pelan. Ia kembali berbaring dan menatap adiknya sebentar.
"Selamat malam."
~~oo00oo~~
Jika kau mendorongku hingga terjatuh cukup angkat aku lagi
Meski aku menarikmu kau tak perlu mengikutiku
~~oo00oo~~
"Aku sudah boleh pulang nanti sore."
"Baguslah."
Agon memakai jasnya asal-asalan lalu mengambil tas di atas sofa. Ia menatap Unsui sebentar sebelum melengos pergi.
"Ah, hati-hati di jalan."
"Kau butuh sesuatu untuk pulang nanti?"
"Ah, tidak—"
"Yasudah."
Pintu pun tertutup, meninggalkan Unsui mengerjap. Apa-apaan, kenapa juga Agon mendadak dingin padanya. Apa karena masalah Dyllan kemarin? Sepertinya tidak.
Unsui melengos kesal. Entah kenapa ia jadi emosi sendiri, padahal toh biasanya Agon juga tak pernah bicara padanya. Kenapa pula ia kesal.
Ia lalu mengecek ponselnya untuk mengalihkan pikirannya. Dilihatnya pesan dari grup alumni Enma, pesan dari rekan gurunya yang belum menerima laporan belajar muridnya-sial ia harus mengerjakannya begitu pulang nanti-dan beberapa pesan spam lainnya.
Setelah membersihkan dan membalas pesan yang penting, Unsui kembali menatap langit-langit. Ia tak tahu harus melakukan apalagi dan berujung memikirkan sikap dingin Agon padanya.
"Tsk menyebalkan. Akan kupukul kepalanya dengan gulungan koran."
"Permisi."
Unsui menoleh ke arah pintu dan dilihatnya dokter Umemura dan Kojima muncul dari pintu.
"Hari ini sudah bisa pulang, ya." ujar Umemura sementara Kojima membantu melepas infus yang terpasang di lengan Unsui.
"Yah…begitulah." Unsui hanya menjawab seadanya yang mengundang tatapan heran dari Umemura.
"Sepertinya mood anda sedang tidak baik." kata Umemura sambil melakukan pemeriksaan.
"Eh, begitukah?" Unsui menatap Umemura yang balik menatapnya, lalu terkekeh.
"Tadi aku mendengarmu menggerutu." Umemura selesai dan membereskan alat-alatnya. "Kondisi tubuhmu sudah lebih stabil. Jam 6 nanti kau sudah bisa pulang." jelas dokter itu, Unsui hanya menggumam.
"Kau di sini dengan adikmu kan?" tanya Umemura.
"Ah, iya."
"Kalau memang ada masalah lebih baik dibicarakan ya." pesan Umemura. "Selain tidak baik kalau kau stress, jarang berkomunikasi itu tanda hubungan yang tidak baik."
Entah kenapa perkataan dokter Umemura terasa menancap tepat di hatinya. Dia akui ia jarang berbicara hati ke hati dengan Agon, setidaknya sampai ia seenaknya memutuskan untuk tinggal bersamanya. Ia tidak mau hubungan baik yang sudah dibangun hancur lagi.
"Kalau begitu, kau bisa bersiap-siap kembali. Selamat siang."
Dengan itu dokter Umemura dan Kojima keluar ruangan.
~~oo00oo~~
Biarlah mereka jadi mereka
Biarkan kita menjadi kita
~~oo00oo~~
"Kami pulang."
Unsui masuk dan menyalakan lampu sementara Agon di belakangnya menaruh asal tas milik Unsui ke lantai. Kondisi rumah masih terbilang rapi. Terlihat jelas Agon tak pulang ke rumahnya sejak ia tak ada. Pecahan kaca yang ia gunakan untuk perlindungan diri pun masih tak bergerak satu inci pun.
Melihat gelagat Unsui yang nampak akan membersihakn rumahnya, Agon mengambil kantung sampah dan membuang pecahan kaca yang besar. Unsui hanya menatap Agon kebingungan.
"Jangan kesini, nanti tertusuk kaca."
"Ah, iya."
Apa ini kenapa adiknya jadi OOC sekali
Setelah beberapa saat, Agon ikut menggelar futon dan duduk bersamanya. Matanya sibuk melihat ponsel sedangkan Unsui melirik kesana-sini.
Kalau memang ada masalah lebih baik dibicarakan ya
"Agon-"
"Soal kemarin?"
Unsui mulai berpikir apakah adiknya bisa membaca pikirannya.
"Apa maksudmu? Kenapa kau…ukh…"
"Kau tak suka kucium?"
"Tidak. Iya. Bukan, eehh…"
"Apa sih, jadi iya atau nggak?"
"Y-yang penting!" sanggah Unsui. "Kenapa kau melakukannya?!"
"Habis kau cerewet." jawab Agon.
"Aku bahkan tak bicara apapun saat itu!" protes Unsui. "Katakan, kenapa kau melakukannya?! Lagipula, kalau orang cerewet lalu kau menciumnya begitu?!"
Bibir mereka kembali bertautan.
"Hmnf-!"
Pasokan oksigennya mendadak terputus. Ditambah lagi ciuman yang diberikan Agon bukan ciuman singkat seperti kemarin. Ciumannya lebih dalam dan menuntut.
"Mh-A-"
Keputusan yang salah. Membuka mulutnya sama saja memberi undangan pada Agon untuk memasukinya lebih jauh. Ia bisa merasakan rasa kafein pekat di mulutnya seiring lidah adiknya memasuki rongga mulutnya.
"Hnh-mm-"
Omega sialan
Agon terdorong jauh dan yang pertama ia lihat adalah ekspresi horor kakaknya.
"Hah? Apa-apaan kau-"
"J-jangan mendekat."
Agon mengenryitkan alisnya, namun Unsui makin memundurkan diri sampai punggunya menyentuh tembok. Tangannya menggenggam erat selimut miliknya hingga terseret mengikuti arah tubuhnya pergi.
"Tadi kau tanya kenapa aku menciummu kan?" tanya Agon santai.
"Iya, dan kau harusnya membalasnya dengan jawaban!" protes Unsui.
"Ah, aku gak suka bertele-tele." Agon mengorek kupingnya malas. "Lagipula kau bukan orang pertama yang kucium. Dan toh kau suka juga kan? Buktinya kau sampai mende-"
Agon tak jadi melanjutkan kalimatnya. Dilihatnya kakaknya menatapnya tajam namun dengan air mata menuruni kedua pipinya. Rasanya seluruh syaraf di tubuhnya membeku.
"Unko-chan-"
"Jangan." Unsui makin merapatkan tubuhnya ke tembok. "Jangan mendekat."
Agon tak bisa membalas maupun mendekati Unsui. Ia mengacak rambutnya lalu bangkit, meraih jaketnya. Tanpa banyak kata pergi keluar dari apartemen Unsui.
Bahu Unsui yang menegang langsung jatuh begitu saja. Dilihatnya dua futon yang tergelar di depannya. Lama ia menatap sampai ia memutuskan untuk berbaring. Tubuhnya terasa sangat lelah. Aroma nikotin yang pekat menyapa penciumannya. Aroma Agon. Selama sebulan ini ia merasa nyaman menghirup aroma itu, namun kali ini aroma itu membuatnya mual hingga ia memutuskan untuk berbalik, tak menghadap futon yang ditiduri adiknya lagi.
Yang ia inginkan sekarang hanya berharap segalanya selesai besok pagi
Jangan kehilangan aku
Dalam Love Maze
~~~TO BE CONTINUED~~~
…
…
…
Halo /PLAK
HUWEEEE MAAFKAN AKU PARA READERS TERCINTA ENTAH GIMANA CARANYA AKU BISA NINGGALIN FF INI AMPE SETAHUN. ASTAGA PADAHAL PLOTNYA UDAH BERES SEMUA SAMPE ENDING MALAH BIKIN PROJECT DI FANDOM LAIN HIH DASAR AKU /plak
Jadi karena aku kedapetan SBM di luar kota jadi banyak ini-itu yang harus diurus. Ditambah lagi laptopku rusak dan terpaksa kukerjain lagi dari awal untuk chap ini. Tapi keburu ngurusin proker heuheuheu dasar mahasiswa budak proker.
TAPI! SAYA SEKARANG SUDAH BANGKIT! DEMI KALIAN SEMUA HEYYAAAAAHH *emang ada yang baca La?*
Bales dulu surat cinta dari readers~
Unknown IYAAA INI LANJUT KOK MASIH BAKAL LANJUT UHUHU MAAF YA LAMA KUGANTUNG :"( /La /Udah Agon protect kok cuma ya…bikin dia agak ngeselin dikit lahh
Whiters402 YHAHAHAHA BAEK KOK MAAFKAN AKU LAMA UPDATE UHUHU MAU NANGIS MASIH NUNGGUIN KAN /apaan Iyaa akhirnya nice ending uhuk tapi gimana nih hawanya mau konflik lagi nih ehe /LA/ Emang bener tapi sayangnya nyawa kakak tercintanya yang jadi taruhan di sini. Meski dia ada impuls kecepatan dewa, si necis bisa aja dengan dalih kecelakaan nusuk Unsui gitu aja kan EHEHEHE. Sad endnya? Oohh tunggu aja uwu Nasib Dilan baik kok. Di true ending (?) ntar dia bakal muncul lagi. Makasih udah setia baca dan nunggu (kalau masih baca) :"(
Jadi sekian dari saya readers. Eenngg kayaknya chap ini agak gimanaaa gitu ya huhuhu aku sudah kehilangan sense menulisku karena udah jauh dari tulis menulis FF terutama di fandom ini.
Review kudasaaiii
